• Tidak ada hasil yang ditemukan

IPTEK dan Seni dalam Islam

RELIGIUSITAS SAINS

A. IPTEK dan Seni dalam Islam

Konsep Ipteks

Ilmu adalah pengetahuan yang sudah diklasifikasi, diorganisasi, disistimatisasi dan diinterpretasi, menghasilkan kebenaran objektif, sudah diuji kebenarannya dan dapat diuji ulang secara ilmiah.

Secara etimologis, kata ilmu berarti kejelasan, karena itu segala yang terbentuk dari akar katanya mempunyai ciri kejelasan. Kata ilmu dengan berbagai bentuknya terulang 854 kali dalam Alquran. Kata ini digunakan dalam arti proses pencapaian pengetahuan dan objek pengetahuan (Quraish Shihab:434). Setiap ilmu membatasi diri pada salah satu bidang kajian. Oleh sebab itu seseorang yang memperdalam ilmu-ilmu tertentu disebut sebagai spesialis. Dari sudut pandang filsafat, ilmu lebih khusus dibandingkan dengan pengetahuan.

Sedang teknologi merupakan salah satu budaya sebagai hasil penerapan praktis dari ilmu pengetahuan. Teknologi dapat membawa dampak positif berupa kemajuan dan kesejahteraan bagi manusia, tetapi juga sebaliknya dapat membawa dampak negatif berupa ketimpangan-ketimpangan dalam kehidupan manusia dan alam semesta yang berakibat kehancuran alam semesta. Oleh sebab itu teknologi bersifat netral, artinya bahwa teknologi dapat digunakan untuk kemanfaatan sebesar-besarnya atau bisa juga digunakan untuk kehancuran manusia itu sendiri. Adapun seni termasuk bagian dari budaya manusia, sebagai hasil ungkapan akal dan budi manusia dengan segala prosesnya. Seni merupakan hasil ekspresi jiwa yang berkembang menjadi bagian dari budaya manusia.

Ilmu dan teknologi menggali sumber pengetahuannya dari alam. Dalam bahasa Arab, kata ‘alam dapat berarti dunya atau dunia (world, realm), kaun atau alam (universe, cosmos), dan ahya’ atau kerajaan (kingdom). Menariknya, kata ‘alam ini tersusun dari huruf dan akar kata jadian yang sama dengan kata ‘ilmu yang berarti pengetahuan (science, knowledge, learning, lore, information, scholarship, education, cognizance, awareness, aquintance, familiarity, cognition dan perception. Sedang orang yang berilmu disebut sebagai ‘alim sepadan dengan sebutan scientiest, scholar, savant, expert, specialist, authority, adept, master, connoisseur atau knower. 34 Ini mengindikasikan bahwa dalam alam terdapat rahasia keteraturan berupa sunnatullah atau law of nature yang dapat dipelajari secara ilmiah oleh para ilmuwan. Jadi, tidak sembarang orang dapat menguak rahasia alam ini. Alquran mensinyalir rahasia alam tersebut dengan firman- Nya:

34 Ruhi Baalbaki, Al-Mawrid: A Modern Arabic – English Dictionary, (Beirut: Dar el-Ilmi Lilmalayin, 1988), h.745, 775.

Dari ayat di atas dapat diketahui bahwa alam (semesta) baik di langit maupun bumi, menyimpan rahasia yang tidak semua orang mengetahuinya. Hanya orang-orang yang berilmu pengetahuan tentang alam tersebutlah yang dapat menyibak rahasinyanya.

Meskipun demikian, tidak semua rahasia alam dapat diketahui oleh manusia. Baik rahasia alam yang sudah diketahui dan ditemukan oleh manusia, maupun yang belum diketahui dan ditemukan, seluruhnya diketahui oleh Allah s.w.t. Sebab, Allah sendirilah yang menciptakan alam.

Menurut ayat tersebut, alam itu ada dua macam, yakni ‘alam ghaib atau dunia metafisik yang non-indrawi, serta ‘alam syahadah atau dunia fisik dan nyata yang indrawi. Bagi seorang Muslim, keberadaan kedua macam alam tersebut merupakan bagian dari keyakinan atau iman. Khusus mengenai ‘alam ghaib, perlu saya sampaikan bahwa sesuatu yang tidak kasat mata, seperti eksistensi Tuhan, malaikat, surga dan neraka, tidaklah berarti tidak ada.

Dalam fisika pun diakui bahwa sesuatu yang tak dapat ditangkap oleh indera atau alat bantunya, tidak berarti sesuatu tadi tidak

ada. Listrik, misalnya, bentuk, rasa, warna dan baunya tak tertangkap oleh panca indera, akan tetapi eksistensinya dibuktikan melalui gejala dan energi yang ditimbulkannya, bila berupa energi cahaya, listrik dapat menyalakan lampu, bila berupa energi panas, listrik dapat dipakai meyetrika, dan listrik bisa pula berupa energi kinetis seperti menggerakkan mesin atau motor, atau pun lainnya. Sama tidak kasat matanya dengan listrik, dan masih menyimpan misteri, adalah zat ether, neutron maupun positron yang berada pada inti atom.

Meskipun tak terindera, namun keberadaannya diakui secara ilmiah.

‘Alam ghaib bagi manusia, jika diartikan sebagai dunia non-lahir yang kasat mata, maka dapat dibagi dalam beberapa bagian, yakni: alam pra-konsepsi, alam rahim, lantas terlahir di dunia lalu mengalami kematian, alam kubur, alam barzakh, dan alam akhirat.

Saya akan menguraikan macam-macam ‘alam ghaib tersebut berdasarkan tuntunan Alquran dan Hadis.

Alam pra-konsepsi bagi manusia adalah saat dimana sperma dan ovum belum bertemu, artinya pasangan laki-laki dan perempuan belum terikat oleh pernikahan.

Walaupun begitu, Allah s.w.t. Maha Mengetahui tentang keberadaan manusia sejak azali.

ﱢﻖَﺤْﻟﺎِﺑ َضْرَﺄْﻟاَو ِتاَﻮَﻤﱠﺴﻟا َﻖَﻠَﺧ يِﺬﱠﻟا َﻮُﻫَو ُﻚْﻠُﻤْﻟا ُﻪَﻟَو ﱡﻖَﺤْﻟا ُﻪُﻟْﻮَﻗ ُنﻮُﻜَﯿَﻓ ْﻦُﻛ ُلﻮُﻘَﯾ َمْﻮَﯾَو

ِةَدﺎَﻬﱠﺸﻟاَو ِﺐْﯿَﻐْﻟا ُﻢِﻟﺎَﻋ ِرﻮﱡﺼﻟا ﻲِﻓ ُﺦَﻔْﻨُﯾ َمْﻮَﯾ

ُﺮﯿِﺒَﺨْﻟا ُﻢﯿِﻜَﺤْﻟا َﻮُﻫَو 73 )

(

Dan Dialah yang menciptakan langit dan bumi dengan benar. Dan benarlah perkataan-Nya di waktu Dia mengatakan:

"Jadilah, lalu terjadilah", dan di tangan- Nyalah segala kekuasaan di waktu sangkakala ditiup. Dia mengetahui yang ghaib dan yang nampak. Dan Dialah Yang

Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui”.

Alam rahim merupakan kelanjutan dari alam pra-konsepsi atau pra-nikah, dimana suami telah berhasil membuahi istrinya dan tumbuh zygota dalam rahim istri berupa janin yang akan menjadi calon bayi. Alam rahim ini normalnya dilalui selama sekitar sembilan bulan sepuluh hari. Selama itu, terjadi tahapan perubahan janin. Allah berfirman dalam QS.

Al-Mukminun, 23:13, “Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim).Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain.

Maka Maha Sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik.” Juga firmanNya dalam QS. Az- Zumar, 39:6, “ia menciptakan kamu dari seorang diri kemudian Dia jadikan daripadanya isterinya dan Dia menurunkan untuk kamu delapan ekor yang berpasangan dari binatang ternak. Dia menjadikan kamu dalam perut ibumu kejadian demi kejadian dalam tiga kegelapan. Yang (berbuat) demikian itu adalah Allah, Tuhan kamu, Tuhan Yang mempunyai kerajaan. Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia; maka bagaimana kamu dapat dipalingkan?

Dalam Hadis disebutkan tahapan dari alam rahim ini sampai terjadi kepastian jenis kelamin dan nasib manusia tersebut.

ُﻪْﻨَﻋ ُﻪﱠﻠﻟا َﻲِﺿَر ٍﻚِﻟﺎَﻣ ِﻦْﺑ ِﺲَﻧَأ ُﺚﯾِﺪَﺣ :

ْيَأ ُلﻮُﻘَﯿَﻓ ﺎًﻜَﻠَﻣ ِﻢِﺣﱠﺮﻟﺎِﺑ َﻞﱠﻛَو ْﺪَﻗ ﱠﻞَﺟَو ﱠﺰَﻋ َﻪﱠﻠﻟا ﱠنِإ َلﺎَﻗ ُﻪﱠﻧَأ َﺚﯾِﺪَﺤْﻟا َﻊَﻓَرَو ﱢبَر

ﱢبَر ْيَأ ُﻚَﻠَﻤْﻟا َلﺎَﻗ َلﺎَﻗ ﺎًﻘْﻠَﺧ َﻲِﻀْﻘَﯾ ْنَأ ُﻪﱠﻠﻟا َداَرَأ اَذِﺈَﻓ ٌﺔَﻐْﻀُﻣ ﱢبَر ْيَأ ٌﺔَﻘَﻠَﻋ ﱢبَر ْيَأ ٌﺔَﻔْﻄُﻧ ٌﺪﯿِﻌَﺳ ْوَأ ﱞﻲِﻘَﺷ ﻰَﺜْﻧُأ ْوَأ ٌﺮَﻛَذ

ِﻪﱢﻣُأ ِﻦْﻄَﺑ ﻲِﻓ َﻚِﻟَﺬَﻛ ُﺐَﺘْﻜُﯿَﻓ ُﻞَﺟَﺄْﻟا ﺎَﻤَﻓ ُقْزﱢﺮﻟا ﺎَﻤَﻓ

Diriwayatkan dari Anas ibn Malik r.a katanya: Secara marfuk Nabi s.a.w bersabda: Allah s.w.t mengutus Malaikat ke dalam rahim. Malaikat berkata: Wahai Tuhan! Ia masih berupa air mani.

Setelah beberapa waktu kemudian, Malaikat tadi berkata lagi: Wahai Tuhan! Ia sudah berupa darah beku (segumpal darah). Begitu juga setelah berlalu empat puluh hari, Malaikat berkata lagi: Wahai Tuhan! Ia sudah berupa segumpal daging. Ketika Allah s.w.t membuat keputusan untuk menciptakannya menjadi manusia, maka Malaikat berkata: Wahai Tuhan! Orang ini akan diciptakan lelaki atau perempuan? Celaka atau bahagia? Bagaimana rezekinya? Serta bagaimana pula ajalnya?

Segala-galanya dicatat semasa dalam perut ibunya

Dalam pemikiran Islam, ada dua sumber ilmu, yaitu wahyu dan akal. Keduanya tidak boleh dipertentangkan. Manusia diberi kebebasan dalam mengembangkan akalnya dengan catatan dalam pengembangannya tetap mengikuti tuntunan wahyu dan tidak bertentangan dengan syari’at. Atas dasar itu, ilmu terbagi dalam dua bagian, yaitu ilmu yang bersifat abadi (perennial knowledge) dimana tingkat kebenarannya bersifat mutlak (absolute), karena bersumber dari wahyu Allah, dan ilmu yang bersifat perolehan (aquired knowledge), dimana tingkat kebenarannya bersifat nisbi (relative), karena bersumber dari akal pikiran manusia.

Ilmu-ilmu yang bersumber dari wahyu Allah menghasilkan religious sciences atau yang oleh Ismail Raji al-Faruqi disebutnya sebagai revealed knowledge, sedang ilmu-ilmu yang bersumber dari penalaran manusia menghasilkan rational sciences. Saya termasuk dalam posisi mendukung pengembagan keilmuan dengan jalan memodernisir pemahaman terhadap religious sciences tersebut melalui scientification of Islam atau mengilmiahkan pemahaman terhadap ajaran Islam, sembari melakukan Islamisasi pengetahuan modern atau Islamization of knowledge, sehingga dapat dicapai perpaduan yang harmonis antara yang klasik dengan modern. Kalau dulu orang mengajar bab salat dengan menjelaskan syarat wajib, rukun, sunnah, bacaan, waktu dan yang membatalkan salat melalui dalil yang fiqh- oriented, sekarang diperlukan lebih dari itu, bagaimana pemahaman ilmiah tentang salat ? maka, salat perlu ditinjau dalam perspektif sosiologi, psikologi, komunikasi, budaya, pendidikan dan lain sebagainya, sehingga pemahaman orang tentang salat menjadi lebih up to date sekaligus rasional. Begitu pula dengan ilmu-ilmu modern pecahan dari ilmu-ilmu sosial (social sciences), ilmu-ilmu kealaman (natural sciences) atau kemanusiaan (humaniora) yang

berlatar budaya dan konteks Barat, belum tentu sesuai dengan nilai-nilai Islam, perlu dilakukan Islamisasi ilmu.

Agama pada umumnya mempunyai ajaran-ajaran yang diyakini turun kepada masyarakat manusia melalui wahyu, dalam arti bahwa ajaran-ajaran itu berasal dari Tuhan Yang Maha Mengetahui dan oleh karena itu bersifat benar, dan tidak akan berubah-ubah sekalipun masyarakat manusia berubah menurut perkembangan zaman. Ajaran-ajaran agama itu bersifat absolut, tidak akan merubah dan tidak akan dapat dirubah menurut peredaran masa, ia merupakan dogma. Inilah yang menimbulkan sikap dogmatis dalam tiap agama.

Ilmu pengetahuan sebaliknya tidak kenal dan tidak terikat pada waktu. Ilmu pengetahuan berpijak dan terikat pada pemikiran rasional. Itulah sebabnya secara populer orang mengatakan bahwa agama bermula dari tidak percaya. Akan tetapi meskipun titik berangkatnya berbeda, tidaklah berarti bahwa antara agama dan ilmu itu dalam posisi yang bertentangan. Kalau agama mempunyai nilai kebenaran mutlak maka ilmu yang sifat kebenarannya relatif adalah merupakan alat bagi manusia untuk mencari dan menemukan kebenaran-kebenaran itu. Dengan menggunakan kekuatan daya pikir dan dengan dibimbing oleh hati nuraninya, manusia dapat menemukan kebenaran-kebenaran dalam hidupnya secara baik, yaitu beramal saleh. Atau dengan kata lain bahwa ilmu pengetahuan adalah persyaratan dari amal saleh, yaitu amal, yang dituntut oleh ajaran agama terhadap pemeluknya.

Sejalan dengan itulah Islam memandang kegunaan dan peranan ilmu, sehingga tidak membuat garis pemisah antara agama dan ilmu. Agama adalah nilai-nilai panutan yang memberi pedoman pada tingkah laku manusia serta pandangan hidupnya; ilmu adalah sesuatu hasil yang dicapai oleh manusia berkat bekal kemampuan-kemampuannya sebagai anugerah dari Tuhan Maha Pencipta. Ilmu tidak dibekalkan sebagai barang jadi, ilmu harus dicari, dan untuk ikhtiar mencari ilmu ini Tuhan membekali manusia dengan berbagai kemampuan yang memang kodratnya sesuai dengan keinginan untuk mengetahui apa saja.

Manunggalnya agama dan ilmu pengetahuan itu menjadikan manusia betapa pun tinggi tingkat ilmunya, makhluk sosial yang etis selalu bertangungjawab. Sebab akal semata- mata tidak selalu membimbing ke jalan yang benar; salah satu ciri akal adalah juga kemungkinannya untuk menyesatkan dan bahkan menimbulkan kerumitan bagi manusia sendiri. Diterangi oleh nilai-nilai agama, maka proses akal tidak akan terbiarkan menyusuri garis-garis yang menyesatkan. Tidak terpisahnya antara agama dan ilmu berarti pula berpadunya kata-hati dan pengetahuan, satunya conscience dan science. Maka dapatlah dimengerti mengapa Islam sejak dini sekali menganggap perlunya integrasi antara agama dan ilmu dan sekaligus menempatkan orang-orang yang beriman dan berilmu pada posisi yang lebih tinggi. Hal ini dinyatakan dalam QS. Al-Mujadalah, 58:11: “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat”.

Integrasi Iman, Ilmu, Teknologi dan seni

Islam merupakan ajaran agama yang sempurna. Kemampuannya dapat tergambar dalam keutuhan inti ajarannya. Ada tiga inti ajaran Islam, yaitu iman, Islam dan ihsan.

Ketiga inti ajaran itu terintegrasi dalam sebuah sistem ajaran yang disebut Dinul Islam.

Iman, ilmu dan amal merupakan satu kesatuan yang utuh, tidak dapat dipisahkan antara satu sama lain. Iman diidentikkan dengan akar dari sebuah pohon yang menopang tegaknya ajaran Islam. Ilmu bagaikan batang dan dahan pohon itu yang mengeluarkan cabang-cabang ilmu pengetahuan, teknologi dan seni. Sedangkan amal ibarat buah dari pohon. Ipteks yang dikembangkan di atas nilai-nilai iman dan takwa akan menghasilkan amal saleh bukan kerusakan alam.

Perbuatan baik seseorang tidak akan bernilai amal saleh apabila perbuatan tersebut tidak dibangun di atas nilai-nilai iman dan takwa. Sama halnya pengembangan ipteks yang lepas dari keimanan dan ketakwaan, tidak akan bernilai ibadah serta tidak akan menghasilkan kemaslahatan bagi umat manusia dan alam lingkungannya apabila tidak dikembangkan atas dasar nilai-nilai iman dan takwa.

Keutamaan Orang yang Berilmu

Manusia merupakan makhluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna.

Kesempurnaannya karena dibekali seperangkat potensi. Potensi yang paling utama dalam diri manusia adalah akal. Akal berfungsi untuk berpikir, dan hasil pemikirannya itu adalah ilmu pengetahuan dan

teknologi. Ilmu-ilmu yang dikembangkan atas dasar keimanan dan ketakwaan kepada Allah swt, akan

memberikan jaminan

kemaslahatan bagi kehidupan umat manusia termasuk bagi lingkungannya (Abdullah Abdul Daim, 1984:232).

Berkenaan dengan keutamaan orang-orang yang berilmu, Ak- Ghazali mengatakan,

“Barangsiapa berilmu, membimbing manusia dan memanfaatkan ilmunya bagi orang lain, bagaikan matahari, selain menerangi dirinya, juga menerangi orang lain. Dia bagaikan minyak kesturi yang harum dan menyebabkan keharumannya kepada orang yang berpapasan dengannya”

(Ihya Ulumuddin, Juz I:49).

Dari pernyataan di atas tampak bahwa Al-Ghazali sangat menghargai orang yang berilmu dan mengamalkan ilmunya dengan ikhlas. Salah satu pengamalannya adalah mengajarakan kepada orang lain (Fathiyah Hasan Sulaiman, 1986:30)

Tanggungjawab Ilmuwan terhadap Lingkungan

Ada dua fungsi utama manusia di dunia, yaitu sebagai ‘abdun (hamba Allah) dan sebagai khalifah Allah di bumi. Esensi dari ‘abdun adalah ketaatan, ketundukan dan kepatuhan kepada kebenaran dan keadilan Allah. Adapun esensinya sebagai khalifah Allah di muka bumi, ia mempunyai tanggungjawab untuk menjaga keseimbangan alam dan lingkungannya tempat mereka tinggal. Manusia diberikan kebebasan untuk mengeksplorasi, menggali sumber-sumber daya, serta memanfaatkannya dengan sebesar- besar kemanfaatan. Karena alam diciptakan untuk kehidupan manusia sendiri, untuk menggali potensi alam dan memanfaatkannya diperlukan ilmu pengetahuan yang memadai.

Tahukah Anda ?

Dalam bidang astronomi, umat Islam dahulu telah berhasil memadukan tradisi bangsa India, Persia, Timur Dekat kuno dan khususnya Yunani, menjadi sebuah sintesis yang mengukir babak baru dalam sejarah astronomi sejak abad ke-8 dan seterusnya.

Ptolomeus, yang namanya dalam bahasa Inggris menunjukkan asal kata Arab dari terjemahan bahasa Latin, telah mengkaji secara mendalam tentang teori planet, lalu mendapat kritik dari beberapa ahli

astronomi baik dari dunia Islam bagian Timur maupun Barat, utamanya kritik menurut teori Nasir al-Din al- Tusi dan para muridnya, khususnya Qutb al-Din al- Shirazi, pada abad ke-13 Masehi.

Umat Islam juga telah mengamati angkasa secara cermat dan menemukan beragam bintang. Buku tentang bintang tulisan 'Abd al-Rahman al-Sufi sebenarnya diterjemahkan ke dalam bahasa Spanyol oleh Alfonso X el Sabio lalu mempengaruhi konstelasi perbintangan dalam bahasa Eropa. Banyak nama- nama bintang dalam bahasa Inggris seperti Aldabaran yang masih diucap dalam bahasa Arab asalnya.

Tema : Sisi Lain Masyarakat Muslim.

Materi :

 Kerukunan Antar Umat Beragama.

 Masyarakat Madani dan Kesejahteraan Umat.

Status : Kompetensi Penunjang.

Peranan : Wawasan, Kesadaran dan Pemahaman.

Komptensi :

 Menghantarkan mahasiswa mampu berkomunikasi dengan baik, bersikap mandiri dan toleran dalam mengembangkan kehidupan yang harmonis antar umat beragama.

 Menghantarkan mahasiswa memiliki wawasan yang luas dan mengenali berbagai perubahan di masyarakat serta mampu mengambil keputusan dan sikap secara bertanggungjawab sesuai dengan nilai-nilai Islam yang diyakininya.

Indokator :

 Mampu menjelaskan makna kerukunan antar umat beragama.

 Mampu menjelaskan bentuk-bentuk hubungan antar sesama manusia.

 Mampu menerapkan prinsip-prinsip pluralisme dalam kehidupan bermasyarakat.

 Mampu membedakan konsep civil society dengan masyarakat madani.

 Mampu menyampaikan karakteristik dan pilar pendukung terwujudnya masyarakat madani.

 Mampu mengimplementasikan masyarakat madani dalam kehidupan.

7