BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA KONSEP
E. Jenis Dan Sumber Data
Sumber data dalam penelitian ini adalah subjek dari mana data dapat diperoleh. Apabila penelitian menggunakan lembar observasi atau wawancara dalam pengumpulan datanya, maka sumber data tersebut disebut responden, yaitu orang yang merespon atau menjawab pertanyaan-pertanyaan penelitian, baik pertanyaan tertulis maupun lisan. Sumber data yang menjadi bahan baku
penelitian, untuk diolah merupakan data yang berwujud data primer dan sekunder:
1. Sumber data primer
Sumber data primer, yaitu Data Primer Yaitu data empiris yang diperoleh dari lapangan berdasarkan hasil wawancara bersama informan penelitian dan hasil observasi.
Teknik penentuan Informan pada penelitian ini, yakni informan dipilih dengan cara Purposive sampling. Margono mengemukakan bahwa pemilihan sekelompok subjek dalam Purposive Sampling didasarkan atas ciri-ciri tertentu yang dipandang mempunyai sangkut paut yang erat dengan ciri-ciri populasi yang sudah diketahui sebelumnya.
Penggunaan pendekatan ini diharapkan dapat memberi informasi dari orang perindividu atau kelompok masayrakat. Peneliti akan mendapatkan fakta-fakta dari pemikiran-pemikiran, perasaan-perasaan, ide-ide pengalaman-pengalaman tentang Pola komunikasi antara guru dan siswa di SMA 14 Makassar.
2. Sumber data sekunder
Data sekunder merupakan data yang diambil tidak secara langsung dari sumbernya, data sekunder diambil dari berbagai dokumen-dokumen grafis (Tabel, catatan, notulen rapat, sms dan lain-lain) foto-foto, film , rekaman vidio, dan benda-benda yang dapat memperkaya data primer seperti
laporan,buku-buku, karya tulis atau majalah ataupun seseorang yang mendapatkan informasi dari orang lain yang berkaitan dengan penelitian.
F. Instrument penelitian
Instrumen penelitian adalah alat atau fasilitas yang digunakan peneliti dalam mengumpulkan data agar pekerjaannya lebih mudah dan hasilnya lebih baik, dalam arti lebih cermat, lengkap dan sistematis sehingga lebih mudah diolah. Peneliti sendiri sebagai instrumen dalam penelitian kualitatif. Adapun alat-alat penelitian yang digunakan dalam melakukan penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Pedoman wawancara, adalah alat yang digunakan dalam melakukan wawancara yang dijadikan dasar untuk memperoleh informasi dari informan yang berupa daftar pertanyaan.
2. Alat tulis menulis yaitu : buku, pulpen, atau pensil sebagai alat untuk mencatat informasi yang didapat pada saat wawancara.
3. Lembar observasi, berisi catatan-catatan yang diperoleh penelitian pada saat melakukan pengamatan langsung di lapangan.
4. Catatan dokumentasi, adalah data pendukung yang dikumpulkan sebagai penguatan data observasi dan wawancara yang berupa gambar, data sesuai dengan kebutuhan penelitian.
5. Kamera ponsel, sebagai alat dokumentasi setiap kegiatan peneliti.
G. Teknik pengumpulan data
Metode Proses Pengumpulan data pada penelitian ini, yakni peneliti terlibat langsung di lokasi penelitian untuk mendapatkan data yang sebenarnya di SMA 14 Makassar, untuk menghindari terjadinya kesalahan atau kekeliruan dalam hasil penelitian yang akan diperoleh nantinya. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini yaitu.
1. Observasi
Teknik observasi atau pengamatan merupakan aktivitas pencatatan fenomena yang di lakukan secara sistematis. Observasi yang dipilih pada penelitian ini yakni observasi partisipatif. Peneliti mengikuti kegiatan keseharian yang dilakukan informan dalam waktu tertentu, memerhatikan apa yang terjadi, mendengarkan apa yang dikatakan, mempertanyakan kepada informan yang menarik dan mempelajari dokumen yang dimiliki.
2. Wawancara
Teknik Wawancara merupakan salah satu metode pengumpulan data melalui komunikasi, yakni proses Tanya jawab antara pengumpul data (pewawancara) dengan sumber data (Narasumber). Penelitian ini menggunakan jenis wawancara bebas terpimpin, yakni peneliti mengunjungi lansung kerumah atau tempat tinggal tokoh masyarakat dan tokoh agama atau orang yang akan diwawancarai untuk menanyakan secara lansung hal- hal yang perlu ditanyakan.
Teknik Wawancara atau interview dalam penelitian ini bersifat open ended artinya bahwa wawancara di mana jawabannya tidak terbatas pada satu tanggapan saja, sehingga peneliti dapat bertanya kepada informan tidak hanya tentang hakikat suatu peristiwa melainkan juga akan bertanya mengenai pendapat responden mengenai peristiwa tersebut. Di samping itu, terkadang peneliti juga akan meminta informan untuk mengemukakan pengertiannya sendiri tentang suatu peristiwa yang kemudian dapat dipakai sebagai batu loncatan untuk mendapat keterangan lebih lanjut.
Wawancara dilakukan kepada informan yang benar-benar dapat memberikan data yang relevan berkaitan dengan permasalah penelitian ini, yaitu penanaman nilai-nilai karakter dalam pembalajaran sosiologi. Tidak menutup kemungkinan bahwa dalam wawancara ini, timbul masalah- masalah ingatan informan yang tidak sempurna, analisis informan yang tidak cermat dan sebagainya. Sehingga dalam hal ini peneliti juga akan memadukan sumber bukti dan wawancara ini dengan informasi-informasi lainnya yang memadai.
Wawancara yang peneliti lakukan adalah wawancara terstruktur yakni wawancara yang pewawancaranya menetapkan sendiri masalah dan pertanyaan- pertanyaan yang akan diajukan (Moleong 2006:138). Dengan demikian, sebelum wawancara dengan informan tersebut dilakukan, peneliti telah menyiapkan instrumen wawancara yang berisi pertanyaan-pertanyaan
yang terkait dengan penanaman nilai-nilai karakter dalam pembelajaran sosiologi. Untuk menjaga kredibilitas hasil wawancara perlu adanya pencatatan data yang peneliti lakukan dengan menyiapkan handphone yang berfungsi untuk merekam hasil wawancara. Mengingat bahwa tidak setiap informan suka dengan adanya alat tersebut karena merasa tidak bebas ketika diwawancarai, maka peneliti meminta ijin terlebih dahulu kepada informan.
Disamping menggunakan alat perekam, peneliti juga membuat catatan- catatan yang berguna untuk membantu peneliti dalam merencanakan pertanyaan berikutnya dan juga meminta peneliti untuk mencari pokok- pokok penting sehingga dapat mempermudah analisis. Teknik wawancara yang digunakan peneliti adalah wawancara langsung dengan informan dengan tujuan untuk mendapatkan data yang lengkap dan valid meliputi semua hal yang terkait dengan Pola komunikasi antara guru dan siswa di SMA 14 Makassar.
3. Dokumentasi
Dalam teknik dokumentasi, Pengumpulan data pada penelitian ini yakni penulis menggunakan kamera dan alat tulis untuk membantu mengumpulkan data-data secara akurat untuk megnhindari kesalahan penyusunan dalam hasil penelitian.
H. Analisis Data
Melakukan Data yang diperoleh dari responden melalui teknik observasi, wawancara, dan studi dokumentasi merupakan deskripsi tentang pendapat,
pengetahuan, pengalaman dan aspek lainnyan untuk dianalisa dan disajikan memiliki makna.
Untuk menggunakan analisis data berdasarkan langlah-langkah berikut 1) Reduksi data, 2) Penyajian data, 3) Penarikan kesimpulan.
1. Reduksi data
Reduksi data bertujuan untuk memudahkan membuat kesimpulan terhadap data yang diperoleh selama pelaksanaan penelitian.Reduksi data merupakan proses pemilihan, pemusatan perhatian pada penyederhanaan, transformasi data kasar yang muncul dari catatan-catatan yang tertulis dilapangan. Apabila data sudah terkumpul, langkah selanjutnya adalah mereduksi yaitu menggolongkan, mengarahkan, membuang yang tidak perlu dan mengorganisasikannya sehingga nantinya mudah dilakukan penarikan kesimpulan. Data yang direduksi yaitu data yang diperoleh melalui wawancara yang meliputi penanaman nilai karakter oleh guru sejarah. Setelah data diperoleh, kemudian digolongkan berdasarkan sub- sub kajian yang dipelajari. Hal ini dilakukan karena data yang didapat tidak urut. Jika data kurang lengkap maka peneliti mencari kembali data yang diperlukan di lapangan.
2. Penyajian Data
Penyajian data adalah sekumpulan informasi tersusun yang memberi kemungkinan adanya penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan.
Penyajian data yang sering digunakan dalam penelitian kualitatif adalah
dalam bentuk teks naratif, yang merupakan rangkaian kalimat yang disusun secara sistematis. Penyajian data dalam penelitian kualitatif dirancang guna menggabungkan informasi yang tersusun dalam suatu bentuk yang padu dan mudah diraih, sehingga peneliti lebih mudah dalam menarik kesimpulan.
3. Penarikan kesimpulan
Dalam penarika kesimpulan penelitian, semua hasil observasi, wawancara, temuan dokumentasi harus diproses dan dianalisis, setelah data disajikan maka proses selanjutnya adalah penarikan kesimpulan atau verifikasi. Data yang terkumpul melalui reduksi data kemudian penyajian data sehingga menjadi data yang siap disajikan dan akhirnya dapat ditarik menjadi suatu kesimpulan hasil penelitian.
I. Uji Keabsahan data
Teknik keabsahan data adalah proses mentriangulasi tiga data yang terdiri dari data Observasi, Wawancara, dan Dokumentasi. Adapun alat yang digunakan untuk menguji keabsahan data yaitu :
1. Triangulasi Sumber Data adalah menggali kebenaran informasi tertentu melalui berbagai metode dan sumber pengolahan data. Disini peneliti melakukan wawancara tentang masjid dijadikan peningkatan spiritual siswa secara mendalam dan observasi.
2. Triangulasi Metode dilakukan dengan cara membandingkan informasi atau data dengan cara yang berbeda.
3. Triangulasi Teknik, menurut Sugiyono (2011 : 330) triangulasi teknik berarti peneliti menggunakan teknik pengumpulan data yang berbeda-beda untuk mendapatkan data dari sumber data yang sama. Peneliti menggunakan observasi, wawancara mendalam, serta dokumentasi untuk sumber data.
J. Etika Penelitian
Dalam melakukan penelitian, peneliti perlu mendapat rekomendasi dari institusi dengan mengajukan permohonan izin kepada instansi atau lembaga tempat penelitian. Setelah mendapat persetujuan, maka kegiatan penelitian ini dimulai dengan menekankan masalah etika yang meliputi:
1. Lembar persetujuan (Informed Consent)
Lembar persetujuan ini diberikan kepada responden yang akan diteliti yang memenuhi criteria dan disertai judul penelitian dan manfaat penelitian.
Bila responden menolak, maka peneliti tidak akan memaksa dan tetap menghormati hak–hak responden.
2. Tanpa nama (Anonymity)
Untuk menjaga kerahasiaan peneliti tidak akan mencantumkan nama responden, tetapi lembar tersebut diberikan kode.
3. Kerahasiaan (Confidentiality)
Kerahasiaan informasi responden dijamin oleh peneliti dan hanya kelompok data tertentu yang akan dilaporkan sebagai hasil penelitian.
60 BAB IV
GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN
A. Sejarah Singkat Lokasi Penelitian
SMA 14 Makassar didirikan pada tanggal 12 Juni 1975 dan diresmikan oleh Dirjen Prof. Dr. Mappasuddin. Sampai saat ini telah pergantian Kepala Sekolah sudah 5 kali yaitu dari Drs. Paturusi Nain ( Tahun 1975 s.d. tahun 1991), Drs. Manda DG Pamit (Tahun 1991 s.d. tahun 2007) Linda Muhaimin, S.Pd (Tahun 2007 s.d. Tahun 2015) Nurhikmah S.Pd.,M.Pd (Tahun 2015 s.d. Tahun 2017) Nurhidyah S.Pd.M.Pd ( Tahun 2017 sampai sekarang).
B. Keadaan Geografis
SMA Negeri 14 Makassar terletak di Jalan Bajiminasa 9 Makassar, Kelurahan Tamarunang, Kecamatan Mariso bagian Selatan Kota Makassar. Juga mudah dijangkau dan ditempuh melalui kendaraan Angkot jalur Cendrawasih.
1. Keadaan Sekolah
a. Sarana dan Prasarana.
1) Tanah dan Halaman
Tanah dan halaman sekolah sepenuhnya milik negara.
2. Keadaan Tanah Sekolah SMA Negeri 14 Makassar
Status : Milik Negara
Luas Tanah : 5413 m2
Luas Bangunan : 2629 m2
Pagar : 326 m
a. Gedung Sekolah
Bangunan sekolah pada umumnya dalam kondisi baik. Meskipun masih ada 6 kelas menggunakan bangunan lama, jumlah ruang kelas cukup memadai untuk menunjang kegiatan belajar.
C. Visi Misi 1. Visi
Mencerminkan cita-cita sekolah yang berorientasi ke depan dengan memperhatikan potensi sekarang ini, serta sesuai dengan norma dan harapan masyarakat.
2. Misi
a. Menumbuhkan semangat pengamalan nilai-nilai dan ajaran agama yang dianutnya;
b. Melaksanakan Pembelajaran dan BK yang Berstandar Nasional Pendidikan dengan mengaktifkan peranan MGMP di tingkat sekolah;
c. Meningkatkan kualitas kinerja Pendidikdan Tenaga Kependidikan sebagai upaya pemenuhan pelayanan optimal;
d. Meningkatkan pembinaan terhadap bakat dan minat peserta didik melalui kegiatan Olahraga, sen iserta keterampilan yang ramah lingkungan;
e. Mendorong pemanfaatan berbagai sarana, media dan sumber belajar serta Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK)
f. Membina komunikasi dan kerjasama Orang Tua Peserta Didik, dengan mengoptimalkan peran Komite Sekolah.
Adapun struktur organisasi yang dimiliki oleh SMA 14 Makassar
Gambar 4.1
Struktur organisasi SMA 14 Makassar
Adapun tugas masing-masing dari bagian-bagian SMAN 5 Takalar a. Kepala Sekolah : Memberikan bimbingan, bantuan,
pengawasan dan penilaian pada masalah-
Kepala Sekolah Nurhidayah, S.Pd. M.Pd.
keuangan.
Kep. TU
prasar. kesiswaan. .kepegawai an
.adm
w. kurikulum w. kesiswaan w. keuangan w. ketenagaan w. humas w. prasar
Kepala LAB
l.
Media l.Kma l. Bhs l.
Kmptr l. Seni l. Fsk
K. Perpustakaan
Perpustakaan
Kor. BK
Wali Kelas
masalah yang berhubungan dengan teknis pengembangan pendidikan
b. Kepala TU : Menyusun program kerja tata usaha sekolah, pengelolaan keuangan sekolah, pembinaan dan pengembangan karir pegawai
c. Wakasek Kurikulum : Memahami dan mengkaji pelaksanaan kurikulum dan pengembangan K13, menyusun pembagian tugas guru, mengkoordinasikan dan menggerakkan kegiatan sekolah
d. Wakasek Kesiswaan : Menyusun program pembinaan kesiswaan, melaksanakan bimbingan dan pengarahan kegiatan OSIS, membina dan melaksanakan 7K
e. Wakasek Keuangan : Bersama bendahara komite sekolah mengkoordinir dan melaksanakan pengumpulan sumbangan
f. Wakasek Humas : Mengatur dan menyelenggarakan hubungan baik antara sekolah dengan komite sekolah, menampung saran-saran dan pendapat masyarakat demi kemajuan sekolah.
g. Wakasek Sarpras : Menyusun rencana kebutuhan sarana dan prasarana sekolah, menyusun program kebersihan, keindahan, dan keamanan lingkungan.
h. Kepala LAB : Mengkoordinasi kegiatan praktikum dengan guru, menyusun jadwal kegiatan laboratorium, dan memantau kegiatan praktikum di laboratorium.
i. Kepala Perpustakaan : Merancang pengadaan buku-buku perpustakaan, pengurusan pelayanan perpustakaan, dan memelihara buku-buku bahan perpustakaan.
65 BAB V
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian
1. Pola Komunikasi Antara Guru dan Siswa Pada Proses Belajar Mengajar di SMAN 14 Makassar
Komunikasi adalah pengalihan informasi dari satu orang ke orang lain. Komunikasi merupakan cara untuk menyampaikan sesuatu kepada orang lain baik berupa ide, fakta, pikiran, serta nilai-nilai. Komunikasi yang baik adalah jalinan pengertian antara pihak yang satu dengan yang lainnya, sehingga apa yang di komunikasikan dapat dimengerti, dipikirkan dan akhirnya dilaksanakan. Berdasarkan hasil wawancara yang telah dilakukan kepada Ibu Nurhidayah S.Pd. M.Pd selaku Kepala Sekolah SMAN 14 Makassar pada tanggal 26 November 2020:
“Kalau dari saya komunikasi yang saya lakukan khususnya tiap hari senin saya berunding dengan siswa-siswa disini tentang keadaan kelas gimana mereka dapat menjaga kelas dan juga prestasi mereka dan saya tentunya memberikan masukan- masukan kepada mereka agar lebih dapat berprestasi lagi”
Hasil wawancara di atas menunjukkan komunikasi yang dilakukan oleh Kepala Sekolah SMAN 14 Makassar yaitu mengajak siswa-siswa SMAN 14 Makassar untuk berunding khususnya hari senin menanyakan keadaan kelas serta memberikan arahan-arahan dalam meningkatkan prestasi mereka. Adapun hasil wawancara yang dilakukan kepada Pak Bakri S.Pd. M.Pd selaku Wakasek Kesiswaan SMAN 14 Makassar pada tanggal 25 November 2020:
“Komunikasi yang saya lakukan dengan siswa pada saat di ruang belajar tentunya memberikan penjelasan terkait pembelajaran saat awal masuk kelas, menjelaskan teori-teori mata pelajaran yang dibawahkan, setelah itu komunikasi selanjutnya memberikan umpan balik antara guru dan siswa sehingga saya dapat mengetahui hal-hal apa yang belum dipahami oleh siswa terkait mata pelajaran yang saya bawakan”.
Hasil wawancara di atas menunjukkan pola komunikasi SMAN 14 Makassar pada saat di ruang pembelajaran saat awal masuk dalam ruaangan kelas komunikasi dilakukan dengan cara menerangkan teori-teori terkait mata pelajaran yang dibawakan dan setelah menjelaskan teori guru akan berusaha melakukan komunikasi umpan balik guna untuk mengetahui hal- hal apa yang belum dipahami oleh siswa terkait pelajaran yang dibawakan.
Komunikasi juga terkadang dipengaruhi oleh wewenang dan tanggungjawab yang diberikan sehingga terkadang komunikasi terjadi secara formil, hal ini sesuai dengan hasil wawancara yang telah dilakukan oleh Pak Rasyid S.Pd selaku Guru Olahraga SMAN 14 Makassar pada tanggal 25 November 2020:
“Komunikasi yang saya lakukan saat di ruang belajar itu tergantung kondisi kelas terkadang komunikasi yang saya lakukan bersifat formil dan juga informal, seperti pada saat saya memberikan arahan dan nasehat kepada siswa saya harus bersikap formil namun pada saat di lapangan untuk mengetahui kondisi siswa saya saya harus berkomunaksi secara informil agar siswa juga lepas bebicara dengan saya agar saya bisa tahu keadaan siswa saya pada saat itu”.
Berdasarkan hasil wawancara di atas pola komunikasi yang dilakukan oleh guru olahraga SMAN 14 Makassar disesuaikan dengan kondisi kelas terkadang komunikasi dilakukan secara formil dan juga
informil, komunikasi formil dilakukan pada saat guru memeberikan arahan dan juga nasehat agar siswa dapat menerima penyampaian oleh guru dengan baik, sedangkan komunikasi informal dilakukan apabila guru ingin mengetahui kondisi yang dirasakan oleh siswa saat pembelajaran dilakukan agar siswa dapat berbicara dengan lepas kepada guru.
Adapun pola komunikasi yang dilakukan kepada Ibu Sry Astutui S.Sn guru seni dan budaya SMAN 14 Makassar pada tanggal 25 November 2020:
“Pola komunikasi yang saya lakukan kepada siswa pada saat proses pembelajaran yah seperti biasanya saya menerangkan mata pelajaran yang saya bawakan dan juga meberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya terkait materi yang belum dipahami, dengan begitu komunikasi akan berjalan dengan lancar karena adanya komunikasi dari atas ke bawah dan juga adanya komunikasi dari bawah ke atas”.
Berdasarkan hasil wawancara di atas menjelaskan pola komunikasi yang dilakukan oleh guru seni SMAN 14 Makassar dari atas ke bawah dan dari bawah ke atas sehingga komunikasi dapat berjalan dengan lancar karena adanya komunikasi yang dilakukan terkait mata pelajaran yang dibawakan.
Beragamnya metode komunikasi yang digunakan guru SMAN 14 Makassar terhadap siswa SMAN 14 Makassar, interaksi antara guru dan siswa berjalan dengan baik, hal ini sesuai dengan hasil wawancara yang dilakukan kepada Pak Rivai S.Pd selaku guru sosiologi pada tanggal 25 November 2020:
“Yah komunikasi berjalan dengan lancar antar guru dan siswa karena metode komunikasi di dalam ruang belajar juga memberikan keluwesan kepada siswa untuk berkomunikasi dengan guru sehingga siswa juga tidak merasa tegang”.
Hasil wawancara di atas menunjukkan komunikasi antara guru dan siswa di SMAN 14 Makassar berjalan dengan lancar karena guru SMAN 14 Makassar memberikan keluwesan kepada siswa SMAN 14 Makassar untuk berbicara kepada guru sehingga siswa SMAN 14 Makassar tidak merasakan ketegangan dalam berkomunikasi kepada guru. Hasil wawancaara ini juga sesuai dengan wawancara yang dilakukan kepada Ibu Sry Astuti S.Sn selaku guru seni dan budaya SMAN 14 Makassar pada tanggal 25 November 2020:
“Komunikasi di kelas dengan murid yah berjalan dengan lancar, murid di sekolah ini juga aktif sekali dalam setiap mata pelajaran hal itu terjadi dikarenakan guru di SMA ini selalu memberikan kebebasan kepada murid dalam pembelajaran agar adanya umpan balik dari siswa sehingga hal itu juga akan membantu siswa untuk mencari ilmu pengatuhan yang belum ia ketahui”.
Berdasarkan hasil penelitian di atas menunjukkan komunikasi antara guru dan siswa dalam ruangan kelas berjalan dengan baik dikarenakan komunikasi yang diberikan oleh guru kepada siswa memberikan kebebasan kepada siswa untuk berbicara sehingga terjadi umpan balik antara guru dengan murid atau siswa SMAN 14 Makassar.
Komunikasi khusus juga sangat diperlukan dalam proses pembelajaran dan juga di luar proses belajar mengajar karena dengan komunikasi yang dilakukan secara khusus kepribadian dari siswa dapat lebih dalam dipahami. Adapun hasil wawancara yang telah dilakukan
kepada Pak Rivai S.Pd selaku guru sosiologi SMAN 14 Makassar pada tanggal 25 November 2020:
“Yah itu pasti terkadang komunikasi secara khusus dilakukan kepada siswa seperti jika siswa melakukan pelanggaran maka kami akan mencoba bekomunikasi kepada mereka secara khusus agar mengetahui mengapa pelanggaran itu dapat terjadi, agar kami dapat memberikan nasehat kepada siswa yang melanggar dan mendengar nasehat kami dengan nyaman juga”
Hasil wawancara di atas menunjukkan komunikasi secara khusus juga dilakukan oleh guru SMAN 14 Makassar, hal dilakukan agar dapat berkomunikasi lebih dekat kepada siswa seperti pada saat terdapat siswa yang melakukan pelanggaran guru akan melakukan komunikasi secara khusus kepada siswa yang melakukan pelanggaran agar guru dapat mengetahui mengapa pelanggaran tersebut dapat terjadi sehingga guru dapat lebih muda memahami hal tersebut dan juga agar nasehat yang diberikan kepada siswa tersebut dapat di dengan oleh siswa dengan nyaman.
Komunikasi khusus juga dilakukan oleh guru seni dan budaya yaitu ibu Sry Astuti S.Sn yang diungkapkan dalam wawancara yang telah dilakukan pada tanggal 25 November 2020:
“Yah komunikasi secara khusus juga sering saya lakukan karena karakter murid di SMAN 14 Makassar macam-macam ada yang memiliki kepercayaan diri untuk berbicara langsung dengan guru ada juga yang pemalu sehingga untuk mengatasi hal tersebut saya harus mencoba berkomunikasi secara khusus kepada siswa tersebut agar saya lebih tahu sejauh mana siswa memahami materi yang saya bawakan dan juga sekaligus agar ia terbiasa berbicara dengan saya sehingga memunculkan kepercayaan diri untuk siswa yang memulai berbicara langsung kepada saya”
Berdasarkan hasil wawancara di atas menunjukkan guru SMAN 14 Makassar juga menggunakan komunikasi secara khusus tergantung dari pribadi masing-masing siswa dikarenakan karakter siswa SMA 14 Makassar bermacam-macam ada yang memiliki kepercayaan diri yang baik sehingga mampu berkomunikasi dengan guru secara nyaman namun ada juga yang berkepribadian pemalu sehingga guru SMAN 14 Makassar harus berkomunikasi secara khusus agar guru mampu mengetahui lebih jauh lagi mengenai karakter siswa dan membantunya untuk menumbuhkan rasa kepercayaan diri.
Komunikasi atara guru dan siswa SMAN 14 Makassar tidak hanya terjadi di ruangan belajar namun juga terjadi di luar ruang belajar bahkan di luar lingkup sekolah, hal in di kutip dari hasil wawancara yang telah dilakukan kepada Pak Rivai S.Pd selaku guru sosiologi di SMAN 14 Makassar pada tanggal 25 November 2020:
“Komunikasi bukan hanya terjadi di dalam ruangan belajar tapi juga terjadi di luar ruangan sekolah bahkan terkadang di luar lingkup sekolah contohnya jika siswa masih ingin bertanya namun waktu mata pelajaran telah selesai siswa biasanya tetaap bertanya di luar ruangan, begitupun jika di berikan tugas namun mereka belum terlalu paham akan tugas tersebut biasanya siswa akan datang kerumah untuk mendengarkan penjelasan dan terkadang juga lewat sosmed”
Hasil wawancara di atas menunjukkan komunikasi yang dilakukan antara guru dan murid SMAN 14 Makassar tidak hanya terjadi di ruangan belajar namun juga terjadi diluar ruangan belajar bahkan di luar lingkup sekolah contohnya saat siswa belum memahami mata pelajaran yang diajarkan dan waktu mata pelajaran telah habis siswa akan bertanya dengan