• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penyuluhan dan pembuatan Biosand Water Filter (BSF)

Dalam dokumen PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT (SENDIMAS) 2016 (Halaman 177-184)

PELAKSANAAN COMMUNITY OUTREACH PROGRAM (COP) KE-20 DI DESA JABUNG, MOJOKERTO PADA TAHUN 2015

1. Penyuluhan dan pembuatan Biosand Water Filter (BSF)

Menanggapi permasalahan masyarakat desa Jabung, Mojokerto mengenai kurangnya pemahaman mengenai kebersihan khusunya penggunaan air bersih maka dilakukan pembuatan Biosand Water Filter (BSF) yang dikembangkan oleh Dr. David Manz di Universitas of Calgary pada tahun 1990 yang dinamakan the Biosand Water Filter (BSF). Alat ini didesain hingga level untuk keperluan rumah tangga, sehingga sudah cukup aman untuk dikonsumsi (ManzWaterInfo 2009). Selain itu beberapa factor lain seperti perawatan mudah dan biaya murah menjadi pendukung program ini dilakukan. Bersama dengan bapak Petrus dari yayasan pondok Kasih

160

dimana Biosand Water Filter (BSF) telah diimplementasikan pada 26 negara berkembang pada tahun 2004 dan 200,000 Biosand Water Filter (BSF) telah didistribusikan 4 tahun kemudian pada sekita 70 negara, alat ini dibuat. Pada hari Minggu 28 Juni 2015 beliau mengarahkan peserta program Community Outreach Program (COP) dari desa Jabung dan Lebak dan membagi 3 grup untuk menjalankan program ini, yaitu grup penyuluhan, pengerjaan dan instalasi, namun karena waktu program Community Outreach Program (COP) yang cukup singkat sehingga penyuluhan dibatalkan. Pembuatan dilakukan bagi penduduk yang mendaftar dan menyumbang 1 karung semen untuk pembuatan Biosand Water Filter (BSF). Pengerjaan dimulai pada hari Senin 29 Juni – Rabu 8 Juli 2015, namun karena adaanya masalah pada instalasi Biosand Water Filter (BSF) dan tambahan penduduk yang mau menggunakan Biosand Water Filter (BSF) sebanyak 5 buah maka pengerjaan selesai pada Jumat 10 Juli 2015. Biosand Water Filter (BSF) bisa mengubah air kotor menjadi air bersih dengan 3 lapisan filter yaitu : large gravel, small gravel, fine sand, concrete shell, dan ditutup dengan plastic tubing. Dengan menambahkan air kotor kedalam Biosand Water Filter(BSF) akan mengolah beberapa jenis bakteri untuk membantu membersihkan air kotor. Setelah pengerjaan selesai dan didistribusikan ke rumah penduduk.

2. Pengajaran kepada anak-anak mengenai pengetahuan dan kreativitas

Pengajaran dilakukan guna membantu menyelesaikan permasalah pendidikan anak-anak yang masih rendah. Kegiatan ini diadakan mulai hari Rabu 1 Juli 2015 pukul 09.00 WIB yang diadakan di balai desa.

Hari-1 : Pengajaran glider dan water rocket

Glider berupa pesawat yang dibawakan oleh peserta Korea. Setelah itu pukul 14.00 WIB pengajaran dilanjutkan dilapangan belakang balai desa yang dibawakan oleh peserta dari Korea mengenai young scientist berupa water rocket. Pertama, isi roket dengan 1/3 air dan letakkan di foot pump kemudian pompa hingga terdapat gelembung gas lalu tembakan water rocket ke langit menggunakan remot yang terhubung.

Kegiatan berikutnya pada hari Kamis 2 Juli- Sabtu 4 Juli 2015 pukul 08.00-11.00 WIB yang berupa pengajaran terhadap anak-anak di desa tersebut. Pengajaran dibagi kedalam 2 grup yaitu : grup A untuk anak usia 3-6 tahun dan grup B untuk anak usia 7-12 tahun dengan tujuan materi yang diajarkan bisa sesuai untuk masing-masing grup.

Hari-2: Belajar matematika

Hari kedua anak-anak diingatkan dan disegarkan lagi dengan pembelajaran disekolah yaitu perhitungan dasar matematika tambah, kurang, bagi, kali. Anak yang bisa menjawab tercepat akan diberikan hadiah berupa buku/pensil/penghapus.

161 Hari-3: Belajar bahasa Inggris

Diawal pembelajaran anak-anak diajarkan untuk memperkenalkan diri menggunakan bahasa Inggris, dengan terlebih dahulu dicontohkan oleh peserta program Community Outreach Program (COP). Kemudian anak-anak diajarkan membaca abjad A-Z dalam bahasa Inggris, belajar berbicara bahasa inggris secara baik dan benar menggunakan gambar binatang dan buah- buahan. Setelah itu belajar menyanyi menggunakan bahasa Inggris. Diakhir pembelajaran informal yang diberikan diadakan kuis untuk menjawab pertanyaan seputar nama hewan dan buah-buahan dalam bahasa Inggris yang telah diajarkan, dengan melafalkan nama-nama tersebut dalam bahasa Inggris secara baik dan benar. Anak yang bisa menjawab pertanyaan akan diberikan hadiah.

Hari-4: Membuat ketrampilan

Pada hari ketiga, anak-anak diajarkan membuat ketrampilan berupa keranjang dari bahan kertas.

Hari-5: Permainan matematika & mewarna

Permainan dibagi menjadi 2 grup yaitu grup A untuk anak taman kanak-kanak (TK)-kelas 1 sekolah dasar (SD), grup B untuk anak kelas 2 sekolah dasar (SD)-kelas 6 sekolah dasar (SD).

Grup B diberikan permainan seputar perhitungan dasar matematika (+,-,x,:) menggunakan

‘House Multiplication’ yang dibagi menjadi 5 kelompok berisikan 2 anggota per kelompoknya.

Kelompok yang bisa memenangkan permainan ‘House Multiplication’ akan diberikan hadiah.

Grup A diberikan permainan mewarnai dengan menggunakan buku yang dibagikan peserta program Community Outreach Program (COP) berisikan gambar yang telah siap untuk diwarnai, hasil mewarna terbaik akan diberikan hadiah. Pada hari berikutnya yaitu Senin 6 Juli- Selasa 7 Juli 2015 pukul 09.00 WIB kegiatan dilanjutkan.

Hari-6: Pengajaran Young Scientist

Disini anak-anak dibagi kedalam beberapa kelompok yang berisi 2 peserta program Community Outreach Program (COP) dan 5-6 orang anak-anak sehingga anak-anak bisa lebih mudah memahami dan bisa bertanya dengan mudah kepada para peserta program Community Outreach Program (COP). Ada 5 percobaan yang akan diajarkan pada anak-anak. Percobaan tersebut adalah gaya listrik berupa percobaan menggunakan gabus dan pemotong (cutter), kemudian mengenai benda-benda alam berupa fosil dinosaurus dan pemadam kebakaran, gerak benda dengan alat peraga balon mobil dan yang terakhir adalah mengenai biologi berupa kerja jantung menggunakan gelas aqua yang diisi dengan balon udara dan ditiup dengan sedotan. Anak-anak terlihat begitu antusias dan menikmati acara tersebut terutama untuk percobaan balon mobil bagi anak laki-laki karena mereka sangat suka bermain mobil-mobilan.

162

Mereka akhirnya bisa memahami dengan lebih baik mengenai teori-teori yang dipraktekan tersebut dengan adanya penjelasan yang ditambahkan kedalam praktek. Setelah semua percobaan para peserta program Community Outreach Program (COP) menganalisa bersama anak-anak dan menyimpulkan hasil pembelajaran serta memberikan hadiah kepada anak-anak yang mendapatkan penilaian baik dari para peserta program Community Outreach Program (COP).

3. Pembuatan tempat mandi,cuci, kakus (MCK)

Program ini terlaksana karena bapak kelapa desa meminta peserta Community Outreach Program (COP) membuat tempat mandi,cuci, kakus (MCK) dengan bantuan dana dari penduduk desa Jabung, Mojokerto berupa uang kas yang disimpan oleh desa. Pelaksanaan dilakukan pada hari Rabu 1 Juli 2015- Jumat 10 Juli 2015. Hal pertama yang dilakukan adalah menggali tanah sedalam 2 meter sebagai jalan lubang septic tank, menentukan lokasi bangunan mandi,cuci, kakus (MCK) didekat masjid desa sehingga mudah diakses oleh penduduk yang akan beribadah, memulai pencoran,menyusun batu bata,membuat jalur pemipaan, membuat bak mandi, melapisi dinding dengan semen, dan terakhir menutup dengan cat waterproof . Pembuatan dilakukan oleh 2 tukang setempat beserta penulis dan 2 orang peserta lainnya yaitu Jordan Leander dan Florencia Leonora yang berasal dari Indonesia.

4. Pengajaran menyanyi kepada anak-anak

Program ini diadakan pada hari Rabu 8 Juli- Kamis 9 Juli 2015 pukul 14.00. Tujuan pengajaran ini adalah mengasah bakat dan minat setiap anak-anak, selain itu mengajarkan mereka mengenai arti penting sebuah keluarga dengan lagu harta berharga (keluarga cemara) yang kemudian dirundingkan bersama anak-anak untuk dinyanyikan pada acara penutupan program Community Outreach Program (COP) pada hari Sabtu 11 Juli 2015 di balai desa yang ditujukan untuk orangtua mereka. Penulis beserta peserta lainnya juga mengajarkan lagu meraih mimpi (J-rocks), sehingga melalui lagu ini peserta mengajarkan mereka untuk percaya dan yakin akan mimipi-mimpi mereka akan terwujud jika dibarengi iman dan usaha yang kuat. Pada puncaknya ketika lagu harta berharga (keluarga cemara) dinyanyikan, terlihat muka bahagia dan terharu setiap orangtua, bahkan ada yang sampai menangis saat itu.

163 5. Penyuluhan masyarakat mengenai garbage bank

Menanggapi masalah pendidikan masyarakat pula, penyuluhan mengenai bank sampah ini guna memberikan pemahaman bahwa sampah rumah tangga pada nyatanya masih bisa diolah kembali. Penyuluhan ini dilakukan di balai desa pada hari kamis, 9 Juli 2015 pada pukul 08.30 WIB yang ditujukan untuk para ibu-ibu . Penyuluhan ini dibawakan oleh aktivis bank sampah yaitu ibu Kusniyati. Tujuan dari seminar ini adalah memberikan pemahaman dan pengetahuan mengenai manfaat dan keuntungan dari melakukan pemilahan dan kreatifitas berdaya guna yang bisa dilakukan dengan sampah yang disambut dengan terbuka oleh masyarakat.

6. Renovasi taman kanak-kanak (TK)

Menanggapi masalah fasilitas umum berupa gedung sekolah taman kanak-kanak (TK) yang rusak maka dilakukan perbaikan sekolah dengan memberikan mural ‘minions’ dengan warna dasar dinding kuning muda dan gambar ‘minions’ kuning dengan tujuan menarik minat anak-anak untuk masuk sekolah, hal ini sesuai studi literatur yang mengungkapkan warna terang pada bagian depan sebuah sekolah akan menarik minat anak-anak. Selain itu warna list pintu dan jendela diberikan warna kontras sehingga tercipta keseimbangan. Program ini awalnya dilaksanakan pada minggu pertama yaitu pada hari Selasa 30 Juni 2015 namun karena cat tembok dari Nippon paint yang terlambat sampai maka program dilaksanakan pada hari Kamis 9 Juli- Sabtu 11 Juli 2015. Selama proses menunggu cat datang, penulis beserta peserta lainnya membersihkan dinding gedung taman kanak-kanak (TK) dengan amplas, membuat sketsa gambar ‘minions’ di dinding dengan tujuan memberikan semangat kepada anak-anak sesuai studi literatur psikologi anak yang menyukai gambar warna-warni dengan warna terang selain itu mural pada dinding sebelumnya sudah banyak mengelupas dan catnya luntur. Selain itu melakukan perbaikan terhadap plafon yang rusak di dalam area kelas karena pada saat hujan mengalami kebocoran, dan pegangan pintu. Setelah cat tembok datang maka penulis beserta peserta lainnya mulai mewarnai dinding.

Namun pada tengah kegiatan itu berjalan anak-anak tertarik dengan apa yang dilakukan peserta terhadap sekolah mereka dan ikut untuk membantu mewarnai gedung taman kanak-kanak (TK). Hal terakhir yang dilakukan disini adalah styling terhadap sekolah tersebut.

164

KESIMPULAN DAN SARAN

1. Kesimpulan

Peserta Community Outreach Program (COP) melakukan berbagai macam kegiatan yang membantu menyelesaikan masalah dan edukasi dalam pencapaian untuk desa Jabung, Mojokerto.

Macam-macam kegiatan yang dilakukan di desa Jabung, Mojokerto meliputi penyuluhan dan pembuatan Biosand Water Filter (BSF) yang berguna meningkatkan kesehatan penduduk, pengajaran pengetahuan dan kreativitas untuk anak-anak dengan memberikan semangat belajar, pembangunan tempat mandi, cuci, kakus (MCK) umum sehingga warga memiliki fasilitas umum yang layak, pengajaran menyanyi yang memiliki tujuan tersirat mengenai arti keluarga dan pentingnya memiliki cita-cita, penyuluhan masyarakat mengenai garbage bank untuk mengetahui kegunaan sampah yang dapat di daur ulang maupun yang tidak dan yang terakhir renovasi sekolah taman kanak-kanak (TK) untuk memberikan fasilitas yang lebih baik sehingga anak-anak lebih semangat dalam belajar.

2. Saran

Untuk pengembangan kedepan yang lebih lanjut, maka penulis memberikan saran yang bermanfaat agar dapat membantu pengembangan program Community Outreach Program (COP) pada masa yang akan datang, yaitu:

1) Pada waktu berikutnya antar peserta dan kepala desa sebaiknya memiliki perjanjian tertulis mengenai proyek yang akan dijalankan, serta jika akan ada bantuan warga setempat agar tidak ada perubahan yang mendadak ataupun biaya pembangunan yang membengkak.

2) Sebaiknya juga peserta lebih berkomunikasi lebih lagi dengan kepala desa agar tidak terjadi permasalahan yang timbul dalam proyek ataupun kesalahan pemilihan tukang dalam membantu pembangunan proyek yang sudah di rencanakan.

3) Dalam pembelajaran anak-anak tentang pengetahuan dan kreativitas sebaiknya lebih mempersiapkan alat dan bahan untuk pengajaran. Kemudian juga lebih menjelaskan kepada anak-anak agar dapat lebih disiplin lagi dan tidak ada yang dapat mencontek atau berbuat curang saat kuis.

DAFTAR PUSTAKA

Jonathan Sarwono. (2006). Metode Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif. Yogyakarta: Penerbit Graha ilmu.

Ian maycumber. (2009). Strategies for Implementing Biosand Water Filter Projects : case studies from the Philippines. Colorado: Colorado State University.

John F. Pile. (1997). Color in Interior Design. Amerika: McGraw-Hill.

Augustinus,Sally. (2009). Place Advantage. Amerika : Wiley.

SESI TANYA JAWAB

Nama Pemakalah

Nama Penanya

Asal

Institusi Isi Pertanyaan Jawaban Mellisa,

Vebbe, Terrius Purnomo

Kristanto Agung N

Universit as Atma Jaya Yogyaka

rta

Partisipasi masyarakat dalam bentuk apa?

Pada proyek Biosand Water Filter, renovasi TK dibantu oleh warga sekitar sehingga bukan hanya tim COP saja.

Pada BSF, warga berpartisipasi dalam menyumbangkan 1 sak semen bagi tiap kepala keluarga yang ingin dibuatkan BSF.

165 Anugrah

K.P

Universit as Atma Jaya Yogyaka

rta

Apakah sudah ada pemikiran untuk

maintenance hasil Anda?

Misalnya dengan bekerjasama dengan pemuda setempat/kerjasa ma dengan instansi lain?

Supaya di tahun- tahun ke depan tidak "mangkrak"

COP adalah program tahunan yg sudah ada sejak 1996. Tidak hanya program selama 1 tahun saja, tapi COP juga melihat proses ke depannya, apakah di tahun selanjutnya masih ada program yang bisa dibantu, apakah potensinya sudah bisa berkembang sendiri atau belum. Buktinya di magetan sudah bekerja selama 8 tahun. Jadi hal tersebut sudah membuktikan bahwa COP tidak akan memangkrakkan program di daerah tertentu sebelum dirasa potensi di daerah tersebut sudah dapat berkembang sendiri.

Bambang Siswanto

Univers itas Kristen

Krida Wacana

Apa yang

memotivasi/meny ebabkan

mahasiswa berpartisipasi dalam COP?

Yang mnyebabkan mahasiswa bermotivasi sebenarnya adalah pengalaman untuk terjun langsung ke dalam masyarakat. Dengan terjun langsung ke masyarakat, mahasiswa dapat mengenal lebih dekat masyarakat, dsb. Selain itu, mahasiswa juga dapat melakukan praktik pembuatan MCK, renovasi TK, dll sesuai dengan bidang ilmunya, seperti saya yang juga dapat melakukan praktik interior desain sesuai dengan jurusan yang saya ambil.

Bagaimana pembiayaan COP, ditanggung peserta atau universitas?

Pembiayaan COP juga ditanggungkan kepada peserta, mulai dari transportasi, makan, dll. Tapi ada subsidi silang untuk mahasiswa internasional sehingga untuk mahasiswa internasional biaya yang ditanggungkan lebih mahal. Selain itu, juga ada sponsor dari beberapa pihak.

166

PENERAPAN PROBLEM BASED LEARNING DALAM PEMBELAJARAN

Dalam dokumen PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT (SENDIMAS) 2016 (Halaman 177-184)