BAB IV HASIL PENELITIAN
C. Konflik yang Terjadi antara Orang tua dan Anak di Desa
Masalah yang menjadi pemicu konflik antara remaja dan orang tua mencakup beberapa yakni terlambat pulang baik dari Sekolah maupun dari bermain, keterlambatan remaja pulang ke Rumah terjadi karena pada masa remaja kebutuhan remaja untuk bersosialisasi dengan teman sebayanya demikian kuat. Bahkan mereka cenderung memilih teman sebaya dari pada orang tuanya untuk berbagi perasaanya, terutama pada remaja yang merasa kurang dekat dengan orang tuanya. Mereka merasa kurang dimengerti oleh orang tuanya dan sering mengalami kesalah- pahaman dalam relasi dengan orang tua. Sementara ketika bersama dengan teman sebayanya, mereka merasa dimengerti oleh teman sebayanya dari memiliki masalah- masalah yang tidak jauh berbeda sehingga dapat saling berbagi dengan nyaqaman.
Keasyikan anak dalam melakukan aktivitas bersama temannya dapat mengakibatkan mereka terlambat pulang ke Rumah melebihi batasan waktu yang trelah di tetapkan apalagi ketika anak pergi tanpa pamit kepada orang tua, seperti pulang larut malam. Secara umum tindakan yang muncul dari orang tua apabila anaknya pulang malam adalah marah.
Meskipun demikian ekspresi dari rasa marah orang tua berbeda- beda ada yang memarahi dengan perkataan saja, namun ada pula orang tua yang dengan sengaja tidak membukakan pintu anaknya ketika pulang melebihi pukul 21.00. setelah anak memohon- mohon dan berjanji untuk tidak mengulangi perbuatannya, maka orang tua baru membukakan pintu. Hal yang seperti itu memicu anak untuk semakin marah kepada rang tuanya bahkan membecinya. Adapula orang tua yang masih dapat menerima anaknya pulang malam bila ada acara tertentu dan sebelumnya telah meminta izin pada orang tuanya.
Tabel IX
5. Distribusi frekuensi Pernyataan anak mengenai orang tua bila mengetahui anak pergi tanpa pamit dan terlambat pulang ke Rumah No Kategori Jawaban Frekuensi Persentase (%)
1 Menasehati 4 5,1%
2 Memarahi 72 91,1%
3 Membiarkannya 3 3,8%
Jumlah 79 100%
Sumber data: Angket nomor 5 tahun 2014
Berdasarkan Tabel di atas, dapat dilihat 4 anak atau 5,1%
menyatakan bahwa orang tua menasehati bila mengetahui anaknya pergi tanpa pamit, 72 anak atau 91,1% menyatakan bahwa orang tua memarahi
bila mengetahui anaknya pergi tanpa pamit, dan 3 atau 3,8% anak menyatakan orang tua membiarkannya begitu saja bila mengetahui anaknya pergi tanpa pamit kepada orang tuannya.
Penampilan remaja dalam berpakaian menimbulkan konflik antara anak dan orang tua. Seperti yang terjadi di Desa Lekopancing Kecamatan Tanralili Kabupaten Maros terutama di Dusun Cendana sebagian orang tua melarang anaknya memakain pakaian yang terbuka contohnya model tank top dan celana pendek bila keluar Rumah. Pada umumnya orang tua mengharapkan anak- anaknya berpakain sopan dalam penampilan dan tidak menyimpang dari norma umum di masyarakat.
Kriteria anak alam memilih teman akrab adakalanya tidak sesuai dengan kriteria yang diharapkan orang tua sehingga menimbulkan konflik antara orang tua dan anak.
Tabel X
6. Distribusi frekuensi Pernyataan anak mengenai tindakan orang tua apabila melihat anak berpakaian seksi atau tidak sopan.
No Kategori Jawaban Frekuensi Persentase (%)
1 Menasehati 28 35,4%
2 Memarahi 17 21,5%
3 Membiarkannya begitu saja 34 43,1%
Jumlah 79 100%
Sumber data: Angket nomor 6 tahun 2014
Berdasarkan Tabel di atas, dapat dilihat 28 anak atau 35,4%
menyatakan bahwa orang tua menasehati apabila melihat anaknya berpakaian seksi atau tidak sopan, 17 anak atau 21,5% menyatakan bahwa orang tua memarahi apabila melihat anaknya berpakaian seksi atau tidak sopan dan 34 atau 43,1% anak menyatakan orang tua membiarkannya begitu saja ketika melihat anaknya berpakain seksi atau tidak sopan.
Pada anak perempuan yang sudah memiliki pacar juga mengalami masalah dengan orang tua, karena pada waktu pacarnya “apel” dan mengajak jalan- jalan mereka pulang terlalu malam. Hal ini yang memicu kemarahan orang tua. Orang tua mengharapkan anaknya pulang ke Rumah tidak melebihi batasan waktu yang telah ditentukan. Menurut penuturan sebagian anak, aktivitas yang dilakukan bersama pacarnya adalah jalan- jalan, makan bersama, mengobrol, bercanda, dan berciuman.
Kondisi yang berbeda terungkap dari anak yang tidak memiliki pacar.
Anak yang mendapatkan perhatian yang cukup dari orang tua merasa belum perlu memiliki pacar karena dapat mengganggu Sekolahnya. Mereka menyatakan perhatian dan kasih sayang yang berikan oleh orang tua sudah lebih dari cukup, sehingga tidak perlu mencari perhatian dari orang lain sehingga anak dan orang tua dapat berkomunikasi dengan baik. Anak yang mendapatkan perhatian yang lebih dari orang tuanya pun selalu terkontrol kehidupannya termasuk masalah sekolah, kebutuhannya, bahkan sampai kepada hal pribadinya.
Tabel XI
7. Distribusi frekuensi Pernyataan anak mengenai tindakan orang tua jika mengetahui anak menjalin asmara ( pacaran )
No Kategori Jawaban Frekuensi Persentase (%)
1 Setuju 9 11,3%
2 Melarang 63 79,8%
3 Membiarkan begitu saja 7 8,9%
Jumlah 79 100%
Sumber data: Angket nomor 7 tahun 2014
Berdasarkan tabel di atas,dapat dilihat 9 anak atau 11,3%
menyatakan bahwa orang tua setuju jika mengetahui anaknya menjalin asmara dengan lawan jenis (pacaran), 63 anak atau 79,8% menyatakan bahwa orang tua melarang anaknya menjalin asmara dengan lawan jenis (pacaran), dan 7 atau 8,9% anak menyatakan orang tua membiarkannya begitu saja jika mengetahui anaknya menjalin asmara dengan lawan jenis (pacaran).
Penggunaan ponsel pada anak menjadi penyebab timbulnya konflik orang tua dan anak yang berikutnya. Remaja bisa menggunakan ponsel untuk menelepon atau mengirim SMS dengan teman- temannya. Pulsa yang digunakan untuk ponsel berkisar dari sepuluh ribu rupiah, hingga dua puluh
lima ribu rupiah per minggu. Akan tetapi pada remaja yang sedang jatuh cinta atau yang memiliki pacar, remaja bisa menghabiskan pulsa dua puluh ribu rupiah per-hari untuk menelepon atau SMS.
Saat- saat meminta uang untuk membeli pulsa menjadi pemicu konflik orang tua dan anak. Orang tua menganngap penggunaan ponsel pada remaja sudah berlebihan. Besarnya pulsa yang dihabiskan remaja menganngap orang tua sebagai pemborosan. Sementara remaja menginginkan kebutuhannya tetap terpenuhi. Menjalin komunikasi dengan seseorang yang disukainya dianggap sebagai hal yang penting, karena melalui komunikasi tersebut, remaja merasa mendpatkan perhatian. Apabila remaja merasa kurang mendapatkan perhatian yang memadai dari kedua orang tuanya.
Tabel XII
8. Distribusi frekuensi Pernyataan anak mengenai orang tua mengizinkan anak memakai telfon genggam (HP)
No Kategori Jawaban Frekuensi Persentase (%)
1 Ya 51 64,6%
2 Biasa- biasa saja 13 16,4%
3 Tidak 15 19,0%
Jumlah 79 100%
Sumber data: Angket nomor 8 tahun 2014
Berdasarkan Tabel di atas, dapat dilihat 51 anak atau 64,5%
menyatakan bahwa orang tua ya mengizinkan anaknya memakai telfon genggam (HP), 13 anak atau 16,4% menyatakan bahwa orang tua biasa- biasa saja ketika anaknya memakai telfon genggam (HP), dan 15 atau 19,0%
anak menyatakan orang tua tidak mengizinkan anaknya memakai telfon genggam (HP).
“Ibu Aisyah menyatakan bahwa ketika anak melakukan kesalahan atau tidak sesuai dengan keinginan orang tua baiknya jangan memberikan reaksi marah atau sampai memukul anak tetapi hal yang petama adalah pemberian teguran atau menasehati agar tidak melakukan kesalah yang kedua kalinya. Sikap marah yang dilakukan oleh orang tua ini dapat menyebabkan anak kurang mendapatkan kesempatan untuk belajar menghadapi konflik tersebut. Akan tetapi reaksi yang muncul pada anak beragam, ada yang mengevaluasi diri, mengakui kesalahan, berjanji untuk tidak mengulangi, namun juga ada yang membantah dan bersikap tidak peduli. Bila diperhatikan lebih dalam nasihat yang pernah diterimah anak dari orang tuanya sudah sesuai dengan harapan antara orang tua dan anak. Akan tetapi, waktu yang dipilih oleh orang tua untuk menyampaikan nasehat kurang tepat. Kebanyakan orang tua menyampaikan nasehat pada situasi seperti anak melakukan kesalahan, saat anak melanggar nasehat, saat prestasi anak menurun, dan situasi- situasi yang lainnya yang kurang mendukung bagi anak ( wawancara 13 juli 2014)”
Dari paparan di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa pencetus konflik remaja dengan orang tua dapat berasal dari dua belah pihak. Dari pihak orang tua memandang anak berperilaku kurang sesuai dengan harapan orang tuanya, dan dari pihak anak merasa orang tua kurang memahami dirinya. Dari gambaran area konflik tersebut, tampak bahwa orang tua belum berhasil mengkomunikasikan harapannya pada anak dengan baik sehingga anak benar- benar memahami maksud orang tuanya.
D. Hubungan atau Kedekatan Orang Tua dan Anak Di Desa