Barbara Tuchman meringkas studinya tentang keterkaitan dini antara Zionisme dan kebijakan politik Inggris. Pada akhir analisisnya yang cukup mendalam ia mengemukakan bahwa kaum Protestan-Puritanis dan kebijakan politik Cromoel cenderung untuk mengunggulkan, menguntungkan sekaligus mendukung bangsa Semit (Yahudi). Selanjutnya ia menyatakan :
Terobosan yang mendorong Inggris yang Protestan-Puritanis untuk mrngidupkan “Visi Politik Israel” pada mulanya bermotif keagamaan. Ini sebagai konsekuensi dominannya pemahaman nilai-nilai yang terkandung dalam Perjanjian Lama pada rasio dan ideologi elit partai yang berkuasa pada pertengahan abad ke-17. Tetapi motif keagamaan saja tidak cukup, sebab rasa persaudaraan rohani dengan sanak keturunan Israel (Yacob), pandangan toleransi ideal dan renungan mistis mereka untuk mempercepat datangnya kebahagaiaan selama seribu tahun itu masih remang-remang, tidak jelas. Visi keagamaan normative diatas sangat sulit untuk menjadi kebijakan dan tindakan praktis, jika tidaka ada kepentingan dan manfaat politik.
Pendorong utama kebijakan Cromoel untuk mempertim bangkan proposal Manasech. Pertimbangan Cromoel inilah yang membuat Lord George “penuh perhatian” pada proposal Chaim Wiezman setelah sepuluh generasi berlalu. Dalam arti dua tokoh ini yakin dan optimis bahwa kaum Yahudi mampu untuk mengulurkan bantuan ketika perang berkecamuk. Sejak masa Perdana Menteri Cromoel kebijakan politik Inggris terhadap Palestina bersandar pada dua motif yang selalu terkait; keuntungan dagang penjajahan atau kemenangan militer, serta dorongan
ideologis normative warisan kitab suci. Jika salah satu motif itu tidaka ada, maka kebijakan praktis tidak akan bisa diarasakan. Ini seperti telah terjadi pada abad ke -18 ketika motif agama tidak muncul.88
Tanpa mengecilkan motif kepentingan politik atau tepatnya dorongan untuk mendapatkan keuntungan materiil, tampak dari analisis Barbara bahwa hubungan zionisme dengankebudayaan Eropa cukup banyak yang saling menyempurnakan, khususnya interaksi yang terjadi pada abad ke-17 dan 18. Barbara menilai peran agama agak tereliminasi ketika Eropa mengalami renaisan pada abad ke-18.
Sejarah dan Geografi: Penemuan Ilmiah Abad ke-18
Ketika Commonwealth yang Protestan-Puritanis itu mengalami kemunduran dan clan (keluarga) Steeward naik tahta pada 1660 M, cemerlang “Kitab Suci” seperti ditegaskan oleh Tuchman belum punya pengaruh signifikan. Demikian juga abad ke-18 tidak bisa dianggap sebagai masa klasik yang dogmatif, terstruktur dan terediting, rasional yang sekuat kemampuan jauh dari spirit Ibranisme. Pandangan dan penilaian terhadap babakan sejarah Inggris pada abad ke -17 yang diiringi kembangan sistim Monarchi itu pandangan itu pandangan sikilas yang tidak mendalam. Pandangan Pronez Cobler tampak lebih jelas dan mendalam ketika ia menulis:
“Sungguh dua gerakan: renaisan yang filosofis-rasional dan gerakan teologis yang dogmatif sampai pada puncak kejayaannya tidak mampu menahan laju gerakan kembali ke agama Yahudi.
Bahkan renaisan ini memperkaya dan menyempurnakan gerakan Yahudisme melalui interaksi budaya yang bersifat inkulturatif yang realistis dan saling menguntungkan. Atas dasar realitas ini, mulai gagasan dasar bagi gerakan keagamaan berjalan secara dinamis dari satu generasi ke generasi berikutnya. Interaksi
88 Barbara Tuchmann, Bible and Sword (London; 1956), 4-936
budaya tersebut kadang melalui proses penyesuaian yang mengharuskan perubahan besar. Kondisi seperti ini terus berjalan sampai berkobarnya revolusi Prancis yang mengakibatkan perubahan mendasar dan mendadak.”89
Dalam tataran realitas gagasan zionisme yang diciptakan oleh beberapa non Yahudi pada abad ke 16. Kemudian gagasan ini berkembang secara dinamis dan semakin jelas dan kuat arahnya menjadi ideologi di Inggris yang puritanis, terutama era yang popular dengan masa rasional walaupun muncul penentangan resmi terhadap gerakan rasionalisasi yang sudah berkoneksi dengan zionisme.
Peranan Sastra Dalam Pengenalan Alam Ibrani
Sastra sebagai landasan penyebaran teologi keagamaan telah ditegakkan. Cerita-cerita drama yang menggambarkan ciri khas kekerasan itu lebih tenang dan sederhana. Dan dominasi unsur agama mulai tampak jelas dalam substansi isi dari drama.90 Pemikiran-pemikiran Perjanjian Baru menjadi sumber terbesar bagi inspirasi para seniman dan para penyair perjanjian baru, kejadian itu tidak hanya terjadi di Inggris tetapi juga terjadi di seluruh benua Eropa. Orang-orang Yahudi modern mendeskripsikan dirinya sendiri sebagai tokoh-tokoh istimewa yang berinteraksi dengan kesungguhan yang lebih besar dan pemahaman yang lebih mendalam. Seperti itulah keseimbangan Palestina yang dianggap sebagai Negara Yahudi dengan segala konten Zionismenya.
Puisi Milthon yang sangat popular berjudul “Kembalinya Surga Firdaus” berbicara tentang bangsa Israel yang akan pulang:
“Kiranya Allah mengetahui waktu yang baik dan tepat, Ia akan menyebut Abraham dan mengembalikan anak keturunannya dalam keadaan menyesal dan jujur, laut akan terbelah
89 Ibid, 95
90 Franz kobler, The Vision was There (London; 1965), 35
menyambut mereka dalam keadaan kembali secara cepat terhina menuju tanah air mereka, kondisi itu seperti yang pernah terjadi laut merah dan sungai Yordania terbelah ketika nenek moyang mereka kembali ke tanah yang dijanjikan. kutinggalkan mereka untuk mendapatkan pertolongan, dan kubiarkan mereka untuk kembali sesuai waktu yang dipilihNya.”91
Secara vulgar Milthon menjelaskan bahwa bangsa Israel akan dikembalikan ke Palestina, bukan dengan cara militer, tetapi dengan cara intervensi kekuatan yang luar biasa”. Karya puisi Milthon yang berjudul Problem Kenasranian yang tidak diterbitkan sampai tahun 1825 M menampakkan keimanannya yang mendalam terhadap masa seribu tahun yang bahagia untuk menghidupkan bangsa Israel.
Samson Agunistis menyiapkan kutipan langsung dari kitab para hakim dalam Perjanjian Lama dia mengutip fenomena baru tentang gambaran obyektif kaum Yahudi, yaitu deskripsi tentang Yahudi yang selalu diulang-ulang oleh Lord Beyron dan koleganya pada abad ke-19 dan James Jowes pada abad ke-20. Sebagai penyair puritan dalam lingkungan penganut Puritanisme, Milthon tidak mempunyai kemampuan kecuali ia memilih topik ini dan dia mencari solusi kesulitan seperti yang ia lakukan. Sebab ia tidak menemukan kesulitan untuk menciptakan tokoh-tokoh dalam cerita itu yang lebih cenderung akan khayalan rakyat. Tokoh-tokoh yang dalam Perjanjian Lama seperti Moses, Joshua, David, Rawas, Jacob dan Ester adalah nama-nama lain yang sangat populer. Sangat mudah untuk memberi catatan keunggulan para nabi Yahudi atas pahlawan Yunani klasik ketika membaca cuplikan sastra Eropa pada dua abad: ke-17 dan 18.
Hanya berselang satu generasi saja Alexander Bob memperbaharui gagasan tentang kerajaan Yahudi yang akan dikembalikan ke Palestina dalam karya sastranya berjudul Mesiasnis. Penafsirannya terhadap teks-teks Taurat bersandar
91 Edward N. Calish, The Jew in English Literature as Subject (Port Washington, 1969), 93
pada argumen-argumen teologis ketokohan Yesus Kristus yang dianggap sebagai mesiasnis tetapi substansinya berisi deskripsi- deskripsi yang dinamis bagi kebangkitan Israel sebagai suatu bangsa dan suatu realita. Bob menggambarkan tanah suci barunya itu mudah dipahami dan mudah diresapi oleh kaum Yahudi yang sedang kembali ke tanah asalnya.
Para tokoh Zionis menggambarkan kota suci Gambaran kota suci itu diekspresikan dalam bentuk nyanyian dan lagu-lagu rohani yang dikumandangkan di Gereja dan rumah sepanjang abad ke-18. Dan nyanyian yang paling menonjol adalah yang ditulis oleh Charles Wizley, menjelang abad ke-18 berakhir, William Blade mengumandangkan puisi berikut untuk kaum Yahudi:
Wahai Inggris Raya, Bangkitlah dan bangunlah,
Saudaramu di kota suci Yerusalem memanggilmu Sebagai kaum beriman
Mengapa anda tidur lelap?
Kondisi anda seperti mayat-mayat yang bergelimpangan Anda mengunci kota suci
Anda sangat jauh dari tembok-tembok klasik Untuk meratapi kehancuran sinagoge suci Sudah tiba waktunya, anda kembali ke sana…
Tanah suci Yerusalem yang anda rindukan sejak lama.92
Sedangkan di benua Eropa topik-topik Ibrani muncul dalam sastra Prancis, Perjanjian Lama menjadi sumber topik-topik yang dikemukakan oleh sastrawan klasik Prancis yang bernama Jane Babtisath, yang sangat mendalami sastra Romawi dan Yunani, inspirasi puisinya, dan karya deritanya berjudul “Ester” yang ia tulis pada tahun 1689 M dianggap sebagai salah satu karya drama Prancis yang terbaik.
Intelektual semasanya, bernama Jack Benayin dalam bukunya Studi Terhadap Sejarah Dunia di Discours Sur I’Histoire
92 William Black, Yerusalem (Antologi puisi, tk. tp. tt)
Universelle pada 1681 M menggambarkan rakyat Israel sebagai bangsa yang mengungguli bangsa-bangsa lain di dunia dan eksistensi Israel akan menjadi fondasi dan titik tolak kelangsungan dan kebangkitan sejarah dunia.
Sedangkan dalam sastra Jerman dalam keadaan negara ini masih dalam proses pembentukannya pada abad ke-17, tetapi tampaknya di negara ini terjadi gerakan Ibranisasi yang berdimensi Zionisme. Henis Syeis menjelaskan pada abad yang lalu dalam dua bukunya Der Winterich Herodes, (1552 M) dan Tragedia Koening Sauls (1557 M) menjelaskan beberapa topik tentang sejarah Yahudi. Kristen winch menjelaskan sejarah Yahudi dalam bukunya diantaranya Der Verfolgte David (1683 M), Nebukadneza (1683 M), Kain Und Abel (1703 M), dan di Swiss Joana Jacob memilih beberapa tokoh seperti nabi Ibrahim (Abraham), nabi Nuh (Noah), nabi Yusuf (Joseph) dan nabi kitab Sulaiman (kitab suci Solomon).
Penyair Jerman Jothold Abrim mempunyai kedudukan tinggi diantara teman sejawatnya pada masa pencerahan filsafat.
Kisahnya yang berjudul Nathan der Weise (1779 M), buku ini mengandun konten yang dinilai sangat bijak menggambarkan kepada pembaca agar ia pergi ke Yerusalem secara langsung tempat tinggal lakon, dalam cerita Nathan yang beragama Yahudi. Solusi yang digambarkan penulis terhadap tokoh ini spesifik dan baru. Cerita ini menggambarkan perang salib ke-3 yang terjadi pada abad ke-12 menggambarkan Sholahuddin adalah tokoh Muslim yang keras, kasar dan bodoh itu menduduki Yerusalem. Dalam cerita tampak seorang tentara berkuda bernama Haykal sebagai seorang Kristen fanatik digambarkan mendapatkan posisi rendah dibandingkan Nathan yang Yahudi.
Digambarkan bahwa seorang Muslim dan Masehi minta nasehat dan musyawarah kepada Nathan. Walapun Lasnagh itu menulis cerita untuk membangkitkan spirit toleransi tetapi pilihannya terhadap Yerusalem sebagai background cerita dan biasnya untuk membesar-besarkan Nathan itu memantulkan; betapa besar
pengaruh Ibranisme Zionisme yang waktu itu populer di Jerman sejak muncul gerakan reformasi agama.
Spirit puisi yang berwatak Zionisme menyeruak dalam ritual keagamaan yang menggoncang Jerman pada abad ke-18.
Gagasan mengembalikan kaum Yahudi ke Palestina itulah yang mendominasi mayoritas lagu-lagu dan nyanyian rohani untuk membangkitkan munculnya Kristen Protestan baru. Karena mayoritas lagu-lagu dan nyanyian rohani menggambarkan sejarah kaum Yahudi yang berada dalam puncak tahapan kebangkitannya.
Bahkan mayoritas teks lagu-lagu rohani di Jerman mengandung beberapa kata dan kalimat yang berasal dari bahasa Ibrani.93 Zionisme dan Para Filosof
Seseorang akan menemukan dalam beberapa buku filsafat yang terbit pada abad ke-17 dan 18, beberapa filosof terkenal seperti John Lob dan Isaac Newton dalam buku filsafat yang mereka tulis, yang antara lain berisi dukungan pada masyarakat Eropa untuk mengembalikan kaum Yahudi ke Palestina. Sebuah buku berjudul komentar terhadap surat-surat Santo Pol yang ditulis oleh John Lobb peletak dasar teori politik liberal menyatakan “Sungguh Allah itu kuasa untuk mengumpulkan kaum Yahudi dalam satu negara, kemudian akan menjadikan mereka dalam suatu posisi yang adil makmur di negeri mereka sendiri”.
Sesungguhnya gambaran abad ke-18 yang dianggap sebagai masa klasik bagi pengembangan rasio dengan indikator ditemukannya berbagai teori ilmu pengetahuan sampai pada puncak penemuan hukum alam yang menantang “kebenaran”
sebagian konten kitab suci.Ini karena sebagian ketentuan teks kitab suci tersebut bertentangan dengan sejumlah teori para filosof. Mereka berusaha keras untuk menemukan teori ilmiah yang spesifik agar kaum Yahudi dapat dikembalikan ke Palestina.
Issac Newton dalam bukunya: Catatan Sekitar Ramalan Daniel
93 Siegfried Riemer, Philosemitismus im deutshen evangelischen kirchenlied des Barock (Stuggart, 1963), 72
dan Mimpi Santo John yang terbit 5 tahun setelah Newton wafat, menyatakan: bahwa kaum Yahudi akan kembali ke negara mereka.
Saya tidak tahu bagaimana hal itu akan terjadi? Kita sebaiknya menunggu waktu untuk menafsirkannya menjadi realita. Bahkan lebih dari itu, ia telah membuat time schedule dan jadwal peristiwa- peristiwa yang akan berakibat kaum Yahudi dapat kembali ke Palestina. Ia memprediksi akan muncul intervensi dari “kekuatan duniawi” demi kaum Yahudi yang sudah tercerai-berai itu kembali ke Palestina.
Setelah satu generasi babakan sejarah ini berlalu, seorang dokter sekaligus filosof terkenal: David Hartley mampu menggagas solusi bagi problem kaum Yahudi agar dapat kembali ke Palestina.
Gagasan solutif ini muncul setelah ia melakukan studi secara intens sehingga ia mampu menulis buku ilmiah global, berjudul:
“Catatan Tentang Kewajiban-kewajiban dan Prediksi-prediksi Manusia” (1749 M). Ia menganggap kaum Yahudi itu berada dalam sistem “lembaga politik” yang eksistensi dan potensi kekuatan mereka itu riil. Dengan demikian, mereka dapat dianggap sebagai suatu komunitas tunggal yang mempunyai masa depan nasional, walaupun saat ini mereka hidup tercerai berai. Ia menambahkan;
mengingat realitas kaum Yahudi itu hidup dan berkembang secara dinamis yang antara satu individu dengan individu yang lain saling terkait yang disatukan oleh satu bahasa (Ibrani) dan punya tantangan dan latar belakang sejarah yang sama.94
Joseph Priestley, seorang pakar kimia yang menemukan oksigen sangat percaya terhadap misi bangsa Yahudi yang bersifat mesiasnistik itu dalam pandangan kaum Kristiani. Sebagai pastor kaum Kristen Protestan yang bersatu, Priestley sangat percaya bahwa keYahudian dan keKristenan itu saling melengkapi. Oleh karena itu, migrasi kaum Yahudi ke Kristen ini akan mudah terjadi.
Kepercayaan seperti inilah yang mendorong Priestley untuk mengajak kaum Yahudi agar mau mengakui bahwa Yesus Kristus
94 Franz Kobler, The vision was….39-40
(Isa) adalah Mesias (Ratu Adil) yang ditunggu.95
Dakwah simpatik dan prediktif tersebut dibarengi dengan kumandang doa: “Semoga Tuhan di langit yaitu Tuhan Abraham (Ibrahim) Issac (Ishaq) Jacob (Ya’qub) yang kami kaum Kristiani menyembahNya sama dengan yang Anda sembah. Inilah yang membuat Anda hidup menderita. Semoga Tuhan menyatukan Anda dan mengembalikan Anda ke negara Anda sendiri yaitu bumi Kan’an (Palestina) dan semoga Ia menjadikan Anda sebagai bangsa yang paling terkenal di dunia.
Palestina dan Yahudi berjalan beriringan dalam gagasan Zionisme, Priestley menggambarkan Palestina sebagai bumi yang tidak dihuni oleh penduduk, karenaTurki yang “merampas”
tanah tersebut mengabaikannya. Tetapi tanah yang terabaikan itu sangat merindukan dan siap untuk menyambut kaum Yahudi yang akan kembali.96
Negara Israel masa depan itu tampak dalam tulisan-tulisan Jane Jack Rush, dia itu seorang penduduk yang berasal dari Jenewa, berasal dari keluarga pengikut agama Kristen Protestan, masa depan Israel juga ditulis oleh Bless Beska seorang filosof mistis yang beragama Katolik berkebangsaan Prancis abad ke- 17. Dalam buku berjudul Amael, tentang pendidikan yang terbit pada 1762 M Rosso memaparkan tentang Israel masa depan itu, dengan menyatakan:
“Selamanya anda tidak akan tahu motivasi internal kaum Yahudi, sehingga mereka itu mampu mendirikan negara merdeka, selanjutnya mereka juga akan mampu mendirikan lembaga- lembaga pendidikan tingkat menengah dan juga perguruan tinggi.”97
Basykal dalam bukunya “Pensess Sur La Religion”
meyakinkan orang-orang yang mengingkari keberadaan Allah dengan berargumen bahwa kaum Yahudi yang tetap ada selama
95 Ibid…41-42
96 Joseph Priestley, A Comparison of the Institutions of Moses with those of the Indus and other Ancient Nations, (London,1799)
97 Jane Jack Rosso, Amael IV (London, 1957), 268
4000 tahun adalah bukti yang cukup untuk meyakinkan bahwa Allah itu ada. Basykal yang juga dikenal sebagai pakar yang sangat mendalami sastra religius Yahudi yang sekaligus filosof kitab Talmud, kitab Madares dan mendalami tulisan-tulisan Minonedes berfikir tentang peranan kaum Yahudi. Ia berpendapat bahwa munculnya istilah “Negara Israel” adalah gambaran informasi yang menggembirakan akan munculnya mesias (ratu adil) yang ditunggu.Ia mengekspresikan rasa hormatnya yang sangat tinggi terhadap jasa-jasa kaum Yahudi sebagai “bangsa garda depan” dalam berbagai bidang perjuangan kehidupan yang sangat berguna bagi manusia masa depan. Mereka juga dikenal sebagai bangsa yang berpegang teguh pada ajaran agama.98 Foltair mengeritik keras pendapat Memondes pada abad ke-18 karena ia mensakralkan sejarah kaum Yahudi. Secara berlebihan ia menganggap; kaum Yahudi itu adalah bangsa tertua diantara bangsa-bangsa yang dikenal dalam sejarah manusia.
Filosof Jerman dianggap bertanggung jawab terhadap eksistensi teoritik yang menjadi dasar anti semetik pada abad ke-20. Walaupun demikian, filosof Jerman itu populer akan kecenderungan dan pengistimewaannya terhadap ideologi Zionisme, walaupun kembalinya Yahudi tidak masuk dalam bingkai sistem dan struktur filsafat itu sendiri. Ibranisme mempunyai pengaruh besar terhadap Johan Freid Hard seorang filosof dan sarjana teologi Protestan yang mendorong dirinya sangat mengagumi perjanjian suci klasik sampai pada kesimpulan bahwa kaum Ibrani (Yahudi) adalah bangsa yang paling istimewa dan unggul. Latar belakang inilah yang mendorongnya untuk menulis buku berjudul: “Uom Geste der Hebraeischen Poesie” (1783 M).
Dalam buku ini menyatakan; bahwa bangsa Ibrani klasik itu adalah suatu bangsa istimewa, independen, punya spirit perjuangan yang mengagumkan serta aneka keunggulan lain yang spesifik dibandingkan dengan bangsa-bangsa lain di dunia.99 Peranannya
98 K.H Rengstorf and S. Kortzfleisch (Eds), Kirche und Synagoge (Stuggart, 1967), 134 99 J.G. Herder, Saemtlich Werke vol.1 (Berlin, 1852), 211ff
terhadap munculnya ideologi modern sangat terkenal, bangsa Yahudi juga seperti bangsa Jerman dan bangsa-bangsa lain membentuk suatu kebangsaan yang tentu mempunyai akar historis yang sangat panjang dalam aneka tantangan yang sangat beragam.100 Dalam waktu yang sama Hard menyimpan penghinaan terhadap kaum Yahudi modern. Karena, -menurutnya- mereka gagal dalam memperkuat identitas kebangsaan dan perasaan nasionalismenya. Kemudian walaupun mereka mendapatkan aneka ragam kezaliman yang sangat menyedihkan ini tidak mematikan kerinduan untuk kembali ke negara nenek moyang tempat mereka berasal.101
Pemahaman terhadap Yahudi dan Yahudisme sebagai suatu bangsa yang sistemik dalam arti antar satu dengan yang lain saling menyempurnakan sebagai alternatif bahwa keyahudian itu identik dengan suatu agama. Suatu ketika Immanuel Kant menyatakan; salah satu diantara indikator keistimewaan kaum Yahudi; “mereka adalah penduduk Palestina yang saat ini hidup bersama kita.”102 John Jonat Fath yang sangat memusuhi Yahudi dicampur dengan pemikiran ideologi Zionisme menyatakan;
“bahwa kaum Yahudi itu tidak mempunyai tempat di Eropa.
Mereka harus kembali ke Palestina, di tempat itulah akar- akar mereka tumbuh. Eropa tidak mempunyai solusi untuk menyelesaikan problem yang mereka hadapi, kecuali mereka harus menduduki “tanah suci” untuk kedua kalinya, sekaligus Eropa harus mengembalikan mereka secara total ke tanah suci, tanah mereka sendiri.”103
Masa mazhab rasional juga mengalami munculnya arah dan model baru sastra yang terkait dengan Palestina. Palestina dalam arti bukan sebagai kawasan Taurat, tetapi sebagai geografi yang secara ilmiah seharusnya dapat ditemukan. Para pelancong
100 G. Kaiser, Piestismus und Patriotismus im Literarischen Deutschland (Wiesbaden, 1961), 8-146
101 GKirche und Synagoge…,146
102 Immanuel Kant, Werke in 6 Baeden vol.VI (Darmstadt, 1956), 517
103 J.G. Fitche, Saemtliche Werke vol.VI (Berlin, 1846) 50-149 lihat juga A. Lewkowitz, Das Judentum und die geistigen Stroemungen des 19 Jahrhunderts (Breslau, 1935), 56
sekaligus sarjana melakukan perjalanan ke timur dengan upaya keras untuk menemukan ilmu pengetahuan dan informasi- informasi penting bukan bertujuan untuk sekedar wisata religi,
“laporan-laporan mereka tidak lagi menjelaskan Palestina yang muncul dalam sajak-sajak saja, tapi tersebar dalam buku- buku sastra tentang perjalanan antropologis yang lebih banyak beredar”. Tanda-tanda geografis dan tradisi lokal mendapatkan perhatian para pelancong itu lebih banyak laporannya dibandingkan dengan laporan tradisi keagamaan lokal yang menjadi keinginan para pengunjung dan peziarah awal. Tetapi mayoritas karya sastra tersebut tidak menghilangkan aroma lokal dan konteks sosio-historis pada masanya. Sebagian norma- norma yang berkembang dalam sastra baru ini masih tetap kuat dalam benak dan pemikiran orang barat dalam waktu yang cukup panjang. Riilnya -bagi bangsa Eropa- penguasa Palestina saat itu adalah “bangsa Turki yang mengesankan sebagai penguasa yang menakutkan, seram, kasar dan kafir”. Orang-orang kafir yang bertindak kasar dan liar ini mengobarkan penyerangan dan peperangan yang terus menerus tanpa henti yang tentu mengakibatkan kerusakan dan kehancuran. Tindakan seperti inilah yang membuat Palestina itu menjadi kawasan yang penuh dengan puing-puing kehancuran yang tentu membuat tanahnya menjadi tandus tak ubahnya seperti sahara yang cukup luas.
Kondisi demikian inilah yang membuat Allah menghilangkan sekaligus menjauhkan keberkahannya.”104 Kehancuran yang menimpa kawasan Palestina yang pada suatu masa menjadi
“kebun kemanusiaan” dan menjadi kebanggaan Islam105. Diantara
104 Robert Burton , A Memorable Remarks Upon the Ancient and Modern State of the Jewish Nation in Nataniel Crouch (Ed) Two Journeys to Jerussalem (London, 1704) 105 Pada abad ke-7 dan ke-8 M kaum Muslim berhasil menjadikan Palestina sebagai
kawasan yang damai dan penuh berkah. Tetapi sejak awal abad ke-17 Francis Beccon menggambarkan bangsa Turki yang menguasai Palestina saat itu, sebagai penguasa yang tidak bermoral, tidak berbudaya, tidak punya jiwa seni dan tidak punya wawasan keilmuan serta menjadi penyakit bagi komunitas manusia… mereka telah merubah tanah Palestina yang semula disulap menjadi surga dunia, mereka hancurkan menjadi tanah yang tandus dengan penduduk yang miskin. Lihat Bacon’s, ‘Holy War’, Works vol.
2 (London, 1874), 477