BAB II PAPARAN DATA DAN TEMUAN
A. Hasil Identifikasi Makrozoobentos di Sungai Ancar
38
39
yaitu Dugesia subtentaculate dengan jumlah 14 spesies.
Spesies kedua yaitu Carbicula javanica dengan jumlah 12 spesies dan spesies paling rendah yaitu Tarebia granifera dengan jumlah 1 spesies.
Hasil perhitung indeks keanekaragaman, indeks kekayaan, indeks kemerataan dan dominansi makrozoobentos yang ditemukan di Sungai Ancar dapat dilihat pada Tabel 2.2 sebagai berikut :
Tabel 2.2
Indeks Keanekaragaman, Indeks Kekayaan, Indeks Kemerataan dan Dominansi.
Indeks Stasiun I
Keanekaragaman (H’) 0.821
Kekayaan (R) 0.600
Kemerataan (E) 0.748
Dominansi (C) 0.215
Dari hasil data yang diperoleh indeks keanekaragaman (H’) sebanyak 0.821 dengan kriteria keanekaragaman rendah, kondisi ini mengambarkan bahwa jumlah spesies rendah dan penyebaran spesies tergolong sedikit, indeks kekayaan (R) sebanyak 0.600 dengan kriteria rendah, menggambarkan kondisi kekayaan spesies
40
makrozoobentos rendah, indeks kemerataan (E) sebanyak 0.748 dengan kriteria tinggi, menggambarkan kondisi kemerataan spesies makrozoobentos yang tinggi dengan komunitas stabil, dan indeks dominansi (C) sebanyak 0.215 dengan kriteria rendah, menggambarkan kondisi dominansi spesies makrozoobentos rendah.
Pengukuran faktor abiotik seperti suhu dan pH sangat penting dilakukan sebelum pengambilan sampel karena suhu dan pH merupakan salah satu faktor yang dapat menentukan kondisi air sungai. Hasil pengukuran suhu dan pH pada stasiun I dapat dilihat pada Tabel 2.3
Tabel 2.3
Parameter Kualitas Air Stasiun I
No Parameter Stasiun I
1. pH air 7,7
Suhu (0C) 27
Sebelum pengambilan sampel makrozoobentos dilakukan pengukuran faktor abiotik yang meliputi pH dan suhu air. Nilai pH pada stasiun I yaitu 7,7 dan suhu air pada stasiun I yaitu 270C.
41
a) Deskripsi Makrozoobentos yang Ditemukan di Stasiun I
1) Dugesia subtentaculate
Dugesia subtentaculate mempunyai tubuh pipih, lonjong dan lunak dengan panjang tubuh sekitar 5- 25 mm. Bagian kepala berbentuk segitiga tumpul, mempunyai 2 titik mata di mid dorsal37. Dugesia subtentaculat merupakan kelompok makrozoobentos intoleran karena memiliki kemampuan hidup pada air yang belum tercemar ataupun tercemar ringan, oleh karena itu Dugesia subtentaculate sering digunakan sebagai bioindikator air bersih38.
37 Hertien Koosbandiah Surtikanti, “Pemeliharaan sPlanaria Dalam Perkembangbiakan Secara Vegetatif Pendahuluan Metode Penelitian Hasil dan Pembahasan,” Biota 15, no. 1 (2010): 80– 84.
38 Edi Junaedi Lisdari Hotifah, Zaenal Abidin, “Trent Biotic Index (Tbi) Makrozoobentos Pada Perairan Lotik Di Sekitar Talaga Remis Kabupaten Kuningan,” Quangga 8, no. 1 (2016): 18–23.
42
Gambar 2.1 Dugesia subtentaculate lensa okuler (eyepiece) 10 x ocular.
(Dokumentasi Pribadi, 2022)
2) Corbicula javanica
Corbicula javanica mempunyai cangkang yang kuat dan simetris, bentuk cangkang agak bundar.
Cangkang luar bewarna kuning kecokelatan. Lebar cangkang dapat mencapai 3-4 cm39. Corbicula javanica hidup pada aliran sungai yang bersih sehingga sering digunakan sebagai bioindikator air bersih. Selain itu, Corbicula javanica juga merupakan kelompok makrozoobentos intoleran
39 Efraim Samson dan Daniati Kasale, “Keanekaragaman Dan Kelimpahan Bivalvia Di Perairan Pantai Waemulang Kabupaten Buru Selatan,” Jurnal Biologi Tropis 20, no. 1 (2020): 78.
43
karena memiliki kemampuan hidup pada air yang belum tercemar ataupun tercemar ringan40.
Gambar 2.2 Corbicula javanica
lensa okuler (eyepiece) 10 x ocular.
(Dokumentasi Pribadi, 2022)
3) Tarebia granifera
Tarebia granifera mempunyai panjang yang berkisar antara 1-4 cm, mempunyai bentuk cangkang memanjang dengan bagian ulir utama membesar, permukaan cangkang bergelombang membentuk garis-garis horizontal yang terputus- putus, mempunyai apeks runcing dengan lekuk sifon
40 Endri Junaidi, Effendi P Sagala, dan Joko, “Kelimpahan Populasi dan Pola Distribusi Remis (Corbicula sp.) di Sungai Borang Kabupaten Banyuasin,”
Jurnal Penelitian Sains 13, no. 3 (2009): 50–54.
44
sempit dan runcing41. Tarebia granifera hidup pada perairan tercemar sedang maupun berat sekalipun karena memiliki kemampuan yang tinggi untuk mengakumulasi bahan-bahan pencemar tanpa mati terbunuh karena dapat menyembunyikan diri di dalam cangkangnya. Oleh karena itu, Tarebia granifera digolongkan ke dalam kelompok makrozoobentos toleran karena memiliki kemampuan hidup pada perairan yang tercemar berat karena mempunyai energi toleran yang besar terhadap bahan-bahan yang sudah tercemar 42.
41 A. Annawaty Rizki Ramadhana Takdim, “Keanekaragaman Dan Kelimpahan Keong Air Tawar (Mollusca: Gastropoda) Di Sungai Pomua Palandu Dan Sungai Toinasa, Poso, Sulawesi, Indonesia: Diversity And Abundance Of Fresh Water Snail (Mollusca: Gastropoda) In Pomua Palandu Stream And Toinasa Stream, Pos,” Natural Science: Journal of Science and Technology 8, no. 2 (2019): 144–52.
42 Endang Rustiasih, I Wayan Arthana, dan Alfi Hermawati Waskita Sari,
“Keanekaragaman dan Kelimpahan Makroinvertebrata Sebagai Biomonitoring Kualitas Perairan Tukad Badung, Bali,” Current Trends in Aquatic Science 1, no. 1 (2018): 16.
45
Gambar 2.3 Tarebia granifera lensa okuler (eyepiece) 10 x ocular.
(Dokumentasi Pribadi, 2022)
2. Stasiun II
Berdasarkan hasil penelitian struktur komunitas makrozoobentos pada substrat dan limbah yang berbeda di Sungai Ancar pada stasiun II yang berlokasi di Desa Karang Bedil dengan substrat berupa bebatuan dan limbah pencemar berupa limbah rumah tangga, ditemukan spesies makrozoobentos yang berbeda-beda. Makrozoobentos yang ditemukan dikelompokkan berdasarkan Kelas, Famili dan Spesies yang dapat dilihat pada Tabel 2.4.
46
Tabel 2.4
Kelas, Famili dan Spesies Makrozoobentos pada Stasiun II
No Kelas Famili Spesies Jumlah
1. Clitellata Haemadipsidae Haemadipsa sylvestris 5
2. Insecta Hydropsychidae Smicridea sp 24
3. Gastropoda Buccinidae Anentome helena 2
4. Gastropoda Thiaridae Tarebia granifera 15
5. Polychaeta Nereididae Alitta virens 1
Struktur komunitas makrozoobentos pada substrat dan limbah yang berbeda di Sungai Ancar ditemukan sebanyak 5 spesies. Adapun spesies yang paling tinggi yaitu Smicridea sp dengan jumlah 24 spesies, spesies kedua yaitu Tarebia granifera dengan jumlah 15 spesies, spesies ketiga yaitu Haemadipsa sylvestris dengan jumlah 5 spesies, spesies keempat yaitu Anentome helena dengan jumlah 2 spesies, dan spesies kelima merupakan spesies paling rendah yaitu Alitta virens dengan jumlah 1 spesies.
Hasil perhitung indeks keanekaragaman, indeks kekayaan, indeks kemerataan dan dominansi makrozoobentos yang ditemukan di Sungai Ancar dapat dilihat pada Tabel 2.5 sebagai berikut :
47
Tabel 2.5
Indeks Keanekaragaman, Indeks Kekayaan, Indeks Kemerataan dan Dominansi.
Indeks Stasiun II
Keanekaragaman (H’) 1.162
Kekayaan (R) 1.038
Kemerataan (E) 0.722
Dominansi (C) 0.376
Dari hasil perhitungan data diperoleh indeks keanekaragaman (H’) sebanyak 1.162 dengan kriteria keanekaragaman sedang, kondisi ini mengambarkan bahwa jumlah spesies sedang dan penyebaran spesies tergolong stabil, indeks kekayaan (R) sebanyak 1.038 dengan kriteria rendah, menggambarkan kondisi kekayaan spesies makrozoobentos rendah, indeks kemerataan (E) sebanyak 0.722 dengan kriteria tinggi, menggambarkan kondisi kemerataan spesies makrozoobentos yang tinggi dengan komunitas stabil, dan indeks dominansi (C) sebanyak 0.376 dengan kriteria rendah, menggambarkan kondisi dominansi spesies makrozoobentos rendah.
Pengukuran faktor abiotik seperti suhu dan pH sangat penting dilakukan sebelum pengambilan sampel karena
48
suhu dan pH merupakan salah satu faktor yang dapat menentukan kondisi air sungai. Hasil pengukuran suhu dan pH pada stasiun II dapat dilihat pada Tabel 2.6
Tabel 2.6
Parameter Kualitas Air Stasiun II
No Parameter Stasiun II
1. pH air 7,8
Suhu (0C) 28
Sebelum pengambilan sampel makrozoobentos dilakukan pengukuran faktor abiotik yang meliputi pH dan suhu air. Nilai pH pada stasiun II yaitu 7,8 dan suhu air pada stasiun II yaitu 280C.
a) Deskripsi Makrozoobentos yang Ditemukan di Stasiun II
1) Smicridea sp
Smicridea sp mempunyai tubuh yang terdiri dari kepala, dada dan perut, serta mempunyai tiga pasang kaki pada bagian dadanya. Bentuk larva Smicridea sp seperti ulat dengan kepala yang berkembang, tungkai thoraks mempunyai tambahan seperti pengait dan ekor berbentuk agak
49
menjulang43. Smicridea sp merupakan salah satu famili dari ordo Trichoptera yang dapat hidup pada kondisi air yang intoleran yaitu memiliki kemampuan hidup pada air yang belum tercemar ataupun tercemar ringan44.
Gambar 2.4
Smicridea sp
lensa okuler (eyepiece) 10 x ocular.
(Dokumentasi Pribadi, 2022)
43Dwi Wahidati Okrarima, “Pedoman Mengoleksi, Preservasi, serta Kurasi Serangga & Arthropoda Lain,” Badan Karantina Pertanian Kementerian Pertanian 4, no. 12 (2015): 212.
44 Noviana Nur Rahmawati et al., “MATA AIR NYOLO DESA NGENEP KECAMATAN KARANGPLOSO” 3, no. 1 (n.d.): 21–26.
50 2) Haemadipsa sylvestris
Haemadipsa sylvestris mempunyai bentuk tubuh memanjang, Kepala tidak begitu jelas, mulut di bagian ujung anterior dikelilingi oleh sucker anterior sementara anus dikelilingi oleh sucker poterior. Alat pencernaan komplit terdiri atas mulut, faring, esophagus, crop yang sangat besar, lambung, rectum, dan anus. Haemadipsa sylvestris masuk kedalam kelompok makrozoobentos fakulatif karena memiliki kemampuan hidup pada perairan yang tercemar sedang hingga berat sekalipun 45.
45 P.Adiyes Putra Nurnasrina, “Mengenal Pacet, Haemadipsa sylvestris dan
kemungkinannya untuk pengobatan ”, 2013, 466.
51
Gambar 2.5 Haemadipsa sylvestris lensa okuler (eyepiece) 10 x ocular.
(Dokumentasi Pribadi, 2022)
3) Anentome helena
Anentome helena mempunyai panjang tubuh yang berkisar antara 1-3 cm, dengan bentuk cangkang memanjang, permukaan cangkang bergelombang membentuk garis-garis vertikel, cangkang mempunyai warna cokelat muda dan cokelat tua berselang-seling, mempunyai apeks tumpul dan lekuk sifon yang sempit46. Anentome
46 Ilyas Ayub Ariseno dan Alif Noor Anna, “Kualitas Lingkungan Perairan Berdasarkan Komunitas Makrozoobentos Di Sungai Maron Kabupaten Pacitan,” Prosiding Seminar Nasional Geografi Universitas Muhammadiyah Surakarta 2019, no. 1996 (2019): 41–47.
52
helena masuk kedalam kelompok makrozoobentos toleran karena memiliki kemampuan hidup pada perairan yang tercemar berat karena mempunyai energi toleran yang besar terhadap bahan-bahan yang sudah tercemar47.
Gambar 2.6 Anentome helena
lensa okuler (eyepiece) 10 x ocular.
(Dokumentasi Pribadi, 2022)
47Sriwahjuningsih, Hudi Hernawan, dan Nurul Fitri, “Indeks Ekologi Gastropoda Sebagai Bioindikator Pencemaran Air Di Ekowisata Situ Bagendit Kecamatan Banyuresmi Kabupaten Garut,” Jurnal Cahaya Mandalika, ISSN : 2721-4796 (online) 3, no. 1 (2022): 33–43.
53 4) Alitta virens
Allita virens terdiri dari kepala, tubuh dan ekor. Allita virens mempunyai rambut yang banyak dengan tubuh bersegmen-segmen, setiap segmen disebut analus. Kepala dibagian anterrior, dilengkapi mata, antena, arostomium, rahang, faring, peristomium dan palp. Tubuhnya capuz dan alat-alat tembahan, terbagi menjadi banyak segmen.
Allita virens masuk kedalam kelompok makrozoobentos fakulatif karena memiliki kemampuan hidup pada perairan yang tercemar sedang hingga berat sekalipun 48.
48 Dewi Apriyanti dan Muara Jawa Sanga-sanga, “TEKNIK IDENTIFIKASI POLYCHAETA DI DELTA MAHAKAM , KALIMANTAN TIMUR” 16, no. 08 (2018): 49–53.
54
Gambar 2.7 Allita virens
lensa okuler (eyepiece) 10 x ocular.
(Dokumentasi Pribadi, 2022)
3. Stasiun III
Berdasarkan hasil penelitian struktur komunitas makrozoobentos pada substrat dan limbah yang berbeda di Sungai Ancar pada stasiun III yang berlokasi di Desa Kekalik Gerisak dengan substrat berupa pasir dan limbah pencemar berupa limbah tahu tempe, ditemukan spesies makrozoobentos yang berbeda-beda. Makrozoobentos yang ditemukan dikelompokkan berdasarkan Kelas, Famili dan Spesies yang dapat dilihat pada Tabel 2.7.
55
Tabel 2.7
Kelas, Famili dan Spesies Makrozoobentos pada Stasiun III.
No Kelas Famili Spesies Jumlah
1. Crustacea Gecarcinucidae Parathelphusidae convexa 3
2. Insecta Hydropsychidae Smicridea sp 3
3. Gastropoda Thiaridae Tarebia granifera 5
4. Gastropoda Thiaridae Thiara Scabra 1
5. Gastropoda Thiaridae Thiara pantherina 2
Struktur komunitas makrozoobentos pada substrat dan limbah yang berbeda di Sungai Ancar ditemukan sebanyak 5 spesies. Adapun spesies yang paling tinggi yaitu Tarebia granifera dengan jumlah 5 spesies, spesies kedua dan tiga yaitu Parathelphusidae convexa dan Smicridea sp dengan jumlah 3 spesies, spesies keempat yaitu Thiara pantherina dengan jumlah 2 spesies, dan spesies kelima merupakan spesies paling rendah Thiara Scabra yaitu dengan jumlah 1 spesies.
Hasil perhitung indeks keanekaragaman, indeks kekayaan, indeks kemerataan dan dominansi makrozoobentos yang ditemukan di Sungai Ancar dapat dilihat pada Tabel 2.8 sebagai berikut :
56
Tabel 2.8
Indeks Keanekaragaman, Indeks Kekayaan, Indeks Kemerataan dan Dominansi.
Indeks Stasiun III
Keanekaragaman (H’) 1.494
Kekayaan (R) 1.515
Kemerataan (E) 0.928
Dominansi (C) 0.244
Dari hasil perhitungan data diperoleh indeks keanekaragaman (H’) sebanyak 1.494 dengan kriteria keanekaragaman sedang, kondisi ini mengambarkan bahwa jumlah spesies sedang dan penyebaran spesies tergolong stabil, indeks kekayaan (R) sebanyak 1.515 dengan kriteria rendah, menggambarkan kondisi kekayaan spesies makrozoobentos rendah, indeks kemerataan (E) sebanyak 0.928 dengan kriteria tinggi, menggambarkan kondisi kemerataan spesies makrozoobentos yang tinggi, dan indeks dominansi (C) sebanyak 0.244 dengan kriteria rendah, menggambarkan kondisi dominansi spesies makrozoobentos rendah.
Pengukuran faktor abiotik seperti suhu dan pH sangat penting dilakukan sebelum pengambilan sampel karena
57
suhu dan pH merupakan salah satu faktor yang dapat menentukan kondisi air sungai. Hasil pengukuran suhu dan pH pada stasiun III dapat dilihat pada Tabel 2.9.
Tabel 2.9
Parameter Kualitas Air Stasiun III
No Parameter Stasiun III
1. pH air 7,7
Suhu (0C) 28
Sebelum pengambilan sampel makrozoobentos dilakukan pengukuran faktor abiotik yang meliputi pH dan suhu air. Nilai pH pada stasiun III yaitu 7,7 dan suhu air pada stasiun III yaitu 280C.
a) Deskripsi Makrozoobentos yang Ditemukan di Stasiun III
1) Parathelphusidae convexa
Parathelphusidae convexa mempunyai mata yang relatif kecil dibandingkan dengan ukuran tubuhnya dan tidak sampai pada bagian tepi samping karapas. Karapas Parathelphusa convexa berbentuk trapesium berwarna merah kecokelatan dan terdapat tiga gigi antero-lateral pada bagian
58
tepinya. Parathelphusidae convexa merupakan organisme yang menyukai substrat berlumpur, Parathelphusidae convexa digolongkan ke dalam kelompok makrozoobentos fakulatif karena memiliki kemampuan hidup pada perairan yang tercemar sedang hingga berat sekalipun49.
Gambar 2.8 Parathelphusidae convexa lensa okuler (eyepiece) 10 x ocular.
(Dokumentasi Pribadi, 2022)
49Rury Eprilurahman, Wahyu Tejo Baskoro, dan Trijoko Trijoko,
“Keanekaragaman Jenis Kepiting (Decapoda: Brachyura) di Sungai Opak, Daerah Istimewa Yogyakarta,” Biogenesis: Jurnal Ilmiah Biologi 3, no. 2 (2015): 100–108.
59 2) Thiara Scabra
Thiara scabra mempunyai panjang yang berkisar 1-3 cm, dengan bentuk cangkang memanjang dan berduri, cangkang berwarna coklat kekuning-kuningan dengan garis-garis coklat pada bagian ulir utama, mempunyai apeks runcing, lekuk sifon meruncing. Rendahnya kelimpahan Thiara scabra disebabkan karena spesies tersebut tidak dapat menyeimbangkan dengan keadaan ekosistem sungai dimana kelas Gastropoda spesies Thiara scabra merupakan organisme yang menyukai substrat bebatuan.
Thiara scabra digolongkan ke dalam kelompok makrozoobentos toleran karena memiliki kemampuan hidup pada perairan yang tercemar berat karena mempunyai energi toleran yang besar terhadap bahan yang sudah tercemar50.
50 Sriwahjuningsih, Hudi Hernawan, dan Nurul Fitri, “Indeks Ekologi Gastropoda Sebagai Bioindikator Pencemaran Air Di Ekowisata Situ Bagendit Kecamatan Banyuresmi Kabupaten Garut,” Jurnal Cahaya Mandalika, ISSN : 2721-4796 (online) 3, no. 1 (2022): 33–43.
60
Gambar 2.9 Thiara Scabra
lensa okuler (eyepiece) 10 x ocular.
(Dokumentasi Pribadi, 2022)
3) Thiara pantherina
Thiara pantherina mempunyai panjang yang berkisar antara 1-3 cm, tipe cangkang memanjang dengan bagian ulir utama agak membesar, cangkang bewarna cokelat kehitaman dengan bercak-bercak corak pada permukaan cangkang, permukaan cangkang membentuk garis-garis horisontal melingkar51. Thiara scabra digolongkan ke dalam kelompok makrozoobentos toleran
51NOVA MUJIONO, “Gastropoda dari Kepulauan Seribu, Jakarta berdasarkan koleksi spesimen Museum Zoologi Bogor” 1, no. iii (2015): 1771–84.
61
karena memiliki kemampuan hidup pada perairan yang tercemar berat karena mempunyai energi toleran yang besar terhadap bahan yang sudah tercemar52.
Gambar 2.10 Thiara pantherina
lensa okuler (eyepiece) 10 x ocular.
(Dokumentasi Pribadi, 2022)
52Eprilurahman, Tejo Baskoro, dan Trijoko, “Keanekaragaman Jenis Kepiting (Decapoda: Brachyura) di Sungai Opak, Daerah Istimewa Yogyakarta.”Vol 3.
No.2. (2015) hal 100-108.
62
B. Pemanfaatan Hasil Penelitian sebagai Bahan Ajar Berupa