BAB IV PENYAJIAN DATA DAN ANALISIS DATA
C. Pembahasan Temuan
Berdasarkan data yang peroleh, maka dalam pembahasan temuan ini akan diungkapkan tentang Interaksi Edukatif Siswi Bercadar di MTs Al-Ishlah Jenggawah–Jember Tahun Pelajaran 2017/2018.
1. Interaksi Edukatif Guru dengan Siswi Bercadar di MTs Al-Ishlah Jenggawah Jember Tahun Pelajaran 2017/2018
Berdasarkan data yang diperoleh dari hasil wawancara, observasi dan dokumentasi bahwa interaksi edukatif guru dengan murid dalam belajar mengajar secara umum yaitu guru menerangkan materi yang sudah ada, kemudian ketika materi selesai diterangkan dilanjutkan dengan tanya jawab.
Ketika peserta didik paham dengan materi yang dijelaskan maka didalam belajar mengajar nantinya pasti akan bertanya. Didalam belajar mengajar terkadang guru tidak hanya menerangkan saja tetapi terdapat sebuah diskusi yang mana peserta didik dibentuk menjadi sebuah kelompok kemudian nantinya hasil diskusi kelompok tersebut dipresentasikan didepan kelas. Selain itu terkadang guru juga memberikan tugas kepada peserta didik untuk merangkum materi pelajaran sehingga peserta didik menjadi paham.
Ketika guru melakukan kewajibannya untuk mengajar, interaksi edukatif yang dilakukan guru tidak jauh berbeda dengan interaksi edukatif yang dilakukan guru-guru disekolah pada umumnya hanya saja tingkah laku guru tersebut sedikit terbatasi karena guru juga menjaga sikap kepada siswinya yang menggunakan cadar, siswi yang menggunakan cadar ketika gurunya laki-
laki tidak mau menatap kepada wajah si guru, hanya memperhatikan saja tapi dengan menundukkan pandangan.
Berikut ini gambaran interaksi guru dan siswa dalam proses pembelajaran yang mencerminkan aktivitas kegiatan belajar mengajar :
a. Pengaturan Kelas
Pengaturan kelas merupakan hal yang penting yang harus dilakukan oleh seorang guru dengan tujuan agar suasana kelas kondusif dan peserta didik siap untuk menerima pelajaran dengan tujuan untuk materi yang disampaikan bisa dipahami dan dimengerti oleh siswa dan tujuan pendidikan pun dapat tercapai.89
Guru dan peserta didik adalah dua sosok manusia yang tidak dapat dipisahkan dari dunia pendidikan. Menjadi guru berdasarkan tuntutan pekerjaan adalah suatu perbuatan yang mudah, tetapi guru berdasarkan panggilan jiwa atau tuntunan hati nurani adalah tidak mudah, karena kepadanya lebih banyak dituntut suatu pengabdian kepada peserta didik daripada karena tuntunan pekerjaan dan materiall oriented.90
Kegiatan belajar mengajar didalamnya terdapat dua hal yang ikut menentukan keberhasilan yakni pengaturan proses belajar mengajar dan pengajaran itu sendiri dan keduanya mempunyai saling ketergantungan satu sama lain. Kemampuan mengatur proses belajar mengajar yang baik, akan menciptakan situasi yang memungkinkan anak belajar, sehingga merupakan
89J.J.Hasibuan, Proses Belajar Mengajar (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2012), 41.
90Djamarah Dan Zain. Strategi Belajar .12
titik awal keberhasilan pengajaran.91 Di MTs Al-Ishlah didalam hal pengelolaan kelas Sebelum pelajaran dimulai seorang guru mengatur kelas dengan menyapa kabar peserta didik dan mempersilahkan peserta didik untuk membaca do’a sebelum belajar dengan harapan siswi dengan mudah mendapatkan ilmu yang diajarkan dan proses pembelajaran berjalan dengan lancar.
b. Menjelaskan Materi Pelajaran
Dalam hal menjelaskan materi pelajaran terdapat pola komunikasi satu arah dimana Interaksi satu arah menunjukkan komunikasi sebagai suatu proses aksi reaksi yang sangat sederhana. Pola ini mengasumsikan bahwa kata-kata (lisan-tulisan), isyarat-isyarat non verbal, gambar-gambar dan tindakan tertentu akan merangsang orang lain untuk memberikan respons dengan cara tertentu.92
Sebelum menjelaskan materi pelajaran terlebih dahulu seorang guru harus mempersiapkan diri dengan mempelajari materi pelajaran yang akan diajarkan kepada peserta didiknya dengan tujuan agar tidak terjadi kesalahan dalam meyampaikan materi atau menjelaskan materi pelajaran. Guru yang siap dalam mengajar tentunya ia telah mempersiapkan materi yang akan dia ajarkan. Hal ini penting mengingat guru merupakan salah satu sumber informasi dalam kegiatan belajar mengajar di sekolah. Guru yang telah mempersiapkan materinya dengan baik akan lebih mudah menjelaskan kepada siswa dengan detail. Dengan begitu ia tidak akan kebingungan saat ditanya
91Ibid.,13
92Syaiful Bahri Djamarah. Guru Dan Anak Didik Dalam Interaksi Edukatif (Jakarta :PT. Rineka Cipta 2010), 38
oleh siswa yang kurang mengerti atau kurang jelas terhadap materi pelajaran tersebut. Dengan persiapan seperti ini guru bersama-sama dengan siswa akan saling belajar dan bertukar pendapat demi kelancaran aktivitas belajar.
Pemberian penjelasan mengenai materi pelajaran tidak hanya cukup melalui buku ajar saja, tetapi juga berbagai media atau peralatan yang digunakan berkaitan dengan materi pelajaran.Guru tidak hanya menggunakan buku paket saja dalam menjelaskan materi pelajaran tetapi juga menggunakan media yang lain yaitu menggunakan lcd/ proyektor. Hal tersebut dilakukan oleh bapak Syamsuddin S.Pd pada saat mengajar beliau menggunakan LCD/Proyektor hal tersebut dapat terlihat dalam gambar dibawah ini :
Gambar.4.1 Penggunaan Lcd/Proyektor Dalam Pembelajaran (Dokumentasi, Ana Alfiyah, 15 Agustus 2018 )
Gambar diatas memperlihatkan bahwasannya dalam proses pembelajaran juga perlu menggunakan media yang lain dengan tujuan agar
peserta didik dapat lebih mudah memahami materi yang diajarkan.
menggunakan media atau peralatan apapun, jika guru sudah siap dia akan mudah dan lancar dalam menjelaskannya kepada peserta didik dan siswa pun tentunya akan semakin terbantu dengan media yang digunakan nantinya.
c. Mengajukan Pertanyaan Pada Siswa
Tanya jawab merupakan suatu kegiatan dalam bentuk pertanyaan yang harus dijawab. Pertanyaan adalah pembangkit motivasi yang dapat merangsang peserta didik untuk berfikir. Melalui pertanyaan, peserta didik didorong untuk mencari dan menemukan jawaban yang tepat dan memuaskan.93
Interaksi guru dengan siswa tidak hanya dengan menerangkan materi saja akan tetapi juga dilanjutkan dengan tanya jawab. hal tersebut terbukti pada saat pengamatan yaitu ketika di tengah-tengah guru menerangkan, guru bertanya kepada para siswi tentang materi yang sudah diajarkan dan menunjuk kepada salah satu siswa untuk menjawab pertanyaan tersebut. Dengan mengajukan pertanyaan kepada siswa, hal tersebut merupakan salah satu bentuk interaksi terhadap siswa, dengan kegiatan tersebut diharapkan siswa akan lebih aktif sehingga proses pembelajaran tidak terhambat. Dalam tanya jawab memungkinkan terjadinya komunikasi atau interaksi secara langsung, sebab pada saat yang sama terjadi dialog antara peserta didik dengan peserta didik yang lain. Dalam komunikasi ini terlihat adanya hubungan timbal balik
93Syaiful Sagala.Konsep Dan Makna Pembelajaran :Untuk Membantu Memecahkan Problematika Belajar Dan Mengajar(Bandung :Alfabet 2010),208
antara peserta didik yang satu dengan peserta didik yang lain.Hal tersebut dapat dilihat pada gambar dibawah ini :
Gambar.4.2 Proses Tanya Jawab Guru Dengan Siswi Bercadar ( Dokumentasi. Ana Alfiyah, 21Agustus 2018 )
Gambar diatas terlihat bahwasannya guru mengajukan pertanyaan kepada siswi bercadar dan didalam kegiatan tersebut terdapat sebuah interaksi timbal balik antara guru dan peserta didik. sebab pada saat yang sama terjadi dialog antara guru dengan peserta didik .
d. Pemberian Tugas Diskusi Pada Siswa
Diskusi merupakan salah satu cara belajar mengajar dimana terjadi proses interaksi antara dua atau lebih individu yang terlibat saling tukar menukar pengalaman, informasi, memecahkan masalah melalui berbagai alternatif untuk mencari kebenaran. Diskusi adalah proses pembelajaran melalui interaksi dalam kelompok. Setiap angggota kelompok saling bertukar ide tentang suatu isu dengan tujuan untuk memecahkan suatu masalah,
menjawab suatu pertanyaan, menambah pengetahuan atau membuat suatu keputusan.94 Diskusi didalamnya terdapat suatu pokok atau materi yang dibicarakan. Pada hakikatnya percakapan dan diskusi memiliki perbedaan.
Percakapan merupakan situasi lebih santai dan terkadang didalamnya diselingi dengan humor sedangkan dalam diskusi semua anggota turut berfikir dan diperlukan disiplin yang ketat.95
Diskusi dilakukan setelah guru mengajukan pertanyaan kepada siswa dengan tujuan agar siswa lebih memahami terhadap materi yang sudah diajarkan, diskusi dilakukan dengan cara guru membagi tempat duduk di setiap kelompok untuk dilakukan pengelompokan bimbingan pembelajaran, diskusi ini dilakukan oleh setiap guru agar dalam proses pembelajaran siswa lebih memahami terhadap materi yang sudah diajarkan dan antar siswa yang satu dengan yang lainnya saling tukar pendapat.
Peserta didik perlu juga dibagi kedalam beberapa kelompok belajar dikarenakan dalam kegiatan interaksi pembelajaran tidak selamnaya peserta didik belajar sendiri-sendiri. Pola pengelompokan sebaiknya mempertimbangkan perbedaan individual peserta didik, pertimbangan itu bisa atas dasar perbedaan biologis, intelektual maupun psikologis.
Pola pengelompokan peserta didik bervariasi. pengelompokan bisa menurut kesenangan berkawan, menurut kemampuan peserta didik atau bisa juga menurut minat peserta didik. Pola ini misalnya pembentukan kelompok
94Sukarno. Metodologi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam (Surabaya : Elkaf. 2012 ), 170- 171
95Syaiful Sagala.Konsep Dan Makna Pembelajaran :Untuk Membantu Memecahkan Problematika Belajar Dan Mengajar(Bandung :Alfabet 2010),208
diserahkan kepada peserta didik diatur oleh guru sendiri, atau diatur oleh guru atas usul peserta didik.96
Pembentukan kelompok didalam belajar bertujuan untuk mengaktifkan peserta didik dan didalam kelompok belajar tersebut juga terdapat interaksi edukatif antara peserta didik dengan peserta didik yang lain.
Interaksi edukatif yang dilakukan dapat berupa interaksi individu dengan individu,interaksi individu kelompok atau interaksi kelompok dengan kelompok. Hal tersebut dapat dilihat pada gambar dibawah ini :
Gambar 4.3. proses pembentukan kelompok pada diskusi Dokumentasi Ana Alfiyah 22 Agustus 2018
Gambar diatas terlihat bahwasannya siswi yang bercadar sedang membentuk kelompok dalam diskusi dimana pembentukan kelompok tersebut ditentukan oleh guru. karena jika peserta didik memilih sendiri maka memilih
96Syaiful Bahri Djamarah. Guru Dan Anak Didik Dalam Interaksi Edukatif (Jakarta :PT. Rineka Cipta 2010), 73
temannya yang pintar saja. tujuan pembentukan kelompok untuk membangun jiwa sosial masing-masing peserta didik, karena nantinya peserta didik akan terjun kedalam masyarakat sehingga sejak dini sudah mulai dilatih jiwa sosial dan kekompakannya.
Kegiatan diskusi dilakukan agar guru mengetahui kemampuan anak didiknya dalam mengerjakan tugas, setelah guru memberikan beberapa materi pelajaran yang telah diajarkan oleh guru mata pelajaran. Setelah kegiatan diskusi hasil diskusi pun diperiksa oleh guru, memeriksa hasil diskusi siswa merupakan kegiatan yang biasa dilakukan guru setelah melakukan proses pembelajaran dan setelah siswa selesai mengerjakan tugas diskusi, hal yang dilakukan oleh guru untuk memeriksa hasil diskusi siswa dengan cara hasil diskusi yang dilakukan oleh siswa dipresentasikan didepan kelas oleh perwakilan kelompok.
Ketika diskusi siswi yang bercadar juga memegang teguh akhlak dalam berbicara yaitu menggunakan kata-kata yang sopan jika bertanya kepada guru seperti “ afwan ustadz, dan siswi yang bercadar disini berbeda dengan siswi pada umumnya dalam artian mengenai akhlaknya, salah satunya yaitu ketika diskusi siswi sangat memegang teguh akhlak atau etika dalam bertanya selain itu juga ketika proses diskusi pun para siswi yang bercadar juga tetap memegang etika atau akhlak dalam berinteraksi salah satunya tetap menjaga sikapnya agar tetap sopan dan santun atau dalam artian tidak berperilaku yang negatif dalam diskusi.
2. Interaksi Edukatif Siswi Bercadar dengan Lawan Jenis di MTs Al-Ishlah Jenggawah Jember Tahun Pelajaran 2017/2018
Berdasarkan data yang diperoleh dari hasil wawancara, observasi dan dokumentasi bahwa di MTs Al-Ishlah ini pengasuh memberikan didikan agama yang kuat salah satunya yaitu membatasi interaksi antara siswi perempuan dengan lawan jenis yang bukan mahromnya, antara siswa laki-laki dan siswi perempuan harus dipisah dengan tujuan untuk mengurangi hal-hal negatif yang dilarang oleh syari’at islam. Dan hal tersebut juga sudah menjadi ketetapan ketua yayasan bahwa antara murid laki-laki dan perempuan dipisah gedungnya selain itu juga ketika gedungnya atau kelasnya dipisah akan menjadi lebih efektif misalkan saja ketika mata pelajaran fiqih membahas tentang kewanitaan yang wanita tidak merasa malu dan lebih leluasa pembahasannya. Didalam islam juga mengatur adab pergaulan antara laki-laki dengan perempuan cara bergaul antara laki-laki dengan perempuan atau bergaul dengan lawan jenis sebagaimana yang telah diatur dalam Islam tersebut, yaitu: Dilarang untuk berkholwat (berdua-duaan), Menundukkan pandangan terhadap lawan jenis, Jaga aurat terhadap lawan jenis, Tidak boleh ikhtilat (campur baur antara wanita dan pria), Dilarang mendekati zina dan harus menjaga kemaluan.97
97Mustofa Muhammad Asy Syak'ah, Dr. Islam tidak bermazhab, (Gema Insani Press, Jakarta : 1994 ), 56
Interaksi antara siswi bercadar dengan lawan jenis hampir tidak ada karena sehari-harinya siswi yang bercadar dengan lawan jenis tidak bertemu dalam satu lingkungan pendidikan dikarenakan gedung atau kelas dipisah, meskipun demikian pada saat tertentu antara siswi yang bercadar dengan lawan jenis ada sebuah interaksi yaitu ketika dalam acara memperingati hari besar Islam. Hal tersebut dapat terlihat pada gambar dibawah ini :
Gambar 4.3 Siswa Dan Siswi Bercadar Berkumpul Menjadi Satu Tapi Tetap Dikasih Batas Atau Tirai Penghalang
(Dokumentasi. Ana Alfiyah. 22 Agustus 2018)
Gambar diatas terlihat bahwasannya antara siswa laki-laki dan siswi bercadar jarang sekali ada interaksi atau komunikasi dikarenakan memegang teguh apa yang sudah menjadi aturan dari atasan yaitu siswi yang bercadar tetap menggunakan cadar dan diberi tirai atau penghalang dan interaksi mereka pun juga terbatas tidak begitu leluasa karena siswi yang bercadar memegang teguh syariat yang telah diajarkan kepadanya bahwasannya harus jaga jarak ketika berinteraksi kepada yang bukan mahromnya.
Selain acara memperingati hari besar islam antara siswa laki-laki dan siswi bercadar setiap hari Sabtu juga bertemu dan berkumpul dalam satu majelis atau tempat dalam rangka mendengarkan wejangan atau nasihat dari pengasuh. Hal tersebut terlihat pada gambar dibawah ini :
Gambar.4.4 Acara Hari Sabtu Dalam Rangka Mendengarkan Wejangan Atau Nasihat Dari Kyai
Dokumentasi Ana Alfiyah , 18 Agustus 2018
Pada gambar diatas terlihat bahwasannya mereka pada suatu waktu berkumpul dalam satu tempat namun interaksi mereka terbatas dan disitupun siswi tetap diwajibkan untuk menggunakan cadar.
Didalam agama islam pun islam juga melarang campur baurnya seorang wanita dengan laki-laki di satu tempat tanpa ada hijab. Di mana ketika tidak ada hijab atau kain pembatas masing-masing wanita atau lelaki tersebut bisa melihat lawan jenis dengan sangat mudah dan sesuka hatinya.98
98Ibid.,63
Di MTs Al-Ishlah ini antara siswi perempuan dengan siswa laki-laki hampir tidak ada komunikasi atau interaksi dikarenakan siswi yang bercadar dilarang untuk berkomunikasi dengan lawan jenis, karena larangan tersebut kelasnya dipisah atau tidak dicampur dan ketika bel pulang berbunyi siswi yang bercadar pun juga tidak bertemu dengan lawan jenis karena ketika bel pulang siswi yang bercadar disuruh pulang duluan lalu setelah siswi bercadar masuk ke pondok pesantren lalu siswa laki-laki yang pulang ke pondoknya dan MTs Al-Ishlah memberikan peraturan apabila ada siswi laki-laki dan perempuan bertemu atau kedapatan saling ngobrol maka akan dikenakan hukuman atau takzir yang mana takzir tersebut langsung diserahkan pengasuh.
Hukuman (punishment) adalah sebuah cara untuk mengarahkan sebuah tingkah laku agar sesuai dengan tingkah laku yang berlaku secara umum. Dalam hal ini, hukuman diberikan ketika sebuah tingkah laku yang tidak diharapkan ditampilkan oleh orang yang bersangkutan atau orang yang bersangkutan tidak memberikan respon atau tidak menampilkan sebuah tingkah laku yang diharapkan.99
99Alisuf Sabri, Psikologi Pendidikan, (Jakarta, : Pedoman Ilmu Jaya, 1995), 86
A. Kesimpulan
Dari hasil pembahasan tentang Interaksi Edukatif Siswi Bercadar di MTs Al-Ishlah Jenggawah-Jember tahun pelajaran 2017/2018 dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Interaksi Edukatif Guru dengan Siswi Bercadar atau siswi bercadar dengan guru, disini interaksi edukatif yang dilakukan antara guru dengan siswa yaitu pengaturan kelas atau mengkondisikan kelas agar kondusif, menjelaskan materi pelajaran dengan ceramah atau cerita, dilakukannya tanya jawab, setelah itu diadakan diskusi lalu dipresentasikan hasil diskusinya. Dan siswi yang bercadar menjaga etika atau tata cara berinteraksi dengan guru karena siswi yang bercadar menggunakan cadar sehingga mereka menjalankan syariat Islam tentang tata cara berinteraksi dengan seorang guru sehingga dalam hal ini mereka sangat menjaga sikap mereka dihadapan seorang guru
2. Interaksi Edukatif Siswi Bercadar dengan Lawan Jenis, disini antara bapak guru dan siswa laki-laki dengan siswi bercadar jarang sekali ada interaksi atau komunikasi dikarenakan memegang teguh apa yang sudah menjadi aturan dari pengasuh yaitu siswi yang bercadar kelasnya harus dipisah dengan siswa laki-laki meskipun begitu ada suatu waktu dimana mereka bertemu yaitu ketika hari Sabtu pada saat mendapat wejangan dari pengasuh dan juga ketika memperingati peringatan hari besar Islam namun meskipun
bertemu dalam satu tempat, siswi yang bercadar tetap menggunakan cadar dan diberi tirai atau penghalang dan interaksi mereka pun juga terbatas tidak begitu leluasa karena siswi yang bercadar memegang teguh syariat yang telah diajarkan kepadanya bahwasannya harus jaga jarak ketika berinteraksi kepada yang bukan mahromnya.
B. Saran-Saran
Setelah menyimak kesimpulan dari hasil penelitian ini, ada beberapa saran yang perlu diperhatikan, antara lain:
1. Kepala MTs Al-Ishlah Jenggawah
a. Memberikan fasilitas untuk menunjang keberhasilan pembelajaran di MTs Al-Ishlah Jenggawah karena input yang baik akan menghasilkan output yang maksimal apabila diberikan sarana yang baik.
b. Mengontrol pelaksanaan pembelajaran agar mengikuti perkembangan keilmuan.
2. Guru
a. Bisa memahami dan mengerti karakter dari setiap siswa agar dalam berinteraksi bisa lebih baik
b. Bersabarlah dalam mendidik, membimbing dan mengarahkan kepada siswa-siswi karena dengan kesabaran kaan menghantarkan untuk menjadi guru yang baik dan dihargai
c. Tetap semangat dan pantang menyerah ketika menghadapi masalah- masalah kepada anak didiknya.
3. Kepada siswa
a. Hormatilah bapak ibu guru kalian karena dengan menghormati bapak ibu guru akan mendapatkan cita-cita yang diinginkan
b. Belajar yang sungguh-sungguh dan semangat maka dengan kesungguhan kalian akan menjadikan kalian berhasil dalam belajar serta menjadi orang yang sukses.
4. Kepada Masyarakat
a. Ikut berpartisipasi dalam pendidikan karena masyarakat adalah mitra sekolah yang memiliki andil dalam mencapai tujuan pendidikan.
b. Mendukung dan berperan aktif segala kegiatan yang berkaitan dengan pendidikan.
Rajawali Pers.
Arikunto, Suharsimi. 2010. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktis.
Jakarta : Rineka Cipta.
Anwar, Ali .2011. Pembaharuan Pendidikan Dipondok Pesantren Lirboyo Kediri.
Yogyakarta: Pustaka Belajar.
Alkaf H.F, Sakinah. 2013. Implementasi Interaksi Edukatif Dalam Belajar Mengajar Mata Pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam Di Madrasah Tsanawiyah Negeri Jember 1 Tahun Pelajaran 2012/2013. Jember : STAIN Press
Abdullah. M Yatimin .2007. Studi Akhlak dalam Perspektif Al-Quran. Jakarta:
Amzah.
Alim. Muhammad.2006. Pendidikan Agama Islam. Bandung : PT Remaja Rosdakarya.
As’ad. Aliy. 1978. Terjemahan Ta’limul Muta’allim. Kudus : Menara Kudus.
Alwi, Hasan .2002.Kamus Besar Bahasa Indonesia (Kamus Pusat Bahasa), Jakarta : Balai Pustaka.
Atmodiwiro, Soebagio. 2000. Manajemen Pendidikan Indonesia. Jakarta : Ardadizya Jaya
Bustam .2004 .Wajah Baru Indonesia. Jakarta : UI Press.
Bahtiar, Deni Sutan. 2009. Berjilbab & Trend Buku Aurat .Yogyakarta : Mitra Pustaka.
Departemen Pendidikan Nasional. 2007. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta : Balai Pustaka.
Departemen Agama RI. 2007.Al-Quran Dan Terjemah. Bandung : Syamil Qur’an.
Depag RI. 2001. Pola Pembelajaran Dipesantren. Semarang : Toha Putra.
Djamarah,Syaiful Bahri. 2010. Guru Dan Anak Didik Dalam Interaksi Edukatif.
Jakarta: PT. Rineka Cipta.
Irawati, Ika.2011. Interaksi Edukatif Ma’had Aly Hasyim Asy’ari Dipesantren Tebuireng-Jombang. Jember : STAIN Press.
J.J.Hasibuan, 2012. Proses Belajar Mengajar Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Mulyana, Dedy. 2005. Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar .Bandung : Remaja Rosdakarya.
Moleong, Lexy J .2014. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya.
Margono S. 2014. Metode Penelitian Pendidikan .Jakarta : PT. Rineka Cipta.
Muhammad Asy Syak'ah, Mustofa .1994. Islam tidak bermazhab, Jakarta : Gema Insani Press.
Muhaimin. 2006. Nuansa Baru Pendidikan Islam. Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada
Nata. Abuddin. Akhlak Tasawuf. Jakarta: Rajawali Pers.
Nata, Abuddin.2007. Manajemen Pendidikan. Jakarta : Kencana Prenada Media.
Nawawi, Hadari. 1985. Administrasi Pendidikan. Jakarta : PT. Gunung Agung Rahmat, Jalaludin. 2008. Psikologi Komunikasi .Bandung : Remaja Rosdakarya.
Rofiq Dkk .2005 .Pemberdayaan Pesantren. Yogyakarya : Lkis.
Rohani, Ahmad .2009 .Pengelolaan Pengajaran .Jakarta : PT. Rineka Cipta.
Rosyad, Aminuddin .2003. Teori Belajar Dan Pembelajaran Jakarta : Uhamka Press.
Sabri, Alisuf .1995. Psikologi Pendidikan. Jakarta : Pedoman Ilmu Jaya.
Sardiman.2014. Interaksi Dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada.
Sukarn. 2013. Metodologi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam.Surabaya : Elkaf.
Sugiyono. 2014. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif R&D.Bandung : Alfabeta.
Syah, Muhibbin. 2012. Psikologi Belajar. Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada.
Sumiati Dan Asra .2009. Metode Pembelajaran .Bandung : Wacana Prima.
Sagala, Syaiful. 2010. Konsep Dan Makna Pembelajaran Untuk Membantu Memecahkan Problematika Belajar Dan Mengajar.Bandung : Alfabeta.
Syaikh Al-Allamah Muhammad Bin Abdurrahman Ad-Dimasyqi. 2004. Fiqih Empat Mazhab. Semarang : Pustaka Al-Kautsar.
Syuqqoh, Abdul Halim Abu. 1997. Kebebasan Wanita. Jakarta : Gema Insani Press.
Tim Revisi IAIN Jember.2015.Pedoman Penulisan Karya Ilmiah.Jember: IAIN Jember Press.
Tohirin. 2011. Psikologi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam (Berbasis Integrasi Dan Kompetensi ) Jakarta : Rajawali Pers.
Undang-Undang RI No 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Penididkan Nasional 2003. Jogyakarta : Media Wacana Press.
Zayadi. 2005. Tadzkirah Pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI). Jakarta : Raja Grafindo Persada.
Zusnani, Ida .2013. Pendidikan Kepribadian Siswa SD-SMP . Jakarta : Platinum.
Zuhri, Saifudin.2011.Guruku Dari Orang-Orang Pesantren.Yogyakarta : PT. Lkis Pelangi Aksara.
Zakiyah, Ani. 2010. Reformulasi Pola Interaksi Edukatif Antara Guru Dan Murid Dalam Kitab Ta’limul Muta’allim (Telaah Kritis Melalui Pendekatan Contextual Teaching And Learning). Jember. STAIN Press.