• Tidak ada hasil yang ditemukan

Transparansi Pemungutan Pajak Hotel Di Dinas Pendapatan Daerah kota

Dalam dokumen transparansi pemungutan pajak hotel (Halaman 61-75)

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

B. Transparansi Pemungutan Pajak Hotel Di Dinas Pendapatan Daerah kota

1. Transparansi prosedur

Prosedur terkait rangkaian proses atau tata cara/kerja yang dilakukan oleh pihak Dinas Pendapatan Daerah Kota Makassar yang berkaitan dengan

pelayanan pajak hotel, sehingga menunjukkan adanya tahapan secara jelas dan pasti tentang cara-cara yang harus ditempuh dalam rangka penyelesaian suatu pelayanan dalam mewujudkan transparansi pemungutan pajak hotel di Kota Makassar.

IRA selaku kepala dinas pendapatan daerah Kota Makassar menyatakan bahwa :

“Ada beberapa prosedur pemungutan pajak hotel yakni dari pendaftaran wajib pajak hotel dalam jangka 30 hari sebelum dimulainya usaha, penetapan pajak menggunakan sistem self assegment, pembayaran pajak berdasarkanSPTPD yang telah dikeluarkan dan sejumlah nilainya, dan kemudian prosedur penagihan pajak apabila pajak hotel yang terutang tidak dilunasi setelah jatuh tempo pembayaran maka akan dikenakan sanksi yang tegas.”( Hasil wawancara 25 Juni 2016).

Berdasarkan hasil wawancara diatas penulis menyimpulkan bahwa prosedur pemungutan pajak hotel adalah Setiap Wajib Pajak wajib mendaftarkan usahanya kepada Pemerintah Kota dalam hal ini Dinas Pendapatan daerah Kota Makassar dalam jangka waktu selambat-lambatnya 30 (tiga puluh) hari sebelum dimulainya kegiatan usahanya,kecuali ditentukan lain apabila wajib pajak tidak melaporkan sendiri usahanya, Dinas Pendapatan daerah akan mendaftar usaha wajib pajak secara jabatan.

Prosedur penetapan pajak berdasarkan SPTPD yang telah diserahkan nantinya kepala daerah akan menetapkan pajak yang terutang dengan diterbitkanya surat ketetapan pajak daerah, Wajib pajak nantinya harus membayar sendiri berdasarkan dengan SPTPD yang telah dikeluarkan dan sejumlah nilainya. Penagihan Pajak Hotel apabila pajak hotel yang terutang tidak dilunasi setelah jatuh tempo pembayaran, maka akan melakukan

tindakan penagihan pajak. Penagihan pajak dilakukan dengan terlebih dahulu memberikan surat teguran atau surat peringatan atau surat lain yang sejenis sebagai awal tindakan penagihan pajak. Surat teguran atau surat peringatan dikeluarkan tujuh hari sejak saat jatuh tempo pembayaran pajak dan dikeluarkan oleh Dinas Pendapatan Daerah Kota Makassar. Dalam jangka waktu tujuh hari sejak surat teguran atau surat peringatan atau surat lain yang sejenis diterima, wajib pajak harus melunasi pajak yang terutang.

Selanjutnya, bila jumlah pajak terutang masih harus dibayar tidak dilunasi dalam jangka waktu yang ditentukan dalam surat teguran atau surat peringatan atau surat lain yang sejenis akan ditagih dengan Surat Paksa.

Tindakan penagihan pajak dengan Surat Paksa dapat dilanjutkan dengan tindakan penyitaan, pelelangan, pencegahan dan penyanderaan jika wajib pajak tetap tidak mau melunasi utang pajaknya sebagaimana mestinya.

ZAW selaku pengelola hotel sebagai wajib pajak mengatakan bahwa :

“Prosedur yang dilakukan dinas pendapatan daerah Kota Makassar saya menilai masih kurang terbuka karena yang menagih pajak tidak menjelaskan apa-apa atau cara-cara apa yang harus dilakukan dalam pembayaran pajak hotel secara jelas dan terperinci (Hasil wawancara 30 Juli 2016)”.

Berdasarkan hasil wawancara diatas penulis dapat menyimpulkan bahwa kurang transparanya pihak dinas pendapatan daerah Kota Makassar dalam hal ini tidak jelasnya tahapan yang dilakukan penagih pajak karena tidak menjelaskan secara terperinci tahapan yang dilakukan dalam pembayaran pajak hotel, seharusnya pihak dinaas pendapatan daerah Kota Makassar lebih

meningkatkan sosialisasi secara intensif agar meningkatkan pemahaman dan kepatuhan masyarakat wajib pajak hotel dalam membayar pajaknya.

Berdasarkan hasil pengamatan penulis di lapangan, pihak Dinas Pendapatan daerah sudah melakukan prosedur sebagaimana yang diinginkan seperti halnya dengan sistem pajak online dan program sentuh hati, dengan meminta keterangan kepada wajib pajak hotel terkait kendala apa yang dialami dalam membayar pajak serta pelayanan keluhan, bilamana ada masyarakat wajib pajak hotel yang ingin mengajukan keluhan kepada dinas pendapatan daerah Kota Makassar dan sudah disediakan loket pelayanan keluhan yang selanjutnya akan ditindak lanjuti dan dijawab keluhan tersebut.

Salah satu bentuk transparansi pemerintahan adalah kejelasan tentang peraturan perundang-undangan dan ketersediaan informasi pada masyarakat umum.

IRA selaku kepala dinas pendapatan daerah Kota Makassar mengatakan bahwa ;

“Sekarang sudah kita terapkan pajak online, namun masih banyak hotel- hotel yang memberikan pajak secara tidak transparan, makanya kita akan memprogramkan pajak dengan sentuh hati dengan memintai keterangan soal kendala apa yang dihadapi dalam membayar pajak. Disamping itu mungkin ada beberapa wajib pajak hotel yang memiliki keluhan seperti tidak jelasnya aturans tentang pemungutan pajak hotel, oleh karena itukami menyediakan bagian pelayanan keluhan, barang siapa wajib pajak hotel yang mempunyai keluhan dapat menyampaikanya secara langsung ke bagian tersebut, dan inshaallah akan kami jawab dan ditindak lanjuti, begitu pula jika ada pegawai kami yang kurang ramah dan tidak melayani mohon dilaporkan kepada saya (Hasil wawancara 05 Juli 2016)”.

Informasi yang diberikan berkaitan dengan pemberian pelayanan perpajakan dan keterbukaan penyelenggaraan pemerintah dapat

meminimalkan prilaku yang tidak bertanggung jawab dari oknum pemerintah dalam hal ini aparat dinas pendapatan daerah maupun pihak ketiga.

Berdasarkan informasi tersebut, masyarakat dapat melaporkan ketidaksesuaian yang mereka temukan di lapangan melalui saluran pengaduan yang disediakan.

SDR selaku kepala bidang pajak hotel, hiburan, dan air tanah pada dinas pendapatan derah Kota Makassar juga mengatakan bahwa :

“Kami terbuka dengan masyarakat yang membutuhkan informasi mengenai pajak hotel yang ada kaitanya dengan aturan yang mengatur tentang pemungutan pajak hotel, dan apabila ada keluhan seperti tidak jelasnya aturan tersebut maka mereka dipersilahkan langsung ke bagian pelayanan keluhan, disitu akan diberikan jawaban dan apabila kami tidak bisa memberikan solusi maka anda dapat membuat keluhan secara tertulis yang dilengkapi dengan materai (Hasil Wawancara 05 Juli 2016)”.

Berdasarkan hasil wawancara di atas penulis dapat menyimpulkan bahwa pihak dinas pendapatan daerah Kota Makassar menyediakan pelayanan keluhan bagi masyarakat wajib pajak hotel apabila menemukan permasalahan yang terkait dengan aturan tentang pemungutan pajak hotel yang selanjutnya akan ditindak lanjuti keluhan tersebut sebagaimana tugas dan fungsi dinas pendapatan daerah Kota Makassar.

FAP selaku pengelola hotel dan sekaligus wajib pajak hotel menyatakan bahwa :

“kami terkadang bingung dan tidak mengerti akan peraturan pemerintah dikarenakan penyampaian informasi yang tidak konsisten dan lambat, terkadang surat edaran tidaksampai dan prosedur yang telah di informasikan sering berubah tiba-tiba, sehingga kami tidak perlu prosedur yang berbelit-belit yang penting kami bayar pajak walau kami tidak begitu paham tentang aturan itu (Hasil wawancara 25 Julii 2016)”.

Berdasarkan hasil wawancara diatas penulis dapat menyimpulkan bahwa proses prosedur pemungutan pajak hotel pada dinas pendapatan daerah Kota Makassardimulai dengan pendaftaran wajib pajak hotel, penetapan pajak, pembayaran dan penagihan pajak serta prosedur penyampaian informasi dapat dikatakan transparan namun melihat masih tidak terlaksananya sosialisasi secara maksimal, karena penyampaian yang dinilai tidak konsisten dan cenderung lambat terkait dengan prosedur pelayanan pemungutan pajak hotel yang seharusnya dapat diantisipasi agar transparansi pelayanan pemungutan pajak hotel dapat berjalan lancar yang akhirnya bisa meningkatkan realisasi penerimaan pajak hotel dalam mendongkrak PAD Kota Makassar.

2. Transparansi persyaratan.

Persyaratan teknis dan administrasi menunjukkan bahwa wajib pajak Hotel harus memenuhi semua persyaratan tersebut yang telah ditetapkan oleh Dinas Pendapatan Daerah Kota Makassar sesuai dengan ketentuan perundang- undangan yang berlaku.Salah satu bentuk keterbukaan proses dalam transparansi pemerintahan dalam hal ini pihak Dinas Pendapatan Daerah Kota Makassar adalah kejelasan tentang persyaratan Pelayanan yang harus diketahui, dimengerti dan dipahami beserta alasan diperlukanya persyaratan tersebut. Dalam hal ini aparat Dinas Pendapatan Daerah Kota Makassar telah menyediakan sarana informasi terkait persyaratan yang harus dipenuhi bagi wajib pajak hotel.

SDR selaku kepala bidang pajak hotel hiburan dan air Tanah menyatakan bahwa :

“Kami sudah melasanakan sosialisasi kepada masyarakat terkait masalah perpajakan dengan tidak lupa menjelaskan persyaratnya, ada beberapa poin penting dan syarat-syarat yang perlu disiapkan dalam pengurusan pajak Hotel.Wajib pajak Hotel harus menampilkan KTP dan data-data suratizinya, menyampaikan data potensinya (data format) NPWPD, dan mereka dapat menghitung besaran pajaknya sendiri berdasarkan transaksinya, jadi kami sangat mengharapkan kerjasama wajib pajak hotel agar pelayanan perpajakan dapat terlaksana secara efektif dan efisien (Hasil wawancara 05 Juli 2016)”.

Dari hasil wawancara diatas, masyarakat wajib pajak Hotel yang terpenting harus menyediakan kartu tanda penduduk (KTP), dan melampirkan surat izin usahanya, data potensinya (Data formatnya), Nomor Pokok Wajib Pajak Daerah (NPWPD). Oleh karena itu bilamana semua persyaratan itu sudah disiapkan oleh masyarakat wajib pajak Hotel maka cukup membawa ke loket yang telah disiapkan dan selanjutnya akan diverifikasi oleh Aparat Dinas Pendapatan Daerah Kota Makassar yang bertugas.

Kemudian dari wawancara diatas penulis juga menyimpulkan bahwa dalam pembayaran pajak Hotel, pihak wajib pajak bisa menghitung sendiri besaran wajib pajaknya berdasarkan transaksinya berdasarkan aturan dalam PERDA (Peraturan Daerah ) No. 3 Tahun 2010 yang begitu sangat jelas dimana dikeluarkan 10 % dari total pembayaran yang dibayarkan pengunjung kepada Hotel.

Berdasarkan hasil pengamatan penulis di lapangan, dinas pendapatan daerah Kota Makassar sudah melaksanakan tugas dan tanggungjawabnya namun masih dinilai kurang transparan hal ini dibuktikan dengan masih kurangnya wajib pajak yang memahami dan patuh terhadap aturan perpajakan padahal agenda sosialisasi sudah dilakukan tiga kali dalam setahun.

FAP selaku pengelola hotel sebagai wajib pajak hotel mengatakan bahwa :

“Saya rasa masih banyak pengelola hotel yang tidak paham peryaratandan patuh terhadap aturan atau perundang-undangan yang mengatur tentang perpajakan hotel, disamping itu ada juga oknum pelayanan pajak yang menyalahgunakan tugas dan tanggung jawabnya.Yaaa……..biasalah karena menyiasatipersyaratan dan prosedur yang harus dipenuhi (Hasil wawancara 25 Juli 2016)”.

Berdasarkan hasil wawancara diatas penulis dapat menyimpulkan bahwa transparansi di dinas pendapatan daerah Kota Makassar dinilai masih kurang, hal ini dibuktikan dari informan yang mengatakan bahwa masih adanya wajib pajak hotel yang kurang mengetahui aturan perpajakan khususnya pajak hotel di Kota Makassar.

Berdasarkan hasil pengamatan penulis di lapangan terkait masih adanya wajib pajak hotel yang tidak memenuhi persyaratan, maka pihak dinas pendapatan daerah Kota Makassar harus lebih intensif lagi dalam melakukan sosialisasi dengan menjelaskan tentang aturan pajak hotel. Begitupula jika ada oknum dari pihak dinas pendapatan daerah Kota Makassar yang menyalahgunakan tanggungjawabnya akan diberi tindakan yang tegas.

SDR selaku kepala bidang hotel hiburan dan air tanah mengatakan bahwa :

“Terkait dengan masih adanya wajib pajak hotel yang tidak memenuhi persyaratan dan yang belum paham tentang perpajakan, maka kami akan lebih intensif lagi melakukan sosialisasi dan diharapkan kerjasama dari masyarakat wajib pajak hotel (Hasil wawancara 05 Juli 2016)”.

Berdasarkan hasil wawancara diatas penulis dapat menyimpulkan bahwa dalam persyaratanya wajib pajak hotel menampilkan KTP dan data-data surat izinya, menyampaikan data potensinya (data format) NPWPD, dan mereka dapat menghitung besaran pajaknya sendiri berdasarkan transaksinya, masih

adanya masyarakat wajib pajak yang belum paham dan patuh dalam membayar pajak maka perlu adanya peningkatan sosialisasi agar bisa merealisasikan target pencapaian pajak hotel dalam meningkatkan PAD dan pembangunan Kota Makassar.

3. Transparansi biaya

Biaya pelayanan menunjukkan segala biaya dan rincianya sebagai imbalan atas pemberian pelayanan umum yang besaran dan tata carapembayaranya ditetapkan oleh Dinas Pendapatan Daerah Kota Makassar sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan mengenai pelayanan pajak hotel di Kota Makassar.

Berdasarakan peraturan daerah Kota Makassar No. 3 tahun 2010 tentang pajak Daerah Kota Makassar dijelaskan bahwa sistem perhitungan pajak Hotel ada dua yaitu; self assessment adalah menghitung sendiri pajaknya sesuai transaksinya, dan official assessment adalah pihak Dinas Pendapatan Daerah Kota Makassar yang menetapkan dalam hal ini SKPD (Satuan Kerja Perangkat Dinas).

SDR selaku kepala bidang pajak hotel, hiburan dan air tanah Dinas Pendapatan Daerah Kota Makassar mengatakan bahwa :

“Dalam pajak Hotel terhitung tarif pajak 10% dan menggunakan sistem self assessment dengan cara mengalikan tarif pajak dengan jumlah pembayaran atau yang seharusnya dibayar kepada Hotel. Dan dalam pengurusan pajak hotel sama sekali tidak dibebankan atau dikenakan biaya administrasi pada wajib pajak hotel (gratis).”( Hasil wawancara 25 Juni 2016).

Berdasarkan wawancara di atas penulis dapat menyimpulkan bahwa perhitungan tarif pajak Hotel sangat mudah, dimana wajib pajak Hotel dalam

hal ini pengelola Hotel cukup menghitung jumlah pembayaran yang dilakukan oleh pengunjung selama satu bulan yang kemudian mengalikan 10

% dari ketetapan pajak Hotel. Disamping itu aparat Dinas Pendapatan Daerah Kota Makassar memasang papan bicara pada setiap Jasa akomodasi Hotel bahwa dalam setiap pembayaran pajak hotel maka setiap pengunjung akan dikenakan pajak 10% dari setiap pembayaran atau transaksi yang dilakukan, jadi disini sudah sangat jelas bahwa berapapun pengunjung yang ada setiap saat maka besaran pajak yang dibayarkan pengelola Hotel kepada Dinas Pendapatan Daerah dalam hal ini pemerintah akan mudah dihitung.

IRA selaku kepala dinas pendapatan daerah Kota Makassar mengatakan bahwa ;

“Minimnya realisasi pajak hotel alasanya adalah tingkat kepatuhan para pengusaha wajib pungut pajak tidak patuh dan taat bayar pajak, sehingga pihak Dinas Pendapatan Daerah Kota Makassar akan memberikan sanksi yang tegas yakni berupa sanksi administrasi dengan denda 2 %, pemasangan stiker tidak bayar pajak, dipublikasikan melalui media, pencabutan izin usaha, bahkan penyitaan seluruh aset hotel”. (Hasil wawancara 05 Juli 2016).

Berdasarkan hasil wawancara diatas penulis berkesimpulan bahwa adanya ketidaksesuaian (minimnya) antara rarget dan realisasi pajak Hotel dalam peningkatan PAD (Pendapatan Asli Daerah) Kota Makassar disebabkan banyaknya wajib pajak Hotel yang tidak mengindahkan kewajibanya dalam membayar pajak, maka dari itu diperlukan pengawasan yang lebih ketat lagi oleh Dinas Pendapatan Daerah Kota Makassar dengan cara pencegahan (preventif) melalui sosialisasi on airmaupun tatap muka

sampai kepada memberikan sanksi/tindakan yang lebih keras lagi bagi wajib pajak Hotel yang masih melanggar aturan yang ada.

Berdasarkan hasil pengamatan penulis terhadap kesadaran wajib pajak Hotel memang masih rendah, maka dari itu pihak aparat Dinas Pendapatan Daerah Kota Makassar akan memberikan tindakan yang tegas mulai dari sanksi administrasi dengan denda 2 %, pemasangan stiker tidak bayar pajak, dipublikasikan melalui media, pencabutan izin usaha, bahkan penyitaan seluruh aset Hotel. Hal ini diupayakan memberikan sebuah efek jera bagi wajib pajak Hotel yang lain yang masih mengindahkan bayar pajak dan aturan yang ada.

MRT selaku kolektor penagih pajak hotel mengatakan bahwa :

“Tidak dipungkiri ada beberapa wajib pajak hotel yang nakal tidak membayar pajak tepat waktu dan bahkan beberapa pula ada yang menunggak, saya sudah beberapa kali datang untuk bertemu dengan pemilik hotel selaku wajib pajak hotel tersebut.Tapi selalu saja ada alasannya, sehingga tidak pernah bisa bertemu.Saya kemudian melaporkan hasil pekerjaanku ke kabid.Selanjutnya ditindaklanjuti kabid dengan melapor ke kadis.Kadis kemudian menyetujui dan menandatangani surat perintah untuk dilakukan penyegelan dengan memasang stiker (Hasil wawancara 05 Agustus 2016)”.

Berdasarkan hasil wawancara penulis diatas dapat disimpulkan bahwa masih adanya masyarakat wajib pajak hotel yang nakal dan tidak patuh membayar pajak tepat waktu bahkan ada yang menunggak, maka dari itu pihak dinas pendapatan daerah Kota Makassar harus secara berkelahnjutan melakukan sosialisasi dalam hal perpajakan agar masyarakat wajib pajak dapat lebih mengerti dan memahami aturan-aturan yang mengatur tentang

perpajakan serta memberikan sanksi tegas ketika ada wajib pajak hotel yang tidak melaksanakan kewajibanya.

ZAW selaku pengelola hotel dan wajib pajak hotel di Kota Makassar mengatakan bahwa :

“Terkadang masih adanya oknum penagih pajak yang membawa data penagihan yang kurang valid sehingga adanya ketidaksesuaian antara perhitungan kami dengan jumlah yang harus dibayar, sehingga kami merasa bingung karena mereka tidak mampu menjelaskan secara terperinci tentang biaya yang harus dikeluarkan, kalau seperti ini bisa-bisa mereka menyalahgunakan tugas dan tanggung jawabnya (Hasil wawancara 30 Juli 2016)”.

Berdasarkan hasil wawancara diatas penulis dapat menyimpulkan bahwa dinas pendapatan daerah Kota Makassar masih kurang transparan, hal ini dibuktikan karena masih adanya petugas penagih pajak yang kurang berkompetensi dan perlu mendapat perhatian dari dinas pendapatan daerah Kota Makassar untuk ditindak lanjuti demi terwujudnya transparansi pemungutan pajak hotel di Kota Makassar serta perlu monitoring, evaluasi dan pengawasan yang lebih ketat lagi.

Berdasarkan hasil wawancara diatas penulis berkesimpulan bahwa tarif pajak hotel 10% dan dalam pengurusan pajak hotel tidak dikenakan biaya administrasi, apabila ada wajib pajak hotel tidak membayar pajak akan diberikan sanksi yang tegas yakni berupa sanksi administrasi dengan denda 2

%, pemasangan stiker tidak bayar pajak, dipublikasikan melalui media, pencabutan izin usaha, bahkan penyitaan seluruh aset hotel.

4. Transparansi waktu

Waktu dalam hal ini merujuk kepada seberapa lama penyelesaian pelayanan pajak Hotel mulai dari dilengkapinya/dipenuhi persyaratan baik teknis maupun administrasi sampai dengan selesainya.Salah satu bentuk transparansi dilihat juga dari seberapa lama waktu yng diperlukan dalam pengurusan, semakin sedikit waktu yang diperlukan semakin lebih baik.Olehkarena itu aparat Dinas Pendapatan Daerah Kota Makassar memberikan pelayanan yang cepat dan waktu yang singkat dalam pengurusan pajak Hotel.

SDR selaku Kepala bidang pajak hotel, hiburan dan air tanah mengatakanabahwa :

“Pajak hotel harus dibayar oleh wajib pajak hotel pada satu bulan, dalam masa pajak, atau dalam tahun pajak menurut ketentuan peraturan dan perundang-undagan dan batas waktu penyelesaianya akan diupayakan secepat mungkin.(Hasil wawancara 05 Juli 2016)”.

Berdasarkan wawancara diatas penulis berkesimpulan bahwa masa pajak hotel terhitung setiap bulan yang harus dibayarkan kepada pemerintah oleh wajib pajak dan menjadi dasar dalam menghitung, menyetor dan melaporkan pajaknya yang terutang. Dengan demikian setiap jatuh tempo diharapkan wajib pajak hotel segera menyelesaikan tagihan pajaknya agar supaya batas waktu penyelesaianya juga bisa secepat mungkin, karena pihak dinas pendapatan daerah kota Makassar terus berupaya dalam mengefektifkan dan mengefisienkan sehingga bisa lebih transparan dalam setiap penyelesaian batas waktunya.

Berdasarkan hasil pengamatan penulis dilapangan, dinas pendapatan daerah Kota Makassar dinilai masih kurang transparan terkait oleh batas waktu penyelesaian pajak hotel yang cukup panjang dan harusnya dapat terselesaikan secepatnya.

ZAW selaku pengelola hotel sebagai wajib pajak mengatakan bahwa :

“Saya sering komplain tentang batas waktu penyelesaian pajak hotel, dan sudah beberapa kali mengeluhkan ke dinas pendapatan daerah Kota Makassar namun belum ditanggapi dan ditindaklanjuti (Hasil wawancara 30 Juli 2016)”.

Berdasarkan hasil wawancara diatas, penulis dapat menyimpulkan bahwa pemungutan pajak hotel masih belum transparan karena batas waktu penyelesaian pajak hotel terlalu lama dan seharusnya ketika ada keluhan hendaknya secepatnya ditindaklanjuti agar bisa terlaksana secara efektif dan efisien.

Berdasarkan hasil pengamatan penulis di lapangan, pihak wajib pajak hotel masih merasa bingung dan kurang paham yang mengakibatkan tingkat kepatuhan mereka juga rendah apalagi sosialisasi yang dilakukan pihak dinas pendapatan daerah Kota Makassar masih kurang terlaksana dengan baik.

FAP selaku pengelola hotel sebagai wajib pajak mengatakan bahwa :

“Sosialisasi tentang perpajakan masih belum terlaksana secara maksimal karena kami kurang begitu paham tentang prosedur yang rumit yang otomatis memakan waktu khususnya terkait batas penyelesaian pajak hotel (Hasil wawancara 25 Juli 2016)”.

Berdasarkan hasil wawancara diatas penulis dapat menyimpulkan bahwa transparansi dinas pendapatan daerah Kota Makassar masih kurang karena sosialisasi yang dilakukan masih belum terlaksana karena batas waktu

penyelesaian pajak hotel belum maksimal sehubungan dengan lambatnya dalam menindaklanjuti dan menanggapi berbagai keluhan dari wwajib pajak hotel.

C. Hambatan yang dihadapi dalam transparansi pemungutan pajak hotel

Dalam dokumen transparansi pemungutan pajak hotel (Halaman 61-75)

Dokumen terkait