BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
C. Hambatan Yang Dihadapi Dalam Transparansi Pemungutan Pajak Hotel
penyelesaian pajak hotel belum maksimal sehubungan dengan lambatnya dalam menindaklanjuti dan menanggapi berbagai keluhan dari wwajib pajak hotel.
C. Hambatan yang dihadapi dalam transparansi pemungutan pajak hotel
IRA selaku kepala dinas pendapatan daerah Kota Makassar mengatakan bahwa :
“Ketika ada sosialisasi, kami selalu menampung aspirasi dan kepentingan dari masyarakat wajib Pajak Hotel dan kepentingan bersama untuk dipertimbangkan dalam setiap prosedur dan peraturan sehingga mudah dipahami oleh wajib pajak itu sendiri sepanjang tidak bertentangan dengan undang-undang (Hasil wawancara 05 Juli 2016)”.
Berdasarkan hasil wawancara diatas penulis menyimpulkan bahwa dalam merekomendasikan sebuah prosedur maka pihak Dinas Pendapatan Daerah Kota Makassar akan selalu menampung masukan dan aspirasi serta kepentingan dari wajib pajak Hotel untuk dipertimbangkan sepanjang tidak bertentangan dengan aturan yang ada. Maka dari itu pihak Dinas Pendapatan Daerah Kota Makassar sangat menghimbau masyarakat wajib pajak Hotel untuk selalu menghadiri setiap forum dan sosialisasi yang dilakukan agar saling melengkapi demi kepentingan bersama tanpa ada yang dirugikan sama sekali.
Berdasarkan hasil pengamatan penulis di lapangan adalah salah satu hambatan dalam transparansi pemungutan pajak Hotel yaitu masih kurang maksimalnya sosialisasi yang dilakukan oleh Dinas Pendapatan Daerah Kota Makassar yang seharusnya dilaksanakan tiga kali dalam sebulan akan tetapi sosialisasi tersebut belum maksimal. Hal ini disebabkan oleh kurangnya jumlah wajib pajak hotel yang datang sehingga tidak mengetahui aturan-aturan perpajakan hingga bisa dimanfaatkan oleh oknum aparat Dinas Pendapatan Daerah Kota Makassar yang tidak bertanggung jawab,
hingga terjadi penyalahgunaan wewenang sampai bermain-main dengan pajak.
SDR selaku Kepala Bidang Pajak Hotel Hiburan dan Air Tanah, mengungkapkan bahwa :
“Kami disini melakukan sosialisasi atau workhop 2-3 kali setahun, kami juga mengundang seluruh wajib pajak yang dimaksud pengusaha Hotel se- Makassar dalam sebuah forum, kemudian mensosialisasikan prosedur dan tarif pajak, ini juga kami lakukan apabila ada perubahan prosedur maupun tarif pajak dan memberikan kesadaran dan pemahaman tentang PERDA.”.(Hasil wawancara 05 Juli 2016)
FAP selaku pengelola hotel dan sekaligus wajib pajak hotel menyatakan bahwa :
“kami terkadang bingung dan tidak mengerti akan peraturan pemerintah dikarenakan penyampaian informasi yang tidak konsisten dan lambat, terkadang surat edaran tidaksampai dan prosedur yang telah di informasikan sering berubah tiba-tiba, sehingga kami tidak perlu prosedur yang berbelit-belit yang penting kami bayar pajak walau kami tidak begitu paham tentang aturan itu (Hasil wawancara 25 Julii 2016)”.
Berdasarkan beberapa hasil wawancara diatas penulis dapat mengambil kesimpulan bahwa salah satu hambatan dalam transparansi pemungutan pajak hotel di Kota Makassar adalah masih kurang maksimalnya sosialisasi yang dilakukan meskipun dalam waktu 2-3 kali setahun, sehingga perlu lebih giat dan intensif lagi agar diharapkan wajib pajak hotel bisa memahami dan patuh terhadap aturan tentang pajak hotel. Hal ini dibuktikan dengan pendapat informan yang mengatakan bahwa penyampaian informasi tidak konsisten sehingga sering berubah tiba-tiba.
2. Sumber Daya Manusia
Pemungutan pajak hotel di dinas pendapatan daerah Kota Makassar harusnya dilakukan oleh petugas yang mempunyai kompetensi di bidangnya terutama agar masyarakat wajib dapat memahami aturan-aturan perpajakan, disamping itu petugas pajak juga harus dapat memahami tugas dan tanggumg jawabnya agar tidak terjadi penyelewengan dalam hal mengenai pajak hotel di Kota Makassar.
SDR selaku kepala bidang pajak hotel, pajak hiburan, dan pajak air tanah mengungkapkan bahwa :
“Di kantor kami, para pegawai dituntut dan diharuskan mengetahui dan mampu menjelaskan secara rasionalitas alasan penerapan suatu prosedur pajak Hotel yang harus dipatuhi oleh wajib pajak Hotel, namun kami sadar bahwa masih ada sebagian dari pegawai kami yang belum begitu mendalami, sehingga kami dari pimpinan senantiasa melakukan bimtek (bimbingan teknis) dan pelatihan kepada pegawai kami dan inshaallah secepatnya dalam kurun waktu ke depan tidak ada lagi yang seperti itu agar mereka paham tugas dan tanggung jawabnya. (Hasil wawancara 05 Juli 2016)”.
Berdasarkan hasil wawancara diatas penulis dapat menyimpulkan bahwa memang diakui oleh dinas pendapatan daerah Kota Makassar bahwa masih ada petugas pajak hotel yang masih kurang berkompeten di bidangnya dan terus berupaya memberikan bimbingan teknis kepada petugas tersebut sehingga tidak akan ada lagi petugas yang tidak berkompeten di bidangnya terkhusus juga kepada petugas penagih/kolektor pajak hotel hingga tidak akan terjadi penyimpanan dan penyalahgunaan wewenang, tugas dan tanggungjawabnya.
Berdasarkan hasil pengamatan penulis di lapangan bahwa petugas pelayanan pajak hotel masih kurang maksimal melaksanankan tugas dan
tanggung jawabnya hal ini dibuktikan dengan masih banyaknya keluhan yang masuk dari pihak masyarakat wajib pajak hotel mengenai pelayanan yang lambat dan adanya kolektor/penagih pajak yang menyalahgunakan wewenangnya dan tidak mempunyai data yang valid sehingga transparansi pengelolaan pajak hotel belum terlaksana secara maksimal dan perlu adanya peningkatan secara maksimal yang efektif dan efisien.
ZAW selaku pengelola hotel sekaligus wajib pajak hotel mengatakan bahwa :
“Masih adanya penagih/kolektor pajak yang kurang begitu paham dan tidak mempunyai data-data yang valid, jadi mereka hanya sekedar menagih saja begitu pula petugas pelayanan pajak yang masih lambat dalam melayani kami (Hasil wawancara 30 Juli 2016)”.
Berdasarkan hasil wawancara diatas penulis dapat menyimpulkan bahwa pihak Dinas Pendapatan daerah Kota Makassar senantiasa melakukan bimtek (bimbingan teknis) dan pelatihan kepada pegawai dan petugas penagih pajak karena masih adanya penagih dan petugas pajak yang belum paham tugas dan tanggung jawabnya.Pihak Dinas Pendapatan Daerah Kota Makassar lebih giat lagi dalam melakukan pelatihan terlebih dahulu baru kemudian turun langsung ke lapangan untuk menagih pajak hotel.
BAB V PENUTUP A. KESIMPULAN
Berdasarkanuraian hasil penelitian, maka dapat ditarik beberapa kesimpulan sehubungan dengan transparansi pemungutan pajak hotel di dinas pendapatan daerah Kota Makassar sebagai berikut :
1. Prinsip transparansi memiliki 4 indikator:
a. Transparansi prosedur yaitu bahwa sudah menerapkan sistem pajak online, program pajak dengan sentuh hati, dan menyediakan pelayanan keluhan bagi wajib pajak hotel.
b. Transparansi persyaratan yaitu bahwa dengan menampilkan KTP dan data-data suratizinya, menyampaikan data format NPWPD, dan perhitungan pajaknya berdasarkan transaksinya.
c. Transparansi biaya yaitu bahwa tarif pajak hotel 10%, menggunakan sistem self assessment, biaya administrasi gratis, denda pajak 2%.
d. Transparansi Waktu yaitu bahwa menunjukkan batas waktu penyelesaian pajak hotel.
2. Hambatan yang dialami dalam transparansi pemungutan pajak hotel di dinas pendapatan daerah Kota Makassar adalah sebagai berikut :
a. Sosialisasi yaitu dengan menampung aspirasi dan kepentingan wajib pajak hotel, melakukan workshop2-3 kali setahun.
b. Sumber daya manusia yaitu dengan melakukan bimbingan teknis (bimtek), pelatihan pegawai dan kolektor penagih pajak.
69
B. SARAN-SARAN
Pada Bagian Ini peneliti akan memberikan beberapa rekomendasi terkait transparansi pengelolaan pajak hotel kepeda dinas pendapatan daerah Kota Makassar,
1. Berkaitan dengan ketidaktahuan dan ketidakpatuhan serta ketidaksadaran wajib pajak atas aturan perpajakan, Maka Dinas Pendapatan Daerah bisa lebih mengoptimalkan dan mengintensifkan sosialisasi tentang pemahaman Peraturan Daerah No. 3 Tahun 2010 Tentang Pajak Daerah untuk membangun kesadaran para pengusaha Hotel dalam melaksanakan kewajibanya dalam membayar pajak, serta memberikan sanksi yang lebih keras lagi agar supaya memberikan efek jera kepada wajib pajak Hotel yang lain agar tidak bermain-main dengan pajak.
2. Mengintensifkan bimbingan teknis dan pelatihan petugas/penagih/kolektor pajak dengan kompetensi yang baik.
DAFTAR PUSTAKA
Adrianto, Nico, 2007. Good Government : Transparansi dan Akuntabilitas publik melalui e-Government. Palangkaraya : Bayu Media
Bohari H, 2012. Pengantar Hukum Pajak. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada.
Brotodihardjo R, Santoso 1998.Pengantar Hukum Pajak. Bandung :RefikaAditama.
Dwiyanto, Agus, 2014. Mewujudkan Good Governance Melalui Pelayanan Publik.Yogyakarta : Gajah Mada University Press.
Dina, Astuti, 2014. Analisis Penerapan Prinsip Transparansi Dan Akuntabilitas Pada Pengelolaan Pajak Reklame Di Dinas Pendapatan Daerah Kota Makassar.Makassar: Universitas Hasanuddin.
Hidayat, Misbah. L. 2007, Kajian Komparatif Pemerintahan Tiga Presiden.
Jakarta : Gramedia Pustaka Umum.
Lalolo, Krina, 2003. Indikator Dan Tolak Ukur Akuntabilitas, Transparansi, Dan Partisipasi. Jakarta : BAPPENAS, Sekretariat Pengembangan Kebijakan Nasional Tata Kepemerintahan Yang Baik.
Mardiasmo. 2009. Perpajakan. Edisi Revisi 2009. Yogyakarta :Andi Mardiasmo, 2011.Perpajakan Edisi Revisi 2011. Yogyakarta : Andi
Mardiasmo, 2004.Perwujudan Transparansi Dan Akuntabilitas Publik Melalui Akuntansi Sektor Publik. Suatu Sarana Good Governance.
Rahayu, Siti Kurnia. 2010. Perpajakan Indonesia : Konsep dan Aspek Formal.
Yogyakarta :Graha Ilmu
Ratminto, Winarsih S Atik. 2005. Manajemen Pelayanan Pengembangan Model Konseptuan, Penetapan Citizen’s Charter dan standar pelayanan minimal.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar
RiswandhaImawan. 2003. “Desentralisasi, Demokratisasi, dan Pembentukan Good Governance”. Jurnal Otonomi Daerah, Vol. 11 (6), Juni 2003, hal.56-60.
Rosyada, Dede, dkk, 2003. Demokrasi Hak Azasi Manusia dan Masyarakat.
Jakarta.
Sabarno, Hari, 2007. Memandu Otonomi Daerah Menjaga kesatuan Bangsa.
Sinar Grafika.
Samudra, Ashari Aziz, 2015. Perpajakan Di Indonesia, Keuangan, Pajak dan Retribusi Daerah.Jakarta : Rajawali Pers.
Siahaan, Pahala Marihot, 2010. Hukum Pajak Material (Objek, Subjek, Dasar Penggunaan Pajak, Tarif Pajak dan Cara Perhitungan Pajak). Jakarta:
Graha Ilmu.
Smith, Rex Deighton. 2004. Regulatory Tranparency in OECD Countries : Overview, Trends a, d Challenges. Australian : Journal of Public Administration.
Sugiyono, 2011, Metode Penelitian Kombinasi (Mixed Methods). Bandung:
Alfabeta.
Tjokromidjojo, H. Bintoro, 2003.Reformasi Nasional dan Penyelenggaraan Good Governance dan Perwujudan Masyarakat Madani, Jakarta.
Sumber internet:
Dispenda Kota Makassar. 2016. Pengusaha Hotel Tidak Patuh bayar Pajak.
Online: Http://makassar.tribunnews.com. Diakses 13 April 2016.
Dokumen Perundang-Undangan:
Undang-Undang No. 23 Tahun 2014 Tentang Pemerintah Daerah.
Undang-Undang No. 34 Tahun 2010, Tentang Pemungutan Pajak Daerah Dan retribusi Daerah.
Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2009 Tentang Pelayanan Publik.
Undang-Undang No. 14 Tahun 2008 Tentang Keterbukaan Informasi Publik.
Undang-Undang No. 28 Tahun 2007, Tentang Ketentuan Umum Dan Tata Cara Perpajakan.
Undang-Undang No. 28 Tahun 2000 Tentang Penyelenggaraan Pemerintahan yang Bersih dan Bebas dari Korupsi, Kolusi dan Nepotisme.
Peraturan Daerah No. 3 Tahun 2010 Tentang Pajak Daerah Kota Makassar.
Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara No. 26 KEP/26/M.PAN/2/2004, Tentang Petunjuk Teknis Transparansi dan Akuntabilitas Dalam Penyelenggaraan Pelayanan Publik.
LAMPIRAN
DOKUMENTASI
DAFTAR RIWAYAT HIDUP
Ashar lahir pada tanggal 07 Agustus 1982, Sulawesi Selatan. Penulis merupakan anak kedua dari tiga bersaudara, buah hati dari pasangan Ayahanda Muh.
Ali dan Ibunda Suherah. Penulis mulai memasuki pendidikan formal di jenjang pendidikan dasar di SDN 23 Tanete Watansoppeng tahun 1989 dan tamat pada tahun 1995. Selanjutnya, penulis melanjutkan pendidikan ke SMP Negeri 2 Watansoppeng tahun 1995 dan tamat pada tahun 1998 Kemudian pada tahun itu juga (1998) penulis melanjutkan pendidikan ke SMA Negeri 3 Watansoppeng.
Dan selesai pada tahun 2001. Pada tahun 2005, penulis bekerja di perusahaan swasta yang ada di kota Makassar, pada tahun 2012 penulis melanjutkan pendidikan dibangku kuliah dan memilih Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (SOSPOL) di Universitas Muhammadiyah Makassar pada jurusan Ilmu Administrasi Negara, S-1.