BAB V PERANCANGAN DAN IMPLEMENTASI
4.9 Evaluasi Penyuluhan Pertanian
5.3.5 Hasil Analisis Evaluasi
Berdasarkan distribusi data identitas responden yang diperoleh, didapatkan data berdasarkan umur yang disajikan pada tabel dibawah ini.
Tabel 5.5 Distribusi Data Responden Berdasarkan Umur
Kategori Jumlah (orang) %
Rendah 31-38 3 10
Sedang 39-45 5 16,66
Tinggi 46-52 22 73,33
Total 79 100
Sumber: Data diolah, 2022
Berdasarkan kualifikasi umur diatas, menurut Badan Pusat Statistik (2014) bahwa umur 15-65 tergolong kategori produktif untuk bekerja, artinya jika umur responden pada kategori produktif maka produktivitas kerjanya akan meningkat, artinya jika umur responden pada kategori produktif maka produktivitas kerjanya akan meningkat, dikarenakan pada tingkat umur produktif responden memiliki kreatifitas yang tinggi terhadap pekerjaan sebab didukung oleh pengetahuan dan wawasan yang lebih baik serta mempunyai tanggung jawab yang tinggi terhadap tugas yang diberikan atau yang akan dijalankan (Suyono dan Hermawan, 2013) dalam (Andi Marshela Khoir, 2020).
A. Pengetahuan
Analisis data yang digunakan untuk mengetahui tingkat pengetahuan petani dilakukan dengan cara analisa data kuantitatif menggunakan skala guttman dengan pilihan jawabn tegas yaitu : Ya mendapatkan skor 2 dan Tidak mendapatkan skor 1.
Dari skor jawaban yang telah dijawab oleh petani, maka dapar dilakukan perhitungan skor menggunakan garis kontinum menggunakan analisa perhitungan rerata jawaban berdasarkan scoring mengenai aspek pengetahuan sebagai berikut :
Skor maksimum = 2 x 21 (pertanyaan) x 30 (responden) = 1.260 Skor minimum = 1 x 21 (pertanyaan) x 30 (responden) = 630
Skor yang didapat = 1.215
Median = (Nilai Maks – Nilai Min) / 2 + Nilai Min = 1.575 Kuadran I = (Nilai Min + Median) / 2 = 1.417,5 Kuadran 2 = (Nilai Maks + Median) / 2 = 2.047,5
Jika didistribusikan pada garis kontinum, maka terlihat posisi aspek pengetahuan petani sasaran sebagai berikut :
T Y
Keterangan :
Y : Ya T : Tidak
Berdasarkan data diatas diperoleh total skor 1.215, maka untuk mengetahui presentase skor dapat dihitung sebagai berikut :
Total Skor /Skor Maks x 100% = 1.215 / 1.260 x 100% = 96,42%
0 % 20% 40% 60% 80% 100%
SR R C T ST
630 1.260
1.215
96,42 %
Keterangan :
SR : Sangat Rendah = Angka 0% - 20%
R : Rendah = Angka 21% - 40%
C : Cukup = Angka 41% - 60%
T : Tinggi = Angka 61% - 80%
ST : Sangat Tinggi = Angka 81% - 100%
Berdasarkan data diatas, diperoleh total skor 1.215 dengan presentase 96,42%
masuk dalam kategori sangat tinggi.maka dapat disimpulkan bahwa petani sasaran memiliki pengetahuan sangat tinggi terkait penggunaan feromon setelah dilakukan penyuluhan.
B. Sikap
Berdasarkan hasil kuesioner yang telah disebar kepada petani sasaran, maka dapat dilakukan perhitungan hasil kuesioner dengan garis kontinum menggunakan analisa perhitungan rerata jawaban berdasarkan scoring mengenai aspek sikap sebagai berikut :
Skor maksimum = 4 x 16 (pertanyaan) x 30 (responden) = 1.920 Skor minimum = 1 x 16 (pertanyaan) x 30 (responden) = 480 Skor yang didapat = 1.684
Median = (Nilai Maks – Nilai Min) / 2 + Nilai Min = 1.200
Kuadran I = (Nilai Min + Median) /2 = 840
Kuadran II = (Nilai Maks + Median) / 2 = 1.560
STS TS R S SS
480 840 1.200 1.560 1.920
Keterangan :
STS : Sangat Tidak Setuju TS : Tidak Setuju
R : Ragu - Ragu S : Setuju
SS : Sangat Setuju
Berdasarkan data diatas, diperoleh total skor 1.684. Maka untuk mengetahui presentase skor adalah sebagai berikut :
Total Skor / Skor Maks x 100% = 1.684 / 1.920 x 100% = 87,70%
0% 33 % 67 % 100%
Merespon Menghargai Tanggung Jawab
Berdasarkan data diatas, diperoleh total skor 1.684 dengan presentase skor 87,70% dan termasuk dalam kategori tanggung jawab. Maka dapat disimpulkan bahwa pada tingkat tanggung jawab dikatakan bahwa petani mau dan mampu berproses dalam menerapkan penggunaan feromon sebagai pengendalian hama ulat bawang sehingga dapat mengurangi penggunaan pestisida yang berlebihan.
Selain itu, sikap responden dapat diamati ketika dilakukan penyuluh mengenai penggunaan feromon ini, mereka sangat antusias. Dari pengamatan yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa responden memiliki ketertarikan terhadap penyuluhan yang telah dilakukan.
1.684
87,70%
91 BAB VI PEMBAHASAN
6.1 Pembahasan Implementasi dan Evaluasi Penyuluhan
Berdasarkan hasil kajian yang telah dilakukan, merujuk pada tabel 4.15 tingkat minat petani dalam kategori tinggi. Hal ini menandakan bahwa petani responden tertarik, pencapaian ini harus dipertahankan dan ditingkatkan secara berkala melalui beberapa kegiatan yang mampu menunjang untuk meningkatkan minat petani sehingga optimalisasi penggunaan feromon lebih tinggi sehingga dapat mengurangi penggunaan pestisida kimia. Dengan adanya minat yang tinggi menyebabkan individu tersebut berhubungan secara aktif dengan objek menarik, oleh karena itu minat bisa dikatakan sebagai dorongan untuk dapat berhubungan dengan lingkungan, kecenderungan untuk memeriksa, menyelidiki dan mengerjakan aktivitas yang menarik bagi petani (Ginting dan Sihombing, 2018).
Pelaksanaan penyuluhan dilakukan dengan mempersiapkan rancangan penyuluhan terlebih dahulu, yang terdiri dari penetapan tujuan, penetapan sasaran, penetapan materi, penetapan metode, dan penetapan media penyuluhan. Dalam menetapkan tujuan, sasaran, materi, metode dan media penyuluhan berdasarkan kebutuhan serta karakteristik sasaran dan kondisi wilayah penyuluhan. Untuk mendukung perancangan penyuluhan, maka diperlukan membuat kelengkapan administrasi seperti lembar persiapan menyuluh (LPM), sinopsis penyuluhan dan membuat daftar hadir untuk responden penyuluhan.
Kegiatan penyuluhan penggunaan feromon dalam pengendalian hama ulat bawang merah dihadiri oleh petani bawang merah desa Coper Kecamatan Jetis Kabupaten Ponorogo dengan jumlah sasaran 30 petani. Kegiatan penyuluhan
92
berjalan dengan lancar dan antusias petani tinggi terkait materi yang diberikan. Petani juga bersemangat dalam tanya jawab dan berdiskusi. Dalam penyampaian materi juga didukung dengan metode ceramah dan diskusi serta dibantu dengan media audiovisual berupa video dan media cetak berupa lealflet yang berisi ringkasan singkat atau poin poin mengenai feromon.
Dari hasil analisis tingkat pengetahuan petani bawang merah desa Coper Kecamatan Jetis Kabupaten Ponorogo memiliki tingkat pengetahuan sangat tinggi dengan presentase 96,42% terhadap minat penggunaan feromon dalam pengendalian hama ulat bawang di usahataninya, serta pada aspek sikap menunjukkan bahwa tingkat sikap petani berada pada tanggung jawab dengan presentase 87,70% terhadap minat penggunaan feromon dalam pengendalian hama ulat bawang di usahataninya. Maka dari hasil tersebut tujuan dari penyuluhan dinyatakan telah terpenuhi.
Hasil kajian dan penyuluhan yang dilaksanakan telah mencapai keadaan yang diharapkan. Hasil kajian yang diperoleh yaitu petani berminat dengan penggunaan feromon dalam pengendalian hama ulat bawang di usahataninya. Sedangkan dari hasil penyuluhan yang telah dilakukan diketahui bahwa keadaan yang diinginkan adalah petani mau melaksanakan dengan menerapkan feromon ini untuk mengendalikan hama pada tanaman bawang merah sehingga dapat mengurangi penggunaan pestisida kimia. Namun, dalam hal ini, belum semua keadaan yang diharapkan tercapai. Maka, perlu adanya rencana tindak lanjut agar keadaan yang diharapkan tercapai dengan maksimal.
6.2 Rencana Tindak Lanjut
Rencana tindak lanjut yang dapat diberikan kepada petani bawang merah di Desa Coper Kecamatan Jetis Kabupaten Ponorogo berdasarkan hasil kajian dan
93
evaluasi penyuluhan dengan materi penggunaan feromon dalam pengendalian hama ulat bawang merah adalah sebagai berikut :
1. Melaksanakan pendampingan dan monitoring pada petani agar materi yang disampaikan dapat di terapkan pada usahataninya.
2. Memperhatikan karakteristik inovasi yang diberikan, agar inovasi yang diberikan sesuai dengan kebutuhan dan kondisi sasaran.
3. Dengan adanya penyuluhan penggunaan feromon, petani dapat mengurangi penggunaan pestisida kimia yang memiliki dampak negatif bagi lingkungan serta petani dapat meningkatkan efisiensi usahataninya.
94 BAB VII PENUTUP
7.1 Kesimpulan
Dari hasil kajian tentang Minat Petani Terhadap Penggunaan Feromon Dalam Pengendalian Hama Ulat S. Exigua Pada Tanaman Bawang Merah di Desa Coper Kecamatan Jetis Kabupaten Ponorogo dapat disimpulkan sebagai berikut :
1. Penelitian ini menunjukkan hasil bahwa variabel usia berpengaruh signifikan secara parsial atau sendiri-sendiri terhadap minat petani dalam penggunaan feromon dengan nilai signifikan 0,03, variabel pendidikan tidak berpengaruh signifikan secara parsial atau sendiri-sendiri terhadap minat petani dalam penggunaan feromon dengan nilai signifikan 0,698, variabel lama usahatani tidak berpengaruh signifikan secara parsial atau sendiri-sendiri terhadap minat petani dalam penggunaan feromon dengan nilai signifikan 0,608, variabel kosmopolitan berpengaruh signifikan secara parsial atau sendiri sendiri terhadap minat petani dalam penggunaan feromon dengan nilai signifikan 0,02, variabel kegiatan penyuluhan berpengaruh signifikan secara parsial atau sendiri-sendiri terhadap minat petani dalam penggunaan feromon dengan nilai signifikan 0,09, variabel dukungan pemerintah tidak berpengaruh signifikan secara parsial atau sendiri-sendiri terhadap minat petani dalam penggunaan feromon dengan nilai signifikan 0,540.
2. Dari hasil analisis Fhitung 21,429 > Ftabel 2,22 atau Sig. 0,02 < α (0,05) yang berarti pengaruh secara simultan atau bersama-sama antara variabel usia, pendidikan, pengalaman usahatani, kosmopolitan, kegiatan penyuluhan dan dukungan pemerintah terhadap minat petani dalam penggunaan feromon.
3. Rancangan penyuluhan dengan tujuan untuk mengetahui tingkat pengetahuan dan tingkat sikap petani setelah dilakukan penyuluhan dengan materi penggunaan feromon dalam pengendalian hama ulat bawang merah. Dengan sasaran berjumlah 30 petani bawang merah sesuai kriteria yang dipilih penulis.
Metode yang digunakan yaitu ceramah dan diskusi serta dibantu dengan media penyuluhan lealflet dan video di Youtube. Hasil evaluasi penyuluhan menunjukkan tingkat pengetahuan petani sebesar 96,42% masuk dalam kategori sangat tinggi dan tingkat sikap sebesar 87,70% berada pada kategori tanggung jawab terhadap minat penggunaan feromon dalam pengendalian hama ulat bawang di usahataninya. Maka dari hasil tersebut tujuan dari penyuluhan dinyatakan telah terpenuhi.
7.2 Saran
Adapun saran yang direkomendasikan sebagai berikut :
1. Untuk petani bawang merah, agar dapat memanfaatkan feromon secara konsisten untuk mengendalikan hama ulat bawang sehingga dapat mengurangi penggunaan pestisida kimia.
2. Bagi peneliti, maupun penulis lainnya dapat menjadikan penelitian ini sebagai landasan penelitian berikutnya.
3. Bagi penyuluh, diharapkan lebih intens memantau, membantu, dan membimbing petani untuk bisa mengetahui lebih jauh kegiatan usahatani di wilayah tersebut.
4. Bagi Politeknik Pembangunan Pertanian Malang, diharapkan dengan adanya kajian ini bisa menambah bahan resferensi untuk penulis lainnya yang ingin melakukan kajian tugas akhir.
96
DAFTAR PUSTAKA
Afifah, Murnita, & Gusriati. (2021). Faktor-faktor yang Mempengaruhi Minat Petani dalam Menerapkan TANAMAN Padi Organik (Oryza sativa L.) di Nagari Simarasok Kecamatan Baso Kabupaten Agam. Menara Ilmu, 15(1), 1–9.
Ahmad, S. (2013). Teori Belajar Dan Pembelajaran Sekolah Dasar. Jakarta: Kencana Premada Media Group.
Amala, T., Chalil, D., & Sihombing, L. (2013). Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Tingkat Adopsi Petani Terhadap Sistem Pertanian Padi Organik. Journal of Agriculture and Agribusiness Socioeconomics, 2(11).
Arikunto. (2004). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineka CIpta.
Effendy, L., Maryani, A., & Azie, A. Y. (2020). Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Minat Pemuda Perdesaan pada Pertanian di Kecamatan Sindangkasih Ciamis. Jurnal Penyuluhan, 16(02), 277–288.
Erliadi, E. (2017). FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MINAT PETANI MENGGUNAKAN BENIH VARIETAS UNGGUL PADA TANAMAN PADI SAWAH (Oryza sativa, L) DI KECAMATAN MANYAK PAYED KABUPATEN ACEH TAMIANG. Jurnal Penelitian Agrisamudra, 2(1), 91–100.
https://doi.org/10.33059/jpas.v2i1.239
Ghozali, I. (2011). Aplikasi Analisis Multivariat Dengan Program SPSS. Semarang:
Badan Penerbit Universitas Diponegoro.
Hanafi, N. (2009). Perencanaan Program Penyuluhan Disusun Oleh : Departemen Agribisnis. Program.
Haryati, Y., & Nurawan, A. (2017). PELUANG PENGEMBANGAN FEROMON SEKS DALAM PENGENDALIAN HAMA ULAT BAWANG (Spodoptera exigua) PADA BAWANG MERAH. Jurnal Penelitian Dan Pengembangan Pertanian, 28(2), 72–
77. https://doi.org/10.21082/jp3.v28n2.2009.p72
Ikma, A. D., & Nirwana, H. (2019). The Relationship between Students ’ Perceptions about the Teaching Method of Physics Teachers and Student Learning Interests.
Jurnal Neo Konseling, 1(4), 1–8. https://doi.org/10.24036/00179kons2019 Istina, I. N. (2016). PENINGKATAN PRODUKSI BAWANG MERAH MELALUI
TEKNIK PEMUPUKAN NPK THE SHALLOT PRODUCTION INCREASE THROUGH NPK FERTILIZER TECHNIQUE. III(1).
Khairani, M. (2013). Psikologi Belajar. Yogyakarta: Aswaja Pressindo.
Khoir, A. M., Krisnawati, E., & Widyastuti, N. (2020). MINAT PETANI TERHADAP PENGUNAAN BIOURINE SEBAGAI PUPUK ORGANIK CAIR PADA TANAMAN BAWANG MERAH (Allium ascalonicum L.) DI KECAMATAN TARUMAJAYA
97
KABUPATEN BEKASI. Inovasi Penelitian, 1(4).
Kusnadi, D. (2011). Dasar-Dasar Penyuluhan Pertanian.
http://books.google.com/books?id=gYeKXOcifiAC&pgis=1 Mahmud, D. (2001). Psikologi Suatu Pengantar. Yogyakarta: BPFE.
Mardikanto, T. (1993). Penyuluhan Pembangunan Pertanian. Surakarta: UNS Press.
---. (2009). Sistem Penyuluhan Pertanian. Surakarta.
Moekasan, T. K., Laksminiwati, P., Meitha, L. R. (2000). Penerapan PHT pada Sistem Tanam Tumpanggilir Bawang Merah dan Cabai.
---. (2012). Penerapan Ambang Pengendalian Organisme Pengganggu Tumbuhan pada Budidaya Bawang Merah dalam Upaya Mengurangi Penggunaan Pestisida. Jurnal Hortikultura, 22(1), 47.
https://doi.org/10.21082/jhort.v22n1.2012.p47-56
Muhammad, A., Agustono, A., & Wijianto, A. (2016). Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Minat Petani Dalam Berusahatani Padi Di Kecamatan Kebakkramat Kabupaten Karanganyar. SEPA: Jurnal Sosial Ekonomi Pertanian Dan Agribisnis, 12(2), 205. https://doi.org/10.20961/sepa.v12i2.14226
Mutmainah, & Sugiarti, T. (2020). Perception And Interest Of Farmers On Utilization Of Refugia Plants In Rice Pest Control. Agriscience, 1(1), 272–291.
Nursalam. (2009). Manajemen Keperawatan: Aplikasi dan Praktik Keperawatan.
Jakarta: Salemba Medika.
Nursapitri, H., & Endah, K. (2021). PEMBERDAYAAN GABUNGAN KELOMPOK TANI. 757–769.
Panurat, S. M. (2014). Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Minat Petani Berusahatani Padi Di Desa Sendangan Kecamatan Kakas Kabupaten Minahasa. Cocos, 4(5).
Paparang, M., Memah, I. V. V, & Kaligis, I. J. B. (2016). Populasi Dan Persentase Serangan Larva Spodoptera Exigua Hubner Pada Tanaman Bawang Daun Dan Bawang Merah Di Desa Ampreng Kecamatan Langowan Barat. Cocos, 7(7), 1–
10.
Permana, A. D., & Rostaman. (2006). PENGARUH JENIS PERANGKAP DAN FEROMON SEKS TERHADAP TANGKAPAN NGENGAT JANTAN Spodoptera exigua Keterangan : Jurnal HPT Tropika, 6(1), 9–13.
Siregar, A. F. (2017). FAKTOR – FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MINAT PETANI MENANAM BAWANG MERAH DI DESA CINTA DAME KECAMATAN SIMANINDO KABUPATEN SAMOSIR.
Sugiyono. (2011). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Bandung:
Alfabeta.
---. (2019). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif R&D. Bandung: Alfabeta.
98
Sujianto, A. E. (2009). Aplikasi Statistik dengan SPSS 16.0. Jakarta: PT. Prestasi Pustaka.
Suparman. (2010). Bercocok Tanam Bawang Merah. Jakarta: Azka Press.
Suryabrata, S. (2002). Psikologi Pendidikan. Jakarta: PT. Grafindo Perkasa.
Susanto, A. (2013). Teori Belajar dan Pembelajaran di Sekolah Dasar. Jakarta:
Kencana Prenada Media Group.
Sulasmi, Safruddin, & Mawarni, R. (2020). Pengaruh Pemberian Pupuk Organik Cair (Poc) Top G2 Dan Pupuk Kandang Ayam Terhadap Pertumbuhan Dan Produksi Tanaman Bawang Merah (Allium Ascalonicum L.). Bernas: Jurnal Penelitian Pertanian, 16(1), 103–111.
Supriadi, Yetti, H., & dan Yoseva, S. (2017). Pengaruh Pemberian Pupuk Kandang dan N, P dan K Terhadap Pertumbuhan dan Produksi Tanaman Bawang Merah (Allium ascalonicum L.). JOM Faperta, 4(1), 1–12.
Syamsiah, M., & Dikri, A. F. (2019). Mengendalikan Hama Penggerek Batang Padi Pandanwangi ( Oryza sativa var . aromatic ). Jurnal Pro-Stek, 1(1), 51–59.
Syardiansah. (2016). Hubungan motivasi belajar dan minat belajar terhadap prestasi belajar mahasiswa mata kuliah pengaturan manajemen. Manajemen Dan Keuangan, 5(1), 243.
Swastha, B., & Handoko, H. (2000). Manajemen Pemasaran (Analisa. Perilaku Konsumen). Yogyakarta: BPFE Yogyakarta.
Yogasuria, E. (2010). Komunikasi Dalam Penyuluhan Pertanian.
Udiarto, B. K., Setiawati, W., & Suryaningsih, E. (2005). Hama Dan Penyakit Pada Tanaman Bawang Merah Dan Pengendaliannya. In Balai Kajian Teknologi Pertanian Sumatra Barat (Vol. 22, Issue 3).
Wardana, W., & Alzarliani, W. O. (2019). Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Minat Petani Menerapkan Teknologi Pengolahan Buah Tomat di Desa Wakuli Kecamatan Kapontori Kabupaten Buton. Agrikan: Jurnal Agribisnis Perikanan, 12(1), 145. https://doi.org/10.29239/j.agrikan.12.1.145-151
LAMPIRAN Lampiran 1. Penelitian Terdahulu
Peneliti Judul Tujuan Metode Hasil Penelitian Perbedaan
Andi Marsela Khoir, Endang Krisnawati &
Nawangwulan Widyastuti, (2020)
Minat Petani Terhadap Penggunaan Biourine Sebagai Pupuk Organik Cair Pada
Tanaman Bawang Merah (Allium Ascalonicum. L) Di Kecamatan Tarumajaya Kabupaten Bekasi
Untuk
mendeskripsikan minat petani, menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi minat petani, dan strategi
meningkatkan minat petani dalam
pemanfaatan biourin pada bawang merah
Metode analisis data yang
digunakan adalah analisis deskriptif, analisis regresi linier sederhana dan analisis Kendall's W
Hasil analisis
menunjukkan bahwa minat petani
menggunakan biourin sebagai pupuk organik cair termasuk dalam kategori sedang, faktor yang
mempengaruhi minat petani adalah
pengalaman bertani serta sarana dan prasarana. Strategi yang dilakukan untuk meningkatkan minat petani adalah melalui kegiatan penyuluhan dan demplot.
Perbedaan dengan penelitian sekarang tujuan dan variabel yang digunakan
Lukman Effendy, Ait Maryani, Ayu Yulia Azie, (2020)
Faktor-Faktor yang
Mempengaruhi Minat Pemuda Perdesaan pada Pertanian di Kecamatan Sindangkasih Ciamis
Untuk
mendeskripsikan sejauhmana minat pemuda pada pertanian,
menemukan faktor yang
mempengaruhi minat pemuda, dan merumuskan strategi
peningkatan minat pemuda.
Metode analisis yang digunakan yaitu penelitian deskriptif
kuantitatif dengan metode survey melalui wawancara langsung terhadap responden dengan menggunakan instrumen berupa kuesioner
Hasil penelitian menunjukkan (1) minat pemuda terhadap pertanian termasuk dalam kategori cukup, (2) minat pemuda dipengaruhi oleh faktor eksternal (kegiatan penyuluhan, ketersediaan sumber daya, dukungan pemerintah) dan faktor motivasi
(penghargaan, prestasi, tuntutan hidup) dengan model Y = -0,051 +
0,457X2 + 0,419X3, dan (3) strategi untuk meningkatkan minat dimulai dengan memfasilitasi pemuda dalam pendidikan non- formal
(pelatihan/kursus), dan melibatkan
Perbedaan dengan penelitian sekarang yaitu tujuan dan variabel yang digunakan
pemuda dalam program pertanian.
Aflahun Fadhly Siregar, 2017
Faktor – Faktor Yang
Mempengaruhi Minat Petani Menanam
Bawang Merah Di Desa Cinta Dame Kecamatan Simanindo Kabupaten Samosir
Menganalisis faktor – faktor yang
mempengaruhi minat petani menanam bawang merah dan
menganalisis peluang
dari suatu respon masing-masing faktor terhadap minat petani menanam bawang merah di Desa Cinta Dame Kecamatan Simanindo Kabupaten Samosir
Metode analisis data yang
digunakan adalah model logit
binomial.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor – faktor
yang mempengaruhi minat petani
menanam bawang merah terdiri dari luas lahan,
pengalaman,
pendapatan, bantuan dan trauma. Variabel luas lahan memiliki marginal effect sebesar 22 %.
Variabel bantuan memiliki odd ratio sebesar 0,3 %
dibandingkan dengan tidak adanya bantuan sedangkan variabel dengan tidak
Perbedaan dengan penelitian sekarang yaitu pada tujuan, variabel dan metode analisis data yang digunakan.
Penelitian sekarang menggunakan analisis data uji regresi linear berganda.
adanya trauma yang dialami petani memiliki nilai odd ratio 1,4 % dibandingkan dengan adanya trauma yang dialami petani.
Afifah, Murnita, Gusriati, (2021)
Faktor-Faktor Yang
Mempengaruhi Minat Petani Dalam Menerapkan Usahatani Padi Organik (Oryza Sativa L.) Di Nagari Simarasok Kecamatan Baso Kabupaten Agam
Untuk mengetahui karakteristik petani yang pernah menerapkan Usahatani padi organik dan mengetahui faktor- faktor yang
mempengaruhi minat petani dalam menerapkan Usahatani padi organik di Nagari Simarasok
Kecamatann Baso Kabupaten Agam.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kuantitatif dengan teknik pengumpulan data menggunakan teknik observasi, wawancara, dan kuesioner serta menggunakan analisis regresi linear berganda
Hasil penelitian menunjukkan karakteristik responden: umur responden yang paling banyak > 64 tahun yaitu 9 orang (28,12%), tingkat pendidikan terbanyak SD adalah 19 orang (59,38%), pengalaman usahatani non organik terbanyak > 10 tahun yaitu 21 orang
(65,62%), pengalaman usahatani organik terbanyak 0-4 tahun sama dengan 27 orang (84,38%),
Perbedaan pada penelitian
sekarang yaitu pada tujuan dan variabel yang digunakan
tanggungan keluarga banyak ≤ 4 orang yakni 18 orang (56,25%), dan memiliki luas lahan terbanyak adalah 0,25-0,50 ha ialah 16 orang (50,00%).
Umur, tingkat pendidikan, luas lahan, pengalaman usahatani non organik, pengalaman usahatani organik, partisipasi, dan persepsi petani terhadap padi organik secara simultan (bersama-sama) berpengaruh signifikan terhadap minat petani dalam menerapkan usahatani padi organik dengan nilai (sig 0,000
< α = 0,05).
Wardana dan Wa Ode
Faktor Faktor yang
1. Mengetahui faktor-faktor
Metode yang digunakan dalam
Hasil penelitian menunjukkan 1)
Perbedaan pada penelitian
Alzarliani, (2019)
Mempengaruhi Minat Petani Menerapkan Teknologi
Pengolahan Buah Tomat di Desa Wakuli
Kecamatan Kapontori
Kabupaten Buton
yang
mempengaruhi minat
masyarakat untuk
menerapkan teknologi pascapanen tomat, 2. Mengetahui
strategi untuk mengurangi pengaruh faktor-faktor penghambat minat
masyarakat Desa Wakuli untuk
menerapkan teknologi pengolahan tomat sebagai sumber
mendapatkan
penelitian ini adalah metode deskriptif dengan menggunakan kuesioner dan FGD serta
menggunakan analisis regresi linear berganda
Faktor-faktor yang mempengaruhi minat masyarakat Desa Wakuli dalam penerapan teknologi pascapanen tanaman tomat sebagai sumber pendapatan adalah:
(a) Ada tidaknya contoh teladan di masyarakat yang berhasil berusaha pascapanen tomat; (b) Besar kecilnya
permintaan pasar terhadap produk pascapanen; (c) Pertimbangan keterbatasan tempat dan waktu
penyimpanan produk pascapanen; dan (d) Tingkat kerumitan pengerjaan produk pascapanen. 2) Strategi yang diperlukan untuk mengatasi faktor
sekarang yaitu pada tujuan dan variabel yang digunakan
penghambat minat masyarakat untuk menerapkan usaha pascapanen tomat adalah meningkatkan kualitas kemasan, menggunakan jalur pemasaran online, dan berkerjasama dengan pedagang- pedagang besar.
Mutmainah &
Sugiarti, (2020)
Persepsi Dan Minat Petani Terhadap Pemanfaatan Tanaman Refugia Dalam
Pengendalian Hama Tanaman Padi (Studi Kasus Desa Bilaporah Kecamatan Socah Bangkalan)
Tujuan riset ini dilakukan untuk:
1.Mendeskripsikan karakteristik petani,
2. Menganalisis tingkat persepsi petani
3. Menganalisis hubungan persepsi dan minat petani padi terhadap
Metode analisis yang digunakan adalah analisis deskriptif dan korelasi rank spearman
Hasil riset
menunjukkan bahwa karakteristik petani di Desa Bilaporah berdasarkan umur masih tergolong pada usia produktif,
kemudian mayoritas tingkat pengalaman petani <30 tahun, tingkat pendidikan responden mayoritas SD, serta sebagian besar petani tidak pernah mengikuti
Perbedaan dengan penelitian sekarang yaitu pada tujuan, variabel dan metode analisis data yang digunakan.
Penelitian sekarang menggunakan analisis regresi liear berganda
pemanfaatan tanaman refugia dalam
pengendalian hama tanaman padi.
pelatihan pertanian.
Petani di Desa Bilaporah memiliki persepsi yang positif dan baik sekali
terhadap pemanfaatan tanaman refugia dalam pengendalian hama tanaman padi, hal tersebut sesuai dengan nilai yang diperoleh dari jawaban responden pada setiap indikator persepsi. Hubungan persepsi terhadap minat petani tergolong signifikan dengan arah positif serta keeratan hubungan antar variabel adalah sedang.
Ardiyono Muhammad, Agustono, Arip
Faktor-Faktor Yang
Mempengaruhi Minat Petani
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis (1) besarnya biaya,
Metode dasar penelitian
adalah explanatory dan menggunakan
Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Rata-rata biaya mengusahakan
Perbedaan dengan penelitian sekarang yaitu pada tujuan,
Wijianto, (2016)
Dalam Berusahatani Padi Di Kecamatan Kebakkramat Kabupaten Karanganyar
penerimaan dan pendapatan usahatani padi (2) Besarnya efisiensi usahatani padi (3) Faktor-faktor yang mempengaruhi minat petani dalam
berusahatani padi di Kecamatan Kebakkramat Kabupaten Karanganyar.
metode analisis data yaitu (1) Analisis biaya, Penerimaan dan Pendapatan (2) Analisis Efisiensi (3) Binary Logistic Regression.
sebesar Rp 4.457.348 per UT atau Rp 9.682.870 per Ha, Penerimaan sebesar Rp 12.749.167 per UT atau Rp 27.695.510 per Ha, Pendapatan sebesar Rp 8.291.819 per UT atau Rp 18.012.641 per Ha (2) Nilai efisiensi adalah 2,89 (3) Variabel yang berpengaruh nyata dengan
nilai Odd Ratio yaitu:
variabel harga komoditi, variabel harga benih, variabel harga pupuk dan variabel ketersediaan air. Sedangkan variabel yang tidak berpengaruh nyata yaitu: variabel luas lahan, variabel
pengalaman, variabel umur, variabel
pendidikan, variabel
variabel dan metode analisis data yang digunakan.
Penelitian sekarang menggunakan analisis regresi liear berganda