BAB II KAJIAN PUSTAKA
6. Sastra Bandingan
c. Perubahan bervariasi
Variasi-variasi antara novel dan film terjadi karena perbedaan alat yang digunakan. Di samping itu, film pun mempunyai waktu putar amat terbatas, sehingga tidak semua hal atau persoalan yang ada dalam novel dapat dipindahkan ke dalam film.
7. Strukturalisme Sastra
Teori strukturalisme didasarkan pada pendapat bahwa karya sastra sebagai satu kesatuan yang bulat yang unsur-unsurnya mempunyai koherensi. Analisis strukturalisme dalam karya sastra merupakan analisis struktur teks sastra itu sendiri. Dalam menjalankan analisis harus menciptakan teori analisis struktural yang benar-benar dapat dijadikan dengan pegangan dasar (Agga Ramses Wijakangka 2008).
Strukturalisme sastra dapat diartikan sebagai teori yang digunakan untuk menganalisis unsur intrinsik dari karya sastra. Strukturalisme menentang teori mimetik (yang berpandangan bahwa sastra adalah tiruan kenyataan), menentang teori ekspresif (yang menganggap sastra pertama- tama adalah ungkapan perasaan dan watak pengarang), dan menentang teori-teori resepsi (yang menganggap makna sastra bergantung kepada tanggapan dari pembaca dan horison harapan pembaca). Strukturalisme menekankan agar karya sastra dipandang secara otonom. Sastra harus diteliti secara objektif (yakni aspek intrinsiknya) karena keindahan sastra terletak pada penggunaan bahasanya yang khas yang mengandung efek- efek estetik. Model paradigma strukturalisme sastra adalah: karya sastra merupakan sebuah benda seni yang indah karena penggunaan bahasanya yang unik dan khas. Strukturalisme menganggap struktur karya sastra adalah: ide, amanat, tema, latar, watak dan perwatakan, insiden, plot, dan gaya bahasa. Karena itu, analisis struktur sastra biasanya dilakukan di sekitar hal-hal tersebut. Adapun kelemahan analisis dari teori ini yaitu:
karya sastra diasingkan dari konteks dan fungsinya sehingga sastra kehilangan relevansi sosialnya, tercerabut dari sejarah, dan terpisah dari permasalahan manusia. (Yoseph Yapi Taum, 2011).
Analisis struktural karya sastra , yang dalam hal ini fiksi, dapat dilakukan dengan mengidentifikasi, mengkaji, dan mendeskripsikan, fungsi hubungan unsur intrinsik fiksi yang bersangkutan. Dengan demikian, pada dasarnya analisis struktural bertujuan memaparkan secermat mungkin fungsi dan keterkaitan antara berbagai unsur karya sastra yang secara bersama menghasilkan sebuah keseluruhan.
Strukturalisme dalam karya sastra merupakan analisis struktural yang mengidentifikasikan, mengkaji, dan mendeskripsikan kegunaan dan keterkaitan unsur yang berasal dari dalam karya sastra (intrinsik) yang akan dianalisis.
Analisis struktural adalah suatu cara guna mengetahui secara teliti, unsur apa saja yang ada dalam sebuah karya sastra. Hal itu sangat tepat guna meneliti dan mengungkapkan makna karya sastra melalui pembahasan unsur-unsur yang saling berkaitan antara unsur yang satu dengan yang lain secara struktural. Keseluruhan unsur yang membangun dalam pembentukan ssebuah karya sastra ialah unsur yang ada di dalam karya sastra itu sendiri (Kusumaning Dwi Susanti, 2013).
Robert Stanton membagi struktur menjadi tiga bagian yaitu : Tema, fakta-fakta cerita, dan Sarana-sarana cerita.
a. Tema
Tema adalah pesan besar dari suatu karya sastra. Tema dalam suatu karya sastra bersifat individual sekaligus universal. Nilai apapun yang terkandung di dalamnya, keberadaan tema sangat diperlukan karena merupakan bagian penting yang tidak terpisahkan dengan kenyataan cerita. Tema membuat cerita lebih fokus, menyatu, mengerucut, dan berdampak. Bagian awal dan akhir cerita akan menjadi pas, sesuai, dan memuaskan berkat keberadaan tema. Tema merupakan elemen yang relevan dengan setiap peristiwa dan detail sebuah cerita (Stanton, 2007).
b. Fakta-fakta cerita
Fakta cerita adalah hal-hal yang diceritakan dalam sebuah karya sastra. Elemen-elemen ini berfungsi sebagai catatan kejadian imajinatif dari sebuah cerita. Elemen tersebut dirangkum menjadi satu dengan nama „struktur faktual‟. Struktur faktual bukanlah hal terpisah dari sebuah cerita. Struktur faktual merupakan salah satu aspek cerita.
Struktur faktual adalah cerita yang disoroti satu sudut pandang.
1) Alur
Secara umum alur merupakan rangkaian peristiwa- peristiwa dalam sebuah cerita. Istilah alur biasanya terbatas pada peristiwa-peristiwa yang terhubung secara kausal saja. Peristiwa kausal merupakan peristiwa yang menyebabkan atau menjadi dampak dari berbagai peristiwa lain dan tidak dapat diabaikan
karena akan berpengaruh pada keseluruhan karya. Peristiwa kausal tidak terbatas pada hal-hal yang fisik seperti ujaran atau tindakan, tetapi juga mencakup perubahan sikap karakter, kilasan-kilasan pandangannya, keputusan-keputusannya, dan segala yang menjadi variabel pengubah dalam dirinya (Stanton 2007).
Alur merupakan tulang punggung cerita. Sebuah cerita tidak akan sepenuhnya dimengerti tanpa adanya pemahaman terhadap peristiwa-peristiwa yang mempertautkan alur, hubungan kausalitas, dan keberpengaruhannya (Stanton, 2007).
2) Penokohan
Tokoh dan Penokohan adalah unsur yang sangat penting dalam sebuah karya sastra. Seperti yang dikatakan oleh Jones (dalam Nurgiyantoro, 1995:165) penokohan adalah penggambaran yang jelas tentang seseorang yang ditampilkan dalam sebuah cerita, sedangkan Sudjiman (dalam Hikma H. Amidong, 2018) menyebutkan bahwa penokohan merupakan penyajian watak tokoh penciptaan citra tokoh.
Aminuddin (dalam Marwan, 2017: 19) pembaca dapat menelusuri karakter melalui beberapa hal, antara lain:
a) Lewat tuturan pengarang terhadap karakteristik pelakunya b) Gambaran yang dilakukan pengarang lewat penggambaran
lingkungan kehidupan maupun cara berpakaiannya.
c) Menunjukkan bagaimana pelakunya
d) Melihat bagaimana tokoh itu berbicara tentang dirinya sendiri.
e) Memahami bagaimana tokoh lain berbicara tentangnya.
f) Melihat bagaimana tokoh itu memberikan reaksi terhadapnya.
g) Melihat bagaimana reaksi tokoh dalam mereaksi tokoh lainnya.
Menurut Aminuddin (dalam Prima Fajri Putra, 2014: 10) tokoh adalah pelaku yang mengemban peristiwa dalam cerita.
Sedangkan penokohan adalah cara pengarang menampilkan tokoh dalam ceritanya dan bagaimana tokoh tersebut. Hal ini berarti ada dua hal yang penting, yang pertama berhubungan erat, penampilan dan penggambaran seorang tokoh harus mendukung watak tokoh.
Secara wajar, apabila penggambaran tokoh kurang selaras dengan watak atau karakter yang dimilikinya atau bahkan sama sekali tidak mendukung watak tokoh yang digambarkan jelas akan mengurangi bobot ceritanya. Sedangkan cara penggambaran tokoh, yang sering dipakai menjadi dua, cara analitik dan cara dramatik, ada cara yang membedakannya menjadi metode langsung dan metode tidak langsung. Cara analitik digunakan pengarang untuk menyebutkan secara langsung masing-masing kualitas tokoh- tokohnya. Sedangkan metode dramatik atau metode tidak langsung yakni pengarang membiarkan tokoh-tokohnya untuk menyatakan diri mereka sendiri melalui kata-kata, tindakan-tindakan atau perbuatan mereka sendiri).
3) Latar
Latar adalah lingkungan yang melingkupi sebuah peristiwa dalam cerita, semesta yang berinteraksi dengan peristiwa-peristiwa yang sedang berlangsung. Latar dapat berwujud dekor, latar juga dapat berwujud waktu-waktu tertentu (hari, bulan, dan tahun) cuaca, atau satu periode sejarah.
c. Sarana-sarana sastra
Sarana-sarana cerita adalah metode atau cara pengarang dalam memilih detail cerita supaya menjadi pola yang sangat bermakna.
Pengarang meleburkan fakta dan tema dengan bantuan sarana-sarana sastra seperti judul, konflik, sudut pandang, simbolisme, ironi, dan lain-lain. Sarana kesastraan adalah teknik yang dipergunakan oleh pengarang untuk memilih dan menyusun detil-detil cerita menjadi pola yang bermakna Burhan Nurgiyantoro (dalam haenur mirna, 2019).
1) Judul
Judul selalu relevan terhadap karya sastra yang diampunya sehingga keduanya membentuk satu kesatuan.
Pendapat ini dapat diterima ketika judul mengacu pada sang karakter utama atau satu latar tertentu. Akan tetapi, bila judul tersebut mengacu pada satu detail yang tidak menonjol. Judul semacam ini acap menjadi petunjuk makna cerita bersangkutan.
2) Sudut pandang
Pusat kesadaran tempat kita dapat memahami setiap peristiwa dalam cerita dinamakan sudut pandang. Dari sisi tujuan, sudut pandang terbagi menjadi empat tipe utama yaitu (1) sudut pandang orang pertama-utama, sang karakter utama bercerita dengan kata-katanya sendiri. (2) sudut pandang orang pertama-sampingan, cerita dituturkan oleh satu karakter bukan utama (sampingan) (3) sudut pandang orang ketiga–terbatas, pengarang mengacu pada semua karakter dan memposisikannya sebagai orang ketiga tetapi hanya menggambarkan apa yang dapat dilihat, didengar, dan dipikirkan oleh satu orang karakter saja (4) orang ketiga-tidak terbatas, pengarang mengacu pada setiap karakter dan memposisikannya sebagai orang ketiga (Stanton, 2007).
3) Gaya dan tone
Dalam sastra gaya ialah cara penulis dalam menggunakan bahasa. Meski dua orang pengarang memakai alur, karakter, dan latar yang sama, hasil tulisan keduanya bisa sangat berbeda.
Perbedaan tersebut terletak pada bahasa dan menyebar dalam berbagai aspek seperti kerumitan, ritme, panjang-pendek kalimat, detail, humor, kekonkretan, dan banyaknya imaji dan metafora.
Di samping itu gaya juga bisa terkait dengan maksud dan tujuan sebuah cerita.
Satu elemen yang terkait dengan gaya adalah tone. Tone adalah sikap emosional pengarang yang ditampilkan dalam cerita. Tone bisa nampak dalam berbagai wujud, baik yang ringan, romantis, ironis, misterius, senyap, bagai mimpi, atau penuh perasaan (Stanton, 2007)
4) Simbolisme
Simbol berwujud detail yang konkret dan faktual yang memiliki kemampuan untuk memunculkan gagasan dan emosi dalam pikiran pembaca (Stanton, 2007).
Simbolisme dapat memunculkan tiga efek dalam fiksi, masing-masing bergantung pada bagaimana simbol bersangkutan digunakan. Pertama, sebuah simbol yang muncul pada satu kejadian penting dalam cerita menunjukkan makna peristiwa tersebut. Kedua, satu simbol yang ditampilkan berulang-ulang mengingatkan kita akan beberapa elemen konstan dalam semesta cerita. Ketiga, sebuah simbol yang muncul pada konteks yang berbeda-beda akan membantu kita menemukan tema.
5) Ironi
Secara umum, ironi dimaksudkan sebagai cara untuk menunjukkan bahwa sesuatu berlawanan dengan apa yang telah diduga sebelumnya (Stanton, 2007)
Ada dua jenis ironi yang dikenal yaitu ironi dramatis dan tone ironis. Tone dramatis atau ironi alur dan situasi biasanya
muncul melalui kontras diametris antara penampilan dan realitas, antara maksud dan tujuan seorang karakter dengan hasilnya, dan antara harapan dengan apa yang sebenarnya terjadi. Sedangkan tone ironis atau ironi verbal digunakan untuk menyebut cara berekspresi yang mengungkapkan makna dengan cara berkebalikan (Stanton, 2007).
B. Kerangka Pikir
Dengan memperhatikan uraian pada tinjauan pustaka, maka di bagian ini akan diuraikan beberapa hal yang akan dijadikan peneliti sebagai landasan berpikir. Penelitian terhadap Novel dan Film Sabtu Bersama Bapak menggunakan teori Strukturalisme Sastra. Teori tersebut dapat dan tepat digunakan untuk menyelesaikan permasalahan yang akan dikaji karena peneliti hanya menganalisis unsur intrinsiknya saja yaitu penokohan tokoh utama Novel dan Film Sabtu Bersama Bapak. Dalam penelitian ini strukturalisme akan disandingkan dengan konsep sastra bandingan.
Landasan berpikir tersebut akan mengarahkan penulis untuk menemukan data dan informasi dalam penelitian ini guna memecahkan masalah yang telah dipaparkan untuk itu akan menguraikan secara rinci landasan berpikir yang dijadikan pegangan dalam penelitian ini. Adapun bagan kerangka pikir dapat dilihat sebagai berikut:
Bagan 2.1 kerangka pikir
Sastra
Novel Film
Strukturalisme Sastra Konsep Sastra Bandingan
Penokohan Tokoh Utama Novel Sabtu
Bersama Bapak
Penokohan Tokoh Utama Film Sabtu Bersama Bapak
Analisis
Temuan
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah penelitian kualitatif karena Penelitian kualitatif adalah penelitian tentang riset yang bersifat deskriptif dan cenderung menggunakan analisis.
Sugiyono (2003: 14) berpendapat penelitian kualitatif adalah data yang berbentuk kata, skema, dan gambar.
B. Data dan Sumber Data 1. Data
Data pada penelitian ini adalah semua informasi yang berkaitan dengan penelitian, yaitu mengenai tentang perbandingan Penokohan Tokoh utama Novel Sabtu Bersama Bapak dengan adaptasinya dalam bentuk film
2. Sumber Data
Sumber Data pada penelitian ini berasal dari Novel dan film Sabtu Bersama Bapak.
39
C. Teknik Pengumpulan Data
Teknik yang digunakan dalam pengumpulan data yaitu mengumpulkan data melalui sumber tertulis dengan cara penelitian pustaka yaitu:
1. Membaca berulang-ulang Novel Sabtu Bersama Bapak dan menonton berulang-ulang Film Sabtu Bersama Bapak.
2. Mencatat data yang tergolong penokohan tokoh utama Novel dan Film Sabtu Bersama Bapak.
3. Mengklarifikasikan data yang termasuk penokohan tokoh utama Novel dan Film Sabtu Bersama Bapak.
D. Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian ini adalah peneliti sendiri. Peneliti berperan sebagai perencana, pelaksana, pengumpul data, penganalisis, penafsir data, dan pelapor hasil penelitian. Dalam pencatatan data digunakan alat bantu berupa tabel perbandingan penokohan tokoh dalam novel dan film.
Adapun tabel perbandingan yang dimaksud sebagai berikut:
Gambar tabel 3.1
No. TOKOH PENOKOHAN
DALAM NOVEL
PENOKOHAN DALAM
FILM i.
1
E. Teknik Analisis Data
Data yang ditemukan dalam pencarian data selanjutnya akan dianalisis dengan teori Robert Stanton yaitu unsur pokok pembangun karya sastra terbagi menjadi 3 struktur yaitu: Tema, fakta-fakta cerita (Tokoh, penokohan, latar, alur, amanat, sudut pandang) dan Sarana-sarana sastra (judul, sudut pandang, gaya dan tone, simbolisme, dan ironi). Tetapi pada penelitian ini hanya berfokus pada penokohan tokoh utama saja.
42 BAB IV
HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN A. Hasil Analisis
Pada bab ini akan diuraikan tentang hasil penelitian Novel dan Film Sabtu Bersama Bapak . Hasil penelitian berfokus pada Penokohan Tokoh Utama dalam Novel dan Film Sabtu Bersama Bapak.
Sebelum peneliti membahas hasil penelitian tentang Analisis Perbandingan Penokohan Tokoh Utama Novel Sabtu Bersama Bapak dengan Adaptasinya dalam Bentuk Film (Tinjauan Strukturalisme Sastra) Peneliti akan menyajikan deskripsi tentang gambaran cerita dalam Novel dan Film Sabtu Bersama Bapak serta gambaran kecil dari tokoh utamanya.
Baik Novel dan Film Sabtu Bersama Bapak bercerita tentang keluarga Garnida yang masing-masing tokoh memiliki masalahnya sendiri, yang pertama seorang pemuda yang belajar mencari cinta, kedua tentang seorang pria yang belajar menjadi Bapak dan suami yang baik, ketiga tentang seorang ibu yang membesarkan mereka dengan penuh kasih sendirian, dan tentang seorang Bapak yang meninggal karena penyakit kanker, tapi berjanji selalu ada bersama mereka. Bapak itu bernama Gunawan Garnida yang mengetahui bahwa umurnya tidak akan lama lagi karena menderita penyakit kanker. Gunawan paham bahwa ia tidak akan pernah melihat anak-anaknya yakni Satya dan Cakra tumbuh dewasa yang saat itu masih kecil. Oleh karena itu Sang Bapak memutuskan untuk
merekam video dirinya yang di dalamnya berisi pesan-pesan maupun solusi permasalahan yang akan mereka berdua hadapi nanti. Hal ini dilakukan agar kedua anaknya tidak kehilangan sosok Bapak di dalam hidup mereka hingga dewasa.
Setelah Satya dan Cakra dewasa, masalah hidup mendatangi mereka. Satya memiliki masalah dengan cara dia membina rumah tangga bersama Rissa. Sedangkan Cakra mengalami kesulitan mencari pasangan.
Di samping itu, Ibu mereka Ibu Itje menderita penyakit kanker yang dengan operasi pertamanya tidak memberitahukan kepada anaknya, hingga operasi kedua ketahuan oleh Cakra.
Di samping permasalahan yang dihadapi Satya dan Cakra, mereka kembali menonton video pesan-pesan Bapak mereka yang menjadi solusi dari permasalahan-permasalahan yang dihadapinya.
Tokoh utama dari Novel dan Film Sabtu Bersama Bapak ada empat orang yaitu Bapak Gunawan Garnida, Satya Garnida, Cakra Garnida, dan Ibu Itje Garnida.
Tokoh Bapak Gunawan dalam Novel maupun Film Sabtu Bersama Bapak merupakan tokoh yang memegang peranan penting. Sepanjang cerita dari awal hingga akhir, tokoh Bapak selalu ada dan disebut-sebut dalam dialog tokoh lainnya, dan selalu ada dalam beberapa peristiwa penting. Bapak juga digunakan sebagai judul novel dan film dan kehadirannya sangat dianggap penting dan menjadi penjawab solusi masalah yang dihadapi para tokoh. Walaupun tokoh Bapak jarang
berinteraksi langsung dengan tokoh lain karena tokoh Bapak digambarkan sudah meninggal tetapi, kehadiran karakternya sangat kuat, terutama di dalam video yang ia rekam disisa hidupnya untuk anak-anaknya.
Satya adalah anak sulung dari pasangan Bapak Gunawan dan Ibu Itje. Satya menikah dengan Rissa dan dalam novel memiliki tiga orang anak sedangkan dalam film memiliki dua orang anak. Secara fisik Satya digambarkan tampan. Ketampanannya banyak membuat wanita jatuh hati.
Tokoh Satya adalah tokoh yang penting dalam Novel maupun Film Sabtu Bersama Bapak, sepanjang cerita dari awal hingga akhir , tokoh Satya selalu ditampilkan. Jika Gunawan adalah penjawab solusi masalah yang dihadapi para tokoh, maka Satya adalah salah satu tokoh yang memiliki masalah. Terutama dalam menjalani rumah tangganya bersama Rissa.
Cakra adalah anak bungsu dari pasangan Bapak Gunawan dan Ibu Itje. Cakra termasuk tokoh penting dalam Novel dan Film Sabtu Bersama Bapak. Cakra dalam Novel maupun Film Sabtu Bersama Bapak digambarkan sebagai pemuda yang biasa saja, baik dari segi penampilannya maupun dari segi fisik. Sama dengan Satya, Cakra adalah salah satu tokoh yang memiliki masalah. Jika masalah Satya adalah rumah tangganya, Cakra bermasalah dalam mencari jodoh. Cakra yang sudah lumayan berumur belum juga mendapat jodoh karena itulah Ibunya takut tidak bisa melihat Cakra menikah.
Ibu Itje adalah istri dari Gunawan dan Ibu dari Satya dan Cakra.
Ibu Itje tidak kalah penting seperti ketiga tokoh di atas. Dari awal sampai akhir cerita Itje selalu ditampilkan.
Penokohan tokoh utama Novel Sabtu Bersama Bapak dapat dilihat pada hasil analisis data yang peneliti paparkan secara rinci di bawah ini:
a. Bapak Gunawan Garnida
Sosok Gunawan dalam novel diceritakan sebagai istri dari Ibu Itje dan Bapak dari Satya dan Cakra. Gunawan diceritakan menderita penyakit kanker yang divonis oleh dokter bahwa hidupnya hanya akan bertahan satu tahun lagi.
1) Bertanggung jawab
“Mungkin Bapak tidak dapat duduk di samping kalian.
Tapi, Bapak tetap ingin kalian tumbuh dengan Bapak di samping kalian.
Ingin tetap dapat bercerita kepada kalian Ingin tetap mengajarkan kalian.
Bapak sudah siapkan.
Ketika kalian punya pertanyaan, kalian tidak pernah perlu bingung kemana harus mencari jawaban.” (Adhitya Mulya, 2017: 5)
“Jauh sebelum sadar dirinya divonis harus berpulang, dia sudah memastikan akan ada cukup instrumen yang membuat anak istri mandiri tanpa dirinya. Asuransi, penghasilan yang pasif, saham, property, semua hal yang membuat mereka tidak susah.
Tidak berlebih, tidak kaya, tidak megah mentereng, tapi tidak susah. Minimal, dia sudah berguna untuk keluarganya agar mereka, paling tidak, dapat berguna bagi diri mereka sendiri.
Dia memastikan ini bukan karena sombong atau harga diri.
Bukan juga karena tamak atau mementingkan materi. Dia jauh dari kedua ini. Namun, karena malu jika dia sudah berpulang dan anak istrinya harus merepotkan orang lain. Hanya itu saja yang dia ingin dia hindari. Keluarga ini adalah tanggung
jawabnya, di alam mana pun dia berada.”(Adhitya Mulya, 2017: 30)
Dari kutipan di atas dapat dilihat sosok Gunawan yang bertanggung jawab karena sebelum meninggal Gunawan sudah menyiapkan semuanya agar hidup anak dan istrinya ketika dia sudah meninggal terjamin dan tidak menyusahkan orang lain.
2) Cerdas
“Gunawan Sang Suami sudah menyiapkan semua bagi mereka.
Sesuatu yang menurut Itje sangat cerdas.”(Adhitya Mulya, 2017: 3)
Kutipan di atas adalah penggambaran pengarang secara langsung terhadap Itje yang menganggap Gunawan sosok yang Cerdas.
3) Bijak
Direkam 12 Maret 1992
“Bukan berarti seseorang harus kaya dulu sebelum nikah. Tapi kalian harus punya rencana.
Punya persiapan.
Sejak itu, Bapak selalu punya rencana.
Rencana untuk kita semua. Bahkan kanker ini pun, Bapak siap.
Bapak punya rencana. Menikah itu banyak tanggung jawabnya.
Rencanakan.
Rencanakan untuk kalian.
Rencanakan untuk anak-anak kalian.
Semoga cerita ini membuat kalian menjadi bapak yang lebih baik untuk anak kalian.” (Adhitya Mulya, 2017: 18-21)
Direkam 2 juli 1992
“Mimpi hanya akan baik jika kita melakukan planning untuk merealisasikan mimpi itu. Jika tidak, kalian hanya akan buang waktu.
Kalian ingin jadi astronot pertama dari Indonesia? Bisa. Belajar yang benar dari kecil. Pilih jurusan yang tepat dari awal. Latih fisik kalian agar jadi kuat dan tinggi. Cari beasiswa untuk kuliah di luar negeri. Atau menabung.” (Adhitya Mulya, 2017:
150-152)
Dari kutipan di atas dapat dilihat sosok Gunawan yang bijak. Di berbagai kesempatan dalam video, Gunawan selalu memberi pelajaran tentang berbagai hal kepada anak-anaknya.
Seperti yang terlihat pada kutipan di atas, Gunawan mengajarkan anak-anaknya tentang bagaimana cara membina rumah tangga dan bagaimana cara mencapai cita-cita yang anak-anaknya inginkan.
4) Perencana yang baik
“Pak Gunawan adalah perencana yang baik. Prinsip dia dalam membangun keluarga adalah selesaikan masalah sebelum masalah itu datang.” (Adhitya Mulya, 2017: 30)
Dari kutipan di atas dapat dilihat bahwa penulis menggambarkan Gunawan sebagai sosok perencana yang baik.
5) Tegas
“Satya memberikan dua tendangan cepat pertama masuk dan kedua ditangkis. Sang bapak membalas, membuat Satya terjatuh. Satya bangkit lagi. Dia memberikan dua tendangan lagi, kembali ditangkis. Satya terjatuh kembali. Satya menangis.
Sang Bapak tidak lagi memasang kuda-kuda. Dia duduk di samping Satya.
Semangat ya, Kang.
Berapa kali kamu jatuh itu gak penting.
Yang penting berapa kali kamu bangkit kembali.
Iya tapi gak mau ah, latihan sama Bapak. Bapak gak pernah membiarkan Kakang menang.
Dia melirik Sang Istri dan tersenyum. Itje mendekatkan handycam kepada mereka berdua.
Kang, ketika kalian udah gede akan ada masanya kalian harus melawan orang. Yang lebih besar.
Lebih kuat dari pada kalian.
Dan akan ada masanya, Kalian gak punya pilihan lain selain melawan, dan menang.” (Adhitya Mulya, 2017: 130)
Dari kutipan di atas dapat dilihat sikap tegas Gunawan saat melatih Satya karate yang saat itu masih kecil. Walaupun Gunawan memiliki sikap tegas tapi dia tidak keras kepada anak-anaknya.
b. Satya Garnida
Satya adalah anak sulung dari pasangan Gunawan dan Itje.
Dalam Novel Sabtu Bersama Bapak Satya memiliki 3 orang anak laki-laki dari pernikahannya dengan Rissa.
1) Cadas
“Dia juga memaksa dirinya tumbuh menjadi anak yang cadas.
Benar-benar cadas. Bapaknya meninggal saat dia umur sembilan tahun. Dia tahu, bahwa sebelum dirinya beranjak remaja, dia sudah menjadi pria nomor satu dalam keluarga. Jika dia lembek, dia takut ibu dan adiknya terinjak-injak. Zaman dia remaja, sekali dua kali, preman pasar dia ladeni untuk lindungi warung pertama Ibu.” (Adhitya Mulya, 2017: 60)
Dari kutipan data di atas dapat dilihat penulis menggambarkan Satya sebagai sosok anak yang cadas dari kecil karena tidak ingin adik dan ibunya terinjak-injak.