F. Teknik Analisis Data
2) Hasil Observasi Respon Siswa
Proses pembelajaran menceritakan kembali cerita fiksi dengan menggunakan media audio visual (video animasi) dapat dikatakan aktif. Hal ini terlihat dari antusias dan keaktifan siswa dalam mengikuti pembelajaran.
Terlihat siswa memperhatikan guru saat menjelaskan, bersemangat dalam mengikuti pembelajaran, keberanian siswa saat proses pembelajaran, respon baik siswa terhadap media audio visual (video animasi) yang disediakan peneliti, dan kesiapan siswa dalam mengikuti pembelajaran.
Tabel 4.1 Nilai Hasil Observasi Respon SiswaKeterlaksanaan Proses Pembelajaran Menceritakan Kembali Cerita Fiksi kelas IV dengan Teks Bacaan (Pretest)
Pretest Posttest
Skor Perolehan 24 31
Skor Maksimal 35 35
Persentase 68.57% 88.57%
Kualifikasi Aktif Sangat Aktif
Sumber: Data Hasil Observasi Keterlaksanaan Proses Pembelajaran Manceritakana kembali Cerita Fiksi
Berdasarkan Tabel 4.1 dapat disimpulkan bahwa proses pembelajaran pada saat menggunakan media teks bacaan (pretest) yang dilaksanakan dapat dikategorikan aktif dengan persentase 68.57%. Sedangkan pada saat menggunakan media audio visual (video animasi) (posttest) yang dilaksanakan dapat dikategorikan sangat aktif dengan persentase 88.57%. persentase pencapaian tersebut diperoleh dengan membagi skor yang diperoleh dengan skor maksimal dikali 100%. Hal tersebut menunjukkan bahwa penggunaan media audio visual (video animasi) sangat aktif dibandingkan penggunaan media teks bacaan.
b. Hasil Penggunaan Media dalam Proses Menceritakan Kembali Cerita Fiksi
Hasil statistik yang berkaitan dengan nilai pretest dan posttest siswa yang diajar selengkapnya dapat dilihat pada lampiran. Rangkuman dari lampiran tersebut disajikan pada tabel 4.2
Tabel 4.2 Data Statistik Deskriptif Nilai Pretest, Posttest
Pretest Posttest
Ukuran Sampel 30 30
Rata-Rata 76,57 83,77
Median 77,00 83,00
Modus 77 80
Deviasi Standar 5,740 4,470
Variansi 32,944 19,978
Rentang Skor 25 14
Skor Terendah 66 80
Skor Tertinggi 91 94
Berdasarkan tabel 4.2, hasil pretest dan posttest siswa memperlihatkan bahwa nilai rata-rata yang berbeda pada nilai pretest 76,57 sedangkan posttest sebesar 83,77.
Nilai tertinggi pada pretest yaitu 91, sedangkan nilai tertinggi posttest yaitu 94. Selisih nilai tertinggi pretest dan posttest adalah 3. Berdasarkan selisih tersebut, dapat ditarik kesimpulan bahwa ada peningkatan hasil menceritakan kembali siswa setelah pemberian perlakuan berupa media audio visual (vidio animasi) yang dilihat dari hasil posttest siswa. Nilai terendah pretest yaitu 66, sedangkan nilai terendah posttest yaitu 80. Selisih nilai terendah pretest dan posttest yaitu 14. Berdasarkan selisih nilai terendah pretest dan postest tersebut maka dapat ditarik kesimpulan bahwa ada peningkatan hasil menceritakan kembali siswa.
Nilai median pada pretest yaitu 77,00 sedangkan nilai median pada posttest yaitu 80,00. sehingga nilai median posttest lebih besar dari pada nilai pretest.
Nilai modus pada pretest yaitu 77 sedangkan nilai modus pada posttest yaitu 80. Sehingga nilai yang sering muncul pada data pretest dan posttest yaitu 74 dan 80.
Nilai standar deviasi pretest yaitu 5,740 sedangkan pada nilai posttest yaitu 4,470. Nilai standar deviasi (simpangan baku) pretest menunjukkan lebih tinggi dari pada nilai posttest. Sehingga dapat dilihat keberagaman sampel pretest dan posttest yaitu 5,740 dan 4,470.
Jika nilai hasil menceritakan kembali cerita fiksi dikelompokkan dalam 5 kategori, maka diperoleh daftar distribusi frekuensi dan persentase kategori hasil pretest dan posttest pada tabel berikut :
Tabel 4.3 Distribusi Frekuensi dan Persentase Kategori Hasil Pretest
Nilai Frekuensi Persentase Keterangan
90 – 100 1 3 % Sangat Tinggi
80 – 89 9 30% Tinggi
65 – 79 20 67% Sedang
55 – 64 0 0% Rendah
0 – 54 0 0% Sangat Rendah
Sumber : Output SPSS versi 20.0
Berdasarkan tabel 4.3, diketahui jmlah siswa yang memperoleh kategori sedang sebanyak 20 orang dengan persentase 67%, jumlah siswa yang memperoleh nilai ketegori tinggi sebanyak 9 siswa dengan persentase 30%, siswa yang memperoleh kategori sangat tinggi sebanyak 1 siswa dengan persentase 3%, Berdasarkan hasil analisis deskriptif yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa pretest berada pada kategori sedang. Hal ini dapat dilihat berdasarkan nilai rata-rata (mean) pretest yaitu 76,57.
Tabel 4.4 Distribusi Frekuensi dan Persentase Kategori Hasil Posttest
Nilai Frekuensi Persentase Keterangan
90 – 100 5 17% Sangat Tinggi
80 – 89 25 83% Tinggi
65 – 79 0 0% Sedang
55 – 64 0 0% Rendah
0 – 54 0 0 % Sangat Rendah
Sumber : Output SPSS Versi 20.0
Berdasarkan tabel 4.4, diketahui jmlah siswa yang memperoleh kategori tinggi sebanyak 25 orang dengan persentase 83%, jumlah siswa yang memperoleh nilai ketegori sangat tinggi sebanyak 5 siswa dengan persentase 17%. Berdasarkan hasil analisis deskriptif yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa posttest berada pada kategori tinggi. Hal ini dapat dilihat berdasarkan nilai rata-rata (mean) posttest yaitu 83,77.
Gambar 4.1 Grafik perbandingan rata-rata nilai pretest dan posttest
Berdasarkan gambar 4.1 menunjukkan bahwa grafik rata-rata nilai posttest lebih tinggi dibandingkan grafik nilai pretest.
70 75 80 85
Pretest
Posttest
Rata-Rata
Berdasarkan KKM yang berlaku di SDN 52 Welonge khususnya pada mata pelajaran Bahasa Indonesia yaitu 78, maka tingkat pencapaian ketuntasan hasil tes menceritakan kembali cerita fiksi siswa kelas IV SDN 52 Welonge dengan menggunakan media audio visual (video animasi) dapat dilihat pada tabel 4.5 berikut.
Tabel 4.5 Data ketuntasan klasikal
Tes KKM
Frekuensi Persentase
Tuntas
Tidak Tuntas
Tuntas
Tidak Tuntas Pretest
78
10 20 33% 67%
Posttest 30 0 100% 0%
Tabel 4.5 menunjukkan bahwa pada saat siswa menceritakan kembali cerita fiksi menggunakan media teks (pretest) terdapat 10 siswa memperoleh nilai di atas KKM dengan persentase 33 % dan 20 siswa memperoleh nilai di bawah KKM dengan persentase 60%. Sedangkan pada saat siswa menceritakan kembali cerita fiksi menggunakan media audio visual (video animasi) (posttest) terdapat 30 siswa memperoleh nilai di atas KKM dengan persentase 100%.
Berdasarkan uraian di atas, nilai tes menceritakan kembali siswa kelas IV SDN 52 Welonge, setelah diajar dengan media audio visual (video animasi) mencapai kriteria ketuntasan, dibandingkan dengan menggunakan teks sebagai media.
2. Hasil Analisis Statistik Inferensial a. Uji Normalitas
Uji normalitas data dilakukan untuk mengetahui data yang telah diolah berdistribusi normal atau tidak. Data uji normalitas diambil dari hasil pretest dan posttest hasil tes menceritakan kembali cerita fiksi siswa kelas IV. Uji normalitas yang dilakakukan menggunakan sistem SPSS versi 20.0, dengan kriteria pengujian bahwa data hasil bercerita siswa akan terdistribusi normal jika signifikansi > 0,05. Sebaliknya, dikatakan tidak terdistribusi normal jika dignifikansi yang diperoleh < 0,05. Dengan taraf kesalahan (α) yang digunakan yaitu 0,05. Berikut hasil uji normalitas data pretest dan posttest
Tabel 4.6 Hasil Uji Normalitas Data Pretest dan Posttest
Kelompok Data
Kolmogrov- Smirnov Z
Asymp.Sig(2- tailed)
Keterangan
n = 30
Pretest 0.748 0.630 Sig > 0.05 (Normal) Posttest 1.280 0.076 Sig > 0.05 (Normal) Sumber: Data Output SPSS 20.0
Tabel 4.6 di atas menunjukkan bahwa nilai signifikansi yang diperoleh pada pretest dan posttest yaitu 0.630 dan 0.076. Karena p-value
> 0.05 maka dapat disimpulkan bahwa semua data berdistribusi normal.
b. Uji Homogenitas
Uji homogenitas dilakukan untuk metahui kedua kelompok data memiliki variansi yang sama atau berbeda, dengan nilai signifikansi yaitu
>0,05 maka data tersebut dinyatakan memiliki variansi yang sama (homogen), begitupun sebaliknya apabila nilai signifikansi < 0,05 maka data tersebut dinyatakan tidak memiliki variansi yang sama (tidak homogen). Berdasarkan analisis data menggunakan SPSS versi 20.0 diperoleh uji homogenitas sebagai berikut :
Tabel 4.7 Hasil Uji Homogenitas
Pretest dan Posttest (α = 0,05) Sig. > α
0,351 > 0,05 Sumber: Output SPSS 20.0
Berdasarkan tabel 4.7 dapat disimpulkan bahwa kedua kelompok data memiliki yang sama atau homogen karena nilai signifikansi lebih besar dari nilai α = 9,05 dengan hasil uji homogenitas yakni 0,351 > 0,05.
c. Uji Hipotesis
Pengujian ini dilakukan dengan metode Paired Samples T-Test atau uji t pada program SPSS versi 20.0. Paired Samples T-Test adalah pemgujian yang dilakukan pada kelompok populasi yang sama, tetapi memiliki kondisi data sampel sebagai akibat adanya perlakuan. H0 ditolak dan H1 diterima apabila sig. < 0,05 dan thitung > nilai ttabel. Berikut disajikan hasil analisis uji-t nilai pretest dan posttest:
Tabel 4.8 Hasil Paired Samples T-Test
Variabel T Df Sig.(2-tailed) Ket.
Pretest & Posttest -9,132 29 0,00
0,00 < 0,05 = ada perubahan Tabel 4.7 di atas menunjukkan bahwa nilai thitung = -9,132 dan nilai sig.(2-tailed)=0,00 dengan taraf signifikansi α = 0,05. Dengan ttabel dilihat pada tabel statistik dengan signifikansi 0,05 : 2 = 0,025 dengan derajat kebebasan (df) 30-1 = 29, hasil diperoleh untuk ttabel = 2,045 (terdapat pada lampiran).
Maka dapat disimpulkan bahwa Ho ditolak dan H1 diterima. Sehingga telah diketahui bahwa terdapat pengaruh media audio visual (video animasi) terhadap keterampilan menceritakan kembali cerita fiksi kelas IV SDN 52 Welonge Kabupaten Soppeng.
Sedangkan, pengambilan keputusan uji Paires Sample T-Test berdasarkan perbandingan nilai signifikans yaitu diketahui nilai signifikansi sebesar 0,00 karena nilai signifikansi < α (0,00 < 0,05) sesuai dasar pengambilan keputusan dalam Paired Sample T-Test, maka dapat disimpulkan pula bahwa Ho ditolak dan H1 diterima yaitu terdapat pengaruh media audio visual (video animasi) terhadap keterampilan menceritakan kembali cerita fiksi kelas IV SDN 52 Welonge Kabupaten Soppeng.