• Tidak ada hasil yang ditemukan

upaya amerika serikat mengatasi perdagangan manusia

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "upaya amerika serikat mengatasi perdagangan manusia"

Copied!
83
0
0

Teks penuh

(1)

i UPAYA AMERIKA SERIKAT MENGATASI PERDAGANGAN MANUSIA

DI PERBATASAN MEKSIKO - AS

SKRIPSI

DisusunSebagai Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana (S1) Pada Program Studi Ilmu Hubungan Internasional

Oleh :

SOFIANA ANDAR 4512023023

JURUSAN ILMU HUBUNGAN INTERNASIONAL FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

UNIVERSITAS BOSOWA MAKASSAR 2019

(2)
(3)
(4)
(5)

iv ABSTRAK

Sofiana Andar, 45 12 023 023, dengan judul skirpsi “ Upaya Amerika Serikat Mengatasi Perdagangan Manusia Di Perbatasan Meksiko-As” di bawah bimbingan Beche Bt. Mamma selaku pembimbing I dan Fivi Elvira Basri selaku pembimbing II, Program Studi Ilmu Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Bosowa, Makassar.

Dalam penulisan skripsi ini, penulis melakukan penelitian dimaksudkan untuk mengetahui upaya yang dilakukan Amerika Serikat dalam upaya mengatasi perdagangan manusia di perbatasanMeksiko – AmerikaSerikat.

Jenis penelitian yang dilakukan adalah dekskriptif kualitatif. Jenis ini digunakan untuk memberikan gambaran secara jelas mengenai upaya yang dilakukan Amerika Serikat dalam mengatasi perdagangan manusia di perbatasan Meksiko-Amerika Serikat. Sedangkan teknik pengumpulan data adalah teknik studi pustaka, dimana cara pengumpulan data dengan menelaah sejumlah literature yang berhubungn dengan masalah yang diteliti baik berupa buku-buku, karya tulis ilmiah, serta pencarian informasi melalui internet, data yang diperoleh adalah data sekunder, teknik analisis data yang digunakan adalah teknik analisis kualitatif.

Hasil penelitian yang penulis lakukan bahwa Amerika Serikat mengeluarkan kebijakan anti perdagangan manusia karena memiliki kepentingan dalam mengatasi perdagangan manusia di perbatasan Meksiko Amerika Serikat.

Kebijakan yang dikeluarkan Amerika Serikat dalam mengatasi perdagangan manusia di perbatasan Meksiko Amerika Serikat yaitu berupa upaya-upaya dan juga mengeluarkan UU anti perdagangan manusia

(6)

v KATA PENGANTAR

Pujisyukur yang tak terhingga saya panjatkan kepadaALLAH SWT, karena atas rahmatnya saya diperkenankan untuk menyelesaikan satu tahapan penting dalam hidup saya. Kemudian, saya ucapkan Terima kasih yang besar kepada kedua Orang Tua saya, Papa Andar Marjuk dan Mama Idawati ARK Patilah karena sudah menjadi orang tua yang hebat yang selalu memberikan motivasi, perhatian, kasih sayang dan jugadoa yang tulus.

Kemudian, saya mengucapkan Terima kasih yang besar atas bantuan, bimbingan serta dukungan dari berbagai pihak, yaitu:

1. Rektor Universitas Bosowa Prof. Dr. Ir. M. Saleh Pallu, M.Eng.

2. Dekan Fisip Universitas Bosowa, Bapak Arif Wicaksono, S.Ip MA.

3. Ketua Jurusan Ilmu Hubungan Internasional Universitas Bosowa, Bapak Zulkhair Burhan, S.Ip MA.

4. Ibu Beche Bt. Mamma, S.Ip MA selaku pembimbing I yang selalu mengarahkan dalam pembuatan skripsi ini.

5. Ibu Fivi Elvira Basri, S.Ip MA selaku pembimbing II yang selalu memberikan koreksi-koreksi dalam setiap tulisan saya.

6. Ibu Finahliyah Hasan, Ibu Rosnani, danMr. AsyariMukrim sebagai dosen yang juga memberikan banyak motivasi.

7. Next untuk saudara-saudara seangkatan yaitu MAFIA 12 terkhusus untuk dua orang yang terus membantu saya REO dan Fadli, serta teman-teman yang lain yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu. Thank you best friend.

(7)

vi 8. Then, untuk junior- junior serta teman-teman seperjuangan di Lokasi KKN

Bantaeng, terkhususnya untuk Posko 2.

Dan yang paling terakhir penulis menyadari bahwa tulisan ini jauh dari kesempurnaan, ini membuktikan bahwa penulis hanyalah manusia biasa yang tak luput dari kesalahan dan akan belajar menulis dari waktu kewaktu. Keep Fighting!

Makassar,07 Oktober 2019 Penulis

SofianaAndar

(8)

vii DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN PENGESAHAN ... ii

HALAMAN PENERIMAAN ... iii

ABSTRAK ... iv

KATA PENGANTAR ... v

DAFTAR ISI ... vii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang ... 1

B. Batasan Masalah ... 7

C. Rumusan Masalah ... 7

D. Tujuan Penelitian ... 7

E. Manfaat Penelitian ... 7

F. Kerangka Konseptual ... 7

G. Metode Penelitian ... 15

1. Jenis Penelitian ... 15

2. Sumber Data ... 15

3. Teknik Pengumpulan Data ... 16

4. Teknik Analisis Data ... 17

H. Rancangan Sistematika Penulisan ... 17

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 19

A. Kajian Teori ... 19

1. Perdagangan Manusia

(

Human Trafficking

) ... 19

(9)

viii

2. Kebijakan Luar Negeri (ForiegnPolicy) ... 22

BAB III GAMBARAN UMUM ... 32

A. Perdagangan Manusia di Perbatasan Meksiko-Amerika Serikat Tahun 2000-2006 ... 32

B. Ancaman Transnasional ... 38

1. Ancaman Keamanan ... 38

2. Ancaman Politik ... 38

3. Ancaman Ekonomi ... 39

4. Ancaman Sosial ... 39

BAB IV ANALISIS PEMBAHASAN ... 46

A. Konsep Kejahatan Transnasional ... 46

B. Kebijakan Amerika SerikatMengatasi Perdagangan Manusia Di PerbatasanMeksiko -Amerika Serikat ... 47

C. Upaya-Upaya Amerika Serikat Terhadap Perdagangan Manusia di Perbatasan Meksiko-Amerika Serikat ... 52

D. Hasil Implementasi Kebijakan dan Upaya-Upaya Amerika Serikat ... 65

BAB V PENUTUP ... 60

A. Kesimpulan ... 69

DAFTAR PUSTAKA ... 72

(10)

1 BAB 1

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Sejarah perkembangan perdagangan manusia didasari oleh aktivitas yang terorganisir dengan modus operandi yang sulit dilacak hal ini disebut dengan kejahatan teroganisir. Kejahatan terorganisir dewasa ini dipandang sebagai salah satu ancaman serius bagi keamanan negara dan keamanan global karena kejahatan terorganisir umumnya terjadi pada lintas batas negara sehingga terjadi kejahatan transnasional.(Farhana, 2010)

Perdagangan manusia dan penyelundupan manusia merupakan dua hal yang berbeda tetapi menjadi sebuah mata rantai ketika diketahui bahwa peluang untuk bermigrasi melalui jalur resmi sangat terbatas dan banyak migran yang pergi keluar negeri bukan hanya untuk meningkatkan standar hidup tetapi juga untuk mempertahankan hidup. Perdagangan manusia menjadi salah satu isu yang sudah lama menjadi perhatian dunia. Hal itu disebabkan karena perdagangan manusia merupakan kejahatan terbesar ketiga setelah obat bius dan perdagangan senjata. Kasusnya mencapai satu hingga dua juta jiwa yang diperdagangkan setiap tahun. Perdagangan manusia sudah menjadi masalah kemanusiaan berskala global.(Wardani, 2012)

Kerjasama antar negara ataupun aktor negara sangat dibutuhkan untuk mengatasi permasalahan perdagangan manusia, karena perdagangan manusia merupakan jenis kejahatan yang dilakukan secara terorganisir oleh para pelaku kejahatan transnasional.Perdagangan manusia terjadi diberbagai belahan negara di

(11)

2 dunia dan melintas batas negara, sehingga masalah ini perlu ditangani secara bersama-sama, tidak hanya satu negara melainkan negara-negara yang bersangkutan serta lembaga-lembaga internasional yang terkait dengan masalah ini.(Iqbal, 2007)

Permasalahan perdagangan manusia di perbatasan MeksikoAmerika Serikat menimbulkan kekhawatiran bagi Amerika Serikat sebagai negara tujuan maupun Meksiko sebagai negara transit. Maka perlu adanya penanganan dari kedua negara ini. Salah satu penanganannya adalah dengan menjalin hubungan kerjasama untuk mengatasi permasalahan perdagangan manusia ini. Dalam sejarah hubungan MeksikoAmerika Serikat dicatat bahwa pada masa pemerintahan presiden Vicente Fox Quesada menjalanin hubungan dekat dengan Amerika Serikat, sebagaimana dibuktikan dari frekuensi kunjungan yang dilakukan presiden Fox ke Amerika Serikat. Begitu pula sebaliknya, presiden Amerika Serikat dan pejabat tinggi Amerika Serikat lainnya berkunjung ke Meksiko serta adanya komitmen dari kedua negara tersebut untuk meningkatkan kerjasama bilateral terutama dalam bidang keimigrasian, hukum dan kerjasama keamanan perbatasan (Laporan Tahunan Kedutaan Besar RI-Mexico 2001, h.28- 29).

Meksiko secara tradisional terus memelihara hubungan kerjasama dengan Amerika Serikat dalam rangka membangun hubungan bilateral yang lebih kokoh dengan didasarkan pada prinsip saling menghormati kedaulatan masing-masing.

Pentingnya hubungan kedua negara diwarnai oleh berbagai dampak positif maupun negatif terhadap kedua negara. Amerika Serikat merupakan pasar terbesar

(12)

3 bagi tujuan ekspor Meksiko. Sementara sebagai negara tetangga yang maju, Amerika Serikat merupakan sasaran bagi migran ilegal asal Meksiko sehingga dapat menimbulkan permasalahan hubungan kedua negara. Permasalahan tersebut antara lain yaitu migran ilegal yang berasal dari Meksiko maupun negara lainnya dengan menggunakan wilayah Meksiko sebagai gerbang masuk secara ilegal ke Amerika Serikat. Pemerintah Amerika Serikat mendukung Meksiko dalam upaya kerjasama membasmi tindak kejahatan terorganisir di perbatasan berupa bantuan keuangan, kerjasama keamanan di perbatasan dan intelijen kedua negara (Laporan Tahunan Kedutaan Besar RI-Mexico 2000, h. 17-18).

Menjelang pertengahan 1990-an, masalah ini menduduki tahap tengah dalam hubungan Meksiko Amerika Serikat. Sejak tahun 1960an, jumlah imigran ilegal Meksiko ke Amerika Serikat telah melonjak menjadi rata-rata 300.000 sampai 500.000 per tahun.Kelompok-kelompok ini terkonsentrasi di negara bagian barat daya Amerika Serikat, khususnya California. Jika kita perhatikan dari serangkaian isu yang terjadi antara Meksiko Amerika Serikat, merupakan suatu permasalahan yang diselasaikan secara bersama antara kedua Negara. (Dea, 2018).

Hubungan Meksiko Amerika Serikat menimbulkan berbagai macam upaya pemerintah untuk menanggulanginya. Adapun akses masuknya perdagangan manusia, narkoba, imigran ilegal tidak lain adalah di wilayah perbatasan antara Meksiko Amerika Serikat. Telah banyak upaya yang dilakukan oleh pemerintah akan hal tersebut. Namun, keadaaan imigran Ilegal belum bisa diamankan secara maksimal.Sehingga persoalan masuknya imigran tersebut harus

(13)

4 di tanggulangi dari pintu masuknya warga asing di Amerika Serikat.Banyak imigran ilegal yang masuk ke Amerika Serikat, selain hal tersebut faktor budaya dan ekonomi juga menyebabkan perbedaan sehingga imigran ilegal yang masuk ke Amerika Serikat sering membawa dampak buruk bagi masyarakat Amerika Serikat. Khususnya terhadap keamanan negara.Sehingga hal ini menjadi fokus pemerintah untuk menciptakan keamanan negaranya. Perbatasan Meksiko Amerika Serikat hingga saat ini masih menjadi isu utama masuknya imigran illegal.(Rebecca, 2016)

Area perbatasan Meksiko Amerika Serikat dikelilingi oleh kumpulan 10 negara perbatasan yaitu California, Arizona, New Mexico, dan Texas di sisi Amerika Serikat sedangkan di sisi Meksiko terdapat Baja California, Sonora, Chihuahua, Coahuila, Nuevo Leon, dan Tamaulipas.Perbatasan Meksiko Amerika Serikat adalah perbatasan internasional antara Meksiko dan Amerika Serikat.

Membentang dari San Diego di California, berbatasan dengan Tijuana di Baja California, bagian barat menuju Matamoros di Tamaulipas berbatasan dengan Brownsville di Texas di timur, dan melintasi berbagai jenis daratan, mulai wilayah urban besar hingga gurun.

Dari Teluk Meksiko, perbatasan ini mengikuti jalur Rio Grande menuju perlintasan perbatasan di El Paso di Texas, dan Ciudad Juárez di Chihuahua; di barat dari perbatasan ini melintasi Gurun Sonora dan Chihuahua, Delta Sungai Colorado, di barat menuju konurbasi binasional di San Diego dan Tijuana sebelum mencapai Samudera Pasifik. Adapun menurut Komisi Perbatasan dan Perairan Internasional, total panjang perbatasan adalah 3.169 km (1.969 mil),

(14)

5 yaitu 2.019 km (1.254 mil) di Teluk Meksiko, kemudian 858 km (533 mil) di sungai Colorado, 38 km (24 mil) di sebelah Utara, 226 km (141 mil) di bagian Barat. Wilayah sepanjang perbatasan dibatasi oleh gurun, pegunungan terjal, dan dua sungai besar.(Dea, 2018)

Dapat dilihat bahwa terdapat masalah yang dihadapi Amerika Serikat dalam kasus perdagangan manusia diperbatasan MeksikoAmerika Serikat.

Amerika Serikat merupakan negara yang paling dilirik oleh migran ilegal dikarenakan perekonomian yang maju membuat mereka terpikat dan berkeinginan untuk hijrah ke Amerika Serikat. Para penjahat terorganisir melihat ini sebagai sebuah peluang besar. Para migran ilegal menjadi korban perdagangan manusia oleh para pelaku tindak kejahatan. Wilayah perbatasan merupakan jalur yang digunakan para pelaku kejahatan untuk melakukan aksinya, maka dari itu terjadi peningkatan aktivitas di perbatasan MeksikoAmerika Serikat. Dengan adanya masalah perdagangan manusia maka timbul berbagai ancaman yang terjadi di Amerika Serikat seperti ancaman politik, sosial, keamanan, dan ekonomi yang dapat mengancam kedaulatan AmerikaSerikat, untuk itu Amerika Serikat berperan dalam mengatasi masalah ini.

Ada beberapa penelitian yang telah dilakukan tentang persoalan perdagangan manusia.Penelitian ini dilakukan oleh Ganewati Wuryandari membahas tentang Menelaah Politik Luar Negeri Indonesia dalam Menyikapi Isu Perdagangan Manusia, Prof.Dr. Harkristui Harkrisnowo Sentra HAM UI membahas tentang Laporan Perdagangan Manusia, David Wyatt membahas tentang Memerangi Perdagangan Manusia di Indonesia, Cahya Wulandari

(15)

6 membahas tentang Tindak Pidana Perdagangan Orang Khususnya Terhadap Perempuan dan Anak, Wahyu Tri Astuti membahas tentang Perdagangan Perempuan, Tri Nuke Pudjiastuti membahas tentang Kasus Perdagangan Orang pada Pekerja Migran, Adwiyati Triputri membahas tentang Efektivitas Twenty First Century Border Management Amerika Serikat Meksiko dalam Penanggulangan Arus Imigran Illegal. Namun belum ada yang meneliti tentang upaya Amerika Serikat mengatasi masalah perdagangan manusia diperbatasan Meksiko Amerika Serikat.

Kompleksitas dalam kasus ini menyangkut persoalan ketenagakerjaan, kemigrasian, kemiskinan, kekerasan, dan kejahatan yang terorganisir yang melintas batas Negara. Hal ini menjadi peluang besar untuk para pelaku kejahatan transnasional karena berkaitan erat dengan ketenagakerjaan dan kemiskinan. Hal ini akan menarik perhatian para pelaku kejahatan transnasional untuk memanfaatkan kondisi demikian. Tidak bisa di pungkiri dalam kasus-kasus perdagangan manusia yang terjadi di perbatasan Amerika Serikat sebagian adalah korbannya warga Negara Indonesia. Dan perdagangan manusia juga harus dipahami sebagai pemindahan manusia dalam batas-batas wilayah sebuah Negara, antar Negara dalam sebuah kawasan benua.Alasan mengapa perdagangan manusia perlu untuk diteliti karena kasus perdagangan manusia menjadi fenomena yang saling tumpang tindih satu sama lain. Berdasarkan latar belakang tersebut peneliti tertarik untuk meneliti tentang “Upaya Amerika Serikat Mengatasi Masalah Perdagangan Manusia di Perbatasan Meksiko Amerika Serikat”.

(16)

7 B. Batasan Masalah

Pada pembahasan ini penulis membatasi pada kurun waktu yang dimulai pada tahun 2000 sampai dengan tahun 2006.

C. Rumusan Masalah

1. Bagaimana upaya Amerika Serikat dalam mengatasi masalah perdagangan manusia diperbatasan Meksiko Amerika Serikat?

D. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan penelitian ini antara lain sebagai berikut:

1. Untuk mengetahui sejauh mana perdagangan manusia diperbatasan Meksiko Amerika Serikat.

E. Manfaat Penelitian

1. Secara analisis, penelitian ini berguna sebagai salah satu karya ilmiah yang menarik dalam menganalisa fenomena hubungan Internasional.

2. Secara teoritis untuk mengetahui secara riil upaya yang dilakukan Amerika Serikat dalam menangani kasus perdagangan manusia dengan menggunakan konsep-konsep hubungan Internasional yang dipelajari.

F. Kerangka Konseptual

Kerangka konseptual merupakan dasar analisa yang melambangkan keterkaitan dan uraian tingkah laku dari satu variabel dan bereaksi terhadap

(17)

8 variabel lainnya.Dengan demikian dapat dikatakan pemandu dalam bentuk penelitian yang sistematis. Secara umum, penelitian ini terdiri dari dua variabel, yaitu independen variabel (variabel bebas) dan dependen variabel (variabel terikat). Variabel independen adalah konsep yang dipakai sebagai dasar untuk meramalkan atau menjelaskan konsep-konsep lain. Variabel independen terjadi lebih dahulu daripada variabel dependen dan variable ini dianggap mempengaruhi variable dependen. Kedua variabel ini saling berkaitan sehingga terjadi hubungan sebab-akibat yang kemudian menimbulkan pertanyaan pada masalah pokok dalam penelitian ini..(Mas'oed, 1989)

Dibawah ini merupakan kerangka pemikiran dalam menjelaskan keterkaitan antara variabel bebas dan variabel terikat sebagai dasar dari analisa penulis dalam penelitian ini:

Variabel Bebas Variabel terikat

(Independen Variable) (Dependen Variable)

Kerangka konseptual digunakan penulis untuk menganalisis permasalahan yang diangkat, maka dari itu dibutuhkan teori dan beberapa konsep dari para ahli Peningkatan Aktivitas

Perdagangan Manusia Di Perbatasan Meksiko Amerika Serikat

Upaya Amerika Serikat Dalam Mengatasi Perdagangan

Manusia

(18)

9 yang dapat dijadikan acuan dalam menjawab dan menganalisa suatu permasalahan sehingga tidak ada penyimpangan diluar konsep yang ada. Secara umum pengertian teori adalah sebuah sistem konsep abstrak yang mengindikasikan adanya hubungan diantara konsep-konsep yang dapat membantu untuk memahami sebuah fenomena.

1. Perdagangan Manusia

(

Human Trafficking

)

Isu perdagangan manusia bukanlah hal yang baru. Fenomena ini sudah ada sejak setua peradaban manusia. Perdagangan manusia pada zaman dahulu dipahami sebagai perdagangan budak dan sandera yang di pengaruhi oleh pemerintah kolonial dan juga penguasaan kerajaan-kerajaan Eropa yang mendominasi perekonomian dan politik Internasional.

Kasus perdagangan manusia di era Globalisasi saat ini menjadi fenomena yang saling tumpang tindih satu dengan yang lainnya. Kompleksitas dalam kasus ini menyangkut persoalan ketenaga kerjaan, kemigrasian, kemiskianan, kekerasan, dan kejahatan. Kompleksitas kasus ini menimbulkan tindak kejahatan terorganisir yang melintas batas Negara, sehingga masalah perdaganagan manusia tidak hanya dapat diselesaikan oleh satu Negara saja melainkan secara bersama-sama karena telah menjadi masalah berskala global. (Padilah, 2016)

Perdagangan manusia adalah konsep dinamis dengan wujud yang berubah dari waktu ke waktu, sesuai dengan perkembangan yang terjadi. Hingga saat ini belum ada pengertian atau defenisi perdagangan manusia yang di sepakati secara internasional, sehingga banyak menimbulkan banyak perdebatan tentang pengertian atau defenisi yang diaggap paling tepat, maka dari itu perdagangan

(19)

10 manusia didefenisikan oleh beberapa institusi atau lembaga yang tertuang pada deklarasi-deklarasi.(Kurniawan, 2018)

Perdagangan manusia juga harus dapat dipahami sebagai pemindahan manusia dalam batas-batas wilayah sebuah negara, antar negara dalam sebuah kawasan atau antar benua. Deklarasi Stokcholm membatasi perdagangan manusia sebagai: “illcit clandestine movement of persons across borders with the end goal of forcing these persons into sexually or economically oppressive and exploitative situation for profit of recruiters, trafficker and crime syndicates”. yang memiliki pengertian bahwa pergerakan atau perpindahan manusia secara rahasia dan terlarang dengan melintas perbatasan wilayah dengan tujuan akhir untuk memaksa manusia-manusia tersebut masuk kedalam situasi tertentu serta memberikan keuntungan bagi para perekrut, traffciker dan kejahatan. (Sabirin, 2017)

2. Kebijakan Luar Negeri (Foriegn Policy)

Robert jervis dalam tulisannya yang berjudul, The Logic of Images in International Relation, terdapat dalam kutipan K.J. Holsti yang mengatakan bahwa kebijakan adalah berbagai orientasi, peranan, dan tujuan yang terdiri dari sejumlah kesan yang terdapat dalam pikiran para pembuat kebijakan, sikap mereka terhadap dunia luar, keputusan-keputusan dan aspirasi mereka. Tetapi kebijakan juga memiliki komponen lain berupa seperangkat tindakan, yakni apa saja yang dilakukan oleh suatu pemerintah terhadap pemerintahan lainnya dalam rangka menjalankan sejumlah orientasi tertentu, memainkan beberapa peranan atau mencapai dan mempertahankan tujuan-tujuannya. Pada dasarnyasuatu tindakan merupakan suatu bentuk komunikasi yang dimaksud untuk mengubah

(20)

11 atau mempertahankan tingkah laku pihak yang di kenai tindakan oleh pemerintah, dan tergantung pada keberhasilan mencapai sasarannya.Tindakan ini dapat digambarkan sebagai suatu isyarat yang dikirim oleh seorang pelaku untuk mempengaruhi kesan si penerima pesan.

Kebijakan luar negeri menurut K.J. Holsti adalah suatu tindakan yang didalamnya terdiri dari kekuatan, kapabilitas dan pengaruh.Berbagai orientasi, peranan, dan tujuan terdiri dari sejumlah kesan yang terdapat dalam pikiran para pembuat kebijakan, sikap mereka terhadap dunia luar, keputusan-keputusan dan aspirasi mereka. Langkah utama dalam proses pembuatan kebijakan politik luar negeri mencakup :

a. Menjabarkan pertimbangan kepentingan nasional kedalam bentuk tujuan dan sasaran yang spesifik.

b. Menetapkan faktor situasional di lingkungan domestik dan internasional yang berkaitan dengan tujuan kebijakan luar negeri.

c. Menganalisis kapabilitas nasional untuk menjangkau hasil yang dikehendaki.

d. Mengembangkan perencanaan atau strategi untuk memakai kapabilitas nasional dalam menanggulangi variable tertentu sehingga mencapai tujuan yang ditetapkan.

e. Melaksanakan tindakan yang diperlukan.

f. Secara periodik, meninjau dan melakukan evaluasi perkembangan yang telah berlangsung dalam menjangkau tujuan atau hasil yang dihendaki.

(Holsti, 1983)

(21)

12 K.J Holsti memberikan tiga kriteria untuk mengklasifikasikan tujuan- tujuan kebijakan luar negeri suatu negara yaitu pertama: Nilai (values) yang menjadi tujuan dari para pembuat keputusan. Kedua: jangka waktu yang dibutuhkan untuk mencapai suatu tujuan yang telah ditetapkan.Terdapat 3 jenis jangka waktu yaitu tujuan jangka pendek (short term), jangka menengah (middle term), dan jangka panjang (long term).Ketiga: tipe tuntutan yang diajukan suatu negara kepada negara lain.

Kebijakan luar negeri memiliki tiga konsep untuk menjelaskan hubungan suatu negara dengan kejadian dan situasi di luar negaranyayaitu(Perwita dan Yani2005.53-54):

a. Kebijakan luar negeri sebagai sekumpulan orientasi (as a cluster of orientation). Politik luar negeri sebagai sekumpulan orientasi merupakan acuan bagi para pembuat keputusan untuk menghadapi kondisi-kondisi eksternal yang menuntut pembuat keputusan dan tindakan berdasarkan orientasi tersebut. Orientasi ini terdiri dari sikap, persepsi, dan nilai-nilai yang dijabarkan dari pengalaman sejarah dan keadaan strategis yang menentukan posisi negara dalam politik internasional.

b. Politik luar negeri sebagai seperangkat komitmen dan rencana untuk bertindak (as a set commitments to and plan for action). Dalam hal ini kebijakan luar negeri berupa rencana dan komitmen konkrit yang dikembangkan oleh para pembuat keputusan untuk membina dan mempertahankan situasi lingkungan eksternal yang konsisten dengan orientasi kebijakan luar negeri.

(22)

13 c. Kebijakan luar negeri sebagai bentuk perilaku atau aksi (as a form of behaviour). Kebijakan luar negeri pada tahapan ini berada pada tingkat yang lebih empiris, yaitu berupa langkah-langkah nyata yang diambil oleh para pembuat keputusan yang berhubungan dengan kejadian serta situasi di lingkungan eksternal.

Kebijakan luar negeri dapat dibedakan sebagai sekumpulan orientasi, sekumpulan komitmen dan rencana aksi serta sebagai bentuk perilaku.Setiap negara dapat menghubungkan peristiwa dan situasi diluar terhadap bentuk-bentuk kebijakan luar negeri diatas. K.J Holsti berpendapat bahwa lingkup kebijakan luar negeri meliputi semua tindakan serta aktifitas negara terhadap lingkungan eksternalnya dalam upaya memperoleh keuntungan dari lingkungan tersebut, serta kondisi internal yang menopang formulasi tindakan tersebut.Keputusan dan kebijakan menghasilkan tindakan.Tindakan merupakan aplikasi dari kebijakan.

Menurut James N. Rosenau dalam Abubakar Eby, kebijakan luar negeri yaitu upaya suatu negara melalui keseluruhan sikap dan aktivitasnya untuk mengatasi dan memperoleh keuntungan dari lingkungan eksternalnya.Kebijakan luar negeri menurut Rosenau ditujukan untuk memelihara dan mempertahankan kelangsungan hidup suatu negara. Menurut Rosenau, apabila kita mengkaji kebijakan luar negeri suatu negara maka kita akan memasuki fenomena yang luas dan kompleks, dengan mengkombinasikan faktor internal dan eksternal yang meliputi aspirasi, atribut nasional, kebudayaan, konflik, kapabilitas, institusi, dan aktivitas rutin yang ditujukan untuk mencapai dan memelihara identitas sosial, hukum dan geografis suatu negara sebagai negara-bangsa.

(23)

14 James N. Rosenau dalam Abubakar Eby (2011.89-90) membagi proses pembuatan keputusan dalam beberapa tingkat analisis yaitu:

a. Idiosinkrasi

Idiosinkrasi atau sering disebut sebagai faktor individual yang diartikan sebagai sifat dari seorang pemimpin atau pembuat keputusan yang menentukan dalampenerapan kebijakan luar negeri.Sifat individu berpengaruh terhadap proses pembuatan keputusan.Idiosinkrasi meliputi semua aspek yang terdapat pada para pembuat keputusan seperti nilai- nilainya, keahlian dan pengalamannya yang membedakan dengan para pembuat keputusan yang lain.

b. Peranan

Peranan yang terdiri dari peranan-peranan yang ditempati oleh para pembuat keputusan yang harus dilakukan tanpa memperdulikan faktor idiosinkrasinya.

c. Pemerintahan

Pemerintahanbiasanyamempengaruhi keputusan luar negeri.Pemerintahan berkaitan dengan struktur pemerintah yang mempunyai kekuasaan untuk membatasi ataupun meningkatkan pilihan-pilihan yang dibuat oleh para pembuat keputusan.Pengaruh hubungan legeslatif dan eksekutif mempengaruhi berbagai pembuatan dan pelaksanaan politik luar negeri.

d. Aspek diluar pemerintah

Aspek diluar pemerintah yang ada dimasyarakat mempengaruhi masalah internasional. Aspek diluar pemerintah antara lain meliputi orientasi nilai

(24)

15 dominan di masyarakat, tingkat kesatuan nasional, tingkat industrialisasi dan sistem ekonomi yang menyumbangkan isi dari aspirasi dan kebijakan suatu negara.

e. Sistemik

Dalam hal ini sistem meliputi aspek-aspek non human di lingkungan eksternal suatu masyarakat atau tindakan-tindakan yang terjadi di luar suatu negara yang mengkondisikan atau mempengaruhi pilihan yang dibuat para pembuat keputusan.(Rosenau, 1969)

G. Metode Penelitian 1. Jenis Penelitian

Jenis penelitian bersifat deskriptif dengan metode kualitatif yaitu menyelidiki masalah dengan menggambarkan keadaan subjek atau objek penelitian berdasarkan fakta yang ada dan menganalisis hubungan sebab akibat melalui penelitian faktor-faktor yang berhubungan dengan situasi atau fenomena yang berdasarkan fakta-fakta objektive yang tampak dan sebagaimana adanya.Penelitian ini bersifat pepustakaan dan data-data yang akan diperoleh berasal dari sumber literature (library research).

2. Sumber Data

Jenis data yang digunakan oleh penulis dalam penelitian ini adalah data sekunder, yaitu data yang diperoleh dari buku-buku, dokumen, artikel, jurnal, surat kabar dan internet. Data yang sudah tersedia sehinggah kita tingal mencari dan mengumpulkan. Data

(25)

16 sekunder biasanya di dapatkan di tempat kumpulan informasi seperti perpustakaan, media internet, buku, artikel, majalah,surat kabar yang berkaitan dengan judul penelitian ini serta hasil penelitian yang dapat dipertanggungjawabkan.

3. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang digunakan oleh penulis adalah teknik studi pustaka, yang mana data-data akan dikumpulkan melalui peninggalan tertulis terutama arsip-arsip termasuk juga dari dokumen, buku-buku, artikel, jurnal,berita pada surat kabar dan berbagai referensi lainnya. Pengumpulan data yang digunakan oleh penulis adalah melalui studi literatur dan survey literature.

a. Library research

Library research yaitu cara pengumulan data dengan jalan membaca buku-buku atau literatur yang berkaitan dengan masalah yang akan di bahas. Adapun teknik yang digunakan sebagai berikut:

1) Kutipan langsung yaitu penulis mengutip isi buku yang relefan dengan materi penulis dengan tidak mengubah redaksi baik huruf maupun tanda bacanya.

2) Kutipan tidak langsung yaitu penulis mengutip hasil bacaan dengan berbada konsep aslinya, namun tidak merubah makna dan tujuan dalam bentuk iktisarnya.

b. Survey Literatur

Survey Literatur yaitu dengan mendayagunakan sumber informasi yang terdapat berasal dari buku-buku, dokumen-dokumen maupun

(26)

17 sumber informasi lainnya. survey literatur ini biasanya berkaitan dengan studi kepustakaan. Dalam studi kepustakaan diperlukan baik untuk penelitian lapangan maupun penelitian bahan dokumentasi.

Dalam studi kepustakaan terdapat enam manfaat yang dapat diperoleh dari penulusuran kepustakaan yaitu (Singarimbun, 2006)

4. Teknik Analisis Data

Metode analisis data adalah cara pengumpulan data dengan proses mengorganisasikan dan mengusulkan data ke dalam pola, kategori, dan satuan uraian dasar, sehingga dapat diketemukan teori dan dapat dirumuskan. Analisis data adalah proses penyederhanaan data kedalam bentuk yang paling mudah untuk dibaca dan diinterpretasikan. (Iskandar, 2009)

H. Rancangan Sistematika Penulisan

BAB I : PENDAHULUAN, Didalam bab ini di uraikan pokok-poko pikiran yang melatarbelakangi penelitian ini, yaitu :

(A). Latar Belakang.

(B). Batasan Masalah.

(C). Rumusan Masalah.

(D). Tujuan Penelitian, (E). Manfaat Penelitian.

(F). Kerangka Konseptual.

(G). Metode Penelitian.

(H). Rancangan Sistematika Penulisan.

(27)

18 BAB II: TINJAUAN PUSTAKA, pada bab ini menyajikan uraian kajian teori

(A). Perdagangan Manusia (Human Trafficking) (B). Kebijakan Luar Negeri (Foriegn Policy).

BAB III: GAMBARAN UMUM, pada bab ini menguraikan konsep kejahatan transnasional dan ancaman transnasional.

BAB IV : PEMBAHASAN, Pada bab ini menguraikan pembahasan mengenai :

(A) Potret Perdagangan Manusia di Amerika Serikat.

(B) Perdagangan Manusia di Perbatasan Meksiko Amerika Serikat tahun 2000-2006

(C) Kebijakan Amerika Serikat Mengatasi Perdagangan Manusia di Perbatasan Meksiko Amerika Serikat

(D) Upaya-Upaya Amerika Serikat Terhadap Perdagangan Manusia di Perbatasan Meksiko Amerika Serikat.

(E) Hasil Implementasi Kebijakan dan Upaya-Upaya Amerika Serikat BAB V : Kesimpulan

Daftar pustaka

(28)

19 BAB II

TINJAUAN PUSTAKA A. Kajian Teori

1. Perdagangan Manusia

(

Human Trafficking

)

Isu perdagangan manusia bukanlah hal yang baru. Fenomena ini sudah ada sejak setua peradaban manusia. Perdagangan manusia pada zaman dahulu dipahami sebagai perdagangan budak dan sandera yang di pengaruhi oleh pemerintah kolonial dan juga penguasaan kerajaan-kerajaan Eropa yang mendominasi perekonomian dan politik Internasional.(Padilah, 2016)

Kasus perdagangan manusia di era Globalisasi saat ini menjadi fenomena yang saling tumpang tindih satu dengan yang lainnya. Kompleksitas dalam kasus ini menyangkut persoalan ketenaga kerjaan, kemigrasian, kemiskianan, kekerasan, dan kejahatan. Kompleksitas kasus ini menimbulkan tindak kejahatan terorganisir yang melintas batas Negara, sehingga masalah perdaganagan manusia tidak hanya dapat diselesaikan oleh satu Negara saja melainkan secara bersama-sama karena telah menjadi masalah berskala global.(Padilah, 2016)

Perdagangan manusia adalah konsep dinamis dengan wujud yang berubah dari waktu ke waktu, sesuai dengan perkembangan yang terjadi. Hingga saat ini belum ada pengertian atau defenisi perdagangan manusia yang di sepakati secara internasional, sehingga banyak menimbulkan banyak perdebatan tentang pengertian atau defenisi yang diaggap paling tepat, maka dari itu perdagangan manusia didefenisikan oleh beberapa institusi atau lembaga yang tertuang pada deklarasi-deklarasi. (Kurniawan, 2018)

(29)

20 Sebuah koalisi internasional yang dibentuk untuk menghapuskan perbudakan dan perdagangan manusia yang disebut Coalition to Abolish Slavery and Traffciking mendefenisikan perdagangan manusia sebagai semua usaha yang berkaitan dengan rekruitmen atau pemindahan manusia oleh pihak lain dengan menggunakan kekerasan, ancaman penggunaan kekerasan, penyelewengan kekuasan atau posisi dominan, penipuan ataupun segala bentuk kekerasan untuk tujuan eksploitasi manusia secara seksual maupun ekonomi untuk keuntungan pihak lain seperti perekrut, traffciker, pelanggan atau sindikat kriminal. (Sabirin, 2017)

Perdagangan manusia juga harus dapat dipahami sebagai pemindahan manusia dalam batas-batas wilayah sebuah negara, antar negara dalam sebuah kawasan atau antar benua. Deklarasi Stokcholm membatasi perdagangan manusia sebagai: “illcit clandestine movement of persons across borders with the end goal of forcing these persons into sexually or economically oppressive and exploitative situation for profit of recruiters, trafficker and crime syndicates”. yang memiliki pengertian bahwa pergerakan atau perpindahan manusia secara rahasia dan terlarang dengan melintas perbatasan wilayah dengan tujuan akhir untuk memaksa manusia-manusia tersebut masuk kedalam situasi tertentu serta memberikan keuntungan bagi para perekrut, traffciker dan kejahatan. (Sabirin, 2017)

Walapun terdapat perbedaan pada pendefenisian perdagangan manusia, setidaknya protokol PBB tahun 2000 sebagai pelengkap bagi konvensi PBBuntuk menentang kejahatan terorganisir lintas negara, dapat dijadikan pegangan dalam mendefenisikan perdagangan manusia. Protokol perdagangan manusia sebagai

(30)

21 berikut: the recruitment, transportation, transfer, harboring or receipt of person by means of the thear of abuse of power or of a position of vulnerability or of the giving or receiving of payments or benefits to achieve the consent of a person having control over another person, for the purpose of exploitation.

Defenisi tersebut terbagi menjadi tiga bagian yaitu:

1. pertama, menyebutkan bentuk tindakan kriminalnya yaitu rekruitmen, pemindahan dan penampungan orang.

2. Menyebutkan cara-cara yang digunakan yaitu dengan ancaman atau penggunaan kekerasaan ataupun berbagai bentuk tekanan lainya seperti penculikan penyekapan dan pemalsuan, penipuan, penyalagunaan kekuasaan atau posisi rentan, penjeratan utang atau pemberi bayaran, atau pemanfaatan guna mendapatkan persetujuan dari orang memegang kendali atas orang lain tersebut untuk tujuan ekploitasi.

3. Menyebutkan tujuannya yaitu untuk eksploitasi (Buletin Diktorat Jendral Multilateral Departemen Luar Negri RI, 2007. 2-3)

Masalah ini mengemukakan dalam berbagai pertemuan berbagai pertemuan komunitas internasional yang diselenggarakan oleh PBB dan pada umumnya dikaitkan dengan kegiatan kejahatan terorganisir. Keprihatinan yang mendalam akan masalah perdaganagan manusia tersebut membuat negara-negara didunia sepakat menetapkan United Nations Convention against Transnational Organized Crime’s Protocol, and Protocol to Prevent, Suppressband punish Traffciking in Person, Especially Women and Children, A/55/383, yang

(31)

22 ditetapkan oleh Majelis umum pada tanggal 2 November 2000 (Litigasi Jurnal Ilmu Hukum, 2012. 945).(Padilah, 2016)

2. Kebijakan Luar Negeri (Foriegn Policy)

Robert jervis dalam tulisannya yang berjudul, The Logic of Images in International Relation, terdapat dalam kutipan K.J. Holsti yang mengatakan bahwa kebijakan adalah berbagai orientasi, peranan, dan tujuan yang terdiri dari sejumlah kesan yang terdapat dalam pikiran para pembuat kebijakan, sikap mereka terhadap dunia luar, keputusan-keputusan dan aspirasi mereka. Tetapi kebijakan juga memiliki komponen lain berupa seperangkat tindakan, yakni apa saja yang dilakukan oleh suatu pemerintah terhadap pemerintahan lainnya dalam rangka menjalankan sejumlah orientasi tertentu, memainkan beberapa peranan atau mencapai dan mempertahankan tujuan-tujuannya. Pada dasarnya suatu tindakan merupakan suatu bentuk komunikasi yang dimaksud untuk mengubah atau mempertahankan tingkah laku pihak yang di kenai tindakan oleh pemerintah, dan tergantung pada keberhasilan mencapai sasarannya. Tindakan ini dapat digambarkan sebagai suatu isyarat yang dikirim oleh seorang pelaku untuk mempengaruhi kesan si penerima pesan.

Kebijakan luar negeri menurut K.J. Holsti adalah suatu tindakan yang didalamnya terdiri dari kekuatan, kapabilitas dan pengaruh.Berbagai orientasi, peranan, dan tujuan terdiri dari sejumlah kesan yang terdapat dalam pikiran para pembuat kebijakan, sikap mereka terhadap dunia luar, keputusan-keputusan dan aspirasi mereka. Langkah utama dalam proses pembuatan kebijakan politik luar negeri mencakup :

(32)

23 g. Menjabarkan pertimbangan kepentingan nasional kedalam bentuk tujuan

dan sasaran yang spesifik.

h. Menetapkan faktor situasional di lingkungan domestik dan internasional yang berkaitan dengan tujuan kebijakan luar negeri.

i. Menganalisis kapabilitas nasional untuk menjangkau hasil yang dikehendaki.

j. Mengembangkan perencanaan atau strategi untuk memakai kapabilitas nasional dalam menanggulangi variable tertentu sehingga mencapai tujuan yang ditetapkan.

k. Melaksanakan tindakan yang diperlukan.

l. Secara periodik, meninjau dan melakukan evaluasi perkembangan yang telah berlangsung dalam menjangkau tujuan atau hasil yang dihendaki.

(Holsti, 1983)

K.J Holsti () memberikan tiga kriteria untuk mengklasifikasikan tujuan- tujuan kebijakan luar negeri suatu negara yaitu pertama: Nilai (values) yang menjadi tujuan dari para pembuat keputusan. Kedua: jangka waktu yang dibutuhkan untuk mencapai suatu tujuan yang telah ditetapkan.Terdapat 3 jenis jangka waktu yaitu tujuan jangka pendek (short term), jangka menengah (middle term), dan jangka panjang (long term). Ketiga: tipe tuntutan yang diajukan suatu negara kepada negara lain.

(33)

24 Kebijakan luar negeri memiliki tiga konsep untuk menjelaskan hubungan suatu negara dengan kejadian dan situasi di luar negaranya yaitu(Perwita dan Yani2005.53-54):

d. Kebijakan luar negeri sebagai sekumpulan orientasi (as a cluster of orientation). Politik luar negeri sebagai sekumpulan orientasi merupakan acuan bagi para pembuat keputusan untuk menghadapi kondisi-kondisi eksternal yang menuntut pembuat keputusan dan tindakan berdasarkan orientasi tersebut. Orientasi ini terdiri dari sikap, persepsi, dan nilai-nilai yang dijabarkan dari pengalaman sejarah dan keadaan strategis yang menentukan posisi negara dalam politik internasional.

e. Politik luar negeri sebagai seperangkat komitmen dan rencana untuk bertindak (as a set commitments to and plan for action). Dalam hal ini kebijakan luar negeri berupa rencana dan komitmen konkrit yang dikembangkan oleh para pembuat keputusan untuk membina dan mempertahankan situasi lingkungan eksternal yang konsisten dengan orientasi kebijakan luar negeri.

f. Kebijakan luar negeri sebagai bentuk perilaku atau aksi (as a form of behaviour). Kebijakan luar negeri pada tahapan ini berada pada tingkat yang lebih empiris, yaitu berupa langkah-langkah nyata yang diambil oleh para pembuat keputusan yang berhubungan dengan kejadian serta situasi di lingkungan eksternal.

Kebijakan luar negeri dapat dibedakan sebagai sekumpulan orientasi, sekumpulan komitmen dan rencana aksi serta sebagai bentuk perilaku.Setiap

(34)

25 negara dapat menghubungkan peristiwa dan situasi diluar terhadap bentuk-bentuk kebijakan luar negeri diatas.K.J Holsti berpendapat bahwa lingkup kebijakan luar negeri meliputi semua tindakan serta aktifitas negara terhadap lingkungan eksternalnya dalam upaya memperoleh keuntungan dari lingkungan tersebut, serta kondisi internal yang menopang formulasi tindakan tersebut.Keputusan dan kebijakan menghasilkan tindakan.Tindakan merupakan aplikasi dari kebijakan.

Menurut James N. Rosenaudalam Abubakar Eby, kebijakan luar negeri yaitu upaya suatu negara melalui keseluruhan sikap dan aktivitasnya untuk mengatasi dan memperoleh keuntungan dari lingkungan eksternalnya.Kebijakan luar negeri menurut Rosenau ditujukan untuk memelihara dan mempertahankan kelangsungan hidup suatu negara. Menurut Rosenau, apabila kita mengkaji kebijakan luar negeri suatu negara maka kita akan memasuki fenomena yang luas dan kompleks, dengan mengkombinasikan faktor internal dan eksternal yang meliputi aspirasi, atribut nasional, kebudayaan, konflik, kapabilitas, institusi, dan aktivitas rutin yang ditujukan untuk mencapai dan memelihara identitas sosial, hukum dan geografis suatu negara sebagai negara-bangsa.

James N. Rosenau dalam Abubakar Eby (2011.89-90) membagi proses pembuatan keputusan dalam beberapa tingkat analisis yaitu:

f. Idiosinkrasi

Idiosinkrasi atau sering disebut sebagai faktor individual yang diartikan sebagai sifat dari seorang pemimpin atau pembuat keputusan yang menentukan dalampenerapan kebijakan luar negeri.Sifat individu berpengaruh terhadap proses pembuatan keputusan.Idiosinkrasi meliputi

(35)

26 semua aspek yang terdapat pada para pembuat keputusan seperti nilai- nilainya, keahlian dan pengalamannya yang membedakan dengan para pembuat keputusan yang lain.

g. Peranan

Peranan yang terdiri dari peranan-peranan yang ditempati oleh para pembuat keputusan yang harus dilakukan tanpa memperdulikan faktor idiosinkrasinya.

h. Pemerintahan

Pemerintahanbiasanyamempengaruhi keputusan luar negeri.Pemerintahan berkaitan dengan struktur pemerintah yang mempunyai kekuasaan untuk membatasi ataupun meningkatkan pilihan-pilihan yang dibuat oleh para pembuat keputusan.Pengaruh hubungan legeslatif dan eksekutif mempengaruhi berbagai pembuatan dan pelaksanaan politik luar negeri.

i. Aspek diluar pemerintah

Aspek diluar pemerintah yang ada dimasyarakat mempengaruhi masalah internasional. Aspek diluar pemerintah antara lain meliputi orientasi nilai dominan di masyarakat, tingkat kesatuan nasional, tingkat industrialisasi dan sistem ekonomi yang menyumbangkan isi dari aspirasi dan kebijakan suatu negara.

j. Sistemik

Dalam hal ini sistem meliputi aspek-aspek non human di lingkungan eksternal suatu masyarakat atau tindakan-tindakan yang terjadi di luar suatu

(36)

27 negara yang mengkondisikan atau mempengaruhi pilihan yang dibuat para pembuat keputusan.(Rosenau, 1969)

Masing-masing tingkat analisis tersebut dapat digunakan tergantung pada kondisi ekonomi dan sistem pemerintahan darisuatu negara itu sendiri. Tujuan kebijakan luar negeri sebenarnya merupakan fungsi dari proses dimana tujuan negara disusun dan dipengaruhi oleh sasaran yang dilihat dari masa lalu dan aspirasi untuk masa yangakan datang. Pada dasarnya tujuan jangka panjang kebijakan luar negeri adalah untuk mencapai perdamaian, keamanan, dan kekuasaan.Umumnya setiap kebijakan luar negeri dirancang untuk menjangkau tujuan nasional.

Tujuan nasional yang hendak dijangkau melalui kebijakan luar negeri merupakan formulasi konkret dan dirancang dengan mengaitkan kepentingan nasional terhadap situasi internasional yang sedang berlangsung serta kekuatan (power) yang dimiliki untuk menjangkaunya.Power merupakan konsep yang melekat pada kebijakan luar negeri. Dalam kebijakan luar negeri yang dijalankan pemerintah suatu negara bertujuan untuk mencapai kepentingan nasional masyarakat yang diperintahnya, meskipun kepentingan nasional suatu bangsa ditentukan oleh siapa yang berkuasa pada waktu itu. (Holsti, 1983)

Dalam pembuatan kebijakan luar negeri terdapat tahapan-tahapan atau proses pembuatan kebijakan yang akan menghasilkan sebuah output yaitu berupa sebuah kebijakan. Proses perumusan kebijakan politik luar negeri dapat di gambarkan melalui bagan dibawah ini:

(37)

28 Bagan.1 Proses Perumusan Keputusan Kebijakan Luar Negeri

Sumber: (Perwita dan Yani 2005. 60)

Lingkungan internal merupakan lingkungan yang berada di dalam sistem politik negaranya sendiri yang mana lingkungan internal mempengaruhi proses pengambilan keputusan untuk menghasilkan output atau sebuah kebijakan yang akan di implementasikan terhadap lingkungan eksternal yang pada akhirnya akan menjadi sebuah penilaian bagi kebijakan tersebut.

Politik luar negeri suatu negara dipastikan mengarah kepada promosi kepentingan nasional suatu negara termasuk juga negara Amerika Serikat.Tindakan-tindakan Amerika Serikat ini tercermin dari serangkaian kebijakan luar negeri Amerika Serikat yang terkait kompetisi ekonomi, memperkuat pertahanan di perbatasan negara,mewujudkan perdamaian,kebebasandan upaya perluasan ideologi demokrasi.Namun pada

Pengambilan Keputusan

Lingkungan Internal

Output (Kebijakaan) Penilaian Informasi

Implementasi Kebijakan Lingkungan Eksternal

Input

(Dukungan/Tuntutan)

(38)

29 dasarnya politik luar negeri tidak pernah pernah bersifat tetap, politik luar negeri harus merespon dan merumuskan kebijakan sesuai dengan kepentingan nasional dan peluang dalam hubungan internasional. (Ardiyanti, 2017)

Beberapa aktor yang memegang peranan penting dalam kebijakan luar negeri Amerika Serikatyaitu :

a. Presiden berperan sebagai penyelenggara politik luar negeri melalui departemen luar negeri dan menunjuk dan memberhentikan duta besar (atas persetujuan kongres).

b. Kongres berperan dalam menunjuk duta besar dan menyetujui ataupun meratifikasi pembuatan kebijakan yang di buat oleh presiden.

c. Senat dan house of representative berperan dalam mengeluarkan resolusi ataupun menolaknya.

d. Departemen berperan dalam penyelenggaraan secara administrasi politik luar negeri Amerika Serikat.(Septiandaru, 2018)

Dalam setiap pembuatan kebijakan luar negeri tentu terdapat lembaga atau institusi yang berperan. Dalam pembuatan kebijakan, Amerika Serikat memiliki institusi yang berperan penting, diantaranya yaitu :

a.Department of State b.Department of Defense c.National Security Council d. Central Intelligence Agency

Secara umum berbagai arah kebijakan luar negeri Amerika Serikatuntuk mencapai tujuan nasionalnya yaitu memantapkan diri sebagai polisi dunia,

(39)

30 mendominasi akan sumber daya alam, orientasi ekonomi, penyebaran ideologi liberalisme dan demokrasi, keamanan nasional dan pemberantasan terrorisme, serta mewujudkan tatanan dunia baru.

Dalam format politik internasional Amerika Serikatterdapat dua pilar paling mengemuka yang dijadikan kebijakan pokok negara Amerika Serikat yaitu demokratisasi (termasuk HAM) dan liberalisme ekonomi dunia. Fenomena pelanggaran hak asasi manusia semakin tahun semakin berkembang, bahkan telah menjadi permasalahan global.Maka dari itu Amerika Serikat telah mengeluarkan Deklarasi Universal Hak-Hak Asasi Manusia (Deklarasion of Human Right) pada tahun 1948. Deklarasi ini mencantumkan penjaminan atas kebebasan manusia, terutama kebebasan beragama, berpendapat, kepemilikan, dan perilaku. (Minalto, 2015)

(40)

31 BAB III

GAMBARAN UMUM

Dalam perkembangannya telah terjadi suatu pergeseran konsep keamanan tradisional ke keamanan non-tradisional.Konsep keamanan non-tradisional dikaitkan dengan kasus perdagangan manusia (Human Trafficking).Perjalanan sejarah menunjukan bahwa perdagangan manusia telah dimulai sejak zaman kerajaan kolonialisme yang di kenal dengan era perbudakan.Perbudakan dipandang sebagai konsekuensi logis dari penjajahan dan kekuasaan pemimpin yang membutuhkan sumber daya manusia untuk kepentingan Negara atau dinastinya.(Padilah, 2016)

Sejarah kelam kemanusian yang membuat hati miris dan sulit dilupakan adalah perbudakan.Penistaan derajat manusia ini terjadi pada abad pertengahan bahkan memasuki abad 21.Peran konferensi Asia afrika di Bandung yang di prakarsai Presiden pertama Indonesia Soekarno menjadi salah satu pencetus munculnya kemerdekaan perbudakan, juga mendorong penghapusan sistem perbudakan. Perdagangan manusia atau yang dikenal dengan perdagangan budak banyak terjadi di belahan dunia. Zaman kolonialisme atau yang disebut sebagai masa-masa Imperialisme klasik membawa banyak cerita duka tentang eksploitasi manusia.Pada saat itu manusia dan tahanan kerajaan di perlakukan sebagai komoditas utama yang dapat di perjualbelikan. Kala itu juga diperdagangkan di pasar budak internasional yang telah tersistem.

(41)

32 Dalam sejarahnya, perjuangan melawan perbudakan telah muncul sejak tahun 1562, dipimpin oleh raja Portugal.Pada masa itu perdagangan budak dianggap sebagai tindakan kejahatan kemanusiaan yang melibatkan kelompok sindikat internasional.Permainan Negara- Negara barat yang membutuhkan modal besar, pasar yang luas, sumber bahan mentah, dan energy serta buruh yang murah.Untuk itulah Negara-Negara barat melakukan kolonialisasi.Beberapa pemimpin Afrika Barat berusaha dengan melarang pengangkutan budak melewati wilayah atau daerah kekuasaannya.Namun usaha tersebut selalu gagal karena usaha atau perjuangan tersebut hanya bersifat local dan tanpa didukung senjata yang memadai. Sementara para pemburu budak di Eropa rata-rata memiliki senjata api yang sangat ditakuti pada saat itu, sehingga, sekitar 11 juta warga Afrika menjadi korban kekejaman dalam bisnis eksploitasi manusia lewat perbudakan ini selama empat abad di masa lalu. (Padilah, 2016).

A. Perdagangan Manusia di Perbatasan Meksiko-Amerika Serikat Tahun 2000-2006

Selama dekade terakhir isu perdagangan manusia menjadi isu fenomenal di dunia internasional.Setiap tahun, jutaan orang di seluruh dunia bermigrasi dari negara mereka ke negara-negara yang memiliki prospek yang lebih menarik untuk pekerjaan dan kehidupan yang lebih layak.Umumnya mereka mencari negara-negara dengan pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi dengan harapanmendapatkan kesempatan yang lebih baik.Kebanyakan korban dari perdagangan manusia adalah para migran yang tidak memiliki dokumen resmi, mereka adalah target sistematis diskriminasi dari para pelaku kejahatan terorganisir dan para korban biasanya dieksploitasi.(Padilah, 2016)

(42)

33 Di berbagai negara kasus kejahatan perdagangan manusia menjadi fenomena gunung es.Kasus kejahatan perdagangan manusia kini tidak hanya terjadi di negara-negara berkembang namun juga marak terjadi di negara-negara maju. Di dalam kasus kejahatan perdagangan manusia terdapat 3 jenis negara dalam operasinya yaitu negara tujuan, negara transit dan negara asal. Dalam kasus ini, Amerika Serikat merupakan negara tujuan para migran tak berdokumentasi dan Meksiko sebagai negara transit, Meksiko dijadikan sebagai negara transit karena Meksiko merupakan tempat yang aman dan memiliki jalur strategis untuk ke negara tujuan yaitu Amerika Serikat.Jalur perbatasan Meksiko Amerika Serikat inilah yang dijadikan jalur untuk para migran tak berdokumentasi menyeberang ke Amerika Serikat.Jalur perbatasan Meksiko Amerika Serikatdimanfaatkan oleh para pelaku kejahatan terorganisir untuk memperdagangkan para migran tak terdokumentasi ini.(Laporan Tahunan Kedutaan Besar RI-Mexico 2001, h.28-29).

Gambar 3.Jalur Perdagangan Manusia di Perbatasan Meksiko-Amerika Serikat

Sumber: fmcsa.dot.gov

(43)

34 Perbatasan wilayah antar negara memiliki potensi interaksi kejahatan yang sangat besar. Wilayah perbatasan yang kumuh dan tidak tersentuh pembangunan menimbulkan banyak tindak kejahatan, salah satunya adalah tindak kejahatan perdagangan manusia. Perbatasan Meksiko sebelah utara yang berseberangan dengan Amerika Serikat merupakan jalur strategis, sehingga hal tersebut dijadikan peluang besar bagi para kejahatan terorganisir.Wilayah perbatasan Meksiko sebelah utara yang berseberangan dengan Amerika Serikat di negara bagian California, Arizona, New Mexico, dan Texas.(Rebecca, 2016)

Korban yang rentanakan perdagangan manusia umumnya adalah perempuan dan anak-anak, namun juga tidak menutup kemungkinan laki-laki sebagai korban tindak kejahatan peradagangan manusia. Menurut US Departement of State’s TIP Report sebagian besar korban perdagangan manusia adalah wanita (77%).Dari jumlah tersebut diperkirakan 87% dilakukan untuk tujuan-tujuan eksploitasi seksual.(Editor, 2005)

Para korban dari perdagangan manusia direkrut oleh para pelaku tindak kejahatan terorganisir. Para korban menjalani proses eksploitasi, biasanya perempuan dan anak perempuan dipaksa untuk dijadikan pelacur, dan korban lainnya biasanya dijual untuk dijadikan buruh dengan upah rendahataupun kerja paksa. Para Korban ini umumnya merupakan para migran yang ingin hijrah ke Amerika Serikat, namun karena tidak mempunyai dokumentasi yang sah dan lengkap, maka para tindak kejahatan terorganisir memanfaatkan hal tersebut.Rentanya jalur perbatasan sebagai jalur tindak kejahatan terorganisir sehingga terjadinya peningkatan aktivitas perdagangan manusia di wilayah

(44)

35 perbatasan Meksiko Amerika Serikat. (Hanifah, 2017)Dalam hal ini penulis akan menjelaskan terjadinya perdagangan manusia di perbatasan Meksiko Amerika Serikat dari tahun 2000 hingga 2006 yang dituangkan dalam bentuk grafik.

Grafik 1.

Human Trafficking in United States-Mexico Border Visas H-2 from 2000-2006

Sumber: US Departement of Homeland Security

Dilihat pada grafik diatas terjadi peningkatan aktivitas perdagangan manusia di perbatasan Meksiko-Amerika Serikat setiap tahunnya.Pada tahun 2000 pemerintah Amerika Serikat mulai menyadari bahwa negaranya bermasalah dengan perdagangan manusia. Dapat dilihat dari data di atas terjadi sekitar 27.755 para migran tak berdokumen yang diperdagangkan di perbatasan Meksiko Amerika Serikat, mereka berhasil ditangkap oleh petugas keamanan jalur perbatasaan dalam upaya menyeberang ke Amerika Serikat.

27.75 41.85

52.97 65.87

56.28

89.18 92.18

0 0

0 0

0

0 0

0 0

0 0

0

0 0

0 0

0 0

0

0 0

0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100

25 40 55 70 85 100 115

Imigran Ilegal yang diperdagangkan

(45)

36 Pada tahun 2001 terjadi peningkatan perdagangan manusia, menurut data yang diperoleh sekitar 41.850 para migran tak berdokumen tertangkap dijalur perbatasan. Pada tahun ini pemerintah Amerika Serikat memperketat pemeriksaan seluruh akses terutama jalur perbatasan yang sangat rentan akan tindakan kejahatan, hal ini dilakukan akibat peristiwa 11 September 2001, sehingga pemerintah Amerika Serikat memperketat seluruh akses atau pintu keluar masuk para migran serta meningkatkan penjagaan di seluruh wilayah perbatasan.

Pada Tahun 2002 terdapat sekitar 52.972 migran tak berdokumen yang siap untuk diperdagangkan berhasil ditangkap oleh petugas keamanan perbatasan yang dilaporkan ke Dewan Keamanan Dalam Negeri Amerika Serikat.Peningkatan terjadi setiap tahunnya.Perempuan, anak-anak, pria telah dibeli, dijual diangkut untuk dijadikan budak oleh para tindak kejahatan terorganisir.Para korban awalnya diberikan janji-janji palsu, diiming-imingin sesuatu hal yang berhubungan dengan kemewahan agar mereka tertarik, namun setelah berhasil para pelaku kejahatan ini mengancam, mengintimidasi atau bahkan memberikan perlakuan kasar terhadap korban.(Justice, 2002)

Pada tahun 2003 petugas patroli perbatasan berhasil menangkap 65.878 para migran tak berdokumen yang hendak menyebrang ke Amerika Serikat.Peningkatan sekitar 13.000 dari tahun sebelumnya. Pada tahun 2004 terjadi penurunan angka perdagangan manusia,namun tidak terlalu signifikan.Hal ini dikarenakan pemerintah Amerika Serikat mulai membenahi wilayah perbatasannya dan melakukan upaya-upaya lainnya untuk memerangi masalah perdagangan manusia ini.(Dea, 2018)

(46)

37 Pada Tahun 2005 terjadi lonjakan tajam, terdapat selisih sekitar 33.000 dari tahun sebelumnya, sehinggapemerintah Amerika Serikat merasa perlu untuk melakukan kampanyemengatasi kejahatan perdagangan manusia dan pada tahun 2006 pemerintah Amerika Serikat menggerakan seluruh lembaga atau institusi terkait dalam memerangi masalah perdagangan manusia ini.Terjadinya peningkatan aktivitas di jalur perbatasan Meksiko Amerika Serikat, karena masih lemahnya peraturan keimigrasian dan penjagaan wilayah sehingga Meksiko dijadikan tempat transit yang aman untuk mencapai negara tujuan. Wilayah Meksiko sebagian besar belum tersentuh dalam kerangka hukum dan kurangnya kesadaran pemerintah dalam memerangi kejahatan dalam ruang lingkup dan efektivitas.(Justice, 2002)

Meskipun baru-baru ini Meksiko mengadopsi protokol internasional untuk memerangi perdagangan manusia dan kerjasama penegakan hukum meningkat, sebagai akibat dari pertumbuhan ekonomi yang tidak memadai di wilayah Amerika Latin dan negara asal lainnya ditambah dengan sejarah pola imigrasi sehingga meningkatkan aktivitas tindak kejahatan perdagangan manusia.

Maka terjadi peningkatan aktivitas perdagangan manusia di perbatasan Meksiko Amerika Serikat yang mengancam kedaulatan Amerika Serikat. Amerika Serikat bertindaktegas untuk memerangi permasalahan ini yaitu dengan mengeluarkan kebijakan-kebijakan serta melakukan upaya-upayauntuk menangani permasalahan ini.(Harkrisnowo, 2003)

(47)

38 B. Ancaman Transnasional

Persepsi tentang ancaman Transnasional tidak saja merupakan syarat yang cukup untuk menjelaskan sikap suatu negara. Ancaman Transnasional dapat hadir dari kelompok-kelompok yang bersifat memusuhi dengan memakai sarana apa saja yang dimiliki untuk mencapai tujuan-tujuan yang mereka anggap penting bagi mereka sendiri dan kelompok-kelompok ini menguasai sarana-sarana kekerasan fisik dengan memberikan tekanan pada lawan-lawan mereka dengan memperlihatkan apa yang mereka anggap sebagai kekuatan mereka (Morghentau 2010.582).

Ancaman Transnasional menyajikan beberapa dimensi, maka beberapa negara memilih orientasi ini sebagai cara menanggulangi bahaya luar. Beberapa dimensi ancaman Transnasionaltersebut yaitu:

1. Ancaman Keamanan.

Ancaman secara militer merupakan keberadaan dan kedaulatan suatu negara menempati tempat teratas dalam isu keamanan.Ancaman militer memiliki kategori tersendiri karena melibatkan penggunaan kekuatan.Penggunaan kekuatan memiliki potensi yang sangat besar yang dapat menyebabkan perubahan yang sangat tidak diinginkan. Mengingat hal tersebut, maka ancaman militer menjadi prioritas utama dalam masalah kemanan nasional (national security) (Buzan,1991.118).

2. Ancaman Politik.

Ancaman politik terjadi dalam bentuk tertentu untuk mengubah tujuan- bentuk atau struktur institusi-institusi politik serta mulai menekan

(48)

39 pemerintah lewat kebijakan-kebijakan tertentu, penggulingan pemerintahan, menggerakan kekacauan.Target dari ancaman politik ini adalah nilai-nilai negara, terutama identitas nasional, idiologi, dan beberapa institusi yang terkait.

3. Ancaman Ekonomi.

Ancaman luar yang tidak kalah penting adalah ancaman ekonomi.Namun berlainan dengan ancaman politik dan militer dari luar, ancaman terhadap keamanan nasional ini mempunyai implikasi langsung dengan kelangsungan hidup negara lain.Masalah utama dari ide tentang keamanan ekonomi adalah berlangsungnya kondisi normal dari aktor-aktor pelaku pasar tanpa gangguan persaingan tidak sehat dan ketidakpastian.Ancaman ekonomi juga mengkaji masalah pengangguran, kemiskinan, keterbatasan terhadap sumber daya, dan daya beli rakyat.

4. Ancaman Sosial.

Ancaman sosial terhadap keamanan nasional biasanya datang dari dalam negeri.Keamanan sosial adalah ancaman mengenai keberlanjutan dari perubahan nilai, budaya, kebiasaan, identitas etnik. Menurut Barry Buzan, ancaman sosial dapat dibagi menjadi beberapa bentuk, yang secara mendasar yaitu: ancaman fisik (kematian, kesakitan), ancaman ekonomi (pengerusakan hak milik, terbatasnya akses lapangan kerja), ancaman terhadap hak-hak (pembatasan hak-hak kebebasan sipil), dan ancaman terhadap posisi atau status (penurunan pangkat, penghinaan di depan publik).

(49)

40 Faktor utama yang dapat meningkatkan intensitas ancaman adalah maksud dan tujuan dari ancaman itu sendiri. Selain itu juga ada beberapa faktor lain yang jugadapat meningkatkan intensitas ancaman yaitu kedekatan dalam jangkauan jarak dan waktu, probabilitas terjadinya ancaman tersebut, besarnya konsekuensi dan persepsi ancaman tersebut juga didorong oleh adanya pengfalaman sejarah.

Keamanan nasional adalah perlindungan tentang kehidupan yang diinginkan oleh masyarakat dan berjalan harmonis dengan kepentingan dan aspirasi orang lain.

Hal tersebut mencakup kebebasan dari serangan atau tindakan koersif militer, kebebasan dari tindakan-tindakan internal dan kebebasan dari erosi terhadap nilai- nilai politik, sosial dan ekonomi yang sangat penting bagi kualitas kehidupan.(Sudarsono, 2003)

Menurut Mearsheimer, negara di bawah tekanan besar ketika berusaha untuk membentuk penyajian akurat tentang dunia dan bereaksi terhadap tindakan- tindakan yang datang dari negara-negara (super power) lainnya secara tepat.

Dengan kondisi demikian, negara-negara cenderung menjadi sangat curiga, dan menganggap kecurigaan tersebut sebagai suatu kebaikan guna mengantisipasi skenario terburuk dari tindakan-tindakan yang akandilakukan oleh negara lainnya di dalam sistem.

Menurut Francis Fukuyama, persepsi ancaman adalah ketika sebuah negara menigkatkan kapasitas militer yang dimilikinya dan membuat negara lain merasa terancam sehingga meningkatkan kapasitas militer yang dimilikinya sebagai tindak defensive untuk menyaingi negara tersebut. Negara yang satuakan menganggap tindakan defensif tersebut sebagai ancaman, kemudian negara yang

(50)

41 lainnya akan melakukan tindakan defensif lain yang akan diinterprestasikan sebagai tindakan ofensif dan begitu seterusnya. Kesalingcurigaan tersebut, dapat mengarah pada suatu situasi yang disebut sebagai dilema keamanan, dimana tindakan politik dan militer yang dilakukan oleh suatu negara dilihat sebagai satu ancaman bagi negara lain.

Menurut Budi Winarno (2011,308-312) beberapa hal yang melatarbelakangi tadinya perdangangan manusia meliputi:

1. Kemiskinan melemahkan posisi tawar manusia dalam kehidupan. Dalam kasus perdagangan manusia, individudijadikan sebagai komoditas, ekonomi yang dieksploitasi secara fisik dan pisikologis. Alasan individu yang terjebak dalam kejahatan perdagangan manusia tidak lain iyalah untuk memenuhi kebutuhan hidup atau mencari pendapatan. Fenomena ini tidak hanya terjadi pada masyarakat negara-negara berkembang meningkat tajam karena tingginya jumlah hutang luar negri yang harus dibayar setiap tahunnya sehingga pembayarannya telah menghasilkan sebagian besar pendapatan Negara. Di sisi lain investasi asing tidak mampu menciptakan dan memperluas lapangan pekerjaan. Kemiskinan dan ketidaksetaraan ekonomi tampaknya menjadi wabah yang meklanda dunia. Oleh sebab itu,kondisi ekonomi lemah yang dialami masyarakat dapat menjadi factor pendorong masing-masing individu untuk mencari pekerjaan Negara lain.

Negara yang belum mampu memberikan kesejahteraan bagi masyarakatnya mendorong mereka mencari penghidupang dengan berbagai cara meskipun

(51)

42 hal tersebut membawa mereka menjadi sebuah komoditas ekonomi yang tidak manusiawi.

2. Lamanya peran dan control pemerintah (Law Enforcement) Negara adalah sebuah wilayah hokum yang berdaulat dan berkewajiban menjamin kesejahteraan warga negaranya. Pemerintah harus berada digarda terdepan dalam membuat kebijakan social dan ekonomi untuk mengatasi jurang kemiskinan dan memberikan perlindungan hokum kepada masyarakat dari tindak kejahatan prdagangan manusia.

3. Kejahatan transnasional dibalik fenomena globalisasi kejahatan transnasional merupakan implikasi negative dari fenomena globalisasi kejahatan perdagangan manusia muncul sebagai sebuah kasus yang di hasilkan dari mekanisme pemerintaan dan penawaran. Kejahatan perdagangan manusia juga semakin meningkat seiring dengan maraknya perpindahan manusia lintas Negara. Adapun mekanisme penawaran karena globalisasi menyebabkan peningkatan ekonomi dan perbedaan demografik antara Negara maju dengan Negara berkembang

Menurut informasi PBB yang diterbitkan dan dipublikasikan dalam The UnitedStates Departement Of Justice(DOJ), data yang ditemukan perdagangan manusia antara lain (Christopher H. Smith dalam Harkristuti Harkrisnowo, 2003):

1. Sebagian besar manusia yang diperdagangkan berasal dari Negara-Negara berkembang yang rendah tingkat ekonominya, untuk dibawah kenegara- negara maju

Gambar

Gambar 3.Jalur Perdagangan Manusia di Perbatasan   Meksiko-Amerika Serikat

Referensi

Dokumen terkait

Sedangkan hubungan GDP Amerika Serikat dengan Neraca Perdagangan Inionesia adalah positif p{du tog kedua dan negatif pada lag keempat' Properti lain dari VAR, yain

Banyak yang berpendapat bahwa keterlibatan Amerika Serikat dalam konflik yang terjadi di wilayah Kosovo sebenarnya dikarenakan adanya kepentingan ekonomi dari

Asteroid sendiri dalam skenario tersebut difungsikan sebagai batu loncatan utama dalam misi – misi eksplorasi Amerika Serikat, karena tidak hanya asteroid

Untuk itulah upaya Amerika Serikat dalam melindungi Hak Kekayaan Intelektual yang menjadi kepentingan nasionalnya dilakukan melalui lembaga milik pemerintah Amerika Serikat

Penulis skripsi yang berjudul ''Faktor Dibalik Keputusan Donald Trump Dalam Membangun Tembok Perbatasan Di Perbatasan Amerika Serikat Dengan Meksiko (2016-2020)”..

seluruh dunia. Unilateralisme Amerika Serikat dan Partisipasi Negara Berkembang.. Amerika Serikat menjadi satu-satunya negara Annex I yang tidak meratifikasi.. protokol

Selain itu, Trump juga akan membangun tembok perbatasan dengan Meksiko di mana dilihat dari aspek ekonomi, banyaknya imigran dari negara lain masuk ke Amerika yang

Larangan perdagangan limbah plastik lintas negara dalam Konvensi Basel membuat negara-negara anggota memiliki landasan untuk menolak limbah impor dari Amerika Serikat, termasuk