BAB II KAJIAN PUSTAKA
4. Hakikat Film
Istilah film pada mulanya mengacu pada suatu media sejenis plastik yang dilapisi dengan zat peka cahaya akan tetapi perkembangan teknologi media penyimpan saat ini telah mengubah pengertian film menjadi karya seni audio-visual. Singkatnya film kini diartikan sebagai suatu genre seni yang menggunakan audio dan visual sebagai mediumnya. (Juwita Uci Norista, 2012).
Unsur-unsur yang membuat suatu kesusastraan dalam film yaitu unsur ceritanya. Sama halnya dengan pendapat Asrul Sani bahwa unsur-unsur dalam kesusastraan yang dapat dipahami dalam film adalah unsur-unsur ceritanya. Jadi unsur cerita yang terdapat pada suatu film merupakan bagian dari kesusastraan. Sehingga film dapat disebut sebagai salah satu bagian dari seni sastra.
Bluestone (dalam Eneste, 1991: 60) menyatakan, film merupakan gabungan dari berbagai ragam kesenian, yaitu musik, seni rupa, drama, sastra yang ditambah dengan unsur fotografi. Eneste (1991: 60) juga menyatakan bahwa film merupakan hasil kerja kolektif atau gotong royong baik dan tidaknya sebuah film akan sangat bergantung pada keharmonisan kerja unit yang ada di dalamnya (produser, penulis
skenario, sutradara, juru kamera, penata artistik, perekam suara, para pemain, dan lain-lain).
Sama halnya dengan novel, film juga mempunyai unsur-unsur pembangun. Unsur-unsur yang dimaksud sebagai berikut:
a. Unsur ekstrinsik
Unsur ekstrinsik adalah unsur yang membangun film dari luar misalnya faktor ekonomi, sosial, agama, dan budaya.
b. Unsur intrinsik
Unsur intrinsik adalah unsur pembangun yang berasal dari dalam film. Unsur-unsur yang dimaksud sebagai berikut:
1) Tema
Tema adalah salah satu unsur intrinsik dari sebuah cerita, menurut Suciyanti tema cerita adalah gagasan pokok dalam sebuah cerita, yang diartikan sebagai dasar cerita yang disampaikan oleh sutradaranya. Tema film harus disesuaikan dengan penonton. Jika film ditujukan kepada pelajar, maka tema ceritanya juga harus dengan tema pendidikan. Jangan sampai tema yang disajikan justru menjerumuskan pelajar sebagai penonton pada hal-hal yang tidak edukatif (Marcella, 2011).
2) Tokoh dan penokohan
Wahidin mengatakan bahwa tokoh ialah pelaku dalam suatu film. Dalam suatu film biasanya ada beberapa tokoh.
Tokoh utama adalah tokoh yang berperan sangat penting dalam mengambil peranan dalam film. Tokoh sebagai pelaku dalam suatu film berbeda dengan cara penampilan tokoh-tokoh yang terdapat dalam novel. Eneste (dalam Juwita Oci Norista, 2012) mengatakan bahwa Film menampilkan secara langsung dan secara visual. Tokoh dalam film tidak hanya dibangun oleh kata-kata, melainkan juga pada plastic material, yakni dengan barang-barang atau benda nyata yang visual, yang dapat dipotret kamera. Berkaitan dengan pernyataan tersebut, pemunculan tokoh dalam film tidak hanya dideskripsikan dengan kata-kata akan tetapi, tokoh tersebut dapat divisualisasikan secara langsung melalui suatu gambar bergerak, misalnya seorang tokoh yang berprofesi sebagai guru dapat divisualisasikan dengan gambar-gambar seseorang yang berseragam (Juwita Oci Norista, 2012).
Penokohan adalah cara menampilkan tokoh. Ada beberapa cara di dalam menampilkan tokoh, yaitu cara analitik dan cara dramatik. Cara analitik ialah cara penampilan tokoh secara langsung melalui uraian sutradara. Jadi sutradara menguraikan ciri-ciri tokoh tersebut secara langsung. Cara dramatik adalah cara menampilkan tokoh dengan tidak secara langsung tetapi melalui gambaran ucapan, perbuatan, dan komentar atau penilaian pelaku atau tokoh dalam suatu cerita.
Masih mengenai tokoh. Tujiyono berpendapat bahwa tokoh dalam film disebut tokoh rekaan yang berfungsi sebagai pemegang peran watak tokoh. Itulah sebabnya istilah tokoh juga disebut karakter atau watak. Istilah penokohan juga sering disamakan dengan istilah perwatakan.
Dalam unsur intrinsik suatu film terdapat istilah yang lazim digunakan, yakni penokohan dan teknik penokohan.
Penokohan merujuk pada proses penampilan tokoh yang berfungsi sebagai pembawa peran watak tokoh cerita.
Sedangkan penokohan adalah teknik yang digunakan penulis naskah lakon, sutradara, atau pemain dalam penampilan atau penempatan tokoh-tokoh wataknya dalam cerita.
Teknik penokohan dilakukan dalam rangka menampilkan citra tokoh cerita yang hidup dan berkarakter.
Watak tokoh cerita dapat diungkapkan melalui salah satu dari lima teknik berikut ini:
a) Apa yang dipikirkan, dirasakan, atau dikehendaki tentang dirinya atau tentang diri orang lain.
b) Kelakuan dan tindakan.
c) Cakapan, ucapan dan ujaran.
d) Kehendak, perasaan dan pikiran.
e) Penampilan fisik.
3) Latar
Menurut Wahidin latar disebut juga dengan setting, yakni tempat atau waktu terjadinya peristiwa yang terjadi dalam sebuah cerita. Latar atau setting dibedakan menjadi dua yakni latar material dan sosial. Latar material adalah lukisan latar belakang alam atau lingkungan di mana tokoh tersebut berada. Latar sosial adalah lukisan tata karma, tingkah laku, adat dan pandangan hidup. Selain itu, terdapat pula istilah pelataran yang memiliki arti teknik atau cara penampilan latar.
4) Alur
Sama dengan novel di dalam sebuah film juga terdapat salah satu unsur intrinsik yang disebut dengan alur. Wahidin menjelaskan bahwa alur disebut juga plot, yaitu rangkaian peristiwa yang memiliki hubungan sebab akibat sehingga menjadi satu kesatuan yang padu dan utuh. Alur terdapat beberapa bagian :
a) Awal yaitu penulis mulai memperkenalkan tokoh pelaku.
b) Tikaian yaitu terjadinya konflik antara tokoh-tokoh pelaku.
c) Gawatan atau rumitan, yaitu konflik dari tokoh semakin seru.
d) Puncak yaitu saat puncak konflik terjadi di antara tokoh- tokohnya.
e) Leraian yaitu saat konflik semakin reda dan perkembangan alurnya mulai terungkap.
f) Akhir yaitu seluruh konflik telah diselesaikan.
5) Amanat
Amanat adalah pemecahan yang diberikan sutradara bagi persoalan di dalam suatu cerita. Amanat juga biasa disebut makna dari cerita. Makna dapat dibedakan menjadi dua yaitu makna niatan dan makna muatan. Makna niatan adalah makna yang diniatkan oleh sutradara bagi karya sastra yang diciptakannya. Makna muatan adalah makna yang termuat dalam cerita.
6) Sudut pandang
Salah satu unsur intrinsik lain yang tidak dapat dipisahkan dari sebuah cerita adalah sudut pandang. Menurut Wahidin, sudut pandang adalah dari mana suatu cerita dikisahkan oleh penulis. Penulis di sini adalah pribadi yang diciptakan sutradara untuk menyampaikan cerita. Ada dua sudut pandang yaitu: 1) pencerita sebagai orang pertama dan pencerita sebagai orang ketiga. Sebagai orang pertama, pencerita duduk dan terlibat dalam cerita tersebut, biasanya sebagai aku dalam tokoh cerita. 2) Sebagai orang ketiga, pencerita tidak terlibat di dalam cerita tersebut tetapi ia duduk sebagai seorang pengamat yang serba tahu.