BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil dan Pembahasan
Berdasarkan tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui apakah Good Corporate Governancedalam perspektif Islam telah diterapkan di PT. Bank Sulselbar Syariah Makassar.
Uraian dari hasil penelitian tersebut adalahy sebagai berikut:
1. Pelaksanaan Good Corporate Governance PT. Bank Sulselbar Syariah di Makassar
Pelaksanaan Good Corporate Governance (GCG) merupakan komitmen yang konsisten sebagai bagian yang tak terpisahkan dari Bank Sulselbar Syariah, yang unit syariahnya meningkatkan implementasi prinsip-prinsipGood Corporate Governancesebgaimana tertuang pada Peraturan Bank Indonesia No. 12/13/Dpbs tanggal 7 Desember 2009 tentang Unit Usaha Syariah dan SE No.12/13/Dpbs tanggal 30 April 2010 tentang Pelaksanaan Good Corporate governance bagi Bank Umum Syariah dan Unit Usaha Syariah.
Pelaksanaan Good Corporate Governance merupakan salah satu upaya untuk melindungi kepentinganStakeholdersPT. Bank Sulselbar Syariah Makassar dimana Unit Usaha Syariah berupaya meningkatkan kepatuhan terhadap peraturan-peraturan internal Bank sesuai perundang-undangan yang berlaku serta nilai-nilai etika yang telah ditetapkan oleh Bank yang berlaku secara umum.
Pelaksanaan operasional perbankan yang sehat dalam penerapan Good Corporate
51
Governance, dilakukan secra bertahap dan berkelanjutan dalam rangka penyempurnaan kebijakan dengan penerapan tata kelola perusahaan.
Pelaksanaan Good Corporate Governance adalah suatu tata kelola yang menerapkan lima prinsip yaitu prinsip-prinsip keterbukaan (transparency), akuntabilitas (Accountability), pertanggungjawaban (responsibility), profesional (professionality) dan kewajaran (fairness). PT. Bank Sulselbar Syariah Makassar senantiasa berupaya untuk melaksanakan prinsip Good Corporate Governance yang meliputi kelima prinsip utama tersebut dengan baik dan menjadi pedoman bagi setiap karyawan untuk senantiasa melakukan peningkatan penyempurnaan dalam pelaksanaannya.
Wujud kepedulian sosial yang dilaksanakan oleh PT. Bank sulselbar berperan aktif Bank untuk selalu berkontribusi pada lingkungan sekitarnya dalam bentuk penyaluran dana.
2. Prinsip-prinsip Good corporate governance pada PT. Bank Sulselbar Syariah Makassar
Berdasarkan asas-asas Good Corporate Governance , maka PT. Bank Sulselbar Syariah Makassar menerapkan prinsip-prinsip Good Corporate Governance yang sejalan dengan asas tersebut yaitu: transparansi, akuntabilitas, responsibilitas, profesional serta kewajaran dan kesetaraan (fairness).
1. Transparansi(transparency)
Penerapan prinsip transparansi yang dilaksanakan oleh PT. Bank Sulselbar Syariah Makassar telah dilakukan dengan baik, hal ini dapat dilihat dari kondisi keuangan secara komprehensif telah disampaikan dalam laporan keuangan
konsolidasi UUS maupun laporan publikasi,adapun informasi lain yang diungkapkan antara lain kepemilikan dan pengelolaan perusahaan serta menginformasikan produk-produk yang dikeluarkan oleh Bank dengan cara melakukan promosi melalui media cetak lokal/daerah, pengumuman pada kantor cabang, brosur dan sebagainya.
Dengan diterapkannya prinsip ini, maka informasi yang akurat dapat diperoleh karena sistem yang ada di perusahaan dapat menjamin terciptanya keadilan dan kejujuran semua pihak.
2. Akuntabilitas(Accountability)
PT. Bank Sulselbar Syariah Makassar telah menetapkan kejelasan fungsi, struktur, system dan pertanggungjawaban elemen perusahaan. Apabila prinsip ini diterapkan secara efektif, maka akan ada kejelasan akan fungsi, hak, kewajiban dan wewenang serta tanggung jawab dari masing-masing organ perusahaan.
Dalam hal ini setiap pegawai PT. Bank Sulselbar Syariah Makassar diharuskan melaksanakan pekerjaannya sesuai dengan job description yaitu dengan melihat jabatan, tugas dan tanggung jawabnya pada perushaan.
Akuntabilitas merupakan asas penting dalam perbankan syariah sebagaimana tercermin dalam QS Al-Isra;84 .
Katakanlah: "Tiap-tiap orang berbuat menurut keadaannya[867] masing- masing". Maka Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalanNya.
Dengan diterapkannya prinsip ini, maka bank dapat meminimalisir terjadinya resiko operasional khususnya pada bagian internal bank karena masing- masing jajaran dapat bertanggungjawab sesuai dengan tugas, tanggungjawab dan kemampuan masing-masing.
3. Responsibilitas(Responsibility)
PT. Bank Sulselbar Syariah Makassar telah melaksanakan Corporate social responsibility. Contoh pertanggung jawaban PT. Bank Sulselbar Syariah Makassar yaitu;
a. Pertanggung jawaban pada Bank Indonesia dan kantor pusat
PT. Bank Sulselbar Syariah Makassar melaksanakan tanggung jawabnya pada Bank Indonesia sama halnya dengan pertanggung jawaban pada kantor pusat, yaitu dengan memberikan laporan keuangan bulanan maupun triwulan, dan segala kejadian yang dapat mempengatuhi kondisi bank.
b. Pertanggung jawaban pada pegawai
Yaitu dengan memberikan reward terhadap pegawai yang memiliki kinerja yang bagus, serta memfasilitasi pegawai untuk meningkatkan kompetensinya.
c. Pertanggung jawaban pada masyarakat
PT. Bank Sulselbar Syariah Makassar telah melakukan Corporate social responsibility dengan menyelenggarakan wujud kepedulian sosial
yang selalu berkontribusi pada lingkungan sekitarnya dalam bentuk penyaluran dana.
Dalam hubungan dengan asas responsibilitas (responsibility), pihak bank harus mematuhi peraturan perundangan dan ketentuan perbankan syariah, serta melaksanakan tanggung-jawab terhadap masyarakat dan lingkungan.
Tanggungjawab atas perbuatan manusia dilakukan baik di dunia maupun di akhirat, yang semuanya direkam dalam catatan yang akan dicermatinya nanti, sebagaimana firman Allah Swt dalam QS al-Isra; 14.
“Bacalah kitabmu (laporan pertanggungjawabanmu). Cukuplah kamu pada waktu itu mengevaluasi dirimu sendiri.”
Dengan pertanggungjawaban ini maka entitas PT. Bank Sulselbar syariah Makassar dapat terpelihara kesinambungannya dalam jangka panjang dan mendapat pengakuan sebagai pelaku bisnis yang baik (good corporate citizen) oleh pihak lain.
4. Profesional(Professionality)
PT. Bank Sulselbar Syariah Makassar mengharuskan semua pihak memiliki kompetensi, mampu bertindak obyektif, dan bebas dari pengaruh/tekanan dari pihak manapun (independen) serta memiliki komitmen yang tinggi untuk mengembangkan perusahaan. Dalam hubungan dengan asas independensi (independency), bank harus dikelola secara independen sehingga masing-masing pihak tidak boleh saling mendominasi dan tidak dapat diintervensi
oleh pihak manapun. Independensi terkait dengan konsistensi atau sikapistiqomah yaitu tetap berpegang teguh pada kebenaran meskipun harus menghadapi risiko, sesuai dengan QS Fushshilat;30.
“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan Kami ialah Allah"
kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, Maka Malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: "Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu".
Dengan diterapkannya prinsip ini , maka pada PT. Bank Sulsebar Syariah Makassar tidak terdapat transaksi yang mengandung benturan kepentingan.
5. Kewajaran(fairness)
PT. Bank Sulselbar Syariah Makassar telah memberikan informasi yang wajar serta akurat kepada nasabah selaku stakeholdersehingga dapat mengetahui dan mempertimbangkan resiko yang terjadi apabila menetapkan pilihannya untuk berinvestasi pada PT. Bank Sulselbar Syariah Makassar.
Prinsip ini menuntut adanya perlakuan yang adil dalam memenuhi hak stakeholder sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku. Diharapkan fairness dapat menjadi faktor pendorong yang dapat memonitor dan memberikan jaminan perlakuan yang adil di antara beragam kepentingan pada PT. Bank Sulselbar syariah Makassar.
Kewajaran dan kesetaraan (fairness) mengandung unsur kesamaan perlakuan dan kesempatan. Allah Swt berfirman dalam QS al-Maida;8.
“Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu Jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk Berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan”.
Pemberlakuan prinsip ini pada PT. Bank Sulselbar syariah Maksassar akan mencegah praktek-praktek tercela yang dilakukan oleh orang dalam yang dapat merugikan pihak lain.
3. Unsur-unsur Good Corporate Governance PT.Bank Sulselbar Syariah Makassar
a. Direktur PT. Bank Sulselbar Syariah Makassar Tugas dan tanggung jawab Direktur yaitu:
1) Mengkoordinasikan dan mengendalikan kegiatan-kegiatan dibidang administrasi keuangan, kepegawaian dan kesekretariatan PT. Bank Sulselbar Syariah Makassar
2) Mengkoordinasikan dan mengendalikan kegiatan pengadaan dan peralatan perlengkapan PT. Bank Sulselbar Syariah Makassar.
3) Merencanakan dan mengembangkan sumber-sumber pendapatan serta pembelanjaan dan kekayaan PT. Bank Sulselbar Syariah Makassar.
4) Mengendalikan uang pendapatan, hasil penagihan rekening penggunaan air dari langganan.
5) Memimpin seluruh komite eksekutif PT. Bank Sulselbar Syariah Makassar.
b. Dewan Pengawas SyariahPT. Bank Sulselbar Syariah Makassar.
DPS adalah dewan yang bertugas memberikan nasehat dan saran kepada Direksi sebagai supervisior PT. Bank Sulselbar Syariah Makassar dan mengawasi kegiatan bank agar sesuai dengan prinsip-prinsip syariah.
4. Pelaksanaan Good Corporate Governance PT. Bank Sulselbar Syariah Makassar dalam perspektif Islam
1) Tauhid
Konsep tauhid ini berhubungan dengan konsep ke-Esaan Tuhan yang mengajarkan kepada manusia bahwa Tuhan adalah satu atau Maha Tunggal, tauhid merupakan fondasi utama seluruh ajaran Islam. Dengan demikian Tauhid menjadi dasar seluruh konsep dan aktivitas umat Islam, baik di bidang ekonomi, politik, sosial maupun budaya.
Dalam konteks ini Ismail Al- Faruqi mengatakan,”Tauhid sebagai prinsip pertama tata ekonomi yang menciptakan negara sejahtera pertama, dan Islamlah yang melembagakan sosialis pertama dan melakukan lebih banyak keadilan sosial. Islam juga yang pertama merehabilitasi (martabat) manusia. Pengertian (konsep) yang ideal ini tidak ditemukan dalam masyarakat Barat masa kini”.
Konsep tauhid yang menjadi dasar filosofis ini, mengajarkan dua ajaran utama dalam ekonomi:
a. Semua sumber daya yang ada di alam ini merupakan ciptaan dan milik Allah secara absolut (mutlak dan hakiki). Manusia hanya sebagai pemegang amanah
(trustee) untuk mengelola sumberdaya itu dalam rangka mewujudkan kemakmuran dan kesejahteraan kehidupan manusia secara adil.
Dalam mengelola sumberdaya itu manusia harus mengikuti aturan Allah dalam bentuk syariah. Firman Allah, (QS:Al-Jatsiyah;18)
“kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama itu), Maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui.”
Salah satu contoh praktik ekonomi saat ini yang bertentangan dengan Tauhid adalah bunga. Bunga (interest) yang memastikan usaha harus berhasil (untung) bertentangan dengan tauhid. Padahal setiap usaha mengandung tiga kemungkinan, yaitu untung, impas atau rugi. Lebih dari itu, tingkat keuntungan itupun bisa berbeda-beda, bisa besar, sedang atau kecil. Jadi, konsep bunga benar-benar tidak sesuai dengan syariah, karena bertentangan dengan prinsip tauhid.
b. Allah menyediakan sumber daya alam sangat banyak untuk memenuhi kebutuhan manusia. Manusia yang berperan sebagai khalifah, dapat memanfaatkan sumber daya yang banyak itu untuk kebutuhan hidupnya. Dalam perspektif teologi Islam, semua sumber daya yang ada, merupakan nikmat Allah yang tak terhitung ( tak terbatas ) banyaknya, sebagaimana dalam firman Allah:
“dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dan segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).”( QS. Ibrahim: 34)
Terdapat beberapa contoh penerapan konsep Tauhid dalam etika bisnis yaitu :
(a) Seorang pengusaha muslim tidak akan menimbun kekayaan dengan penuh keserakahan. Konsep kepercayaan dan amanah memiliki makna yang sangat penting baginya karena ia sadar bahwa semua harta dunia bersifat sementara, dan harus dipergunakan sebaik mungkin. Tindakan kaum muslimin tidak semata-mata merujuk kepada keuntungan, dan tidak mencari kekayaan dengan cara apapun.
(b) Seorang pengusaha muslim tidak akan bisa dipaksa (disuap) oleh siapapun untuk berbuat tidak etis, karena ia hanya takut dan cinta kepada Allah Swt. Ia selalu mengikuti alur perilaku yang sama dimanapun ia berada apakah itu di masjid, di dunia kerja atau aspek apapun dalam kehidupannya, dan ia selalu merasa bahagia.
(c) Seorang pengusaha muslim tersebut tidak akan berbuat diskriminatif terhadap pekerja, pemasok, pembeli, atau para pemegang saham perusahaaan tersebut atas dasar ras, agama, kulit dan lain sebagainya.
Pada PT. Bank Sulselbar Syariah Makassar penerapan konsep tauhid tercermin pada pelaksanaan prinsip syariah dalam kegiatan penghimpunan dana dan penyaluran dana serta pelayanan jasa untuk menciptakan suasana dan kondisi bermuamalah yang tertuntun oleh nilai-nilai ke-Tuhanan
.
dalam penghimpunan dan penyaluran dana tersebut dilakukan dengan cara bagi hasil, yaitu penentuan besarnya hasil sesudah berusaha, pembagian laba akan meningkat sesuai dengan peningkatan jumlah pendapatan.2) Taqwa dan ridha
Dari segi bahasa taqwa berasal daripada perkataan “wiqayah” yang diartikan “memelihara”. Maksud dari pemeliharaan itu adalah memelihara hubungan baik dengan Allah SWT., memelihara diri daripada sesuatu yang dilarangNya. Melaksanakan segala titah perintahNya dan meninggalkan segala laranganNya.
Pengertian kata Ridha berasal dari bahasa Arab yaitu dari kata rhadiya yang berarti senang, suka, rela. Ridho merupakan sifat yang terpuji yang harus dimiliki oleh manusia. Ridha menurut kamus al-Munawwir artinya senang, suka, rela. Dan bisa diartikan Ridho/rela adalah nuansa hati kita dalam merespon semua pemberian Tuhan yang setiap saat selalu kita rasakan. Pengertian ridha juga ialah menerima dengan senang segala apa yang diberikan oleh Allah SWT. baik berupa peraturan (hukum) ataupun qada’ atau sesuatu ketentuan dari Allah SWT. Jadi
ridho adalah perilaku terpuji menerima dengan senang apa yang telah diberikan Allah kepadanya, berupa ketentuan yang diberikan kepada manusia.
Manfaat suatu keridhaan yaitu dengan ridha umat manusia akan menimbulkan rasa optimis yang kuat dalam menjalani dan menatap kehidupan di masa depan dengan mengambil hikmah dari kehidupan masa lampau, orang yang berhati ridha atas keputusan-keputusan Allah SWT, hatinya menjadi lapang, dan jauh dari sifat iri hati, dengki hasat dan bahkan tamak/rakus, ridha akan menumbuhkan sikap husnuz zann, terhadap ketentuan-ketentuan Allah, sehingga manusia tetap teguh iman dan amal shalehahnya, dengan ridha setiap kesulitan yang kita hadapi akan ada jalan keluarnya, di tiap satu kesulitan ada dua kemudahan, dengan ridha akan menumbuhkan rasa cinta kasih terhadap sesama makhluk Allah SWT, dan akan lebih dekat dengan Allah SWT.
Konsep taqwa dan ridha dalam melakukan suatu bisnis artinya hendaklah seseorang mematuhi segala aturan atau ketentuan yang telah ditetapkan, Dalam berbisnis harus atas dasar suka sama suka, tidak dibenarkan adanya pemaksaan ataupun penipuan karena prinsip ridha dalam bisnis menunjukkan keikhlasan dari semua pihak.
Dalam melakukan bisnis hendaknya setiap orang disamping mempunyai tujuan akhir berupa upah atau imbalan, namun harus mempunyai tujuan utama, yaitu memperoleh keridhaan Allah SWT. Prinsip inilah yang harus dipegang teguh oleh umat Islam sehingga hasil pekerjaan mereka bermutu dan monumental sepanjang zaman. Sebagaimana firman Allah SWT dal QS Al-Maidah:119
“Allah berfirman: "Ini adalah suatu hari yang bermanfaat bagi orang- orang yang benar kebenaran mereka. bagi mereka surga yang dibawahnya mengalir sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya; Allah ridha terhadapNya. Itulah keberuntungan yang paling besar"
Prinsip taqwa dan ridha pada PT. Bank Sulselbar Syariah Makassar tercakup pada penyaluran dana kepada Nasabah, pembiayaan inti dan penyimpanan dana oleh deposan inti. Dimana pembiayaan tersebut terbagi dalam 4 kategori yang dibedakan berdasarkan tujuan penggunaannya yaitu:
a) Pembiayaan dengan prinsip jual beli( ba’i ), prinsip jual beli dilaksanakan sehubungan dengan adanya perpindahan kepemilikan barang atau benda dengan tingkat keuntungan ditentukan di depan dan menjadi bagian harga atas barang yang dijual.
b) Pembiayaan dengan Prinsip Sewa (Ijarah)
Transaksi Ijarah dilandasi oleh adanya perpindahan manfaat. Jadi pada dasarnya prinsip Ijarah sama saja dengan prinsip jual beli, tapi perbedaannya terletak pada objek transaksinya. Bila pada jual beli objek transaksinya adalah barang, pada ijarah objek transaksi adalah jasa. Pada akhir masa sewa, bank dapat saja menjual barang yang disewakan kepada nasabah.
c) Prinsip Bagi Hasil
Produk pembiayaan syariah yang didasarkan atas prinsip bagi hasil dengan cara bagi hasil disepakati berdasarkan proporsi pembagian (nisbah).
d) Pembiayaan Dengan Akad Pelengkap
Untuk mempermudah pelaksanaan pembiayaan, biasanya diperlukan akad pelengkap. Akad pelengkap ini tidak ditujukan untuk mencari keuntungan, tetapi ditujukan untuk mempermudah pelaksanaan pembiayaan, meskipun tidak ditujukan untuk mencari keuntungan, dalam akad pelengkap ini dibolehkan untuk meminta pengganti biaya-biaya yang dikeluarkan untuk melaksanakan akad ini.
3) Ekuilibrium ( keseimbangan dan keadilan )
Prinsip adil merupakan pilar penting dalam ekonomi Islam. Penegakkan keadilan telah ditekankan dalam Al Quran sebagai misi utama para Nabi yang diutus Allah (QS.Al-Hadiid:25).
“Sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka Al kitab dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan. dan Kami ciptakan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat bagi manusia, (supaya mereka mempergunakan besi itu) dan supaya Allah mengetahui siapa yang menolong (agama)Nya dan rasul-rasul-Nya Padahal Allah tidak dilihatnya. Sesungguhnya Allah Maha kuat lagi Maha Perkasa.”
Penegakan keadilan ini termasuk keadilan ekonomi dan penghapusan kesenjangan pendapatan. Allah yang menurunkan Islam sebagai sistem kehidupan
bagi seluruh umat manusia, menekankan pentingnya adanya keadilan dalam setiap sektor, baik ekonomi, politik maupun sosial.
Aspek Tauhid yang menjadi fondasi utama ekonomi Islam, mempunyai hubungan kuat dengan konsep keadilan sosiol-ekonomi dan persaudaraan.
Ekonomi Tauhid yang mengajarkan bahwa Allah sebagai pemilik mutlak dan manusia hanyalah sebagai pemegang amanah, mempunyai konsekuensi, bahwa di dalam harta yang dimiliki setiap individu terdapat hak-hak orang lain yang harus dikeluarkan sesuai dengan perintah Allah, berupa zakat, infaq dan sedekah dan cara-cara lain guna melaksanakan pendistribusian pendapatan yang sesuai dengan konsep persaudaraan umat manusia.
Dalam beraktivitas di dunia kerja dan bisnis Islam mengharuskan untuk berbuat adil, tak terkecuali pada pihak yang tidak disukai, hal ini sesuai dengan firman Allah dalam QS Al-Maidah:8.
“ orang-orang yang beriman hendaklah kamu Jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk Berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.”
Prinsip keseimbangan atau kesetaraan berlaku baik secara harfiah maupun kias dalam dunia bisnis. Sebagai contoh, Seorang pengusaha muslim tidak melakukan kecurangan dalam takaran di pasaran dengan tujuan untuk mendapat keuntungan yang lebih banyak dengan merugikan pihak lain, karena ini merupakan perbuatan dzalim yang sangat dibenci Allah Swt. Dalam konsep ini juga, Islam mengekang kecenderungan pebisnis bersikap serakah dan kecintaannya untuk memiliki barang-barang yang pada akhirnya akan menimbulkan sikap kikir maupun boros.
Prinsip ekuilibrium mengacu pada transparansi kondisi keuangan dan non keuangan , laporan pelaksanaan GCG dan pelaporan internal yang dilakukan oleh PT. Bank Sulselbar Syariah Makassar. Dengan adanya transparansi tersebut maka akan tercipta keadilan dan tidak akan terjadi kecurangan yang dapat merugikan stakeholders.
4) Kemashlahatan
Kemashlahatan Secara umum , mashlahat diartikan sebagai kebaikan ( kesejahteraan ) dunia dan akhirat. Para ahliushul fiqhmendefenisikannya sebagai segala sesuatu yang mengandung manfaat, kebaikan dan menghindarkan diri dari mudharat, kerusakan dan mufsadah. Imam al Ghazali menyimpulkan bahwa mashlahat adalah upaya untuk mewujudkan dan memelihara lima kebutuhan dasar, yakni:
(a) Pemeliharaan agama (hifdzud-din), yang terkait pula dengan pemeliharaan sarana dan prasarana ibadah dan ketentuan lainnya dalam ajaran Islam.
(b) Pemeliharaan jiwa (hifhzun-nafs) yang berimplikasi pada aspek kesehatan;
(c) Pemeliharaan akal (hifhzul-‘aql), melalui pendidikan dan pengembangan ilmu pengetahuan
(d) Pemeliharaan keturunan (hifhzun-nasl), melalui pemeliharaan kesehatan.
(e) Pemeliharaan harta benda (hifhzul-maal) termasuk dalam hal pengembangan ekonomi dan bisnis.
Al mashlahah sebagai salah satu model pendekatan dalam ijtihad menjadi sangat vital dalam pengembangan ekonomi Islam dan siyasah iqtishadiyah (kebijakan ekonomi). Mashlahah adalah tujuan yang ingin diwujudkan oleh syariat. Mashlahah merupakan esensi dari kebijakan-kebijakan syariah (siyasah syar`iyyah) dalam merespon dinamika sosial, politik, dan ekonomi. Maslahah
`ammah (kemaslahatan umum) merupakan landasan muamalah, yaitu kemaslahatan yang dibingkai secara syariah, bukan semata-mata profit motive sebagaimana dalam ekonomi konvensional.
Penerapan konsep kebajikan dalam etika bisnis menurut Al Ghazali, terdapat lima bentuk kebajikan :
(a) Jika seseorang membutuhkan sesuatu, maka orang lain harus memberikannya dengan mengambil keuntungan yang sedikit mungkin, jika sang pemberi melupakan keuntungannya, maka hal tersebut akan lebih baik baginya.
(b) Jika seseorang membeli sesuatu dari orang miskin, akan lebih baik baginya untuk kehilangan sedikit uang dengan membayarnya lebih dari harga yang sebenarnya. Tindakan seperti ini akan memberikan akibat yang mulia. Bukan suatu hal yang patut dipuji untuk membayar orang kaya lebih dari apa yang seharusnya diterima manakala ia dikenal sebagai orang yang suka mencari keuntungan yang tinggi.
(c) Dalam mengabulkan hak pembayaran dan pinjaman, seorang pebisnis Islam harus bertindak secara bijaksana dengan memberi waktu yang lebih banyak kepada sang peminjam untuk membayar hutangnya dan jika diperlukan, seseorang harus membuat pengurangan pinjaman untuk meringankan beban sang peminjam.
(d) Ketika pebisnis menjual barang secara kredit kepada seseorang, ia harus cukup bermurah hati, tidak memaksa membayar dalam waktu yang telah ditetapkan.
(e) Barang atau uang yang dipinjam harus dikembalikan tanpa diminta.
Pelaksanaan bisnis dalam Islam hendaknya juga mengikuti pelaksanaan bisnis Rasulullah SAW yang merupakan iplementasi dari sifat-sifat beliiau yang dikategorikan oleh para ulama menjadi empat ShiFAT sebagai kepanjangan dari:Shiddiq, Fathonah, AmanahdanTabligh.
(a) Shiddiqberarti benar, yaitu senantiasa menyatakan dan melakukan kebenaran dan kejujuran dimanapun berada dan kepada siapapun. Implikasinya dalam