A. Kajian Pustaka
6. Keterampilan Menceritakan Kembali
a. Pengertian Keterampilan Menceritakan Kembali
Keterampilan menceritakan kembali adalah bagian dari pembelajaran bercerita. Inti dari dari pembelajaran ini adalah siswa mampu menyampaikan cerita yang dibaca secara runtut dan ekspresif sehingga pendengar mampu untuk memahami isi cerita. Keterampilan menceritakan kembali cerita yang dibaca bagi siswa akan mudah diperoleh jika ada pemahaman terhadap isi cerita sehingga akan memudahkan siswa dalam menuangkan ide dan gagasannya.
Menceritakan kembali tentang cerita merupakan salah satu bentuk kegiatan yang mengembangkan keterampilan berbicara yang dimiliki oleh anak. Hal tersebut dikarenakan menceritakan kembali merupakan bagian dari pembelajaran berbicara. Keterampilan menceritakan kembali merupakan keterampilan untuk mengungkapkan kembali hal yang telah dibaca maupun didengar.
Kegiatan menceritakan kembali cerita dapat diimplementasikan dalam bentuk lisan maupun tulisan. Kegiatan meneritakan kembali dalam bentuk tulisan identik dengan kegiatan menuliskan cerita kembali, sedangkan menceritakan kembali sebuah cerita secara lisan identic dengan kegiatan berbicara. Menceritakan kembali cerita secara lisan adalah keterampilan berbicara yang bertujuan untuk menginformasikan cerita yang disampaikan oleh pencerita kepada pendengarnya.
Kegiatan menceritakan kembali menjadi bagian dari kegiatan bercerita.
Keduanya merupakan kegiatan menceritakan suatu hal atau peristiwa. Akan tetapi kegiatan menceritakan kembali harus memulai tahapan membaca maupun menyimak terlebih dahulu. Keterampilan menceritakan kembali mengarahkan siswa agar mampu untuk mengemukakan ide secara lisan dengan lancar, runtut, lengkap, dan jelas dengan memperhatikan bahasa, suara, intonasi, dan dapat menggambarkan gagasan dengan baik.
Gibson (Cahyani 2018:53) menyatakan bahwa menceritakan kembali cerita (story retelling) adalah sebuah kegiatan yang membutuhkan pembaca dan pendengar untuk menggabungkan dan menyusun kembali bagian-bagian dalam cerita. Hal tersebut tidak hanya membantu pembaca atau pendengar untuk mengingat cerita tetapi juga membantu memahami cerita, seta membangun sebuah pemahaman cerita. Sementara itu, Isbell (Cahyani 2018:53) menyebutkan bahwa “kualitas mutu dari menceritakan kembali cerita (story retelling) secara umum digunakan untuk mengingat, menghibur, menginspirasi, dan mengetahui proses pribadi yang menghubungkan bahasa anak”. Anak-anak memiliki lebih banyak pengalaman dengan menceritakan kembali, semakin mereka mampu memahami, mensintesis, dan menyimpulkan. Kegiatan menceritakan kembali mendorong anak untuk menggunakan imajinasi, memperluas gagasan dan menciptakan citra visual ketika mereka memindahkan alur ke setting yang baru termasuk karakter yang berbeda atau menambahkan suara baru.
Siklus dalam bercerita menurut Isbell (Cahyani 2018.:54) bahwa:
Guru menceritakan sebuah cerita kepada siswa dimana siswa berperan sebagai pendengar dan partisipan, lalu guru menceritakan kembali cerita tersebut dengan bahasa yang dapat dipahami oleh siswa, siswa mendengarkan dan berpartisipasi pada saat guru menceritakan kembali cerita tersebut, kemudian siswa menceritakan cerita yang telah didengar dari guru dengan kalimat mereka sendiri dan dilanjutkan membaca serta menulis sebuah cerita.
Siklus bercerita tersebut sejalan dengan pendapat dari Mustakim (Cahyani 2018.:55) bahwa “menceritakan kembali merupakan kegiatan anak setelah anak memahami dan menceritakan kembali isi cerita”. Ada tiga hal yang diharapkan dari kegiatan ini yaitu anak mampu menyusun kembali cerita yang disimak dari proses penceritaan, anak terampil menggunakan bahasa lisan melalui kegiatan berbicara produktif, dan anak terampil mengekspresikan perilaku dan dialog cerita dalam simulasi kreatif
Berdasarkan pendapat yang telah disampaikan di atas, dapat disimpulkan bahwa keterampilan menceritakan kembali merupakan keterampilan menyampaikan ulang sebuah cerita secara lisan dari pencerita kepada pendengar dengan lancar, runtut, lengkap dan jelas dengan menggunakan bahasanya sendiri dan memperhatikan penggunaan bahasa, suara maupun intonasi. Saat guru meminta anak untuk menceritakan kembali isi cerita yang telah dibaca atau didengar, peran seorang guru yaitu memotivasi agar anak dapat berpikir secara logis dan dapat menceritakan kembali isi cerita dengan baik dan lancar
b. Idikator Keterampilan Menceritakan Kembali
Keterampilan menceritakan kembali sebuah cerita dapat dikatakan baik jika dalam menyampaikan kembali isi cerita dilakukan dengan memperhatikan
penggunaan kosakata dalam bercerita. Hal ini sejalan dengan pendapat dari Mustakim (Cahyani 2018.:56) bahwa “ada dua hal yang perlu diperhatikan untuk menetapkan anak mampu dan terampil menggunakan bahasa untuk berkomunikasi dalam menceritakan kembali yaitu anak mengucapkan kata- kata yang mudah dimengerti orang lain dan anak memahami arti kata-kata yang telah diucapkan”.
Pada penelitian ini keterampilan menceritakan kembali isi cerita fiksi dimulai dengan kegiatan guru menayangkan sebuah video animasi sehingga anak mampu untuk memahami isi dari cerita yang dilihat dengan baik. Setelah siswa memahami isi cerita yang telah dilihat dengan baik maka diharapkan siswa mampu untuk menceritakan kembali isi cerita fiksi tersebut sesuai dengan indikator yang diharapkan oleh guru. Adapun indikator yang diharapkan oleh guru dalam keterampilan menceritakan kembali cerita fiksi yaitu siswa mampu untuk menceritakan kembali dengan memperhatikan penggunaan kosakata yang digunakan dalam bercerita, yaitu menggunakan kosakata yag mudah untuk dipahami. Selain memperhatikan penggunaan kosakata, dalam menceritakan kembali juga memperhatikan indikator- indikator lainnya, diantaranya yaitu gerakan yang ditampilkan, kejelasan dalam mengucapkan kosakata, ekspresi wajah serta nada dan irama siswa dalam bercerita.
c. Penilaian Keterampilan Menceritakan Kembali
Sumantri (Cahyani 2018.:74) berpendapat bahwa “penilaian merupakan suatu proses untuk menggambarkan perubahan dari diri siswa setelah
pembelajaran”. Dalam Permendikbud No. 23 Tahun 2016 pasal 1 ayat 2 juga disebutkan bahwa penilaian adalah proses pengumpulan dan pengolahan informasi untuk mengukur pencapaian hasil belajar peserta didik. Hal ini sejalan dengan pendapat dari Trianto (Cahyani 2018:74) bahwa “penilaian merupakan pengumpulan informasi untuk menentukan kualitas dan kuantitas belajar peserta didik”. Melalui penilaian guru dapat menentukan apakah peserta didik mengalami kemajuan dalam belajar atau mampu menguasai kompetensi yang diharapkan. Penilaian diharapkan juga bermanfaat bagi peserta didik utamanya, agar peserta didik mengetahui kemajuan belajarnya, lebih termotivasi untuk belajar dan lebih bertanggung jawab terhadap keberhasilan belajarnya. Pada pembelajaran dengan Kurikulum 2013, penilaian proses pembelajaran menggunakan pendekatan penilaian otentik (authentic assesment) yang menilai kesiapan peserta didik, proses, dan hasil belajar secara utuh. Hasil penilaian otentik digunakan guru untuk merencanakan program perbaikan pembelajaran, pengayaan, atau pelayanan konseling.
Keterampilan berbicara merupakan keterampilan berbahasa yang dilakukan oleh manusia setelah keterampilan mendengarkan atau menyimak.
Nurgiyantoro (Cahyani 2018:76) berpendapat bahwa “untuk dapat bebicara dalam suatu bahasa yang baik, pembicara harus menguasai lafal, struktur, dan kosakata yang bersangkutan”. Selain itu, penguasaan masalah dan atau gagasan yang akan disampaikan, serta kemampuan memahami lawan bicara.
Keterampilan berbicara merupakan keterampilan dasar yang paling tidak
mudah dimanipulasi karena unjuk kerja merupakan tolok ukur penilaiannya.
Oleh karena itu, keterampilan berbicara seharusnya mendapatkan perhatian yang cukup dalam pembelajaran bahasa dan tes keterampilan berbahasa. Agar dapat berbicara dengan baik, seseorang harus menguasai secara aktif struktur dan kosakata bahasa yang bersangkutan yang akan digunakan sebagai wadah untuk menampung pikiran yang akan dikemukakan, masalah ketepatan dan kelancaran bahasa serta kejelasan pikiran.
Sebagai salah satu asesmen keterampilan berbicara, bentuk asesmen berupa menceritakan kembali mempunyai karakteristik yang berbeda dengan bentuk asesmen berbicara yang lainnya. Hal itu dikarenakan penilaian keterampilan bercerita diambil bukan berdasarkan tes tertulis.
Berdasarkan pembahasan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa keterampilan menceritakan kembali cerita fiksi yang berjenis cerita rakyat pada siswa kelas IV SD merupakan suatu kemampuan dalam menyampaikan kembali cerita yang telah disimak atau dibaca dengan tujuan memberikan informasi dan pengetahuan kepada orang lain secara lisan dengan memperhatikan aspek-aspek secara kebahasaan maupun nonkebahasaan yang menjadi acuan dalam penilaian pembelajaran yang dilakukan oleh guru.
Aspek-aspek yang dinilai dalam tugas menceritakan kembali cerita fiksi ini disesuaikan pula dengan hal-hal yang harus diperhatikan seorang pencerita dalam mengungkapkan kembali isi cerita dan dibedakan menjadi aspek secara kebahasaan dan non kebahasaan. Adapun aspek kebahasaan yang dinilai meliputi pemberian tekanan, pengucapan, nada dan irama, pemilihan
kosakata/ungkapan atau diksi, dan struktur kalimat yang digunakan.
Sedangkan aspek non kebahasaan yang dinilai meliputi kelancaran, penguasaan materi, keberanian, sikap dan gaya pencerita.