BAB IV ANALISIS PEMBAHASAN
D. Hasil Implementasi Kebijakan dan Upaya-Upaya Amerika
65 mencakup pendidikan dan pendapatan untuk korban perdagangan manusia, program perlindungan, termasuk pelatihan dan dukungan untuk korban dan anti- TIP juga memberikan pelatihan bagi polisi, jaksa, dan hakim.
International Labor Affairs of Bareau (ILAB) mendukung program yang fokus pada penyediaan bantuan kepada korban anak. Korban yang masih dibawah umur berhak mendapatkan layanan bantuan. Layanan ini tersedia melalui program-program yang dirancang secara khusus untuk anak-anak berdasarkan kebutuhan masing-masing dengan mempertimbangkan latar belakang budaya, bahasa, dan keagamaan, sebagaimana halnya juga kebutuhan kesehatan, pendidikan setiap anak. Korban anak-anak dapat mengakses layanan komprehesif yang mencakup tempat tinggal, makanan, pakaian, kesehatan mental, layanan medis dan pendidikan. ILAB mempunyai kelengkapan untuk memenuhi kebutuhan korban .
ILABjuga bertugas mencegah perdagangan manusia serta tenaga kerja paksa melalui reformasi kebijakan dan legislatif, kampanye kesadaran publik.
Bagi pemerintah dan penyedia layananThe Departments of Homeland Security(DHS) dan Department of Justice (DOJ)sertaInternational Criminal Training Assistance Program (ICITAP) juga memberikan beberapa pelatihan anti- TIP untuk penegakan hukum dan pejabat peradilan.(Justice, 2002)
D. Hasil Implementasi Kebijakan dan Upaya-Upaya Amerika Serikat
66 kejahatan perdagangan manusia di perbatasan Meksiko Amerika Serikat, membuat pemerintah Amerika Serikat perlu mengambilan sikap. Sikap tersebut di tuangkan dalam bentuk kebijakan dan upaya-upaya pengimplementasian dari kebijakan tersebut serta tindakan nyata pemerintah Amerika Serikat dalam menangani perdagangan manusia di perbatasan Meksiko Amerika Serikatseperti yang sudah dijelaskan didalam sub bab sebelumnya. Maka dari setiap pengimplementasian diharapkan adanya hasil dari setiap upaya yang sudah dilakukan.Secara khusus,upaya ini telah terkordinasi dan menghasilkan keberhasilan sebagai berikut:
1. Pada tahun 2005, Department of Justice(DOJ) dibebankan target 116 individu dalam penanganan perdagangan manusia, hampir dua kali lipat jumlah yang dibebankan pada Tahun 2004. Sekitar 80 persen dari mereka, merupakan terdakwa yang didakwa dibawah TVPA. Empat puluhlimatraffickerdihukum,35 yang terlibat dalam eksploitasi seksual.
Fakta statistik ini menunjukkan signifikansi penyelidikan federal, penegak hukum di negara bagian dan daerah yang telah berkontribusi dalam memerangi perdagangan manusia.
2. Pada 22 Mei 2006, Department Health and Human Service(HHS) telah mensertifikasi 1.000 korban perdagangan manusia sejak TVPA itu ditandatangani menjadi undang-undang pada bulan Oktober 2000. Pada Tahun 2005, HHS mensertifikasi 230 korban perdagangan manusia dari beragam negara termasuk: Albania, Bangladesh, Bolivia, Kamboja, Kamerun, Chad, Kolombia, Republik Ceko, Ekuador, El Salvador,
67 Eritrea, Estonia, Ethiopia, Guatemala , Guyana, Honduras, Hungaria, Indonesia, Pantai Gading, Jamaika, Kenya, Korea, Latvia, Malaysia, Mongolia, Nepal, Nigeria, Paraguay, Rusia, Sri Lanka, Thailand, dan Samoa Barat. Sertifikasi memungkinkan korban perdagangan manusia untuk mengakses layanansebanding dengan bantuan yang diberikan oleh Amerika Serikat untuk pengungsi.
3. Pada Tahun 2005 Department of Homeland Security (DHS) yang mengeluarkan 112 T-visa kepada korban perdagangan manusia yang diidentifikasi di Amerika Serikat. T-visa adalah kategori visa khusus yang dihasilkan dari TVPA. Pada bulan Februari 2005, DHS menerbitkan sebanyak 616 visa kepada korban perdagangan manusiadan T-visa kepada anggota keluarga mereka.
4. Pada tahun 2005 Department of Justice (DOJ)berhasil menghukum lebih dari 26.000 “hidung belang” yang mencoba membeli layanan seks.
5. Pada Tahun 2005 Department Health and Human Service (HHS) meluncurkan koalisi anti perdagangan baru di sepuluh kota Amerika Serikat untuk meningkatkan kesadaran publik tentang perdagangan manusia dan untuk meningkatkan penyelamatan korban perdagangan manusia diidentifikasi sebagai bagian dari penyelamatan.
6. Pada bulan Oktober 2005 Department of Defensememberlakukan hukuman bagi para anggota militer maupun warga sipil sebagai tindakan pencegahan kebijakan pemerintah tentang perdagangan
68 manusia. DODjuga mengembangkan program kesadaran perdagangan manusia untuk menarik perhatian pada kriminalitas dan konsekuensi perdagangan manusia.
Meskipun kemajuan telah didapatkan namun upaya pemerintah Amerika Serikat untuk mengatasi perdagangan manusia dalam batas Amerika Serikat masih membutuhkan perbaikan.Upaya yang lebih besar harus dilakukan untuk memastikan korban perdagangan manusia untuk diberi konseling atau bimbingan dan menyediakan informasi perdagangan kepada otoritas penegak hukum.Layanan perlindungan korban perdagangan manusia diharapkan lebih konsisten, terutama mereka yang belum dewasa.Pemerintah Amerika Serikat berupaya untuk mengurangi kesenjangan antara korban TIP dan mereka yang melangkah maju untuk membantu dalam penuntutan dan menerima layanan.(Departeman, 2015)
69 BAB V
PENUTUP A. Kesimpulan.
Perdagangan manusia merupakan tindak kejahatan yang pelakunya terorganisir sehingga permasalahan ini membutuhkan penanganan yang serius.
Kasus perdagangan manusia sangat merugikan banyak pihak, baik pemerintah Amerika Serikat maupun Meksiko terutama bagi korban perdagangan manusia akibat dari trafficker tidak manusiawi ini. Apabila dilihat dari pemaparan pada pembahasan bahwa perdagangan manusia ini timbul sebagai akibat dari rendahnya pendapatan ekonomi, sehingga manusia mencari penghidupan yang lebih layak dengan harapan da pat meningkan kesejahteraan hidup. Maka mereka mencari tempat yang dalam segi ekonomi sanga tmenggiurkan.
Kemajuan perekonomian sebuah negara sangat mempengaruhi kesejahteraan masyarakatnya. Amerika Serikat merupakan negara yang memiliki perekonomian yang sangat maju sehingga membuat orang dari berbagai negara terpikat. AS merupakan Negara adidaya dengan perekonomian yang sangat maju. Hal ini yang membuat AS dilirik oleh paramigran. AS memili iperaturan yang sangat ketat dalam hal keimigrasiian .Atas dana dan pengetahuan yang minim, para migrant melakukan berbagai upaya. Mereka melakukan penyelundupan untuk bisa masukn kewilayah Amerika Serikat melalui Meksiko.
Meksiko yang diketahui lemah akan hokum imigrasi membuat para penyelundup ini memasuki Meksiko dengan mudah. Meksiko merupakan negara yang
70 berbatasan langsung dengan AmerikaSerikat, maka Meksiko dijadikan negara transit oleh migral ilegal tersebut.
Jalur perbatasan merupakan jalur yang rentan akan tindak kejahatan terorganisir. Karena kurangnya penjagaan dan pengawasan membuat jalur perbatasan mudah untuk dilalui .Namun karena minimnya pengetahuan dari para penyelundup, bahwa jalur perbatasan sangat rentan akan tindakan kejahatan terorganisir, maka terjadilah perdagangan manusia di jalur perbatasan Meksiko-Amerika Serikat ini. Pelaku dari tindakan perdagangan manusia ini biasanya terorganisir, mereka adalah trafficker. Para trafficker ini biasanya mengancam bahkan dapat melakukan tindak kekerasan terhadap korbannya jika korbanya melawan atau tidak mau dijual. Para korban dijual untuk dijadikan buruh pabrik upah rendah, pekerja seks komersial, budak, dan lain-lain. Korban dari perdagangan manusia umumnya terjadi pada wanita dan anak-anak.
Terjadinya perdagangan manusia di perbatasan Mesiko-Amerika Serikat mengalami peningkatan sehigga hal tersebut menjadi sebuah ancaman bagi Amerika Serikat. Maka Amerika Serikat merasa perlu untuk melakukan tindakan.
Tindakan tersebut tertuang dalam kebijakan. Kebijakan tersebut adalah kebijakan anti perdagangan manusia yang tertuang dalam undang-undang yaitu:
1. Victims of Trafficking and Violance Protection Act of 2000.
2. The Foreign Relations Authorization Act of 2003.
3. The trafficking Victims Protection Reauthorization Act of 2003.
4. Intelligence and Reform and Terrorism Protection Act of 2004.
71 5. Trafficking Victim Protection Reauthorization Act of 2005.
Upaya lain yang dilakukan Amerika Serikat untuk memerangi perdaganganmanusia di perbatasan Meksiko-AmerikaSerikat diantaranya dengan memperketat penjagaan pada wilayah perbatasan, memperbaiki pagar perbatasan, pembentukan U.S trafficking in person report, pembentukan U.S government funded anti trafficking programs, melibatkan badan-badan atau instansi-instasi yang bertujuan untuk membantu mengatasi permasalahan perdagangan manusia serta adanya kerjasama antara Meksiko dan guna memerangi permasalahan tersebut.
72 DAFTAR PUSTAKA
BUKU
Farhana, D. (2010). In a. h. indonesia. jakarta: sinar grafika.
Holsti, K. (1983). New Jersey University of British: Colombia Press.
Mas'oed, M. (1989). Studi Hubungan Internasional : Tingkat Analisis dan Teoritisasi. yogyakarta: Universitas Gadjah Mada.
Rosenau, J. N. (1969). Internatinal Politics and Foreign Policy: A Reader in Research and Theory. New York: The Free Press.
Justice, U. D. (2002). Trafficking In Person. Washington: June 2002,hal 10.
Laporan, K. (2001). Dokumen Laporan Kedutaan Besar RI-Mexico City , 28-29.
Dr. Mahmud Syaltout, S. (2012). laporan akhir konpendium hukum tentang kerjasama internasional di bidang penegakan hukum .
Departeman, o. s. (2015). semarang: trafficking in persons repot 23 januari.
Harkrisnowo, H. (2003). Sentra Ham UI. Laporan Perdagangan Manusia di Indonesia .
JURNAL
Dea, E. (2018). kebijakan perbatasan amerika serikat dengan meksiko di era donald trump dan george w bush , 23-34.
Dr. Mahmud Syaltout, S. (2012). laporan akhir konpendium hukum tentang kerjasama internasional di bidang penegakan hukum .
Ionel, S. (2016). Transnasional Organized Crime an (inter) National Perspective.
Journal of Resources Management , 18.
Iqbal, L. M. (2007). Kerjasama internasional dibidang penanggulangan perdagangan manusia , Vol.V. NO.3.
Iskandar. (2009). metode penelitian analisis data , 137.
Kurniawan, A. (2018). asuhan keperawatan pada traffcking human , 1-7.
Padilah, A. H. (2016). keamanan manusia(human security)dan perdagangan manusia(human trafficking) .
73 Padilah, A. H. (2016). keamanan manusia(human security) dan perdagangan
manusi (human trafficking) , 1-5.
Rebecca, S. (2016). Kerjasama Amerika Serikat Meksiko dalam Penanganan money Laundering dari Meksiko Amerika Serikat , 733.
Sabirin. (2017). perdagangan perempuan dengan dalih perkawinan , 3-7.
Singarimbun. (2006). metode penelitian , 70-71.
Wardani, n. (2012). trafficking pada anak dan perempuan , 5-7.
Ardiyanti, D. (2017). Imprediktibilitas Kebijakan Luar Negeri Amerika Serikat:Tantangan dan Ancamana Rezim Donald Trump Terhadap ASEAN .
Harkrisnowo, P. D. (2003). laporan perdagangan manusia di indonesia , 17.
Kurniawan, A. (2018). asuhan keperawatan pada traffcking human , 1-7.
Minalto, a. (2015). politik luar negeri amerika serikat masa obama , 31-33.
Rebecca, S. (2016). Kerjasama Amerika Serikat dalam Penanganan Money Laundering dari Meksiko Amerika Serikat , 733.
Takariawan, A. (2019). perlindungan hukum terhadap korban human traficking dalam perspektif hak asasi manusia .
Utomo, U. U. (2016). impelmentasi trafficking victim protection Act (Tvpa).
Jurnal of International Relations 2 , 25-37.
Winingsih, S. (2009). Kebijakan luar negeri amerika serikat terhadap program pengembangan nuklir iran .
Septiandaru. (2018). kebijakan luar negeri amerika serikat , 3-10.
Sudarsono, J. (2003). Makalah Seminar Badan Pembinaan Hukum Nasional Departeman kehakiman dan Hak Asasi Manusia RI. Denpasar. Keamanan Internasional abad-21 .
Winarno, B. (2011). Isu-isu Global Kontemporer , 308-312.
Basri, R. (2012). Human Trafficking dan Solusinya Dalam Perspektif Hukum Islam. Jurnal Syariah dan Hukum , 87-98.