• Tidak ada hasil yang ditemukan

Gambaran Singkat Perusahaan

Dalam dokumen skripsi - Universitas Muhammadiyah Makassar (Halaman 36-52)

BAB IV GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN

A. Gambaran Singkat Perusahaan

Departemen yang diserahi tugas untuk menangani masalah ketenagakerjaan berulang kali mengalami perubahan, baik berupa pembentukan baru, penyesuaian maupun penggabungan. Perubahan organisasi tersebut disebabkan oleh berkembangnya beban kerja yang harus ditangani.

Dalam periode perang kemerdekaan yang masa cabinet Presidentil, masalah perubahan berada dibawah dan ditangani oleh kementrian social.

Keadaan ini berlanjut sampai pada masa cabinet yang berulang kali, serta lahirnya partai-partai politik yang mewarnai gerakan kaum buruh menjadikan penanganan masalah perburuhan semakin pelik, apalagi disertai oleh memburuknya keadan ekonomi dan dalam keadaan perang.

Maklumat Presiden nomor 7 tahun 1947 yang diumumkan pada tanggal 03 juli 1947 tentang susunan kabinet Syarifuddin, telah dilantik oleh Menteri Perburuhan belum dapat melakukan tugas pokok dan fungsinya, sebab ada ketetapan mengenai apa yang menjadi tugas pokoknya.

Dengan dikeluarkannya penetapan Pemerintah Nomor 3 Tahun 1947 tanggal 25 juli 1947, eksistensi tugas pokok Kementrian social, termasuk didalamnya pelimpahan organisasi jawatan Perburuhan personil dan mata anggarannya. Oleh karena itu tanggal 25 juli berdasarkan Keputusan Menteri

25

Tenaga Kerja Nomor KEP-28/MEN/1992 ditetapkan sebagai “Hari Jadi”

Departemen Tenaga Kerja.

Setelah kabinet Syafaruddin jatuh dan digantikan oleh kabinet Hatta, tugas pokok kementrian perburuhan mencakup pula urusan-urusan social sehinggah nama kementrian perburuhan berubah menjadi kementrian perburuhan dan Sosial. Pada masa cabinet Hatta terjadi peristiwa Class II yang diikuti dengan terbentuknya Kabinet Darurat, dimana kementrian perburuhan dan urusan social diperluas tugas dan fungsinya menjadi Kementrian Perburuhan, Sosial, Pembangunan, Pemuda dan Keamanan. Periode perang kemerdekaan tercatat 8 orang mentri yang pernah memimpin Kementrian Perburuhan untuk II kali masa kabinet, diantara 4 mentri adalah Sosial dalam 4 kali masa kabinet (keadaan sebelum dibentuk Mentri Perburuhan).

Periode demokrasi liberal, Pemerintah Republik Indonesia Serikat (RIS).

Organisasi kementrian perburuhan tidak lagi mencakup urusan social. Pada masa RIS Negara Kesatuan Republik Indonesia di Yogyakarta merupakan Negara bagian dari RIS sehinggah pada masa itu ada Menteri Perburuhan RIS dan ada Menteri Perburuhan di Yogyakarta merupakan Negara bagian dari RIS. Setelah RIS bubar struktur organisasi kementerian perburuhan tampak lebih lengkap karena mencakup struktur organisasi tingkat pusat sampai tingkat daerah dan resort dengan uraian tugas yang jelas. Ditingkat pusat organisasi Kemerdekaan Perburuhan terdiri dari dua Direktorat Tenaga Kerja (PMP 79 1954). Dalam priode Demokrasi Liberal tercatat 8 Menteri Perburuhan dalam jangka 10 kali kabinet, termasuk Menteri Perburuhan RIS.

Periode Demokrasi Terpimpin dengan dikeluarkannya Dekrit Presiden 5 Juli 1959 telah membuat babak baru dalam tata kehidupan kenegeraan pada awal demokrasi terpimpin. Kementerian Perburuhan berada dalam naungan Menteri Inti Bidang Produksi dan dipimpin oleh 4 orang menteri yang kemudiaan ditambah menjadi 5 pembantu Menteri.

Dalam periode ini kehidupan kenegeraan diwarnai oleh kehidupan partai yang berpusat pada pola Nasakom yang memberikan angina kepada PKI untuk bergerak dan berupaya untuk mendominasi segala posisi dalam organisasi pemerintah yang ada. Sebagai salah satu dampak adalah kuatnya pengaruh PKI dalam penyelenggaraan tugas dan fungsi Menteri Perburuhan.

Pada akhir Demokrasi terpimpin terjadi pembubaran PKI dan seluruh organisasi berafiliasi dengannya, sebagai tindak lanjut penerbitan dan pengamanan akibat pemberontakan G/30/S/PKI. Dan mulai babak baru yang ditandai dengan adanya upaya-upaya untuk menyelenggarakan tat kehidupan kenegaraan yang bersifat konstitusional, yang merupakan pelaksanaan Pancasila dan UUD 1945 secara murni dan konsekuen untuk Jabatan Menteri Perburuhan terjadi 2 kali saja.

Periode orde baru merupakan transisi, seluruh organisasi pemerintah dilakukan penelitian dan pembersihan. Sejalan dengan itu terjadi perubahan nama organisasi Kementeriaan Perburuhan menjadi Departemen Tenaga kerja.

Struktur organisasi Departemen Tenaga Kerja berdasarkan keputusan Presidium Kabinet Ampera Nomor 75/U/Kep/II/1996, mengalami penyempurnaan termasuk Departemen Tenaga Kerja yang diatur dengan

keputusan Presiden pada masa transisi yaitu masa penrbitan dan pembersihan aparatur pemerintah dari yang terlibat G/30/S/PKI tercatat 3 kali pergantian kabinet.

Berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 44 Tahun 1972 organisasi Departemen Tenaga Kerja yang diatur dengan Keputusan Menteri Nakertranskop Nomor KEP-1000/MEN/1975. dalam perkembangannya organisasi Departemen Nakertranskop mengalami perubahan dengan dipindahkannya urusan Koperasi ke Departemen perdagangan, kemudian disempurnakan kembali setelah masalah urusan transmigrasi dilimpahkan ke Departemen Transmigrasi. Penyempurnaan organisasi tersebut bersifat menyeluruh dari yang semula menganut pendekatan “Holding Company Type”. Struktur organisasi yang baru diatur dalam keputusan Menteri Tenaga Kerja Nomor KEP-199/MEN/1984 yang mengacu pada Keppres Nomor 15 Tahun 1984 struktur organisasi ini kemudian disempurnakan lagi khususnya yang menyangkut Tenaga Kerja Nomor KEP-525/MEN/1988 yang mengacu pada Keppres tahun 1997, pada masa Kabinet Pembangun VI struktur organisasi diatur dalam Keputusan Menteri Tenaga Kerja nomor KEP- 28/MEN/1994, mengacu pada Keppres nomor 108 Tahun 1993.

3. FUNGSI DAN TUGAS a. Kepala Dinas

Kepala Dinas mempunyai tugas melaksanakan sebagian tugas pokok sesuai kebijaksanan Walikota dan peraturan perundang - undangan yang berlaku, merumuskan kebijaksanaan, mengkoordinasikan, membina dan mengendalikan tugas-tugas dinas.

Dalam melaksanakan tugas Kepala Dinas menyelenggarakan fungsi:

1. Perumusan kebijaksanaanteknis dibidang perencanaan tenaga kerja, perluasan kerja dan penempatan tenaga kerja, pelatihan, produktivitas kerja, hubungan industrial, dan syarat-syarat kerja serta serta pengawasan ketenagakerjaan.

2. Perencanaan dan program dibidang perencanaan tenaga kerja, perluasan kerja dan penempatan tenaga kerja, pelatihan, produktivitas kerja, hubungan industrial, dan syarat-syarat kerja serta serta pengawasan ketenagakerjaan.

3. Pembinaan pemberian perisinan dan pelayanan umum di bidang ketenagakerjaan.

4. Pengendalian dan pengamanan tehnis operasional b. Bagian Tata Usaha

Bagian tata usaha mempunyai tugas melaksanakan pelayanan tugas administratif bagi seluruh satuan kerja di lingkungan Dinas Tenaga Kerja.

Dalam melaksanakan tugas bagian tata usaha menyelenggarakan fungsi:

1. Pengelola Ketatausahaan

2. Pelaksanaan Urusan Kepegawaian 3. Pelaksanaan Urusan Keuangan 4. Pelaksanaan Urusan Perlengkapan

5. Pelaksanaan Urusan Umum Dan Rumah Tangga 6. Pengkoordinasian Perumusan Program Kerja Bagian tata usaha dibantu oleh dua sub bagian yaitu:

a) Sub Bagian Umum dan Kepegawaian

Tugas dari sub bagian umum dan kepegawaian adalah sebagai berikut:

1. Pengagenda dan pengarsip surat 2. Pendistribusi surat (Caraka) 3. Pramu kantor

4. Pengola data kepegawaian

5. Pengolah bahan laporan kepegawaian 6. Operator komputer

b) Sub Bagian Keuangan dan Perlengkapan

Tugas dari sub bagian keuangan dan perlengkapan adalah sebagai berikut:

1. Pemegang kas 2. Kasir penerimaan

3. Kasir pengeluaran/penyimpan uang 4. Pencatat pembukuan

5. Pembuat dokumen

6. Pembantu pemegang kas gaji pegawai 7. Pemegang kas pembantu kegiatan

c. Bidang Penempatan, Perluasan dan Perencanaan Tenaga Kerja

Bidang Penempatan, Perluasan dan Perencanaan Tenaga Kerja mempunyai tugas melaksanakan penyusunan rencana tenaga kerja, penyebarluasan informasi pasar kerja, pelaksanaan penempatan tenaga kerja.

Dalam melaksanakan tugas Penempatan, Perluasan dan Perencanaan Tenaga Kerja menyelenggarakan fungsi:

1. penyiapan bahan perumusan kebijaksanaan teknis penempatan dan pendayagunaan tenaga kerja, bursa kerja, penyuluhan dan bimbingan jabatan.

2. Penyiapan bahan penyusunan rencana dan program pelaksanaan penempatan tenaga kerja.

3. Penyiapan bahan bimbingan dan pengendalian teknis pemberian izin dan pengawasan bidang penempatan dan pendayagunaan.

4. Penyiapan bahan bimbingan dan pengendalian teknis pemberian izin dan pengawasan perpanjangan izin pengguna tenaga kerja Warga Negara Asing Pendatang (TKAWP)

5. Pengelolaan administrasi urusan tertentu.

Adapun seksi yang membantu Bidang Penempatan, Perluasan dan Perencanaan Tenaga Kerja yaitu:

a) Seksi Penempatan dan Perencanaan Tenaga kerja dalam dan luar negeri.

Tugas dari seksi ini dalah sebagai berikut:

1. Pengumpul dan pengola data informasi pasar kerja dan bursa kerja.

2. Penyelenggara perizinan Tenaga Kerja Asing.

3. Penyelenggara perencana program.

4. Pengumpul dan pengola data.

5. Penyelenggara monitoring dan evaluasi 6. Penyelenggara penyusun laporan dan statistik.

b) Seksi Perluasan Kerja

Tugas dari seksi perluasan kerja adalah sebagai berikut:

1. Mempelajari tugas dan petunjuk yang diberikan atasan.

2. Memberi petunjuk pelaksanaan dan petunjuk teknis penyuluhan Teknologi Tepat Guna (TTG).pembinaan usaha mandiri untuk pedoman kerja.

3. Memberikan penyuluhan kepada masyarakat tentang TPK, usaha mandiri sesuai potensi wilayah agar masyarakat mengetahui dan dapat mengembangkan.

4. Membimbing praktek TTG dan usaha mandiri sesuai dengan petunjuk penerapan?pembutan produksi agar masyarakat dapat menerapkan TTG secara benar dan efisien.

5. Memantau pelaksanan penerapan pembinaan TTg dan usaha mandiri di tiap wilayah untuk mengetahui hambatan dan hasil yang telah dicapai.

6. Membuat laporan kegiatan penyuluhan dan hasil pemantauan sebagai bahan kegiatan.

7. Melaporkan hasil pelaksanaan tugas kepada atasan.

8. Melaksanakan tugas kedinasan lain sesuai dengan bidang tugasnya.

d. Bidang Pembinaan Pelatihan dan Produktivitas Kerja

Tugasnya adalah melaksanakan bimbingan para pelaksana lembagaa latihan kerja swasta dan pemerintah dalam rangka pelaksanaan program latihan, memberi pelatihan produktivitas tenaga kerja kepada perusahaan guna efisiensi kerja.

Adapun fungsinya yaitu:

1. penyiapan bahan perumusan kebijaksanaan teknis penyelenggaran pelatihan kerja dan bimbingan lembaga pelatihan kerja.

2. Penyiapan bahan penyusunan rencana dan program pemasaran, fasilitas pelatihan, hasil produksi dan lulusan pelatihan.

3. Penyiapan bahan bimbingan dan pengendalian teknis pemberian izin dan pengawasan lembaga latihan kerja.

4. Penyiapan bahan bimbingan dan pengendalian teknis pemberian layanan informasi pelatihan dan produktivitas tenaga kerja.

5. Pengelolaan administrasi urusan tertentu.

Adapun seksi yang membantu Bidang Pembinaan Pelatihan dan Produktivitas Kerja yaitu:

a) Seksi Pelatihan dan Produktivitas Tenaga Kerja.

Tugas dari seksi pelatihan dan produktivitas tenaga kerja yaitu:

1. Mempelajari tugas dan petunjuk yang diberikan atasan.

2. Mengumpulkan bahan tentang rencana dan program pelatihan dan pemagangan sebagai pedoman.

3. Melakukan inventarisasi lembaga latihan dengan cara mengunjungi lembaga latihan yang ditentukan sebagai bahan pembinaan/bimbingan.

4. Melakukan kerjasama dengan instansi pemerintah/swasta dengan mengunjungi instansi terkait guna konsultasi pelaksanaan pelatihan dan pemagangan.

5. Mengecek permohonan pelaksanaan pelatihan dan pemagangan dari masyarakat.

6. Mencatat data kebutuhan pelatihan.

7. Memantau penyelenggaraan pelatihan dan pemagangan sesuai bahan evaluasi.

8. Melaporkan hasil pelaksanan kepada atasan.

9. Melaksanakan tugas kedinasan lain sesuai dengan bidang tugasnya.

b) Seksi Pembinaan Lembaga Pelatihan

Tugas dari seksi pembinaan lembaga pelatihan yaitu:

1. Mempelajari tugas dan petunjuk yang diberikan atasan.

2. Mempelajari pedoman perizinan latihan swasta untuk mengetahui tata cara dan prosedur perizinan Lembaga Latihan Swasta (LLS).

3. Melayani para tamu dalam rangka konsultasi mengenai pengajuan permohonan izin LLS.

4. Memeriksa setiap permohonan izin pendirian lembaga latihan swasta atas dari panitia izin

5. Mengonsep permohonan izin pendirian lembaga latihanswasta atas hasil peninjauan.

6. Membuat permohonan izin penyelenggara LLS.

7. Membuat laporan kegiatan penyelenggaran izin kepada kepala seksi perizinan pelatihan.

8. Melaporkan hasil pelaksanaan tugas kepada atasan.

9. Melaksanakan tugas kedinasan lain sesuai dengan tugasnya.

e. Bidang H.I dan Syarat-syarat Kerja

Bidang pembinaan Hubungan Industrial dan Syarat-syarat Kerja mempunyai tugas melaksanakan bimbingan penyelesaian perselisihan hubungan industrial dan penyusunan bahan-bahan syarat-syarat kerja.

Dalam melaksanakan tugasnya bidang ini menyelenggarakan fungsi sebagai berikut:

1. penyiapan bahan perumusan kebijaksanaan teknis dan program pembinaan hubungan industrial, pendidikan hubungan industrial, pemberdayaan organisasi pekerja dan pengusaha, pemberdayaanlembaga kerjasama bipartit dan tripartit.

2. Penyiapan bahan bimbingan dan pengendalian teknis penyelenggara dan penyuluhan hubungan industrial, pembuatan peraturan perusahaan, perjanjian kerja sama, perjanjian kerja, pengInsentifan, jaminan sosial tenaga kerja.

3. Penyiapan bahan bimbingan dan pengendalian teknis penanganan penyelesaian perselisihan hubungan industrial secara bipartit dan tingkat pemerataan.

4. Penyiapan bahan bimbingan dan pengendalian teknis pemberdayaan hubungan industrial.

5. Pengelolaan administrasi urusan tertentu.

Adapun seksi yang membantu Bidang Hubungan Industrial dan Syarat-syarat kerja yaitu:

a) Seksi Hubungan Industrial dan Syarat-syarat Kerja.

Tugas dari Seksi Hubungan Industrial dan Syarat-syarat Kerja adalah:

1. Mempelajari tugas dan petunjuk kerja yang diberikan atasan.

2. Menjelaskan pentingnya hubungan industrial dan persyratan kerja diperusahaan meliputi penyedian mekanisme peraturan.

3. Mendata perusahan yang wajib membuat PP, yang habis masa berlakunya dan pembuatan PP baru untuk bahan laporan.

4. Memberi petunjuk kepada perusahaan yang wajib memebuat PP atau dengan pemanggilan.

5. Menyelenggaran perundingan, pembuatan PKB antara pengusaha dan pengurus SPSI danmembuat laporan perkembangannya.

6. Memantau pelaksanaan UMR dan UKM sebagai bahan evaluasi.

7. Melaporkan hasil pelaksanan tugas kepada atasan.

8. Melaksanakan tugas kedinasan lainnya sesuai dengan bidang tugas.

b) Seksi Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial

Tugas dari seksi penyelesaian perselisihan hungan industrial adalah sebagai berikut:

1. Mempelajari tugas dan petunjuk yang diberikan dari atasan

2. Menyusun konsep pelaksanaan penyelesaian perselisihan hubungan industrial yang terjadi diperusahaan-perusahaan

3. Menyusun mekanisme dan prosedur pelaksanan kegiatan perantara PHI, PHK serta meneruskan ke P4D jika tidak terjadi kesepakatan diantara perantara.

4. Mengumpulkan, mengolah dan menganalisis data dan bahan yang berkaitan dengan kasus perselisihan dan PHK yang terjadi diperusahaan.

5. Melaporkan hasil pelaksanaan tugas kepada atasan.

6. Melaksanakan tugas kedinasan lain sesuai dengan bidang tugasnya.

f. Bidang Pengawasan Ketenagakerjaan.

Bidang pengawasan ketenagakerjaan mempunyai tugas melaksanakan bimbingan dan pemantauan pelaksanaan kegiatan ketenagakerjaan meliputi norma kerja, peraturan jamsostek, keselamatan dan kesehatan kerja.

Dalam melaksanakan tugasnya bidang ini menyelenggarakan fungsi sebagai berikut:

1. penyiapan bahan perumusan kebijaksanaan teknis pengawasan norma keselamatan dan kesehatan kerja.

2. Penyiapan bahan bimbingan dan pengendalian teknis program bimbingan pencegahan kecelakaan kerja, kesehatan kerja dan penyakit akibat kerja.

3. Penyiapan bahan bimbingan dan pengedalian teknis penelitian keselamatan kerja dan kesehatan kerja.

4. Penyiapan bahan bimbingan dan pengendalian teknis pemberdayaan pelaksanaankegiatan ahli keselamatan dan kesehatan kerja (Ahli K3) 5. Penyiapan bahan bimbingan dan pengendalian teknis pelaksanaan

penerapan sistem managemenn keselamatan dan kesehatan kerja (SMK3).

6. Pengelolaan administrasi urusan tertentu.

Adapun seksi yang membantu Bidang Pengawasan Ketenagakerjaan yaitu:

a) Seksi Pengawasan Norma Kerja.

Tugas dari seksi pengawasan norma kerja adalah sebagai berikut:

1. Mempelajari tugas dan petunjuk yang diberikan atasan

2. Mencatat wajib lapor ketenagakerjaan yang melaporkan setiap bulannya keseksi pengawasan.

3. Mengarsipkan wajib lapor ketenagakerjaankedalam buku kloper sesuai abjad.

4. Membuat data bulanan, berapa jumlah perusahaan yang melapor ulang setiap bulan dan berapa perusahaan baru.

5. Mencatat dan memberi nomor serta memproses perusahaan yang bermohon mendapatkan pengesahan/pengaturan kerja lembur.

6. Mempersiapkan saat pengesahan dan pengaturan kerja lembur.

7. Mencatat dan memberi nomor/memproses kerja malam wanita

8. Membuat data perusahaan jumlah pengesahan/pengaturan kerja lembur setiap bulan

9. Melaksanakan tugas kedinasan lain sesuai dengan bidang tugasnya.

b) Seksi Pengawasan Keselamatan dan Kesehatan Kerja.

Tugas dari seksi pengawasan keselamatan dan kesehatan kerja yaitu menyelenggarakan administrasi teknis pengawasan yang meliputi pemeriksaan data masuk, menyusun, mencatat dan menyimpan arsip serta membuat statistik hasil kegiatan administrasi teknik pengawasan untuk mengetahui tingkat perkembangan perusahaan/pekerja.

BAB V

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Gambaran Umum Responden

Untuk mendapat gambaran mengenai karyawan yang menjadi responden, dilihat berdasarkan : jenis kelamin, jenis pekerjaan, usia, pendidikan, penghasilan perbulan dan lamanya menjadi karyawan. Setelah melihat hasil penyebaran kuesioner sebanyak 52 responden, maka dapat diketahui gambaran umum karyawan Dinas Tenaga Kerja Kota Makassar sebagai berikut :

Tabel 1

Klasifikasi Responden Berdasarkan Jenis Kelamin

Keterangan Jumlah %

Pria 21 34,38

Wanita 31 65,63

Jumlah 52 100%

Sumber : Data primer yang telah diolah

Berdasarkan tabel 1 di atas, dapat dilihat bahwa sebagian besar karyawan adalah wanita yang merupakan responden terbanyak sebesar 65,63% dan sisanya sebesar 34,38% adalah karyawan pria. Hal ini menunjukkan bahwa karyawan Dinas Tenaga Kerja Kota Makassar rata-rata didominasi oleh wanita.

41

Tabel 2

Klasifikasi Responden Berdasarkan Usia

Keterangan Jumlah %

25 - 30 tahun 8 15,4

31 - 36 tahun 23 44,2

> 37 tahun 21 40,4

Total 52 100

Sumber : Data primer yang telah diolah

Berdasarkan tabel 2 di atas, dapat dilihat bahwa responden yang berusia antara 25-30 tahun berjumlah 8 orang (15,4%), 31-36 tahun sebanyak 23 orang (44,2%), dan usia lebih dari 37 tahun berjumlah 21 orang (40.4%).

Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar karyawan Dinas Tenaga Kerja Kota Makassar antara 31- 36 tahun.

Tabel 3

Klasifikasi Responden Berdasarkan Pendidikan

Keterangan Jumlah %

SMA 3 5,5

D3 20 29,5

S1 39 65

Total 52 100

Sumber : Data primer yang telah diolah

Berdasarkan tabel 3 dapat dilihat bahwa sebagian besar karyawan Dinas Tenaga Kerja Kota Makassar berlatar belakang pendidikan SMA yaitu sebanyak 3 orang (5,5%), pendidikan Diploma 3 sebanyak 20 orang (29,5%) dan Sarjana 39 orang atau 65%.

Tabel 4

Klasifikasi Responden Berdasarkan Lama Bekerja

Keterangan Jumlah %

< 1 tahun 5 9,6

1-5 tahun 19 36,6

> 5 tahun 28 53,8

Total 52 100

Sumber : Data primer yang telah diolah

Berdasarkan tabel 4 dapat dilihat bahwa sebagian besar karyawan Dinas Tenaga Kerja Kota Makassar memiliki masa kerja lebih dari 5 tahun 28 orang (53,8%), masa kerja antara 1-5 tahun yaitu sebanyak 19 orang (36,6%), dan masa kerja kurang dari 1 tahun 5 orang (9,6%).

Tabel 5

Klasifikasi Responden Berdasarkan status

Keterangan Jumlah %

Belum menikah 18 34,6

Menikah 34 65,4

52 100

Sumber : Data primer yang telah diolah

Berdasarkan tabel 5 dapat dilihat bahwa sebagian besar karyawan Dinas Tenaga Kerja Kota Makassar belum menikah yaitu sebanyak 18 orang (34,6%) dan yang sudah menikah 34 orang (65,4%).

Berdasarkan hasil kuesioner yang disebarkan kepada responden, maka dapat diketahui pernyataan responden mengenai motivasi dan kinerja karyawan pada Dinas Tenaga Kerja Kota Makassar. Setiap jawaban dari responden diberi nilai berdasarkan skala likert.

Adapun kriteria penilaian sebagai berikut:

Sangat Setuju (SS) = 5

Setuju (S) = 4

Kurang Setuju (KS) = 3 Tidak Setuju (TS) = 2 Sangat Tidak Setuju (STS) = 1

Selanjutnya dicari rata-rata dari setiap jawaban responden, untuk memudahkan penilaian dari rata-rata tersebut, maka digunakan interval untuk menentukan panjang kelas interval, maka digunakan rumus menurut Sudjana (2001;79)sebagai berikut :

Rentang P = Banyak Kelas Dimana :

P = Panjang kelas interval Rentang = data terbesar – data terkecil Banyak kelas = 5

Berdasarkan rumus, maka panjang kelas interval adalah : P = 5 - 1

5 P = 0.80

Maka interval dari kriteria penilaian rata-rata dapat diinterpretasikan sebagai berikut :

Sangat Buruk/Sangat Rendah = 1,00 - 1,79

Buruk/Rendah = 1,80 - 2,59

Cukup Baik/Cukup Tinggi = 2,60 - 3,39

Baik/Tinggi = 3,40 - 4,19

Sangat Baik/Sangat Tinggi = 4,20 - 5,00

B. Motivasi (X)

Tabel 6

Tanggapan responden mengenai bekerja karena tuntutan kebutuhan ekonomi

Pernyataan Jumlah Persentase (%) Skor

Sangat Setuju 15 28,8 75

Setuju 25 48,1 100

Cukup setuju 12 23,1 36

Tidak setuju 0 0 0

Sangat Tidak Setuju 0 0 0

Jumlah 52 100 211

Sumber : Data primer yang telah diolah 4,05

Berdasarkan tabel di atas, dapat dilihat bahwa tanggapan responden mengenai bekerja umumnya disebabkan oleh tuntutan kebutuhan ekonomi, sebanyak 15 orang (28,8%) menyatakan sangat setuju, sebanyak 25 orang (48,1%) menyatakan setuju, sebanyak 12 orang (23,1%) menyatakan cukup setuju, secara keseluruhan dapat ditarik kesimpulan bahwa karyawan bekerja umumnya memang disebabkan oleh tuntutan kebutuhan ekonomi, hal ini karena memiliki nilai rata-rata 4,05 yang berada pada interval 3,40 - 4,19.

Tabel 7

Tanggapan responden mengenai pimpinan mengembangkan kemampuan dan karir karyawan

Pernyataan Jumlah Persentase (%) Skor

Sangat Setuju 17 32,7 85

Setuju 21 40,4 84

Cukup setuju 14 26,9 42

Tidak setuju 0 0 0

Sangat Tidak Setuju 0 0 0

Jumlah 52 100 211

Sumber : Data primer yang telah diolah 4,05

Berdasarkan tabel di atas, dapat dilihat bahwa tanggapan responden mengenai pimpinan mengembangkan kemampuan dan karir karyawan, sebanyak 17 orang (32,7%) menyatakan sangat setuju, sebanyak 21 orang (40,4%) menyatakan setuju, sebanyak 14 orang (26,9%) menyatakan cukup setuju. Dengan demikian dapat dijelaskan bahwa sebagian besar responden setuju dengan sikap pimpinan yang mengembangkan kemampuan dan karir karyawan, hal ini karena memiliki nilai rata-rata 4,05 yang berada pada interval 3,40 - 4,19.

Tabel 8

Tanggapan responden mengenaiasuransi kesehatan, uang makan dan transportasi saat dinas keluar daerah membuat saya merasa terjamin

Pernyataan Jumlah Persentase (%) Skor

Sangat Setuju 18 34,6 90

Setuju 22 42,3 88

Cukup setuju 12 23,1 36

Tidak setuju 0 0 0

Sangat Tidak Setuju 0 0 0

Jumlah 52 100 214

4,12

Berdasarkan tabel di atas, dapat dilihat bahwa tanggapan responden mengenai kemampuan pimpinan dalam menciptakan hubungan kerja yang menyenangkan, sebanyak 18 orang (34,6%) menyatakan sangat setuju, sebanyak 22 orang (42,3%) menyatakan setuju, sebanyak 12 orang (23,1%) menyatakan cukup setuju. Dengan demikian dapat dijelaskan bahwa sebagian besar responden setuju dan memiliki nilai rata-rata 4,12 yang berada pada interval 3,40 - 4,19.

Tabel 9

Tanggapan responden mengenai pimpinan selalu berupaya untuk mendiskusikan masalah dalam pekerjaan

Pernyataan Jumlah Persentase (%) Skor

Sangat Setuju 14 26,9 70

Setuju 23 44,3 92

Cukup setuju 15 28,8 45

Tidak setuju 0 0 0

Sangat Tidak Setuju 0 0 0

Jumlah 52 100 207

Sumber : Data primer yang telah diolah 3,98

Berdasarkan tabel di atas, dapat dilihat bahwa tanggapan responden mengenai pimpinan selalu berupaya untuk mendiskusikan masalah dalam pekerjaan, sebanyak 14 orang (26,9%) menyatakan sangat setuju, sebanyak 23 orang (44,3%) menyatakan setuju, sebanyak 1 5 orang (28,8%) menyatakan cukup setuju. Dengan demikian dapat dijelaskan bahwa sebagian besar responden setuju dengan pimpinan yang selalu berupaya untuk mendiskusikan masalah dalam pekerjaan, hal ini karena memiliki nilai rata-rata 3,98 yang berada pada interval 3,40 - 4,19.

Tabel 10

Tanggapan responden mengenai pimpinan mengajak berkomunikasi dalam menyelesaikan tugas atau pekerjaan

Pernyataan Jumlah Persentase (%) Skor

Sangat Setuju 18 32,6 90

Setuju 19 40,1 92

Cukup setuju 15 28,3 45

Tidak setuju 0 0 0

Sangat Tidak Setuju 0 0 0

Jumlah 52 100 227

Sumber : Data primer yang telah diolah 4,37

Berdasarkan tabel di atas, dapat dilihat bahwa tanggapan responden mengenai pimpinan mengajak berkomunikasi dalam menyelesaikan tugas atau pekerjaan, sebanyak 18 orang (32,6%) menyatakan sangat setuju, sebanyak 19 orang (40,1%) menyatakan setuju, sebanyak 1 5 orang (40,1%) menyatakan cukup setuju. Dengan demikian dapat dijelaskan bahwa sebagian besar responden sangat setuju dengan pimpinan mengajak berkomunikasi dalam menyelesaikan tugas atau pekerjaan, hal ini karena memiliki nilai rata- rata 4,37 yang berada pada interval 4,20 - 5,00.

Tabel 11

Tunjangan hari raya yang diberikan sangat memuaskan saya. Pernyataan Jumlah Persentase (%) Skor

Sangat Setuju 15 28,8 75

Setuju 24 46,2 96

Cukup setuju 13 25,0 39

Tidak setuju 0 0 0

Sangat Tidak Setuju 0 0 0

Jumlah 52 100,0 210

Sumber : Data primer yang telah diolah 4,04

Berdasarkan tabel di atas, dapat dilihat bahwa tanggapan responden mengenai jaminan keamanan dan ketenangan bekerja dari pimpinan kepada karyawan, sebanyak 15 orang (28,8%) menyatakan sangat setuju, sebanyak 24 orang (46,2%) menyatakan setuju, sebanyak 1 3 orang (25%) menyatakan cukup setuju. Dengan demikian dapat dijelaskan bahwa sebagian besar responden setuju dengan Tunjangan hari raya yang diberikan sangat memuaskan saya, hal ini karena memiliki nilai rata-rata 4,04 yang berada pada interval 3,40 - 4,19.

Tabel 12

Tanggapan responden mengenai perhatian dan penghargaan pimpinan terhadap prestasi kerja karyawan

Pernyataan Jumlah Persentase (%) Skor

Sangat Setuju 15 28,8 75

Setuju 22 43,3 88

Cukup setuju 14 26,9 42

Tidak setuju 1 0,02 2

Sangat Tidak Setuju 0 0 0

Jumlah 52 100 207

Sumber : Data primer yang telah diolah 3,98

Berdasarkan tabel di atas, dapat dilihat bahwa tanggapan responden mengenai perhatian dan penghargaan pimpinan terhadap prestasi kerja karyawan, sebanyak 15 orang (28,8%) menyatakan sangat setuju, sebanyak 22 orang (43,3%) menyatakan setuju, sebanyak 14 orang (26,9%) dan yang menyatakan tidak setuju 1 orang (0,02%). Dengan demikian dapat dijelaskan bahwa sebagian besar responden setuju dengan perhatian dan penghargaan pimpinan terhadap prestasi kerja karyawan, hal ini karena memiliki nilai rata- rata 3,98 yang berada pada interval 3,40 - 4,19. Walau demikian masih ada

Dalam dokumen skripsi - Universitas Muhammadiyah Makassar (Halaman 36-52)

Dokumen terkait