• Tidak ada hasil yang ditemukan

Urgensi Pendidikan Agama Islam

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

B. Guru

6. Urgensi Pendidikan Agama Islam

membutuhkan kekuatan dalam hal jasmani, akal, dan ilmu, tetapi ia juga membutuhkan pendidikan budi pekerti, perasaan, kemauan, cita rasa, dan kepribadian. Sejalan dengan konsep ini maka semua mata pelajaran atau bidang studi yang diajarkan kepada peserta didik haruslah mengandung muatan pendidikan akhlak dan setiap guru haruslah memerhatikan akhlak atau karakter peserta didiknya.

tua, yaitu memiliki anak yang beriman, bertakwa kepada Allah Swt, berbudi luhur, cerdas dan terampil berguna untuk Nusa, Bangsa dan Agama..

sebagai warga Negara Indonesia yang beriman dan bertakwa, patriotik (cinta tana air) menjadikan falsafah pancasila sebagai pedoman hidup bernegara dan bermasyarakat. Sepakat bahwa pendidikan agama (khususnya islam) harus kita sukseskan dalam pelaksanaan pada semua jenis, jenjang, dan jalurnya. Sesuai dan sejalan dengan aspirasi bangsa seperti telah digariskan dalam tap-tap MPR, dan undang-undang telah menjabarkan aspirasi tersebut yang telah disetujui oleh DPR dan disahkan oleh presiden. Sehingga menjadi dasar yuridis nasional kita dan mengikat seluruh warga Negara Indonesia ke dalam satu sistem pendidikan nasional.

Pendidikan secara kultural pada umumnya berada dalam lingkup peran, fungsi dan tujuan yang tidak berbeda. Semuanya hidup dalam upaya yang bernaksud mengangkat dan menegakkan martabat manusia melalui transmisi yang dimilikinya, terutama dalam bentuk transfer of knowledge dan transfer of values.

Dalam konteks ini secara jelas juga menjadi sasaran jangkauan pendidikan Islam, merupakan bagian dari sistem pendidikan nasional, sekalipun dalam kehidupan bangsa Indonesia tampak sekali eksistensinya secara cultural. Tapi secara kuat ia telah berusaha untuk mengambil peran yang kompetitif dalam setting sosiologis bangsa, walaupun tetap

saja tidak mampu menyamai pendidikan umum yang ada dengan otonomi dan dukungan yang lebih luas, dalam mewujudkan tujuan pendidikan secara nyata.

Sebagai pendidikan yang berlabel agama, maka Pendidikan Islam memiliki transmisi spiritual yang lebih nyata dalam proses pengajarannya dibanding dengan pendidikan umum, sekalipun lembaga ini juga memiliki muatan serupa. Kejelasannya terletak pada keinginan Pendidikan Islam untuk mengembangkan keseluruhan aspek dalam diri anak didik secara berimbang, baik aspek intelektual, imajinasi dan keilmiahan, kulturan serta kepribadian. Karena itulah Pendidikan Islam memiliki beban yang multi paradigma, sebab berusaha memadukan unsure profane dan imanen, dimana dengan pemaduan ini, akan membuka kemungkinan terwujudnya tujuan inti pendidikan Islam yaitu melahirkan manusia-manusia yang beriman dan berilmu pengetahuan, yang satu sama lainnya saling menunjang.

Antara ilmu pengetahuan dan Pendidikan Islam tidak dapat dipisahkan, karena perkembangan masyarakat Islam, serta tuntutannya dalam membangun manusia seutuhnya (jasmani dan rohani) sangat ditentukan oleh kualitas dan kuantitas ilmu pengetahuan yang dicerna melalui proses pendidikan. Proses pendidikan tidak hanya menggali dan mengembangkan sains, tetapi juga lebih penting lagi yaitu dapat menemukan konsep baru ilmu pengetahuan yang utuh, sehingga dapat

membangun masyarakat Islam sesuai dengan keinginan dan kebutuhan yang diperlukan.

Allah Swt berfirman dalam Q.S. Al-Mujadilah ayat 11 yang berbunyi:

تﺎﺟ َر َد َمْﻠـِﻌﻟا اوُﺗوأ َنْﯾِذـﻟاو مُﻛْﻧِﻣ اوُﻧَﻣآ َنْﯾذـﻟا ﷲ ِﻊـَﻓ ْرـَﯾ Terjemahannya:

”Niscaya Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan berilmu pengetahuan beberapa derajat”.

(Kementerian Agama Al-Qur’an dan terjemahannya : 2006) Manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa sebagai karsa sila pertama pancasila, tidak dapat terwujud secara tiba-tiba. Manusia beriman dan bertaqwa terbentuk dengan melakukan proses kehidupan dan proses pendidikan, khususnya kehidupan beragama dan pendidikan agama. Proses pendidikan itu berlangsung seumur hidup manusia baik di lingkungan keluarga, di lingkungan sekolah dan di masyarakat. Sesuai dengan Hadits Nabi Muhammad Saw :

دـﮭﻠﻟا ﻰﻟإ ِدـْﮭَﻣﻟا نﻣ ُمْﻠـِﻌﻟا ُبُﻠ ْطُأ ِ◌

Artinya :”Tuntutlah ilmu dari ayunan sampai lian lahad”

Keimanan dan ketakwaan tidaklah dapat terwujud tanpa agama.

Hanya agamalah yang dapat menuntun manusia menjadi manusia yang bertaqwa terhadap Tuhan yang Maha Esa. Hal ini tertuang dengan jelas dalam tujuan pendidikan nasional, mempunyai makna yang dalam bagi pembentukan manusia Indonesia seutuhnya.

Manusia taqwa adalah manusia yang secara optimal menghayati dan mengamalkan ajaran agamanya dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam kehidupan pribadi maupun dalam kehidupan masyarakat.

Pendidikan agama berfungsi sebagai usaha membina kehidupan beragama melalui pendidikan disinilah letak fungsi yang dijalankan pendidikan agama dalam pembangunan manusia Indonesia seutuhnya dan masyarakat Indonesia seluruhnya.

Lebih lanjut dapat diungkapkan bahwa dalam rangka pembangunan manusia seutuhnya (insan pancasila) dan masyarakat Indonesia seluruhnya (masyarakat pancasila), maka pendidikan agama berfungsi, dalam aspek individual adalah untuk membentuk manusia yang percaya dan bertaqwa terhadap Tuhan yang Maha Esa. Membina warganegara Indonesia menjadi warga Negara yang baik sekaligus ummat yang taat menjalankan agamanya.

Manusia lahir tidak mengetahui sesuatu apapun, tetapi dianugrahi oleh Allah swt pancaindra, pikiran, dan rasa sebagai modal untuk menerima ilmu pengetahuan, memiliki keterampilan dan mendapatkan sikap tertentu melalui proses kematangan dan belajar terlebih dahulu.

Mengenai pentingnya belajar menurut A.R. Shaleh dalam Soependi Soeryadinata, (2001 : 14) anak manusia tumbuh dan berkembang, baik pikiran, rasa, kemauan, sikap dan tingkah lakunya. Dengan demikian sangat pital adanya faktor belajar.

Jadi Pendidikan Agama Islam adalah ikhtiar manusia dengan jalan bimbingan dan pimpinan untuk membantu dan mengarahkan fitrah agama anak didik menuju terbentuknya kepribadian utama sesuai dengan ajaran agama.

Masalah akhlak atau budi pekerti merupakan salah satu pokok ajaran Islam yang harus diutamakan dalam Pendidikan Agama Islam untuk ditanamkan atau diajarkan kepada anak didik, dengan melihat arti Pendidikan Islam dan ruang lingkupnya itu, jelaslah bahwa dengan Pendidikan Islam kita berusaha untuk membentuk manusia yang berkepribadian kuat dan baik (berakhlakul karimah) berdasarkan pada ajaran agama Islam.

Oleh karena itu, Pendidikan Islam sangat penting sebab dengan pendidikan Islam, orang tua atau guru berusaha secara sadar memimpin dan mendidik anak diarahkan kepada perkembangan jasmani dan rohani sehingga mampu membentuk kepribadian yang utama yang sesuai dengan ajaran agama Islam.

Hal tersebut sesuai dengan firman Allah ASwt dalam Q.S At-tahrim ayat 6 yaitu :

ا ًر ﺎَﻧ مُﻛْﯾِﻠـ ْھاو مُﻛ َﺳُﻔْﻧأ اوُﻗ اوُﻧَﻣآ نْﯾ ﱢذـﻟا ﺎﮭﱡﯾأ ﺎَﯾ

Terjemahannya:

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dankeluargamu dari api neraka. (Departemen Agama RI, Al- Qur’an dan terjemahannya, QS, At-tahrim : 6)

Pendidikan Agama Islam hendaknya ditanamkan sejak kecil, sebab pendidikan pada masa kanak-kanak merupakan dasar yang menentukan untuk pendidikan selanjutnya. Menurut pendapat Zakiyah Darajat (1992:95) bahwa, pada umumnya agama seseorang ditentukan oleh pendidikan, pengalaman dan latihan yang dilaluinya sejak sejak kecil.

Mewujudkan tujuan Pendidikan Nasional, Pendidikan Agama Islam di sekolah memegang peranan yang sangat penting. Oleh karena itu, Pendidikan Agama Islam di Indonesia dimasukkan ke dalam kurikulum nasional yang wajib diikuti oleh semua anak didik mulai dari sekolah dasar sampai dengan perguruan tinggi. Pendidikan nasional bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Sebagai mata pelajaran yang wajib dipelajari di sekolah baik yang umum maupun yang khusus, Pendidikan Agama Islam mempunyai karakteristik yang khas yaitu: Pertama, Pendidikan Islam merujuk pada aturan-aturan yang sudah pasti. Pendidikan Agama Islam mengikuti aturan atau garis-garis yang sudah jelas dan pasti serta tidak dapat ditolak dan di tawar. Aturan itu adalah Wahyu Tuhan yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw, semua yang terlibat dalam Pendidikan Agama Islam itu harus senantiasa berpegang teguh pada aturan ini.

Pendidikan pada umumnya bersifat netral, artinya pengetahuan itu diajarkan sebagai mana adanya dan terserah kepada manusia yang hendak mengarahkan pengetahuan itu. Ia hanya mengajarkan, tetapi tidak memberikan petunjuk ke arah mana dan bagaimana memberlakukan pendidikan itu. Pengajaran umum mengajarkan pengetahuan, keterampilan, nilai, dan sikap yang bersifat relatif, sehingga tidak bisa diramalkan ke arah mana pengetahuan keterampilan dan nilai itu digunakan, disertai dengan sikap yang tidak konsisten karena terperangkap oleh perhitungan untung rugi, sedangkan Pendidikan Agama Islam memiliki arah dan tujuan yang jelas, tidak seperti pendidikan umum.

Kedua, Pendidikan Agama Islam selalu mempertimbangkan dua sisi kehidupan duniawi dan ukhrawi dalam setiap langkah dan geraknya.

Sebagaimana Firman Allah dalam Q.S. Al-Qashas ayat : 77

ﺎﯾْﻧ ﱡدﻟا َكَﺑْﯾ ِﺻَﻧ ﻰ َﺳْﻧَﺗ ﻻو ِةرِﺧ ﻵا َرا ﱠدـﻟا ﷲ َكﺎَﺗآ ﺎَﻣْﯾِﻓ ِﻎَﺗْﺑا َو Terjemahannya :

”Dan carilah pada apa yang telah dianugrahkan Allah kepadamu (kebahagian negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan kebahagiannmu dari (kenikmatan) duniawi”.

(Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan terjemahannya, QS, Al-Qashas : 77)

Pendidikan Agama Islam seperti diibaratkan mata uang yang mempunyai dua sisi pertama sisi keagamaan yang menjadi pokok dalam substansi ajaran yang akan dipelajari, sisi kedua adalah pengetahuan berisikan hal-hal yang mungkin umum dapat di indera dan diakali, berbentuk pengalaman faktual maupun pengalaman pikir. Sisi pertama

lebih menekankan pada kehidupan dunia sedangkan sisi kedua lebih cenderung menekankan pada kehidupan akhirat namun, kedua sisi ini tidak dapat dipisahkan karena terdapat hubungan sebab akibat, oleh karena itu, kedua sisi ini selalu diperhatikan dalam setiap gerak dan usahanya, karena memang Pendidikan Agama Islam mengacu kepada kehidupan dunia dan akhirat;

Ketiga, Pendidikan Agama Islam bermisikan pembentukan akhlakul karimah. Pendidikan Agama Islam selalu menekankan pada pembentukan akhlakul karimah, hati nurani untuk selalu berbuat baik dan bersikap dalam kehidupan sesuai dengan norma-norma yang berlaku, tidak menyalahi aturan dan berpegang teguh pada dasar Agama Islam yaitu Al- Qur’an dan Hadits.

Keempat, Pendidikan Agama Islam diyakini sebagai tugas suci. Pada umumnya, manusia khususnya kaum muslimin berkeyakinan bahwa penyelenggaraan Pendidikan Agama Islam merupakan bagian dari risalah, karena itu mereka mengangapnya sebagai misi suci. Karena itu dengan menyelenggarakan Pendidikan Agama Islam berarti pula menegakkan agama, yang tentunya bernilai suatu kebaikan di sisi Allah;

Kelima, Pendidikan Agama Islam bermotifkan ibadah, sejalan dengan hal yang dijelaskan pada sebelumnya maka kiprah Pendidikan Agama Islam merupakan ibadah yang akan mendapatkan pahala dari Allah, dari segi mengajar, pekerjaan itu terpuji karena merupakan tugas yang mulia, disamping tugas itu sebagai amal jariah, yaitu amal yang terus

berlangsung hingga yang bersangkutan meninggal dunia, dengan ketentuan ilmu yang diajarkan itu diamalkan oleh peserta didik ataupun ilmu itu diajarkan secara berantai kepada orang lain.

D. MUTU PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

Dokumen terkait