• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

B. Pembahasan

Adaptasi di dalam kamus istilah sastra diartikan sebagai pengolahan kembali suatu karya sastra dari satu jenis ke jenis lainnya dengan mempertahankan lakuan, tokoh, serta gaya, dan nada aslinya (Septi Sariningsih, 2011). Susan Hayward (dalam Ardianto, 2014) menjelaskan bahwa film adaptasi dari karya sastra merupakan sebuah film yang ide ceritanya dari karya sastra (novel, cerpen, dan sebagainya), namun dalam penceritaannya muncul kemungkinan cerita yang tidak harus sama persis dengan karya aslinya. Sehingga sebuah karya film adaptasi tetap memberi ruang interpretasi bagi pembuat naskah film ataupun sutradara dalam menerjemahkan naskah aslinya. Sebuah film yang berangkat dari karya sastra tidak hanya difokuskan pada teks saja, melainkan juga pada media gambar dan suara.

Dari hasil penelitian penokohan tokoh utama Novel Sabtu Bersama Bapak ke dalam bentuk Film menggunakan teori strukturalisme sastra dapat dilihat hasil penelitian yang diuraikan di bawah ini:

Tokoh dan penokohan adalah unsur yang sangat penting di dalam sebuah karya sastra. Wahidin menjelaskan bahwa tokoh adalah pelaku dalam suatu cerita. Sudjiman (Hikma Amidong, 2018) menyebutkan bahwa penokohan merupakan penyajian watak atau karakter tokoh dalam penciptaan citra tokoh.

Aminuddin (dalam Nurgiyantoro, 1995: 79-80) menyatakan terdapat dua macam tokoh dalam suatu cerita, yaitu:

a. Tokoh utama

Tokoh utama adalah tokoh yang berperan sangat penting dalam suatu cerita. Tokoh ini merupakan tokoh yang paling banyak diceritakan, baik sebagai pelaku kejadian maupun yang dikenai kejadian.

b. Tokoh pembantu

Tokoh pembantu adalah tokoh yang memiliki peranan yang tidak terlalu penting dalam suatu cerita dan kehadiran tokoh ini hanya sekedar menunjang tokoh utama.

Adapun cara penggambaran watak tokoh, yang sering dipakai menjadi dua cara yaitu, cara analitik dan cara dramatik. Cara analitik digunakan pengarang untuk menyebutkan secara langsung masing-masing kualitas tokohnya. Sedangkan dengan cara dramatik atau cara tidak langsung yaitu pengarang membiarkan tokoh-tokohnya untuk menyatakan diri mereka sendiri melalui kata-kata, tindakan-tindakan, atau perbuatan mereka sendiri.

Aminuddin (dalam Marwan, 2017:19) mengatakan pembaca dapat menelusuri penokohan atau karakter tokoh melalui beberapa hal, antara lain:

a. Lewat tuturan pengarang terhadap karakteristik pelakunya

b. Gambaran yang dilakukan pengarang lewat penggambaran lingkungan kehidupan maupun cara berpakaian

c. Menunjukkan bagaimana pelakunya

d. Melihat bagaimana tokoh itu berbicara tentang dirinya sendiri e. Memahami bagaimana tokoh lain berbicara tentangnya f. Melihat bagaimana tokoh itu memberikan aksi terhadapnya g. Melihat bagaimana tokoh itu dalam mereaksi tokoh lainnya.

Robert Stanton membagi struktur menjadi tiga bagian : Tema, fakta-fakta cerita, dan Sarana-sarana cerita.

a. Tema

Tema merupakan elemen yang relevan dengan setiap peristiwa dan detail sebuah cerita.

b. Fakta-fakta cerita

Fakta-fakta cerita adalah suatu hal yang diceritakan pada sebuah karya sastra. Penokohan, alur, dan latar termasuk dalam fakta-fakta cerita.

c. Sarana-sarana cerita

Sarana-sarana cerita adalah metode untuk memilih dan menyusun detail cerita agar menjadi pola-pola yang bermakna.

(Stanton, 2007)

Eneste mengatakan bahwa alat utama novel adalah kata- kata, segala sesuatu di dalam novel disampaikan dengan kata-kata.

Baik dari segi cerita, alur, latar, penokohan, suasana, dan gaya sebuah novel dibangun dengan kata-kata. Pemindahan novel ke layar putih

berarti mengubah dunia kata-kata. Pemindahan novel ke layar putih berarti terjadinya perubahan alat-alat yang dipakai, yakni mengubah dunia kata-kata menjadi dunia gambar-gambar yang bergerak berkelanjutan sebab di dalam film, cerita, alur, latar, penokohan, suasana, dan gaya diungkapkan melalui gambar-gambar yang berkelanjutan. Apa yang tadinya dilukiskan dengan kata-kata, kini harus diterjemahkan ke dunia gambar. Tentunya pemindahan novel ke dalam film dapat menimbulkan banyaknya perubahan. Teks atau kata- kata mampu membimbing imajinasi secara bebas, sedangkan visual memberikan bentuk nyata. Karena itulah adaptasi novel ke dalam film pasti mengalami perubahan karena memiliki media yang berbeda.

Remak (dalam Damono 2013: 1) mengatakan bahwa sastra bandingan merupakan kajian sastra di luar batas-batas sebuah negara dan kajian hubungan antara sastra dengan bidang ilmu serta kepercayaan lain seperti seni (misalnya seni lukis, seni ukir, seni bina, dan seni musik), filsafat, sejarah, dan sains sosial (misalnya politik ekonomi, sosiologi), sains, agama, dan lain-lain.

Pendapat dari Remak tersebut diartikan bahwa yang termasuk dalam kajian sastra bandingan terdapat dua bagian, yaitu sastra harus dibandingkan dengan sastra, dan sastra juga bisa dibandingkan dengan ilmu lain, seperti halnya suatu karya sastra dapat dibandingkan dengan film ataupun drama musikal.

90 BAB V

SIMPULAN DAN SARAN A. Simpulan

Adaptasi novel ke dalam Film sudah banyak dilakukan di Indonesia. Adaptasi novel ke dalam film terdapat perbedaan karena novel dan film memiliki media yang berbeda.

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dalam Novel Sabtu Bersama Bapak karya Aditya Mulya dan Film Sabtu Bersama Bapak karya sutradara Monty Tiwa menggunakan teori Strukturalisme dapat disimpulkan bahwa :

1. Tokoh utama dalam novel Sabtu Bersama Bapak memiliki peran yang sama dalam Film Sabtu Bersama Bapak.

2. Tokoh Gunawan dalam Novel dan Film Sabtu Bersama Bapak memiliki persamaan dan perbedaan. Persamaan tersebut antara lain: (1) sama-sama memiliki penyakit kanker, (2) sama-sama memiliki sikap tanggung jawab, tegas, dan bijak. Adapun perbedaanya yaitu di dalam novel Gunawan digambarkan sebagai sosok yang cerdas sedangkan dalam film tidak.

3. Tokoh Satya dalam Novel dan Film Sabtu Bersama Bapak memiliki persamaan. Persamaan tersebut antara lain : (1) dari segi fisik sama-sama digambarkan tampan, (2) Dari segi watak digambarkan sama-sama memiliki watak pemarah, tidak arogan, dan ingin menjadi lebih baik. Di

samping persamaan-persamaan tersebut, terdapat pula perbedaan.

Perbedaan tersebut antara lain: (1) dari segi status. Dalam novel Satya berstatus sebagai Bapak dari tiga orang anak sedangkan dalam film Satya berstatus sebagai Bapak dari dua orang anak. (2) Di dalam novel Satya memiliki sifat playboy, sedangkan dalam film Satya tidak memiliki sifat playboy. (3) dalam novel Satya tidak diceritakan memiliki sifat yang tidak ingin membuat istrinya khawatir kepadanya, sedangkan dalam film Satya memiliki sifat yang tidak ingin membuat istrinya khawatir kepadanya.

4. Tokoh Cakra dalam Novel dan Film Sabtu Bersama Bapak memiliki persamaan. Persamaan tersebut antara lain: dari segi sifat yaitu sama- sama dekat dengan bawahan, selalu mengabari ibunya, kaku, rajin ibadah, dan sederhana. Di samping persamaan-persamaan tersebut, terdapat pula perbedaan, perbedaan tersebut antara lain: (1) dari segi fisik. Dalam novel Cakra digambarkan berambut ikal, sedangkan dalam film Cakra tidak digambarkan berambut ikal. (2) dalam novel Cakra memiliki jabatan sebagai Deputy Director, sedangkan dalam film Cakra memiliki jabatan sebagai Direktur. (3) dalam novel Cakra memiliki sifat yang tidak mau merepotkan, suka membantu, bertanggung jawab, sedangkan dalam film Cakra tidak memiliki sifat tersebut. (4) di dalam novel Cakra tidak diceritakan memiliki sifat usil sedangkan dalam film Cakra memiliki sifat yang usil.

5. Tokoh Itje dalam Novel dan Film Sabtu Bersama Bapak memiliki beberapa persamaan dan perbedaan. Adapun persamaannya yaitu:

(1) sama-sama digambarkan pintar masak (2) sama-sama menderita penyakit kanker. Sedangkan perbedaannya yaitu: (1) dalam novel Ibu Itje digambarkan sebagai sosok yang hebat, sedangkan dalam film tidak.

(2) dalam novel Ibu Itje yang mendahulukan kebahagiaan anaknya tidak mau merepotkan, dan sederhana sedangkan dalam film tidak. (3) di dalam novel Ibu Itje digambarkan sebagai pemilik dari 8 rumah makan, sedangkan dalam film hanya digambarkan sebagai pemilik rumah makan tapi tidak digambarkan berapa cabangnya. (3) di dalam novel Ibu Itje memiliki dua orang cucu, sedangkan dalam film hanya memiliki dua orang cucu. (4) di dalam novel Ibu Itje tidak digambarkan sebagai mertua yang baik, sedangkan dalam film Itje digambarkan sebagai mertua yang baik.

B. Saran

Penulis menyadari masih terdapat banyak kekurangan dalam penyusunan skripsi ini dan mohon maaf jika terdapat kesalahan dalam penulisan skripsi ini. Penulis berharap dapat diperbaiki untuk penelitian selanjutnya.

Novel maupun Film Sabtu Bersama Bapak sangat rekomendasi karena ada banyak pelajaran yang bisa diambil dalam pengasuhan orang tua dan dalam mendidik anak. Tidak hanya itu, pembaca bagi yang belum berkeluarga dapat belajar banyak dari tokoh Novel dan Film Sabtu Bersama Bapak ketika masih dalam persiapan untuk mencari jodoh dan dapat belajar menjadi orang tua yang baik.

Penulis berharap untuk penelitian lebih lanjut diperbanyak dalam menganalisis Novel maupun Film. Karena sangat penting untuk pembaca maupun penonton agar mengetahui apa saja yang dapat dijadikan pembelajaran dalam kehidupan.

94

DAFTAR PUSTAKA

Ahmad, Nuraeni. (2006). Analisis Karakter Tokoh Utama dalam Novel Dealova Karya Dyan Nuranindya. Skripsi. Tidak Diterbitkan. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Universitas Muhammadiyah Makassar:

Makassar.

Amidong, H. H. (2018). Penokohan dalam Karya Fiksi. Diambil 19 Januari 2020, website:http//scholar.google.co.id/scholar?hl=id&as_sdt=0%2C5&q=amid ong+penokohan+dalam+karya+fiksi%3DZpSc3XyZNPcJ

Ardianto, D. T. (2014). Dari Novel Ke Film: Kajian Teori Adaptasi Sebagai Pendekatan Dalam Penciptaan Film. Panggung. Diambil 19 januari 2020, website http://jurnal.isbi.ac.id/index.php/panggung/article/view/101

Chandra, Yenni. Gunawan. (2014). Deskripsi Perbandingan Karakter Srintil dalam Novel Ronggeng Dukuh Paruk dengan Film Sang Penari. Diambil 23 Desember 2019, website: kc.umn.ac.id/1984/

Damono, Sapardji Djoko. (2013). Sastra Bandingan. Semarang:Editum

Dwi, K. S. (2013). Analisis Struktural dan Kajian Religiusitas Tokoh dalam Novel Rumah Tanpa Jendela Karya Asma Nadia. Diambil 19 januari 2020, website:http://ejournal3.undip.ac.id/index.php/sulukindo/article/view/2661 /2653

Marwan. (2017). Analisis Nilai Sosial-Budaya Novel In The Name Of Honor (Atas Nama Kehormatan) Karya Mukhtar Ma'i. Skripsi. Tidak Diterbitkan. Fakultas Keguruan dan Pendidikan. Universitas Muhammadiyah Makassar: Makassar

Marwiah. (2017). Pengembangan Model Pembelajaran Apresiasi Puisi Berbasis Hypnosis Tedars. Disertasi. Telah diterbitkan di Journal of Physics: Conference series.

Marwiah. (2019). Hypnosis Dan Puisi. Makassar: Yayasan Inteligensia Indonesia Mulya, Adhitya. (2017). Sabtu Bersama Bapak. Jakarta Selatan: Gagas Media Mutaqin, Diki (2014). Perbandingan Struktur Novel Sang Pemimpi dengan

Adaptasinya dalam Bentuk Film. Diambil 23 Desember 2019, website:

www. fkip-unswagati.ac.id/ejournal/index.php./deiksis/article/view/47 Naufal, Ahmad. Dzulfaroh. (2018). Respon Estetis dalam Adaptasi Novel-Film Al

Fil Al Azraq. Jurnal Bahasa dan Sastra. Diambil 25 Desember 2019, website: ejournal.iainsurakarta.ac.id/index.php/leksema/article/view/1327

Nurfadillah. (2019). Analisis Genetika Sosial Sastra Dalam Novel Anak-Anak Angin Karya Bayu Adi Persada. Skripsi. Tidak Diterbitkan. Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan. Universitas Muhammadiyah Makassar: Makassar

Nurgiyantoro, Burhan. (2018). Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Purba, Antilan. (2010). Sastra Indonesia Kontemporer. Yogyakarta: Graha Ilmu Pramadana, Marcella. (2011). Analisis Unsur-Unsur Intrinsik Film Hollywood di

Indonesia. Diambil 20 Januari 2020, website:

https://marchellapramadhana.blogspot.com/2011/05/analisis-unsur-unsur- intrinsik-film.html

Ramses, A.W. (2008). Analisis Hegemoni kekuasaan dalam novel Pabrik karya.

Diambil 20 Januari 2020, website:

http://ejournal.umm.ac.id/index.php/jib/article/view/1268

Sariningsih, Septi. (2011). Adaptasi Film ke Novel Brownies: Analisis Strukturalisme Robert Stanton. Diambil 19 Desember 2019, website:

https://eprints.uns.aac.id/8966/

Sayuti, A. Sumianto. (2000). Berkenalan Dengan Prosa Fiksi. Yogyakarta: Gama Media

Seger, Linda. (1992). The Art of Adaptation: Turning Fact an Fiction into Film.

Paperback Holt

Sugiyono. (2003). Metode Penelitian. Bandung: Alfabeta.

Suryanto. (2016). Analisis Perbandingan Interpretasi antara Novel dan Film 99 Cahaya dilangit Eropa. Diambil 23 Desember 2019, website:ejournal.potensiutama.ac.id/ojs/index.php/Proporsi/article/view/51 Suwadah, Siti. Rimang.(2011). Kajian Sastra Teori dan Praktik. Yogyakarta:

Lingkar Media

Stanton, Robert (2007). Teori fiksi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Tim Penyusun. (2014). Pedoman Penulisan Skripsi. Makassar: FKIP Unismuh Makassar

95

LAMPIRAN

Lampiran 1: Gambar sampul depan Novel Sabtu Bersama Bapak Karya Adhitya Mulya

Lampiran 2: Sampul belakang Novel Sabtu Bersama Bapak karya Adhitya Mulya

Lampiran 3: sinopsis Novel Sabtu Bersama Bapak Video mulai berputar

Hai, Satya! Hai, Cakra! Sang Bapak melambaikan tangan.

Ini Bapak.

Iya, benar kok, ini bapak.

Bapak Cuma pindah ke tempat lain. Gak sakit. Alhamdulillah, berkat doa Satya dan Cakra.

Mungkin Bapak tidak dapat duduk dan bermain di samping kalian. Tapi, Bapak tetap ingin kalian tumbuh dengan Bapak di samping kalian.

Ingin tetap bercerita kepada kalian.

Ingin tetap dapat mengajarkan kalian.

Bapak sudah siapkan.

Ketika kalian punya pertanyaan, kalian tidak pernah perlu bingung kemana harus mencari jawaban.

I don‟t let death take these, away from us.

I don‟t give death, a chance.

Bapak ada di sini. Di samping kalian.

Bapak saying kalian.

Ini adalah sebuah cerita. Tentang seorang pemuda yang belajar mencari cinta.

Tentang seorang pria yang belajar menjadi bapak dan suami yang baik. Tentang seorang ibu yang membesarkan mereka dengan penuh kasih. Dan…. Tentang seorang bapak yang meninggalkan pesan dan berjanji selalu ada bersama mereka.

Lampiran 4: gambar Gunawan dalam Film Sabtu Bersama Bapak

Lampiran 5: Gambar Itje dalam film Sabtu Bersama Bapak

Lampiran 6: Gambar Satya dalam film Sabtu Bersama Bapak

Lampiran 5: Gambar Cakra dalam film Sabtu Bersama Bapak

orpus data:

No. Kode data Kutipan

1. 2017:5 Mungkin Bapak tidak dapat duduk di samping kalian.

Tapi Bapak tetap ingin kalian tumbuh dengan Bapak di samping kalian. Ingin tetap bercerita kepada kalian. Ingin tetap mengajarkan kalian. Bapak sudah siapkan. Ketika kalian punya pertanyaan, kalian tidak pernah perlu bingung ke mana harus mencari jawaban.

2. 2017:30 Jauh sebelum sadar dirinya divonis harus berpulang, dia sudah memastikan akan ada cukup instrumen yang membuat anak istri mandiri tanpanya dirinya. Asuransi, penghasilan yang pasif, saham, property, semua hal yang membuat mereka tidak susah. Tidak berlebih, tidak kaya, tidak megah mentereng, tapi tidak susah. Minimal, dia sudah berguna untuk keluarganya agar mereka, paling tidak, dapat berguna bagi diri mereka sendiri. Dia memastikan ini bukan karena sombong atau harga diri.

Bukan juga karena tamak atau mementingkan materi. Dia jauh dari kedua ini. Namun, karena malu jika dia sudah berpulang dan anak istrinya harus merepotkan orang lain.

Hanya itu saja yang dia ingin dia hindari. Keluarga ini adalah tanggung jawabnya, di alam mana pun dia berada.

3. 2017: 18-21 Gunawan Sang Suami sudah menyiapkan semua bagi mereka. Sesuatu yang menurut Itje sangat cerdas.

4. 2017: 150-152 Bukan berarti seseorang harus kaya dulu sebelum nikah.

Tapi kalian harus punya rencana. Punya persiapan. Sejak itu, Bapak selalu punya rencana. Rencana untuk kita semua. Bahkan kanker ini pun, Bapak siap. Bapak punya rencana. Menikah itu banyak tanggung jawabnya.

Rencanakan. Rencanakan untuk kalian. Rencanakan untuk anak-anak kalian. Semoga cerita ini membuat kalian menjadi bapak yang lebih baik untuk anak kalian.

5. 2017: 30 Mimpi hanya akan baik jika kita melakukan planning untuk merealisasikan mimpi itu. Jika tidak, kalian hanya kan buang waktu. Kalian ingin jadi astronot pertama dari Indonesia? Bisa. Belajar yang benar dari kecil. Pilih jurusan yang tepat dari awal. Latih fisik kalian agar jadi kuat dan tinggi. Cari beasiswa untuk kuliah di luar negeri.

Atau menabung.

6. 2017: 130 Pak Gunawan adalah perencana yang baik. Prinsip dia dalam membangun keluarga adalah selesaikan masalah sebelum masalah itu datang.

7. 2017: 60 Satya memberikan dua tendangan cepat-pertama masuk dan kedua ditangkis. Sang bapak membalas, membuat Satya terjatuh. Satya bangkit lagi. Dia memberikan dua

tendangan lagi, kembali ditangkis. Satya terjatuh kembali.

Satya menangis. Sang Bapak tidak lagi memasang kuda- kuda. Dia duduk di samping Satya. Semangat ya, Kang.

Berapa kali kamu jatuh itu gak penting. Yang penting berapa kali kamu bangkit kembali. Iya tapi gak mau ah, latihan sama Bapak. Bapak gak pernah membiarkan Kakang menang. Dia melirik Sang Istri dan tersenyum.

Itje mendekatkan handycam kepada mereka berdua.

Kang, ketika kalian udah gede akan ada masanya kalian harus melawan orang. Yang lebih besar.Lebih kuat dari pada kalian. Dan akan ada masanya, Kalian gak punya pilihan lain selain melawan, dan menang.

8. 2017: 49 Dia juga memaksa dirinya tumbuh menjadi anak yang cadas. Benar-benar cadas. Bapaknya meninggal saat dia umur sembilan tahun. Dia tahu, bahwa sebelum dirinya beranjak remaja, dia sudah menjadi pria nomor satu dalam keluarga. Jika dia lembek, dia takut ibu dan adiknya terinjak-injak. Zaman dia remaja, sekali dua kali, preman pasar dia ladeni untuk lindungi warung pertama Ibu.

9. 2017: 59 Satya memiliki atribut yang tidak dimiliki banyak oraang.

Pintar, ganteng, dan mengutip belasan wanita yang pernah Satya patahkan hatinya.

10. 2017: 7 Satya terlahir dan terasah menjadi anak dan individu yang pintar. Luar biasa pintar. Kariernya membuktikan itu.

11. 2017: 54 Kakang gak malam mingguan? Sela Sang Ibu. Kedua anak menoleh ke belakang. Ngga Mah. Satya tersenyum.

Malem mingguan atuh sanah. Kayak anak teman-teman Mamah yang lain. Sama Dewi sih udah tadi siang. Dewi?

Siapa lagi itu? Bukannya kemarin Mira? Tanya Ibu bingung. Anaknya yang satu itu sepertinya berganti pacar lebih sering daripada ganti baju.

12. 2017: 71-72 Rissa sudah suka kepada Satya sejak awal mereka masuk kuliah di tahun 2001. Empat tahun, Rissa menjadi penghias taman kampus. Duduk di sana setiap jeda kuliah, selama empat tahun, sambil melihat pria itu belajar, bercanda, atau mencuri cumbu dengan wanita selalu berganti.

13. 2017:24 Satya mengetuk pintu rumahnya. Ada seruan anak kecil.

Sssst, Bapaaak! Beresin! Beresin!. Kemudian suara derap lari ketiga anak menuju pintu.. Satya memang ingin dipanggil Bapak, seperti dia memanggil ayahnya dulu.

Sementara Rissa ingin dipanggil Mamah. Jadinya, panggilan Satya-Rissa sama dengan Pak Gunawan-Ibu Itje.

Pintu itu terbuka. Satya menatap tiga pasang mata para

pangeran kecil. Ryan-7 tahun, Miku-5 tahun, dan Dani-3 tahun.

14. 2017:51 Satya sedang duduk dan berbicara pada Ryan, anak sulungnya di telepon. Emosinya memuncak. RYAN!

BAPAK GAK SUKA! MASAK GITU AJA GAK BISA COME ON RYAN! COME ON! Suara tangisan di seberaang telepon. Kemudian nada putus. RYAN!

RYAN! Satya membanting telepon ke meja. Dia memukul meja itu dengan keras. Dan lagi.

15. 2017: 80 Ryan, Miku, dan Dani, sebenarnya takut menyambut seorang Bapak.

Saya jarang menyambut seorang suami.

Kami berempat selalu menyambut orang yang sering marah-marah.

16. 2017:75 Ryan, Miku, dan Dani, sebenarnya takut menyambut seorang Bapak.

Saya jarang menyambut seorang suami.

Kami berempat selalu menyambut orang yang sering marah-marah.

17. 2017:81 Kakang minta maaf. Satya memulai.

Gak perlu lagi ada e-mail. Apalgi yang seperti itu. Dia merangkul Rissa dan mengecup keningnya.

I promise you.

Sang Suami menatap istrinya dalam-dalam.

Mendiang Bapak telah mengajarkan pada anak-anaknya dalam sebuah posting, bahwa meminta maaf ketika salah adalah wujud dari banyak hal. Wujud dari sadar bahwa seseorang cukup mawas diri bahwa dia salah. Wujud dari kemenangan dia melawan arogansi. Tidak meminta maaf membuat seseorang terlihat bodoh dan arogan.

18. 2017:152 Telapak kaki lecet karena menginjak butiran lego? Satya berusaha diam kali ini. Mainan mobil pecah karena terinjak? Diam. Biarkan. Boneka singa dengan kepala gundul? Biarkan. Biasanya Satya memberikan disiplin yang tinggi. Semua itu tidak boleh ada. Kali ini dia tidak ingin marah karena hal-hal tersebut. Dia belajar menjadi Bapak yang lebih baik.

19. 2017: 10 Satya berjalan lebih dulu menyusul ketiga anaknya. Rissa menyusul di belakang setelah membuang sampah. Dia menatap Sang Suami di depannya. Di hari-hari lain, pasti ada saja yang membuat orang ini terganggu. Tapi tidak hari ini. Rissa berterima kasih kepada Tuhan. Doanya terkabul

20. 2017: 10 Bapak sekarang baik, ya.

Iya. Best Dad ever! Ujar Ryan.

21. 2017: 10 Cakra berambut ikal dan menjadi gimbal tak terkendali

setiap kali terlambat potong rambut. Itu sebabnya dia selalu memotong rambutnya pendek. Nyaris cepak.

22. 2017: 10 Empat bulan terkahir, ada perubahan yang menyenangkan di dalam devisi micro finance dari bank itu. Perubahan itu terjadi semenjak ada seorang bankir muda yang meleset dan berhasil menduduki jabatan Deputy Director. Bankir muda bernama Cakra Garnida.

23. 2017: 9 Sini Kang, saya saja. Udah. Biarin, Pak Dadang. Saya bisa sendiri. Gak apa-apa Kang. Udah, Biarin, Pak Dadang masuk aja, makan sama yang lain.

24. 2017: 53 Rikuh ya, Mah. Sban dia kesini, dia pasti beres-beres.

Nyapu halamanlah, cuciin mobillah, inilah, itulah.

Saka…. Sang Ibu masih memanggil Cakra dengan nama kecilnya.

Sopir Mamah cuma berterima kasih aja. Gaji dia, kamu yang bayarin. Anak-anaknya kamu yang sekolahin.

Kemarin istrinya sakit, kamu yang bayarin. Ya jelas dia ingin bantu.

25. 2017: 70 Cakra Garnida, baru saja berumur 30, berada dipekarangan rumah sendiri. Dia menatap rumah yang baru selesai dibangun. Rumah minimalis bertingkat dua.

Lebih luas pekarangan daripada luas lantai dasar rumah itu sendiri. Rumah perdana miliknya.

27. 2017: 135 Cerita cinta Cakra dengan statusnya sebagai jomblo kurang PD adalah cerita umum yang banyak dialami orang lain.

28. 2017: 140-141 From: Cakra

Mah, Saka ketemu perempuan. Saka suka.

From Mamah:

Alhamdulillah. Namanya siapa?

From Cakra:

Namanya Ayu Mah.

From Mamah:

Bismillah, Mamah doakan lancar. Oh iya Ka. Minggu depan Mamah ke Padang yah. Dengan teman-teman SMA Mamah. Rame-rame.

From Cakra:

Ok, Mah.

29. 2017: 43 From: Cakra

Mah, udah pulang dari Padang?

Kok, ngga ada kabar?

Saka ke Bandung ya wiken ini.” (Adhitya Mulya, 2017:

135)

“From: Cakra

Mah, kok gak ada kabar? Saka harus ke Makassar 1 bulan.

Dokumen terkait