BAB IV HASIL PENELITIAN
C. Hambatan-hambatan apa saja yang ditemukan dalam
2. Sering 5 12.5 %
3. Kadang – kadang 15 37.5 %
4. Tidak pernah 9 22.5 %
Jumlah 40 100 %
Sumber Data: Angket nomor 10 tahun 2015
Berdasarkan tabel tersebut diatas dapat diambil kesimpulannya bahwa 11 responden atau 27.5 % siswa menjawab Selalu melaksanakan shalat berjamaah ketika sedang sibuk/belajar, 5 responden atau 12.5 % siswa menjawab Sering melaksanakan shalat berjamaah ketika sedang sibuk/belajar, 15 responden atau 37.5 % siswa menjawab Kadang-kadang melaksanakan shalat berjamaah ketika sedang sibuk/belajar, dan 9 responden atau 22.5 % siswa menjawab Tidak pernah melaksanakan shalat berjamaah ketika sedang sibuk/belajar.
Berdasarkan hasil observasi, peneliti melihat bahwa siswa-siswi sangat antusias dalam belajar ketika diberikan berbagai strategi mengajar, hal ini membuktikan bahwa strategi mengajar sangat bagus ketika kita ingin mengetahui reativitas siswa karena dapat memacu untuk berdisiplin dalam melaksanakan shalat berjamaah.
C. Hambatan-Hambatan Apa Saja Yang Ditemukan Dalam
sehingga tidak mengherankan bila kedisiplinan shalat berjamaah untuk peserta didik yang sifatnya religius berusaha di tanamkan sejak dini di sekolah ini.
Dengan adanya pembelajaran yang dilakukan oleh guru PAI, Fiqih dan Aqidah Akhlak di SMP Islam Darul Hikmah Makassar dalam menanamkan kedisiplinan shalat berjamaah siswa pada anak tentu terdapat beberapa hambatan-hambatan.
Adapun hal-hal yang menjadi penghambat guru PAI, Fiqih dan Aqidah Akhlak dalam upaya menanamkan kedisiplinan shalat berjamaah pada siswa diantaranya latar belakang keluarga siswa. Seperti ketika peneliti wawancara kepada ibu Dra. Hj. Baniah selaku guru bidang studi Fiqih tentang hambatan-hambatan dalam menanamkan kedisiplinan shalat berjamaah pada siswa antara lain adalah:
Lingkungan keluarga, karena setiap siswa lahir dan dibesarkan dari latar belakang orang tua yang berbeda-beda. Jadi anak yang memang tidak biasa melihat dari orang tuanya atau dari tetangganya shalat, maka itulah anak yang paling susah diarahkan untuk shalat berjamaah. (Dra. Hj. Baniah, 11 Agustus 2015)
Berdasarkan hasil wawancara diatas, maka penulis menyimpulkan bahwa hal yang tersulit bagi guru pembina shalat berjamaah adalah anak yang belum pernah melihat dari kedua orang tuanya shalat maupun dari tetangganya, maka dari itu anak tersebut sulit untuk diarahkan dan diatur oleh guru-guru tersebut.
Walaupun demikian, dalam proses pembelajaran didalam lingkungan sekolah tidak dapat di pungkiri, masih banyak hambatan- hambatan yang di hadapi oleh guru dalam menanamkan kedisiplinan shalat berjamaah pada siswa antara lain:
a. Masih adanya beberapa kesadaran peserta didik yang minim dan kurang.
b. Kurangnya kekompakan guru-guru agama untuk lebih berperan aktif dalam membimbing para siswa untuk melaksanakan shalat berjamaah.
c. Belum adanya pemisahan antara tempat wudhu putra dan tempat wudhu putri.
Oleh sebab itu, seorang guru diluar dari tatap muka juga dapat melakukan pendekatan personal secara langsung kepada peserta didik yang di anggap masih nakal, banyak alasan-alasannya supaya tidak mengikuti shalat berjamaah dan bermalas-malasan dalam melaksanakan shalat berjamaah. Dengan melakukan berdialog dari hati ke hati dengan peserta didik yang membuat peserta didik lebih terbuka untuk mengungkapkan masalahnya dengan demikian pasti ada solusinya yang bisa ditemukan.
Untuk menghadapi hambatan-hambatan kepada peserta didik seperti ini di butuhkan profesioanalisme seorang guru yang bergelut di bidang tersebut. Supaya siswa lebih meningkatkan diri dalam melaksanakan kedisiplinan shalat berjamaah di sekolah maupun di luar sekolah.
Sedangkan dari hasil observasi yang peneliti lakukan ketika peneliti masuk ke dalam salah satu kelas VIIA untuk berinteraksi langsung dengan siswa-siswi untuk menghafal bacaan-bacaan shalat ada sebagian siswa yang bisa dan ada juga sebagian yang belum fasih Makhorijul hurufnya. Ketika peneliti bertanya pada beberapa siswa, mengapa ada yang bisa lancar dan ada yang tidak lancar.
Siswa menjawab: „saya setiap selesai shalat magrib selalu mengaji di mesjid‟ ada juga yang menjawab „saya belajar di pondok pak‟ dan ada juga menjawab „mama saya tidak pernah mengajari saya pak‟. (11 Agustus 2015)
Berdasarkan hasil wawancara diatas, maka peneliti menyimpulkan bahwa tidak semua siswa mendapatkan perhatian dari orang tuanya, ada yang begitu saja mempercayai langsung kepada lembaga sekolah anaknya tanpa di pantau lagi di rumahnya, namun ada juga orang tua yang sangat selektif dan memantau langsung perkembangan pendidikan anaknya dengan di tempatkan di pondok atau di suruh untuk belajar mengaji di masjid setiap selesai shalat magrib.
Sedangkan hambatan-hambatan yang lain yaitu seperti yang di ungkapkan oleh bapak Misbahuddin, S.Ag, beliau mengungkapkan bahwa:
Disini itu setiap anak mempunyai watak yang berbeda-beda, ada yang patuh, misalnya apabila waktu bel berbunyi menandakan jadwalnya shalat dhuha atau shalat dhuhur sudah tiba, tanpa disuruhpun mereka akan bergegas menuju mushola, akan tetapi ada yang bandel kalau tidak disuruh untuk melaksanakan shalat berjamaah.
Penjelasan diatas juga dipertegas oleh ibu Suriani, S. Ag yang mengatakan bahwa:
Kesadaran diri siswa disini sebagian ada juga yang masih kurang. Akan tetapi masih ada juga yang mempunyai pribadi disiplin yang tinggi, misalnya jika ada anak yang kurang disiplin dalam mengikuti kegiatan shalat berjamaah maka temannya pun tidak akan sungkan dan tidak akan takut melaporkan ke saya atau guru lain, sehingga kami bisa memastikan alasan yang kami terima dari anak yang tidak mengikuti shalat itu benar atau tidak.
Karena mereka yang disiplin merasa iri dengan temannya yang kurang disiplin tetapi bisa lolos-lolos terus tidak mengikuti kegiatan shalat tersebut. (11 Agustus 2015)
Berdasarkan hasil wawancara diatas, maka peneliti menyimpulkan bahwa kurangnya kesadaran siswa bisa menjadi penghambat guru dalam menanamkan kedisiplinan shalat berjamaah di sekolah sedangkan laporan-laporan dari siswa yang merasa dirinya sudah disiplin untuk temannya yang kurang disiplin kepada gurunya sangat membantu dan menjadi faktor pendukung agar pelaksanaan shalat berjamaah tersebut berjalan dengan baik.
D. Usaha-Usaha dan Manfaat Apa Saja Yang Dapat Menanamkan