KULON PROGO, DIY
1.1. Kondisi Existing Wilayah Desa Sidoharjo Kecamatan Samigaluh
Wilayah Sidoharjo diproyeksikan sebagai kawasan terpadu untuk pengembangan Agro dan Wisata. Sudah barang tentu, itu semua memerlukan ide-ide cemerlang, khususnya dari masyarakat kampus untuk turut membantu pembenahan infrastruktur yang diperlukan. Peluang ini terbuka pula untuk para dosen melaksanakan program penelitian dan pengabdian masyarakat dari berbagai disiplin ilmu. Desa Sidoharjo ini mempunyai panorama alam yang menakjubkan, dan sebenarnya merupakan daerah perkebunan kopi tua (sejak era kolonial Belanda), selain itu juga untuk kakao, cengkeh, teh dan kelapa. Bukan hanya itu, ternyata desa ini juga menyimpan beragam potensi wisata yang cukup kaya.
Selain wisata agro (kopi dan kakao khususnya) yang dikelola oleh rakyat, terdapat wisata alam yang cukup atraktif yakni: Air Terjun di dusun Cemani, Sunrise di puncak dusun Madigondo, Sunset di puncak Pungangan, Puncak Kendil dimana para pengunjung juga bisa melihat Yogyakarta atau Magelang malam hari yang begitu indah dan masih banyak lagi lainnya yang masih tersembunyi.
1. Sejarah Perkebunan Kopi dan Kakao
Kopi Moka organik yang merupakan kontaminasi media (tanah) antara kopi dan kakao, mempunyai sejarah panjang. Pada tahun 1825-1830 di Perbukitan Menoreh, Belanda melakukan penanaman Kopi dan Kakao secara paksa di beberapa daerah seperti: Pedukuhan Kampong, Pedukuhan Tanjung, Pedukuhan Promasan, Kopen, Pedukuhan Kajoran, Samigaluh, dan lain-lain. Kopi Moka artinya sama dengan Kopi Java dan hanya ada di bukit
48
Menoreh. Kopi moka ditanam dengan susunan 2 baris tanaman kopi sejajar, kemudian diselingi 1 baris tanaman kakao sejajar, dan begitu seterusnya. Pada era Presiden Soekarno, sekitar tahun 1950an, pakar dari Belanda datang untuk memastikan keberadaan Kopi Moka di bukit Menoreh Indonesia. Pada tahun 1983 pakar dari Belanda (Prof.
Vanden Ler, Prof. Ketty, dan Prof. Mei) ditemani Muchtar Hadikusuma datang ke perbukitan Menoreh. Mereka transit di Sendangsono, kemudian menyusuri daerah di Kecamatan Kalibawang dan Samigaluh hingga ke Suroloyo.Setelah Indonesia mengalami swasembada pangan pada era Presiden Soeharto keberadaan Kopi Moka terlantarkan. Baru 7 tahun terakhir ini sejak tahun 2008 keberadaan Kopi Moka mulai tertelusuri kembali dan dengan berbagai usaha untuk mengembalikan kesuksesan legendaris Kopi Moka yang ada di perbukitan Menoreh Indonesia.
2. Kelompok Tani Ngudi Mulyo
Para petani kopi moka organik di Dusun Madigondo, Sidoharjo, Samigaluh tergabung dalam Kelompok Tani Ngudi Mulyo. Kelompok Tani Ngudi Mulyo ini beranggotakan 88 petani kopi moka organik, dengan jumlah pohon kopi 29.346 batang.
3. Klinik Konsultasi Pertanian (KKP)
Semua petani kopi moka organik yang tergabung dalam Kelompok Tani Ngudi Mulyo menjadi anggota Klinik Konsultasi Pertanian (KKP). Tetapi tidak semua pengurus KKP Dusun Madigondo adalah petani kopi moka organik. KKP ini lebih banyak berperan pada tanggung jawab teknik produksi dan pengadaan Saprotan (sarana produksi pertanian). Ada 12 orang tenaga kerja produksi, yang terdiri dari tenaga kerja tetap 4 orang dan tenaga kerja tidak tetap 8 orang yang merupakan warga sekitar. Mereka mempunyai waktu kerja 7 jam per hari. Upah mereka berdasarkan Hari Orang Kerja, yaitu sebesar Rp. 35.000,- per hari dan Rp. 20.000,- apabila hanya bekerja setengah hari. Kantor KKP masih menempati rumah salah seorang penduduk yang kebetulan juga menjadi pengurus.
Kepengurusan KKP ini berasal dari 4 Kecamatan yaitu:
Samigaluh, Sentolo, Kalibawang, dan Wates.
Kepengurusan ini terdiri dari: Ketua I, Ketua II, Sekretaris I, Sekretaris II, Bendahara I, Bendahara II, Advokasi & Pemberdayaan Masyarakat, Seksi Humas, dan Koordinator Wilayah.
4. Air Terjun Sidoharjo
Air Terjun ini berada di Pedukuhan Gonolangu, Desa Sidoharjo, Kecamatan Samigaluh.
Air terjun ini memiliki ketinggian sekitar 75 meter, dan belum banyak dikenal sehingga masih
49
sangat alami. Air terjun mengalir sangat indah saat musim hujan. Saat musim kemarau aliran air terjun ini ditutup oleh penduduk setempat karena digunakan untuk irigasi pertanian di atas bukit.
Tetapi aliran air terjun ini akan dibuka kembali apabila ada wisatawan yang berkunjung sehingga mereka tetap bisa menikmati indahnya Air Terjun Sidoharjo ini.
5. Puncak Kendil
Puncak Kendil merupakan bagian dari Pegunungan Menoreh yang menjadi tempat terbaik untuk menikmati indahnya panorama alam berupa perkebunan rakyat dan wilayah sekitar Magelang. Puncak Kendil juga menyuguhkan indahnya Candi Borobudur yang tampak berdiri menjulang diantara titik-titik hijau pepohonan.
Para pengunjung juga bisa melihat indahnya Kota Yogyakarta atau Magelang pada malam hari. Selain itu di tempat ini kita bisa melihat Sunset.
6. Puncak Suroloyo
Puncak Suroloyo atau Gunung Suroloyo juga merupakan tempat wisata terkenal di Kulon Progo yang letaknya di daerah Pegunungan Menoreh Kecamatan Samigaluh. Banyak pecinta wisata pegunungan berkunjung ke tempat ini untuk mendaki gunung. Pada tanggal 1 Suro tempat ini selalu dijadikan tempat ritual oleh penduduk setempat atau penduduk Yogyakarta yang ingin mencapai suatu hajat tertentu, tentu bagi yang mempercayainya. Dari Puncak Suroloyo dapat dilihat Candi Borobudur Magelang dengan pemandangannya yang indah.
Sunrise di Puncak Suroloyo Sunset di Puncak Suroloyo 7. Kondisi Air Bersih
Pedukuhan Madigondo, Desa Sidoharjo, Kecamatan Samigaluh yang akan dijadikan Pengembangan Sentra Usaha ini, seluruh warganya bermukim di daerah yang sulit air, terutama air bersih baik di musim penghujan dan terlebih di musim kemarau. Hal ini terjadi karena di Pedukuhan Madigondo tidak ada sumber mata air. Sebagian warga sejak tahun 1986 sampai saat ini sudah membuat Penampung Air Hujan (PAH) di 5 titik, 3 PAH masih berfungsi namun tidak mencukupi kebutuhan sehari-hari, terutama di musim kemarau. Ada 3 kepala keluarga yang
50
berusaha membuat sumur gali sampai dengan kedalaman 23 m, hanya 1 sumur yang dapat menghasilkan air. Ada sebuah mata air Nglerak Pringkudo di Pedukuhan Nglambur yang bisa dimanfaatkan, namun jarak dari Pedukuhan Madigondo sekitar 8 km sehingga membutuhkan pipa yang sangat panjang untuk bisa mengalirkan airnya.
8. Bekas Kantor UPP Kopi Madigondo
Di Pedukuhan Madigondo ada lahan seluas 5.000 m2 milik Dirjen Perkebunan Kementerian Pertanian Republik Indonesia. Di atasnya berdiri 3 bangunan yang sudah dalam kondisi rusak. Oleh Dinas Pertanian dan Kelautan Kulon Progo sudah diserahkan secara lisan kepada Kelompok Tani Ngudi Mulyo yang dipimpin bapak Dukuh Suradi. Saat ini bangunan tersebut dalam keadaan kosong tidak ditempati. Sayang sekali kalau bangunan tersebut tidak dimanfaatkan.
MASALAH
Dua aspek kewilayahan yang menjadi sumber persoalan prioritas untuk ditangani, yaitu aspek Pertanian dan aspek Wisata. Dua aspek inilah yang diusulkan untuk dikelola secara maksimal sehingga bisa mewujudkan kemandirian ekonomi Desa Sidoharjo yang berbasis pada pertanian dan pariwisata (agro wisata) unggulan yang berdaya saing dan berkelanjutan bertumpu pada pemberdayaan masyarakat sesuai dengan Visi dan Misi pembangunan daerah Kulon Progo butir 3 serta sesuai dengan Program Prioritas Bupati Tahun 2015 dan 2016.
Permasalahan-permasalahan prioritas telah disepakati bersama antara Pemerintah Kabupaten Kulon Progo dengan Universitas Janabadra Yogyakarta dan STTL ”YLH”
Yogyakarta untuk ditangani melalui program selama tiga tahun. Berdasarkan rapat antara Pemerintah Daerah Kulon Progo yang dalam hal ini diwakili oleh Pengurus Kelompok Tani Ngudi Mulyo; Pengurus Klinik Konsultasi Pertanian (KKP);
Petugas Penyuluh Lapangan (PPL); Dukuh Madigondo; dan sebagian warga bersama tim dari Universitas Janabadra yang diwakili oleh Sardi, S.T., M.T. selaku Ketua LP3M dan 3 orang dosen yaitu Dr. Ir. Edy Sriyono, M.T., Drs. Harimurti Prawirohardjo, M.M. dan Ir. Tresno Sumbodo, M.Si. dan STTL ”YLH” Yogyakarta yang diwakili oleh Ir. Sri Yuniyarti, M.Par. pada hari Kamis tanggal 2 April 2015, telah disepakati prioritas masalah yang akan diprogramkan selama 3 tahun.
METODE PELAKSANAAN
Strategi pendekatan yang digunakan untuk menyelesaikan permasalahan prioritas adalah dengan metode kombinasi bottom-up dan top down. Pendekatan bottom-up dilakukan dengan metode survey oleh Tim ke lapangan dan berkomunikasi langsung dengan masyarakat. Dari hasil survey diperoleh informasi penting mengenai “apa yang dibutuhkan oleh masyarakat di wilayah
51
tersebut” sehingga program/kegiatan yang akan dilakukan sesuai dengan kebutuhan dan permintaan masyarakat.
Sedangkan pendekatan top down adalah mensinergikan program yang sudah dicanangkan oleh pemerintah daerah yang terangkum dalam RPJMD 2011-2016 dan bekerjasama dengan masing-masing Satuan Kerja Pemerintah Daerah (SKPD) terutama dengan Dinas Pertanian dan Kelautan serta Dinas Pariwisata Kulon Progo yang nantinya akan mengawal kegiatan di lapangan agar terjadi sinkronisasi dan tidak tumpang tindih (overlap). Hasil dari kedua pendekatan tersebut akan digunakan untuk memecahkan Dua aspek kewilayahan yang menjadi sumber persoalan prioritas untuk ditangani, yaitu aspek Pertanian dan aspek Wisata di Kecamatan Samigaluh tersebut agar sesuai dengan Visi dan Misi pembangunan daerah Kulon Progo butir 3 serta sesuai dengan Program Prioritas Bupati Tahun 2015 dan 2016.
Berdasarkan analisis situasi sebagaimana telah dijelaskan pada Bab 1 dan rapat bersama antara Pemerintah Daerah Kulon Progo bersama Universitas Janabadra dan Akademi Pariwisata Indraphrasta pada hari Kamis tanggal 2 April 2015, maka sesuai dengan Permasalahan Prioritas Yang Disepakati, berikut ini adalah solusi yang ditawarkan untuk menyelesaikan permasalahan prioritas selama 3 tahun tersebut.
Tabel 1.1. Program Yang Disepakati Untuk Menyelesaikan Permasalahan Prioritas
No Program Kegiatan
1. Peningkatan Infrastruktur Wilayah
a. Pembangunan Penampung Air Hujan (PAH)
b. Pembangunan Kaptering (Bangunan Penangkap Mata Air) c. Pembangunan Pipa Air Bersih dari mata air Nglerak Pringkudo
d. Renovasi Bekas Kantor UPP Kopi Madigondo sebagai Pusat Informasi Agro Wisata
2. Peningkatan Ipteks bagi masyarakat
1. Pembuatan Web Pusat Informasi Agro Wisata 2. Sertifikasi Organik terhadap Produk Kopi Moka 3. Pemanfaatan
Potensi SDM dan SDA
a. Pelatihan Sistem Pertanian Organik
b. Pelatihan Penatakelolaan Obyek Wisata dan Homestay c. Pelatihan Pemandu Wisata dan MC Bahasa Jawa 4. Penatakelolaan
Wilayah Agro Wisata
a. Pengembangan Pesona Budaya dan Kesenian
Pelatihan Mocopat
Pengadaan Gamelan (Gender, Slentem, Siter, Suling dan Gambang) b. Pengembangan Pesona Alam dan Lingkungan
Pembuatan Papan Penunjuk Arah Menuju Obyek Wisata
Penyediaan Tempat Sampah
Pembangunan Sanitasi
Pembuatan Poster Peduli Lingkungan c. Pengembangan Pesona Kuliner
Pengadaan Mesin Packaging Kopi Moka
Pelatihan Pemasaran Makanan Tradisional dan Produk Souvenir d. Pengembangan Pesona Sejarah Diponegoro
Pembuatan Papan Penunjuk Arah Menuju Masjid Suroloyo
Pembuatan Papan Penunjuk Arah Menuju Sendangsono
52