• Tidak ada hasil yang ditemukan

Metode Analisis Data

Dalam dokumen MUHAMA - etheses UIN Mataram (Halaman 51-54)

BAB I PENDAHULUAN

H. Kerangka Teori

I. Metode Penelitian

5. Metode Analisis Data

Dalam penilitian ini menggunakan metode analisis kualitatif, menurut H.B. Soetopo analisis kualitatif adalah: “suatu cara penelitian yang menghasilkan data deskriptif analisis, yaitu apa yang dinyatakan oleh responden secara tertulis, lisan juga perilaku yang nyata diteliti sebagai sesuatu yang utuh”.

Selanjutnya menurut Bogdan dan Biklen, 1982 analisa data kualitatif adalah upaya yang dilakukan dengan jalan bekerja dengan data, memilah- milahnya menjadi satuan yang dapat dikelola, mensistesiskannya, mencari dan menemukan pola, menemukan apa yang penting dan apa yang dipelajari, dan memutuskan apa yang dapat diceritakan kepada orang lain.42

Sedangkan menurut Janice McDerury (collaboratife group analysis of data 1999) tahapan analisa data kualitatif adalah sebagai berikut:

a. Membaca/mempelajari data, menandai kata-kata kunci dan gagasan yang ada dalam data.

b. Mempelajari kata-kata kunci itu, berupaya menemukan tema-tema yang berasal dari data.

c. Menulis model yang ditemukan.

42 Lexy J Moleong, Metodeologi Penelitian Kualitatif, h.248

36 d. Koding yang telah dilakukan.

Dari definisi-definisi tesebut dapatlah dipahami bahwa ada yang mengemukakan proses, ada pula yang menjelaskan tentang komponen- komponen yang perlu ada dalam analisa data. Analisa data kualitatif sebagai cara penjabaran data berdasarkan hasil temuan lapangan dan studi kepustakaan.

6. Kesahihan data

Keabsahan data dalam sebuah penelitian bertujuan untuk membuktikan apakah data yang diperoleh dari lapangan betul-betul valid atau tidak, dengan memadukan landasan teori yang menjadi landasan data tersebut sangat di butuhkan untuk mendapatkan keabsahan data di perlukan tehnik-tehnik pemeriksaan yaitu untuk memenuhi kebenaran dari data dan informasi yang dikumpulkan. Dalam hal ini peneliti mengambil empat macaam cara yang digunakan yaitu:

a. Diskusi Dengan Teman Sejawat

Teknik ini dilakukan dengan cara mengekspos hasil semenatara atau hasil yang diperoleh dalam bentuk diskusi dengan rekan-rekan sejawat.

Dengan demikian pemeriksaan yang dilakukkan dengan jalan mengumpulkan rekan-rekan yang sebaya, yang memiliki pengetahuan umum yamg sama tentang apa yang sedang diteliti, sehingga bersama mereka peneliti dapat me-review persepsi, pandangan dan analisis yang sedang dilakukan.43

43 Lexy J Moleong, Metodeologi Penelitian Kualitatif, h.332

37

Pemeriksaan teman sejawat ini juga bertujuan untuk memperoleh kritikan dan pertanyaan yang tajam sehingga dapat menentang tingkat kepercayaan dan kebenaran data penelitian.

b. Kecukupan Refrensi

Refrensi yang dipakai dalam pelaksanaan peneliti ini terdiri dari catatan-catatan lapangan yang tersimpan, buku-buku yang ada kaitannya dengan permasalahan dalam penelitian, bahan referensi ini sebagai bahan pemeriksaan guna meningkatkan kepercayaan akan kebenaran data atau informasi yang akan dikumpulkan. Menurut Eisner kecukupan refrensi adalah sebagai alat untuk menampung dan menyusaikan dengan kritik tertulis untuk keperluan evaluasi.44

c. Triangulasi

Triangulasi dalm penelitian ini adalah tehnik pemeriksaan keabsahan data yang memenfaatkan sesuatu yang lain diluar data itu untu keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data itu.45 triangulasi yang digunakan adalah triangulasi data dan triangulasi metode.

Triangulasi sumber data dilakukan untuk mendapatkan informasi yang sejenis dan informasi atau sumber lain yang berbeda, hal tersebut dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut.

a. Membandingkan atau observasi dengan data hasil wawancara b. Membandingkan dengan hasil wawancara dengan temuan-temuan.

44 Lexy J Moleong, Metodeologi Penelitian Kualitatif. h.181

45 Lexy J Moleong, Metodeologi Penelitian Kualitatif, h.178

38

c. Membandingkan persepsi orang dengan pendapat dan pandangan orang lain.

Sedangkan metode triangulasi dilakukan dengan menggunakan berbagai tehnik pengumpulan data yang diajukan untuk memperoleh informs yang serupa. Triangulasi metode yang dilakukan dengan cara bersamaan dalam suaatu kegiatan wawancara dengan responden atau para pihak yang terlibat dalam pemanfaatan barang gadai.

J. Sistematika Pembahasan

Adapun sistematika pembahasan yang penulisan gunakan sebagai berikut:

a. Bagian awal, terdiri dari halaman sampul, halaman judul, halaman persetujuan, halaman motto, halaman persembahan, kata pengantar, abstrak dan daftar isi.

b. Bab I, pendahuluan berisi tentang latar belakang masalah, rumusan masalah, ruang lingkup penelitian, tujuan penelitian, manfaat penelitian, ruang lingkup dan setting penelitian, telaah pustaka, kerangka teori metode penelitian, dan sistematika pembahasan.

c. Bab II, pemaparan data hasil penelitian yang diperoleh melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi yang ditulis dalam bentuk narasi.

d. Bab III, pembahasan yang merupakan hasil dari analisis data penelitian. Data yang diperoleh di lapangan diolah dan dianalisa dengan metode analisis data ilmiah lalu dipaparkan dalam bentuk narasi.

e. Bab IV, kesimpulan dan saran. Kesimpulan berisikan hasil generalisasi dari analisis data yang diperoleh dari bab sebelumnya. Sedangkan saran berisikan hasil penelitian yang kemudian direkomendasikan dalam bentuk aksi yang harus dilaksanakan oleh segenap pihak yang merupakan pembaca tesis ini.

39 BAB II

PRAKTIK AKAD GADAI DI KECAMATAN SUELA A. Profil Wilayah Kecamatan Suela

Wilayah Kecamatan Suela merupakan bagian dari Wilayah Kabupaten Lombok Timur yang berjarak sekitar ± 31 Km dari Pusat Kota (Kantor Bupati Lombok Timur) dengan ketinggian wilayah rata-rata ± 400 Mdpl dan terdiri dari 8 (delapan) Desa yaitu Suela, Ketangga, Selaparang, Suntalangu, Sapit, Perigi, Mekar Sari, dan Puncak Jeringo. Adapun perinciannya adalah sebagai berikut:

1. Peta Wilayah Kecamatan Suela

2. Batas Wilayah

Batas Wilayah Kecamatan Suela adalah sebagai berikut:

➢ Sebelah utara berbatasan dengan Kecamatan Sembalun

40

➢ Sebelah selatan berbatasan dengan Kecamatan Wanasaba

➢ Sebelah barat berbatasan dengan Kecamatan Pringgabaya

➢ Sebelah timur berbatasan dengan Kecamatan Pringgabaya 3. Luas Wilayah

Secara keseluruhan, luas wilayah Kecamatan Suela adalah ± 115.01 Km2 dengan perincian sebagai berikut:46

a. Desa Suela dengan luas ± 9,94 Km2 (8,02%) b. Desa Ketangga dengan luas ± 7,72 Km2 (6,71%) c. Desa Selaparang dengan luas ± 8,26 Km2 (7,16%) d. Desa Suntalangu dengan luas ± 6,09 Km2 (5,30%) e. Desa Sapit dengan luas ± 16,40 Km2 (15,82%) f. Desa Perigi dengan luas ± 35,50 Km2 (36,94%) g. Desa Mekar Sari dengan luas ± 9,65 Km2 (7,33%) h. Desa Puncak Jeringo dengan luas ± 14,64 Km2 (12,71%) 4. Jumlah Penduduk

Total jumlah penduduk Kecamatan Suela berdasarkan sensus penduduk pada tahun 2021 adalah 46.038 jiwa dengan jumlah penduduk pria sejumlah 22.763 jiwa dan jumlah penduduk wanita sejumlah 23.275 jiwa. Adapun perinciannya adalah sebagai berikut:47

a. Desa Suela dengan jumlah penduduk 7.436 jiwa b. Desa Ketangga dengan jumlah penduduk 6.821 jiwa c. Desa Selaparang dengan jumlah penduduk 4.346 jiwa d. Desa Suntalangu dengan jumlah penduduk 7.439 jiwa

46 Wawancara dengan Idawati, S.Sos Kasi Kesra Kecamatan Suela tanggal 21 Mei 2022

47 Wawancara dengan Abdul Halid, SH. Kasi Pelayanan Umum Kecamatan Suela tanggal 25 Mei 2022

41

e. Desa Sapit dengan jumlah penduduk 4.617 jiwa f. Desa Perigi dengan jumlah penduduk 7.359 jiwa g. Desa Mekar Sari dengan jumlah penduduk 6.486 jiwa h. Desa Puncak Jeringo dengan jumlah penduduk 1.534 jiwa 5. Pemerintahan

Wilayah Kecamatan Suela saat ini dipimpin oleh Drs. Lalu Srijaya, S.Kom.I, M.Pd selaku Camat dan Tresni Dewi Kartika, SH. Selaku sekretaris. Adapun rincian jabatan aparatur pemerintahannya adalah sebagaimana yang tertera di bawah ini:48

No. Desa Kepala Desa Sekretaris Jumlah Perangkat

1 Suela Rosyidi Muhammad

Irsan, S.Pd

16

2 Ketangga Mislahuddin Hizbullah 19

3 Selaparang Lalu L. Andi Taufik 16

48 Wawancara dengan Mukti, SH. Kasi Pemerintahan Kecamatan Suela tanggal 22 Mei 2022 CAMAT

Drs. L. Srijaya, S.Kom.I, M.Pd

KELOMPOK JAFUNG KASUBAG UMUM & KEPEGAWAIAN 1. Hendri

2. M. Reza Alfian

SEKRETARIS KECAMATAN Tresni Dewi Kartika, SH

KASUBAG KEUANGAN &

PELAPORAN Muhammad Jamain, SH

KASI KEAMANAN

& KETERTIBAN Lalu Jaelani, SP.

KASI PEMBERDAYAAN MASYARAKAT

Parman S.Ag.

KASI KESEJAHTERAAN RAKYAT Idawati, S.Sos.

PEMBANTU BENDAHARA 1. Mariana

2. Husnil Iliyin KASI PEMERINTAHAN

Mukti, SH

TUKANG KEBUN SAPRI

BENDAHARA Jayadi

KASI PELAYANAN UMUM Abdul Halid, SH

42

Wirasakti Hidayat, A.Md

4 Suntalangu Habibuddin Harmayadi 25

5 Sapit H. Seriatun, S.Pt Hirmawanto 19

6 Perigi Darmawan Moh. Ihsan

Efendi

25

7 Mekar Sari Adnan Hadi Wijaya 16

8 Puncak Jeringo Abd. Karim Rodi Jayadi 22

6. Pertanian Dan Peternakan

Wilayah Kecamatan Suela memiliki 125 kelompok tani dan 61 kelompok ternak dengan perincian:49

No. Desa Jumlah Kelompok Tani Jumlah Kelompok Ternak

1 Suela 17 13

2 Ketangga 8 1

3 Selaparang 14 5

4 Suntalangu 17 10

5 Sapit 16 13

6 Perigi 24 10

7 Mekar Sari 14 5

8 Puncak Jeringo 15 4

7. Sosial Keagamaan

Sebagai wilayah dengan mayoritas penduduk beragam Islam, wilayah Kecamatan Suela memiliki 60 bangunan masjid dan 189 musholla yang merupakan sentral dalam menjalankan ritual social keagamaan. Sedangkan untuk menopang aktifitas usaha masyarakat Kecamatan Suela, masing-masing Desa memiliki Badan Usaha Milik Desa (BUMDES) sebagaimana yang tertera dalam table berikut ini:

49 Wawancara dengan Parman, S.Ag, Kasi Pemberdayaan Masyarakat Kecamatan Suela tanggal 24 Mei 2022

43

No. Desa Jml. Masjid Jml. Musholla BUMDES

1 Suela 8 22 Ijo Lemor

2 Ketangga 7 38 Tangga Rinjani

3 Selaparang 4 13 LKM Selaparang

4 Suntalangu 8 22 Suntalangu

5 Sapit 6 15 Rinjani

6 Perigi 13 34 Jangga Wareng

7 Mekar Sari 9 37 Sejahtera

8 Puncak Jeringo 5 8 Maju Jaya

8. Kesehatan

Untuk dapat memberikan pelayanan kesahatan bagi warga masyarakat Kecamatan Suela, Pemerintah Kecamatan Suela menyediakan 11 polindes, 6 puskesmas pembantu (pustu), dan 78 pos pelayanan terpadu (posyandu) dengan perincian sebagai berikut:50

No. Desa Polindes Pustu Posyandu

1 Suela 1 - 11

2 Ketangga 2 1 9

3 Selaparang 1 1 7

4 Suntalangu 1 1 11

5 Sapit 1 1 6

6 Perigi 3 1 14

7 Mekar Sari 1 - 12

8 Puncak Jeringo 1 1 8

9. Pendidikan Dan Olahraga

Untuk menciptakan Sumber Daya Manusia (SDM) yang maju, tentunya Pendidikan merupakan kebutuhan yang sangat mendasar bagi setiap orang, tidak terkecuali bagi masyarakat Kecamatan Suela. Di wilayah Kecamatan Suela terdapat

50 Wawancara dengan Tresni Dewi Kartika, SH, Sekretaris Kecamatan Suela pada tanggal 27 Mei 2022

44

sekitar 103 lembaga Pendidikan formal swasta dan negeri yang tersebar di masing masing desa dengan rincian; Desa Suela memiliki 17 lembaga, Desa Ketangga memiliki 18 lembaga, Desa Selaparang memiliki 10 lembaga, Desa Suntalangu memiliki 14 lembaga, Desa Sapit memiliki 5 lembaga, Desa Perigi memiliki 22 lembaga, Desa Mekar Sari memiliki 11 lembaga, dan Desa Puncak Jeringo memiliki 6 lembaga pendidikan.

Disamping terdapat 103 lembaga pendidikan, di wilayah Kecamatan Suela terdapat 6 (enam) lapangan olahraga untuk menunjang minat dan bakat olahraga bagi putra putri Kecamatan Suela. 6 (enam) lapangan olahraga tersebut terdiri dari 1 (satu) lapangan bulutangkis, 1 (satu) lapangan takraw, 1 (satu) lapangan voli, dan 3 (tiga) lapangan sepakbola.

B. Pemanfaatan Tanah Gadai (marhun)

Basimah yang berasal dari Dusun Batu Cangku Desa Sapit meminjam uang sebesar Rp 10.000.000,- (sepuluh juta rupiah) kepada Husnita yang berasal dari Dusun Kuang Banyak Desa Perigi. Sebagai jaminan atas hutangnya, Basimah memberikan Husnita menggarap sawahnya untuk ditanami tembakau selama 2 (dua) tahun atau sampai ia membayar hutangnya kepada Husnita. Pada saat membuat akad gadai (rahn), Basimah berharap agar bisa menebus tanah sawahnya dalam tempo dua tahun, namun pun jika ia tidak dapat menebus kembali sawahnya, maka Husnita (murtahin) akan tetap dapat menggarap sawahnya sampai ia bisa membayar hutangnya tersebut.51

Alih-alih menebus kembali tanah sawah miliknya, Basimah kemudian menambahkan Kembali jumlah hutangnya sebesar Rp 3.500.000,- (tiga juta lima ratus ribu rupiah) untuk memenuhi kebutuhan mendesak yang ia hadapi pada saat itu.

51 Wawancara dengan Basimah, warga Desa Sapit Kecamatan Suela tanggal 27 Mei 2022

45

Tentunya hal ini akan meenyebabkan ia semakin berat menebus kembali tanah sawah miliknya karena jumlah hutangnya bertambah.

Saat peneliti menanyakan perihal akad gadai yang dilakukan oleh kedua belah pihak, mereka mengungkapkan bahwa tradisi gadai tanah sawah semacam itu dilakukan sudah turun temurun dan membudaya di masyarakat hingga saat ini. Peneliti juga menanyakan apakah praktek gadai tanah sawah yang mereka lakukan sudah sesuai atau tidak dengan syariat Islam, mereka mengatakan tidak memahami betul bagaimana ketentuan syariat Islam terhadap transaksi gadai tanah sawah yang membolehkan pemanfaatan tanah sawah yang dimiliki oleh rahin. Pemanfaatan objek gadai (marhun) oleh murtahin dianggap sesuatu yang lumrah terjadi karena melihat kebiasaan yang terjadi di masyarakat sekitar dan berlangsung sejak dahulu.

Amaq Asian yang bermukim di Dusun Kuang Banyak Desa Perigi meminjam uang kepada Hurniati yang berasal dari Desa Ketangga sebesar Rp 5.000.000,- (lima juta rupiah). Sebagai jaminan atas hutangnya tersebut, Amaq Asian merelakan sebidang tanahnya untuk digarap oleh Hurniati, Hurniati menggarap tanah sawahnya untuk ditanami padi pada saat musim penghujan dan ditanami tembakau pada saat musim kemarau. Pada saat membuat akad gadai, perjanjian yang disepakati oleh kedua belah pihak adalah Hurniati selaku murtahin akan mengembalikan tanah yang digarap tersebut (marhun) pada saat piutangnya dikembalikan secara utuh oleh Amaq Asian (rahin).52

Kedua belah pihak mengatakan bahwa mereka belum memahami bagaimana ketentuan gadai (rahn) dalam syariat Islam dikarenakan mereka belum pernah mengenyam pendidikan di sekolah agama dan jarang mengikuti kajian majelis taklim.

Sekalipun mereka pernah mengikuti kajian majelis taklim, mereka belum pernah

52 Wawancara dengan Hurniati, warga Desa Ketangga Kecamatan Suela pada tanggal 28 Mei 2022

46

mendengarkan tokoh agama yang mengisi kajian tersebut memberikan materi tentang bagaimana hukum memanfaatkan barang jaminan (marhun).

Mereka juga mengungkapkan bahwa transaksi gadai tanah yang membolehkan pemanfaatan objek gadai (marhun) tersebut merupakan sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan yang berlaku di lingkugan masyarakat Kecamatan Suela dan bahkan masih banyak menyaksikan transaksi semacam itu dilakukan di sekitar mereka.

Sapar Wadi yang berasal dari Dusun Kuang Banyak Desa Perigi memberikan piutang kepada Amaq Zainul yang juga berasal dari Dusun Kuang Banyak Desa Perigi sebesar Rp 14.000.000,- (empat belas juta rupiah). Sebagai jaminan atas piutang yang diberikannya, Sapar Wadi menerima sebidang tanah sawah untuk digarap dengan cara ditanami jagung pada saat musim penghujan. Pada saat membuat akad gadai (rahn), Amaq Zainul (rahin) meminta tempo pembayaran selama 3 (tiga) tahun dan meminta syarat agar setiap tahunnya hutangnya dipotong sebesar Rp 500.000,- (lima ratus ribu rupiah).53

Amaq Zainul mengatakan bahwa ia mengetahui ketentuan syariat Islam terkait hukum pemanfaatan objek gadai (marhun) yang ia ketahui semasa menimba ilmu di Madrasah Aliyah (pesantren) dahulu namun hal tersebut tidak bisa diterapkan secara maksimal oleh karena hal tersebut tergantung dari persepsi pihak lain yang dalam hal ini adalah murtahin. Apa yang telah diketahuinya pada saat di pesantren tentu tidak akan bisa diterapkan jika tidak ada kesefahaman di antara kedua belah pihak (rahin dan murtahin).

Sapar Wadi selaku murtahin mengungkapkan pemahamannya terkait akad gadai yang mereka lakukan yaitu bahwa pemanfaatan objek gadai (marhun) tergantung dari kesepakatan kedua belah pihak yang melakukan akad gadai (rahn).

53 Wawancara dengan Amaq Zainul Warga Dusun Kuang Banyak Desa Perigi Kecamatan Suela pada tanggal 28 Mei 2022

47

Selama keduanya bersepakat untuk membolehkan pemanfaatan objek gadai (marhun), maka transaksi itu menurutnya boleh untuk dilakukan.

Amaq Jafar meminjam uang sebesar Rp 30.000.000,- (tiga puluh juta rupiah) kepada Amaq Assohibi. Sebagai jaminan atas hutangnya tersebut, Amaq Jafar menggadaikan tanahnya seluas 40 are kepada Amaq Assohibi. Amaq Assohibi kemudian menggarap tanah Amaq Jafar untuk ditanami tembakau sampai ia mendapatkan kembali uang miliknya sebesar Rp 30.000.000,-. Mereka mengatakan bahwa transaksi tersebut dilakukan karena minimnya pengetahuan tentang ekonomi Islam secara umum dan khususnya terkait dengan bagaimana teknis gadai (rahn) sesuai ketentuan syariat Islam.54

Kasus yang serupa denga napa yang terjadi di atas dapat dijelaskan sebagaimana table berikut ini:

No. Rahin Murtahin Marhun Marhun Bih Keterangan

1 Amaq Esan Amaq Nahrun 2 Hektar Sawah Rp 40.000.000 Belum memahami bagaimana hukum pemanfaatan objek gadai dalam ketentuan syariat Islam

2 Amaq Jenong Amaq Rika 40 Hektar Sawah Rp 80.000.000 3 Hurmanah Maskun 20 Are Sawah Rp 6.000.000

4 Mustiadi Inaq Seri 60 Are Sawah Rp 30.000.000

C. Hasil wawancara tokoh agama terkait pemanfaatan barang gadai yang ada di Kecamatan Suela Lombok Timur

Praktek gadai yang tejadi di Desa Perigi Kecamatan Suela Lombok Timur ada cara gadai yang hasil barang gadaian itu langsung dimanfaatkan oleh penggadai (orang yang memberi piutang), banyak terjadi bahwa sawah dan kebun yang digadaikan langsung dikelola oleh penggadai dan hasilnya sepenuhnya dimanfaatkan. Pendapat

54 Wawancara dengan Amaq Jafar, warga Desa Suntalangu Kecamatan Suela pada tanggal 29 Mei 2022

48

tokoh agama berbeda-beda dalam menggapai permasalahan mengenai pemanfaatan barang gadai tanah sawah tersebut.

1. Pendapat ustaz Junaidi, QH. M.Pd. mengatakan bahwa; “Pemanfaatan barang gadai tanah sawah boleh saja karena itu sudah menjadi kebiasaan dilakukan oleh Masyarakat Desa Perigi, di samping itu juga karena kurangnya pengetahuan tentang pemanfaatan barang gadai tanah sawah, dan itu sudah termasuk dalam perjanjian yang mereka lakukan ketika terjadinya transaksi gadai menggadai.”

2. Berbeda dengan apa yang diungkapkan oleh ustaz Junaidi di atas, ustaz Ramli mengatakan bahwa pemanfaatan tanah sawah yang merupakan objek gadai (marhun) memang merupakan sebuah kekeliruan, namun hal tersebut terjadi karena para pihak yang melakukan transaksi gadai tanah tersebut belum memahami ketentuan syariat Islam, oleh sebab itu perlu adanya sinergi antara tokoh agama, tokoh masyarakat, dan Lembaga Pendidikan Islam untuk memulai memberikan pemahaman kepada masyarakat terkait bagaimana ketentuan syariat Islam dalam pemanfaatan objek gadai (marhun). Lembaga Pendidikan Islam menurutnya mempunyai peranan yang sangat penting untuk mendidik generasi muda yang nantinya akan kembali berkecimpung di masyarakat dan mengaplikasikan ekonomi Islam dalam menjalankan transaksi ekonomi seperti jual beli, gadai (rahn), musyarakah, mudharabah, murabahah, dan jenis akad ekonomi Islam yang sesuai dengan syariat Islam lainnya.55

3. Pendapat ustaz Muhrim mengatakan bahwa; “Apabila pemanfaatan barang gadai tanah itu dilakukan dengan system matean diperbolehkan karena menganggap itu tidak memberikan beban kepada penggadai dalam mengembalikan uang kepada penerima gadai apabila sudah jatuh temponya. Sedangkan apabila tidak

55 Wawancara dengan Ustaz Ramli, salah seorang tokoh masyarakat, tokoh agama, dan tokoh pendidikan pada tanggal 21 Mei 2022 pukul 16.30 WITA di Lombok Timur

49

menggunakan matean itu tidak diperbolehkan karena dapat merugikan salah satu pihak dikemudian harinya.”

Ada cara lain bahwa sawah atau kebun yang dijadikan jaminan itu, dikelola oleh pemilik sawah atau kebun itu tetapi hasilnya dibagi antara penggadai dan penerima gadai, seolah-olah jaminan itu milik penerima gadai selama piuatangnya belum dikembalikan oleh penggadai.

Pada dasarnya pemilik barang seperti sawah (lading) dapt mengambil manfaat dari sawah (lading) sebagaimana yang tertera dalam hadis yang artinya:

“jaminan itu tidak menutupi punyanya dari manfaat barang (yang digadaikan) itu, dia berhak atas manfaatnya dan juga wajib memikul beban (pemeriharaannya)”

(HR. Syafi’i dan Daru Quthni).

50 BAB III

AKAD GADAI SERTA RESPONS RAHIN DAN MURTAHIN TERHADAP PEMANFAATAN TANAH GADAI

A. Meninjau Kembali Akad Gadai Tanah Sawah Di Kecamatan Suela

Para ulama’ bersepakat bahwa akad gadai (rahn) adalah boleh.56 Rahn merupakan salah satu dari sekian banyak aktifitas ekonomi dalam Islam yang dihalalkan hukumnya karena hal tersebut (gadai) telah dicontohkan oleh Nabi Muhammad saw sendiri yang pernah berhutang kepada orang Yahudi dan beliau menggadaikan sebuah baju besi kepadanya sebagai jaminan atas hutangnya tersebut.

Selain pernah dicontohkan oleh Nabi, Ibnu Qudamah juga mengatakan:

ةَلْم جْلﺍ ي ف نْه ﺮلﺍ ﺯﺍ َوَج ىَلَع َﻥ ْو م لْس مْلﺍ َعَمْجأف ﻉاَمْج لإﺍ ا مَأ َﻭ

Artinya: “Mengenai dalil ijma’, ummat Islam sepakat (ijma’) bahwa secara garis besar akad rahn (gadai/penjaminan hutang) dipebolehkan”.57

Berdasarkan data temuan lapangan hasil wawancara yang telah dilakukan peneliti baik dengan rahin, murtahin, maupun tokoh agama setempat sebagaimana yang telah diuraikan pada bab sebelumnya, praktek gadai (rahn) yang menggunakan tanah sawah sebagai jaminan (marhun) yang terjadi di Kecamatan Suela merupakan sebuah tradisi dan budaya yang sudah mengakar dan dilakukan secara turun temurun oleh masyarakat Kecamatan Suela sehingga para pihak melakukan transaksi tersebut memahami bahwa hal tersebut adalah satu hal yang tidak dilarang dalam ketentuan syariat Islam.

Jika diperhatikan secara lebih mendalam, dalam kaidah ushul fiqh memang disebutkan bahwa dasar hukum dalam menjalankan segala transaksi ekonomi dalam

56 Wahbah Zuhaili, Al-Fiqh Al-Islami Wa Adillatuhu, Jilid V tahun 1985, h.181

57 Ibnu Qudamah, Al-Mughni, Juz IV, h.131

51

Islam hukumnya adalah boleh (mubah).58 Hal ini berarti bahwa segala hal yang disepakati oleh kedua belah pihak merupakan suatu kebolehan. Hal ini berbeda dengan perkara agama yang dalam kaidah ushul fiqh hukum asalnya adalah haram.

Itulah mengapa terdapat salah seorang murtahin yang membenarkan tindakannya memanfaatkan objek jaminan (marhun) dengan alasan bahwa hal tersebut tergantung dari kesepakatan kedua belah pihak.

Namun pada lanjutan kaidah tersebut terdapat kalimat penjelas yang berbunyi “kecuali ada dalil yang mengharamkannya”. Hal ini mengindikasikan pentingnya mengetahui apakah terdapat larangan dalam hal pemanfaatan objek gadai (marhun) atau tidak. Jika terdapat larangan yang mengharamkan tindakan seseorang untuk dalam membuat akad (kesepakatan) maka itu jelas menjadi batasan dari kebolehan yang telah disebutkan sebelumnya yang berbunyi; pada dasarnya segala bentuk aktifitas muamalat adalah boleh.

Transaksi gadai tanah sawah yang terjadi di Kecamatan Suela jika dilihat dari kriteria gadai (rahn) yang sederhananya diartikan hutang piutang dengan adanya jaminan, maka sekilas tidak ada yang keliru dari hal tersebut, namun dari 3 pasangan ‘akidain (para pihak yang berakad), ditemukan kejanggalan pada pemanfaatan objek gadai (marhun) yang dilakukan oleh murtahin. Hal ini nampaknya kontras dengan prinsip ta’awun dalam Islam karena rahin yang menggadaikan tanahnya rata-rata berprofesi sebagai petani dan mata pencaharian mereka adalah tanah sawah yang dijadikan jaminan dalam transaksi gadai tersebut.

Sejatinya tujuan dari jaminan hutang dalam akad gadai adalah agar dapat

58.ا َه م ْي ﺮ ْح َت ى َل َع ل ْي ل دلﺍ ﻝ د َي ْﻥ َأ لَ إ ْة َحا َب لإﺍ ﺕ َل َما َع م ْلﺍ ي ف ل ْص َلِﺍ

Artinya: “Pada dasarnya segala bentuk muamalat boleh dilakukan kecuali ada dalil yang mengharamkannya.”

Lihat Fatwa Dewan Syariah Nasional Nomor: 25/DSN-MUI/III/2002 tentang Rahn

Dalam dokumen MUHAMA - etheses UIN Mataram (Halaman 51-54)

Dokumen terkait