• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hasil Analisis Laboratorium Pupuk Orgnaik Cair

Dalam dokumen penyuluhan pemanfaatan limbah cangkang (Halaman 58-61)

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Analisis Laboratorium Pupuk Orgnaik Cair

Hasil analisis pupuk organik cair limbah cangkang telur dan kulit pisang yang telah dilakukan fermentasi selama 14 hari di uji laboratorium dan dan didapatkan hasil analisis pupuk tersebut setalah 1 bulan yang dapat di lihat pada Tabel 2.

Tabel 2. Hasil Analisis Pupuk Organik Cair

No Kode Hasil

1 C. Organik 4.22 %

2 pH 6.37

3 N total 0.55 %

4 P total 0.54 %

5 K total 1.12 %

6 Ca 0.54 %

7 Mg 0.55 %

(Sumber : Hasil Uji Laboratorium Fakultas Pertania UNS, 2022)

Hasil analisis laboratorium pada Tabel 2 bahwa di dalam pupuk organik cair limbah cangkang telur dan kulit pisang dengan penambahan EM4 (Efektif Mikrorganisme) dan molase terdapat kandungan unsur hara N, P, K, Ca, dan Mg.

Hal ini sesuai dengan pendapat Sriningsih, (2014) bahwa kulit pisang mengandung unsur hara N, P, K, Ca, dan Mg. Hal tersebut di dukung oleh pendapat Syam et al., (2014) yang menyatakan bahwa di dalam cangkang telur terdapat kalsium dan magnesium. Kadar unsur hara pada pupuk organik cair limbah cangkang telur dan kulit pisang yang terdapat pada Tabel 2 lebih rendah dari pendapat Rahmadina et al ., (2017) bahwa kandungan unsur hara di dalam cangkang telur yaitu N 0,18

45

(sedang), P 7% (sedang), K 8% (sedang), C-Organik 5,2% (sangat tinggi dan C/N 30% (sangat tinggi). Namun hasil analisis pupuk organik cair kadar unsur P dan K sesuai dengan pendapat Nasution et al., (2014) bahwa kulit pisang mengandung C-Organik 0,55%, N-total 1,34%, P 0,043%, K 1,137%, C/N 3,06% dan pH 4,5. Hal tersebut diduga karena faktor yang menimbulkan adanya pengaruh terhadap kandungan unsur hara. Faktor tersebut yaitu konsentrasi bahan EM4 untuk pembuatan pupuk organik cair kurang sesuai terhadap lama fermentasi.

Marlina et al., (2016) mengemukakan bahwa faktor lain yang dapat memengaruhi naik turunya kadar unsur hara yaitu sifat bahan baku yang digunakan, bioaktivator, kondisi fermentasi, dan lama waktu fermentasi. Semakin lama waktu fermentasi, maka semakin banyak pula nutrisi atau makanan yang digunkanan untuk aktivitas mikroorganisme, sehingga lama kelamaan ketersediaan nutrisi akan habis dan mengakibatkan kematian pada mikroorganisme. Menurut Bachtiar &

Ahmad, (2019) pada fase tersebut aktivitas mikroorganisme dalam mengurai senyawa organik akan menurun dan akan didapatkan hasil kadar unsur hara yang lebih sedikit.

Kandungan N sebanyak 0,55% dimana kandungan N masih rendah.

Rendahnya kandungan N pada pupuk cair organik kemungkinan disebabkan oleh aktivitas mikroorganisme yang berperan dalam proses fermentasi. Menurut Wastes et al., (2018) kandungan N yang rendah mungkin disebabkan oleh adanya unsur N yang digunakan mikroorganisme dalam memenuhi kebutuhan, dan konversi unsur nitrogen menjadi bentuk gas. Lena Waruguru 2017 mengemukakan bahwa proses fermentasi dapat berpengaruh terhadap unsur hara dan menurunkan hasil kandungan N (nitrogen). Hal ini juga di dukung oleh pendapat (Sutedjo, 2010) apabila pupuk organik cair di simpan terlalu lama maka akan menyebabkan menurunya kandungan N sebesar 30%.

Kadar unsur P sebanyak 0,54% sudah sesuai dengan pendapat (Nasution et al., 2014) yaitu kadar P sebanyak 0,43%. Tingginya kandungan unsur P di pengaruhi oleh bahan organik yang di fermentasi seperti pada bahan pupuk organik cair ini yaitu cangkang telur dan kulit pisang yang mengandung unsur P. Rendahnya kadar fosfor dapat terjadi karena fosfor dibutuhkan oleh mikroorganisme sebagai sumber nutrisi makro untuk perkembangan dan pertumbuhan mikroorganisme (Wastes et al., 2018).

Kadar unsur K sebanyak 1,12% sudah sesuai dengan pendapat (Nasution et al., 2014) yaitu sebanyak 1,137%. Rendahnya kandungan kalium disebabkan karena terjadinya endapan pada pupuk organik cair sehingga unsur K (kalium) tidak terdeteksi secara sempurna selain itu konsentrasi pada bahan dalam pembuatan pupuk organik cair membuat unsur kalium menjadi rendah (Sundari et al., 2014).

Berdasarkan Tabel 2 hasil analisis kandungan unsur hara Ca (Kalsium) dan Mg (Magnesium) yaitu sebanyak 0,54% dan 0,55% Sesuai dengan pendapat Zulfita

& Dwi Raharjo, (2012) bahwa cangkang telur ayam kaya akan garam organik dan kalsium, serta banyak bahan penting lainnya yang sangat bermanfaat bagi tanaman.

Cangkang telur tersusun atas kalsium karbonat (CaCO3) sebanyak 98,34%, magnesium karbonat (MgCO3) sebanyak 0,84%, dan Kalsium fosfat (Ca3(PO4)2) sebanyak 0,75% (Syam et al., 2014). Hasil analisis unsur hara Ca dan Mg tersebut masih rendah. Hal tersebut diduga karena lama fermentasi dan komposisi bahan pembuatan pupuk organik cair yang kurang sesuai sehingga menyebabkan kandungan unsur hara rendah (Jeksen & Mutiara, 2017).

Meskipun unsur hara makro pupuk organik cair limbah cangkang telur dan kulit pisang masih rendah, apabila dilihat berdasarkan unsur hara NPK total yaitu sebesar 2,21% sudah memenuhi standart Keputusan Menteri Pertanian Republik Indonesi Nomor 261/KPTS/SR.310/M/4/2019 tentang persyaratan teknis minimal

47

pupuk organik, pupuk hayati dan pembenah tanah dimana unsur hara makro N+P2O5+K2O sebesar 2% - 6%.

4.2 Pengaruh Pupuk Organik Cair Limbah Cangkang Telur dan Kulit Pisang Terhadap Pertumbuhan dan Produktivitas Tanaman Bawang Merah 4.2.1 Tinggi Tanaman Bawang Merah

Hasil pengamatan pengaruh pupuk organik cair limbah cangkang telur dan kulit pisang terhadap tinggi tanaman bawang merah memberikan pengaruh yang berbeda nyata antar perlakuan. Rata-rata tinggi tanaman bawang merah yang diperoleh dari hasil pengamatan pengaruh pupuk organik cair limbah cangkang telur dan kulit pisang terhadap pertumbuhan tinggi tanaman bawang merah (Allium Ascolanium) dapat dilihat pada Tabel 3.

Tabel 3. Tinggi Tanaman Bawang Merah Setelah Aplikasi Pupuk Organik Cair Limbah Cangkang telur dan Kulit Pisang

Perlakuan Tinggi Tanaman (cm)

7 HST 14 HST 21 HST 28 HST 35 HST P1 (Kontrol) 13.7 a 21.27 a 27.73 a 30.67 a 33.5 a P2 (POC 100ml/L) 13.6 a 23.8 b 29.47 b 31.8 b 35.03 b P3 (POC 200ml/L) 14.1 a 25.9 c 31.9 c 34.1 c 39.9 c P4 (POC 300ml/L) 13.93 a 26.33 c 33.2 d 36.03 d 40.37 c

Keterangan: Angka yang di ikuti oleh huruf (notasi) yang sama pada kolom yang sama menunjukan tidak terdapat perbedaan yang nyata.

Berdasarkan hasil uji DMRT pada Tabel 3 menunjukkan bahwa efektivitas pupuk organik cair limbah cangkang telur dan kulit pisang terhadap pertumbuhan tinggi tanaman bawang merah memberikan hasil berbeda nyata dan tidak berbeda nyata antar perlakuan. Pada minggu umur 7 HTS tidak terdapat perbedaan nyata antar perlakuan dikarenakan pada umur tersebut belum dilakukan pemupukan.

Pada umur 14 HST P4 berbeda nyata dengan P1 dan P2 namun tidak berbeda nyata dengan P3. Perbedaan tinggi tanaman tersebut diduga karena kadar N dari pupuk organik cair berbahan dasar cangkang telur dan kulit pisang merupakan komponen penyusun auksin yang memiliki peran penting dalam pertumbuhan jaringan meristem apikal yang menjadikan tanaman bertambah tinggi. Hal tersebut juga di dukung oleh pendapat Sutedjo dalam Pantang et al., (2021) bahwa peningkatan kandungan unsur N tanaman dapat membantu pembentukan organ- organ baru. Hal ini mempengaruhi proses pemanjangan dan penyebaran daun, meningkatkan tinggi dan mendorong proses pertumbuhan daun serta anakan tanaman.

Pada umur 21 dan 28 HST terdapat perbedaan nyata antar perlakuan. Rata- rata tertinggi diperolah dari P4 yang merupakan perlakuan dengan dosis paling banyak. Sedangkan rata-rata terendah terdapat pada perlakuan P1. Hal tersebut diduga karena pemberian pupuk organik cair limbah cangkang telur dan kulit pisang mampu menyuplai unsur hara yang beragam untuk mendukung pertumbuhan dan produktivitas tanaman bawang merah (Sriningsih, 2014). Pemberian pupuk organik cair dengan dosis berbeda memberikan pengaruh yang berbeda pula terhadap pertambahan tinggi tanaman bawang merah, karena jumlah unsur hara yang terkandung dalam pupuk juga berbeda. Hal tersebut didukung oleh pendapat Guming dalam Nurcholis et al., (2021) bahwa semakin tinggi konsentrasi pupuk maka akan meningkatkan pertumbuhan tinggi tanaman yang di sebabkan oleh kandungan nutrisi yang lebih optimal.

Pada umur 35 HST, rata-rata tinggi tanaman menurun pada P4 dengan hasil analisis yang berbeda nyata dengan P1 dan P2 namun tidak berbeda nyata dengan P3. Hal tersebut diduga karena bawang merah telah memasuki fase generatif yaitu 35 – 50 HST dimana tanaman sudah tidak mengalami pertumbuhan terutama tinggi tanaman. Pada masa generatif tanaman mulai memasuki masa pembentukan dan

49

pematangan umbi (Nur Aeni et al., 2020). Hal ini sesuai dengan pendapat Lussy, (2020) bahwa tanaman bawang merah yang berada pada fase generatif mengalami penurunan pada tinggi daun dan jumlah daun dengan sendirinya karena proses fotosintesis lebih diarahkan untuk pembentukan dan pematangan umbi.

4.2.2 Jumlah Daun Tanaman Bawang Merah

Hasil pengamatan pengaruh pupuk organik cair limbah cangkang telur dan kulit pisang terhadap jumlah daun tanaman bawang merah memberikan pengaruh yang berbeda nyata antar perlakuan. Rata-rata jumlah daun tanaman bawang merah yang diperoleh dari hasil pengamatan pengaruh pupuk organik cair limbah cangkang telur dan kulit pisang terhadap jumlah daun tanaman bawang merah (Allium Ascolanium) dapat dilihat pada Tabel 4

Tabel 4. Jumlah Daun Tanaman Bawang Merah Setelah Aplikasi Pupuk Organik Cair Limbah Cangkang telur dan Kulit Pisang

Perlakuan

Jumlah Daun (cm)

7 HST 14 HST 21 HST 28 HST 35 HST P1 (Kontrol) 13.07 a 20.67 a 25.8 a 28.57 a 29.23 a P2 (POC 100ml/L) 13.13 a 22.5 b 27.67 b 31.07 b 33.23 b P3 (POC 200ml/L) 13.83 a 25.57 c 30.5 c 36.7 c 37.83 c P4 (POC 300ml/L) 13.53 a 27.3 d 33.23 d 37.17 c 38.3 c

Keterangan: Angka yang di ikuti oleh huruf (notasi) yang sama pada kolom yang sama menunjukan tidak terdapat perbedaan yang nyata.

Berdasarkan hasil uji DMRT (Tabel 4) menunjukkan bahwa pada pengamatan 7HST tidak terdapat beda nyata antar perlakuan dikarenakan pada umur tersebut bawang merah belum diaplikasikan pupuk organik cair. Pada umur 14 HST dan 21 HST, P4 berbeda nyata dengan semua perlakuan. Hal tersebut diduga karena kadar unsur hara pada P4 telah mencukupi kebutuhan tanaman bawang merah. Hal ini

sesuai dengan penelitian Kartika dalam Nurcholis et al., (2021) bahwa pemberian dosis pupuk yang tinggi menghasilkan unsur hara paling optimal untuk pertumbuhan tanaman.

Perbeedaan tinggi tanaman tersebut diduga karena pengaruh pemberian pupuk organik cair limbah cangkang telur dan kulit pisang yang mengandung unsur Kalium. Kalium digunakan tanaman untuk aktivitas enzim dan juga berperan penting pada proses fotosintesis. Hal ini sesuai dengan pendapat Sitompul dalam Pantang et al., (2021) bahwa unsur K yang terkandung dalam pupuk memiliki peran penting dalam pembentukan daun dimana ketersediaan kalium dapat memperlancar proses pembentukan daun. Hal ini juga di dukung dengan pendapat Agus & Listiatie, (2014) apabila proses fotosintesi terhambat, proses pembentukan sel-sel baru pada tumbuhan akan ikut terhambat seperti pembentukan daun.

Pada umur 28 HST dan 35 HST jumlah daun P4 mengalami penurunan yang memberikan pengaruh beda nyata dengan P1 dan P2 namun tidak berbeda nyata dengan P3. Hal ini diduga karena bawang merah pada umur tersebut mulai memasuki fase generatif. Sesuai dengan pendapat Rahayu et al., (2016) bahwa bawang merah yang memasuki fase generatif akan mengalami penurunan daun di karenakan beberapa daun yang sudah tua mulai menguning dan gugur. A. Y.

Rahayu, (2012) juga mengatakan bahwa laju pertumbuhan tanaman akan mengalami penurunan pada saat fase akhir vegetative atau memasuki masa generatif.

4.2.3 Jumlah Umbi Bawang Merah

Hasil pengamatan pengaruh pupuk organik cair limbah cangkang telur dan kulit pisang terhadap jumlah umbi tanaman bawang merah per rumpun menunjukan hasil yang berbeda nyata antar perlakuan. Rata-rata jumlah umbi per rumpun pada setiap perlakuan dapat dilihat pada Tabel 5.

51

Tabel 5. Jumlah Umbi Bawang Merah Setelah Aplikasi Pupuk Organik Cair Limbah Cangkang telur dan Kulit Pisang

Perlakuan Jumlah Umbi (Buah)

P1 (Kontrol) 6.7 a

P2 (POC 100ml/L) 7.27 b

P3 (POC 200ml/L) 8.1 c

P4 (POC 300ml/L) 9.3 d

Keterangan: Angka yang di ikuti oleh huruf (notasi) yang sama pada kolom yang sama menunjukan tidak terdapat perbedaan yang nyata.

Berdasarkan hasil uji DMRT pada Tabel di atas rata-rata jumlah umbi bawang merah yaitu sebanyak 6-9 buah dengan hasil yang berbeda nyata pada setiap perlakuan. Pengaruh pemberian POC limbah cangkang telur dan kulit pisang dengan perlakuan yang berbeda-beda memberikan hasil yang berbeda nyata pada produksi jumlah umbi bawang merah. Hasil jumlah umbi terbanyak yaitu pada perlakuan P4 dengan rata-rata jumlah umbi 9,3 buah. Sedangkan rata-rata jumlah umbi terendah yaitu pada perlakuan P1 dengan rata-rata jumlah umbi 6,7 buah. Hal ini diduga karena dosis pupuk organik cair sebanyak 300ml/L mampu menyuplai kebutuhan P tanaman bawang merah secara tepat sehingga memberikan pertumbuhan yang lebih baik.

Unsur P berperan pada pertumbuhan tunas, akar, bunga, dan buah.

Pengaruh unsur P pada akar adalah memperbaiki struktur akar sehingga daya serap hara tanaman bawang merah meningkat. Karena tidak ada unsur hara lain yang dapat menggantikan fungsi tanaman, tanaman harus menerima fosfor yang cukup untuk meningkatkan perkembangan akar dan kadar karbohidrat tanaman, yang pada akhirnya menghasilkan pertumbuhan dan hasil tanaman (Singh dalam Fatirahma & Kastono, 2020). Apabila kekurangan fosfor (P) dapat menyebabkan penyerapan unsur lain terganggu, dan dapat berdampak pada pembentukan daun muda (Fatirahma & Kastono, 2020).

Pengaruh pemberian pupuk organik cair limbah cangkang telur dan kulit pisang terhadap jumlah umbi juga sejalan dengan peningkatan jumlah daun tanaman bawang merah. Pertumbuhan vegetatif yang bagus dapat merangsang pembentukan anakan sehingga dapat diperoleh jumlah umbi yang lebih banyak karena faktor vegetatif dari perlakuan pupuk organik cair dan proses fotosintesis sehingga berpengaruh terhadap pembentukan umbi (Irawan et al., 2017). Hal ini sesuai dengan pendapat Subhan dalam Elisabeth et al ., (2020) yang mengungkapkan bahwa apabila pertumbuhan vegetatif tanaman baik maka pertumbuhan generatif tanaman juga akan baik, karena pertumbuhan vegetatif mempengaruhi masa generatif. Pemberian pupuk organik cair yang sesuai dengan kebutuhan tanaman secara tepat akan menghasilkan pertumbuhan lebih baik (Wijaya, 2008).

4.2.4 Berat Umbi Per Rumpun Bawang Merah

Hasil pengamatan pengaruh pupuk organik cair limbah cangkang telur dan kulit pisang terhadap berat umbi tanaman bawang merah per rumpun menunjukan hasil yang berbeda nyata anatar perlakuan. Rata-rata jumlah umbi per rumpun pada setiap perlakuan dapat dilihat pada Tabel 6.

Tabel 6. Berat Umbi Per Rumpun Bawang Merah Setelah Aplikasi Pupuk Organik Cair Limbah Cangkang telur dan Kulit Pisang

Perlakuan Berat Umbi (g)

P1 (Kontrol) 55.1 a

P2 (POC 100ml/L) 58.13 b

P3 (POC 200ml/L) 64.07 c

P4 (POC 300ml/L) 68.37 d

Keterangan: Angka yang di ikuti oleh huruf (notasi) yang sama pada kolom yang sama menunjukan tidak terdapat perbedaan yang nyata.

53

Berdasarkan Tabel 6 rata-rata produksi berat umbi per rumpun yang paling banyak dihasilkan pada perlakuan P4, sedangkan produksi rata-rata berat umbi per rumpun terkecil yaitu terdapat pada P1 yaitu perlakuan yang di tetapkan sebagai kontrol. Hal ini diduga karena pengaruh kandungan Magnesium pada pupuk organik cair yang dapat meningkatkan produktivitas tanaman. Pembentukan umbi bawang merah berasal dari pembesaran lapisan-lapisan batang semu yang kemudian berkembang menjadi umbi bawang merah (Gerendas & Fuhrs, 2013). Selain karena kandungan magnesium pada pupuk organik cair juga didukung oleh kandungan K.

Kalium diperlukan dalam proses fotosintesis dan dapat meningkatkan bobot umbi (Damanik, 2011). Kandungan K yang tinggi menyebabkan ion K+ menyerap air di dalam tubuh tanaman yang dapat mempercepat proses fotosintesis (Supriyatna et al., 2016). Hasil fotosintesis inilah yang merangsang pembentukan umbi menjadi lebih besar sehingga dapat meningkatkan bobot basah tanaman (Yuliantika & Nizar, 2019).

Unsur hara kalium (K) berperan sebagai pengatur proses fisiologis tanaman seperti fotosintesis, migrasi, akumulasi, pembukaan dan penutupan stomata, transpor karbohidrat, serta pengaturan distribusi air di dalam jaringan dan sel. Selain unsur Mg dan K pemberian unsur kalsium bagi tanaman juga dapat mengoptimalkan laju fotosintesis dan hasil fotosintesis menjadi lebih tinggi, sehingga fotosintesis dapat merangsang pembentukan umbi yang lebih besar dan meningkatkan bobot basah tanaman (Fatirahma & Kastono, 2020).

4.2.5 Berat Umbi Per Petak Bawang Merah

Hasil analisis Berat umbi basah dan berat umbi kering pada tanaman bawang merah (Allium Ascolanium) di dapatkan hasil yang berbeda nyata antar perlakuan.

Rata-rata berat umbi petak pada setiap perlakuan dapat dilihat pada Tabel 7

Tabel 7. Berat Umbi Per Petak Bawang Merah Setelah Aplikasi Pupuk Organik Cair Limbah Cangkang telur dan Kulit Pisang

Perlakuan Berat Basah (g) Berat Kering (g)

P1 (Kontrol) 1421 a 1064 a

P2 (POC 100ml/L) 1540 b 1149 b

P3 (POC 200ml/L) 1708 c 1276 c

P4 (POC 300ml/L) 1789 d 1337 d

Keterangan: Angka yang di ikuti oleh huruf (notasi) yang sama pada kolom yang sama menunjukan tidak terdapat perbedaan yang nyata.

Berdasarkan uji DMRT pada Tabel 7, rata-rata berat umbi basah dan berat umbi kering tertinggi yaitu pada perlakuan P4 yaitu dengan berat basah 1789gr dan berat kering 1337gr per petak. Kemudian rata-rata tertinggi selanjutnya di ikuti oleh P3, P2, dan P1 yang di tetapkan sebagai kontrol dengan rata-rata terendah yaitu berat basah 1421gr dan berat kering 1064gr. Hal ini diduga karena unsur hara yang terkandung dalam pupuk organik cair limbah cangkang telur dan kulit pisang yang ada pada tanah dapat diserap dengan baik oleh akar tanaman sehingga memberikan respon pertumbahan dan produktivitas yang baik. Hal ini sesuai dengan pendapat M Ehsan et al., (2022) bahwa Aplikasi pupuk yang mengandung kalium untuk Bawang Merah dapat mempengaruhi pertumbuhan, hasil, dan kualitas umbi bawang merah yang dihasilkan. Gunadi, (2009) mengemukakan bahwa penggunaan pupuk yang mengandung kalium meningkatkan hasil umbi berupa peningkatan kualitas umbi dan umur simpan, serta umbi tetap kokoh meskipun disimpan dalam jangka waktu lama. Penggunaan pupuk organik cair cukup untuk memenuhi unsur hara makro dan unsur hara mikro, sehingga sel tanaman dapat membentukan buah dan umbi dengan maksimal (Isnaini, 2006).

Napitupulu, D. dan L. Winarto, (2010) menyatakan bahwa unsur hara berfungsi dalam meningkatkan pertumbuhan vegetatif dan generatif serta

55

berpengaruh terhadap peningkatan berat umbi bawang merah. Hal ini juga di dukung oleh Sinulingga et al., (2015) yang mengemukakan bahwa unsur hara sangat diperlukan pada proses fotosintesis serta dapat meningkatkan berat umbi bawang merah. Proses penurunan berat umbi kering diduga karena adanya penguapan air dari umbi bawang merah pada saat pengeringan. Nurhidayah, (2016) menyatakan bahwa sebagian besar berat basah umbi bawang merah di sebabkan oleh kandungan air dan cadangan makanan pada umbi.

4.2.6 Analisa Usaha Tani Bawang Merah

Hasil analisis usaha tani bawang merah dengan skala hektare berdasarkan perlakuan terbaik pupuk organik cair limbah cangkang telur dan kulit pisang dengan dosis 300ml/L dan tanpa POC disajikan pada Tabel 8.

Tabel 8. Analisis Usaha Tani Perlakuan terbaik Pupuk Organik Cair Limbah Cangkang Telur dan Kulit Pisang

Analisis Usaha Tani

Hasil

POC Dosis 300ml/L Tanpa POC

TC Rp. 84.352.000 Rp. 70.432.000

TR Rp. 217.250.000 Rp. 172.900.000

Π Rp. 132.898.000 Rp. 102.468.000

R/C Ratio 2,5 2,4

B/C Ratio 1,6 1,4

Sumber: Data yang diolah, 2022 Keterangan:

TC = Total Biaya Produksi

TR = Total Penerimaan Usaha Tani Π = Total Pendapatan Usaha Tani

R/C Ratio = Analisa Efisiensi Usaha Tani (Penerimaan/Biaya) B/C Ratio = Analisa Efisiensi Usaha Tani (Pendapatan/Biaya)

Tabel 8 merupakan hasil analisis usaha tani dengan perlakuan terbaik P4 (300ml/L) pupuk organik cair limbah cangkang telur dan kulit pisang terhadap tanaman bawang merah. Analisis usaha tani meliputi total biaya produksi, total penerimaan usaha tani, total pendapatan usaha tani, analisa efisiensi usaha tani (penerimaan/biaya), dan analisa efisiensi usaha tani (pendapatan/biaya) yang rincian perhitunganya dapat di lihat pada lampiran 6.

Berdasarkan Tabel 8 pendapatan usaha tani oleh perlakuan terbaik dosis 300ml/L pupuk organik cair limbah cangkang telur dan kulit pisang yaitu sebesar Rp.132.898.000 lebih besar dari pada perlakuan tanpa POC yaitu Rp.102.468.000.

Hasil perhitungan R/C Ratio perlakuan terbaik POC dosis 300ml/L yaitu > 1 dimana perlakuan pupuk organik cair limbah cangkang telur dan kulit pisang dengan dosis 300ml/L dapat dikatakan menguntungkan. Sedangkan untuk hasil perhitungan B/C Ratio > 1 dimana perlakuan pupuk organik cair limbah cangkang telur dan kulit pisang dengan dosis 300ml/L layak untuk dilakukan.

4.2.7 Perlakuan Terbaik

Berdasarkan analisis data terhadap hasil pengamatan semua parameter yang meliputi tinggi tanaman, jumlah daun, jumlah umbi, berat umbi per rumpun, berat umbi basah petak dan berat umbi kering petak terdapat beda nyata dan tidak berbeda nyata. Pada parameter jumlah umbi, berat basah per rumpun, berat basah per petak dan berat kering per petak terdapat beda nyata antar perlakuan dimana rata rata tertinggi didapat dari P4 yang disusul dengan P3, P2, dan P1. Pada parameter tinggi tanaman P4 berbeda nyata dengan P1 dan P2 tetapi tidak berbeda nyata dengan P3 pada 7, 28 dan 38 HST. Sedangkan pada parameter jumlah daun P4 berbeda nyata dengan P1 dan P2 tetapi tidak berbeda nyata pada perlakuan P3 pada 7 ,14 dan 35 HST.

57

Berdasarkan lampiran 8 hasil analisis data pengamatan dapat disimpulkan bahwa perlakuan P4 memberikan pengaruh beda nyata yang lebih baik dari perlakuan lainya. Hal tersebut dapat dilihat dari rata-rata dan notasi P4 yaitu di tandai dengan notasi d yang berbeda dengan notasi pada perlakuan lainya pada lampiran 7. Dari hasil di atas sudah dapat menjawab hipotesis pada kajian ini bahwa hipotesis H1 diterima dan H0 di tolak yang artinya pupuk organik cair limbah cangkang telur dan kulit pisang mempengaruhi pertumbuhan dan produktivitas pada tanaman bawang merah.

58 BAB V

RANCANGAN DAN IMPLEMENTASI

5.1 Gambaran Umum Lokasi Kajian

5.1.1 Batas Wilayah Desa Gerih

Desa Guyung merupakan salah satu Desa di Kecamatan Gerih kabupaten Ngawi, Secara geografis Desa Guyung terletak Pada posisi - 7o 28’-57’’Lintang Selatan dan 111o 26’-28” Bujur Timur. Jarak tempuh Desa Guyung ke Kecamatan Gerih ± 2 km. Sedangkan topografi untuk wilayah Desa Guyung Kecamatan Gerih secara keseluruhan adalah berupa daratan dengan ketinggian antara 54 meter sampai dengan 130 meter dari permuan air laut. Desa Gerih memiliki luas sawah sekitar 366.80 ha, teknis 196.80 ha ,

½ teknis 170 Ha Lahan tegal 308 Ha, luas pekarangan 0 ha serta lain-lain 0 ha.

Batas wilayah Desa Gerih Kecamatan Gerih adalah sebagai berikut:

Sebelah Utara : Desa Tepas

Sebelah Timur : Desa Gerih, Desa Tambakromo Kecamatan Geneng Sebelah selatan : Desa Widodaren

Sebelah Barat : Desa Kedungputri

5.1.2 Keadaan Tanah

Tanah sebagai sumber daya alam dalam pertanian mempunyai fungsi sebagai penyedia unsure hara dan air bagi pertumbuhan tanaman. Faktor tanah sangat menentukan pertumbuhan dan produksi tanaman. Keadaan tanah di Kecamatan Gerih disajikan padaTabel 9.

Dalam dokumen penyuluhan pemanfaatan limbah cangkang (Halaman 58-61)

Dokumen terkait