B. Rancangan Intervensi
XIV. KESIMPULAN DAN SARAN
Intervensi komunitas ini didasari karena adanya 42 orang dengan gangguan jiwa di Desa S serta masih banyaknya stigma negatif masyarakat terhadap orang dengan gangguan jiwa. Dengan beberapa latar belakang masalah yang dihadapi maka pemberian intervensi serta pembentukan kader jiwa sebagai upaya promosi serta preventif dalam penanganan kesehatan jiwa yang ada di Desa S. Upaya ini diharapkan mampu malukan pemerataan informasi gangguan jiwa
serta pendampingan terhadap penderita gangguan jiwa dilaksanakan dengan optimal oleh kader jiwa yang telah diberikan pembekalan serta pelatihan dalam proses psikoedukasi serta deteksi dini serta konseling terhadap keluarga serta penderita.
Berdasarkan hasil intervensi maka ada perubahan gagasan dari peserta dalam memahami pengertian gangguan jiwa, deteksi dini serta penanaganan gangguan jiwa sebelum sesudah dilakukan intervensi. Kemudian adanya suatu ide atau gagasan baru serta pengetahuan baru yang di dapat setelah kegiatan intervensi komunitas sehingga perilaku kepedulian terhadap masyarakat meningkat seperti hal memberikan informasi melalui digital, atau media cetak, kunjungan serta mencarikan pelayanan kesehatan lain dalam bentuk penangan penderita gangguan jiwa. Selain itu juga terbentuknya suatu kerjasama antara kader jiwa dan layanan kesehatan Puskesmas dalam upaya penangan preventif bagi keluarga dan penderita.
b. Saran
1) Untuk Kader
Para peserta dapat terus memberikan pelayanan secara promosi dan preventif di dusun masing-masing
Peserta dapat menguatkan anggota masyarakat lain dalam pendampingan serta upaya pengobatan di masyarakat bagi penderita dan keluarga
Peserta dapat menyebarkan secara luas serta memberikan psikoedukasi terhadap masyarakat sehingga terciptanya pemerataan informasi kesehatan mental
2) Untuk Puskesmas
Desa S
Adanya evaluasi bulanan terhadap kader jiwa atas kegiatan yang dilakukan
Melakukan pendempingan terhadap kader jiwa serta penderita dalam proses pemberdayaan orang dengan gangguan jiwa
3) Praktikan Selanjutnya
Praktikan selanjutnya dapat melanjutkan kegiatan intervensi komunitas dengan tema atau intervensi yang berbeda seperti halnya membantuk kader jiwa dari lingkup terkecil masyarakat seperti dusun atau melakukan pelatihan selanjutnya berdasarkan alat ukur yang telah disepakati dengan pihak puskesmas.
DAFTAR PUSTAKA Undang-Undang No 14 Tahun Tentang Kesehatan Jiwa
Ayuningtyas, D., & Rayhani, M. (2018). Analisis situasi kesehatan mental pada masyarakat di Indonesia dan strategi penanggulangannya. Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat, 9(1), 1-10.
Bahar, R. N. A., & Rinaldi, M. R. (2021). Psikoedukasi Kader Jiwa: MELADENI Gangguan Jiwa di Masyarakat Dusun Jogonalan Kidul, Desa Tirtonirmolo, Kabupaten Bantul. Jurnal SOLMA, 10(3), 494-503.
Falatehan, S. F. (2017). Pendekatan Psikologi Komunitas Dalam Memprediksi Peranan Rasa Memiliki Komunitas Terhadap Munculnya Partisipasi Masyarakat. Manasa, 6(1), 66-90.
Febrianto, T., Livana, P. H., & Indrayati, N. (2019). Peningkatan pengetahuan kader tentang deteksi dini kesehatan jiwa melalui pendidikan kesehatan jiwa. Jurnal Penelitian Perawat Profesional, 1(1), 33-40.
Hidayat, E., & Santoso, A. B. (2019). Upaya Peningkatan Kesehatan Jiwa Masayarakat melalui Pelatihan Kader Kesehatan Jiwadi Wilayah KerjaPuskesmas Sunyaragi Kota Cirebon. Edukasi Masyarakat Sehat Sejahtera (EMaSS): Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat, 1(1), 42-49.
Indrawati, P. A., Sulistiowati, N. M. D., & Nurhesti, P. O. Y. (2019). Pengaruh Pelatihan Kader Kesehatan Jiwa Terhadap Persepsi Kader dalam Merawat Orang Dengan Gangguan Jiwa. Jurnal Keperawatan Jiwa (JKJ): Persatuan Perawat Nasional Indonesia, 6(2), 71-75.
Islamiati, R., Widianti, E., & Suhendar, I. (2018). Sikap masyarakat terhadap orang dengan gangguan jiwa di Desa Kersamanah Kabupaten Garut. Jurnal keperawatan BSI, 6(2), 195-205.
Kurniawan, Y., & Sulistyarini, I. (2016). Komunitas SEHATI (Sehat Jiwa dan Hati) sebagai intervensi kesehatan mental berbasis masyarakat. INSAN Jurnal Psikologi Dan Kesehatan Mental, 1(2), 112-124.
Livana, P. H., Ayuwatini, S., Ardiyanti, Y., & Suryani, U. (2019). Gambaran Kesehatan Jiwa Masyarakat. Jurnal Keperawatan Jiwa (JKJ): Persatuan Perawat Nasional Indonesia, 6(1), 60-63.
Ninin, R. H., Rachman, N. F., Dalimunthe, K. L., Rakhmadevi, A., Muharram, H. Z., Massinai, S. M. M., ... & Anggraeni, Y. (2020). Psikoetnografi sebagai metode asesmen psikologi komunitas. Jurnal Psikologi Sosial, 18(2), 157-168.
Pinilih, S. S., Handayani, E., Shelviana, E., Rositasari, E., & Azis, M. Peningkatan Kesehatan Jiwa Melalui Peran Kader Menuju Kelurahan Siaga Sehat Jiwa.
Prawitasari, J. E., & UGM, P. G. B. F. P. (2012). Kesehatan mental masyarakat di Indonesia. Temu Ilmiah Universitas Airlangga.
Putri, A. W., Wibhawa, B., & Gutama, A. S. (2015). Kesehatan mental masyarakat Indonesia (pengetahuan, dan keterbukaan masyarakat terhadap gangguan
New Normal Di Kelurahan Korong Gadang Wilayah Kerja Puskesmas Kuranji Padang. Jurnal Abdimas Saintika, 3(2), 69-75.
Sambonu, F., Aspuri, L., Farihah, N., & Rosyad, Y. S. (2019). Deteksi Dini Status Kesehatan Jiwa Warga Sorosutan. Jurnal Pengabdian Harapan Ibu (Jphi), 1(2), 41-45.
Wardhani, Y. F., & Paramita, A. (2016). Pelayanan Kesehatan Mental Dalam Hubungannya Dengan Disabilitas dan Gaya Hidup Masyarakat Indonesia (Analisis Lanjut Riskesdas 2007 Dan 2013). Buletin Penelitian Sistem Kesehatan, 19(1), 99-107.
Yuli Widiningsih, Y. W., Anggia Kargenti Evanurul Marettih, A. K., & Hirmaningsih, H.
PSIKOLOGI KOMUNITAS.
LAMPIRAN
Yth, Ibu Kader Jiwa Desa S Di Tempat,
Dengan Hormat,
Sehubungan dengan akan diadakannya kegiatan pertemuan dalam rangka pembentukan kader jiwa dan pembekalan kader jiwa di Desa S yang akan dilaksanakan pada : Hari/Tanggal : Jumat, 08 April 2022
Jam : 12.30 – 15.30
Lokasi : Aula Balai Desa S
Kegiatan : Pembentukan Kader dan Pembekalan Psikoedukasi Kader Jiwa S Maka diharapkan kehadirannya dalam kegiatan tersebut guna untuk mendapatkan pembekalan terkait Peran dan Fungsi Kader Jiwa Di Desa S serta pembekalan terkiat Kesehatan Mental. Demikian surat ini dibuat atas perhatian dan kerjasamanya saya ucapkan terimakasih
Mahasiwa Praktikan
Bayu Murdani, S.Psi, CHAP
DAFTAR IBU KADER JIWA DESA S
No Nama Dusun
1 Bu Riris J
2 Bu Ribut Widiyanti B
3 Bu Istikomah K
4 Bu Suharti BK
5 Bu Isromo K
6 Bu Dami Suryani PW
7 Bu Murjilah N
8 Bu Uswatun J
9 Bu Heri Chusnawati O
10 Bu Ismi Hardayani BW
11 Bu Suryanti P
12 Bu Bekti S
13 Bu Hartini K
14 Bu Dwi Rahmawati J
15 Bu Eks Desyanti PT
16 Bu Supadmi N
17 Bu Siti Nurhayati PC
18 Bu Partini C
19 Bu Suparmi P
20 Bu Galih P
21 Bu Siti Purwanti K
22 Bu Muryti DG
Yth, Ibu Kader Jiwa Desa S Di Tempat,
Dengan Hormat,
Sehubungan dengan akan diadakannya kegiatan pertemuan dalam rangka pembentukan kader jiwa dan pembekalan kader jiwa di Desa S yang akan dilaksanakan pada : Hari/Tanggal : Selasa, 12 April 2022
Jam : 09.30-Selesai
Lokasi : Aula Balai Desa S
Kegiatan : Pelatihan Konseling dan Deteksi Dini
Maka diharapkan kehadirannya dalam kegiatan tersebut guna untuk mendapatkan pembekalan terkait Peran dan Fungsi Kader Jiwa Di Desa S serta pembekalan terkiat Kesehatan Mental. Demikian surat ini dibuat atas perhatian dan kerjasamanya saya ucapkan terimakasih
Mahasiwa Praktikan
Bayu Murdani, S.Psi, CHAP
DAFTAR IBU KADER JIWA DESA S
No Nama Dusun
1 Bu Riris J
2 Bu Ribut Widiyanti B
3 Bu Istikomah K
4 Bu Suharti BK
5 Bu Isromo K
6 Bu Dami Suryani PW
7 Bu Murjilah N
8 Bu Uswatun J
9 Bu Heri Chusnawati O
10 Bu Ismi Hardayani BW
11 Bu Suryanti P
12 Bu Bekti S
13 Bu Hartini K
14 Bu Dwi Rahmawati J
15 Bu Eks Desyanti PT
16 Bu Supadmi N
17 Bu Siti Nurhayati PC
18 Bu Partini C
19 Bu Suparmi P
20 Bu Galih P
21 Bu Siti Purwanti K
22 Bu Muryti DG
Yth, Bapak Drs Wajiran Selaku Kepala Desa S Dengan Hormat,
Sehubungan dengan akan diadakannya kegiatan pertemuan dalam rangka pembentukan kader jiwa dan pembekalan kader jiwa di Desa S yang akan dilaksanakan pada : Hari/Tanggal : Jumat, 08 April 2022
Jam : 12.30 – 15.30
Lokasi : Aula Balai Desa S
Kegiatan : Pembentukan Kader dan Pembekalan Psikoedukasi Kader Jiwa S Maka diharapka kehadirannya dalam kegiatan tersebut guna untuk memberikan dukungan serta memberikan pengarahan kepada kader jiwa Desa S agar mampu menjalankan tugas dengan sebaik-baiknya. Demikian surat ini dibuat atas perhatian dan kerjasamanya saya ucapkan terimakasih
Mahasiwa Praktikan
Bayu Murdani, S.Psi, CHAP
Yogyakarta, 07 April 2022 Hal : Surat Undangan
Lamp : 0
Yth, Bapak Tyas Santoso, SE Selaku Kamituwo Desa S Dengan Hormat,
Sehubungan dengan akan diadakannya kegiatan pertemuan dalam rangka pembentukan kader jiwa dan pembekalan kader jiwa di Desa S yang akan dilaksanakan pada : Hari/Tanggal : Jumat, 08 April 2022
Jam : 12.30 – 15.30
Lokasi : Aula Balai Desa S
Kegiatan : Pembentukan Kader dan Pembekalan Psikoedukasi Kader Jiwa S Maka diharapka kehadirannya dalam kegiatan tersebut guna untuk memberikan dukungan serta memberikan pengarahan kepada kader jiwa Desa S agar mampu menjalankan tugas dengan sebaik-baiknya. Demikian surat ini dibuat atas perhatian dan kerjasamanya saya ucapkan terimakasih
Mahasiwa Praktikan
Bayu Murdani, S.Psi, CHAP
MODUL KOMUNITAS
PSIKOEDUKASI DAN PEMBENTUKAN
KADER JIWA “GEMAR SEJIWA” DESA S KECEMATAN PIYUNGAN
Disusun oleh : Bayu Murdani 205110024
PRODI MAGISTER PROFESI PSIKOLOGI KLINIS FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS MERCU BUANA YOGYAKARTA 2021
I. Latar Belakang
Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Provinsi DIY bahwa gangguan jiwa yang berada di DIY pada tahun 2018 mencapai 1000 jiwa atau dapat dikatakan setiap 10 mil disetiap wilayah menemukan penderita gangguan jiwa. Data tersebut meningkat dari tahun 2013, dimana pada tahun 2013 terdapat 2,3 per mil menemukan orang dengan gangguan jiwa. Peningkatan tersebut dikarenakan adanya suatu tekanan hidup, tingkat pendidikan dan perekonomian serta terdapat pengguanaan gadget yang berlebihan sehingga membuat kecanduan atau mengubah perilaku.
71
wilayah di Desa S, bekerjasama dengan aparat terkait serta melakukan sosialisasi mengenai kesehatan jiwa. Berdasarkan rekap data yang terdapat di Puskemas Piyungan pada Januari 2019 terdapat 42 warga di Desa S yang memiliki Gangguan Jiwa dengan klasifikasi berat. Sejumlah warga yang memiliki gangguan jiwa berat memiliki rentang usia 20-60 tahun dengan rata-rata pendidikan SD.
Pemantuan yang telah dilakukan oleh pihak puskesmas memperoleh hasil bahwa ada salah satu dusun di Desa S yang memiliki warga dengan gangguan jiwa berat. Lokasi rumah tinggalnya terpencil serta penderita dikurung dengan kondisi yang sudah tidak mampu untuk berdiri tegak, serta akses pemberian obat ke penderita kesulitan sehingga pemantauan ke wilayah tersebut terhambat. Tidak hanya itu adanya sebuah penolakan dari anggota keluarga terhadap kunjungan tenaga medis sehingga proses tindak lanjut mengalami kesulitan
Praktikan melakukan wawancara kepada perawat jiwa yang ada di Puskesmas Piyungan bahwa beberapa kendala utama yang ditemukan oleh pihak Puskesmas adalah penolakan dari beberapa keluarga yang memiliki anggota keluarga gangguan jiwa. Hal ini dikarenakan masih muncul anggapan kondisi penderita dengan gangguan jiwa akan membaik sendiri, gangguan jiwa adalah gangguan mistis dan pemeriksaan dilakukan ketenaga spiritual atau dukun. Berdasarkan pengalaman perawat jiwa di Puskesmas Piyungan mengatakan sebelum pandemi perilaku pasung dan pengurungan masih terjadi. Namun setelah dilakukan kunjungan rumah dan sosialisasi kepada pihak-pihak terkait adanya penurunan tindakan pasung.
Walaupun sosialisasi dan pendampingan sudah diberikan terhadap keluarga penderita, namun masih ada sikap-sikap keluarga yang memperlakukan penderita dengan cara kurang baik atau mengabaikan kesejahteraan penderita. Sehingga hal itu menyebabkan kelumpuhan atau cacat fisik yang terjadi akibat tindakan- tindakan yang kurang tepat. Berdasarkan sikap serta proses perawatan penderita kurang tepat menyebabkan proses pemulihan penderita terhambat serta keluarga tidak mengetahui penyebab atau faktor kekambuhan yang dialami penderita. .
Informasi lain juga di dapatkan dari kader kesehatan Dusun BW, dimana terdapat warganya yang memiliki gangguan jiwa berat dan termasuk pemantuan dari pihak Puskesmas. Praktikan melakukan kunjungan rumah sekaligus observasi lapangan di Dusun tersebut. Dari hasil pemantauan mendapatkan informasi bahwa ada salah pihak keluarga yang menutup-nutupi kondisi penderita, sehingga praktikan tidak mendapatkan informasi mengenai kondisi penderita.
Tidak hanya itu ada informasi dari warga lain dari seorang caregiver yang dipercayai oleh pihak keluarga, bahwa situasi tersebut merupakan laku spiritual yang dialami penderita, sehingga tenaga medis tidak bisa mengobati dan tindakan yang diberikan akan sia-sia. Selama proses wawancara dan observasi mendapatkan hasil bahwa caregiver yang dipercayakan tadi memiliki gejala-gejala ganggaun jiwa yang serupa.
Didusun tersebut juga terdapat warga yang mengalami down syndrome namun masih mendapatkan perhatian dari anggota keluarganya. Individu tersebut masih dilibatkan untuk mengerjakan pekerjaan rumah, meskipun individu tersebut kerap kali keluarga kejalan raya tanpa pengawasan dan sering mengalami kecelakaan karena kondisi penderita tidak bisa bergerak jika berada di jalan raya. Berdasarkan beberapa informasi yang di dapat dari Dusun BW, pemerataan informasi
Data diatas didukung dengan hasil wawancara yang dilakukan kepada beberapa kader kesehatan yang berada di Desa S bahwa pemerataan sosialisasi mengenai kesehatan jiwa masih kurang serta masyarakat masih ketakutan jika untuk mendekat, menjenguk, ataupun mengajak penderita kembali ke masyarakat.
Hambatan lain juga terjadi pada masa pandemi sehingga informasi terhenti serta tidak ada tindak lanjut. Sehingga beberapa orang yang ditunjuk untuk mensosialisasikan mengenai kesehatan jiwa terhambat.
Data hasil assessment diatas sesuai dengan pendapat Nasir & Muhith (dalam Islamiati, dkk 2018) yang mengatakan bahwa faktor kekambuhan orang dengan gangguan jiwa dikarenakan tidak adanya pemeriksaan dokter, tidak minum obat, pemberhentian obat yang tidak dapat persetujuan dokter, kurang dukungan dari keluarga dan masyarakat. Pendapat sebelumnya diperkuat oleh Keliat (dalam Islamiah, dkk 2018) yang menjelaskan bahwa faktor kekambuhan orang ganggguan jiwa adalah tidak terdapat dukungan dari lingkungan tempat tinggal dan memberikan pandangan negatif terhadap penderita sehingga keberfungsian penderita dalam masyarakat berkurang, hal ini dipengaruhi oleh faktor kurangnya pengatahuan, sikap serta perilaku Bloom (dalam Islmiati, dkk 2018).
Menurut pemaparan diatas dan hasil penggalian data yang dilakukan maka perlu adanya suatu tindakan promosi dan preventif terhadap masyarakat melalui elemen yang tergerak untuk membantu memberikan pelayanan kesehatan jiwa.
Sehingga pemerataan mengenai pemberian informasi kesehatan jiwa, pemantauan seperti deteksi dini warga serta melakukan pengawasan terhadap penderita serta keluarga terjalin dengan maksimal.
Pemberian penanganan ini melalui suatu tindakan intervensi berbasis komunitas yang menyasar dari perwakilan disetiap dusun di Desa S dan adanya suatu penggerakan penyebaran luasan informasi kepada masyarakat lebih luas.
Hal ini sesuai dengan Undang-Undang Nomor 18 tahun 2014 tentang Kesehatan Jiwa dalam pasal 1 ayat 4 menyebutkan bahwa upaya kesehatan jiwa adalah setiap kegiatan untuk mewujudkan derajat kesehatan jiwa yang optimal bagi setiap individu, keluarga, dan masyarakat dengan pendekatan promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif yang diselenggarakan secara menyeluruh, terpadu, dan berkesinambungan oleh Pemerintah, Pemerintah Daerah, dan/atau masyarakat.
Menurut amanat undang-undang, penatalaksanaan masalah kejiwaan tidak hanya menjadi tugas pemerintah, namun juga ada peran masyarakat di dalamnya. Pada kenyataannya, di Pedukuhan X belum ada semacam petugas atau kader yang dapat terlibat dalam aktivitas promotif/preventif masalah kejiwaan.
II. Tujuan Pelatihan Berpikir Positif
Tujuan dari kegiatan intervensi kali ini antara lain :
Membentuk kader jiwa yang berada di Desa Srimulyo sebagai garda terdepann pelayanan kesehatan mental
Memberikan pembekalan kepada kader jiwa sehingga siap untuk terjun kelapangan memberikan penyuluhan mengenai kesehatan mental kepada warga
Kader jiwa trampil dalam melakuakn deteksi dini dan pemantauan terhadap warga yang terindikasi ganggun jiwa
III. Manfaat
Manfaat yang akan di dapatkan dari proses intervensi komunitas yang akan dilaksanakan antara lain :
1. Kader Kesehatan Jiwa yang terbentuk memiliki kesiapan secara informasi dan diri untuk bisa melayani masyarakat
tenaga professional
3. Dari hasil intervensi kader jiwa memiliki wawasan mengenai kesehatan jiwa yang akan di sebar luaskan kepada masyarakat.
IV. Materi Kegiatan
Pertemuan 1 : Psikoedukasi Community Mental Health dan Peran serta Fungsi Kader Jiwa
Pertemuan 2 : Pengenalan Tahapan Konseling Sederhana, Deteksi Dini, Pembahasan Flow Chat (Alur Rujukan Pemeriksaan)
V. Peserta
Peserta adalah perwakilan setiap dusun yang berada di Desa S yang telah di skrinning berdasarkan kesepakatan antara praktikan dan penanggung jawab kader desa. Jumlah peserta yang ditunjuk sebagai kader kesehatan jiwa di Desa S sejumlah 22 orang dengan jenis kelamin perempuan. Penunjukkan ini berlatar belakang dengan background kader yang telah memiliki pengalaman menjadi kader desa dan pernah mengikuti pelatihan kesehatan mental
VI. Metode Pelatihan
Metode Intervensi Komunitas kali ini bersifat experimental learning dengan menarapkan teknik pengambilan subjek Purposive Sampling serta metode yang digunakan dengan Ceramah (Presentasi Psikoedukasi Kesehatan Jiwa, Konseling Sederhan), Diskusi (Penyusunan Struktur Organisasi), Praktik (Praktik membuat tahapan konseling dan Praktik Konseling Keluarga).
VII. Pemateri
Pertemuan 1 : Pemateri pada pertemuan pertama dalam memberikan psikoedukasi kesehatan jiwa dan fungsi kader kesehatan jiwa adalah tenaga kesehatan yang ada di Puskesmas Piyungan (Psikolog dan Perawat Jiwa) yang sudah memiliki pengalaman dalam bidang terkait
Pertemuan 2 : Mahasiswa Magister Psikologi yang saat pelaksanaan intervensi sedang melakukan Praktik Kerja Psikolog Profesi (PKPP) di Puskesmas Piyungan
VIII. Alokasi Waktu
Dalam alokasi waktu pelaksanaan intervensi dilaksanakan dalam 2 kali pertemuan yaitu 2 hari dengan total durasi 305 menit dalam 6 sesi (3 sesi pertemuan 1 dan 3 sesi pertemuan 2).
IX. Waktu Pelatihan
Pertemuan 1
Hari/Tanggal : Jumat, 08 April 2022 Waktu : 14.00 – 15.30
Tempat : Aula Pertemuan Balai Desa S
Fasilitas : Kursi, Proyektor, Sound System, Mic
Pertemuan 2
Hari/Tanggal : Selasa, 12 April 2022 Waktu : 09.30 – 12.00
Tempat : Aula Pertemuan Balai Desa S
Fasilitas : Kursi, Proyektor, Sound System, Mic
JADWAL INTERVENSI KOMUNITAS
PERTEMUAN 1
No Hari/Tanggal Sesi Waktu Kegiatan Pemateri Alat dan Bahan PIC
1
Jumat, 08 April 2022
Sesi 1 (Pembukaan)
14.00 – 14.05 Pembuakaan dan Perkenalan diri
Praktikan Praktikan Mic, Proyektor Praktikan
2 14.05 – 14.10 Salam dan Puji Syukur Praktikan Praktikan
3 14.10-14.15 Menyanyikan lagu Indonesia raya Kader Jiwa Proyektor Praktikan
4 14.15 – 14.25 Sambutan Kamituwo Desa S Tyas Santoso,
SE Mic Praktikan
5 14.25-14.30 Doa Praktikan Mic, Praktikan
6 14.30-14.35 Kontrak Belajar, Tujuan dan
Maksud
Praktikan Mic, Proyektor Praktikan
7 14.35-14.40 Pre-test Praktikan Mic, Lembar
Pre-test Praktikan
8 14.40-14.45 Ice Breaking Praktikan Mic Praktikan
9
Sesi 2 (Psikoedukasi)
14.45 – 15.00 Pemateri 1 : Kesehatan Mental Berbasis Masyarakat
Ratna Azkia R, M.Psi, Psikolog
Mic, Proyektor, PPT
Praktikan
10 15.00-15.15 Pemateri 2 : Fungsi dan Peran
Kader Kesehatan Jiwa
Tri Wuri
Astutu, S.ST
Mic, Proyektor, PPT
Praktikan
11 15.15 – 15.30 Tanya Jawab Pemateri Mic, Proyektor,
PPT
Praktikan 12
Sesi 3 (Penutup)
15.30 – 15.35 Ice Breaking Praktikan Mic Praktikan
13 15.35– 15.45 Pemutaran Video Praktikan Mic, Proyektor,
Sound System
Praktikan
14 15.45– 15.55 Penjelasan Kegiatan Selanjutnya
dan Musyawarah terkait jadwal Pertemuan
Praktikan Mic Praktikan
15 15.55 – 16.00 Penutup Praktikan Mic Praktikan
Selasa, 12 April 2022
Sesi IV ( Refleksi)
3 09.10-09.15 Doa Praktikan Mic Praktikan
4 09.15-09.20 Ice Breaking Praktikan Mic Praktikan
5 09.20 – 09.25 Game (Reflesi Materi Sebelumnya) Praktikan Mic. doorprise Praktikan
6 09.25-09.30 Menjelaskan Kagiatan Pertemuan 2 Praktikan Mic, Rundown Praktikan
7
Sesi V (Psikoedukasi
dan Praktik)
09.30-09.50 Materi : Tahapan Konseling dan Praktik Membuat draft tahapan konseling
Praktikan Mic, Proyektor Praktikan
8 09.50 -10.05 Praktik Konseling Praktikan Mic, Kursi (2 Buah) Praktikan
9 10.05 – 10.20 Menjelaskan Flow Chart (Alur Perujukan
Pemeriksaan)
Praktikan Mic, Proyektor Praktikan
10 10.20 – 10.35 Musyawarah Struktur Organisasi Praktikan Mic, Proyektor Praktikan
11 10.35 – 10.50 Penjelasan Form Deteksi Dini Praktikan Mic, Form Deteksi
Dini, Proyektor
Praktikan 12
Sesi VI (Penutup)
10.50 – 10.55 Ice Breaking Praktikan Mic Praktikan
13 10.55 – 11.00 Pemutaran Video Praktikan Mic, Proyektor Praktikan
14 11.00 – 11.10 Musyawarah Program Tindak Lanjut Praktikan Mic Praktikan
15 11.10 – 11.20 Post-Test Praktikan Mic, Lembar Post-
test
Praktikan
16 11.20 – 11.25 Penutup Praktikan Mic Praktikan
MATRIKULASI PELAKSANAAN INTERVENSI KOMUNITAS
Sesi Materi Tujuan Uraian kegiatan
Durasi
waktu Metode Alat/bahan
PERTEMUAN 1
Sesi 1
Pembukaan Stakehoulder dan Kader
memahami proses kegiatan yang akan dilakukan
Pembukaan sekaligus perkenalan diri
Menanyikan Lagu Indonesia Raya
Sambutan dari Kamituwo Desa S
Doa
Menjelaskan Kontrak Kegiatan
Menjelaskan Maksud serta Tujuan kegiatan
Peserta Mengisi Pre-Test
Ice Breaking
5”
5”
10”
5”
5”
5”
10”
5”
Ceramah Sound System, Mic, Layar LCD, Lembar Pre-test, Bolpoint, Rundown
Sesi 2
Psikoedukasi Pemberian Materi dari Narasumber Ibu Tri Wuri Astuti, S.ST dan Ibu Ratna Azkia R, M.Psi, Psikolog Klinis
Kader Jiwa serta Kamituwo Desa S memahami materi terkait Kesehatan Mental Berbasis Masyarakat serta Fungsi dan Peran Kader Jiwa
Pembawa acara
mempersilahkan pemateri 1 Ibu Ratna Azkia R, M.Psi, Psikolog memberikan materi
“Kesehatan Mental Berbasis Masyarakat”
Pembawa Acara
Mempersilahkan Pemateri ke 2 Ibu Tri Wuri Astuti, S.ST mengenai “Peran dan Fungsi Kader Jiwa”
Peserta melakukan tanya jawab
15”
15”
15”
Ceramah dan
Diskusi LCD, Materi PPT, Sound System, Mic, Proyektor,
mengenaik kegiatan
lanjutan mengenai Peran dan Fungsi Kader Jiwa
Memberikan informasi sekaligus kesepakatan hari untuk pertemuan selanjutnya
Pengumuman terkait honor
Penutup
10”
10”
5”
5”
berkas materi (pamflet, lembar deteksi dini, flow chart)
PERTEMUAN II Sesi IV
Refleksi
Kader Jiwa dapat mengingat kembali materi yang telah di sampaikan pemateri dipertemuan sebelumnya
Praktikan membuka acara pada pertemuan 1
Menyanyikan lagu Indonesia raya dipimpin oleh salah satu kader jiwa
Berdoa
Melaksanakan Ice Breaking
Memberikan pertanyaan terkait materi pada pertemuan sebelumnya
Memberikan doorprize kepada 2 penjawab
Menyampaikan serangkaian kegiatan yang akan dilakukan pada pertemuan 2
5”
5”
5”
5”
10”
Diskusi dan Ceramah
Sound System, Proyektor, LCD, Daftar Pertanyaan, Doorprise, Bolpoint
5”
5”
Sesi V
Deteksi Dini dan Flow Chart
Penjelasan Materi terkait Koseling Sederhana. Flow Chart,
Pembentukan Struktur Organisasi,
Penjelasan Form Deteksi Dini
Kader Jiwa terampil dalam melakukan konseling sederhana kepada penderita dan keluarga, kemudian
memahami alur
pemeriksaan serta deteksi dini
Praktikan memberikan materi sederhana terkait konseling awal kepada kader jiwa
Kader jiwa diminta untuk melaksanakan Role Play Konseling
Praktikan Menjelaskan alur rujukan (Flow Chart)
Praktikan dan Kader Jiwa menentukan musyawarah untuk menentukan struktur organisasi
“Gemar Sejiwa”
Praktikan menjelaskan dalam melakukan prosedure deteksi dini.
20”
15”
15”
20”
20”
Diskusi, Praktik, Presentasi, Ceramah
Power point materi Konseling, kursi, Proyektor, Sound
System, Mic,
Lembar Deteksi Dini, Pamflet
Sesi VI
Evaluasi dan Penutup
Program Tindak Lanjut serta Post- test
Kader Jiwa dapat
menentukan kegiatan tindak lanjut ke masyarakat setelah kegiatan berlangsung.
Praktikan menawarkan kader jiwa untuk menentukan tindak lanjut yang akan dilakukan
Praktikan memberikan tugas
10” Ceramah dan
Diskusi Lembar Post-test, Proyektor, Sound
System, Mic,
Bolpoint, Honor
Pemberian Honor
Praktikan menutup dan memberikan affirmasi kepada kader jiwa untuk tetap melanjutkan kegiatan
10”
5”
Jumlah Pertemuan : 2 Jumlah Sesi : 6
Jumlah Waktu : 305 Menit
SESI INTERVENSI KOMUNITAS Pertemuan I
Sesi 1 : Pembukaan, Perkenalan, dan Doa
1. Tujuan
a. Membantu peserta memahami serangkaian pelatihan yang akan dilaksanakan.
b. Peserta merasa nyaman untuk mengikuti kegiatan intervensi
c. Peserta mendapatkan gambaran dalam proses pelaksanaan yang akan dilalui beserta pemateri yang akan menyampaikan
d. Peserta memahami maksud dan tujuan dilaksanakan kegiatan e. Peserta memahami kontrak belajar yang telah di sepakati 2. Waktu
50 menit.
3. Metode
Ceramah, Mengerjakan, Doa 4. Alat dan Bahan
Mic, Lembar Pre-test, Proyektor, Sound System
85