BAB III METODOLOGI PENELITAN
D. Hasil Penelitian dan Pembahasan Tata Kelola Risiko Bencana
D. Hasil Penelitian dan Pembahasan Tata Kelola Risiko Bencana Gempa
Dari hasil observasi dan wawancara dapat diketahui bahwa BPBD dalam melakukan pengelolaan bencana dengan tiga tahapan siklus pengelolaan yaitu mitigasi, peringatan dini, dan kesiapsiagaan telah melakukan beberapa program kerja untuk mengurangi risiko bencana, yakni mitigasi bencana dengan pembangunan tanggul penahan ombak dan normalisasi pada daerah- daerah yang mengalami pendangkalan, melakukan pemantauan dan peringatan dini yang bekerjasama dengan BMKG terkait masalah cuaca dan kondisiekstrim dan alat deteksi bencana yaitu EWS. Dalam kesiapsiagaan, telah melakukan pelatihan peningkatan sumber daya, melakukan sosialisasi kepada masyarakat terkait risiko bencana, dan menyusun dokumen rencana pengurangan risiko bencana.
Hal yang sama juga dikatakan oleh Seksi Pencegahan mengenai tata kelola risiko bencana menggunakan pengelolaan bencanayaitu mitigasi, peringatan dini, dan kesiapsiagaan yang menyatakan bahwa:
“BPBD dalam pelaksanaan pengurangan risiko bencana itu BPBD provinsi disini melakukan beberapa kegiatan, yang pertama dalam konteks kesiapsiagaan. Kesiapsiagaan ini ada beberapa kegiatan, yang pertama melakukan pelatihan peningkatan sumber daya baik pelaku penanggulangan bencana maupun aparat atau lingkup pegawai. Yang kedua, melakukan sosialisasi kepada masyarakat terkait risiko bencana. Yang ketiga, menyusun dokumen rencana pengurangan risiko bencana atau rencana penanggulangan bencana (RPB). Itu yang sudah dikerjasamakan antara RPB dengan BPBD provinsi. Yang berikutnya membentuk forum pengurangan risiko bencana yang terdiri dari lintas sektor, dunia usaha, dan masyarakat.
Jadi, bukan hanya dari BPBD tetapi ada dari instansi lain, seperti Dinas Sosial, PU, Kesehatan, Pendidikan, Bapedda, kemudian ada Koperindag terkait masalah ekonomi masyarakatnya nanti. Ada juga Satpol PP terkait masalah penangannya. Kemudian dari sisi pengurangan risiko juga kita melakukan mitigasi bencana, mitigasi bencana ini ada dua yang kita lakukan baik struktural maupun non struktural. Struktural yang dimaksud disini adalah pembangunan
dalam bentuk fisik misalnya pembangunan tanggul penahan ombak di wilayah pesisir yang memiliki risiko bencana gelombang tinggi.
Kemudian dilakukan normalisasi pada daerah-daerah sungai yang sudah mengalami pendangkalan. Kemudian kerjasama dengan perkebunan,kehutanan untuk melakukan reboisasi di daerah-daerah yang sudah mengalami kerusakan. Kemudian di non strukturalnya itu adalah bersifat pasifnya, yaitu sifatnya semacam pelatihan, sosialisasi, seminar, dan segala macam. Kemudian ada lagi yang kami lakukan dalam rangka pemberdayaan masyarakat, yaitu peningkatan kapasitas masyarakat dalam bentuk kegiatan pembentukan desa tangguh siaga bencana (Destana). Dari Destana ini kita membentuk dan melatih masyarakat desa yang berada di wilayah rawan bencana utamanya. Nanti setelah itu kita mencoba mengembang ke wilayah-wilayah yang memiliki tingkat risiko atau dampak bencana yang agak kecil. Kami juga melakukan pemantauan dan peringatan dini, untuk peringatan dini kami bekerja sama dengan BMKG terkait masalah cuaca dan kondisi ekstrim saat ini”
(Wawancara dengan IL, 05 Januari 2022)
Dari hasil observasi dan wawancara dapat diketahui bahwa BPBD dalam melakukan pengelolaan bencana dengan tiga tahapan siklus pengelolaan yaitu mitigasi, peringatan dini, dan kesiapsiagaan telah melakukan beberapa program kerja untuk mengurangi risiko bencana seperti halnya mitigasi bencana dengan pembangunan tanggul-tanggul penahan ombak di wilayah yang rawan terjadi gelombang tinggi serta normalisasipada daerah yang mengalami pendangkala. Selain itu, telah melakukan peringatan dini dengan melakukan kerjasama dengan BMKG serta dalam siklus kesiapsiaan telah dilakukan pelatihan sumber daya, melakukan sosialisasi kepada masyarakat serta menyusun dokumen rencana pengurangan risiko bencana.
Hal yang sama juga dikatakan oleh Seksi Kesiapsiagaan mengenai tata kelola risiko bencana menggunakan pengelolaan bencana yaitu mitigasi, peringatan dini, dan kesiapsiagaan yang menyatakan bahwa:
“Dalam siklus pengelolaan bencana yaitu mitigasi BPBD telah melakukan beberapa program seperti pembangunan tanggul di daerah pesisir pantai yang yang rawan terjadi gelombang tinggi, normalisasi sungai-sungai yang telah mengalami pendangkalan, serta penghijauan, dalam hal peringatan dini BPBD telah melakukan kerjasama dengan BMKG dalam hal pemasangan alat deteksi bencana yaitu Early Warning System (EWS) yang telah dipasang di wilayah-wilayah yang rawan bencana dan terkoneksi langsung di BPBD dan BMKG. Dalam hal kesiapsiagaan BPBD melakukan pelatihan kepada masyarakat serta menyusun dokumen rencana penanggulangan bencana”(Wawancara deangan AF, 10 Januari 2022)
Dari hasil observasi dan wawancara dapat diketahui bahwa BPBD dalam melakukan pengelolaan bencana dengan tiga tahapan siklus pengelolaan yaitu mitigasi, peringatan dini, dan kesiapsiagaan telah melakukan beberapa program kerja untuk mengurangi risiko bencana seperti halnya mitigasi bencana dengan pembangunan tanggul-tanggul penahan ombak di wilayah yang rawan terjadi gelombang tinggi serta normalisasi pada daerah yang mengalami pendangkala selain itu telah melakukan peringatan dini dengan melakukan kerjasama dengan BMKG serta dalam siklus kesiapsiaan telah dilakukan pelatihan sumber daya, melakukan sosialisasi kepada masyarakat serta menyusun dokumen rencana pengurangan risiko bencana.
Penulis melakukan wawancara dengan Ketua Organisasi Relindo Sulbar mengenai tata kelola risiko melalui pengelolaan bencana gempa bumi yaitu mitigasi, peringatan dini, dan kesiapsiagaan sebagai berikut:
“Menurut saya yang harus diperhatikan pertama yaitu kesadaran masyarakat tentang bencana, masyarakat harus paham tentang kebencanaan karena yang menyelamatkan mereka dari bencana adalah individu masing-masing. Kebanyakan risiko tinggi kematian saat bencana terjadi itu karena masyakat tidak paham tentang risiko kebencanaan, mereka tidak mengetahui kondisi misalnya cara menyalamatkan diri bagaimana, bagaimana ketika ada bencana
kalau misalnya kedepan pemerintah berniat melakukan sosialisasi penanganan bencana, bagaimana masyarakat itu mengetahui sendiri tentang cara-cara kita untuk menyelamatkan diri jadi saran saya itu yang harus diutamakan dahulu” (Wawancara dengan HM, 10 Januari 2022)
Dari hasil observasi dan wawancara dapat diketahui bahwa BPBDdalam hal tata kelola risiko bencana yang harus dilakukan paling utama adalah melakukan sosialisi secara langsung kepada masyarakat mengenai kebencanaan, cara-cara yang harus masyarakat lakukan dalam mengurangi risiko bencana sehingga masyarakat mengetahui apa yang harus mereka lakukan ketika terjadi bencana.
Hal yang sama juga dikatakan oleh salah satu anggota Organisasi Relindo Sulbar bidang Humas mengenai tata kelola risiko bencang menggunakan pengelolaan bencana yaitu mitigasi, peringatan dini, dan kesiapsiagaan yang menyatakan bahwa:
“Dalam hal mengurangi risiko bencana memang perlu adanya mitigasi yaitu menentukan hal-hal yang betul-betul perlu dilakukan, seperti pemahaman kepada masyarakat tentang risiko bencana, apa yang harus mereka lakukan untuk mengurangi risiko bencana serta himbauan dari BMKG ke masyarakat terkadang tidak sampai”(Wawancara dengan AL, 10 Januari 2022)
Dari hasil observasi dan wawancara dapat diketahui bahwa BPBD dalam hal tata risiko bencana yang perlu diperhatikan oleh BPBD yaitu melakukan pemahaman kepada masyarakat tentang risko dari bencana, apa yang harus mereka lakukan serta BMKG dalam melakukan himbauan lebih memperhatikan lagi wilayah-wilayah yang sulit untuk dijangkau.
Penulis melakukan wawancara dengan Anggota Organisasi Mamuju Mengajar bagian Humas mengenai tata kelola risiko melalui pengelolaan
bencana empa bumi mitigasi, peringatan dini, dan kesiapsiagaan sebagai berikut:
“BPBD biasanya dalam hal mengurangi risiko bencana, melakukan himbauan kepada masyakat melakukan peringatan dini yang bekerja sama dengan BMKG. Seperti halnya kemarin ketika terjadi bencana semuanya berpatokan dulu ke BMKG setelah ada kepastian dari BMKG barulah teman-teman dari BPBD melakukan himbauan mengenai hal apa yang harus dilakukan seperti kemarin masyarakat berhamburan ke kelapa tujuh karena itu himbauan dari BPBD”
(Wawancara dengan FR, 10 Januari 2022)
Dari hasil observasi dan wawancara dapat diketahui bahwa BPBD dalam melakukan tata kelola risiko bencana telah melakukan kerjasama dengan BMKG dalam memantau bencana yang akan terjadi dan menyampaikan langsung kepada masyarakat.
Hal yang sama juga dikatakan oleh salah satu anggota Organisasi Mamuju Mengajar bidang Humas mengenai tata kelola risiko bencana menggunakan pengelolaan bencana mitigasi, peringatan dini, dan kesiapsiagaan yang menyatakan bahwa:
“Dalam hal mengurangi risiko bencana perlu dilakukan berupa pemaham kepada masyarakat tentang dampak dari bencana, sepengetahuan saya seperti BPBD telah melakukan pelatihan dan himbauan kepada masyarakat meskipun masih ada masyakat yang belum mengetahui. Selain itu, telah dilakukan kerjasama antar BMKG dan BPBD terkait alat pemantau bencana yang diawasi langsung oleh BMKG dan BPBD” (Wawancara dengan ZK, 10 Januari 2022)
Dari hasil observasi dan wawancara dapat diketahui bahwa BPBD dalam melakukan tata kelola risko bencana telah melakukan pelatihan dan himbauan kepada masyarakat. Selain itu, telah dilakukan kerjasama antar
BMKG dan BPBD terkait alat pemantau bencana yang diawasi langsung oleh BMKG dan BPBD.
Penulis melakukan wawancara dengan masyarakat mengenai tata kelola risiko bencana gempa bumi yang menyaatakan bahwa:
“Menurut saya, BPBD dalam meengurangi risiko bencana telah melakukan tugasnya. Dimana adanya peringatan dini yang disampaikan kepada masyarakat walaupun tidak sering dan masih ada yang belum tau. Akan tetapi,biasanya setelah ada bencana BPBD dan pemerintah serta masyarakat bahu membahu seperti halnya saat terjadi gempa bumi di tahun lalu kita semua siap siaga di posko-posko yang telah di sediakan”(Wawancara dengan AK, 15 Januari 2022)
Dari hasil observasi dan wawancara dapat diketahui bahwa masyarakat dan BPBD Provinsi Sulawesi Barat bahu membahu dalam melakukan tata kelola risiko bencana gempa bumi di Provinsi Barat dan dapat diketahui pula bahwa masyarakat ikut terkait dalam melakukan kesiapsiagaan ketika telah dilakukan peringatan dini oleh BPBD dan pemerintah terkait.
Hal yang sama juga dikatakan oleh masyarakat lainnya mengenai tata kelola risiko bencana gempa bumi di BPBD Provinsi Sulawesi Barat yang menyatakan bahwa:
“Yang dilakukan BPBD dalam mengurangi risiko bencana gempa bumi di Provinsi Sulawesi Barat dengan memberikan himbaauan ketika ada informasi mengenai bencana.Selain itu, biasanya BPBD melakukan sosialisasi kepada maasyakat yang daerahnya rawan terjadi bencana serta melakukaan pelatihan juga. Hal ini membantu masyarakat untuk selalu siap siaga ketika terjadi bencana”
(Wawancara dengan SK, 15 Januari 2022)
Dari hasil observasi dan wawancara dapat diketahui bahwa BPBD dan masyarakat saling bekerja sama dalam melakukan tata kelola risiko bencana di
Sulawesi Barat sehinggga masyarakat telah melakukan kesiapsiagaan terutama daerah-daerah rawan bencana.
Hal sama juga diungkapkan oleh masyarakat lainnya mengenai tata kelola risiko bencana di BPBD Provinsi Sulawesi barat yang menyatakan bahwa:
“Menurut saya dalam hal tata kelola risiko bencana yang dilakukan BPBD seperti peringatan dini, melakukan pelatihan kepada masyarakat secara langsung dan saat ini juga sudah dipasang alat deteksi bencana jadi kita masyarakat bisa waspada karena sebagai manusia kita hanya bisa waspada sebab bencana susah diprediksi”
(Wawancara dengan RS, 15 Januari 2022)
Dari hasil observasi dan wanwancara dapat diketahui bahwa BPBD telah melakukan tata kelola risiko bencana yaitu dengan melakukan mitigasi, peringatn dini, dan kesiapsiagaan dalam bentuk pemasangan alat deteksi bencana dan pelatihan langsung ke masyarakat.
Berdasarkan hasil observasi dan wawancara yang dilakukan oleh peneliti dapat diketahui bahwa tata kelola risiko bencana gempa bumi dengan menggunakan siklus pengelolaan bencana yaitu mitigasi, peringatan dini, dan kesiapsiagaan telah dilakukan oleh BPBD yaitu dengan melakukan pembangunan tanggul di wilayah-wilayah yang memiliki gelombang tinggi serta normalisasi sungai yang mengalami pendangkalan dan penaman pohon, dalam peringatan dini BPBD melakukan kerja sama dengan BMGK melalui pemasangan alat deteksi bencana Early Warning System (EWS) yang dipantau langsung oleh BMKG dan BPBD dan disampaikan langsung ke masyarakat.
Dalam kesiapsiagaan BPBD melakukan sosialisasi kepada masyarakat dan menyusun dokumen rencana penanggulan risiko bencana. Akan tetapi
organisasi dan masyarakat masih ada yang belum memahami tentang pengelolaan bencana jadi perlu melakukan kerjasama dalam hal melakukan sosialisasi secara langsung kepada masyarakat tentang kebencanaan sehingga masyarakat mampu menyelamatakan diri ketika terjadi bencana.
2. Faktor Pendukung dan Penghambat dalam Pengelolaan Bencana Gempa Bumi Di BPBD Provinsi Sulawesi Barat
Penulis melakukan wawancara dengan Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan mengenai faktor penghambat dan pendukung tata kelola risiko melalui pengelolaan bencana gempa bumi mitigasi, peringatan dini, dan kesiapsiagaan sebagai berikut:
“Faktor penghambat BPBD dalam melakukan pengelolaan bencana yaitu pertama sumber daya manusia dimana kami masih memerlukan anggota yang memiliki jiwa kemanusiaan, yang kedua itu dari segi biaya. Kami juga memerlukan biaya karena masih ada saran dan prasaran yang perlu dilengkapi dan yang ketiga itu juga masih ada wilayah yang belum terjangkau jaringan sehingga menyulitkan kami dalam memberikan informasi. Sementara faktor pendukung saat ini yaitu dengan adanya alat deteksi bencana Early Warning Sistem (EWS) yang memudahkan kami dalam mendeteksi bencana meskipun masih ada wilayah yang belum terpasang alat tersebut”(Wawancara dengan MS, 10 Januari 2022)
Dari hasil observasi dan wawancara dapat diketahui bahwa BPBD dalam melakukan pengelolaan bencana memiliki beberapa hambatan yaitu kurangnya sumber daya manusia, kurangnya sumber dana dalam melengkapi sarana dan prasarana serta masih terdapat wilayah yang tidak memilik jaringan sehingga menyulitkan BPBD dalam melakukan himbauan. Sementara faktor pendukung BPBD yaitu dengan adanya pemasanagn alat Early Warning System (EWS) yang memudahkan BPBD dalam mendeteksi bencana.
Hal yang sama juga dikatakan oleh Seksi Pencegahan mengenai faktor penghambat dan pendukung BPBD dalam melakukan tata kelola risiko bencana gempa bumi yang menyatakan bahwa:
“Di BPBD sendiri khusunya bidang pencegahan dan kesiapsiagaan masih memerlukan sumber daya manusia, selain itu juga memilki kekurangan dalam hal melakukan himbauan ke masyarakat karena masih ada beberapa wilayah di Provinsi Sulawesi Barat yang belum memiliki jaringan internet yang memadai jadi hal ini juga perlu di perhatikan karena masih banyak masyarakat yang belum memahami apa itu mitigasi, peringatan dini, dan kesiapsiagaan. Jadi, perlu adanya kerjasama antar masyarakat dan pemerintah dalam hal pengurangan risiko bencana kalau dari segi faktor pendukung yaitu sekarang kan Mamuju sudah memiliki alat deteksi bencana, jadi ini memudahkan kami dalam mengetahui risiko bencana sehingga kami selalu siapsiaga” (Wawancara dengan IS, 05 Januari 2022)
Dari hasil observasi dan wanwancara dapat diketahui bahwa BPBD dalam melakukan pengelolaan bencana memiliki beberapa hambatan yaitu masih memerlukan sumber daya manusia, masih ada beberapa wilayah di Provinsi Sulawesi Barat yang belum memiliki jaringan internet yang memadai.
Dari segi faktor pendukung yaitu Mamuju sudah memiliki alat deteksi bencana, jadi memudahkan BPBD dalam mengetahui risiko bencana sehingga selalu siap siaga.
Hal yang sama juga dikatakan oleh Seksi Kesipsiagaan mengenai faktor penghambat dan pendukung BPBD dalam melakukan tata kelola risiko bencana gempa bumi yang menyatakan bahwa:
“Faktor yang menghambat pengelolaan risiko bencana itu kita di sini masih kekurangan sumber daya manusia dimana ketika sumber daya manusia di sini terpenuhi, tugas dan fungsi BPBD dalam melakukan tata kelola risiko bencana cepat terealisasi. Sealin itu, biaya juga yang sering dikeluhkan di instansi-instansi, masalah dana karena ketika dana juga terpenuhi maka sangat mudah melakukan kegiatan.
Terus, faktor lainya yaitu kesadaran masyarakat juga perlu karena
selain BPBD melakukan tugasnya masyarakat juga perlu bekerjasama. Kalau faktor pendukung yaitu saat ini kan BMKG telah melakukan kerjasama dengan BPBD dalam mendeteksi bencana seperti cuaca buruk, kemungkinan terjadi gempa yang dapat diketahui dan disampaikan langsung ke masyarakat” ( Wawancara dengan AF, 10 Januari 2022)
Dari hasil observasi dan wawancara dapat diketahui bahwa BPBD dalam melakukan tata kelola risiko bencana gempa bumi di Provinsi Sulawesi Barat masih memiliki beberapa penghambat yaitu sumber daya manusia khususnya di bidang pencegahan dan kesiapsiagaan masih kurang serta faktor biaya. Sementara faktor pendukung saat yaitu dengan adanya kerja sama antara BMKG dengan BPBD dalam mendeteksi bencana.
Penulis melakukan wawancara dengan Ketua Organisasi Relindo Sulbar mengenai faktor penghambat dan pendukung tata kelola risiko melalui pengelolaan bencana gempa bumi mitigasi, peringatan dini, dan kesiapsiagaan sebagai berikut:
“Menurut saya yang menjadi faktor penghambat dalam tata kelola risiko bencana yaitu lambatnya masyarakat dalam memperoleh informasi tentang kebencanaan kalau faktor pendukung sendiri karena sekarang sudah ada bebarapa wilayah yang terpasang alat dteksi bencana jadi bisa cepat terjangkau oleh BMKG dan BPBD”
Wawancara dengan HM, 10 Januari 2022)
Dari hasil observsi dan wawancara dapat diketahui bahwa dalam faktor penghambat tata kelola risiko bencana gempa di BPBD yaitu masih ada beberapa wilayah yang belum mendapat informasi tentang kebencanaan sementara faktor pendukung yaitu adanya pemasangan alat deteksi bencana yang memudahkan BMKG dan BPBD dalam memdeteksi bencana.
Hal yang sama juga dikatakan oleh salah satu anggota Organisasi Relindo Sulbar bidang Humas mengenai tata kelola risiko bencana menggunakan pengelolaan bencana yaitu mitigasi, peringatan dini, dan kesiapsiagaan yang menyatakan bahwa:
“Faktor penghambat dalam melakukan tata kelola risiko bencana gempa bumi sendiri yaitu kurangnya pengetahuaan masyarakat tentang apa yang harus mereka lakukan ketika terjadi bencana yang hal ini memicu banyak korban ketika terjadi bancana gempa.
Sementara faktor pendukung sendiri sekarang kan sudah ada namanyaalat deteksi bencana jadi dalam penyampaian informasi sudah cepat” (Wawancara dengan AL, 10 Januari 2022)
Dari hasil observasi danwawancara dapat diketahui bahwa faktor penghambat dalam tata kelola risiko bencana gempa bumi di BPBD yaitu kurangnya informasi yang diperoleh oleh masyarakat tentang kebencanaan, apa yang harus mereka lakukan, semetara faaktor pendukung yaitu adanya alat deteksi bencana yang memudahkan BPBD dalam mendeteksi bencana.
Penulis melakukan wawancara dengan Anggota Organisasi Mamuju Mengajar bagaian Humas mengenai faktor penghambat daan pendukung tata kelola risiko melalui pengelolaan bencana gempa bumi mitigasi, peringatan dini, dan kesiapsiagaan sebagai berikut:
“Menurut saya faktor penghambat dalam tata kelola risiko yaitu masalah sarana dan prasarana seperti masih ada beberapa wilayah yang jaringannya belum memadai, yang kedua faktor infrastruktur jalan antar wilayah juga masih ada yang belum bagus. Kalau faktor pendukungnya sekarang ada yang namanya alat deteksi bencana jadi memudahkan BPBD” (Wawancara dengan FR, 10 Januari 2022) Dari hasil observasi dan wawancara dapat diketahui bahwa faktor penghambat tata kelola risiko bencana gempa bumi yaitu sarana dan prasarana belum memadai yaitu masih ada wilayah-wilayah di Provinsi Sulawesi Barat
belum memiliki jaringan yang baik sehingga sulit mendapatkaan informasi mengenai kebencanaan serta infrastruktuf jalan penghubung di beberapa wilayh juga belum baik sehingga memperlambat BPBD dalam memberikan himbauan.Faktor pendukung yaitu di Provinsi Sulawesi Barat telah memiliki alat deteksi bencana.
Hal yang sama juga dikatakan oleh salah satu anggota Organisasi Mamuju Mengajar bidang Humas mengenai tata kelola risiko bencana menggunakan pengelolaan bencan mitigasi, peringatan dini, dan kesiapsiagaan yang menyatakan bahwa:
“Menurut saya yang menjadi faktor penghambat dalaam tata kelola bencana seperti mitigasi, peringatan dini, dan kesiapsiagaan mengenai jaringan karena ketika setiap wilayah memiliki jaringan yang bagus otomatis semacam peringatan dini ataupun informasi- infomasi penting lainnya dapat muah d informasikan tanpa harus BPBD yang langsung memberikan himbauan. Fakor pendukung sendiri menurut saya dengan adanya alat deteksi bencana yang telah dipasang di wilayah-wilayah yang rawan, sudah cukup membantu tetapi alangka baiknya alat tersebut ditambah lagi supaya semua wilayah memilikinya karena selain gempa bumi Sulawesi Barat juga rawan banjir dan tanah longsor (Wawancara dengan ZK, 10 Januari 2022)
Dari hasil observasi dan wawancara yang dilakukan dapat diketahui bahwa faktor penghambat tata kelola risiko bencana gempa bumi yaitu masih ada beberapa wilayah yang belum memiliki jaringan yang baik sehingga sulit dalam mendapatkan himbauan dari BPBD mengeni peringatan dini dan kesiapsiagaan. Sementara faktor pendukung yaitu dengan adanya alat deteksi bencana gempa bumi.
Penulis melakukan wawancara dengan masyarakat mengenai faktor penghambat dan pendukung tata kelola risiko bencana gempa bumi yang menyatakan bahwa:
“Kalau faktor pendukung dan penghambat saya tidak paham pasti mengenai hal tersebut karena yang saya tau memang Provissi Sulawesi Barat rawan terjadi bencana. Selain gempa, juga sering terjadi longsor” (Wawancara dengan AK, 15 Januari 2022)
Dari hasil observasi dan wawancara dapat diketahui bahwa masyarakat tidak paham mengenai faktor pendukung dan penghambat dalam tata kelola risiko bencana gempa bumi.
Hal yang sama juga diungkapkan oleh masyarakat lainnya mengenai faktor penghambat dan pendukung tata kelola risiko bencana di BPBD Provinsi Sulawesi Barat yang menyatakan bahwa:
“Kalau masalah faktor pendukung dan penghambattata kelola risiko bencana gempa bumi yang dilakukaan BPBD saya tidak mengerti menganai hal-hal tersebut, yang saya tau kami masyarakat dan pemerintah terkait sama-sama berkerja dalam menanggulangi musibah berupa bencana gempa bumi serta selalu siap siaga”(Wawancara dengan SK, 15 Januari 2022)
Dari hasil observasi dan wawancara dapat diketahui bahwa masyarakat tidak mengetahui tentang faktor penghambat dan pendukung dalam penanggulangan risiko bencana gempa bumi tetapi selalu bekerja sama dan siapsiaga dalam penanggulangan risiko bencana.
Hal yang sama juga diungkapkan oleh masyarakat lainnya mengenai faktor penghambat dan pendukung tata kelola risiko bencana di BPBD Provinsi Sulawesi Barat yang menyatakan bahwa:
“Kalau faktor penghambat tata kelola risiko bencana saya ku h hrang tau karena kitakan hanya masyarakat apalagi bencana tidak ada yang