• Tidak ada hasil yang ditemukan

B. Rancangan Intervensi

XI. HASIL INTERVENSI

9. Praktikan juga meminta peserta membuka buku pantauan dan pendampingan gangguan jiwa yang dikeluarkan oleh pihak Puskesmas Piyungan yang sudah sering digunakan. Praktikan menjelaskan alur pengisian adminitrasi dalam buku tersebut

10. Setelah proses dilakukan praktikan memastikan kembali pemahaman peserta terkait pelaksanaan deteksi dini

Sesi III Evaluasi dan Program Tindak Lanjut

1. Peserta diajak untuk ice breaking terlebih dahulu untuk merelekskan badan dan membangkitkan semangat kembali peserta untuk melanjutkan kegiatan

2. Praktikan memutarkan video mengenai “Desa Siaga Sehat Jiwa “ dari RSJD Arif Zainudin Surakarta. Peserta diminta untuk mereview video tersebut

3. Praktikan mengajak peserta untuk berdiskusi mengenai program tindak lanjut setelah kegiatan ini selesai ke dusun masing-masing.

4. Praktikan memberikan tugas kepada peserta berupa menyebarkan informasi kesehatan mental berbentuk poster dan pamflet soft file ke group whatsapps secara bebas dan mengirimkan ke group Gemar Sejiwa ketika sudah mendapatkan minimal 3 responden dari group masing-masing kader

5. Praktikan memberikan post test kepada peserta

6. Praktikan menutup serangkaian kegiatan dan memberikan affirmasi kepada peserta kader jiwa untuk bersemangat dalam melaksanakan program ke masyarakat.

7. Praktikan memberikan honor yang diberikan oleh pihak Puskesmas Piyungan.

Proses intervensi yang dilaksanakan pada tanggal 08 April 2022 di Balai Desa S dihadiri oleh 21 peserta yaitu perwakilan dari 11 dusun yang ada di Desa S.

Satu dusun tidak hadir tanpa memberikan keterangan terkait kehadirannya. Proses intervensi pada pertemuan 1 kali ini dilaksanakan pada pukul 12.30 – 15.30 karena mengingat pelaksanaan pada bulan puasa. Peserta datang tepat waktu sesuai dengan jadwal yang telah disampaikan pada surat undangan dan langsung melakukan registrasi. Antusias peserta dalam proses pelaksanaan kegiatan cukup baik dari kehadiran peserta yang tepat waktu, kemudian peserta merupakan kader kesehatan yang sudah memiliki pengalaman dalam pelaksaan kegiatan desa.

Terlihat dalam kegiatan intervensi individu dari kader sudah terorganisir untuk memahami jobdisk kegiatan terlihat pada saat penujukkan kader untuk memimpin lagu Indonesia Raya. Pada pertemuan 1 peserta diberikan psikoedukasi mengenai kesehatan mental berbasis masyarakat dan juga fungsi serta peran kader jiwa dalam proses pendampingan serta deteksi dini dimasyarakat, hal ini didasarkan bahwa salah satu penanganan dalam kesehatan mental perlu dilakukan juga tindakan promosi serta preventif untuk memberikan dukungan sosial bagi penderita dan keluarga. Hal ini juga di sampaikan oleh Pusat Komunikasi Publik Sekretariat Jenderal Kementerian Kesehatan RI, 2014 bahwa upaya lain yang tidak kalah pentingnya adalah pemberdayaan ODGJ, agar dapat hidup mandiri, produktif, dan percaya diri ditengah masyarakat umum, bebas dari stigma, diskriminasi, rasa takut, malu serta ragu-ragu. Upaya ini ditentukan oleh keluarga dan elemen masyarakat (Wardhani dan Paramita, 2016). Ketika peserta diminta

Jumlah 22

untuk memberikan informasi mengenai kondisi dusun masing-masing terkait penderita gangguan jiwa peserta terlihat semangat serta antusias dengan materi yang disampaikan.

Walaupun peserta masih memiliki anggapan gangguan jiwa adalah individu yang gila, suka marah-marah, dan juga terlihat keluyuran namun setelah diberikan psikoedukasi gangguan jiwa peserta memiliki pandangan berbeda dan lebih terbuka lagi terkait gangguan jiwa. Anggapan-anggapan terkait gangguan jiwa tersebut seperti halnya yang disampaikan oleh Keliat (dalam Indrawat, dkk 2018) yang mengatakan bahwa anggapan dimasyarakat Indonesia, ada beberapa persepsi yang terdapat di orang dengan gangguan jiwa yang pertama keyakinan- keyakinan akan gangguan jiwa disebabkan banyak dosa, tempat keramat, gangguan ghoib, setan, sesaji yang salah. Kedua gangguan jiwa adalah penyakit yang tidak bisa disembuhkan. Ketiga gangguan jiwa merupakan suatu penyakit yang bukan urusan medis, dan yang keempat gangguan jiwa adalah suatu penyakit yang selalu diturunkan. Tanggapan tersebut ditunjukkan peserta dalam memberikan respon berupa pertanyaan-pertanyaan yang di ajukan cukup bervariatif seperti halnya cara penanganan, gangguan spesifik serta cara pendampingan.

Pandangan peserta tersebut juga dapat dibuktikan dalam sebuah penemuan bahwa masih banyak tantangan yang harus dilakukan dalam penanganan kesehatan mental di Indonesia hal ini dikerenakan adanya sebuah stigma buruk yang masih mengakar dan stigma-stigma tersebut mengakibatkan sebuah hambatan dalam proses penanganan kesehatan mental sehingga adanya penanganan yang salah yang diterapkan di masyarakat (Ayuningtyas, Misnaniarti, Rayhani 2018).

orang. Pertemuan ke 2 ini adalah hasil musyawarah yang dilakukan pada pertemuan sebelumnya. Pada awal pertemuan seperti halnya pada pertemuan 1 dimana adanya sebuah pembukaan dan jalannya acara sudah tersistematis dari kader dan praktikan. Pada saat game pun untuk merefleksikan materi pada pertemuan sebelum antusias dari kader cukup tinggi meskipun harus membuka catatan dari pertemuan sebelumnya namun hal itu tidak menyurutkan keinginan peserta untuk menjawab pertanyaan dari praktikan. Ada 2 kader yang menjawab dengan benar pertanyaan dari praktikan dan dari hasil keberaniannya diberikan hadiah dari praktikan untuk kader tersebut.

Setelah itu praktikan melanjutkan untuk memberikan materi mengenai tahapan konseling yang dapat peserta terapkan saat peserta terjun di masyarakat. Pada saat praktikan menjalaskan mengenai materi tersebut terlihat para peserta fokus untuk mendengarkan dan mencatat materi tersebut ada juga yang memfoto materi yang diberikan oleh praktikan. Dalam akhir penyampaian materi pertama ada tugas yang harus peserta kerjakan yaitu membuat tahapan-tahapan konseling berdasarkan bahasa dan pemahaman peserta. Terlihat peserta ada yang langsung mengerjakan da nada juga yang berdiskusi namun ada beberapa peserta yang tidak menulis mengenai tugas yang diberikan namun langsung menyampaikan kepada praktikan bagaimana cara yang biasanya dilakukan pada saat memberikan pendampingan kepada keluarga dan penderita.

Dari hasil tugas tersebut praktikan meminta perwakilan peserta untuk mempraktikkan kedepan bagaimana cara konseling sebagai bentuk pendampingan sesuai dengan tahapan yang telah di buat. Ada dua paserta yang menjadi sukarela

dalam praktik konseling kali ini. Kedua peserta dibagi tugas 1 menjadi konselor dan satu menjadi penderita, peserta yang menjadi konselor menerapkan tahapan- tahapan dan membangun building raport kepada penderita cukup baik serta cara peserta menyampaikan dari segi intonasi, postur badan serta tatapan mata cukup baik sesuai dengan arahan praktikan. Hal ini bisa dikatakan bahwa proses penyampaian materi cukup bisa diterima oleh peserta.

Kemudian praktikan melanjutkan untuk menjelaskan flow chart perujukan atau alur pemeriksaan gangguan jiwa yang telah disampaikan pemateri sebelum namun di modifikasi oleh praktikan. Pada saat proses ada komunikasi 2 arah yang dilakukan oleh praktikan dan peserta sehingga hal ini dapat memastikan bahwa peserta fokus dengan flow chart dan ada keinginan peserta untuk mengetahui bagaimana proses yang akan dijalani.

Gambar 2. Alur Perujukan Pemeriksaan Gangguan Jiwa

dijalankan bersama beserta penjelasan tugas serta peran disetiap devisi yang akan dijalani. Tujuan dari pembentukan struktur organisasi kali ini, peserta dapat terfokus dalam menjalankan program dalam peran pendampingan serta pemberdayaan kader melalui subdevisi yang akan dijalankan.

Hal ini sesuai dengan yang disampaikan bahwa pelayanan yang diberikan kader jiwa dalam masyarakat dengan optimal dapat membantu keluarga dalam pemenuhan pengetahuan, pemberdayaan dalam segi ketrampilan, religiusitas, kebutuhan obat serta pendampingan secara psikologis (Pinilih, dkk 2020). Tidak hanya dalam pengoptimalan fungsi kader jiwa, namun kader jiwa juga diberikan pembekalan mengenai deteksi dini dalam pengamatan serta pemantuan perkembangan penderita serta pegobatan yang dilakukan dirumah. Diberikannya pembekalan deteksi dini kepada peserta kader kesehatan jiwa dapat mengetahui serta terfokus dalam proses pemberian pelayanan secara preventif dan kuratif terhadap penderita serta keluarga.

Pendapat atas jugaa disampaikan oleh Keliat, dkk (dalam Sambonu, dkk 2019) yang mengatakan bahwa kegiatan deteksi dini merupakan suatu kegiatan yang dilakukan oleh tenaga kesehatan dan masyarakat serta melalui sebuah pelatihan sehingga mampu mendeteksi sedari dini kesehatan mental yang terjadi di dalam masyarakat. Pentingnya adanya sebuah deteksi dini dikarenakan untiuk meningkatkan derajad kesehatan jiwa masyarakat agar individu yang sehat akan tetap sehat, individu yang beresiko tidak mengalami gangguan jiwa serta individu yang memiliki gangguan jiwa dapat memiliki fungsi di masyarakat (Livana, dkk 2018)

Berdasarkan hasil pelaksanaan intervensi diatas memperoleh hasil pre-test dan post-test yang telah dilaksanakan menggunakan skala pengetahuan kesehatan mental yang disusun oleh praktikan. Hasil pre-test dan post-test yang telah dijalannya nantinya akan mendapatkan kategorisasi yang telah dibuat berdasarkan table 9 dan table 10 mengenai skor kategorisasi intervensi komunitas pre-test dan post-test terkait tingkat pengetahuan kader jiwa terkait kesehatan jiwa. Hasil tersebut antara lain:

Table 11. Hasil Pre-test dan Post-test

NO NAMA PRE-TEST KATEGORI POST-TEST KATEGOR I

1 R 12 Sedang 18 Tinggi

2 RW 12 Sedang 18 Tinggi

3 I 13 Sedang 18 Tinggi

4 S 15 Tinggi 18 Tinggi

5 Is 14 Sedang 17 Sedang

6 DS 13 Sedang 17 Sedang

7 M 12 Sedang 17 Sedang

8 U 14 Sedang 16 Sedang

9 HC 12 Sedang 16 Sedang

10 IH 13 Sedang 14 Sedang

11 S 10 Rendah 14 Sedang

12 M 12 Sedang 18 Tinggi

13 B 14 Sedang 17 Sedang

14 H 13 Sedang 19 Tinggi

15 DR 14 Sedang 19 Tinggi

16 ED 14 Sedang 19 Tinggi

17 S 14 Sedang 16 Sedang

18 SN 10 Rendah 18 Tinggi

19 P 10 Rendah 17 Sedang

20 S 12 Sedang 18 Tinggi

21 G 12 Sedang 18 Tinggi

22 SP 13 Sedang 18 Tinggi

R RW I S Is DS M U HC IH S M B H DR ED S SN P S G SP 0

2 4 6 8 10 12 14

Pre-test Post-test

Gambar 3. Grafik Hasil Intervensi Komunitas Pre-test Post-test

Berdasarkan data tabel dan grafik hasil intervensi komunitas diatas ada peningkatan informasi yang di dapat kader jiwa mengenai pengetahuan kesehatan jiwa. Hal ini dapat dikatakan bahwa ada tingkat keberhasilan dalam pemberian psikoedukasi mengenai kesehatan jiwa terhadap kader jiwa yang ada Desa S sehingga hal ini menunjukkan bahwa kesiapan kader jiwa dalam tugasnya memberikan informasi kepada masyarakat cukup baik dan informasi yang diberikan pemateri dapat diterima oleh kader jiwa. Hasil yang diperoleh diatas sesuai dengan pernyataan dari Bahar dan Rinaldi (2021) yang mengatakan bahwa memaksimalkan fungsi dan peran kader, dapat di mulai dari memberikan edukasi terkait perbedaan antara sehat dan sakit (gangguan jiwa) sehingga kader memperoleh gambaran batasan keduanya, dan menjadi memahami ciri-ciri individu yang sehat secara mental.

Paired Samples Test

df Sig. (2-tailed)

Pair 1 pretest - postest 21 ,000

Table 12. Paired Sample T Test.

Hasil dari proses pemberian psikoedukasi diatas juga didukung dengan pengukuran hasil pre-test post-test berdasarkan uji beda Paired Sample T Test sebasar p : 0.000 (<0,05) dengan kata lain bahwa ada perbedaan tingkat pengetahuan peserta sebelum dan sesudah di berikan psikoedukasi kesehatan jiwa. Adanya hubungan yang kuat serta positif dari hasil pengukuran sebelum dan sesudah dengan ditunjukkan data korelasi skala pengetahuan sebesar

A. Hasil Tindak Program Kegiatan Masyarakat Sehat Jiwa

Table 13. Program Kegiatan Lanjutan Masyarakat Sehat Jiwa

No Kegiatan Sasaran Keternagan

1 Penyeberan Informasi Melalui Group Whatsapp

Masyarakat Umu m

Sudah Terlaksana

2 Pemasangan Pamflet Dusun J Sudah Terlaksana

3 Pemasangan Pamflet Dusun BK Sudah Terlaksana

4 Pemasangan Pamflet Dusun PW Belum Terlaksana

5 Pemasangan Poster dan Pamfle t

Dusun J Belum Terlaksana

6 Sosialisasi Dusun BK Sudah Terlaksana

7 Sosialisasi Dusun PW Belum Terlaksana

8 Kunjungan Rumah dan Deteksi

Dini Dusun BK Sudah Terlaksana

9 Sosialisasi Dusun K Belum Terlaksana

10 Deteksi Dini serta Pendamping an

Dusun BK Sudah Terlaksana

11 Sosial Dusun P Sudah Terlaksana

12 Pemasangan Pamflet dan Poste

r Dusun P Sudah Terlaksana

Berdasarkan hasil program tindak lanjut yang telah dilaksankan oleh kader jiwa disetiap dusun mendapatkan respon positif dari group masing-masing kader jiwa. Dimana tanggapan serta informasi tersampaikan dengan tepat kepada group

mendekat terhadap penderita walaupun berdasarkan hasil pelaporan kader ada salah penderita gangguan jiwa mengalami kekambuhan di masyarakat namun masyarakat mulai untuk bersikap tenang kemudian ada kesadaran dari anggota keluarga juga yang sudah memiliki kemauan membawa anggota keluarga ke yayasan agar mendapatkan penanganan lebih intens.

Tidak hanya itu beberapa kader jiwa yang telah mendapatkan pembekalan serta pelatihan adanya sikap peduli dengan lingkungan, hal ini berdasarkan pemantauan bahwa kader Dusun PW melakukan koordinasi dengan pihak puskesmas untuk melakukan kungan rumah terhadap salah satu warga yang mengalami gangguan jiwa berat telah menganggu masyarakat setempat sehingga tindakan preventif dilakuakn bersamaan dengan perawat jiwa dan psikolog. Upaya deteksi dini serta pendampingan sudah terlaksana dengan baik, hal ini menunjukkan kepedulian kader terhadap tanggung jawab serta masyarakat didusun tersebut. Kegiatan tersebut memberikan dampak yang baik dimana adanya kerjasama antara dukuh, rt dan rw setempat dalam pendampinga serta pemberdayaan penderita untuk kembali ke masyarakat seperti halnya mengikuti pengajian atau kegiatan keagamaan.

XII. FOLLOW UP

Hasil follow up berdasarkan tindak lanjut kegiatan intervensi komunitas, bahwa kepedulian warga dibeberapa dusun mengenai peran masyarakat terhadap tingkat pemulihan penderita meningkat. Warga tidak gugup atau panik jika berdampingan dengan penderita langsung serta warga ikut anda dalam memberikan masukan ataupun pengobatan terhadap keluarga penderita.

Tidak hanya itu bahwa kader jiwa yang telah dibentuk dapat lebih peka dalam proses deteksi dini kepada masyarakat seperti hal menemukan gangguan- gangguan baru berupa dukungan keluarga, kemudian kader jiwa melakukan tindak lanjut seperti kerjasama dengan pihak puskesmas dalam proses pendampingan serta terus memberikan sosialisasi dari beberapa media informasi.

Meskipun pemeritaan kegiatan belum sepenuhnya terlaksanakan di 22 dusun namun tanggung jawab yang dilakukan sudah mendapatkan dampak positif terhadap warga.

Dalam dokumen LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI PSIKOLOGI (Halaman 47-57)

Dokumen terkait