• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hasil Belajar Bahasa Indonesia a. Pengertian Hasil Belajar

Dalam dokumen efektivitas pendekatan ilmiah (scientific (Halaman 69-74)

BAB I PENDAHULUAN

D. Manfaat Penelitian

4. Hasil Belajar Bahasa Indonesia a. Pengertian Hasil Belajar

kosakata dan struktur kalimat dengan lebih baik sehingga karya tulisnya dapat dimengerti orang lain.

Menulis adalah melahirkan pikiran atau perasaan dengan tulisan.

Tarigan (1993: 21) mengemukakan bahwa menulis adalah menurunkan atau melukiskan lambang-lambang grafik yang menggambarkan suatu bahasa yang dipahami oleh seseorang, sehingga orang lain dapat membaca lambang-lambang grafik tersebut sepanjang mereka memahami bahasa dan gambaran grafik tersebut.

Berdasarkan uraian tersebut, disimpulkan bahwa keterampilan berbahasa Indonesia terdiri atas empat, yaitu keterampilan menyimak, berbicara, membaca, dan menulis.

4. Hasil Belajar Bahasa Indonesia

56

Hasil belajar tidak akan pernah tercapai selama seseorang tidak melakukan kegiatan. Pada kenyataannya, untuk mendapat hasil belajar yang maksimum tidak semudah yang dibayangkan. Banyak tantangan dan hambatan yang dihadapi. Semua itu membutuhkan perjuangan untuk mengatasinya guna mencapai tujuan yang diharapkan. Hasil belajar itu dimanifestasikan dalam bentuk perubahan pola pikir dan tingkah laku.

Djamarah (2002: 19) mengemukakan bahwa “hasil belajar adalah hasil dari suatu kegiatan yang telah dikerjakan atau diciptakan secara individual atau kelompok”. Pendapat tersebut menunjukkan bahwa hasil belajar itu dicapai setelah seseorang melakukan suatu aktivitas.

Chirman (dalam Haling, 2004: 12) mengemukakan bahwa hasil belajar adalah hal yang dicapai peserta didik sebagai bukti dalam belajar berupa nilai-nilai, pengetahuan, keterampilan dan sikap peserta didik sehingga menimbulkan tingkah laku yang berkembang ke arah kemajuan dan kemudahan dalam menyesuaikan diri dengan lingkungannya.”`

Berdasarkanteori belajar tersebut, terdapat tiga jenis teori belajar yaitu belajar kognitif, afektif, dan psikomotor. Hal sejalan dengan pendapat Bloom (dalam Arifin, 2009: 76) yang merupakan ahli pendidikan yang terkenal sebagai pencetus konseptaksonomi belajar. Taksonomi belajar adalah pengelompokkan tujuan berdasarkan domain atau kawasan belajar.

Menurut Bloom ada tiga domain belajar yaitu : 1) Belajar Kognitif

Aliran kognitif memandang kegiatan belajar bukanlah sekedar stimulus dan respons yang bersifat mekanistik, tetapi lebih dari itu, kegiatan belajar juga melibatkan kegiatan mental yang ada di dalam diri invidu yang sedang belajar. Menurut aliran kognitif belajar adalah sebuah proses mental yang aktif untuk mencapai, mengingat, dan menggunakan pengetahuan. Perilaku yang tampak pada manusia tidak dapat diukur dan diamati tanpa melibatkan proses mental seperti motivasi, kesengajaan, keyakinan, dan lain sebagainya.

Kendati pendekatan kognitif sering dipertentangkan dengan pendekatan behavioristik, namun ia tidak selalu menafikan pandangan- pandangan kaum behavioristik. Reinforcement, misalnya, yang menjadi prinsip belajar behaviotistik, juga terdapat dalam pandangan kognitif tentang belajar. Namun bedanya, behavioristik memandang reinforcement sebagai elemen yang penting untuk menjaga atau menguatkan tingkah laku, sedangkan menurut pandangan kognitif reinforcement sebagai sebuah sumber feedback apakah kemungkinan yang terjadi jika sebuah perilaku diulang lagi.

2) Belajar Afektif

Afektif berhubungan dengan emosi seperti perasaan, nilai, apresiasi, motivasi dan sikap. Terdapat lima kategori utama afektif dari yang paling

58

sederhana sampai kompleks yaitu: penerimaan, tanggapan, penghargaan, pengorganisasian, dan karakterisasi berdasarkan nilai-nilai atau internalisasi nilai.

Menurut Arifin (2009: 76) bahwa belajar afektif atau sikp adalah suatu predisposisi yang dipelajari untuk merespons secara positif atau negatif terhadap suatu objek, situasi, konsep atau orang. Misalnya objeknya adalah sikap peserta didik terhadap mata pelajaran bahasa Indonesia. Seharusnya sikap peserta didik terhadap mata pelajaran bahasa Indonesia lebih positif responsif sebelum mengikuti proses pembelajaran tersebut. Perubahan sikap ini merupakan indikator keberhasilan pendidik dalam proses pembelajaran.

Oleh karena itu, pendidik harus membuat rencana pembelajaran termasuk pengalaman pembelajaran yang membuat sikap peserta didik terhadap mata pelajaran menjadi lebih positif. Dengan sikap positif dalam diri peserta didik akan lebih mudah diberi motivasi dan akan lebih mudah menyerap materi pelajaran yang diajarkan. Penilaian sikap pada sekolah menengah kejuruan ada dua yaitu sikap mengikuti pembelajaran sehari-hari dan sikap dalam melaksanakan suatu pekerjaan produktif. Sikap mengikuti pembelajaran bersumber dari catatan harian peserta didik berdasarkan pengamatan guru mata pelajaran, hasil penilaian berdasarkan pertanyaan langsung dan laporan pribadi. Penilaian sikap dalam melaksanakan pekerjaan idealnya dilakukan oleh dua penilai yaitu unsur eksternal (dari industri) dan internal (guru), yang mengacu pada pencapaian kriteria pada setiap kompetensi.

Sikap yang dinilai adalah sikap yang dipersyaratkan untuk melakukan suatu pekerjaan.

3) Belajar Psikomotor

Istilah psikomotor terkait dengan kata motor, sensory-motor, atau perceptual- motor. Ranah psikomotor erat kaitannya dengan kerja otot yang menjadi penggerak tubuh dan bagian-bagiannya, mulai dari gerak yang sederhana seperti gerakan-gerakan dalam shalat sampai dengan gerakan- gerakan yang kompleks seperti gerakan-gerakan dalam praktik manasik ibadah haji. Keterampilan lebih terkait dengan psikomotor.

Pengukuran ranah psikomotor dilakukan terhadap hasil-hasil belajar yang berupa penampilan. Namun biasanya pengukuran ranah ini disatukan atau dimulai dengan pengukuran ranah kognitif sekaligus. Misalnya penampilannya dalam menggunakan termometer diukur mulai dari pengetahuan mereka mengenai alat tersebut, pemahaman tentang alat dan penggunaannya (aplikasi), kemudian baru cara menggunakannya dalam bentuk keterampilan. Untuk pengukuran yang terakhir ini harus diperinci antara lain : cara memegang, cara melatakkan/menyipkan kedalam ketiak atau mulut, cara membaca angka, cara mengembalikan ke tempatnya dan senagainya. Ini semua tergantung dari kehendak kita, asal tujuan pengukuran dapat tercapai.

60

b. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar

Wujud tanggapan terhadap suatu objek atau rangsangan tentu mempunyai tingkatan dan bentuk yang berbeda-beda sebagai akibat terdapatnya berbagai faktor yang turut mempengaruhi hasil belajar. Menurut Ahmad dan Prasetia (2005: 103) bahwa ”secara umum, faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar dapat dikelompokkan atas dua yaitu faktor internal dan faktor eksternal.”

Dalam dokumen efektivitas pendekatan ilmiah (scientific (Halaman 69-74)