• Tidak ada hasil yang ditemukan

Fungsi Hukum Islam dalam Kehidupan Bermasyarakat

ﻢﱠﻠَﺳَو

B. Fungsi Hukum Islam dalam Kehidupan Bermasyarakat

Fungsi hukum Islam dalam kehidupan bermasyarakat sebenarnya cukup banyak, namun dalam pembahasan ini hanya akan dikemukakan peranan utamanya saja, yakni fungsi ibadah. Fungsi utama hukum Islam selanjutnya adalah sebagai sarana untuk mengatur sebaik mungkin dan memperlancar proses interaksi sosial sehingga terwujudlah masyarakat yang harmonis, aman dan sejahtera. Fungsi ibadah yang dilaksanakan oleh seorang Muslim dalam kenyataannya selain merupakan realisasi hablum minallah atau hubungan antara seorang hamba dengan Tuhannya, juga menunjukkan interaksi antar sesama manusia, atau memiliki fungsi bagi kehidupan masyarakat.

Salat, puasa, zakat dan haji, misalnya, merupakan ibadah makhdhah atau ibadah murni yang merupakan refleksi dari hablun minallah, namun dalam pelaksanaannya terjadi juga

hablun minannas atau hubungan antar sesama manusia. Dalam ibadah salat, kita melakukannya jelas hanya karena mengabdi kepada Allah, namun dalam pelaksanaannya salat bisa dilakukan secara berjama’ah atau kolektif, baik di rumah atau di Masjid. Jama’ah salat membentuk tatanan kehidupan masyarakat yang saling kenal (ta’aruf), sehingga dapat saling tolong menolong (ta’awun). Puasa juga demikian, meskipun bersifat individual, hanya Allah s.w.t. dan dirinya semata yang mengetahui kesungguhan ibadah puasanya, namun dalam implikasinya ibadah puasa diyakini dapat menanamkan jiwa sosial dan solidaritas antar sesama Muslim, terutama bagi kaum dhu’afa. Terlebih lagi zakat dan haji, keduanya selain merupakan amalan ibadah kepada Allah, juga berdampak bagi fungsi sosial, karena zakat merupakan penyaluran sebagian dari harta yang dimiliki oleh orang si kaya kepada si miskin, sedang haji merupakan sarana persatuan umat di seluruh penjuru dunia.

Untuk mengetahui sejauh mana fungsi ibadah bagi kehidupan bermasyarakat, maka berikut ini akan diuraikan secara ringkas bagaimana ibadah salat, puasa dan haji dapat memberikan kontribusi sosial bagi pelakunya. Sedangkan masalah zakat akan dijelaskan pada bagian pemberdayaan ekonomi umat pada bab yang lain.

Salat. Menurut bahasa, salat berarti “do’a” atau “rahmat”, sesuai dengan firman allah: “... dan berdo’alah untuk mereka, sesungguhnya do’a itu (menjadi) ketentraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Mendengar dan lagi Maha Mengetahui”. (lihat, QS. At-Taubah, 9:103).

Menurut istilah (terminologi) syari’ah, salat berarti tindakan khusus seorang Muslim dalam rangka memuliakan Allah, yang berisi kata-kata (bacaan-bacaan) dan perbuatan- perbuatan (gerakan-gerakan), yang dimulai dengan takbir dan di akhiri dengan salam dengan memenuhi syarat-syarat tertentu. Jadi, bisa dikatakan bahwa hakikat salat adalah menghadapkan wajah, hati dan jiwa kepada Allah menurut cara yang dapat mendatangkan takut kepadaNya, serta menumbuhkan di dalam jiwa rasa keagungan akan kebesaranNya dan kesempurnaan kekuasaanNya.

Alquran mengungkapkan bahwa salat bukanlah kewajiban yang hanya difardhukan kepada Nabi Muhammad s.a.w. dan umatnya saja, melainkan juga difardhukan kepada para Nabi terdahulu. Misalnya, Nabi Ibrahim, seperti disebutkan dalam firman Allah Surat Ibrahim, 14:37. Nabi Ibrahim a.s. memohon kepada Allah agar dirinya dan anak cucunya tetap mendirikan salat. Dalam QS. Ibrahim (14:40) disebutkan: “Ya,Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan salat, ya,Tuhan kami, perkenankanlah do’aku”. Nabi Isma’il a.s. juga melaksanakan salat sebagaimana disebut dalam QS. Maryam, 19:55: “Dan Menyuruh ahlinya (umatnya) untuk bersembahyang dan menunaikan zakat, dan ia adalah seorang yang diridhai disisi Tuhannya. Begitu pula dengan Nabi Syu’aib a.s. )lihat QS. Huud, 11:87), Nabi Musa dan Harun a.s. (lihat QS.

Yunus, 10:87; dan QS. Thaahaa, 20:14), Nabi Zakariya a.s. (lihat QS. Ali Imran, 3:39), Nabi Isa a.s. (lihat QS. Maryam, 19:31), dan juga Lukmanul Hakim (lihat QS. Luqman, 31:17).

Dalam ibadah salat terkandung banyak hikmah, baik bagi diri pribadi maupun sosial, di antaranya adalah:

1. Membentuk pola hidup bersih dan sehat, sebab salat yang sah dipersyaratkan bersihnya badan, tempat, dan pakaian dari kotoran dan najis, serta membersihkan jiwa dari sikap syirik, sebelum seseorang hendak melaksanakan salat. Salat menyehatkan badan karena gerakan salat dapat membina fisik yang bugar. Dr. Saboe menerangkan bahwa posisi kedua tangan yang dilipat di atas pusat pada waktu takbiratul ihram adalah sikap relax atau istirahat yang paling sempurna bagi kedua tangan. Dengan sikap relax tersebut, Rukun salat:

1. Niat.

2. Berdiri (bagi yang mampu).

3. Takbiratul ihram.

4. Membaca Surat Al-Fatihah.

5. Ruku’.

6. I’tidal.

7. Sujud (dua kali).

8. Duduk di antara dua sujud.

9. Duduk akhir.

10. Membaca tasyahud akhir.

11. Membaca shalawat.

12. Salam.

13. tertib.

sendi siku (articulatio cubiti) dan sendi pergelangan tangan (articulatio metacarpalia) serta otot-otot dari kedua tangan berada dalam keadaan istirahat penuh. Itu menyebabkan sirkulasi darah kembali ke jantung dan produksi getah bening serta air jaringan yang terkumpul dalam kantong-kantong (bursa) kedua persendian menjadi lebih baik, sehingga gerakan di dalam kedua sendi tangan menjadi lebih lancar dan mudah menghindarkan timbulnya berbagai penyakit persendian, misalnya kekakuan sendi atau rhematik. Ini baru gerakan pada waktu takbiratul ihram, belum lagi gerakan-gerakan yang lain dalam salat, seperti ruku’, sujud, duduk iftirasy (duduk pada tahiyat awal), duduk tawarruk (duduk pada tahiyat akhir), dan sebagainya, tentulah lebih banyak lagi mengandung hikmah bagi kesehatan badan. Tidak mengherankan kalau sarjana Barat mengemukakan sinyalemen bahwa para ulama yang ahli salat, pada umumnya dikaruniai umur panjang.

2. Mendidik disiplin, sebab kewajiban salat itu dilakukan pada batasan waktu tertentu, dan menunda salat di luar waktunya tanpa sebab yang dibolehkan oleh agama menyebabkan salat tersebut tidak sah dan tertolak.

3. Memperteguh iman, sebab bacaan yang diucapkan berisikan do’a-do’a dan persaksian atas keimanan seseorang, dimana bila hal tersebut diucapkan berulang kali diyakini dapat memperteguh iman seseorang dan membetuk kepribadian yang kuat.

4. Menenteramkan hati, sebab salat merupakan realisasi dari upaya mengingat atau berdzikir kepada Allah, ketundukan hati dan kepasrahan jiwa hanya kepada Allah, sehingga segala persoalan yang membebani dirinya menjadi tersandarkan kepada Allah, hati pun menjadi tenteram.

Ketenteraman hati karena menjalankan kewajiban agama (termasuk salat), diakui oleh para ahli ilmu jiwa, misalnya Carl Jung dalam Modern Man in Search of Soul menyatakan: “Saya telah merawat beratus-ratus pasien. Sebagian besar dari pasien yang berusia di atas 35 tahun, pokok-pokok kesukaran yang dialaminya disebabkan oleh tidak dimilikinya pandangan hidup yang berdasarkan keagamaan. Saya dapat berkata dengan pasti bahwa setiap mereka itu menderita sakit dikarenakan oleh lepasnya mereka dari kehidupan keagamaan yang dapat memberikan kepuasan kepada penganutnya. Dan, tidak seorang juga di antara mereka itu bisa sungguh-sungguh sembuh, sebelum mereka berhasil mendapatkan kembali pandangan hidup yang berdasarkan agama”. A.A. Brill juga menyimpulkan bahwa siapa saja yang betul-betul menjalankan agama tidak bisa terkena penyakit saraf, anyone who is truly religious does not develop a neurosis. Penelitian lain dilakukan oleh Harold Koenig yang dipublikasikan dalam Does Religion Good for Your Healt ?, meskipun ia melakukan banyak eksprimen pada ketaatan penganut Kristiani dalam menjalankan agamanya, hasil penelitiannya juga dapat dipakai untuk ketaatan pada agama lain. Harold Koenig menyimpulkan bahwa intensitas ketaatan seseorang terhadap agama mempengaruhi secara signifikan bagi kesehatan psikis maupun fisiknya. Menurutnya, orang yang rajin beribadah jauh lebih ulet dalam menghadapi kehidupan, dan tabah dalam menjalani penderitaan, semisal sakit, dari pada orang yang intensitas ketaatannya menjalankan ibadah rendah.

Hasil penelitiannya tersebut sekaligus menolak dan membantah pendapat para psikolog terdahulu yang berpandangan negatif terhadap agama.

5. Menjauhkan dan menghilangkan diri dari perbuatan dosa, sebab sebanyak lima kali dalam sehari ia dalam upaya mengingat atau berdzikir kepada Allah, belum termasuk salat sunnat, ibarat orang mandi sehari lima kali, secara fisik-jasmaniah akan lebih bersih dan sehat dari pada orang yang tidak mandi. Seperti itulah halnya, salat membersihkan jiwa, hati, dan badan seseorang dari perbuatan munkar, keji dan dosa.

Semakin baik dan benar salat yang dilakukannya, memenuhi syarat dan rukunya, semakin bersih pula seluruh amalannya. Tidak seperti kesimpulan beberapa pihak yang menyatakan bahwa orang yang salat, puasa dan haji, juga bisa melakukan perbuatan

keji, seperti korupsi serta tindakan a-susila lainnya. Sebenarnya, tindak kriminal dan a- susila seperti itu memiliki kompleksitas tersendiri. Ada kekuatan tarik-menarik antara berbagai faktor, seperti budaya, ekonomi, falsafah hidup, ideologi, serta desakan internal berupa nafsu serakah dalam diri orang tadi melawan kekuatan baik yang ditimbulkan dari amal ibadah, seperti salat, puasa dan haji yang ia lakukan. Jika intensitas amal ibadahnya lebih kuat, karena dilaksanakan dengan baik dan benar, memenuhi syarat dan rukun, penuh rasa ikhlas dan ketaatan, maka tidak ada ruang lagi baginya untuk bertindak kriminal maupun a-susila. Sebaliknya, jika faktor luar ibadah yang lebih dominan, kebutuhan ekonomi lebih kuat, dan nafsu serakah memenuhi jiwanya, sedang ibadah yang ia lakukan adalah asal-asalan, maka bukan tidak mungkin bahwa perilaku jahatnya akan menguasai dirinya. Semua perilaku manusia sebenarnya tak lepas dari potensi berbuat baik atau buruk yang dimiliki oleh manusia itu sendiri.

6. Fungsi sosial, dinamisasi kehidupan bermasyarakat, dan pembinaan demokrasi, sebab salat membina ukhuwah Islamiyah secara universal antara seluruh jama’ah yang hadir dalam salat, terlebih bila salat tersebut dilakukan di Masjid al-Haram. Para jama’ah berdiri dalam posisi berbaris lurus dan rapat, dimana pada akhir bagian salat mereka mengucap salam sambil menoleh ke kanan dan ke kiri, lalu berjabat tangan antar jama’ah, seluruhnya membina rasa persaudaraan yang kuat. Nilai demokratis yang terkandung dalam ibadah salat (berjama’ah) ini tampak pada perlakuan yang adil dan kesempatan yang sama bagi siapa saja yang datang duluan, ialah yang berhak menempati shaf atau garis depan, sedang yang terlambat ada di belakang. Tidak peduli, apakah yang datang pertama kali tersebut seorang biasa atau rakyat jelata, dan yang datang kemudian adalah pejabat, mereka memiliki kesempatan yang sama, tidak ada strata sosial dalam salat, dan Allah tidak melihat bentuk jabatan dan tubuh seseorang melainkan melihat hati, jiwa dan amal perbuatan mereka. Dalam salat berjama’ah terdapat seorang pemimpin, yakni imam yang wajib ditaati seluruh gerak-geriknya oleh para jama’ah, tidak diperkenankan bagi mereka untuk mendahului atau menghambat gerakannya. Jika sang iman salan dan khilaf, siapa

saja di antara para jama’ah dapat menegurnya sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Selanjutnya, salat terbagi atas salat fardhu atau wajib dan salat sunnat. Berbagai hadist menyatakan, bahwa salat fardhu terdiri atas: Dzuhur,’Ashar, Maghrib, Isya’, dan Shubuh. Sedangkan salat sunnat banyak sekali macamnya, di antaranya adalah salat malam (salat lail, tahajjud) dan salat rawatib (salat-salat yang mengikuti salat-salat fardhu, baik sebelum maupun sesudahnya), salat witir (salat yang bilangan rakaatnya ganjil dan merupakan penutup dari salat di malam hari, salat istikharah (salat untuk meminta petunjuk), salat hari raya (yakni salat Idul Fithri pada 1 Syawal dan Idul Adha pada 10 Dzulhijjah), salat gerhana (matahari atau bulan), salat tahiyatul Masjid, salat istisqa (salat untuk memohon agar Allah menurunkan hujan), salat dhuha (salat yang dilakukan pada saat matahari naik, antara ُﺮْﻛِﺬَﻟَو ِﺮَﻜْﻨُﻤْﻟاَو ِءﺎَﺸْﺤَﻔْﻟا ِﻦَﻋ ﻰَﻬْﻨَﺗ َةﺎَﻠﱠﺼﻟا ﱠنِإ

َنﻮُﻌَﻨْﺼَﺗ ﺎَﻣ ُﻢَﻠْﻌَﯾ ُﻪﱠﻠﻟاَو ُﺮَﺒْﻛَأ ِﻪﱠﻠﻟا )

45 (

Sesungguhnya mengingat Allah (salat) adalah lebih besar keutamaannya (dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan”

(QS. Al-Ankabut, 29:45)

Anda Ingin Khusuk ?

Konsentrasilah sepenuhnya bahwa kalau kita tidak mampu melihat Allah, maka sesungguhnya Allah melihat kita.

Pahami arti dan makna bacaan dan gerakan salat.

Hindari memainkan anggota badan dan gerakan yang tidak perlu.

Fokuskan pandangan mata ke arah sujud.

Selesaikan dulu persoalan yang membebani pikiran sebelum salat, kalau tidak bisa, lupakan sejenak.

Persiapkan diri sebelum salat dengan sebaik-baiknya.

Jangan tergesa-gesa.

pukul 08.00 sampai 11.00), dan salat jenazah. Merupakan perbuatan yang terpuji dan dianjurkan bilamana kita dapat menjalankan ibadah salat sunnat, lebih dari sekedar menjalankan salat wajib.

Puasa. Secara etimologis puasa (shiyam) berarti menahan diri (imsak), sedang dalam pengertian terminologis, puasa berarti menahan diri dari segala hal yang dapat membatalkan puasa berupa makan, minum, melakukan hubungan seksual, dan lain-lain, mulai terbit fajar hingga terbenam matahari dengan disertai niat dan syarat. Meskipun begitu, hakikat puasa sebenarnya bukanlah sekedar menahan makan, minum, melakukan hubungan seksual, atau yang terkait dengan kebutuhan fisik-biologis semata, melainkan juga menahan dari bisikan hawa nafsu yang merasuki jiwa, hati dan akal pikiran. Nafsu jahat seperti iri, dendam, memfitnah, bohong, mengumpat,

berkata kotor, dan lain-lain, merupakan bagian dari puasa. Nabi s.a.w. menyatakan bahwa banyak orang yang berpuasa tetapi tidak mendapatkan apa pun selain lapar dan dahaga. Itu disebabkan karena puasa yang dilakukan dimaknai sebatas aspek fisik-biologis, karena menahan lapar dan dahaga, tetapi tidak diikuti dengan mengendalian mental-spiritual. Padahal, inti puasa itu sebenarnya terletak pada pembinaan fisik dan psikis secara seimbang. Dari sini saja sebenarnya kita dapat membedakan antara puasa sebagai ibadah dengan diit. Meskipun keduanya menahan makan dan minum, tetapi berbeda secara prinsipal.

Puasa mengandung nilai sakral, kesucian, dan ketuhanan, bila dikerjakan oleh seorang Muslim, ia akan mendapat pahala,

mebentuk ketakwaan dalam dirinya, sekaligus berguna bagi kesehatan fisiknya. Sementara diit merupakan upaya pencegahan seseorang dari makan atau minum menu tertentu selama waktu yang terbatas, dimana umumnya diit dilakukan oleh orang demi kesembuhan atau pencegahan bagi tumbuhnya penyakit tertentu, kebugaran, kelangsingan, kecantikan, serta yang terkait dengan aspek fisik-jasmaniah, serta untuk kepentingan diri sendiri. Diit dapat dilakukan oleh siapa saja, bisa Muslim mapun non-Muslim. Berbeda dengan itu, di antara syarat sah puasa adalah beragama Islam. Ringkasnya, orang Muslim yang berpuasa pada intinya juga melakukan diit, tetapi pelaku diit tidaklah identik dengan puasa, mengingat puasa punya syarat-rukun, wajib-sunnah, dan yang membatalkannya.

Bagi umat Islam, puasa pada bulan Ramadlan merupakan suatu kewajiban dan orang yang meninggalkannya tanpa alasan yang dibolehkan oleh syari’at diancam dengan hukuman yang berat. Diriwayatkan oleh Ibn Abbas r.a bahwa rasulullah s.a.w bersabda:

Ikatan Islam dan sendi agama itu ada tiga, di atas didirikan Islam dan siapa yang meninggalkan salah satu di antaranya, berarti ia kafir terhadapnya dan halal darahnya: mengakui bahwa tiada Tuhan melainkan Allah, salat fardhu dan puasa Ramadlan”. Diriwayatkan juga oleh Abu Hurairah r.a., bahwasanya Nabi s.a.w bersabda: “Siapa yang berbuka pada suatu hari di bulan Ramadlan tanpa keringanan yang diberikan Allah kepadanya, tiadalah akan dapat dibayar oleh puasa sepanjang masa walau dilakukannya”. (Hadis Riwayat Abu Daud, Ibnu Majah dan Turmudzi). Para ulama telah sepakat bahwa puasa Ramadlan itu wajib atas orang Islam yang berakal, baligh, sehat dan menetap (muqim), sedang wanita hendaklah ia suci dari haidl dan nifas. Karena itu tidak diwajibkan puasa bagi orang kafir, orang gila, anak-anak, dan ada keringanan bagi orang sakit, musafir, perempuan ketika berhaidl atau nifas, begitu pula dengan orang tua yang sudah lemah, perempuan hamil atau sedang menyusukan anak.

Aturan yang terkait dengan orang-orang yang dibolehkan berbuka atau tidak puasa meliputi tiga hal, yakni: yang tidak diwajibkan untuk berpuasa, yang diberi keringanan, dan yang wajib mengqadla atau membayar puasa sejumlah hari yang ditinggalkan pada waktu yang lain. Berikut ini adalah penjelasan ringkasnya:

Syarat Wajib Puasa:

Berakal (tidak gila)

Baligh (dewasa)

Kuat

Syarat Sah Puasa:

Beragama Islam

Baligh (dewasa)

Suci dari haidl dan nifas

Masuk waktunya puasa

1. Orang yang tidak wajib puasa

Puasa itu merupakan ibadah Islamiyah, karena itu tidak wajib bagi orang yang tidak beragama Islam (kafir), gila, dan belum mukallaf. Hal ini ditegaskan dalam hadits Nabi dari Ali r.a yang berbunyi: “Diangkatkan pena kepada tiga golongan, yakni: orang gila sampai akalnya sehat, orang tidur sampai ia bangun, dan anak kecil sampai ia bermimmpi”.

(Riwayat Ahmad, Abu Daud dan Trmudzi). Kendati pun anak-anak tidak diwajibkan berpuasa, tetapi sangat baik bila para orang tua menyuruh anaknya untuk melaksanakan puasa sebagai upaya agar ia terbiasa dan senang melaksanakan ajaran agama sejak kecil. Di sini puasa dijadikan sebagai sarana pendidikan dan sekaligus menciptakan suasana Islami dalam keluarga, sehingga anak-anak terbiasa melaksanakan agama dan lambat laun akan menimbulkan perasaan cinta pada agama. Hal seperti ini pernah dilakukan keluarga sahabat pada masa Nabi s.a.w., seperti terungkap dalam Hadits yang diterima dari Rubai’ binti Mu’awwidz bahwa Rasulullah s.a.w. pada pagi hari ‘Asyura, mengirim utusan ke desa-desa kaum Anshar buat menyampaikan pesan:

Siapa yang telah berpuasa dari pagi hari hendaklah ia meneruskan puasanya, dan siapa yang dari pagi telah berbuka, hendaklah puasa pada hari yang tertinggal !”, maka setelah itu kamu pun berpuasalah, dan kami suruh anak-anak kami yang masih kecil berpuasa, kami bawa mereka ke Masjid, Kami buatkan mereka semacam alat permainan dari bulu domba. Maka jika diantara mereka yang menangis minta makan, kami berikan alat permainan itu. Demikinlah berlangsung sampai dekat waktu berbuka!”. (Riwayat Bukhari dan Muslim).

2. Orang yang diberi keringanan berbuka tapi wajib membayar fidyah

Mereka itu adalah orang yang telah tua, baik laki-laki maupun wanita, orang sakit yang tidak ada harapan akan sembuh, dan orang-orang yang mempunyai pekerjaan berat dan tidak mendapatkan pekerjaan lain, selain dari yang mereka lakukan itu. Bagi mereka, diberi keringanan untuk tidak

berpuasa, jika berpuasa akan memayahkan dan memberatkannya.

Namun demikian, sebagai gantinya mereka diwajibkan untuk membayar fidyah, yaitu memberi makan seorang miskin setiap hari sebanyak hari-hari di mana mereka tidak berpuasa.

Banyaknya makanan adalah sebanyak makanan yang biasa mereka makan setiap hari. Aturan ini berdasarkan kepada firman Allah: “Bagi orang-orang yang sulit melakukannya, hendaknya mereka membayar fidyah, yaitu memberi makan seorang miskin”. (lihat QS. Al- Baqarah, 2:184).

3. Orang yang diberi keringanan Berbuka dan wajib mengqadla

Mereka itu adalah orang sakit yang masih ada harapan untuk sembuh dan musafir (orang yang sedang berada dalam perjalanan).

Kepada mereka diwajibkan mengqadla

puasa tersebut. Allah berfirman: “siapa yang sakit di antaramu atau dalam perjalanan, hendaklah ia mengqadla pada hari-hari lain”. (QS. Al-Baqarah, 2:184). Sakit yang

ﻰَﻠَﻋ َﺐِﺘُﻛ ﺎَﻤَﻛ ُمﺎَﯿﱢﺼﻟا ُﻢُﻜْﯿَﻠَﻋ َﺐِﺘُﻛ اﻮُﻨَﻣاَء َﻦﯾِﺬﱠﻟا ﺎَﻬﱡﯾَأﺎَﯾ

َنﻮُﻘﱠﺘَﺗ ْﻢُﻜﱠﻠَﻌَﻟ ْﻢُﻜِﻠْﺒَﻗ ْﻦِﻣ َﻦﯾِﺬﱠﻟا )

183 (

ٍﺮَﻔَﺳ ﻰَﻠَﻋ ْوَأ ﺎًﻀﯾِﺮَﻣ ْﻢُﻜْﻨِﻣ َنﺎَﻛ ْﻦَﻤَﻓ ٍتاَدوُﺪْﻌَﻣ ﺎًﻣﺎﱠﯾَأ

ُﯾ َﻦﯾِﺬﱠﻟا ﻰَﻠَﻋَو َﺮَﺧُأ ٍمﺎﱠﯾَأ ْﻦِﻣ ٌةﱠﺪِﻌَﻓ ُمﺎَﻌَﻃ ٌﺔَﯾْﺪِﻓ ُﻪَﻧﻮُﻘﯿِﻄ

اﻮُﻣﻮُﺼَﺗ ْنَأَو ُﻪَﻟ ٌﺮْﯿَﺧ َﻮُﻬَﻓ اًﺮْﯿَﺧ َعﱠﻮَﻄَﺗ ْﻦَﻤَﻓ ٍﻦﯿِﻜْﺴِﻣ

َنﻮُﻤَﻠْﻌَﺗ ْﻢُﺘْﻨُﻛ ْنِإ ْﻢُﻜَﻟ ٌﺮْﯿَﺧ )

184 (

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. (yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barangsiapa di antara kamu ada

yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari- hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak

berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaah hati mengerjakan kebajikan,

maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu

mengetahui”

(QS. Al-Baqarah, 2:183-184)

menyebabkan dibolehkannya mereka berbuka adalah sakit berat dan akan bertambah parah kalau dia berpuasa atau akan lambat sembuhnya. Sedangkan orang yang sehat tapi takut akan jatuh sakit bila berpuasa, ia boleh berbuka seperti orang yang sakit, demikian juga orang yang amat kelaparan atau kehausan hingga mungkin celaka kalau puasa, hendaklah ia berbuka dan mengqadha puasanya, walaupun ia seorang yang sehat dan bukan musafir. Allah berfirman: “dan janganlah kamu bunuh dirimu, sesungguhnya Allah Maha Pengasih terhadapmu”. (lihat QS. An-Nisa’, 4:29); juga firmanNya:”Tidaklah Allah menyebabkan timbulnya kesulitan bagimu dalam agama !”. (lihat QS. Al-Haj, 22:78).

Apabila orang yang sedang sakit tersebut tetap berpuasa dan rela menanggung penderitaan, puasanya sah, hanya tindakanya itu makruh hukumnya, karena ia tidak menerima keringanan yang disukai Allah, dan siapa tahu mungkin ia dapat bahaya karenanya. Demikian juga bagi orang yang sedang dalam perjalanan, jika ia tetap berpuasa,maka puasanya dianggap sah. Hal seperti ini terjadi pada zaman Nabi s.a.w., ketika sebagian sahabat berpuasa, dan sebagian lagi berbuka. Hamzah bertanya kepada Rasulullah s.a.w.: ”Ya Rasulullah, saya merasa kuat untuk berpuasa dalam perjalanan.

Salahkah saya bila melakukannya ?”. Nabi s.a.w. menjawab : “Itu adalah keringanan dari Allah. Maka, siapa yang menerimanya, itu adalah baik, dan siapa yang masih ingin berpuasa tidak ada salahnya”. (HR Muslim).

4. Orang yang wajib Berbuka dengan Qadla

Para fuqaha sepakat, bahwa diwajibkan berbuka puasa bagi para perempuan yang sedang dalam keadaan haidl (menstruasi) dan nifas (darah yang keluar setelah melahirkan), dan haram bagi mereka berpuasa. Perempuan-perempuan yang sedang haidl dan nifas tersebut wajib mengqadla puasanya sebanyak hari yang mereka tinggalkan.

Ketentuan ini didasarkan kepada Hadis yang

diriwayatkan oleh Bukhari-Muslim dari Aisyah r.a., katanya: “Kami mengalami menstruasi di masa Rasulullah s.a.w., maka kami disuruh mengqadla puasa dan tidak disuruh mengqadla salat”.

Selanjutnya, puasa itu terbagi dalam empat kategori, yakni: puasa wajib, puasa sunnah, puasa makruh, dan puasa haram. Puasa wajib meliputi puasa di bulan Ramadlan setiap tahun selama satu bulan penuh, puasa yang harus dilakukan karena kifarat atau denda atas suatu amalan yang dilakukannya, serta puasa nadzar atau puasa yang dilakukan karena janji atau sumpah. Puasa sunnah identik dengan anjuran berpuasa, bila dikerjakan mendapat pahala dan bila ditinggalkan tidak berdosa. Misalnya adalah puasa sebanyak 6 hari di bulan Syawal, puasa pada hari Arafah (tanggal 9 Dzulhijjah), hari Asyura (10 Muharram), puasa di bulan Sya’ban, puasa tiap hari Senin dan Kamis, dan puasa tanggal 13, 14, dan 15 tiap bulan (kalender Hijriyah). Puasa makruh adalah puasa yang sebaiknya ditinggalkan karena hari dimana ia berpuasa tersebut termasuk hari raya dalam satu minggu padahal pada hari sebelum dan sesudahnya ia tidak biasa melakukan puasa. Puasa makruh dimaksud adalah puasa di hari Jum’at. Sedangkan puasa haram adalah puasa yang dilakukan pada dua hari raya, yakni ‘Idul Fithri dan ‘Idul Adha, ditambah dengan hari tasyrik, yakni tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjah.

Puasa, apakah wajib atau sunnah, akan batal bilamana orang yang berpuasa tersebut melakukan beberapa perkara berikut: makan dan minum, muntah karena sengaja, bersetubuh (di waktu puasa), mengalami haidl atau nifas, gila, dan keluar sperma, serta lainnya. Perkara yang membatalkan puasa tersebut patut diperhatikan agar puasa yang dilakukan tidak sampai rusak karenanya. Dengan memperhatikan perkara tersebut,

Boleh Buka Puasa, Kalau

Sakit

Musafir (dalam perjalanan)

Tidak kuat (karena tua atau kerja berat)

Sedang hamil atau menyusui