PENDAHULUAN
Profil Komunitas
Jumlah penduduk di Kota S memiliki rangkuman data berupa status sosial ekonomi yang dipecah menjadi pendidikan, pekerjaan dan pendapatan. Upaya yang dilakukan pemerintah untuk mengurangi pengangguran di Kota S telah menunjukkan hasil yang baik.
Latar Belakang Permasalahan
Berdasarkan rangkuman data di Puskesmas Piyungan tahun 2022, terdapat 42 warga Desa S yang mengalami gangguan jiwa tergolong berat. Pantauan yang dilakukan pihak puskesmas menunjukkan terdapat salah satu dusun di Desa S yang memiliki warga dengan gangguan jiwa berat.
Tujuan
Manfaat
KAJIAN PUSTAKA
Psikologi komunitas mempunyai makna dan konsep yang terus berkembang sesuai dengan perkembangan terkini, penelitian terkini dan konsep yang relevan (Widianingsih, dkk. 2018). Tantangan yang dihadapi psikologi komunitas adalah membangun kepercayaan, harapan dan toleransi yang mendidik, memahami dan.
Psikologi Komunitas
Kedua, Orang dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) adalah orang yang mengalami gangguan pikiran, perilaku, dan perasaan yang bermanifestasi sebagai kumpulan tanda dan/atau gejala. Pembentukan kerangka mental dilakukan berdasarkan pilihan sukarela masyarakat dengan tujuan untuk memudahkan proses penanganan gangguan jiwa yang banyak terjadi di masyarakat (Kurniawan, 2017). Dengan terbentuknya kerangka mental maka akan terjadi pemerataan kesehatan jiwa di masyarakat, serta optimalisasi deteksi gangguan jiwa baru di masyarakat (Hidayat dan Santoso, 2019).
Dari hasil wawancara dengan petugas kesehatan dan tenaga kesehatan jiwa di desa J, mereka mengatakan bahwa di daerahnya terdapat seorang pengidap gangguan jiwa berat yang tinggal cukup jauh dari masyarakat, tepatnya di atas bukit. Di daerahnya sebelum pandemi ada penderita gangguan jiwa yang dirantai dan keluarganya merasa putus asa dengan kondisi orang sakit. Artinya tenaga kesehatan yang masuk belum mengetahui secara luas tentang jenis-jenis gangguan jiwa.
Pengukuran kesehatan mental digunakan sebagai alat penilaian awal untuk mengetahui pengetahuan profesional kesehatan mental di masa depan mengenai gangguan mental, serta sebagai bentuk tindakan intervensi pre-test dan post-test. Hal ini menyebabkan kesejahteraan sosial keluarga dan penderita gangguan jiwa menurun dan masyarakat tidak lagi melibatkan anggota masyarakat dalam kegiatan bermasyarakat. Kader kesehatan jiwa siap memberikan pertolongan, pemberdayaan dan pencegahan gangguan jiwa di desa Srimulyo melalui proses intervensi.
Dokter juga meminta peserta membuka buku pemantauan dan bantuan gangguan jiwa yang umum digunakan yang diterbitkan oleh Puskesmas Piyungan. Intervensi masyarakat ini didasari oleh fakta bahwa terdapat 42 orang penderita gangguan jiwa di Desa S dan masih banyaknya stigma negatif terhadap penderita gangguan jiwa di masyarakat. Psikoedukasi Tenaga Kesehatan Jiwa : PENANGANAN GANGGUAN JIWA Pada Masyarakat Dusun Jogonalan Kidul Desa Tirtonirmolo Kabupaten Bantul.
Praktisi juga meminta peserta membuka buku pemantauan dan pendampingan gangguan jiwa yang diterbitkan oleh Puskesmas Piyungan yang ada.
Gangguan Jiwa
Kader Jiwa
Pelayanan Gangguan Jiwa
Pendekatan Komunitas
METODE ASESSMENT
Mengetahui keadaan cakupan wilayah Puskesmas dalam kaitannya dengan pengobatan gangguan kesehatan jiwa di wilayah desa S 2 Observasi lapangan melihat kondisi nyata.
PELAKSANAAN ASESSMENET
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil Asesmen
Hasil Wawancara
4 Skala Pengetahuan Kerangka Mental Desa S Untuk mengetahui... pemahaman tentang gangguan jiwa dan sebagai alat ukur pre-test post-test. Sehingga pada saat proses intervensi akan diberikan Psikoedukasi Kesehatan Jiwa Berbasis Komunitas serta Fungsi dan Peran Kader Kesehatan Jiwa Desa, akan ada video yang menampilkan peran dan fungsi kader kesehatan jiwa. informasi serta kesepakatan untuk hari pertemuan berikutnya.
Kader jiwa mendapatkan pengetahuan baru tentang kesehatan jiwa berbasis komunitas dan fungsi kader jiwa dari para ahli kesehatan jiwa dan psikolog yang bertugas di Puskesmas Piyungan. Sehingga kehadirannya dalam kegiatan ini diharapkan memberikan pelatihan mengenai peran dan fungsi kader kesehatan jiwa di desa S serta pelatihan mengenai kesehatan jiwa. Memberikan pelatihan bagi kader kesehatan jiwa agar siap terjun ke lapangan dan memberikan edukasi tentang kesehatan jiwa kepada warga.
Dari hasil intervensi, kader kesehatan jiwa mempunyai wawasan kesehatan jiwa yang akan disosialisasikan kepada masyarakat. Kader Jiwa dan Kamituwo Desa S memahami materi terkait kesehatan jiwa berbasis komunitas serta fungsi dan peran kader spiritual.
Rekap Data Ganggun Jiwa Per Januari 2019
Alat Ukur Skala Pengetahuan Kesehatan Mental
ANALISIS KEBUTUHAN
ANALISIS SWOT
Puskesmas mendukung program pembentukan kerangka mental dan akan menjadikannya agenda tahunan dan diajukan sebagai anggaran pelaksanaan program puskesmas. Adanya sikap penarikan diri dari keluarga terhadap masyarakat setempat dan adanya tindakan pengurungan, pemasungan dan tidak adanya perawatan terhadap mereka yang berkebutuhan kesehatan jiwa.
DINAMIKA KOMUNITAS
Stigma negatif tersebut seperti mengucilkan penderita gangguan jiwa, memberi label “wong gendheng” pada penderita gangguan jiwa dan masyarakat tidak peduli terhadap perilaku menyimpang penderita gangguan jiwa. Masyarakat acuh tak acuh ketika ODGJ berkeliaran di tengah masyarakat, ada label “Wong gendheng” bagi penderita gangguan jiwa, kepedulian terhadap penderita gangguan jiwa jika mengalami penyakit fisik atau menjadi korban kecelakaan.
RANCANGAN INTERVENSI ATAU REKOMENDASI
Intervensi
Rancangan Intervensi
PELAKSANAAN INTERVENSI
Peserta mendaftar dan mendapatkan tas berisi pamflet kesehatan jiwa komunitas, formulir deteksi dini dan panduan kesehatan jiwa. Praktisi memberikan tugas kepada peserta berupa membagikan informasi kesehatan jiwa dalam bentuk poster dan softfile pamflet ke grup WhatsApp secara gratis dan mengirimkannya ke grup Gemar Sejiwa bila mendapat minimal 3 responden dari masing-masing kelompok kader.
HASIL INTERVENSI
Meskipun peserta masih berpandangan bahwa gangguan jiwa adalah individu yang gila, suka marah-marah dan juga terkesan merantau, namun setelah diberikan psikoedukasi tentang gangguan jiwa, para peserta mempunyai pandangan yang berbeda dan lebih terbuka tentang gangguan jiwa. . Asumsi mengenai gangguan jiwa tersebut seperti yang dikemukakan oleh Keliat (dalam Indrawat, dkk. 2018) yang mengatakan bahwa dalam masyarakat Indonesia terdapat beberapa persepsi yang ada pada penderita gangguan jiwa, yang pertama adalah keyakinan tentang gangguan jiwa disebabkan oleh banyak hal. rakyat. dosa, tempat suci, campur tangan supernatural, Setan, persembahan yang salah. Gangguan jiwa yang ketiga merupakan penyakit yang tidak menjadi perhatian medis, dan gangguan jiwa yang keempat merupakan penyakit yang selalu diturunkan.
Kemudian praktisi melanjutkan dengan menjelaskan diagram alur rujukan atau alur pemeriksaan gangguan jiwa yang sebelumnya disampaikan oleh pembicara namun dimodifikasi oleh praktisi. Pentingnya deteksi dini karena dapat meningkatkan derajat kesehatan jiwa di masyarakat sehingga individu yang sehat akan tetap sehat, individu yang beresiko tidak mengalami gangguan jiwa dan individu yang mengalami gangguan jiwa dapat mempunyai fungsi di masyarakat (Livana, et al. al.2018). Hasil pre dan post test yang dilakukan nantinya akan mendapat kategorisasi yang dibuat berdasarkan tabel 9 dan tabel 10 mengenai skor kategorisasi intervensi masyarakat sebelum dan sesudah test terkait dengan tingkat pengetahuan kader spiritual mengenai mental. kesehatan.
Berdasarkan data tabel dan grafik hasil intervensi masyarakat di atas, terdapat peningkatan informasi yang diterima oleh para eksekutif kesehatan jiwa mengenai pengetahuan kesehatan jiwa. Berdasarkan hasil program tindak lanjut yang dilaksanakan oleh kader jiwa di masing-masing dusun, mendapat respon positif dari masing-masing kelompok kader jiwa. Tak hanya itu, berbagai kader kesehatan jiwa telah dibekali fasilitas dan pelatihan untuk menjaga lingkungan. Hal ini berdasarkan pengawasan kader Dusun PW yang berkoordinasi dengan pihak puskesmas untuk menerapkan tahanan rumah terhadap salah satu warga yang mengalami gangguan jiwa berat. yang telah meresahkan masyarakat setempat, maka tindakan Preventive Care dilaksanakan dengan bekerja sama dengan perawat kesehatan jiwa dan psikolog.
EVALUASI
Tak hanya itu, mental box yang terbentuk bisa lebih peka dalam proses deteksi dini bagi masyarakat, seperti menemukan kelainan baru berupa dukungan keluarga, kemudian mental box bisa melakukan tindakan lanjutan seperti bekerja sama dengan masyarakat. kesehatan. pusat dalam proses pendampingan dan terus memberikan informasi melalui berbagai media. Kendala teknis seperti sound system yang tidak menyala saat pemutaran video pada pertemuan 1 dan juga waktu yang tertunda selama 30 menit akibat peserta yang datang lebih dulu separuhnya. Waktu pelaksanaannya bertepatan dengan waktu persiapan berbuka puasa, sehingga kegiatan terkesan terburu-buru dan membuat sebagian peserta resah karena terbatasnya waktu persiapan berbuka puasa.
KESIMPULAN DAN SARAN
Selain itu, juga terjalin kolaborasi antara pengelola kesehatan jiwa dan layanan kesehatan Puskesmas dalam upaya pengobatan preventif terhadap keluarga dan pasien. Praktisi kemudian dapat melanjutkan kegiatan intervensi masyarakat dengan tema atau intervensi berbeda, seperti membantu kader kesehatan jiwa dari lapisan masyarakat terkecil seperti dusun, atau melakukan pelatihan lanjutan berdasarkan alat ukur yang disepakati dengan puskesmas. Sehubungan dengan akan diadakannya pertemuan dalam rangka pembentukan kerangka jiwa dan pemberian pelatihan kerangka jiwa di Desa S, yang dilaksanakan pada : Hari/Tanggal : Jumat, 8 April 2022.
Kegiatan : Pembentukan kader dan tawaran psikoedukasi tenaga kesehatan jiwa Kader S. Oleh karena itu, kami berharap kehadiran mereka dalam kegiatan ini bertujuan untuk mendapatkan pelatihan peran dan fungsi tenaga kesehatan jiwa di desa S dan pelatihan kesehatan jiwa. Sehubungan dengan akan dilaksanakannya pertemuan dalam rangka pembentukan mental kader dan pemberian pembekalan mental kader desa S yang akan dilaksanakan pada : Hari/tanggal : Selasa, 12 April 2022. Kegiatan : Pembentukan pendampingan kader dan psikoedukasi jiwa Kader S. Oleh karena itu diharapkan kehadirannya dalam kegiatan ini bermanfaat dalam memberikan dukungan dan bimbingan kepada kader jiwa Desa S untuk menjalankan tugasnya dengan sebaik-baiknya.
Kader kesehatan jiwa terampil dalam melakukan deteksi dini dan pemantauan terhadap warga yang terindikasi mengalami gangguan jiwa. Jumlah peserta yang diangkat menjadi kader kesehatan jiwa di Desa S sebanyak 22 orang, berjenis kelamin perempuan. Bayu Murdani mahasiswi Magister Psikologi Profesi yang saat ini sedang menjalani penempatan kerja psikologi profesi di Puskesmas Piyungan sangat senang bisa bertemu dengan seluruh ibu-ibu yang dalam keadaan sehat dan nanti saya akan memimpin acara hari ini dalam kegiatan Psikoedukasi untuk Kader Jiwa Desa S.
Praktisi dan kader jiwa mengadakan musyawarah mengenai penentuan hari dan waktu dilaksanakannya pertemuan ke 2. Selamat pagi, salam sejahtera untuk kita semua, saya sangat senang sekali Bayu Murdani bisa bertemu dan belajar kembali bersama ibu-ibu jiwa kader dari Desa S yang hadir hari ini sambil menunggu peserta. Yang lainnya dalam keadaan sehat dan tidak ada kekurangan apapun. Latihan permainan dengan kerangka mental berupa recall materi sebelum 2 penjawab mendapatkan doorprize yang disediakan dengan pertanyaan “Apa penyebab gangguan jiwa pada manusia?” dan “Bagaimana proses pengobatan bagi penderita gangguan jiwa?”.
Praktikum ini mengakhiri rangkaian kegiatan dan memberikan informasi kepada peserta kader jiwa agar mereka bersemangat melaksanakan program di masyarakat.