• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN

74

beberapa pengusaha kerajinan di beberapa toko kerajinan di Sentra Industri Kerajinan Gerabah Kasongan. Sistem pembayaran dilakukan dengan cara pembayaran langsung begitu produk diserahkan. Hal ini cukup membantu meringankan perajin karena pembiayaan operasional yang harus terus dilakukan. Selain itu pemasaran langsung juga dilakukan dengan cara mitra memasarkan produk tersebut pada setiap hari Minggu pagi di kawasan sekitar Universitas Gadjah Mada, dimana setiap hari Minggu dari jam 06.00 kawasan tersebut ramai oleh masyarakat yang melakukan kegiatan olahraga pagi. Situasi keramaian tersebut banyak dimanfaatkan para pelaku usaha untuk menggelar dagangannya di seputar kawasan Bunderan dan sekitarnya. Barang yang diperdagangkan cukup beragam dari berbagai jenis makanan minuman, pakaian, tanaman hias, berbagai produk kerajinan dan sebagainya. Kedua mitra secara rutin juga turut memanfaatkan event tersebut. Meskipun usaha mitra ini telah berjalan cukup lama serta telah mampu memenuhi permintaan beberapa kota di luar pulau, tetapi selama ini kedua mitra tidak melakukan pencatatan keuangan secara tertib sesuai aturan keuangan yang berlaku.

MASALAH

(1) Aspek Produksi, yaitu: a. Pengembangan produk masih kurang; b. Proses pewarnaan bahan tidak optimal dan kurang memperhatikan keamanan kerja; c. Proses pengecatan bambu secara manual sehingga tidak efektif dan efisien.

(2) Aspaek Manajemen, yaitu: a. Mitra tidak memiliki ruang pajang yang memadai dengan lokasi yang strategis; b. Tidak dilakukan pencatatan laporan keuangan; c. Promosi masih terbatas; d. Mitra belum memiliki komputer sebagai prasarana administrasi dan teknologi informasi.

75

dengan menggunakan bahan pewarna kimia. Pewarnaan menggunakan bahan pewarna kimia ini dilakukan karena jika menggunakan bahan pewarna dari alam akan sangat banyak bahan pewarna yang dibutuhkan, sehingga menjadi tidak efisien mengingat mahalnya bahan pewarna dari alam.

Dengan mengikuti pelatihan ini, mitra mampu membuat kerajinan dari daun lontar beserta proses pewarnaannya (Gambar 3).

Gambar 3. Pelatihan Pengembangan Produk Gambar 4. Alat Perebusan/Pewarnaan

b. Penciptaan Alat Perebusan/ Pewarnaan. Alat perebus/pewarnaan yang selama ini digunakan, di samping bahannya kurang tebal, ukurannya juga relatif kecil, sehingga kurang menjamin keamanan dan kurang merata dalam pewarnaan. Sementara itu alat perebusan/pewarnaan yang telah diciptakan ini lebih menjamin keamanan dan pewarnaan yang lebih merata. Dengan menggunakan alat perebusan/pewarnaan ini, proses perebusan/pewarnaan akan lebih aman dan lebih merata karena diciptakan dengan bahan yang lebih tebal dan ukuran yang lebih besar. Selain itu alat perebusan/pewarnaan ini lebih awet/tahan lama karena terbuat dari plat besi yang lebih baik dan tebal. Dengan menggunakan alat ini, jumlah bahan (bambu) yang dapat direbus mengalami peningkatan sekitar 2 (dua) kali lipat, yaitu dari 400 batang/hari menjadi 800 batang/hari, bahkan dapat mencapai 1000 batang/hari, tergantung ukuran/diameter bambunya (Gambar 4).

c. Pengadaan Kompresor dan Bor Duduk untuk Efisiensi dan Efektifitas. Selama ini pengecatan bambu sebagai bahan utama kerajinan ini dilakukan secara manual. Proses tidak efektif dan terjadi pemborosan cat. Dengan pengadaan dan penggunaan kompresor, proses pengecatan bambu selain menjadi lebih cepat, juga menjadi lebih efektif dan efisien (tidak boros). Demikian juga dengan pengadaan bor duduk proses pelubangan bahan menjadi lebih cepat dan efektif. Dengan kedua alat ini jumlah bahan/bambu yang dapat dicat dan dilubangi mengalami peningkatan.

(2) Aspek Manajemen

a. Pengadaan Tempat untuk Ruang Pajang (showroom). Salah satu masalah penting bagi mitra adalah tidak memiliki ruang pajang untuk memasarkan produk kerajinan. Kedua mitra ini berlokasi cukup jauh dari jalan raya dengan bangunan rumah sebagai tempat usaha yang tidak terlalu luas.

Untuk itu telah diberikan subsidi kepada mitra untuk menyewa (pengadaan) tempat sebagai ruang pajang (showroom) di lokasi yang strategis untuk pemasaran yaitu di kawasan sentra industri gerabah Kasongan, di mana selama ini kedua mitra menjadi supplier tetap beberapa toko kerajinan di kawasan tersebut. Dengan adanya ruang pajang (showroom) ini, mitra dapat memajang produk kerajinannya di lokasi yang strategis sehingga lebih banyak konsumen yang datang untuk membeli (Gambar 5).

76

Gambar 5. Showroom Gambar 6. Pelatihan Pembuatan Laporan Keuangan

b. Pelatihan Pembuatan Laporan Keuangan. Meskipun usaha telah berlangsung lama tetapi kedua mitra tidak melakukan pencatatan keuangan. Untuk itu telah dilaksanakan pelatihan pembuatan laporan keuangan bagi mitra dan beberapa perajin lain di sekitar wilayah domisili mitra. Dengan adanya pelatihan ini mitra mampu membuat laporan keuangan yang nantinya dapat digunakan untuk mengakses ke perbankan dalam rangka pengajuan kredit (Gambar 6).

c. Pelatihan Pemasaran Produk Kerajinan. Meskipun usaha telah berlangsung lama tetapi kedua mitra masih mengalami kendala dalam memperluas pasar. Untuk itu telah dilaksanakan pelatihan tentang pemasaran produk kerajinan. Dengan adanya pelatihan pemasaran produk kerajinan, mitra telah memperoleh informasi yang memadai terkait kepentingan perluasan pasar, sehingga mitra dapat memperluas pasar produk kerajinannya.

d. Pembuatan Media Promosi berupa Blog, Brosur, Kartu Nama dan CD Catalog. Selama ini kedua mitra belum menggunakan teknik pemasaran modern baik melalui internet maupun media cetak yang lain. Pelanggan baru yang datang bisanya memperoleh informasi melalui pelanggan lain. Untuk itu telah dilakukan pembuatan media promosi berupa blog, brosur, kartu nama dan CD catalog. Dengan pembuatan blog maka diharapkan informasi tentang produk kerajinan dari mitra menjadi lebih tersebar luas, mengingat internet sudah menjadi kebutuhan bagi semua orang terlebih bagi pelaku bisnis. Dengan brosur, kartu nama dan CD catalog maka mitra akan sangat terbantu dalam menyebarkan informasi tentang produk kerajinan dari mitra terutama pada saat mengikuti pameran- pameran yang sering diadakan di Yogyakarta maupun kota-kota yang lain.

e. Pengadaan Komputer sebagai Prasarana Administrasi Keuangan dan Informasi (internet).

Ketiadaan komputer merupakan salah satu kendala bagi mitra untuk terciptanya administrasi keuangan dan akses terhadap informasi melalui internet yang baik. Untuk itu telah dilaksanakan pengadaan perangkat komputer bagi kedua mitra sebagai prasarana pokok dalam kegiatan bisnis agar proses administrasi keuangan dan akses informasi melalui internet untuk keperluan promosi dapat berjalan dengan baik.

KESIMPULAN DAN SARAN

(1) Program pengabdian yang berupa aspek produksi telah dilaksanakan yang terdiri atas pelatihan pengembangan produk kerajinan (dengan bahan daun lontar, disertai proses pewarnaannya), penciptaan alat perebusan/pewarnaan, serta pengadaan kompresor dan bor duduk. Dengan adanya program pengabdian yang berupa aspek produksi ini mitra memperoleh kemanfaatannya, yaitu adanya peningkatan produksi kerajinan.

77

(2) Program pengabdian yang berupa aspek manajemen dan pemasaran telah dilaksanakan yang terdiri atas pengadaan (sewa) tempat untuk ruang pajang (showroom), pelatihan pembuatan laporan keuangan, pelatihan pemasaran produk kerajinan, dan pembuatan blog, brosur, kartu nama dan CD catalog, serta pengadaan komputer sebagai prasarana perbaikan administrasi keuangan dan promosi (internet). Dengan adanya program pengabdian yang berupa aspek manajemen dan pemasaran ini mitra memperoleh kemanfaatannya, yaitu berupa fasilitas, prasarana, dan pengetahuan yang dapat memperluas pasar sehingga akan meningkatkan nilai penjualan.

(3) Untuk keberlanjutan dan pengembangan usaha mitra, perlu diberikan program pengabdian yang lain, baik berupa aspek produksi maupun aspek manajemen yang dapat menunjang mitra agar produknya lebih beragam dengan kualitas yang lebih baik dan dapat dipasarkan lebih luas lagi (pasar ekspor).

DAFTAR PUSTAKA

Kotler, Philip dan Gary Amstrong. (2008). Prinsip-prinsip Pemasaran, Jilid 1 dan 2, Edisi ke-12.

Jakarta: Penerbit Erlangga.

Rudenko, N. (1994). Mesin Pengangkat. Jakarta: Penerbit Erlangga.

Sularso, Kiyokatsu Suga. (1985). Dasar Perencanaan dan Pemilihan Elemen Mesin. Jakarta: PT Pradya Paramita.

Umar Sukrisno. (1945). Bagian-bagian Mesin dan Merencana, Jakarta.

Yulius, Hendri. (2012). 9 Langkah Praktis Membuat Pencatatan Akuntansi Keuangan Perusahaan Dagang. Jakarta: Elex Media.

SESI TANYA JAWAB

Nama Pemakalah

Nama Penanya

Asal

Institusi Isi Pertanyaan Jawaban

Henry Sarwono

Ambar Rukmini

Universitas Widya Mataram

Bagaimana bentuk hasil kerajinan daun lontar ?

Daun lontar dijadikan sebagai bunganya namun tidak hanya daun lontar saja biji- bijian dan kulit jagung juga digunakan sebagai bunga. Untuk batang digunakan bambu.

Bening P.S

UAJY Bahan baku alami sebagai pelengkap bambu akan meningkatkan harga jual sekaligus membuka lapangan pekerjaan baru. Misalnya dengan pemanfataan biji-bijian.

Selain memberi nilai tambah, pemanfaatan bahan alami juga ramah lingkungan (masukan) Aniek P. UKDW Apakah produk berbahan dasar

daun lontar ini dapat dijamin kontinuitasnya ? Apabila dikaitkan dengan

tersedianya tanaman lontar di jogja ?

Kelanjutannya berkendala karena ketersediaan daun lontar di jogja. Kalo ada kendala, nanti akan dikembangkan lagi dengan bahan lain untuk bunganya seperti biji-bijian. Selama ini digunakan kulit jagung dan gambas untuk

bunganya. Mitra harus punya alternatif lain jika daun lontar tidak dapat dijangkau.

78

STRATEGI PRODUK PROTHESE DAN ORTHESE MENUJU