• Tidak ada hasil yang ditemukan

Responden situs toko online berdasarkan hasil survey di dominasi oleh responden perempuan sebesar 71% dengan kisaran usia antara 17 – 32 tahun. Penggunaan internet oleh responden untuk mencari informasi (47%), belanja online (17%), bersosialisasi di dunia maya (16%), mengirimkan email (6%), mengisi waktu senggang (14%).

Lokasi responden untuk mengakses internet dapat dilakukan dirumah (43%), di tempat kerja (15%) atau dari warnet (6%) atau mengakses dari ketiga tempat tersebut (36%).Hal ini menunjukkan penetrasi internet tahun 2010 serta kepemilikan koneksi dengan perangkat seperti telepon genggam, tablet, gadget lainnya memudahkan respnden untuk selalu terhubung dengan internet dalam setiap aktivitasnya.

Responden mengetahui alamat atau link situs toko online dari informasi search engine (42%), email (6%), brosur/leaflet (4%), radio/televisi (21%), koran/majalah (3%) serta informasi dari teman/kolega (24%). Perilaku responden dalam mencari informasi menjadi faktor yang cukup penting dalam bisnis retail online, karena ketersediaan dan kesesuaian informasi mejadi salah pendorong keberhasilan transaksi secara online.

Situs toko online yang sering diakses responden untuk transaksi secara online antara lain lazada (23%), olx (14%), tokopedia (20%), traveloka (10%), zalora (7%), bukalapak (6%), blibli dan mataharimall (5%) dan lainnya (10%) merupakan situs toko online yang mempunyai tingkat popularitas dan cukup mendominasi di bisnis retail online di Indonesia. Responden melakukan belanja online 1 kali dalam sebulan (42%), 2 – 5 kali dalam sebulan (34%) dan sisanya > 5 kali dalam sebulan dengan kategori produk yang dibeli cukup beragam seperti fashion (53%), gadget (14%), tiket (20%), buku (4%), perlengkapan rumah tangga (4%) dan sisanya barang barang konsumsi lainnya (5%).

Secara keseluruhan penilaian responden terhadap situs toko online yang pernah diakses dinilai responden dengan kategori baik (25%) dan cukup baik (20%) dan sebagian besar responden merekomendasikan situs toko online tersebut untuk dijadikan pilihan tempat belanja online (43%).

Uji Validitas dan Reliabilitas

Hasil pengujian menunjukkan bahwa setiap elemen yang menentukan kepercayaan konsumen dalam memilih situs toko online dapat digunakan sebagai instrumen pengukuran (valid), dan apabila digunakan secara berulang dalam pengukuran menunjukkan hasil yang relatif sama dan dapat dipercaya (reliable)

Uji Asumsi Klasik Multikolinieritas

Berdasarkan hasil uji multikolinieritas, diketahui bahwa nilai Variation Inflasi Factor (VIF) dari setiap variabel ≤ 10 dan nilai Tolerance dari setiap variabel > 0,1, artinya data yang diperoleh dari hasil survey dan model regresi yang terbentuk layak digunakan karena terbebas dari masalah multikolinieritas.

Autokorelasi

Hasil pengujian diketahui nilai dw hitung sebesar 1,743 lebih besar dari 1,611 dan lebih kecil dari 2,265 yang artinya berada pada daerah tidak ada autokorelasi. Sehingga dapat disimpulkan bahwa dalam model regresi linier yang terbentuk layak digunakan karena tidak terjadi autokorelasi.

Pengujian Hipotesis

ISBN : 978-602-74335-0-2 Page 21

Uji F (Uji Simultan)

Uji F digunakan untuk mengetahui kelayakan model layak untuk mengestimasi pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen secara simultan. Hasil pengujian disajikan pada tabel 2 berikut ini :

Tabel 2. Uji Kelayakan Model (Uji F / ANOVA)

Model Sum of Squares Df Mean Square F Sig.

1

Regression 8.690 3 2.897 43.594 .000

b

Residual 6.313 95 .066

Total 15.003 98

a. Dependent Variable: Y = Kepercayaan konsumen

b. Predictors: (Constant), X3 = Interaksi layanan, X1 = Kegunaan, X2 = Kualitas informasi Sumber : Ouput IBM SPSS versi 20 (2015)

Berdasarkan tabel 1 diatas, diketahui nilai F hitung (sig.) pada tabel di atas nilainya 0,000 lebih kecil dari tingkat signifikansi 0,05 sehingga dapat disimpulkan bahwa model regresi linier berganda yang diestimasi layak digunakan untuk menjelaskan pengaruh dimensi kegunaan, kualitas informasi dan interaksi layanan terhadap kepercayaan konsumen. Kondisi ini menunjukkan bahwa peningkatan kualitas web yang terdiri dari kegunaan, kualitas informasi dan kualitas interaksi layanan dapat meningkatkan kepercayaan konsumen dalam memilih situs toko online.

Uji t (Uji Parsial)

Uji t bertujuan untuk apakah parameter yang diduga untuk mengestimasi model (persamaan) regresi linierberganda sudah merupakan parameter yang tepat atau belum. Hasil pengujian dapat dilihat dari tabel 3 berikut:

Tabel 3. Uji t (Uji Parsial)

Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients

t Sig.

B Std. Error Beta

1 (Constant) .720 .273 2.633 .010

X1 = Kegunaan .136 .094 .137 1.438 .154

X2 = Kualitas informasi .132 .083 .160 1.594 .114

X3 = Interaksi layanan .515 .100 .534 5.141 .000

Dependent Variable: Y = Kepercayaan konsumen Sumber : Ouput IBM SPSS versi 20 (2015)

Berdasarkan tabel 3 diatas dapat diketahui bahwa nilai t hitung variabel kegunaan sebesar 0,154 memiliki nilai signifikansi > 0,05 artinya kegunaan (usability) tidak berpengaruh secara signifikan terhadap kepercayaan konsumen dalam memilih situs toko online.

Menurut Kotler dan Keller (2012) kinerja suatu situs web ditentukan oleh aspek kegunaan yang berkaitan dengan kemudahan (pengoperasian, penggunaan serta kemudahan bernavigasi pada

ISBN : 978-602-74335-0-2 Page 22

web) dan daya tarik secara fisik (tampilan web yang menarik dan sesuai dengan jenis web serta mengandung kompetensi) dapat menarik konsumen dan mendorong kunjungan ulang. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun aspek kegunaan tidak mempengaruhi kepercayaan konsumen dalam memilih situs toko online, namun aspek kegunaan dalam situs toko online akan sangat membantu konsumen dalam tahap mencari, meneliti dan menilai produk yang sesuai dengan kebutuhan atau keinginannya sebelum memutuskan untuk membeli

Nilai t hitung variabel kualitas informasi sebesar 0,114 memiliki nilai signifikan > 0,05 artinya kualitas informasi (quality information) tidak berpengaruh secara signifikan terhadap kepercayaan konsumen dalam memilih situs toko online.

Berdasarkan kondisi tersebut, maka pengelola situs toko online perlu mengembangkan aspek kualitas informasi menjadi kenyamanan informasi (information convenience) dengan memperhatikan apakah situs web menyediakan informasi yang akurat, terpercaya, tepat waktu, relevan, mudah dipahami, sesuai dengan format dan kebutuhan sehingga mengalami kondisi kebingunan dalam proses mencari, menilai dan waktu yang diperlukan untuk membeli produk semakin singkat (Barnes dan Vidgen, 2000 ; F., Salehi et al, 2012).

Nilai t hitung variabel interaksi layanan memiliki nilai signifikansi sebesar 0,000 < 0,05 yang menunjukkan bahwa interaksi layanan (interactive service) berpengaruh secara signifikan terhadap kepercayaan konsumen dalam memilih situs toko online Kondisi ini menunjukkan, bahwa peningkatan interaksi layanan dapat meningkatkan kepercayaan konsumen dalam memilih situs toko online.

Kondisi ini menunjukkan bahwa interaksi layanan sebagai bagian dalam kualitas web di setiap situs toko online di Indonesia mampu dijadikan sebagai pemasaran interaktif yang memberikan peluang interaksi dan individualisasi jauh lebih besar antara pemasar dan konsumen (Kotler dan Keller, 2012). Interaksi layanan dalam bisnis ritel online mampu meningkatkan reputasi situs, keamanan dalam transaksi, keamanan kerahasiaan informasi pribadi, rasa personalisasi, adanya komunitas, komunikasi dengan perusahaan dan kesesuaian pesanan (Barnes dan Vidgen, 2000). Selain itu interaksi dan individulisasi (personalisasi) sebagai bagian dalam interaksi layanan dapat mendorong calon konsumen yang awalnya mencari informasi akhirnya melakukan pembelian, meningkatkan cross selling capability serta mampu membangun loyalitas pelanggan (Lou Ya, 2012) Koefisien Determinasi

Proporsi pengaruh variabel kegunaan, kualitas informasi dan interaksi layanan terhadap kepercayaan konsumen dapat dilihat dari nilai koefisien determinasi (Adjusted R-Square) seperti dalam tabel 4 berikut :

Tabel 4. Koefisien Determinasi

Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate Durbin-Watson

1 .761

a

.579 .566 .25778 1.743

a. Predictors: (Constant), X3 = Interaksi layanan, X1 = Kegunaan, X2 = Kualitas informasi b. Dependent Variable: Y = Kepercayaan konsumen

Sumber : Ouput IBM SPSS versi 20 (2015)

Berdasarkan tabel 4 diatas diketahui bahwa, nilai Adjusted R-square sebesar 0.566 menunjukkan bahwa proporsi pengaruh interaksi layanan, kegunaan dan kualitas informasi terhadap kepercayaan konsumen sebesar 56,6% sedangkan sisanya 43,4% dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak ada dalam model regresi.

ISBN : 978-602-74335-0-2 Page 23

5. SIMPULAN

1) Hasil penelitian menunjukkan bahwa interaksi layanan menjadi variabel yang dominan untuk meningkatkan kepercayaan konsumen, namun variabel lain seperti kegunaan dan kualitas informasi harus tetap diperhatikan. Aspek kegunaan dapat membantu konsumen dalam pengoperasian situs sehingga memudahkan dalam proses mencari, menilai dan memutuskan pembelian. Aspek kualitas informasi dapat mengurangi kekhawatiran konsumen dalam menentukan pilihan situs toko online.

2) Proses pemasaran dalam bisnis online terbentuk karena ada nilai yang unik pemasar dan konsumen dengan memperhatikan aspek komunikasi (kesesuaian dan ketersediaan informasi), dapat menjamin privasi serta keamanan data dan transaksi, memberikan layanan sesuai harapan dan menjaga komitmen dengan pelanggan seperti kesesuaian produk yang ditawarkan, jaminan pengiriman produk yang tepat waktu.

3) Penelitian mendatang diharapkan mampu melakukan penelitian lebih dalam mengenai hubungan antara webqual dengan tingkat kepercayaan konsumen dengan variabel lain yang tidak dijelaskan pada penelitian ini, misalnya aspek e promotion, quality assurance, keamanan transaksi, atau variabel lain yang berkaitan dengan online retailer relationship

6. REFERENSI

[1] Abrianto, A. (2012). Perilaku Konsumen Online : Membangun ’ Trust ’ Situs E Commerce Di Indonesia. Forum Ilmiah, 9(1), 18 – 23.

[2] Agustian, R., Sumarwan, U., Nurmalina, R., Manajemen, K., Pajajaran, J. R., & Barat, J.

(2015). The Effect Of Marketing Mix And Webqual On Site ’ S Credibility. Widyariset, 18(1), 49–58.

[3] Avinandan Mukherjee, Prithwiraj Nath, (2007),"Role of electronic trust in online retailing: A re-examination of the commitment-trust theory", European Journal of Marketing, Vol. 41 Iss: 9 pp. 1173 – 1202

[4] Barnes, S., & Vidgen, R. (2000). WebQual : An Exploration of Web-site Quality.

Communications, 1, 298–305.

[5] Durova, V. A., & Amin, N. (2009). Using Webqual 4.0 in the Evaluation of the Russian B2C Cosmetic Web Sites. Webist 2009: Proceedings of the Fifth International Conference on Web Information Systems and Technologies, 585–588.

[6] Gregg, D.G. & Walczak, S. (2010, March). The relationship between website quality, trust and price premiums at online auctions.Journal Electronic Commerce Research. 10(1), pp. 1- 25

[7] Hotlan Siagian1; Edwin Cahyono (2014), Analisis Website Quality, Trust Dan Loyalty Pelanggan Online Shop, Jurnal Manajemen Pemasaran, Vol. 8, No. 2, Oktober 2014 hal 55 – 61

[8] Kotler & Keller (2012), Marketing Management, 14th Global Edition, Pearson [9] Koller & Armstrong (2012), Principle of Marketing, 14th Global Edition, Pearson

[10] Li, F., & Li, Y. (2011).Procedia Engineering Usability evaluation of e-commerce on B2C websites in China. Procedia Engineering, 15, 5299–5304.

[11] Loiacono, E. T., Watson, R. T., & Goodhue, D. L. (2002). WebQual TM : A Measure of Web Site Quality. Marketing Theory and Applications, 13(3), 432–438.

[12] Mariam, F., & Song, J. (2009). Do web sites change customers ’ beliefs ? A study of prior – posterior beliefs in e-commerce. Information & Management, 46, 125–137.

[13] Metehan, T., & Author, C. (2011). The Effect Of Web Vendor Trust On Turkish Online.

Australian Journal of Business and Management Research, 1(6), 87–96.

ISBN : 978-602-74335-0-2 Page 24

[14] Pujastuti, E., & Winarno, W. W. (2014).Pengaruh E-Commerce Toko Online Fashion Terhadap Kepercayaan Konsumen. Citec Journal, 1(2), 5771.

[15] Rahimnia, F., & Hassanzadeh, J. F. (2013).The Impact of website content dimension and e trust on e marketing effectiveness. Information & Management, 1–19.

[16] Rosita, P. S., R., R. E., & Wijaya, A. B. M. (2014).Benchmarkng Website E Commerce Menggunakan Teknik Pengukuran Web Qual (Vol. 2014).

[17] Salehi, F., Abdollahbeigi, B., & Charmchian, A. (2012). The Impact of Website Information Convenience On E-commerce Success Of Companies. Procedia Social and Behavioral Science, 57, 381–387.

[18] Saraswati, P., & Baridwan, Z. (2011). Acceptance E-Commerce System : Effect Trust , Perceived Risk And Perceived Benefit.

[19] Tarigan, J. (2008). User Satisfaction Using Webqual Instrument : A Research on Stock Exchange of Thailand ( SET ). Jurnal Akutansi Dan Keuangan, 10, 34–47.

[20] Trisnawati, E., Suroso, A., & Kumorohadi, U. (2012).Analisis faktor-faktor kunci dari niat pembelian kembali secara online. Jurnal Bisnis Dan Ekonomi (JBE), 19(2), 126–141.

[21] Yoon, H. S., & Occe, L. G. (2015). Management Influencing factors of trust in consumer-to- consumer electronic commerce with gender and age. International Journal of Information Management, 35, 352–363.

[22] www.alexa.com website popularity rank, november 2015

[23] _________, (2013) Perkembangan E Commerce di Indonesia, Kemenkoinfo, Jakarta [24] _________, (2014), Global Survet E Commerce, Nielsen Indonesia

ISBN : 978-602-74335-0-2 Page 25

PENGARUH CORPORATE GOVERNANCE TERHADAP HUBUNGAN ANTARA PENGUNGKAPAN CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY DAN KINERJA

Desy Lesmana 1), Mutiara Maimunah 2), Delfi Panjaitan 3)

1,2,3

Fakultas Bisnis dan Akuntansi, Universitas Katolik Musi Charitas

1[email protected]

2[email protected]

3[email protected] Abstract

This study is aim to examine the effect of corporate social responsibility to the financial performance with good corporate governance as the moderator variable. The object of this study was all the manufacturing companies which are registered at Indonesian Stock Exchange in the period of 2010 until 2013. Purposive method was applied as well in this study. This hypotheses were : 1) managerial ownership is able tomoderate the link between corporate social responsibility and financial performance; 2) institutional ownership is able to moderate the link between corporate social responsibility and financial performance; 3) independent commissioner is able to moderate the link between corporate social responsibility and financial performance; and 4) auditing committee ia able to moderate the link between corporate social responsibility and financial performance. The hypotheses were tested by using multiple regression analysis from SPSS 16. The result showed that independent commissioner was the only mechanism which moderated the link between corporate social responsibility and financial performance. Meanwhile, another three mechanism (manely managerial ownership, institutional ownership and auditing committee) were not able to moderate the link between corporate social responsibility and financial performance.

Keywords : corporate social responsibility, good corporate governance, and financial performance.

1. PENDAHULUAN

Corporate Social Responsibility (CSR) telah menjadi topik yang sudah tidak asing lagi bagi perusahaan di Indonesia. CSR dapat didefinisikan sebagai tanggung jawab moral suatu perusahaan terhadap para stakeholder-nya, terutama komunitas atau masyarakat disekitar wilayah kerja dan pengoperasian perusahaan (Anaesthasia,2009). Sudah menjadi fakta bagaimana reaksi masyarakat sekitar muncul ke permukaan terhadap perusahaan yang dianggap tidak memperhatikan lingkungan sekitar. Kesadaran akan perlunya menjaga lingkungan diatur oleh Undang-Undang Perseroan Terbatas No.40 Pasal 74 tahun 2007, dimana perusahaan yang melakukan kegiatan usaha di bidang/berkaitan dengan sumber daya alam wajib melakukan tanggung jawab sosial dan lingkungan. Tidak semua pihak setuju dengan adanya peraturan baru ini, memperlihatkan bahwa komunitas bisnis Indonesia belum sepenuhnya yakin bahwa aktivitas CSR akan memberikan dampak positif bagi tujuan utama mereka.

Sumber dana CSR didapat dari penyisihan laba setelah pajak maksimal sebesar 2% atau sesuai dengan keputusan RUPS. Meskipun dana CSR didapat dari laba perusahaan, ternyata CSR tidak berakibat negatif pada profitabilitas perusahaan, bahkan aktifitas CSR yang dilakukan oleh perusahaan memiliki dampak produktif yang signifikan terhadap kinerja keuangan perusahaan (Dyah,2012). Hal ini terbukti dari banyaknya penelitian mengenai pengaruh tanggung jawab sosial perusahaan terhadap kinerja keuangan perusahaan dari waktu kewaktu yang semakin berkembang dan menunjukan hasil yang baik bagi perusahaan yang menjalankannya.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Muhammad (2007), Rettab et al. (2008), Vergalli et al. (2009), menemukan bahwa adanya hubungan yang signifikan antara CSR dengan kinerja keuangan perusahaan. Masih banyak penelitian lainnya seperti Martin (2011), Aditya (2012), dan lainnya yang berhasil membuktikan bahwa CSR berpengaruh positif terhadap kinerja keuangan, terutama yang diproksikan menggunakan ROA. Hal ini mengindikasikan bahwa perilaku etis

ISBN : 978-602-74335-0-2 Page 26

perusahaan berupa tanggung jawab sosial terhadap lingkungan sekitarnya memberikan dampak positif, yang dalam jangka panjang akan tercermin pada keuntungan perusahaan dan peningkatan kinerja keuangan (Lely dan Sylvia, 2008). Agar GCG berjalan dengan efektif, maka organ perusahaan yang terdiri dari Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS), dewan Komisaris, dan Direksi memegang peranan penting. Organ ini menjalankan tugas, fungsi dan tanggungjawab yang berbeda dan semata- mata tujuannya untuk kepentingan perusahaan (KNKG, 2006). Harapan dengan diterapkannya GCG maka kinerja perusahaan tersebut akan meningkat menjadi lebih baik.

Berdasarkan uraian latar belakang diatas maka permasalahan yang dirumuskan adalah apakah kepemilikan manajerial, kepemilikan institusional, komisaris independen dan komite audit mampu memoderasi hubungan antara Corporate Social Responsibility dengan kinerja keuangan. Manfaat dari penelitian ini adalah; pertama bagi perusahaan, dapat memberikan penjelasan kepada perusahaan mengenai pengaruh GCG terhadap hubungan Corporate Social Responsibility dan kinerja keuangan perusahaan sehingga perusahaan tidak ragu lagi dalam menerapkan GCG dan melaksanakan CSR;

kedua bagi regulator, dapat menginspirasi para regulator untuk membuat aturan yang lebih tegas mengenai tanggung jawab sosial perusahaan dan kepedulian perusahaan terhadap lingkungan; dan ketiga bagi akademisi, dapat menambah wawasan, pemahaman, referensi, dan bahkan sebagai bahan pertimbangan serta acuan yang beguna bagi penelitian selanjutnya.

2. KAJIAN LITERATUR DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS