• Tidak ada hasil yang ditemukan

Ha 5 Ukuran Asset Bank (SIZE) memiliki pengaruh terhadap Capital Adequacy Ratio (CAR)

4.1 Objek Penelitian

4.1.1 Gambaran Umum Sektor Perbankan

BAB IV

ANALISIS DAN PEMBAHASAN

(OJK) bekerjasama dengan pemerintah agar tujuan yang diharapkan pada perbankan Indonesia bisa tercapai.

Acuan-acuan yang tertulis dalam Arsitektur Perbankan Indonesia (API) tersebut sangat diperlukan khususnya apabila terjadi penyimpangan yang dilakukan oleh perbankan, salah satunya untuk menghindari terulangnya masa kelam perbankan di Indonesia yang terjadi pada tahun 1997. Masa krisis pada tahun 1997 yang melanda industri perbankan hampir menyebabkan hancurnya industri perbankan, bahkan dalam rangka menyelamatkan industri perbankan saat itu, berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Susan L. Baker (1999) dari Amerika mengenai restrukturasi perbankan di Indonesia, pemerintah terpaksa mengeluarkan dana sekitar 650 triliun rupiah.

Kondisi perbankan Indonesia telah mengalami banyak perubahan dari waktu ke waktu. Perubahan ini disebabkan oleh kondisi internal perbankan dan tidak lepas dari kondisi luar dunia perbankan, seperti sektor riil dalam perekonomian, politik, hukum dan sosial. Perkembangan faktor- faktor internal dan eksternal perbankan tersebut menyebabkan kondisi perbankan Indonesia secara umum dikelompokkan menjadi 4 (empat) periode. Masing-masing periode dalam dunia perbankan memiliki ciri khusus yang tidak dapat disamakan dengan periode lainnya. Dibentuknya serangkaian deregulasi perbankan sejak tahun 1980-an serta terjadinya krisis ekonomi di akhir tahun 1990-an adalah dua peristiwa penting yang menjadi terbaginya kondisi perbankan Indonesia menjadi empat periode.

Keempat periode tersebut adalah:

1. Kondisi perbankan Indonesia sebelum munculnya paket deregulasi di sektor riil dan moneter yang dimulai sejak tahun 1980-an.

Pada kondisi ini, bank tidak diarahkan untuk melakukan ekspansi dana seluas-luasnya kepada masyarakat dan juga tidak diarahkan untuk mendukung pengembangan perekonomian rakyat. Secara lebih rinci kondisi perbankan pada periode ini ditandai dengan tidak adanya peraturan perundang-undangan yang jelas mengatur tentang perbankan, yang ada hanya UU Nomor 13 Tahun 1968 yang isinya lebih mempertegas campur tangan pemerintah dalam dunia perbankan yaitu tentang kedudukan bank sentral dan dewan moneter.

Kondisi ini juga ditandai dengan banyaknya bank yang menanggung program-program pemerintah dan sulitnya untuk mendirikan bank baru karena adanya dominasi dari pemerintah dalam pengaturan bank di Indonesia. Posisi tawar menawar bank relatif lebih kuat daripada nasabah juga menambah rentetan peristiwa dalam periode ini, dikarenakan bank mengganggap bahwa bank tidak membutuhkan nasabah untuk aktivitasnya karena bank pada masa ini dapat dengan mudah mendapatkan dana dari pemerintah dan Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Satu hal yang makin memperparah keadaan perbankan pada masa ini dikarenakan masyarakat menganggap

bahwa bank bukan merupakan alternatif utama dalam menyimpan dana atau meminjam dana, karena masyarakat lebih memilih untuk menyimpan kekayaan yang mereka miliki dalam bentuk logam mulia, tanah dan kendaraan.

2. Kondisi perbankan Indonesia setelah muncul deregulasi sampai dengan masa sebelum terjadinya krisis ekonomi di akhir tahun 1990-an.

Pada masa ini munculnya kebijakan deregulasi membuat banyak perubahan dalam dunia perbankan Indonesia, kondisi pada masa sebelum deregulasi sudah tidak ditemukan lagi pada masa ini. Munculnya UU Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan menyebabkan meningkatnya tingkat kepastian hukum yang menyangkut masalah perbankan. Hal ini juga mengakibatkan meningkatnya kepercayaan masyarakat terhadap bank untuk menyimpan atau meminjam dana.

Adanya peraturan yang jelas mengenai perbankan serta munculnya kemudahan dalam mendirikan bank menyebabkan banyak bank swasta baru di dunia perbankan Indonesia, dengan meningkatnya persaingan yang ada pada masa ini juga membuat bank mengeluarkan produk-produk baru bagi masyarakat. Tidak hanya tabungan, deposito dan giro, bank juga memberikan alternatif seperti adanya SBI (Sertifikat Bank Indonesia) dan Surat Berharga Pasar Uang yang lebih fleksibel terhadap perubahan situasi.

3. Kondisi perbankan Indonesia pada masa krisis ekonomi sejak akhir tahun 1990-an.

Perubahan perbankan Indonesia dengan munculnya deregulasi tentang perbankan menyebabkan sektor perbankan memiliki kemampuan untuk meningkatkan kinerja ekonomi makro di Indonesia. Namun hal tersebut tidak berlangsung lama dan bahkan mengalami kemunduran total akibat adanya krisis ekonomi yang terjadi pada tahun 1997. Krisis ini terjadi dikarenakan situasi politik yang mencekam pada masa itu, serta internal perbankan yang banyak melakukan penyimpangan.

Kondisi ini menyebabkan turunnya tingkat kepercayaan masyarakat dalam dan luar negeri terhadap perbankan Indonesia, sehingga banyak masyarakat yang menarik dananya secara besar-besaran dari bank di Indonesia. Situasi ini juga membuat pemerintah melakukan upaya yakni dengan meningkatkan suku bunga pinjaman tetapi masih lebih rendah daripada suku bunga simpanan agar masyarakat tetap menyalurkan dananya dalam bentuk simpanan. Kebijakan ini menyebabkan terjadinya spread negatif dalam dunia perbankan Indonesia.

4. Kondisi perbankan Indonesia pada saat sekarang ini.

Tiga hal penting yang menandai kondisi perbankan Indonesia saat ini adalah munculnya Arsitektur Perbankan Indonesia (API) sebagai akibat dari adanya krisis ekonomi pada

tahun 1997. Selain itu berjalannya rencana pemerintah dan DPR ditandai dengan telah dibentuknya LPS (Lembaga Penjamin Simpanan) dan dibentuknya OJK (Otoritas Jasa Keuangan) yang tugasnya diadaptasi dari tugas Bank Indonesia sebagai Bank Sentral sebelumnya.

Kondisi perbankan Indonesia sekarang ini juga ditandai dengan adanya manajamen pengelolaan risiko yang lebih baik, struktur perbankan nasional yang lebih baik, penerapan prinsip kehati-hatian (prudential banking) yang konsisten dan penyaluran dana kepada masyarakat sebagai lembaga intermediasi yang juga turut mengembangkan perekonomian rakyat.

Grafik 4.1

Perkembangan Aset Bank Umum

Sumber : Statistik Perbankan Indonesia (hasil olahan penulis)

1.693.8501.986.5012.310.5572.534.1062.817.014

3.562.832

4.262.587

4.461.783

2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 Jun-13

Sesuai dengan rekapitulasi institusi perbankan Indonesia per Oktober 2011 yang dipublikasikan di laman resmi Bank Indonesia, Indonesia memiliki sebanyak 120 bank umum dengan jumlah bank pemerintah sebanyak 4 (empat) bank dan bank swasta sebanyak 116 (seratus enam belas) bank. Grafik 4.1 diatas menunjukkan perkembangan aset bank umum secara keseluruhan untuk melihat secara umum gambaran perbankan Indonesia. Melihat tren yang terjadi di grafik diatas menunjukkan bahwa dari tahun 2006 hingga tahun 2013 yang diukur laporan pada bulan Juni terjadi kenaikan secara yang kontinyu pada perkembangan aset bank umum.

Grafik 4.2

Perkembangan Dana Pihak Ketiga (DPK) dan Kredit yang disalurkan Bank Umum periode 2006- Juni 2013

Sumber : Statistik Perbankan Indonesia (hasil olahan penulis)

792.2971.002.012

1.307.6881.437.9301.765.8452.200.094

2.725.6742.982.436 1.287.1021.510.834

1.753.2921.973.042 2.338.824

2.784.912

3.225.5983.374.272

0 1.000.000 2.000.000 3.000.000 4.000.000 5.000.000 6.000.000 7.000.000

2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 Jun-13

DPK Kredit

Grafik 4.2 diatas menunjukkan perkembangan Dana Pihak Ketiga yang dikumpulkan oleh Bank Umum di Indonesia dan Kredit yang disalurkan oleh Bank Umum di Indonesia kepada pihak ketiga. Sama seperti perkembangan aset, Dana Pihak Ketiga yang dikumpulkan oleh bank mengalami kenaikan secara terus menerus dari tahun ke tahun, hal ini setidaknya mengindikasikan bahwa kepercayaan masyarakat terhadap bank sudah sangat baik yakni dengan banyaknya masyarakat yang mempercayakan dana yang mereka miliki untuk disimpan di bank. Grafik kredit yang ditunjukkan di atas juga memiliki tren yang meningkat dari tahun 2006- Juni 2013 hal ini juga menunjukkan bahwa fungsi dari adanya bank di Indonesia telah berjalan dengan baik dalam rangka membantu masyarakat yang kekurangan dana untuk melakukan investasi, modal usaha dan konsumsi, sesuai dengan tujuan dari bank itu sendiri yakni untuk mensejahterahkan kehidupan masyarakat banyak.

Dari grafik diatas bisa dilihat bahwa grafik kredit tidak pernah melewati garis grafik dari Dana Pihak Ketiga dan hal ini menunjukkan bahwa bank umum selalu menjaga likuiditas bank dalam rangka mengelola dana yang dipercayakan masyarakat kepada bank. Jarak antara grafik DPK dan Kredit bisa dilihat memiliki batas atau range yang stabil dan tidak terlalu jauh pada setiap tahunnya dan ini menunjukkan bahwa bank umum tetap menjaga kredit bank yang disalurkan sesuai dengan dana yang didapat oleh bank.

Kinerja bank umum di Indonesia juga bisa dilihat dari beberapa rasio berikut yakni CAR (Capital Adequacy Ratio), ROA (Return On

Assets) dan NPL (Non Performing Loans). Deskripsi mengenai kondisi perbankan Indonesia mengenai 3 (tiga) aspek diatas akan dijelaskan sebagai berikut:

Grafik 4.3

Perkembangan CAR (Capital Adequacy Ratio) Bank Umum

Sumber : Statistik Perbankan Indonesia (hasil olahan penulis)

Grafik 4.3 diatas menunjukkan rasio CAR (Capital Adequacy Ratio) yang dicapai oleh bank umum di Indonesia periode tahun 2006 hingga Juni 2013. Nilai CAR tertinggi selama 8 (delapan) periode tersebut terjadi pada tahun 2006, yakni sebesar 21,27 sedangkan terendah terjadi pada tahun 2011 yakni sebesar 16,05. Rasio CAR bank umum di Indonesia dari tahun ke tahun mengalami fluktuasi namun tetap menjaga ketentuan yang telah ditetapkan yakni minimal sebesar 8% (delapan persen), yang menunjukkan bahwa kinerja bank umum di Indonesia bila dilihat dari rasio CAR telah memenuhi ketentuan dan mengindikasikan bahwa kinerja bank umum di Indonesia telah baik dalam aktivitasnya.

- 5,00 10,00 15,00 20,00 25,00

2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 Jun-13 21,27

19,30

16,76 17,42 17,18 16,05 17,48 18,08

CAR

Grafik 4.4

Perkembangan ROA (Return On Assets) dan NPL (Non Performing Loans) Bank Umum periode 2006 – Juni 2013

Sumber : Statistik Perbankan Indonesia (hasil olahan penulis)

ROA (Return On Assets) mengukur kemampuan bank dalam memperoleh laba dan efisiensi secara keseluruhan (Santoso, 1995). NPL (Non Performing Loans) merupakan rasio yang mengukur kemampuan bank dalam mengelola kredit bermasalah yang diberikan oleh bank. Grafik diatas menunjukkan 2 (dua) rasio perbankan yang biasa digunakan untuk mengukur kinerja perbankan. Dari grafik diatas bisa dilihat bahwa rasio NPL (Non Performing Loans) pada bank umum di Indonesia selama periode tahun 2006 hingga Juni 2013 terus mengalami perbaikan, ditandai dengan adanya penurunan yang signifikan dari tahun 2006. Hal ini mengindikasikan bahwa prinsip kehati-hatian yang diterapkan oleh bank berjalan dengan baik, selain itu juga menunjukkan kondisi sosial masyarakat Indonesia yang semakin baik dalam melakukan pinjaman.

2,64 2,78

2,33 2,60 2,86 3,03 3,11 3,02 6,07

4,07

3,20 3,31

2,56

2,17

0,80 0,88 -

1,00 2,00 3,00 4,00 5,00 6,00 7,00

2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 Jun-13

ROA NPL

Garis grafik lainnya dalam grafik di atas menjelaskan perkembangan rasio ROA (Return On Assets) pada bank umum di Indonesia selama 8 (delapan) periode. ROA (Return On Assets) bank umum sempat mengalami penurunan pada tahun 2008 yakni sebelumnya sebesar 2,78 menjadi 2,33, namun setelah tahun 2008 nilai ROA (Return On Assets) bank umum di Indonesia mengalami kenaikan secara bertahap setiap tahunnya ditandai dengan bentuk grafik yang menanjak ke atas.

4.1.2 Kinerja dan Perkembangan Bank Pemerintah dan Bank

Dokumen terkait