PERSPEKTIF ISLAM PADA PT. BANK SULSELBAR SYARIAH MAKASSAR
MUTMAINNAH 10573 02521 11
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR
MAKASSAR 2015
iii Assalamua’ Alaikum Wr.Wb
Alhamdulillah, puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah Yang Maha Esa, yang telah melimpahkan nikmat iman dan nikmat ilmu serta Rahmat dan Hidayah- Nya yang diberikan kepada penulis, tiada kuasa yang dapat menghalangi-Nya dalam menuntun Hamba-Nya ke jalan yang lurus. Shalawat dan Salam yang tiada pernah terputus sampai ke akhir zaman kepada sang pemimpin sejati, Nabi Muhammad SAW, yang telah mengajarkan tanggung jawab kepada seluruh umat di muka bumi ini. Puji syukur penulis panjatkan atas kehendak-Nya sehingga penyusunan skripsi ini dapat terselesaikan, yang merupakan salah satu syarat untuk meraih gelar Sarjana Ekonomi pada Program Studi Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Muhammadiyah Makassar.
Penyusunan skripsi ini tidak lepas dari hambatan dan rintangan, namun demikian, dengan bimbingan, arahan, masukan, dan kerja sama berbagai pihak yang turut membantu selama penyusunan skripsi ini sehingga penulis dapat menyelesaikannya. Untuk itu pada bagian ini, dengan segala kerendahan hati dan rasa hormat yang setinggi-tingginya penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar- besarnya kepada:
iv
2. Bapak Ismail Badollahi, SE.,M.Si. Ak. CA dan Dr. H.Abd. Rahman Rahim, SE.,MM selaku dosen pembimbing atas waktu yang telah diluangkan untuk membimbing, memberi motivasi, dan memberi bantuan literatur, serta diskusi- diskusi yang dilakukan dengan penulis.
3. Bapak Dr. H. Irwan Akib, M.Pd selaku Rektor Universitas Muhammadiyah Makassar
4. Bapak Dr. H. Mahmud Nuhung, SE, MA selaku Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Makassar, atas segala kebijakan yang telah diterapkan guna menujang keberhasilan penulis
5. Bapak Ismail Badollahi SE, M.si. Ak. CA selaku Ketua Jurusan Akuntansi Muhammadiyah Makassar
6. Seluruh staf pengajar/dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Makassar
7. Teman-teman kelas AK-4-2011 atas kebersamaanya yang selalu memberikan saran dan motivasi.
8. Teman-teman IMAI yang telah memberikan dukungan serta seluruh pihak yang telah terlibat dalam penyusunan skripsi ini.
v
dengan itu penulis mengharapkan segala bentuk kritik dan saran yang membangun dari pihak lain untuk mengembangkan diri di masa-masa yang akan datang.
Bantuan dari semua pihak kiranya Allah SWT yang memperhitungkan.Dan apabila terdapat kesalahan-kesalahan dalam penyusunan skripsi ini maka sepenuhnya menjadi tanggungjawab penulis dan bukan para pemberi bantuan. Pada akhirnya penulis berharap skripsi ini dapat memberikan manfaat khususnya dikalangan pembaca. Amiin....
Billahi Fii Sabililhaq, Fastabiqul Khaerat Wassalamu ‘alaikum Wr. Wb
Makassar, Juni 2015
Penulis
ii
(Pembimbing, H.Abd. Rahman Rahim dan Ismail Badollahi)
Good Corporate Governance merupakan seperangkat sistem yang dapat mendorong kinerja perusahaan untuk berfungsi secara efisien guna menghasilkan nilai ekonomi jangka panjang yang berkesinambungan bagi para pemegang saham maupun masyarakat sekitar secara keseluruhan. Salah satu implementasi Good Corporate Governance yaitu Corporate Social Responsibility. Oleh karena itu, Good Corporate Governancedapat diukur berdasarkan tingkat leveragekeuangan perusahaan. Dengan diterapkannyaGood Corporate Governance oleh perusahaan diharapkan dapat meningkatkan nilai profitabilitas yang diproksikan menggunakanreturn on investment.
Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan apakah Good Corporate Governance dalam perspektif Islam telah diterapkan pada PT. Bank Sulselbar Syariah Makassar.
Metodologi dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dengan penekanan utama pada penelitian sumber, mengungkapkan fakta, serta menguraikan data yang diperoleh dari penelitian, dengan menggunakan bahasa yang mudah dimgerti, kemudian data yang diperoleh diuraikan serta dikembangkan berdasarkan teori yang ada sehingga diperoleh gambaran yang jelas mengenai penerapan Good Corporate Governance dalam perspektif Islam pada PT. Bank Sulselbar Syariah Makassar. Literatur yang digunakan dalam penelitian ini adalah buku, jurnal, skripsi, maupun artikel-artikel yang berkaitan dengan Good Corporate Governance dalam perspektif Islam serta penerapannya pada bank syariah.
Hasil dari penelitian ini menunujukkan bahwa prinsip-prinsip Good Corporate governance syariah yang terdiri dari tauhid, taqwa dan ridha, equilibrium serta kemaslahatan telah tercakup dalam pelaksanaan Good Corporate GovernancePT. Bank Sulselbar Syariah Makassar, Prinsip tauhidserta taqwa dan ridha tercermin dari pelaksanaan prinsip syariah dalam kegiatan penghimpunan dana dan pelayanan jasa Bank. Prinsipkemashlahatansendiri telah dicanangkan dalam wujud kepedulian sosial untuk selalu berkontribusi pada lingkungan sekitarnya dalam bentuk penyaluran dana sebagai programCorporate Social Responsibility yang menjadi kewajiban bagi setiap perusahaan dalam bentuk kepedulian sosial.
Kata Kunci:Good Corporate Governance, perbankan syariah, perspektif Islam
vi
HALAMAN SAMPUL ...
HALAMAN PERSETUJUAN... i
ABSTRAK ... ii
KATA PENGANTAR ... iii
DAFTAR ISI... vi
DAFTAR TABEL... viii
DAFTAR GAMBAR ... ix
BAB I PENDAHULUAN...1
A. Latar Belakang...1
B. Rumusan Masalah...5
C. Tujuan Penelitian ...5
D. Manfaat Penelitian...5
BAB II KAJIAN PUSTAKA...7
A. Konsep DasarGood Corporate Governance ...7
B. Agency Theory...12
C. Stakeholder Theory...15
D. Pedoman Pokok Pelaksanaan ...18
E. Good Corporate Governancedalam perspektif Islam ...20
F. Tahap-tahap Penerapan GCG ...24
G. PedomanGood Corporate GovernancePerbankan ...27
H. Penilaian ImplementasiGood Corporate Governance...29
vii
A. Lokasi dan Waktu penelitian ...42
B. Teknik Pengumpulan Data...42
C. Sumber Data ...42
D. Metode Analisis ...43
BAB IV GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN ...44
A. Sejarah singkat berdirinya PT. Bank Sulselbar Syariah ...44
B. Sumber daya manusia ...48
C. Struktur organisasi perusahaan ...49
BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ...51
A. Hasil dan Pembahasan ...51
BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN ...72
A. Kesimpulan ...72
B. Saran ...73
DAFTAR PUSTAKA ...75
viii
Tabel 5.1 Perhitungan nilai komposit PT. Bank Sulselbar Syariah di Makassar tahun 2014...70
ix
Gambar 4.1 Struktur organisasi perusahaan... 50
1 A. Latar Belakang Masalah
Krisis moneter yang terjadi di Indonesia sejak tahun 1997 telah berkembang menjadi krisis multi dimensi termasuk perekonomian sehingga menyebabkan banyak perbankan dan perusahaan besar menjadi bangkrut akibat lemahnya implementasi Good Corporate Governance. Kelemahan-kelemahan tersebut antara lain adalah minimnya keterbukaan perusahaan berupa pelaporan kinerja keuangan, kewajiban kredit dan pengelolaan perusahaan terutama bagi perusahaan yang belum go public, kurangnya pemberdayaan komisaris sebagai organ pengawasan terhadap aktivitas manajemen dan ketidakmampuan akuntan dan auditor memberi kontribusi atas sistem pengawasan keuangan perusahaan.
Istilah Corporate Governance ditemukan pertama kali pada tahun 1984 pada tulisanRobert I. Tricker dalam bukunyaCorporate Governance – Practices, Procedures, and Power in British Companies and Their Board of Directors, UK, Gower. Perhatian terhadap corporate governance saat ini muncul sebagai akibat dari adanya skandal keuangan yang menimpa perusahaan-perusahaan besar.
Lemahnya pelaksanaan corporate governance di perusahaan dianggap sebagai salah satu pemicu utama skandal keuangan.
Pertumbuhan dan perkembangan perbankan syariah di Indonesia semakin lama semakin meningkat. Seiring dengan perkembangan yang cepat tersebut, satu hal perlu dicermati adalah aspek Good Coorporate Govarnance (GCG) karena
terkait dengan berbagai macam resiko kerugian yang jika tidak diperhatikan akan merusak citra syariah di masa depan dan menjerumuskan bank syariah ke jurang kehancuran.
Pelaksanaan good corporate governance pada perbankan syariah berlandaskan pada lima prinsip dasar. (1) transparansi (transparency), yaitu keterbukaan dalam mengemukakan informasi yang material dan relevan serta keterbukaan dalam proses pengambilan keputusan. (2) Akuntabilitas (accountability), yaitu kejelasan fungsi dan paksanaan petanggung jawaba organ bank sehingga pengelolanya berjalan secara efektif. (3) pertanggung jawaban (responsibility), yaitu kesesuaian pengelola bank dan peraturan perundang- undangan yang berlaku dan prinsi-prinsip pengelolaan bank yang sehat. (4) Profesional (professional), yaitu memiliki kompetensi, mampu bentindak obyektif dan bebas dari pengaruh/tekanan dari pihak manapun (independen) serta memiliki komitmen yang tinggi untuk mengembangkan bank syariah.(5) kewajaran (fairness), yaitu keadilan dan kesetaraan dalam memenuhi hak-hak stakeholders berdasarkan perjanjian peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Untuk penerapan GCG yang efektif di lembaga perbankan syariah, maka Bank Indonesia mengeluarkan peraturan baru, yaitu PBI Nomor 11/33/PBI/2009 tanggal 7 Desember 2009 tentang PelaksanaanGood Corporate GovernanceBagi Bank Umum Syariah dan Unit Usaha Syariah. PBI ini mulai diberlakukan terhitung sejak 1 Januari 2010. PBI GCG Bank Syariah ini mengatur penerapan GCG bagi Dewan Komisaris, Direksi dan Dewan Pengawas Syariah (DPS) .
Tulisan ini hanya memfokuskan kajian pada penerapan GCG pada Dewan Pengawas Syariah.Dalam PBI tersebut terdapat enam poin penting yang mengatur masalah Dewan Pengawas Syariah, yaitu: Persyaratan DPS (pasal 45-45),Tugas
& Tanggung Jawab DPS (pasal 46-48), Rapat DPS (pasal 49), Transparansi (pasal 50-51), Sanksi (pasal 81-82), Lap. Hasil Pengawasan Syariah (pasal 88).
Melalui PBI ini diatur kegiatan-kegiatan yang menyangkut dengan check and balance yang harus dilakukan bank dan juga menghindariconflict of interestdalam melaksanakan tugas. Untuk meningkatkan kulaitas pelaksanaan GCG Bank diwajibkan untuk melakukanself assessmentsecara komprehensif agar kekurangan bisa segera di deteksi. Dan pada akhirnya Bank akan menyerahkan Laporan penerapan GCG ini kepadastakeholdersebagai sebuah bentuk transparansi yang dilakukan oleh manajemen.
Pelaksaaan Good Corporate Governance perbankan syariah tidak hanya dimaksudkan untuk memperoleh pengelolaan bank yang sesuai dengan lima prinsip dasar dan sesuai dengan prinsip syariah, akan tetapi juga di tujukan untuk kepentingan yang lebih luas. Kepetingan ini antara lain adalah untuk melindungi kepentingan stakeholders dan meningkatkan kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan yang berlaku serta nilai-nilai etika yang berlaku secara umum pada industri perbankan syariah.
Dalam ajaran Islam, point-point tersebut diatas menjadi prinsip penting dalam aktivitas dan kehidupan seorang muslim. Islam sangat intens mengajarkan untuk diterapkannya prinsip’adalah(keadilan), tawazun (keseimbangan),
mas’uliyah (akuntabilitas), akhlaq (moral), shiddiq (kejujuran), amanah (pemenuhan kepercayaan), fathanah (kecerdasan), tabligh (transparasi, keterbukaan), hurriyah (independensi dan kebebasan yang bertanggung jawab), ihsan (profesional), wasathan (kewajaran), ghirah (militansi syari’ah), idarah (pengelolaan), khilafah (kepemimpinan),aqidah (keimanan), ijabiyah (berfikir positif), raqabah(pengawasan),qira’ahdanishlah (organisasi yang terus belajar dan selalu melakukan perbaikan). Berdasarkan uraian di atas dapat dipastikan bahwa Islam jauh mendahului kelahiran GCG (Good Coorporate Governance) yang menjadi acuan bagi tata kelola perusahaan yang baik di dunia. Prinsip- prinsip itu diharapkan dapat menjaga pengelolaan institusi ekonomi dan keuangan syari’ah secara profesional dan menjaga interaksi ekonomi, bisnis dan sosial berjalan sesuai dengan aturan permainan danbest practiceyang berlaku.
PT. Bank Sulselbar Syariah ialah lembaga keuangan yang usaha pokoknya memberikan kredit dan jasa-jasa lalu lintas pembayaran serta peredaran uang yang pengoperasiannya disesuaikan dengan prinsip-prinsip syariah Islam, balas jasa yang diterima hanya berdasarkan pada perjanjian bagi hasil. Selanjutnya pada PT.
Bank Sulselbar Syariah dikenal istilah mudharabah,murabahah danmusyarakah untuk program pembiayaan. PT. Bank Sulselbar Syariah akan mendapatkan keuntungan berupa bagi hasil yang berasal dari proyek yang dibiayai oleh bank tersebut. Visi PT. Bank Sulselbar Syariah yaitu menjadi Bank Syariah yang terbaik di Indonesia Timur dengan dukungan manajemen dan sumber daya manusia yang profesional serta memberikan nilai tambah kepada Pemda dan masyarakat. Sedangkan misi PT. Bank Sulselbar Syariah yaitu; (1) Penggerak dan
pendorong laju pembangunan ekonomi daerah. (2) Pemegang kas daerah dan atau melaksanakan penyimpanan uang daerah. (3) Salah satu sumber pendapatan asli daerah.
Berdasarkan latar belakang di atas, penulis tertarik untuk mengkaji lebih dalam mengenai “PENERAPAN GOOD CORPORATE GOVERNANCE DALAM PERSPEKTIF ISLAM PADA PT. BANK SULSELBAR SYARIAH MAKASSAR “
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas, rumusan masalah dalam penelitian ini adalah apakahGood Corporate Governance perspektif Islam telah diterapkan di Bank Sulselbar Syariah Makassar?
C.Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah di atas, tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah Good Corporate Governance dalam perspektif Islam telah diterapkan di Bank Sulselbar Syariah Makassar.
D. Manfaat Penelitian 1. Manfaat Teoretis
Penelitian ini diharapkan mampu memberikan kontribusi terhadap ilmu pengetahuan, yaitu berupa teori Good Corporate Governance dalam perspektif Islam.
2. Manfaat Praktis
Penelitian ini akan memberikan manfaat kepada praktisi, yaitu berupa pemahaman mengenai konsep-konsep dan pedoman dalam penerapan Good Corporate Governance dalam praktek pada bank syariah.
3. Kebijakan
Penelitian ini akan menjadi bahan referensi untuk penelitian selanjutnya terkait dengan konsep penerapan Good Corporate Governance dalam perspektif Islam pada bank syariah.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Konsep DasarGood Corporate Governance 1. PengertianGood Corporate Governance
OECD dalam (Surya dan Yustiavandana,2006) Good Corporate Governance merupakan sekumpulan hubungan antara pihak manajemen perusahaan, pemegang saham dan pihak lain yang mempunyai kepentingan dengan perusahaan. Corporate governance juga mensyaratkan adanya struktur perangkat untuk mencapai tujuan dan pengawasan atas kinerja.
Menurut keputusan Menteri BUMN Nomor KEP-117/M-MBU/2002, Good Corporate Governance adalah suatu proses dari struktur yang digunakan oleh organ BUMN untuk meningkatkan keberhasilan usaha dan akuntabilitas perusahaan guna mewujudkan nilai pemegang saham dalam jangka panjang dengan tetap memperhatikan kepentingan stakeholders lainnya, berlandaskan peraturan perundangan dan nilai etika.
Tata kelola perusahaan yang baik (Good Corporate Governance) merupakan struktur yang oleh stakeholders, pemegang saham, komisaris dan manajer menyusun tujuan perusahaan dan sarana untuk mencapai tujuan tersebut dan mengawasi kinerja (OECD,2003).
Berdasarkan SK Bank Indonesia No. 8/4/PBI/2006, Good Corporate Governance adalah suatu tata kelola bank yang menerapkan prinsip-prinsip
7
keterbukaan (transparency), akuntabilitas (accountability), pertanggungjawaban (responsibility), independensi (independency), dan kewajaran (fairness).
Forum for Corporate Governance in Indonesia (FCGI) mendefinisikan Corporate Governance sebagai seperangkat peraturan yang mendefinisikan hubungan antara pemegang saham, manajer, kreditor, pemerintah, karyawan dan stakeholder internal dan eksternal lainnya sehubungan dengan hak dan tanggung jawab, atau sistem dimana perusahaan diarahkan dan dikendalikan.
Menurut Price Waterhouse Coopers,Good Corporate Governance terkait dengan pengambilan kepurusan yang efektif . dibangun melalui kultur organisasi, nilai-nilai, sistem, berbagai proses, kebijakan-kebijakan, dan struktur organisasi yang bertujuan untuk mencapai bisnis yang menguntungkan, efisien dan efektif dalam mengelola resiko dan bertanggungjawab dengan memerhatikan kepentinganstakeholders.
Pengertian lain datang dariFinance Committee on Corporate GovernanceMalaysia. Menurut lembaga tersebut, GCG merupakan suatu proses serta struktur yang digunakan untuk mengarahkan sekaligus mengelola bisnis dan urusan perusahaan ke arah peningkatan pertumbuhan bisnis dan akuntabilitas perusahaan.
Komite Cudbury mendefenisikan Good Corporate Governance adalah sistem yang mengarahkan dan mengendalikan perusahaan dengan tujuan agar mencapai keseimbangan dengan kekuatan kewenangan yang diperlukan oleh perusahaan.
Dari berbagai definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa Good Corporate Governance merupakan sistem yang mengatur dan mengendalikan perusahaan dengan penerapan beberapa prinsip guna mencapai bisnis yang menguntungkan, pengambilan keputusan dan mengelola resiko yang efisien serta memenciptakan nilai tambah bagi para pemangku kepentingan perusahaan dan masyarakat sekitar.
2. Tujuan dan ManfaatGood Corporate Governance
Konsep good corporate governance berkembang seiring dengan tuntutan publik yang menginginkan terwujudnya kehidupan bisnis yang sehat, bersih, dan bertanggung jawab. Tuntutan ini sebenarnya merupakan jawaban publik terhadap semakin maraknya kasus-kasus penyimpangan korporasi di seluruh dunia. Selain itu tuntutan ini juga mencerminkan keheranan publik mengapa kasus penyimpangan korporasi bisa terjadi dimanapun juga.
Di dalam era globalisasi dan persaingan dunia bisnis yang semakin terbuka dan kompetitif perusahaan-perusahaan dituntut memiliki Good Corporate Governance yang memuat ketentuan-ketentuan bagaimana perusahaan dimaksud berperilaku dan bertindak dalam menghadapi persaingan. Good Corporate Governancebukanlah semata-mata persoalan membentuk organ-organ perusahaan seperti komisaris independen dan komite audit, tapi Good Corporate Governance adalah bagaimana menciptakan pengelolaan perusahaan yang profesional melalui penerapan sistem akunting dan keuangan yang memenuhi standar serta bagaimana manajemen dilengkapi dengan sistem teknologi informasi yang mendukung operasional perusahaan.
Tujuan Good Corporate Governance pada intinya adalah menciptakaan nilai tambah bagi semua pihak yang berkepentingan. Pihak-pihak tersebut adalah pihak internal yang meliputi dewan komisaris, direksi, karyawan, dan pihak eksternal yang meliputi investor, kreditur, pemerintah, masyarakat dan pihak–
pihak lain yang berkepentingan (stakeholders). Dalam praktiknya Corporate Governance berbeda di setiap negara dan perusahaan karena berkaitan dengan sistem ekonomi, hukum, struktur kepemilikan, sosial dan budaya. Perbedaan praktik ini menimbulkan beberapa versi yang menyangkut prinsip-prinsip Corporate Governance, namun pada dasarnya mempunyai banyak kesamaan.
Untuk dapat mewujudkan good corporate governance di setiap perusahaan atau organisasi, perlu dibangun beberapa sarana pendukung yaitu : a. Perumusan visi, misi, dan tujuan perusahaan atau organisasi yang jelas.
b. Struktur organisasi yang menjamin keseimbangan pembagian tugas dan kejelasan tugas masing-masing, serta menghindari tumpang tindih dan hambatan birokratisme.
c. Kejelasan tanggungjawab dan kewenangan serta mekanisme kerja.
d. Budaya dan etika perusahaan.
e. Sistem pengendalian dan pengukuran kinerja.
Good Corporate Governance memberikan kerangka acuan yang memungkinkan pengawasan berjalan efektif sehingga tercipta mekanisme checks and balances di perusahaan. Dengan menerapkan Corporate Governance pada perusahaan, ada beberapa manfaat yang dapat diperoleh yakni:
Menurut FCGI (2001) manfaat dari penerapan Good Corporate Governanceadalah sebagai berikut :
a. Meningkatkan kinerja perusahaan melalui terciptanya proses pengambilan keputusan yang lebih baik, meningkatkan efisiensi operasional perusahaan serta lebih meningkatkan pelayanan kepadastakeholders.
b. Mempermudah diperolehnya dana pembiayaan yang lebih murah sehingga dapat lebih meningkatkancorporate value.
c. Mengembalikan kepercayaan investor untuk menanamkan modalnya di Indonesia.
d. Pemegang saham akan merasa puas dengan kinerja perusahaan karena sekaligus
3. Unsur-unsur Good Corporate Governance
Unsur-unsur Good Corporate Governance berasal dari dalam perusahaan dan dari luar perusahaan. Unsur-unsur tersebut akan menjamin berfungsinyaGood Corporate Governance(Sutedi, 2011: 41).
Sutedi (2011: 42) menyatakan bahwa unsur-unsur yang berasal dari dalam perusahaan dan unsur yang selalu diperlukan dalam perusahaan disebutCorporate Governance-Internal perusahaan. Unsur-unsur yang berasal dari dalam perusahaan yaitu: Pemegang saham, Direksi, Dewan komisaris, Manajer, Karyawan/serikat pekerja. Sistem remunerasi berbasis kinerja, Komite audit.
Sedangkan unsur-unsur yg selalu dibutuhkan di luar perusahaan: aturan dr code of conduct, fairness, akuntabilitas & jaminan hukum.
Unsur yang berasal dari luar perusahaan dan unsur yang selalu diperlukan di luar perusahaan disebut Corporate Governance-Eksternal Perusahaan. Unsur yang berasal dari luar perusahaan yaitu: Kecukupan undang-undang dan perangkat hukum, Investor, Institusi penyedia informasi, Akuntan publik;institusi yang memihak kepentingan publik, bukan golongan, Pemberi pinjaman, Lembaga yang mengesahkan legalitas. Sedangkan unsur-unsur yang selalu dibutuhkan di luar perusahaan: aturan daricode of conduct,fairness, akuntabilitas & jaminan hukum.
B.Agency Theory
Jensen dan Meckling pada tahun 1976 menghadirkan Agency theory setelah fenomena terpisahnya kepemilikan perusahaan dengan pengelolaan perusahaan. Menjelaskan hubungan antara prinsipal dan agen. Pengelola perusahaan bertindak sebagai agen dari pemilik perusahaan itu sendiri. Para pemilik perusahaan (prinsipal) akan mencari informasi, memberikan insentif untuk memastikan tanggung jawab para agen terhadap pemilik perusahaan. Dalam hubungan agensi antara prinsipal dengan agen, agency theory merujuk pada tiga unsur yang dapat mengekang perilaku menyimpang dari agen, yakni bekerjanya pasar tenaga kerja manajerial, bekerjanya pasar modal, dan bekerjanya pasar bagi keinginan menguasai dan memiliki atau mendominasi kepemilikan perusahaan.
Jensen dan Meckling dalam Isnanta (2008), menyatakan bahwa teori keagenan mendeskripsikan pemegang saham sebagai prinsipal dan manajemen sebagai agen. Manajemen merupakan pihak yang dikontrak oleh pemegang saham untuk bekerja demi kepentingan pemegang saham. Untuk itu manajemen
diberikan sebagian kekuasaan untuk membuat keputusan bagi kepentingan terbaik pemegang saham. Oleh karena itu, manajemen wajib mempertanggungjawabkan semua upayanya kepada pemegang saham. Karena unit analisis dalam teori keagenan adalah kontrak yang melandasi hubungan antara prinsipal dan agen, maka fokus dari teori ini adalah pada penentuan kontrak yang paling efisien yang mendasari hubungan antara prinsipal dan agen. Untuk memotivasi agen maka prinsipal merancang suatu kontrak agar dapat mengakomodasi kepentingan pihak- pihak yang terlibat dalam kontrak keagenan. Kontrak yang efisien adalah kontrak yang memenuhi dua faktor, yaitu :
1. Agen dan pinsipal memiliki informasi yang simetris artinya baik agen maupun majikan memiliki kualitas dan jumlah informasi yang sama sehingga tidak terdapat informasi tersembunyi yang dapat digunakan untuk keuntungan dirinya sendiri.
2. Risiko yang dipikul agen berkaitan dengan imbal jasanya adalah kecil yang berarti agen mempunyai kepastian yang tinggi mengenai imbalan yang diterimanya.
Teori keagenan merupakan basis teori yang mendasari praktik bisnis perusahaan yang dipakai selama ini. Teori tersebut berakar dari sinergi teori ekonomi, teori keputusan, sosiologi, dan teori organisasi. Prinsip utama teori ini menyatakan adanya hubungan kerja antara pihak yang memberi wewenang yaitu investor dengan pihak yang menerima wewenang (agensi) yaitu manajer.
Pemisahan pemilik dan manajemen di dalam literatur akuntansi disebut denganAgency Theory(teori keagenan). Teori ini merupakan salah satu teori yang
muncul dalam perkembangan riset akuntansi yang merupakan modifikasi dari perkembangan model akuntansi keuangan dengan menambahkan aspek perilaku manusia dalam model ekonomi. Teori agensi mendasarkan hubungan kontrak antara pemegang saham/pemilik dan manajemen/manajer. Menurut teori ini hubungan antara pemilik dan manajer pada hakekatnya sukar tercipta karena adanya kepentingan yang saling bertentangan.
Kemudian, masalah keagenan juga akan timbul jika pihak manajemen atau agen perusahaan tidak atau kurang memiliki saham biasa perusahaan tersebut.
Karena dengan keadaan ini menjadikan pihak manajemen tidak lagi berupaya untuk memaksimumkan keuntungan perusahaan dan mereka berusaha untuk mengambil keuntungan dari beban yang ditanggung oleh pemegang saham. Cara yang dilakukan pihak manajemen adalah dalam bentuk peningkatan kekayaan dan juga dalam bentuk kesenangan dan fasilitas perusahaan.
Tujuan dari teori agensi yaitu:
1. Untuk meningkatkan kemampuan individu (baik prinsipal maupun agen) dalam mengevaluasi lingkungan dimana keputusan harus diambil (The belief revision role
2. Untuk mengevaluasi hasil dari keputusan yang telah diambil guna mempermudah pengalokasian hasil antara prinsipal dan agen sesuai dengan kontrak kerja (The performance evaluation role).
Secara garis besar teori agensi dikelompokkan menjadi dua yaitu.positive agency research dan principal agent research. Positve agent research memfokuskan pada identifikasi situasi dimana agen dan prinsipal mempunyai
tujuan yang bertentangan dan mekanisme pengendalian yang terbatas hanya menjaga perilaku self serving agen. Secara ekslusif, kelompok ini hanya memperhatikan konflik tujuan antara pemilik (stockholder) dengan manajer.
Sementara ituprincipal agent researchmemfokuskan pada kontrak optimal antara perilaku dan hasilnya, secara garis besar penekanan pada hubungan principal dan agent. Principal-agent research mengungkapkan bahwa hubungan agent- principal dapat diaplikasikan secara lebih luas, misalnya untuk menggambarkan hubungan pekerja dan pemberi kerja, lawyer dengan kliennya, auditor dengan auditee.
Perspektif teori agensi dalam perkembangan dan pelaksanaan corporate governance dianggap kurang memadai karena hanya melibatkan hubungan yang sempit antara pemilik perusahaan dan pihak manajemen, yang secara kasat mata cenderung mengabaikan pihak-pihak lain yang memiliki kepentingan terhadap perusahaan. Berawal dari hal ini, maka perspektif teori stakeholder mulai diimplementasikan padacorporate governance.
C.Stakeholder theory
R. Edward Freemanpertama kali memperkenalkan teori Stakeholderpada tahun 1963 sebagai salah satu istilah yang sering digunakan dalam dunia organisasi dan korporasi. Perspektif teori stakeholder berusaha mengatur hubungan perusahaan dengan seluruh pihak yang memengaruhi dan dipengaruhi oleh perusahaan, baik pihak internal maupun eksternal perusahaan, sehingga
cakupan dan pengaruh positif dari pelaksanaan corporate governance bisa dirasakan lebih luas oleh masyarakat. Penerapan teori stakeholder dalam corporate governance dapat dilihat dengan jelas pada munculnya konsep Corporate Social Responsibility (CSR) maupun Green Accounting yang menekankan perhatian terhadap manusia dan alam yang merupakan bentuk pengembangan daricorporate governance.
Stakeholder adalah semua pihak, internal maupun eksternal, yang dapat mempengaruhi atau dipengaruhi oleh perusahaan baik secara langsung maupun tidak langsung. (Raymond, dalam Nor Hadi. 2011 : 93). Dengan demikian,stakeholders merupakan pihak internal maupun eksternal, seperti : pemerintah, perusahaan pesaing, masyarakat sekitar, lingkungan internasional, lembaga diluar perusahaan (LSM dan sejenisnya), lembaga pemerhati lingkungan, para pekerja perusahaan, kaum minoritas dan lain sebagainya yang keberadaannya sangat mempengaruhi dan dipengaruhi perusahaan. Hal pertama mengenai teori stakeholderadalah bahwastakeholderadalah sistem yang secara eksplisit berbasis pada pandangan tentang suatu organisasi dan lingkungannya, mengakui sifat saling mempengaruhi antara keduanya yang kompleks dan dinamis. Hal ini berlaku untuk kedua varian teori stakeholder, varian pertama berhubungan langsung dengan model akuntabilitas. Stakeholder dan organisasi saling mempengaruhi, hal ini dapat dilihat dari hubungan sosial keduanya yang berbentuk responsibilitas dan akuntabilitas. Oleh karena itu organisasi memiliki
akuntabilitas terhadap stakeholdernya. Sifat dari akuntabilitas itu ditentukan dengan hubungan antarastakeholderdan organisasi.
Tujuan utama dari teori stakeholder adalah untuk membantu manajemen perusahaan dalam meningkatkan penciptaan nilai sebagai dampak dari aktivitas- aktivitas yang mereka lakukan dan meminimalkan kerugian yang mungkin muncul bagistakeholdermereka.
Diskursus mengenai konsep corporate governance tidak serta merta berhenti pada teori stakeholder sebagai dasar yang mapan. Terdapat beberapa kritik atas landasan teori stakeholder yang digunakan dalam pelaksanaan corporate governance. Kritik itu khususnya datang dari kalangan cendikiawan dan ekonomi muslim yang menilai bahwa corporate governance konvensional yang menggunakan perspektif teori stakeholder memiliki kekurangan yang fundamental. Bahwa teori tersebut belum mencakupi hubungan mendasar dalam kehidupan ini, yaitu hubungan segala sesuatu dengan Tuhan. Hal tersebut mendorong para cendikiawan muslim untuk menggali lebih dalam mengenai bagaimana sebenarnya konsep Islam dalam memandang dan melaksanakan proses bisnis.
Sutedi (2011: 40) untuk melindungi kepentingan dari stakeholder, model- model alternatif harus memiliki elemen penting, antara lain:
1. Perbedaan dan pemisahan harus secara tegas dibuat antara perusahaan publik−institusi sosial dan pemilik yang mengontrol perseroan terbatas.
2. Sebuah kerangka kerja governance yang baru harus segera diterapkan pada perusahaan publik.
3. Peranan dan fungsi Direktur harus ditetapkan dan proses pemilihannya harus melalui konsultasi dengan karyawan, investor, pemasok, dan lembaga-lembaga regulator lain yang serelevan.
4. Penunjukan Direktur melalui proses di atas adalah untuk jangka waktu yang tetap selama 4 tahun.
5. Kewenangan penunjukan Direktur seharusnya diserahkan kepada Direktur independen.
D. Pedoman Pokok Pelaksanaan 1. Peranan Negara
Peranan Negara dalam hal ini dapat dijelaskan sebagai berikut ;
1) Melakukan koordinasi secara efektif antar penyelenggara negara dalam penyusunan peraturan perundang-undangan berdasarkan sistem hukum nasional dengan memprioritaskan kebijakan yang sesuai dengan kepentinngan dunia usaha dan masyarakat.
2) Mengikutsertakan dunia usaha dan masyarakat secara bertanggungjawab dalam penyusunan peraturan perundang-undangan
3) Menciptakan sistem politik yang sehat dengan penyelenggara negara yang memiliki integritas dan profesionalitas yang tinggi.
4) Melaksanakan peraturan perundang-undangan dan penegakan hukum secara konsisten.
5) Mencegah terjdinya Korupsi,Kolusi dan Nepotisme ( KKN ).
2. Peranan Dunia Usaha
Peranan dunia usaha dalam hal ini dapat dijelaskan sebagai berikut:
1) Menerapkan etika bisnis secara konsisten sehingga dapat terwujud iklim usaha yang sehat,efisien dan transparan.
2) Bersifat dan berperilaku yang memperlihatkan kepatuhan dunia usaha dalam melaksanakan peraturan perundang-undangan.
3) Mencegah terjadinya korupsi,kolusi dan nepotisme.
4) Meningkatkan kualitas struktur dan pengelolaan dan pola kerja perusahaan yang didasarkan pada asas Good Corporate Governance secara berkesinambungan.
5) Melaksanakan fungsi ombudsman untuk dapat menampung informasi tentang penyimpangan yang terjadi pada perusahaan.
3. Peranan Masyarakat
Peranan masyarakat dalam hal ini dapat dijelaskan sebagai berikut:
1) Melakukan kontrol sosial dengan memberikan perhatian dan kepedulian terhadap pelayanan masyarakat yang dilakukan penyelenggara negara serta terhadap kegiatan dan produk atau jasa yang dihasilkan oleh dunia usaha.
2) Melakukan komunikasi dengan penyelenggara negara dan dunia usaha dalam mengekspresikan pendapat dan keberatan masyarakat.
E.Good Corporate Governancedalam Perspektif Islam
Konsep tentang Good Corporate Governance secara universal sangat erat kaitannya dengan ajaran agama-agama yang ada. Prinsip Good Corporate Governance ternyata selaras dengan ajaran agama islam. Meskipun Islam selalu memperkenalkan etika yang baik, moral yang kuat, integritas, serta kejujuran, tidaklah mudah untuk menggabungkan nilai-nilai etika seperti itu menjadi Good Corporate Governanceyang Islami. Akibatnya, dalam prakteknya, sebagian besar dari perusahaan Islam menggunakan standar tata kelola perusahaan konvensional yang mungkin tidak konsisten dengan nilai-nilai Islam. Perspektif Islam melihat tata praktek perusahaan sebagai kewajiban Muslim kepada Allah, sehingga mengarah kepada kontrak 'implisit' dengan Allah dan kontrak eksplisit dengan manusia
Islam mempunyai konsep yang jauh lebih lengkap dan lebih komprehensif serta akhlaqul karimah dan ketaqwaan pada Allah SWT yang menjadi tembok kokoh untuk tidak terperosok pada praktek ilegal dan tidak jujur dalam menerima amanah. Tata kelola perusahaan yang baik, yang dalam terminologi modern disebut sebagai Good Corporate Governance berkaitan dengan Hadits Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Aisyah r.a yang artinya “Sesungguhnya Allah menyukai apabila seseorang melakukan sesuatu pekerjaan dilakukan dengan baik”.
Muqorobin (2011: 4) menyatakan bahwa Good Corporate Governance dalam Islam harus mengacu pada prinsip-prinsip berikut ini:
a. Tauhid
Tauhid adalah prinsip tentang ke-Esa-an Tuhan yang mengajarkan kepada manusia bahwa Tuhan adalah satu atau Maha Tunggal. Prinsip Tauhid mengajarkan kepada manusia untuk senantiasa mengingat bahwa dirinya hanyalah makhluk Allah yang harus taat kepada-Nya dan melaksanakan segala perintah serta meninggalkan larangan-Nya.
Tauhid dalam penerapannya pada bisnis syariah tercermin dalam penerapan prinsip-prinsip syariah dalam kegiatan penghimpunan dana, penyaluran dana, dan pelayanan jasa pada bank syariah.
b. Taqwa dan ridha
Prinsip atau azas taqwa dan ridha menjadi prinsip utama tegaknya sebuah institusi Islam dalam bentuk apapun azas taqwa kepada Allah dan ridha-Nya. Tata kelola bisnis dalam Islam juga harus ditegakkan di atas fondasi taqwa kepada Allah dan ridha-Nya dalam QS At-Taubah : 109.
“Maka Apakah orang-orang yang mendirikan mesjidnya di atas dasar taqwa kepada Allah dan keridhaan-(Nya) itu yang baik, ataukah orang-orang yang mendirikan bangunannya di tepi jurang yang runtuh, lalu bangunannya itu jatuh bersama-sama dengan Dia ke dalam neraka Jahannam. dan Allah tidak memberikan petunjuk kepada orang- orang yang zalim.
Dalam melakukan suatu bisnis hendaklah atas dasar suka sama suka atau sukarela. Tidaklah dibenarkan bahwa suatu perbuatan muamalah, misalnya perdagangan, dilakukan dengan pemaksaan ataupun penipuan. Jika hal ini terjadi,
dapat membatalkan perbuatan tersebut. Prinsip ridha ini menunjukkan keikhlasan dan iktikad baik dari para pihak.
c. Ekuilibrium (keseimbangan dan keadilan)
Tawazun atau mizan (keseimbangan) dan al-‘adalah (keadilan) adalah dua buah konsep tentang ekuilibrium dalam Islam. Tawazun lebih banyak digunakan dalam menjelaskan fenomena fisik, sekalipun memiliki implikasi sosial, yang kemudian sering menjadi wilayah al-‘adalah atau keadilan sebagai manifestasi tauhid khususnya dalam konteks sosial kemasyarakatan, termasuk keadilan ekonomi dan bisnis, Allah SWT berfirman dalam QS Ar-Rahman :7-9
“dan Allah telah meninggikan langit dan Dia meletakkan neraca (keadilan).supaya kamu jangan melampaui batas tentang neraca itu.dan Tegakkanlah timbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi neraca itu”
Prinsip ekuilibrium mengacu pada penyaluran dana kepada nasabah pembiayaan inti dan penyimpanan dana oleh deposan inti dengan spesial nisbah tergantung kepada besaran nominal deposito pada Bank syariah. Prinsip ini juga tercermin pada jaminan tidak adanya rangkap jabatan sebagai anggota Dewan Pengawas Syariah pada Lembaga Keuangan Syariah lainnya.
d. Kemashlahatan
Prinsip kemashlahatan dilaksanakan dalam bentuk penyaluran dana zakat dan dana kebajikan pada anggaran yang wajar dan memadai untuk mendukung pelaksanaan kegiatan corporate social responsibility perusahaan. Misalnya penyaluran dana kebajikan meliputi terhadap anak yatim dan dhuafa, pembangunan/renovasi masjid dan sekolah-sekolah, bantuan modal kambing untuk peternak, serta bantuan korban bencana alam, bantuan kesehatan, pembagian buku-buku dan komputer untuk sekolah-sekolah dan lain-lain.
Konsep tentangGood Corporate Governanceperspektif Islam melihat tata praktek perusahaan sebagai kewajiban Muslim kepada Allah, sehingga mengarah kepada kontrak 'implisit' dengan Allah dan kontrak eksplisit dengan manusia.
Khalifa dalam Widiyanti (2009) menyatakan bahwa keunggulan utama coporate governance dalam perspektif Islam yaitu orientasi utama pertanggungjawaban manajemen perusahaan adalah Allah sebagai pemilik alam beserta isinya. Penerapan etika Islam dalam berbisnis yang menjamin perlakuan jujur, adil terhadap semua pihak juga menjadi acuan utama pengelolaan perusahaan yang baik. Good Corporate Governance dijalankan tidak hanya sebagai bentuk pertanggungjawaban manajemen terhadap pemilik modal, tetapi lebih pada kebutuhan dasar setiap muslim untuk menjalankan syariat Islam secara utuh dan sempurna. Dengan dasar keyakinan kepada Allah makaGood Corporate Governanceakan memotivasi transaksi bisnis yang jujur, adil dan akuntabel.
F. Tahap-Tahap PenerapanGood Corporate Governance
Dalam pelaksanaan penerapanGood Corporate Governancedi perusahaan adalah penting bagi perusahaan untuk melakukan pentahapan yang cermat berdasarkan analisis atas situasi dan kondisi perusahaan, dan tingkat kesiapannya, sehingga penerapan Good Corporate Governance dapat berjalan lancar dan mendapatkan dukungan dari seluruh unsur di dalam perusahaan. Pada umumnya perusahaan-perusahaan yang telah berhasil dalam menerapkan Good Corporate Governancemenggunakan pentahapan berikut (Chinn, 2000;Shaw,2003):
1. Tahap Persiapan
Tahap ini terdiri atas 3 langkah utama:
a) awareness building, yaitu merupakan langkah awal untuk membangun kesadaran mengenai arti penting Good Corporate Governance dan komitmen bersama dalam penerapannya. Upaya ini dapat dilakukan dengan meminta bantuan tenaga ahli independen dari luar perusahaan. Bentuk kegiatan dapat dilakukan melalui seminar, lokakarya, dan diskusi kelompok.
b) Good Corporate Governance assessment, yaitu merupakan upaya untuk mengukur atau lebih tepatnya memetakan kondisi perusahaan dalam penetapan Good Corporate Governance saat ini. Langkah ini perlu guna memastikan titik awal level penerapan Good Corporate Governance dan untuk mengidentifikasi langkah-langkah yang tepat guna mempersiapkan infrastruktur dan struktur perusahaan yang kondusif bagi penerapan Good Corporate Governance secara efektif. Dengan kata lain, GCG assessment
dibutuhkan untuk mengidentifikasi aspek-aspek apa yang perlu mendapatkan perhatian terlebih dahulu, dan langkah-langkah apa yang dapat diambil untuk mewujudkannya
c) GCG manual building adalah langkah berikut setelah GCG assessment dilakukan. Berdasarkan hasil pemetaan tingkat kesiapan perusahaan dan upaya identifikasi prioritas penerapannya, penyusunan manual atau pedoman implementasi GCG dapat disusun. Penyusunan manual dapat dilakukan dengan bantuan tenaga ahli independen dari luar perusahaan.
Manual ini dapat dibedakan antara manual untuk organ-organ perusahaan dan manual untuk keseluruhan anggota perusahaan.
2. Tahap implementasi
Setelah perusahaan memiliki GCG manual, langkah selanjutnya adalah memulai implementasi di perusahaan. Tahap ini terdiri atas 3 langkah utama yakni:
a) Sosialisasi, diperlukan untuk memperkenalkan kepada seluruh perusahaan berbagai aspek yang terkait dengan implementasi Good Corporate Governance khususnya mengenai pedoman penerapan GCG. Upaya sosialisasi perlu dilakukan dengan suatu tim khusus yang dibentuk untuk itu, langsung berada di bawah pengawasan direktur utama atau salah satu direktur yang ditunjuk sebagai GCGchampiondi perusahaan.
b) Implementasi, yaitu kegiatan yang dilakukan sejalan dengan pedoman GCG yang ada, berdasarroadmapyang telah disusun. Implementasi harus bersifat top down approach yang melibatkan dewan komisaris dan direksi
perusahaan. Implementasi hendaknya mencakup pula upaya manajemen perubahan (change management) guna mengawal proses perubahan yang ditimbulkan oleh implementasiGood Corporate Governance.
c) Internalisasi, yaitu tahap jangka panjang dalam implementasi. Internalisasi mencakup upaya-upaya untuk memperkenalkan Good Corporate Governance di dalam seluruh proses bisnis perusahaan kerja, dan berbagai peraturan perusahaan. Dengan upaya ini dapat dipastikan bahwa penerapan GCG bukan sekedar dipermukaan atau sekedar suatu kepatuhan yang bersifat superficial, tetapi benar benar tercermin dalam seluruh aktivitas perusahaan.
3. Tahap Evaluasi
Tahap evaluasi adalah tahap yang perlu dilakukan secara teratur dari waktu ke waktu untuk mengukur sejauh mana efektivitas penerapan Good Corporate Governance telah dilakukan dengan meminta pihak independen melakukan audit implementasi dan scoring atas praktik Good Corporate Governance yang ada. Terdapat banyak perusahaan konsultan yang dapat memberikan jasa audit yang demikian, dan di Indonesia ada beberapa perusahaan yang melakukan scoring. Evaluasi dalam bentuk assessment , audit atau scoring juga dapat dilakukan secara mandatory misalnya seperti yang diterapkan di lingkungan BUMN. Evaluasi dapat membantu perusahaan memetakan kembali kondisi dan situasi serta capaian perusahaan dalam implementasi GCG sehingga dapat mengupayakan perbaikan-perbaikan yang perlu berdasarkan rekomendasi yang diberikan.
G. PedomanGood Corporate GovernancePerbankan
Bank adalah lembaga intermediasi yang dalam menjalankan kegiatan usahanya bergantung pada dana masyarakat dan kepercayaan baik dari dalam maupun luar negeri. Dalam menjalankan usaha tersebut bank menghadapi berbagai resiko, baik resiko kredit, resiko pasar, resiko operasional maupun resiko reputasi. Pelaksanaan Good Corporate Governance sangat diperlukan untuk membangun kepercayaan masyarakat dan dunia internasional sebagai syarat mutlak bagi dunia perbankan untuk berkembang dengan baik dan sehat.
Berdasarkan pertimbangan di atas dan tingginya tingkat kompleksitas serta resiko bisnis perbankan, Komite Nasional Kebijakan Corporate Governance Perbankan Indonesia sebagai pelengkap dan bagian tak terpisahkan dari pedoman umum Good Corporate Governance. Perbankan dalam pedoman ini meliputi Bank umum dan BPR yang dijalankan secara konvensional ataupun syariah.
1. Asas-asasGood Corporate Governance
Zarkasyi (2008:38) setiap perusahaan harus memastikan bahwa prinsip Good Corporate Governance diterapkan pada setiap aspek bisnis dan di semua jajaran perusahaan, asas Good Corporate Governance yaitu, tarnsparansi, akuntabilitas, responsibilitas, independensi serta kesetaraan dan kewajaran diperlukan untuk mencapai kinerja yang berkesinambungan dengan tetap memperhatikan pemangku kepentingan.
a. Keterbukaan (transparency)
Untuk menjaga obyektifitas dalam menjalankan bisnis, perusahaan harus menyediakan informasi yang material dan relavan dengan cara yang mudah diakses dan dipahami oleh pemangku kepentingan. Perusahaan harus mengambil inisiatif untuk mengungkapkan tidak hanya masalah yang disyaratkan peraturan perundang-undangan, tetapi juga hak yang penting untuk pengambilan keputusan oleh pemegang saham, kreditur dan pemangku kepentingan lainnya.
b. Akuntabilitas (accountability)
Perusahaan harus dapat mempertanggungjawabkan kinerjanya secara transparan dan wajar, untuk itu perusahaan harus dikelola secra benar, terukur dan sesuai dengan kepentingan stakeholders. Akuntabilitas merupakan prasyarat yang diperlukan untuk mencapai kinerja yang berkesinambungan.
c. Responsibilitas (responsibility)
Perusahaan harus mematuhi perundang-undangan serta melaksanakan tanggungjawab terhadap masyarakat dan lingkungan sehingga dapat terpelihara kesinambungan usaha dalam jangka panjang dan mendapat pengakuan sebagai good corporate citizen
d. Independensi (independency)
Untuk melancarkan pelaksanaan asas GCG perusahaan harus dikelola secara independen sehingga masing-masing organ perusahaan tidak saling mendominasi dan tidak dapat diintervensi oleh pihak lain.
e. Kesetaraan dan Kewajaran (fairness)
Perusahaan harus senantiasa memperhatikan kepentingan pemegang saham dan pemangku kepentingan lainnya berdasarkan asa kesetaraan dan kewajaran.
Maksud Penerapan Prinsip-Prinsip Corporate Governance (Berdasarkan Pedoman Corporate Governance- KNKG),yaitu memaksimalkan nilai Perseroan bagi pemegang saham dengan cara meningkatkan prinsip keterbukaan, akuntabilitas, dapat dipercaya, bertanggung jawab, dan adil agar perusahaan memiliki daya saing yang kuat, baik secara nasional maupun secara internasional, serta dengan demikian menciptakan iklim yang mendukung investasi. Mendorong pengelolaan perseroan secara profesional, transparan dan efisien, serta memberdayakan fungsi dan meningkatkan kemandirian Dewan Komisaris, Direksi, dan rapat umum pemegang saham. Mendorong agar pemegang saham, anggota Dewan Komisaris dan anggota Direksi dalam membuat keputusan dan menjalankan tindakan dilandasi nilai moral yang tinggi dan kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan yang berlaku serta kesadaran akan adanya tanggung jawab sosial perseroan terhadap pihak yang berkepentingan (stakeholders) maupun kelestarian lingkungan di sekitar perseroan.
H. Penilaian implementasiGood Corporate Governance
Hasil penilaian implementasi Good Corporate governance merupakan contoh yang diterapkan oleh badan Pemeriksaan Keuangan (BPKP) pada Badan
Usaha Milik Negara (BUMN). Istilah yang sering digunakan oleh BPKP adalah hasilreviewpenerapanGood Corporate Governance.
1. Hasilreview
Telah dilakukan review penerapan Good Corporate Governance pada PT.X untuk memberikan gambaran mengenai sejauh mana upaya-upaya perbaikan di bidang corporate governance telah berlangsung pada perusahaan setelah dilakukan evaluasi penerapan Good Corporate Governance sebelumnya pada tahun 2006. Upaya untuk melakukan tindak lanjut perbaikan di bidang penerapan GCG adalah tanggung jawab manajemen perusahaan.
Secara keseluruhan review penerapan Good Corporate Governance pada PT.X tahun 2007 menunjukkan tingkat tindak lanjut perbaikan di bidang penerapan Good Corporate Governance dalam penyelenggaraan kegiatan usaha perusahaan pada capaian aktual sebesar 76,04% dari target capaian maksimal 100%. Capaian aktual tersebut berasal dari tingkat pengupayaan aspek perbaikan berikut :
Tabel 2.1
Hasil review penerapan GCG pada PT.X tahun 2007
No Aspek review Bobot Maksimal
(%)
Bobot capaian
aktual (%)
% capaian
1 Penanganan dan tindak lanjut hasil pelaksanaanassesment
25,00 20,59 82,36
2 Progres tindak lanjut hasil pelaksanaan
assesment
30,00 19,50 65,00
3 Upaya yang dilakukan dalam rangka mengevaluasi kepentingan seluruh
stakeholdersterkait dengan penyelenggaraan
prinsipGood Corporate Governance
15,00 11,35 75,67
4 Keberadaan, fungsi serta tugas dari organ
utama dan organ pendukung
15,00 11,43 76,20
5 Pengelolaan hubungan dengan stakeholders
lainnya
15,00 13,17 87,80
Total 100 76,04 76,04
Sumber: Zarkasyi(2008:128)
Aspek 1 dan 2 di atas pada dasarnya menunjukkan upaya untuk melaksanakan rekomendasi yang dikemukakan dalam laporan hasil assesment penerapan yang lalu,sedangkan aspek 3, 4 dan 5 menunjukkan upaya yang mencerminkan inisiatif mandiri dari perusahaan untuk melakukan upaya-upaya perbaikan di bidang penerapan Good Corporate Governance di luar yang direkomendasikan pada hasilassesment.
a. Penanganan dan tindak lanjut hasil pelaksanaan penilaian (assesment)
Pelaksanaan tindak lanjut untuk perbaikan di bidang penerapan Good Corporate Governance sebagaimana direkomendasikan dalam laporan hasil assesmentsebelumnya menunjukkan persentase capaian aktual sebesar 82,36%
dari target maksimal aspek tersebut sebesar 25%, atau mencapai 20,59 %.
Hal tersebut antara lain terlihat dari pelaksanaan tindak lanjut rekomendasi sebagai berikut:
1) Rekomendasi yang telah ditindak lanjuti 2) Rekomendasi yang belum ditindak lanjuti b. Progres tindak lanjut hasil pelaksanaanassesment
Progres tindak lanjut hasil pelaksanaanassesmentmenunjukkan tingkat kedalaman atau pengembangan selanjutnya dari pelaksanaan tindak lanjut atas rekomendasi perbaikan hasil assesmentsebelumnya. Progres tindak lanjut hasil pelaksanaan assesment telah mencapai 65,00% dari target maksimal aspek tersebut sebesar 30% atau mencapai 19,50%.
Hal ini antara lain terdiri dari telah dilaksanakannya rekomendasi dengan progres kurang dari 100% yaitu:
1) Aspek kebijakanCorporate governance 2) Aspek pelaksanaan corporate governance
3) Aspek keterbukaanperaturan perundang-undangan dan penerapannya c. Upaya yang dilakukan
Upaya yang dilakukan yang dilakukan dalam rangka mengakumulasi kepentingan seluruh stakeholders terkait dengan penyelenggaraan prinsip Good Corporate Governance pada dasarnya menunjukkan upaya mandiri yang berlangsung di perusahaan untuk meningkatkan cakupan dan kedalaman penerapan Good Corporate Governance selain yang telah direkomendasikan dari kegiatan assesment sebelumnya. Adapun pelaksanaan upaya mandiri perusahaan tersebut telah mencapai 75,67% dari target maksimal aspek tersebut 15% atau mencapai 11,35%.
Upaya-upaya mandiri perusahaan dalam meningkatkan penerapanGood Corporate Governancedari aspek tersebut di atas antara lain adalah:
1) Aspek kebijakan Good Corporate Governance
2) Aspek disclosure kebijakan dan praktekGood Corporate Governance 3) Aspek komitmenGood Corporate Governance
4) Inisiatif mandiri murni
b. Keberatan, fungsi dan tugas organ utama dan pendukung
Keberadaan, fungsi dan tugas organ utama dan pendukung pada dasarnya juga menunjukkan upaya mandiri yang berlangsung di perusahaan untuk meningkatkan cakupan dan kedalaman penerapan Good Corporate Governance selain yang telah direkomendasikan dari kegiatan assesment sebelumnya. Pelaksanaan upaya mandiri perusahaan tersebut telah mencapai 76,20% dari target maksimal aspek tersebut sebesar 15% atau mencapai 11,43%.
Upaya mandiri perusahaan dalam meningkatkan penerapan Good Corporate Governancedari aspek tersebut di atas antara lain adalah:
1) Aspek partisipasi Pemegang saham
2) Aspek penerapanGood Corporate governance c. Pengelolaan hubungan denganstakeholderslainnya
Pengelolaan hubungan dengan stakeholders lainnya pada dasarnya menunjukkan upaya mandiri yang berlangsung di perusahaan untuk meningkatkan cakupan dan kedalaman penerapan Good Corporate Governance di luar yang telah direkomendasikan dari kegiatan evaluasi
sebelumnya, khususnya yang terkait dengan struktur dan proses governance dalam pengelolaan hubungan dengan stakeholders lainnya. Adapun pelaksanaan upaya mandiri perusahaan tersebut telah mencapai 87,80% dari target maksimal aspek tersebut sebesar 15% atau mencapai 13,17%.
Upaya-upaya perusahaan dalam meningkatkan penerapan Good Corporate Governanceantara lain tampak dari:
1) Aspek penerapanGood corporate Governance 2) Aspek komitmen
3) Inisiatif mandiri murni
I. Bank Syariah di Indonesia
1. Sejarah Perkembangan Bank Syariah di Indonesia
Hasan ( 2014:89 ) konsep teoritis mengenai Bank Islam muncul pertama kali pada tahun 1940-an, dengan gagasan mengenai perbankan yang berdasarkan bagi hasil. Prakarsa lebih khusus mengenai pendirian Bank Islam di Indonesia baru dilakukan tahun 1990, pada tanggal 18-20 Agustus, Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyelenggarakan lokakarya bunga bank dan perbankan di Cisarua, Bogor, Jawa Barat. Hasil lokakarya tersebut kemudian dibahas lebih mendalam pada musyawarah Nasional IV MUI di Jakarta 22-25 Agustus 1990. Sebagai hasil kerja Tim Perbankan MUI tersebut adalah berdirinya PT.Bank Muamalat di Indonesia (BMI), yang sesuai akte pendiriannya berdiri pada tanggal 1 November 1991. Setelah itu berdiri Bank Islam lain, yakni Bank IFI membuka cabang syariah pada tanggal 28 Juni 1999, Bank Syariah Mandiri yang merupakan
konversi dari Bank Susila Bakti (BSB), serta pendirian lima cabang baru berupa cabang syariah dari PT. Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. Per bulan Februari 2000, tercatat di Bank Indonesia bank-bank yang sudah mengajukan permohonan membuka cabang syariah, yakni Bank Niaga, BTN, Bank Mega, BRI, Bank Bukopin, BPD Jabar dan BPD Aceh.
Dalam pasal 1 ayat ( 13 ) UUP memberikan batasan pengertian prinsip syariah sebagai aturan perjanjian berdasarkan hukum Islam antara Bank dan pihak lain untuk penyimpanan dana dan/atau pembiayaan kegiatan usaha,atau kegiatan lainnya yang dinyatakan sesuai dengan syariah, antara lain, pembiayaan berdasarkan prinsip bagi hasil ( mudharabah ), pembiayaan berdasarkan prinsip penyertaan modal ( musharakah ), prinsip jual beli barang dengan memperoleh keuntungan ( murabahah ), atau pembiayaan barang modal berdasarkan prinsip sewa murni tanpa pilihan ( ijarah ), atau dengan adanya pilihan pemindahan kepemilikan atas barang yang disewa dari pihak bank dari pihak lain ( ijarah wa iqtinah). Dalam menjalankan operasinya fungsi Bank Islam akan terdiri dari:
a. Sebagai penerima amanah untuk melakukan investasi atas dana-dana yang dipercayakan oleh pemegang rekening investasi atas dasar prinsip bagi hasil sesuai dengan kebijakan investasi bank
b. Sebagai pengelola investasi atas dana yang dimiliki oleh pemilik dana sesuai dengan arahan investasi yang dikehendaki oleh pemilik dana ( dalam hal ini bank bertindak sebagai manajer investasi ).
c. Sebagai penyedia jasa lalu lintas pembayaran dan jasa-jasa lainnya sepanjang tidak bertentangan dengan prinsip syariah.
d. Sebagai pengelola fungsi sosial seperti pengelolaan dana zakat dan penerimaan serta penyaluran dana kebajikan.
2. Kebijakan Pengembangan Perbankan Syariah Di Indonesia
Untuk memberikan pedoman bagi stakeholders perbankan syariah dan meletakkan posisi serta cara pandang Bank Indonesia dalam mengembangkan perbankan syariah di Indonesia, selanjutnya Bank Indonesia pada tahun 2002 telah menerbitkan “Cetak Biru Pengembangsn `Perbankan Syariah di Indonesia”.
Dalam penyusunannya, berbagai aspek telah dipertimbangkan secara komprehensif, antara lain kondisi aktual industri perbankan syariah nasional beserta perangkat-perangkat terkkait.
“Cetak Biru Pengembangan Perbankan Syariah di Indonesia” memuat visi,misi dan sasaran pengembangan perbankan syariah serta sekumpulan inisiatif strategis dengan prioritas yang jelas untuk menjawab tantangan utama dan mencapai sasaran dalam kurun waktu 10 tahun ke depan, yaitu pencapaian pangsa pasar perbankan syariah yang signifikan melalui pendalaman peran perbankan syariah dalam aktivitas keuangan nasional, regional dan internasiona, dalam kondisi mulai terbentuknya integrasi dengan sektor keuangan syariah lainnya.
Pada akhirnya, sistem perbankan syariah yang ingin dikembangkan Bank Indonesia adalah perbankan syariah yang modern, yang bersifat universal terbuka bagi seluruh masyarakat. Sebuah sistem perbankan yang menghadirkan bentuk- bentuk aplikatif dari konsep ekonomi syariah yang dirumuskan secara bijaksana, dalam konsep kekinian permasalahan yang sedang dihadapi oleh bangsa Indonesia, dan dengan tetap memperhatikan kondisi sosial kultural. Hanya dengan
cara demikian, maka upaya pengembangan sistem perbankan syariah akan senantiasa dilihat dan diterima oleh segenap masyarakat Indonesia sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan.
3. Prinsip Dasar Perbankan Syariah
Ada lima prinsip dasar perbankan syariah, yaitu:
a. Prinsip Mudharabah yaitu perjanjian antara dua pihak dimana pihak pertama sebagai pemilik dana (sahibul mal) dan pihak kedua sebagai pengelola dana (mudharib) untuk mengelola suatu kegiatan ekonomi dengan menyepakati nisbah bagi hasil atas keuntungan yang akan diperoleh sedangkan kerugian yag timbul adalah resiko pemilik dana sepanjang tidak terdapat bukti bahwa mudharib melakukan kecurangan atau tindakan yang tidak amanah.
b. Prinsip Musyarakah, yaitu perjanjian antara pihak-pihak dimana menyertakan modal dalam suatu kegiatan ekonomi dengan pembagian keuntungan atau kerugian sesuai nisbah yang disepakti musyarakah dapat bersifat tetap atau bersifat temporer dengan penurunan secara periodik atau sekaligus di akhir masa proyek.
c. Prinsip Wadiah adalah titipan dimana pihak pertama menitipkan dana atau benda kepada pihak kedua selaku penerima titipan dengan konsekuensi titipan tersebut sewaktu-waktu dapat diambil kembali, dimana titipan dapat dikenakan biaya titipan. Dalam hal ini penerima titipan berhak mempergunakan dana/barang titipan untuk didayagunakan tanpa ada
kewajiban penerima titipan untuk memberikan imbalan kepada penitip dengan tetap pada kesepakatan dapat diambil setiap saat diperlukan.
d. Prinsip jual beli (Al buyu’) terdiri dari:
(1) Murabahahyaitu akad jual beli antara dua belah pihak dimana pembeli dan penjual menyepakati harga jual yang terdiri dari harga beli ditambah ongkos pembelian dan keuntungan bagi penjual.
(2) Salam yaitu pembelian barang dengan pembayaran dimuka dan barang diserahkan kemudian.
(3) Ishtisna’yaitu pembelian barang melalui pesanan dan diperlukan proses untuk pembuatannya sesuai dengan pesanan pembeli dan pembayaran dilakukan dimuka sekaligus atau secara bertahap.
e. Prinsip jasa terdiri dari:
(1) Ijarah yaitu kegiatan penyewaan suatu barang dengan imbalan pendapatan sewa, bila terdapat kesepakatan pengalihan pemilikan pada akhir masa sewa disebut Ijarah mumtabiya bi tamlik. Wakalah yaitu pihak pertama memberikan kuasa kepada pihak kedua untuk urusan tertentu dimana pihak kedua mendapat imbalan berupafeeatau komisi.
(2) Salamyaitu pembelian barang dengan pembayaran dimuaka dan barang diserahkan kemudian.
(3) Ishtisna’yaitu pembelian barang melalui pesanan dan diperlukan proses untuk pembuatannya sesuai dengan pesanan pembeli dan pembayaran dilakukan dimuka sekaligus atau secara bertahap.
(4) Kafalah yaitu pihak pertama bersedia menjadi penanggung atas kegiatan yang dilakukan oleh pihak kedua sepanjang sesuai dengan kesepakatan dimana pihak kedua menerima imbalan berupa komisi.
4. Karakteristik Bank Syariah
Lemabaga Keuangan Syariah memiliki karakteristik yang membedakannya dari bank-bank ribawa, diantaranya adalah:
a. Lembaga keuangan syariah harus bersih dari semua bentuk riba dan mu’amalah yang dilarang syari’at.
b. Mengarahkan segala kemampuan pada pertambahan dengan jalanits-titsmar ( pengembangan modal ) tidak dengan jalan hutang ( al-Qardh ) yang memberi keuntungan.
c. Mengikat pengembangan ekonomi dengan pertumbuhan sosial,dengan demikian bank syariah harus menutupi dua sisi ini dan komitmen terhadap perbaikan masyarakat dan keadilannya.
d. Mengumpulkan harta yang menganggur dan menyerahkannya kepada aktivitasits-titsmaardan pengelolaan dengan target pembiayaan ( tawwiel) proyek-proyek perdagangan, industri dan petanian.
e. Memudahkan sarana pembayaran dan memperlancar pergerakan pertukaran perdagangan langsung sedunia Islam dan bekerja sama dalam bidang tersebut dengan seluruh lembaga keuangan syariah dunia agar dapat menunaikan tugasnya dengan sesempurna mungkin.
f. Menghidupkan tatana zakat dengan membuat lembaga zakat dalam bank sendiri yang mengumpulkan hasil zakat bank tersebut.
g. Membangun baitul mal kaum muslimin dan mendirikan lembaga untuk itu dan dikelola langsung manajemennya oleh lembaga keuangan tersebut.
h. Menanamkan khaedah adil dan kesamaan dalam keberuntungan dan kerugian dan menjauhkan unsur ikhtikaar ( penimbunan barang agar menaikkan harga ) dan meratakan kemashlahatan pada sebanyak mungkin jumlah kaum muslimin.
Karakteristik sistem perbankan syariah yang beroperasi berdasarkan prinsip bagi hasil memberikan alternatif sistem perbankan yang saling menguntungkan bagi masyarakat dan bank , serta menonjolkan aspek keadilan dalam bertransaksi, investasi yang beretika, mengedepankan nilai-nilai kebersamaan dan persaudaraan dalam berproduksi dan menghindari kegiatan spekulatif dalam bertransaksi keuangan. Dengan menyediakan beragam produk serta layanan jasa perbankan yang beragam dengan skema keuangan yang lebih bervariatif, perbankan syariah menjadi alternatif sistem perbankan yang kredibel dan dapat dinikmati oleh seluruh golongan masyarakat Indonesia.
5. Keunggulan Bank Syariah
Bank syariah selain memiliki keuntungan juga memiliki beberapa keunggulan lain adalah sebagai berikut:
a. Fasilitas selengkap Bank Konvensional b. Manajemen finansial yang lebih aman
Hasil
c. Berkontribusi langsung memperkuat Bank Syariah d. Membantu orang yang butuh berzakat
e. Halal
J. Kerangka fikir
Sebagai alur pemikiran dalam penjelasan uraian di atas dapat digambarkan dalam kerangka pemikiran teoritis sebagai berikut :
Gambar 2.1 Kerangka Fikir
PT. Bank Sulselbar Syariah di Makassar
PrinsipGood Corporate Governance dalam Islam
Tauhid Taqwa
dan ridha Equilibrium Kemashlahatan
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Lokasi Dan Waktu Penelitian
Untuk memperoleh data yang akurat maka dilakukan penelitian atau pengumpulan data pada tanggal 12 Mei 2015 di PT. Bank Sulselbar Syariah Makassar sedangkan waktu penelitian dilakukan kurang lebih 2 (dua) bulan.
B. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kepustakaan (library research). penelitian kepustakaan (library research) adalah penelitian yang dilaksanakan dengan menggunakan literatur (kepustakaan), baik berupa buku, catatan, maupun laporan hasil penelitian, dari peneliti terdahulu. Literatur yang digunakan dalam penelitian ini adalah buku, jurnal, skripsi, maupun artikel-artikel yang berkaitan dengan Good Corporate Governancedalam perspektif Islam serta penerapannya pada bank syariah.
C. Sumber Data
Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu:
1. Data Primer
Sugiyono (2004:129) yaitu sumber data yang langsung memberikan data kepada pengumpul data. Pengumpulan data primer dalam penelitian ini
42
melalui cara melakukan observasi dan wawancaa secara langsung dengan pihak-pihak yang berhubungan dengan penelitian yang dilakukan.
2. Data sekunder
Supomo(2002:14) yaitu sumber data yang diperoleh peneliti secara tidak langsung melalui media perantara atau media lain yang bersumber dari literatur, buku-buku, serta dokumen perusahaan, dalam hal ini data yang digunakan adalah laporan pelaksanaanGood Corporate Governance milik PT. Bank Sulselbar Syariah Makassar.
D. Metode Analisis
Untuk menganalisis data pada penelitian ini, maka peneliti menggunakan teknik deskriptif kualitatif dengan penekanan utama pada penelitian sumber, mengungkapkan fakta, menguraikan data dengan mendeskripsikan data yang diperoleh dari penelitian, dengan menggunakan bahasa yang mudah dimengerti, kemudian data yang diperoleh diuraikan serta dikembangkan berdasarkan teori yang ada. Maka akan diperoleh gambaran jelas mengenai Good Corporate Governance perspektif Islam dan penerapannya pada PT.Bank Sulselbar Syariah Makassar.