PENDAHULUAN
Latar Belakang
Rumusan Masalah
Tujuan
Manfaat
TINJAUAN PUSTAKA
Penelitian Terdahulu
Muhammad et al., 2016) melakukan penelitian dengan judul “Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Minat Petani Bertani Padi di Kecamatan Kebakkramat Kabupaten Karanganyar”. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis (1) biaya, pendapatan dan pendapatan budidaya padi (2) efisiensi budidaya padi (3) Faktor-faktor yang mempengaruhi minat petani budidaya padi di Kecamatan Kebakkramat Kabupaten Karanganyar. Siregar, (2017) melakukan penelitian dengan judul “Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Minat Petani Menanam Bawang Merah di Desa Cinta Dame Kecamatan Simanindo Kabupaten Samosir”.
Landasan Teori
- Teori Minat
- Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Minat
- Tanaman Bawang Merah
- Ulat S. Exigua
- Feromon
Padahal, bawang merah dapat dengan mudah ditanam di dataran rendah maupun dataran tinggi (Sunarjono, 2004). Bawang merah tumbuh di dataran rendah hingga dataran tinggi (0-1000 m dpl) dengan ketinggian 0-450 m dpl dan memerlukan sinar matahari tingkat tinggi (minimal penyinaran 70%) dengan suhu 25 oC – 32oC. Menurut Haryati & Nurawan (2009), penggunaan Exi-pheromone sebagai alat penangkapan massal pada budidaya bawang merah dapat mengurangi penggunaan insektisida sebesar >60% dibandingkan penggunaan insektisida sistem kalender.
Aspek Penyuluhan
- Perencanaan Penyuluhan Pertanian
Kata “evaluation” berasal dari kata bahasa Inggris “evaluation” yang berarti evaluasi atau penilaian (Echols dan Shadily, 1983). Evaluasi harus menghasilkan temuan-temuan yang dapat digunakan untuk meningkatkan efektivitas (pencapaian tujuan) program. 5) Evaluasi hendaknya mempertimbangkan ketersediaan sumber daya agar mempunyai dampak yang luas dan besar terhadap pencapaian tujuan program. Dengan kata lain sintesis adalah kemampuan mengembangkan formulasi baru dari formulasi yang sudah ada. f) Evaluasi.
METODE PENELITIAN
- Lokasi dan Waktu
- Metode Kajian
- Populasi dan Sampel
- Variabel Penelitian
- Hipotesis Penelitian
- Jenis Sumber Data
- Definisi Operasional Variabel
- Teknik Pengumpulan Data
- Uji Validitas dan Uji Reliabilitas
- Analisis Data
- Metode Perancangan Penyuluhan
- Penetapan Tujuan
- Penetapan Sasaran
- Penetapan Materi
- Penetapan Metode
- Penetapan Media
- Penetapan Evaluasi Penyuluhan
- Metode Implementasi/Uji Coba Rancangan
- Persiapan Penyuluhan
- Pelaksanaan Penyuluhan
- Evaluasi Penyuluhan
H0 = Tidak terdapat pengaruh secara parsial faktor internal umur terhadap minat petani menggunakan feromon untuk mengendalikan hama ulat H1 = Terdapat pengaruh secara parsial faktor internal umur terhadap minat petani menggunakan feromon untuk mengendalikan hama ulat bulu untuk mengendalikan . Edukasi internal minat petani terhadap penggunaan feromon untuk mengendalikan hama ulat S.
H1 = Terdapat pengaruh secara parsial faktor internal pengalaman bertani terhadap minat petani menggunakan feromon untuk mengendalikan hama ulat S. H0 = Tidak terdapat pengaruh secara parsial faktor internal kosmopolitan terhadap minat petani menggunakan feromon untuk mengendalikan hama ulat S. H1 = Terdapat pengaruh secara parsial faktor eksternal kosmopolitan terhadap minat petani terhadap penggunaan feromon untuk mengendalikan hama ulat S.
H0 = Tidak terdapat pengaruh secara parsial faktor eksternal kegiatan penyuluhan terhadap minat petani terhadap penggunaan feromon untuk mengendalikan hama ulat S. H1 = Terdapat pengaruh secara parsial faktor eksternal kegiatan penyuluhan terhadap minat petani menggunakan feromon untuk mengendalikan hama ulat S. H1 = Terdapat pengaruh parsial faktor eksternal, dukungan pemerintah terhadap minat petani menggunakan feromon untuk mengendalikan hama ulat S.
Ketertarikan petani pada penelitian ini adalah ketertarikan petani yang disurvei terhadap pemanfaatan feromon untuk pengendalian hama ulat bawang merah.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Gambaran Umum Lokasi Kajian
- Keadaan Umum Wilayah
- Topografi
- Potensi Daerah
Desa Coper terletak ±15 kilometer tenggara pusat kabupaten Ponorogo pada ketinggian 103 meter di atas permukaan laut. Luas wilayah desa ini adalah 203,46 ha, dengan rincian sawah seluas 119,355 ha, lahan kering yang digunakan untuk ladang/sawah dengan luas 52,498 ha, lahan kering untuk pemukiman dengan luas 203,46 ha. 25 ha, dan sisanya merupakan lahan yang digunakan untuk fasilitas umum. Desa Coper mempunyai potensi yang besar, seperti sumber daya alam, sumber daya manusia dan lembaga/organisasi.
Keberagaman budaya penduduk di desa-desa menjadi modal potensial dalam pengembangan dan salah satu potensi Desa Coper adalah Masjid Moch Ishaq dan Wisata Religi Makam.
Analisis Data
- Usia Petani Responden
- Tingkat Pendidikan Responden
- Pengalaman Usahatani
- Kosmopolitan
- Kegiatan Penyuluhan
- Dukungan Pemerintah
Berdasarkan tabel 4.9 terlihat mayoritas responden berpendidikan SLTA yaitu sebanyak 55 orang, SLTA sebanyak 15 orang, dan jenjang SD sebanyak 5 orang. Tingkat pendidikan merupakan salah satu faktor penting dalam menjamin atau majunya usahatani, dimana setiap informasi teknologi yang disampaikan akan dengan mudah mendapat feedback jika petani mempunyai landasan teori. Hal ini juga sejalan dengan apa yang dikatakan oleh Suyono dan Hermawan (2013), dimana semakin tinggi tingkat pendidikan yang dimiliki seseorang, maka semakin tinggi juga tingkat pendidikan yang dimiliki seseorang tersebut. Semakin tinggi pula produktivitas kerja karena orang tersebut mempunyai wawasan dan. Berdasarkan tabel 4.10 terlihat bahwa lama bertani petani yang disurvei didominasi oleh 11 – 16 tahun dengan jumlah responden sebanyak 40 orang.
Mengingat banyak dari responden yang sudah cukup lama menggeluti usaha pertanian maka dapat dikatakan sudah berpengalaman, hal ini juga sejalan dengan Sulaeman (2014), dimana semakin lama seorang pekerja melakukan pekerjaannya maka semakin berkualitas pula dia. Artinya, pengetahuan yang tinggi akan berdampak positif terhadap kinerjanya, karena waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan pekerjaan juga akan lebih cepat dan kualitas pekerjaan akan lebih baik. Yang bersifat universal dalam penelitian ini adalah seberapa sering petani mencari informasi terkait pertanian di media massa. Hal ini menunjukkan tingkat kosmopolitanisme para petani yang tinggi, menandakan mereka sering berbagi atau berkolaborasi dengan petani desa lainnya dan menggunakan media seperti video YouTube sebagai sarana untuk menambah wawasan pertanian atau mencari solusi atas kendala yang muncul di lingkungan mereka. bisnis pertanian.
Kegiatan penyuluhan dalam penelitian ini mencerminkan seberapa sering petani mengikuti kegiatan penyuluhan untuk meningkatkan pemahaman mereka dalam mengatasi hambatan. Hal ini menunjukkan bahwa kegiatan penyuluhan masuk dalam kategori tinggi karena kegiatan penyuluhan telah cukup berperan dalam mengatasi kendala-kendala yang dihadapi petani dalam proses kegiatan pertanian. Dukungan pemerintah dalam penelitian ini adalah seberapa sering petani menerima bantuan atau dukungan dan informasi dari pemerintah untuk mengatasi permasalahan pada usahataninya.
Hal ini menunjukkan bahwa tidak semua pemerintah daerah ikut serta dalam kegiatan pertanian petani, bahkan dengan memberikan bantuan berupa permodalan kepada pertanian.
Minat Petani Dalam Penggunaan Feromon Terhadap Pengendalian Hama
Dilihat dari tabel tersebut dapat disimpulkan bahwa rata-rata skor jawaban petani adalah 269 dengan persentase 34% masuk dalam kategori tidak setuju. Melihat tabel tersebut dapat disimpulkan bahwa rata-rata skor tanggapan petani adalah 282 dengan persentase 89% masuk dalam kategori sangat setuju yang artinya petani sangat tertarik. Capaian ini patut dipertahankan dan ditingkatkan, melalui beberapa kegiatan yang dapat mendukung peningkatan minat petani sehingga optimalisasi penggunaan feromon semakin tinggi.
Petani yang ingin mengembangkan pertanian ramah lingkungan untuk menciptakan produk pertanian yang sehat untuk mendukung tujuan tersebut memerlukan saran dan bantuan.
Hasil Uji Validitas dan Uji Reliabilitas
Hasil Analisis Regresi Linear Berganda
- Uji Asumsi Klasik
- Uji Kelayakan Model Regresi Berganda
Berdasarkan analisis atau uji t yang dilakukan diketahui bahwa variabel yang secara parsial mempengaruhi minat petani menggunakan feromon adalah variabel kosmopolitan. Di bawah ini adalah tabel hasil uji regresi linier berganda mengenai penggunaan feromon dalam pengendalian ulat bawang. Pengaruh Umur Terhadap Minat Petani Menggunakan Feromon Hasil analisis menunjukkan bahwa variabel umur mempunyai pengaruh terhadap minat petani.
Variabel dukungan pemerintah tidak berpengaruh terhadap minat petani dalam menggunakan feromon, hal ini dikarenakan pemerintah daerah belum sepenuhnya mendukung mereka dalam memberikan informasi mengenai penggunaan feromon untuk pengendalian larva bawang merah yang ramah lingkungan, sehingga dapat mengurangi penggunaan feromon. pestisida kimia. 0,02 < α (0,05) yang berarti adanya pengaruh bersama-sama variabel umur, pendidikan, pengalaman bertani, kegiatan kosmopolitan, kegiatan penyuluhan dan dukungan pemerintah terhadap minat petani menggunakan feromon. Kegiatan sosialisasi pemanfaatan feromon untuk mengendalikan hama larva bawang merah diikuti oleh petani bawang merah di Desa Coper Kecamatan Jetis Kabupaten Ponorogo dengan jumlah sasaran 30 petani.
Hasil penelitian yang diperoleh adalah petani tertarik dengan penggunaan feromon untuk mengendalikan hama ulat bawang di lahan pertaniannya. 0,02 < α (0,05) yang berarti terdapat pengaruh secara simultan atau bersama-sama variabel umur, pendidikan, pengalaman bertani, kegiatan kosmopolitan, kegiatan penyuluhan dan dukungan pemerintah terhadap minat petani menggunakan feromon. Perancangan penyuluhan bertujuan untuk mengetahui tingkat pengetahuan dan sikap petani setelah memberikan materi sosialisasi penggunaan feromon untuk mengendalikan hama ulat bawang merah.
Tujuan penyuluhan : Untuk mengetahui tingkat sikap petani terhadap penggunaan feromon Materi penyuluhan : Penggunaan feromon dalam pengendalian ulat bawang merah.
Pembahasan Pengkajian
- Pengaruh Parsial Faktor Internal dan Faktor Eksternal Terhadap Minat
Pengaruh Simultan Antara Faktor Internal dan Faktor Eksternal Terhadap
Setelah mendefinisikan matriks posisi dalam SWOT, dilanjutkan dengan penjelasan posisi strategis bagi kepentingan petani dalam pemanfaatan feromon. Berdasarkan hasil identifikasi lahan potensial di Desa Coper, Kecamatan Jetis, Kabupaten Ponorogo, masih terdapat sebagian petani yang belum mengetahui tentang pemanfaatan feromon dalam pengendalian hama ulat bawang. Adanya komunikasi tentang penggunaan feromon diharapkan dapat mendorong petani untuk meningkatkan minat penggunaan feromon sebagai alternatif pengurangan penggunaan pestisida kimia.
Berdasarkan pertimbangan tersebut maka metode yang diprioritaskan dalam pemberian informasi pemanfaatan feromon dalam pengendalian hama ulat bawang merah di Desa Coper Kecamatan Jetis Kabupaten Ponorogo adalah dengan mengikuti pendekatan kelompok dengan menggunakan metode ceramah dan diskusi kelompok, sehingga sasarannya adalah dapat langsung berpartisipasi aktif dalam diskusi. Tujuan evaluasi penyuluhan pertanian pada petani sasaran di Desa Coper Kecamatan Jetis Kabupaten Ponorogo adalah untuk mengukur tingkat pengetahuan dan sikap petani mengenai penggunaan feromon dalam pengendalian hama ulat bawang merah setelah diadakan penyuluhan. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa pada tingkat tanggung jawab, petani dikatakan bersedia dan mampu mengolah penggunaan feromon untuk mengendalikan hama ulat bawang merah sehingga dapat mengurangi penggunaan pestisida yang berlebihan.
Hasil evaluasi penyuluhan menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan petani pada kategori sangat tinggi 96,42%, dan pada kategori tanggung jawab 87,70% tingkat sikap terhadap minat penggunaan feromon dalam pengendalian hama ulat bawang di lahan mereka. pertanian. Penggunaan feromon dan perawatan sesuai anjuran menghasilkan pertumbuhan bawang merah yang optimal sehingga meningkatkan hasil.
PERANCANGAN DAN IMPLEMENTASI
Kontekstualisasi Hasil Kajian Dengan Rancangan Penyuluhan
- Sasaran Penyuluhan
- Tujuan Penyuluhan
- Materi Penyuluhan
- Metode Penyuluhan
- Media Penyuluhan
Implementasi
- Persiapan Penyuluhan
- Pelaksanaan Penyuluhan
Evaluasi Penyuluhan Pertanian
- Jenis Evaluasi
- Tujuan Evaluasi
- Instrumen Evaluasi
- Hasil Evaluasi Penyuluhan
- Hasil Analisis Evaluasi
PEMBAHASAN
Pembahasan Implementasi dan Evaluasi Penyuluhan
Berdasarkan hasil survei yang dilakukan dengan mengacu pada Tabel 4.15, tingkat minat petani termasuk dalam kategori tinggi. Hal ini menandakan bahwa petani yang disurvei berminat, kinerja tersebut harus dipertahankan dan ditingkatkan secara berkala melalui beberapa kegiatan yang dapat mendukung peningkatan minat petani, sehingga optimalisasi penggunaan feromon semakin tinggi hingga dapat mengurangi penggunaan pestisida kimia. Pelaksanaan penyuluhan dilakukan dengan terlebih dahulu menyusun rencana penyuluhan yang terdiri dari penetapan tujuan, penentuan tujuan, penentuan materi, penentuan metode, dan penentuan media penyuluhan.
Dalam menentukan tujuan, sasaran, bahan, cara, dan media pemekaran berdasarkan kebutuhan, karakteristik tujuan, dan kondisi kawasan pemekaran. Penyampaian materi juga didukung dengan metode ceramah dan diskusi serta dibantu dengan media audiovisual berupa video dan media cetak berupa leaflet yang berisi rangkuman atau poin-poin singkat mengenai feromon. Dari hasil analisis tingkat pengetahuan petani bawang merah di Desa Coper Kecamatan Jetis Kabupaten Ponorogo mempunyai tingkat pengetahuan yang sangat tinggi dengan persentase sebesar 96,42% mengenai minat penggunaan feromon untuk mengendalikan hama ulat bawang merah di Desa Coper. pertaniannya, serta pada aspek sikap menunjukkan tingkat sikap petani berada pada tanggung jawab dengan persentase minat sebesar 87,70% dalam menggunakan feromon untuk mengendalikan hama ulat bawang merah pada pertaniannya.
Dari hasil sosialisasi yang dilakukan, kini diketahui bahwa keadaan yang diinginkan adalah petani bersedia menerapkan feromon ini untuk mengendalikan hama pada tanaman bawang merah, sehingga dapat mengurangi penggunaan pestisida kimia.
Rencana Tindak Lanjut
Melakukan pembinaan dan monitoring terhadap petani agar materi yang disampaikan dapat diterapkan pada usahataninya. Memperhatikan karakteristik inovasi yang ditawarkan, agar inovasi yang ditawarkan sesuai dengan kebutuhan dan kondisi sasaran. Dengan melakukan edukasi tentang penggunaan feromon, petani dapat mengurangi penggunaan pestisida kimia yang berdampak negatif terhadap lingkungan, dan petani dapat meningkatkan efisiensi usahataninya.
PENUTUP
Kesimpulan
Saran
MINAT PETANI UNTUK MEMANFAATKAN BIURIN SEBAGAI PUPUK ORGANIK CAIR PADA SIFAT BAWANG BAWANG (ALLIUM ASCALONICUM L.) DI KABUPATEN TARUMAJAYA. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MINAT PETANI MENANAM BAWANG MERAH DI DESA CINTA DAME KECAMATAN SIMANINDO KABUPATEN SAMOSIR.