BAB II KAJIAN PUSTAKA
H. Penilaian Implementasi Good Corporate Governance
Hasil penilaian implementasi Good Corporate governance merupakan contoh yang diterapkan oleh badan Pemeriksaan Keuangan (BPKP) pada Badan
Usaha Milik Negara (BUMN). Istilah yang sering digunakan oleh BPKP adalah hasilreviewpenerapanGood Corporate Governance.
1. Hasilreview
Telah dilakukan review penerapan Good Corporate Governance pada PT.X untuk memberikan gambaran mengenai sejauh mana upaya-upaya perbaikan di bidang corporate governance telah berlangsung pada perusahaan setelah dilakukan evaluasi penerapan Good Corporate Governance sebelumnya pada tahun 2006. Upaya untuk melakukan tindak lanjut perbaikan di bidang penerapan GCG adalah tanggung jawab manajemen perusahaan.
Secara keseluruhan review penerapan Good Corporate Governance pada PT.X tahun 2007 menunjukkan tingkat tindak lanjut perbaikan di bidang penerapan Good Corporate Governance dalam penyelenggaraan kegiatan usaha perusahaan pada capaian aktual sebesar 76,04% dari target capaian maksimal 100%. Capaian aktual tersebut berasal dari tingkat pengupayaan aspek perbaikan berikut :
Tabel 2.1
Hasil review penerapan GCG pada PT.X tahun 2007
No Aspek review Bobot Maksimal
(%)
Bobot capaian
aktual (%)
% capaian
1 Penanganan dan tindak lanjut hasil pelaksanaanassesment
25,00 20,59 82,36
2 Progres tindak lanjut hasil pelaksanaan
assesment
30,00 19,50 65,00
3 Upaya yang dilakukan dalam rangka mengevaluasi kepentingan seluruh
stakeholdersterkait dengan penyelenggaraan
prinsipGood Corporate Governance
15,00 11,35 75,67
4 Keberadaan, fungsi serta tugas dari organ
utama dan organ pendukung
15,00 11,43 76,20
5 Pengelolaan hubungan dengan stakeholders
lainnya
15,00 13,17 87,80
Total 100 76,04 76,04
Sumber: Zarkasyi(2008:128)
Aspek 1 dan 2 di atas pada dasarnya menunjukkan upaya untuk melaksanakan rekomendasi yang dikemukakan dalam laporan hasil assesment penerapan yang lalu,sedangkan aspek 3, 4 dan 5 menunjukkan upaya yang mencerminkan inisiatif mandiri dari perusahaan untuk melakukan upaya-upaya perbaikan di bidang penerapan Good Corporate Governance di luar yang direkomendasikan pada hasilassesment.
a. Penanganan dan tindak lanjut hasil pelaksanaan penilaian (assesment)
Pelaksanaan tindak lanjut untuk perbaikan di bidang penerapan Good Corporate Governance sebagaimana direkomendasikan dalam laporan hasil assesmentsebelumnya menunjukkan persentase capaian aktual sebesar 82,36%
dari target maksimal aspek tersebut sebesar 25%, atau mencapai 20,59 %.
Hal tersebut antara lain terlihat dari pelaksanaan tindak lanjut rekomendasi sebagai berikut:
1) Rekomendasi yang telah ditindak lanjuti 2) Rekomendasi yang belum ditindak lanjuti b. Progres tindak lanjut hasil pelaksanaanassesment
Progres tindak lanjut hasil pelaksanaanassesmentmenunjukkan tingkat kedalaman atau pengembangan selanjutnya dari pelaksanaan tindak lanjut atas rekomendasi perbaikan hasil assesmentsebelumnya. Progres tindak lanjut hasil pelaksanaan assesment telah mencapai 65,00% dari target maksimal aspek tersebut sebesar 30% atau mencapai 19,50%.
Hal ini antara lain terdiri dari telah dilaksanakannya rekomendasi dengan progres kurang dari 100% yaitu:
1) Aspek kebijakanCorporate governance 2) Aspek pelaksanaan corporate governance
3) Aspek keterbukaanperaturan perundang-undangan dan penerapannya c. Upaya yang dilakukan
Upaya yang dilakukan yang dilakukan dalam rangka mengakumulasi kepentingan seluruh stakeholders terkait dengan penyelenggaraan prinsip Good Corporate Governance pada dasarnya menunjukkan upaya mandiri yang berlangsung di perusahaan untuk meningkatkan cakupan dan kedalaman penerapan Good Corporate Governance selain yang telah direkomendasikan dari kegiatan assesment sebelumnya. Adapun pelaksanaan upaya mandiri perusahaan tersebut telah mencapai 75,67% dari target maksimal aspek tersebut 15% atau mencapai 11,35%.
Upaya-upaya mandiri perusahaan dalam meningkatkan penerapanGood Corporate Governancedari aspek tersebut di atas antara lain adalah:
1) Aspek kebijakan Good Corporate Governance
2) Aspek disclosure kebijakan dan praktekGood Corporate Governance 3) Aspek komitmenGood Corporate Governance
4) Inisiatif mandiri murni
b. Keberatan, fungsi dan tugas organ utama dan pendukung
Keberadaan, fungsi dan tugas organ utama dan pendukung pada dasarnya juga menunjukkan upaya mandiri yang berlangsung di perusahaan untuk meningkatkan cakupan dan kedalaman penerapan Good Corporate Governance selain yang telah direkomendasikan dari kegiatan assesment sebelumnya. Pelaksanaan upaya mandiri perusahaan tersebut telah mencapai 76,20% dari target maksimal aspek tersebut sebesar 15% atau mencapai 11,43%.
Upaya mandiri perusahaan dalam meningkatkan penerapan Good Corporate Governancedari aspek tersebut di atas antara lain adalah:
1) Aspek partisipasi Pemegang saham
2) Aspek penerapanGood Corporate governance c. Pengelolaan hubungan denganstakeholderslainnya
Pengelolaan hubungan dengan stakeholders lainnya pada dasarnya menunjukkan upaya mandiri yang berlangsung di perusahaan untuk meningkatkan cakupan dan kedalaman penerapan Good Corporate Governance di luar yang telah direkomendasikan dari kegiatan evaluasi
sebelumnya, khususnya yang terkait dengan struktur dan proses governance dalam pengelolaan hubungan dengan stakeholders lainnya. Adapun pelaksanaan upaya mandiri perusahaan tersebut telah mencapai 87,80% dari target maksimal aspek tersebut sebesar 15% atau mencapai 13,17%.
Upaya-upaya perusahaan dalam meningkatkan penerapan Good Corporate Governanceantara lain tampak dari:
1) Aspek penerapanGood corporate Governance 2) Aspek komitmen
3) Inisiatif mandiri murni
I. Bank Syariah di Indonesia
1. Sejarah Perkembangan Bank Syariah di Indonesia
Hasan ( 2014:89 ) konsep teoritis mengenai Bank Islam muncul pertama kali pada tahun 1940-an, dengan gagasan mengenai perbankan yang berdasarkan bagi hasil. Prakarsa lebih khusus mengenai pendirian Bank Islam di Indonesia baru dilakukan tahun 1990, pada tanggal 18-20 Agustus, Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyelenggarakan lokakarya bunga bank dan perbankan di Cisarua, Bogor, Jawa Barat. Hasil lokakarya tersebut kemudian dibahas lebih mendalam pada musyawarah Nasional IV MUI di Jakarta 22-25 Agustus 1990. Sebagai hasil kerja Tim Perbankan MUI tersebut adalah berdirinya PT.Bank Muamalat di Indonesia (BMI), yang sesuai akte pendiriannya berdiri pada tanggal 1 November 1991. Setelah itu berdiri Bank Islam lain, yakni Bank IFI membuka cabang syariah pada tanggal 28 Juni 1999, Bank Syariah Mandiri yang merupakan
konversi dari Bank Susila Bakti (BSB), serta pendirian lima cabang baru berupa cabang syariah dari PT. Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. Per bulan Februari 2000, tercatat di Bank Indonesia bank-bank yang sudah mengajukan permohonan membuka cabang syariah, yakni Bank Niaga, BTN, Bank Mega, BRI, Bank Bukopin, BPD Jabar dan BPD Aceh.
Dalam pasal 1 ayat ( 13 ) UUP memberikan batasan pengertian prinsip syariah sebagai aturan perjanjian berdasarkan hukum Islam antara Bank dan pihak lain untuk penyimpanan dana dan/atau pembiayaan kegiatan usaha,atau kegiatan lainnya yang dinyatakan sesuai dengan syariah, antara lain, pembiayaan berdasarkan prinsip bagi hasil ( mudharabah ), pembiayaan berdasarkan prinsip penyertaan modal ( musharakah ), prinsip jual beli barang dengan memperoleh keuntungan ( murabahah ), atau pembiayaan barang modal berdasarkan prinsip sewa murni tanpa pilihan ( ijarah ), atau dengan adanya pilihan pemindahan kepemilikan atas barang yang disewa dari pihak bank dari pihak lain ( ijarah wa iqtinah). Dalam menjalankan operasinya fungsi Bank Islam akan terdiri dari:
a. Sebagai penerima amanah untuk melakukan investasi atas dana-dana yang dipercayakan oleh pemegang rekening investasi atas dasar prinsip bagi hasil sesuai dengan kebijakan investasi bank
b. Sebagai pengelola investasi atas dana yang dimiliki oleh pemilik dana sesuai dengan arahan investasi yang dikehendaki oleh pemilik dana ( dalam hal ini bank bertindak sebagai manajer investasi ).
c. Sebagai penyedia jasa lalu lintas pembayaran dan jasa-jasa lainnya sepanjang tidak bertentangan dengan prinsip syariah.
d. Sebagai pengelola fungsi sosial seperti pengelolaan dana zakat dan penerimaan serta penyaluran dana kebajikan.
2. Kebijakan Pengembangan Perbankan Syariah Di Indonesia
Untuk memberikan pedoman bagi stakeholders perbankan syariah dan meletakkan posisi serta cara pandang Bank Indonesia dalam mengembangkan perbankan syariah di Indonesia, selanjutnya Bank Indonesia pada tahun 2002 telah menerbitkan “Cetak Biru Pengembangsn `Perbankan Syariah di Indonesia”.
Dalam penyusunannya, berbagai aspek telah dipertimbangkan secara komprehensif, antara lain kondisi aktual industri perbankan syariah nasional beserta perangkat-perangkat terkkait.
“Cetak Biru Pengembangan Perbankan Syariah di Indonesia” memuat visi,misi dan sasaran pengembangan perbankan syariah serta sekumpulan inisiatif strategis dengan prioritas yang jelas untuk menjawab tantangan utama dan mencapai sasaran dalam kurun waktu 10 tahun ke depan, yaitu pencapaian pangsa pasar perbankan syariah yang signifikan melalui pendalaman peran perbankan syariah dalam aktivitas keuangan nasional, regional dan internasiona, dalam kondisi mulai terbentuknya integrasi dengan sektor keuangan syariah lainnya.
Pada akhirnya, sistem perbankan syariah yang ingin dikembangkan Bank Indonesia adalah perbankan syariah yang modern, yang bersifat universal terbuka bagi seluruh masyarakat. Sebuah sistem perbankan yang menghadirkan bentuk- bentuk aplikatif dari konsep ekonomi syariah yang dirumuskan secara bijaksana, dalam konsep kekinian permasalahan yang sedang dihadapi oleh bangsa Indonesia, dan dengan tetap memperhatikan kondisi sosial kultural. Hanya dengan
cara demikian, maka upaya pengembangan sistem perbankan syariah akan senantiasa dilihat dan diterima oleh segenap masyarakat Indonesia sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan.
3. Prinsip Dasar Perbankan Syariah
Ada lima prinsip dasar perbankan syariah, yaitu:
a. Prinsip Mudharabah yaitu perjanjian antara dua pihak dimana pihak pertama sebagai pemilik dana (sahibul mal) dan pihak kedua sebagai pengelola dana (mudharib) untuk mengelola suatu kegiatan ekonomi dengan menyepakati nisbah bagi hasil atas keuntungan yang akan diperoleh sedangkan kerugian yag timbul adalah resiko pemilik dana sepanjang tidak terdapat bukti bahwa mudharib melakukan kecurangan atau tindakan yang tidak amanah.
b. Prinsip Musyarakah, yaitu perjanjian antara pihak-pihak dimana menyertakan modal dalam suatu kegiatan ekonomi dengan pembagian keuntungan atau kerugian sesuai nisbah yang disepakti musyarakah dapat bersifat tetap atau bersifat temporer dengan penurunan secara periodik atau sekaligus di akhir masa proyek.
c. Prinsip Wadiah adalah titipan dimana pihak pertama menitipkan dana atau benda kepada pihak kedua selaku penerima titipan dengan konsekuensi titipan tersebut sewaktu-waktu dapat diambil kembali, dimana titipan dapat dikenakan biaya titipan. Dalam hal ini penerima titipan berhak mempergunakan dana/barang titipan untuk didayagunakan tanpa ada
kewajiban penerima titipan untuk memberikan imbalan kepada penitip dengan tetap pada kesepakatan dapat diambil setiap saat diperlukan.
d. Prinsip jual beli (Al buyu’) terdiri dari:
(1) Murabahahyaitu akad jual beli antara dua belah pihak dimana pembeli dan penjual menyepakati harga jual yang terdiri dari harga beli ditambah ongkos pembelian dan keuntungan bagi penjual.
(2) Salam yaitu pembelian barang dengan pembayaran dimuka dan barang diserahkan kemudian.
(3) Ishtisna’yaitu pembelian barang melalui pesanan dan diperlukan proses untuk pembuatannya sesuai dengan pesanan pembeli dan pembayaran dilakukan dimuka sekaligus atau secara bertahap.
e. Prinsip jasa terdiri dari:
(1) Ijarah yaitu kegiatan penyewaan suatu barang dengan imbalan pendapatan sewa, bila terdapat kesepakatan pengalihan pemilikan pada akhir masa sewa disebut Ijarah mumtabiya bi tamlik. Wakalah yaitu pihak pertama memberikan kuasa kepada pihak kedua untuk urusan tertentu dimana pihak kedua mendapat imbalan berupafeeatau komisi.
(2) Salamyaitu pembelian barang dengan pembayaran dimuaka dan barang diserahkan kemudian.
(3) Ishtisna’yaitu pembelian barang melalui pesanan dan diperlukan proses untuk pembuatannya sesuai dengan pesanan pembeli dan pembayaran dilakukan dimuka sekaligus atau secara bertahap.
(4) Kafalah yaitu pihak pertama bersedia menjadi penanggung atas kegiatan yang dilakukan oleh pihak kedua sepanjang sesuai dengan kesepakatan dimana pihak kedua menerima imbalan berupa komisi.
4. Karakteristik Bank Syariah
Lemabaga Keuangan Syariah memiliki karakteristik yang membedakannya dari bank-bank ribawa, diantaranya adalah:
a. Lembaga keuangan syariah harus bersih dari semua bentuk riba dan mu’amalah yang dilarang syari’at.
b. Mengarahkan segala kemampuan pada pertambahan dengan jalanits-titsmar ( pengembangan modal ) tidak dengan jalan hutang ( al-Qardh ) yang memberi keuntungan.
c. Mengikat pengembangan ekonomi dengan pertumbuhan sosial,dengan demikian bank syariah harus menutupi dua sisi ini dan komitmen terhadap perbaikan masyarakat dan keadilannya.
d. Mengumpulkan harta yang menganggur dan menyerahkannya kepada aktivitasits-titsmaardan pengelolaan dengan target pembiayaan ( tawwiel) proyek-proyek perdagangan, industri dan petanian.
e. Memudahkan sarana pembayaran dan memperlancar pergerakan pertukaran perdagangan langsung sedunia Islam dan bekerja sama dalam bidang tersebut dengan seluruh lembaga keuangan syariah dunia agar dapat menunaikan tugasnya dengan sesempurna mungkin.
f. Menghidupkan tatana zakat dengan membuat lembaga zakat dalam bank sendiri yang mengumpulkan hasil zakat bank tersebut.
g. Membangun baitul mal kaum muslimin dan mendirikan lembaga untuk itu dan dikelola langsung manajemennya oleh lembaga keuangan tersebut.
h. Menanamkan khaedah adil dan kesamaan dalam keberuntungan dan kerugian dan menjauhkan unsur ikhtikaar ( penimbunan barang agar menaikkan harga ) dan meratakan kemashlahatan pada sebanyak mungkin jumlah kaum muslimin.
Karakteristik sistem perbankan syariah yang beroperasi berdasarkan prinsip bagi hasil memberikan alternatif sistem perbankan yang saling menguntungkan bagi masyarakat dan bank , serta menonjolkan aspek keadilan dalam bertransaksi, investasi yang beretika, mengedepankan nilai-nilai kebersamaan dan persaudaraan dalam berproduksi dan menghindari kegiatan spekulatif dalam bertransaksi keuangan. Dengan menyediakan beragam produk serta layanan jasa perbankan yang beragam dengan skema keuangan yang lebih bervariatif, perbankan syariah menjadi alternatif sistem perbankan yang kredibel dan dapat dinikmati oleh seluruh golongan masyarakat Indonesia.
5. Keunggulan Bank Syariah
Bank syariah selain memiliki keuntungan juga memiliki beberapa keunggulan lain adalah sebagai berikut:
a. Fasilitas selengkap Bank Konvensional b. Manajemen finansial yang lebih aman
Hasil
c. Berkontribusi langsung memperkuat Bank Syariah d. Membantu orang yang butuh berzakat
e. Halal
J. Kerangka fikir
Sebagai alur pemikiran dalam penjelasan uraian di atas dapat digambarkan dalam kerangka pemikiran teoritis sebagai berikut :
Gambar 2.1 Kerangka Fikir
PT. Bank Sulselbar Syariah di Makassar
PrinsipGood Corporate Governance dalam Islam
Tauhid Taqwa
dan ridha Equilibrium Kemashlahatan
BAB III
METODE PENELITIAN