Zionisme dan Perkembangan Ilmu Pengetahuan
Revolusi ilmu pengetahuan pada paruh kedua abad ke- 19 memunculkan pertentangan antara ilmu dan iman. Pada 1859 M Darwin menerbitkan bukunya berjudul: Akar Spesies Mahluk Hidup, dan pada 1871 M ia menerbitkan buku keduanya berjudul: Asal Muasal Genealogi Manusia. Pada 1863 M Thomas Heksley menerbitkan buku berjudul: Posisi Manusia dalam Hukum Alam. Konsekuensi dari revolusi ilmu pengetahuan di atas adalah terjadinya pergeseran ideologi Zionisme yang telah mengembangkan teorinya sesuai dengan teori evolusi yang dikembangkan oleh Darwin. Pada 1865 M kaum Zionis Inggris menggalang “Dana Penemuan Tanah Palestina”. Ini mereka lakukan untuk mencari legitimasi keagamaan ideologi Zionisme saat terjadinya revolusi ilmu pengetahuan.
Setelah dana terkumpul, kaum Zionis mengirim dua pakar:
Charles Warren dan Claude Reignier ke Palestina, dengan misi melakukan studi potensi ekonomi Palestina pada masa depan. Usai melakukan studi tepatnya pada 1875 M Charles Warren menulis buku berjudul: “Tanah yang Dijanjikan” yang secara global ia menyimpulkan bahwa pada masa depan tanah Palestina akan menjadi wilayah yang secara ekonomi sangat produktif jika dihuni atau dijajah oleh bangsa Yahudi. Sedang Conder sangat yakin bahwa sumber daya bangsa Yahudi yang mempunyai keistimewaan kerja professional dan skill yang tinggi akan mampu membangkitkan roda ekonomi suatu kawasan yang penduduknya terkenal dengan hidup malas dan tidak mau
berjuang dan berusaha.170
Pada waktu yang hampir bersamaan, sejumlah pakar pemburu ilmu pengetahuan dan para sarjana Arkeologi melakukan studi tour ke Palestina untuk melakukan penelitian.
Setelah pulang ke Eropa, mereka membuat laporan hasil penelitian ilmiahnya yang sebagian besar kesimpulannya memperkuat hasil penemuan yang dilakukan sebelumnya.
Mereka melihat dengan mata kepala sendiri kawasan yang pada masanya pernah subur dan produktif saat ini menjadi kawasan yang terabaikan dan kehancuran melanda disana-sini. Tuduhan kesalahan mereka alamatkan pada “suku-suku Arab primitif”
yang populer dengan kaum Badui yang bodoh dan malas.
Tentu saja mereka sama sekali tidak punya kemampuan untuk mengurus tanah Palestina yang sangat produktif itu.
Tanah Palestina yang memprihatinkan itu mempengaruhi publik opini bangsa-bangsa Eropa bahwa bangsa Yahudi sebagai pemilik legal tanah tersebut semestinya yang akan mampu mengelola dan memanagenya agar bisa menjadi tanah yang subur dan produktif. Solusi satu-satunya untuk mengembalikan kejayaan tanah Palestina adalah memulangkan kaum Yahudi ke tanah warisan nenek moyang mereka. Seiring dengan keyakinan kaum Zionis yang sangat kuat itu, pakar Geologi J.W. Dawson setelah melakukan studi lapangan di Palestina pada 1888 M ia menulis:
Dalam sejarahnya sampai saat ini, tidak satu bangsapun mampu membangun hegemoni budaya di Palestina, sebab suku-suku bangsa yang ditinggal di kawasan ini tidak mempunyai jiwa untuk bersatu dan tidak punya spirit adanya kesatuan. Suku- suku Arab miskin yang saat ini tinggal di Palestina itu terdiri dari elemen-elemen suku yang antara satu dengan yang lain saling bermusuhan. Posisi mereka tidak lebih sebagai penyewa dan pemilik tanah sementara. Mereka menunggu “bangsa
170 Pada 1878 M C. R. Conder menulis artikel di Koran The Jewish Chronicle yang ke- mudian dikutip dan dikembangkan oleh Franz Kobler dalam bukunya: The Vision Was There (London: 1956), 87
profesional” untuk memiliki sekaligus mengelola tanah Palestina ini selamanya.171
Paparan di atas menunjukkan bahwa para intelektual Eropa dengan argumentasi ilmiahnya selalu mengaitkan tanah Palestina dengan bangsa Yahudi. Pendapat demikian tidak hanya beredar di kalangan bangsa Eropa terpelajar, tetapi juga melanda opini kaum awam yang sudah terjejali ideologi Zionisme yang dikemas dalam ajaran yang tak terpisahkan dari Puritanisme Kristen.
Studi akademik seobyektif apapun tentang realita sosial dan psikologis penduduk Palestina pasti dikemudian hari akan terungkap suatu keadaan yang berbeda dengan realita sebenarnya.
Hal ini terjadi, karena penduduk minoritas Yahudi yang saat itu mengarungi kehidupan di Palestina itu tidak lebih baik dengan mayoritas bangsa Arab yang hidup berdampingan dengan kaum Yahudi. Dua komunitas bangsa ini antara satu dengan yang lain tidak punya kelebihan. Masing-masing mengarungi kehidupan yang dilanda kemiskinan dan kebodohan. Itu karena elit dan bangsawan Turki mengabaikan bahkan menghina dua komunitas bangsa ini sebagai konsekuensi kehidupan yang tidak menguntungkan mereka. Saat itu tidak ada indikator-indikator yang mendukung munculnya apa yang kemudian dikenal dengan spirit “kebangsaan Yahudi”.
Mungkin istilah kebangsaan Yahudi ini saat itu masih dalam taraf persiapan. Studi-studi historis tentang Yahudisme, bahkan setelah menjadi ideologi Zionisme kondisinya berbeda bahkan bertentangan dengan persepsi yang selama ini dipahami.172
171 J.W. Dawson, Modern Science in the Bible, seperti dikutip oleh Franz Kobler The Vision Was There…105-106
172 Lihat misalnya Leonard Stein, Zionism (London: 1925), 47. Dan lihat juga Bentwich and Shaftesley, Forerunners of Zionism the Victorian Era (London: 1925), 13-209. Menurut Stayen pada 1878 M Palestina dihuni oleh 34 ribu kaum Yahudi. Mayoritas mereka berasal dari etnik Yahudi “Haluka”; yaitu mereka yang hidup di Palestina dengan men- gandalkan bantuan sosial dari luar negeri. Hanya beberapa orang saja diantara mereka yang bekerja sebagai petani untuk menyambung kehidupan. Andaikan tidak ada modal asing yang masuk sesuai dengan permohonan Zionis non Yahudi, niscaya semua up- aya untuk menempatkan kaum Yahudi di aea pertanian akan gagal total, dan sejumlah kasus menunjukkan kegagalan itu.
Oleh karena itu, harus dilakukan terobosan-terobosan berupa penjajahan tahap awal yang secara finansial, logistik dan militer dapat dukungan dari kaum Zionis non Yahudi. Kondisi ini mengharuskan pemaparan kebenaran dan realita yang memang sungguh-sungguh terjadi. Kondisi ini secara implisit berfungsi sebagai “peringatan” akan munculnya Zionisme Yahudi sebagai respon dan reaksi telah eksisnya Zionisme non Yahudi pada abad ke-20. Jadi, munculnya Zionisme Yahudi itu respon dan datang kemudian setelah perjuangan Zionisme non Yahudi menampakkan hasil yang meyakinkan.
Sejak semula sudah dapat diprediksi bahwa Zionisme dan Imprialisme akan berjuang saling menguatkan antara satu dengan yang lain. Upaya pertama dilakukan untuk menempatkan kaum Yahudi di Palestina sebagai “penjajah” di bidang pertanian. Ini karena kondisi tanah Palestina yang subur, dan secara politik akan menarik perhatian publik, dan dalam peta geografis dianggap sebagai kawasan yang strategis.
Dua komunitas: Yahudi dan Kristen Eropa mengajukan proposal agar kaum Yahudi ditempatkan sekaligus “dipulangkan” ke Palestina. Komunitas Yahudi berbicara tentang keuntungan penempatan penduduk yang punya semangat tinggi sekaligus sebagai pengamal agama yang kuat seperti kaum Yahudi jika mereka ditempatkan di suatu kawasan yang penting dan netral seperti Palestina yang terletak di jalur perjalanan darat menuju India. Posisi ini memungkinkan kaum Yahudi itu menjadi
“penjaga” kepentingan Inggris Raya jika suatu saat “tokoh Eropa yang sedang sakit” itu bergerak untuk menguasai jalur darat tersebut. Sebagian perwira Inggris mengajukan gagasan alternatif kedua, melalui penerobosan dan penguasaan Terusan Suez yang berlayar dari laut tengah menuju Teluk Aqobah. Ini jika Inggris gagal menguasai jalur darat. Posisi Palestina yang relatif netral dari sisi kepentingan tokoh Eropa yang sedang sakit itu dalam pandangan Inggris tidak terpisah dari perkembangan Timur Tengah yang harus dalam kontrol “organisasi internasional kawasan timur” yang secara teknis akan dilaksanakan oleh
PT. India Timur. Dengan demikian, pemulangan kaum Yahudi ke Palestina sebagai penjajah memiliki keistimewaan yang sangat strategis bagi kepentingan politik Inggris Raya di Timur Tengah.173
Lembaga pendanaan penemuan tanah Palestina adalah salah satu institusi dan organisasi yang menjamur di Inggris pada dekade akhir abad ke-19. Lembaga ini memberi arahan dan bantuan finansial terhadap para tokoh Yahudi yang ingin tinggal di kawasan jajahan pertanian Palestina. Para pendukung problem Yahudisme dari kalangan bangsa Eropa non Yahudi memilih untuk menyebarkan rencana dan proyek-proyek mereka di koran-koran yang berafiliasi pada kaum Yahudi agar ada jaminan bahwa pesan dari rencana dan proyek ini menjangkau pada mayoritas kaum Yahudi yang menginginkannya. Tiga Koran: Jewish Chronicle, Hebrow Observer dan Voice of Jacob telah memuat beberapa artikel yang ditulis oleh kaum Zionis non Yahudi secara bersambung. Pada 1871 M Isaac Ashe dalam salah satu makalahnya seperti yang kami kutip di atas mengusulkan terbentuknya PT yang mempunyai hak dan keistimewaan sebagai pengawas dan pemantau PT. India Timur atau PT.Teluk Hadson. Dengan berdirinya “PT istimewa”
ini ia memprediksi akan berdirinya lembaga dana kebangsaan Yahudi 30 tahun sebelum lembaga dana ini berdiri.
Berikut ini kami kutip teks usulan Isaac Ashe:
Menurut saya, paling tidak harus ada tiga atau empat langkah penting jika kita ingin mengembalikan sekaligus memulangkan bangsa Yahudi ke Palestina. Pertama, membeli beberapa bidang tanah dari para pemiliknya sekarang, dan menjadikan tanah itu meningkat harganya untuk disewakan kepada para petani lokal.
Kemudian sebagian keuntungan pertanian tersebut diinfakkan dan diserahkan untuk kepentingan sosial yang akan membuat kondisi ekonomi penduduk lokal menjadi lebih baik. Kedua,
173 Bentwich and Shaftesley, Forerunners of Zionism the Victorian Era…,215
menarik tanah tersebut untuk disewakan kepada para petani imigran Yahudi, selanjutnya penyewaan itu diberikan selamanya dan dengan harga yang tetap.
Ketiga, mengarahkan para pemilik modal untuk tidak hanya mengeksploitasi tanah Palestina saja, tetapi tanah tersebut dijadikan sebagai tempat berdirinya industri-industri guna memperkuat kepentingan ekonomi bangsa Yahudi. Keempat, mengarahkan keuntungan dari industri-industri ini dan juga pertanian untuk menjadikan negara mempunyai kekuatan pertahanan militer dalam arti rakyat Yahudi akan mampu untuk menjaga kemerdekaannya dari semua serangan asing yang sewaktu-waktu bisa terjadi. Ketika itulah kaum Yahudi mampu mempertahankan negaranya secara militer.174
Laurence Oliphant Membuat Garis-garis Besar Perjuangan Diantara representasi kaum Zionis non Yahudi yang mempunyai pengaruh dan basis sosial yang sangat kuat adalah Laurence Oliphant (1829-1888 M) yang mempunyai latar belakang:
sebagai anggota parlemen, Menlu dan seorang wartawan. Lebih dari itu semua ia dikenal sebagai seseorang yang sangat fanatik dalam menjalanakan keyakinan dan ritual keagamaan. Mengingat segudang pengalaman yang dicapai, ia dianggap sebagai
“pemilik” teori penghidupan kembali kesultanan Ottoman agar mampu menghadapi kekuatan kekaisaran Rusia; ia mengajukan proposal yang sangat detail tentang pemukiman kaum Yahudi.
Setelah ia melakukan kunjungan pribadi ke Palestina hanya untuk dapat menyentuh tanah tersebut dan melakukan studi kondisi pemukiman, pendudukan dan penjajahan kawasan pertaniannya, ia menulis sekaligus menerbitkan bukunya berjudul “Bumi Galad”
pada 1880 M. Dalam buku ini ia mengusulkan untuk menempatkan kaum Yahudi di kawasan Tepi Timur Sungai Yordan (East Bank) yang harus tetap berada dalam otoritas kesultanan Ottoman dan dalam waktu yang sama juga di bawah perlindungan Inggris Raya.
174 Ibid.,215
Hendaknya Inggris membuat suatu Institusi Akademik yang mempunyai tiga tugas utama. Pertama, melakukan penelitian geologi dan arkeologi, karena kemungkinan besar diantara kawasan Palestina yang cukup luas itu secara historis pernah berdiri tegak beberapa kota yang karena satu dan lain hal saat itu dihancurkan. Kedua, mengembangkan sumber alam pertanian yang melimpah melalui pemukiman kembali etnik Yahudi yang sejak tiga ribu tahun yang lalu dikenal sebagai pemilik sekaligus penggarap lahan pertanian ini. Ketiga, menjamin sekaligus menggaransi keamanan “politik ambisius” ini yang sangat mungkin terjadi pada masa yang akan datang.175
Ia mengusulkan pemukiman kaum Yahudi pada kawasan seluas satu setengah juta hektar di daerah Tepi Timur Sungai Yordan. Suatu proposal yang saat itu dianggap sebagai yang paling terinci dan sangat objektif untuk membantu suksesnya pemukiman kaum Yahudi. Direncanakan kaum Yahudi asal Rumania, Rusia dan dari sejumlah wilayah kekuasaan Inggris Raya akan ditarik untuk migrasi sekaligus mukim di kawasan Tepi Timur Sungai Yordan.
Dalam proposal itu, Olievan juga merekomendasikan kebijakan terhadap penduduk etnik Arab di Palestina. Kaum Badui Arab yang diberi gelar sebagai suku yang sangat “mahir di medan perang” harus diusir dari kawasan ini. Sedangkan penduduk Arab yang berprofesi sebagai petani hendaknya diberi subsidi dan ditempatkan di suatu kawasan pertanian yang khusus untuk mereka. Posisi penduduk Arab terakhir ini tak ubahnya seperti kondisi kaum Indian di Amerika Utara. Bisa juga sebagian petani Arab ini dijadikan sebagai buruh dengan upah yang sangat murah yang harus tunduk terhadap pengawasan kaum Yahudi.
Menurutnya, bangsa Arab ini mempunyai hak yang signifikan untuk meminta belas kasihan kita. Sebab merekalah yang menghancurkan kota-kota di negara ini, meluluh lantakkan desa- desanya dan merampok penduduk aslinya sehingga berakibat
175 Barbara Tuchmann, Taurat dan Pedang. (London: 1956), 173
kondisi negara ini hancur seperti keadaan yang kita saksikan saat ini.176
Lorients mendapatkan penghormatan dan penghargaan yang sangat tinggi melampaui para pejuang Zionis yang lain.
Sebab, dialah tokoh pertama yang mampu menjembatani kepentingan kaum Zionis Yahudi dan kaum Zionis non Yahudi. Ia sangat memahami seperti kolega seniornya Charles Henry Charsel selama empat dekade sebelumnya tentang pentingnya mengikut sertakan kaum Yahudi dalam proyek-proyek pemukiman dan penjajahan yang akan dilakukan. Oleh karena itu, ia mengundang mereka untuk melakukan kerja sama. Peran ini ia ungkapkan dalam artikelnya yang berjudul “Kaum Yahudi dan Problem di Kawasan Timur” yang terbit pada September 1883 M.
Kontak pertama yang ia lakukan dengan kaum Yahudi agar mereka berkenan mengikuti gagasannya adalah kontak yang dilakukan dengan gerakan “Cinta Gunung Zion”. Anggota komunitas ini terdiri dari kaum Yahudi Eropa Timur yang tujuan utamanya adalah melarikan diri dari gelombang penyiksaan baru yang terjadi pasca tewasnya kaisar Alexander II pada 1881 M.
Petaka yang menimpa kaum Yahudi ini membuat langkah maju gerakan Zionisme Yahudi mengalami pelambatan sejak 1880 M.
ini terjadi diantaranya karena pendukung organisasi ini hanya terbatas pada kaum Yahudi Rusia dan beberapa kaum Yahudi yang berasal dari kawasan Eropa Timur. Dalam konteks demikian, pergeseran penting dalam teologi Yahudi adalah gagasan mencari solusi agar derita yang menimpa mereka dapat dilepaskan melalui proses teologi sekularisme dengan cara mewujudkan suatu Negara yang mereka namakan sebagai “Negara Yahudi”.
Jika memungkinkan, bangsa Yahudi yang sedang mengalami depresi mental itu menjadikan buku “Pembebasan Diri” karya Leo Pinsker yang terbit pada 1882 M sebagai pedoman untuk mencapai tujuan mendirikan Negara tersebut. Saat itu negara yang dimaksud sama sekali tidak mengarah ke Palestina. Realitanya, Leo Pinsker
176 Ibid…,
itu mampu menundukkan sejumlah orang untuk mengarahkan emosi kaum Yahudi terhadap tanah yang kemudian populer dengan Palestina. Seperti ia juga mampu membuat angan-angan kaum Yahudi menggelora dengan cara mencari solusi menunggu datangnya penguasa mesiasnis yang adil yang selalu ditunggu kedatangannya.177
Olievan beberapa kali menghadiri pertemuan dan rapat- rapat yang dilakukan oleh gerakan “Cinta Gunung Zion” di Rusia dan Rumania. Ia bertemu dengan para pemimpin organisasi ini yang juga berkumpul dengan sejumlah tokoh agama dan para pejabat negara non Yahudi. Diantara mereka adalah Pangeran Wales yang kemudian menjadi raja dengan nama Edward VII. Saat itu diprediksi bahwa gagasan-gagasan Olievan akan mendapatkan dukungan yang dalam istilah politik saat itu populer dengan
“Gagasan yang Sangat Cemerlang”. Proposal Olievan ini menurut Perdana Menteri Inggris saat itu Lord Becounsvild178 yang juga populer dengan nama Dezreally dan Menlu Lord Shalzibri itu
177 Argumen Leo Pinsker untuk menyelamatkan kaum Yahudi melalui pengembangan teologi sekularisme dengan cara mendirikan sebuah negara khusus kaum Yahudi adalah sebagai berikut. Pertama, kaum Yahudi itu bukanlah suatu bangsa yang menikmati suatu kehidupan yang layak, sebab mereka selalu menjadi pengembara di setiap negara. Karena itu, mereka menjadi bangsa yang terhina. Kedua, penyelamatan dengan cara jaminan perlindungan politik dan hak-hak sipil bagi kaum Yahudi tidak akan mampu merubah kondisi mereka yang sangat terhina itu. Solusi satu-satunya adalah menciptakan kaum Yahudi sebagai entitas bangsa yang nantinya akan mampu hidup secara alami diatas tanahnya sendiri dan melakukan koreksi internal bagi diri mereka sendiri. Ketiga, harus ada penyelesaian politik secara internasional bagi problem kaum Yahudi, yang mengharuskan mereka membuka diri untuk kebangkitan kebangsaannya melalui lembaga legislasi yang mereka ciptakan, yang tentu harus berasal dari para tokoh Yahudi sendiri. Keempat, tentu rencana besar ini dalam kontek politik internasional saat ini akan menghadapi kesulitan dan rintangan-rintangan yang sangat besar. Untuk jelasnya lihat Leo Pinsker, dalam A.S Eban (ed) Auto Emancipation (London, 1932) 178 Nama asalnya adalah Benyamin Dazraelly, kemudian ia berubah nama Lord Deconetzvel
adalah dikenal sebagai orang Yahudi sebelum ia menjabat sebagai Perdana Menteri pada 1875 M. ia pernah menulis dua novel yang cenderung pada ideologi Zionisme berjudul: Wondrous Tale of Alroy (1833) dan Tancred (1847). Sebagian sejarawan yakin bahwa dialah pembuat draft proposal tanpa tanda tangan yang disampaikan pada kongres Berlin pada 1878 M yang diantaranya memuat program Zionisme bagi penyelesaian problem kaum yahudi. Tetapi peran penting Dazraelly sebagai pemimpin kaum Zionis lebih memantapkan posisinya bagi kepentingan jajahan Inggris Raya di kawasan Timur Dekat (baca Timur Tengah), sebab dialah yang diberi otoritas untuk melakukan perundingan agar Inggris bisa membeli beberapa bidang tanah pada PT.
Terusan Suez pada 1875 M. perannya itu membuat Inggris mampu menduduki Cyprus kemudian menduduki Mesir pada 1882 M, yaitu masa ketika Olievan itu menjadi Menlu.
sama dengan ambisi yang ada dalam benak dua pejabat ini.
Karena itu mereka memberi izin pada Olievan untuk melakukan serangkaian perundingan dengan pemerintahan kesultanan Ottoman tentang kemungkinan kaum Yahudi mendapatkan kawasan tanah sebagai pemukiman mereka. Olievan juga mendapatkan persetujuan untuk melakukan perundingan dari Menlu Prancis.
Politik Inggris Terhadap Kesultanan Ottoman Mulai Bergeser Perkembangan politik lokal dalam negeri Inggris meng- hasilkan pembatasan upaya diplomasi yang dilakukan oleh Dazraeally. Partai pembebasan keluar sebagai pemenang pemilu yang dilakukan pada 1880 M yang membuat Gladistone menempati posisi sebagai Perdana Menteri menggantikan Lord Beconsvild. Ini akan membuat politik Inggris terhadap kawasan jajahan di kawasan Timur akan berubah. Inggris tidak lagi menjadi
“teman akrab” sekaligus pelindung sultan Ottoman, sebab Gladistone “merasa terganggu” dari sikap para penguasa Turki.
Gladistone ini dikenal tidak suka penjajahan. Tampaknya secara politik ia memprediksi bahwa segala sesuatu yang menimpa kawasan jajahan akan ditimpakan pada pundak dan tanggung jawab Inggris sebagai konsekuensi perluasan wilayah jajahan yang ke depan akan terus mengalami kemunduran, karena Inggris
“mengabaikan” kawasan jajahan tersebut.179
Kondisi politik dalam negeri Inggris ini memberi peluang tampilnya Zionisme non Yahudi ke pentas politik Inggris. Sepanjang waktu mereka merasa “dipaksa” untuk melakukan diskusi-diskusi politik yang diprediksi akan mengalami kegagalan. Walaupun demikian, mereka selalu berusaha beradaptasi, agar langkah- langkah dan proyek politiknya bisa sejalan dan saling menguatkan dengan kebijakan politik Inggris terhadap jajahan di kawasan Timur. Sikap politik saat ini akan terus “abadi” selama Inggris konsisten menempuh kebijakan politik “yang cenderung loyal”
179 Barbara Tuchmann, Taurat dan Pedang…,174
terhadap kesultanan Ottoman. Setiap kekalahan perang yang diderita oleh kesultanan Ottoman termasuk kekalahan di hadapan militer kaisar Rusia yang dikenal anti semit itu membangkitkan
“angan-angan” kaum Zionis non Yahudi. Tetapi harapan positif kaum Zionis ini segera membeku dan sama sekali tidak bergerak sebab dihadang oleh beberapa konfrensi perdamaian yang terjadi setelah kekalahan kesultanan Ottoman.
Kondisi ini biasanya membuat kesultanan Ottoman masih tetap “bisa mengendalikan keadaan” terhadap wilayah jajahan di kawasan Asia. Pada 1878 M misalnya, setelah Rusia mampu mengalahkan kesultanan Ottoman perjanjian Sant Stefano tidak mampu menyelesaikan krisis politik. Untuk itu pada bulan Juni 1878 M dilaksanakan konferensi Negara-negara Eropa yang bertujuan mencari solusi penyelesaian politik yang terjadi di kawasan Timur. Walaupun demikian, mengingat kebijakian tradisional politik Inggris sama sekali tidak menyentuh “wilayah”
otoritas kesultanan Ottoman di Asia, juga tidak membuat rezim yang sedang berkuasa di Palestina itu berubah.
Kekalahan demi kekalahan yang secara politik dirasa menimpa kaum Zionis non Yahudi tidak membuat mereka putus asa. Sebab taktik dan strategi perjuangan yang mereka tempuh harus terus berjalan secara dinamis dan bertahap menuju berdirinya Negara Yahudi di Palestina. Perjuangan seperti ini bisa dilakukan tidak secara langsung mendirikan Negara Yahudi. Tetapi harus dimulai dengan tahapan tidak langsung, seperti melalui “penjajahan” kaum Yahudi di bawah pantauan kesultanan Ottoman dan perlindungan Inggris. Atau melalui upaya memperkuat pengaruh Inggris di Timur Dekat (baca:
Wilayah Yerusalem, Syiria dan Yordania) yang akan membuat Palestina itu berada dalam lingkaran kepentingan wilayah jajahan Inggris. Olievan dan para kolega politiknya bisa membuat Inggris bertambah pengaruhnya yang berimplikasi meningkatnya peran diplomasi Dazraeally untuk menjadikan Palestina sebagai Negara Yahudi, sebagai kompensasi kekecewaan yang diderita kaum