ﱠنِإ
D. Implementasi Iman dan Takwa dalam Kehidupan Modern
Dalam menegakkan tauhid, seseorang harus menyatukan antara iman dan amal, konsep dan pelaksanaan, pikiran dan perbuatan, serta teks dan konteks. Dengan demikian bertauhid adalah mengesakan Tuhan, artinya yakin dan percaya kepada Allah semata melalui pikiran dan membenarkan dalam hati, mengucapkan dengan lisan dan mengamalkan dengan perbuatan. Oleh karena itu seseorang baru dinyatakan beriman dan bertakwa, apabila sudah mengucapkan kalimat tauhid dalam syahadat asyahadu alla ilaaha illa Allah (aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah), kemudian diikuti dengan mengamalkan semua perintah Allah dan meninggalkan segala larangannya. Oleh karena itu, iman dan takwa tersebut hendaknya dapat diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari.
Walaupun dalam aplikasinya, keimanan dan ketakwaan seseorang, terutama pada kehidupan modern ini, menghadapi berbagai problematika dan tantangan, namun sebagai seorang muslim kaffah semua itu menjadikan iman dan takwanya semakin berkualitas.
Problematika Kehidupan Modern. Islam bukanlah agama anti-modernitas, justru Islam menganjurkan agar manusia berkembang secara dinamis mencapai kemajuan dalam segala hal. Ajaran Islam tidak hanya menyangkut bagaimana tata cara, rukun, syarat, atau sunnah-sunnah dan yang membatalkan wudlu, salat, puasa, zakat, haji, dan bentuk-bentuk ibadah makhdhah serta urusan ukhrawi lainnya, melainkan Islam juga mencakup ajaran tentang hidup di dunia dan masalah keduniaan. Dengan begitu, seorang muslim kaffah dituntut untuk membuat keseimbangan antara hidup bahagia di dunia dan akhirat.
Namun demikian, dalam kenyataannya tak dapat dipungkiri bahwa kemajuan di bidang keduniawian, berupa teknologi modern, alat transportasi, media komunikasi, temuan di bidang elektronika dan industri otomotif, selain menimbulkan kemajuan juga membawa dampak problematis, tantangan serta risiko bagi keimanan dan ketakwaan seseorang. Ibarat sebuah pabrik yang mengeluarkan limbah dan polusi, modernitas juga bisa mengeluarkan sampah yang harus dihindari, di antara polusi modernitas adalah kian terbukanya pornografi, pornoaksi, free sex, perilaku hedonis dan materialistik, premanisme, white collar crime, eksploitasi sumber daya alam, bentuk-bentuk kekerasan, sampai pada peperangan. Semua itu harus diwaspadai, bahkan kehidupan modern sendiri sebenarnya tak menghendaki munculnya efek samping negatif tersebut. Oleh karena itu, dibutuhkan sarana pembersih dari sampah modernitas tadi, dimana pembersih tersebut bisa berupa upaya melestarikan nilai-nilai budaya, adat istiadat, kemanusiaan yang beradab, dan lebih dari itu adalah agama (Islam). Dengan agama tersebut, manusia bisa tetap modern tanpa kuatir dengan dampak negatif yang justru akan mencampakkan mereka ke dalam lembah kenistaan yang dapat menurunkan martabatnya sebagai hamba Allah dan khalifahNya.
Lihatlah, betapa kemajuan alat komunikasi elektronik dewasa ini telah membuka berbagai kasus dan peristiwa baik di dalam maupun luar negeri, bagaimana pola hubungan antar manusia yang semakin diwarnai dengan kekerasan. Dewasa ini kasus perkosaan pada anak-anak dan sodomi telah meningkat, bahkan di berbagai tayangan stasiun televisi swasta dengan jelas direkonstruksi ulang pelaku dan korbannya yang kebanyakan dipicu oleh
persoalan sepele. Di salah satu tayangan kita menyaksikan betapa seorang bapak tega memperkosa putrinya hingga hamil dan melahirkan anak. Di tayangan yang lain kita saksikan bagaimana sekelompok orang tega merampok, memperkosa, sekaligus membunuh keluarga korban hanya untuk mengambil uang senilai dua puluh lima ribu rupiah. Begitu pula peristiwa seorang yang memakan daging mayat yang sudah dikubur layaknya kanibal dan kehidupan primitif. Belum lagi peristiwa kerusuhan masal, aksi teror bom, peledakan, bahkan perang antar warga kampung, antar suku, dan antar negara.
Mengapa di kehidupan yang katanya telah modern ini masih saja dijumpai bentuk-bentuk penyimpangan dan kekerasan tersebut ? dari sisi agama (Islam), hal ini bisa dijelaskan akibat merosotnya moralitas manusia yang kian tak beradab dan tak menghargai hak-hak manusia atau makhluk lain, di samping karena kian tipisnya keimanan dan ketakwaan seseorang.
Peran Iman dan Takwa dalam Kehidupan Modern. Iman dan takwa termasuk masalah mental-spiritual, dimana bagi seseorang yang memiliki keduanya akan mendapatkan banyak manfaat, di antaranya adalah:
1. timbulnya jiwa yang bebas atau merdeka (hurriyah, lihat QS, Al-An’am, 6:82), yakni bebas akan rasa takut pada selain Allah.
2. hatinya akan tenang (thuma’ninah, lihat QS. Ar-Ra’d, 13:18).
3. mendapat berkah yang melimpah (barakah, lihat QS. Al-A’raaf, 7:96).
4. mencapai kehidupan yang baik (hayat thayyibah, lihat QS. An-Nahl, 16:97).
5. mendapat surga (jannah, lihat QS. Yunus, 10:25-26).
6. memperoleh kerelaan Allah (mardlatillah, lihat QS. Al-Bayyinah, 98:8).
Dengan peran iman dan takwa seperti itu diri seseorang akan terlindungi, seperti sebuah perisai yang melindungi tubuh dari serangan musuh, iman dan takwa akan memelihara kehidupan seseorang menjadi tetap dalam kebaikan, perdamaian, dan kebahagiaan di dunia dan akhirat. Bagi seorang yang beriman, kehidupan modern bukanlah sebuah musuh yang harus dilawan atau diperangi, melainkan sebuah peluang sekaligus tantangan. Peluang untuk menjalankan fungsi kehidupannya sebagai khalifah atau pemimpin dan pemakmur alam semesta, dimana manusia bekerja siang-malam tak mengenal lelah dalam menguak rahasia alam dan mencapai kemodernan. Akan tetapi dalam eksplorasinya itu, manusia menghadapi tantangan secara internal maupun eksternal.
Tantangan internal adalah datang dari dalam diri manusia itu sendiri, yakni timbulnya nafsu serakah, amarah, dengki, dendam, dan sejenisnya untuk menguasai alam tanpa peduli dengan hak dan kewajibannya sebagai sesama makhluk Allah, dan tantangan eksternal berupa gaya hidup masyarakat yang kian permisif, kompetitif, bebas, kemerosotan akhlak, perilaku kekerasan, dan lain sebagainya yang acap kali dinisbatkan sebagai dampak negatif dari modernitas.
Bagaimana Sikap Anda ?
Kasus 1. Okta adalah aktivis dakwah kampus di salah satu perguruan tinggi di Yogyakarta. Ia bercita-cita menjadi pemikir (intelektual) muslim handal (seperti Rasyid Ridla, yach...?).
oleh karena itu ia kuliah di Fisipol. Di sana ia mempelajari berbagai macam tipe masyarakat dan teori-teori sosiologi. Sesekali waktu ia berdiskusi dengan wacana Islam liberal serta pemikiran Islam kontemporer, juga perkembangan sosial kemasyarakatan. Sebagai calon pemikir muslim yang komitmen pada keorisinilan nilai (Islam) yang dipahaminya, ia berusaha meluruskan pemahaman teman-temannya yang sudah cukup jauh menyimpang dari nilai Islam, mereka mengadopsi nilai-nilai Barat yang notabene sekuler tanpa reserve, seperti teori humanisme yang mengatakan bahwa orang bisa menjadi baik tanpa harus beragama, dan sering juga menganggap bahwa semua agama adalah sama. Sekali lagi, Okta ingin sekali mengembalikan temannya ke pemahaman Islam yang benar. Coba bantu aktivis kita yang satu ini !
Kasus 2. Tak pernah terbayangkan oleh Yayan, jika dokter yang menangani penyakitnya menyatakan bahwa kemungkinan bahwa hidupnya tinggal enam bulan lagi. Ia baru tersadar bahwa belum banyak yang dikerjakannya untuk bekal di akhirat, pikirannya pun jadi berubah. Dia memutuskan untuk keluar dari kampusnya dan memilih hidup menyendiri di salah satu pondok pesantren. Haruskan Yayan berbuat seperti itu ? Jika Anda menjadi Yayan, apa yang akan Anda lakukan dalam menghadapi sakaratul maut?
Kasus 3. Yuyun melakukan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di sebuah desa nelayan. Tugasnya mencari responden untuk analisa sosial-ekonomi masyarakat setempat. Yang membuat Yuyun pusing adalah kepercayaan masyarakat setempat untuk selalu makani laut. Artinya, memberi sesajen agar hasil tangkapan ikannya banyak dan sang penjaga laut tidak marah.
Padahal, menurut analisanya selaku mahasiswa Sosial-Ekonomi Fakultas Pertanian, penurunan produktivitas hasil tangkapan nelayan tadi dikarenakan oleh daya dukung lingkungan yang menurun. Suatu saat ia mendapat kesempatan untuk mengisi pengajian di depan para nelayan. Tentu saja kesempatan ini tidak ia sia-siakan. Namun, ia bingung menyusun ceramahnya. Bagaimana kalau kita membantunya, yuuuk !!
Sudah Terampilkah Anda ?
Tugas: Cari dan kumpulkan tiga ayat Alquran yang terkait dengan keesaan Allah, lalu bacakan keras-keras (reading aloud) beserta artinya agar dapar didengarkan oleh teman sekelas Anda.
ma : Muslim Kaffah: Ada Apa dengan Manusia Muslim ?
Materi : Hakikat Manusia Menurut Islam, serta masalah HAM dan Demokrasi.
Status : Kompetensi Utama.
Peranan : Wawasan dan Kesadaran.
Komptensi : Membimbing mahasiswa mengembangkan penalaran yang baik, berpikir kritis, dan menjadikan nilai-nilai Islam untuk mengenali berbagai masalah aktual dan memecahkannya.
Indokator :
Mampu menjelaskan konsep manusia dalam berbagai perspektif.
Mampu menguraikan persamaan dan perbedaan manusia dengan makhluk lain.
Mampu menjelaskan eksistensi dan martabat manusia.
Mampu menyampaikan peran manusia sebagai hamba dan khalifah Allah di bumi.
Mampu menjelaskan HAM dalam pandangan Islam.
Mampu menjelaskan makna demokrasi menurut Islam.
Mampu mengimplementasikan kepribadian Muslim Kaffah dalam kehidupan modern.