BAB III METODOLOGI PENELITAN
C. Jenis-Jenis Bencana yang Terjadi di Provinsi Sulawesi Barat
karena tergenang banjir. Salah satu lokasi di Mamuju Utara yang tergenang banjir adalah pemukiman warga di Desa Pajalele, Kecamatan Penanda. Pemukiman warga ini masih terendam dengan ketinggian air rata-rata 70 cm atau setinggi pinggul orang dewasa.Kerugian materil akibat rusaknya perabot rumah serta terhambatnya aktifitas pekerjaan. Kejadiaan banjir di Provinsi Sulawesi Barat tidak terlepas dari kondisi morfologi dimana bagian barat dari Provinsi Sulawesi Barat merupakan kawasan pemukiman sedangkan banjir timur merupakan kawasan perbukitan dan pengunungan, sehingga pola aliran sungai mengarah dari timur (upstream) yang merupakan daerah resapan air, air permukaan melalui sungai ke barat (downstream).
2. Gelombang Pasang/Abrasi
Gelombang pasang adalah gelombang air laut yang melebihi batas normal dan dapat menimbulkan bahaya baik di lautan, maupun di darat terutama daerah pinggir pantai. Umumnya gelombang pasang terjadi karena adanya angin kencang/topan. Perubahan cuaca yang sangat cepat, dan karena adanya pengaruh dari gravitasi bulan maupun matahari serta kecepatan gelombang pasang sekitar 10- 100 Km/jam.
Gelombang pasang sangat berbahaya bagi kapal-kapal yang sedang berlayar pada suatu wilayah yang dapat menenggelamkan kapal-kapal tersebut. Jika terjadi gelombang pasang dilaut akan menyebabkan tersapunya daerah pinggir pantai atau disebut dengan abrasi.Kejadiaan abrasi akibat gelombang pasang yang terjadi di Kabupaten Majene tahun 2008. Gelombang pasang dengan ketinggian sekitar 3 meter terjadi pada bulan Januari 2011, berakibat pada kerusakan parah 23 rumah
warga yang ada di Desa Tampalang Kecamatan Tapalang Kabupaten Mamuju Provinsi Sulawesi Barat. Kemudian pada bulan Maret 2012 gelombang pasang setinggi 4 meter merusak 35 rumah warga di Dusun Bone-Bone, Desa Bambu Kecamatan Mamuju Kabupaten Mamuju Provinsi Sulawesi Barat. Ombak yang datang dari perairan Sulawesi sejak pukul 08.00 WITA itu membuat warga yang tinggal di pesisir pantai Kabupaten Mamuju meninggalkan rumah mereka yang rusak di hantam gelombang pasang. Abrasi pantai di Kabupaten Majene Sulawesi Barat pada bulan Januari 2011 semakin meluas dan telah mencapai 5 Kecamatan, dampak yang ditimbulkan telah mengancam ratusan rumah warga serta jalur trasportasi antar Kabupaten dan Provinsi. Menurut Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Majene, perluasan kawasan abrasi terjadi di Kecamatan Pamboang, Sendana, Tammerodo, Tubo Sendana, dan Kecamatan Malunda.
Wilayah Kabupaten Provinsi Sulawesi Barat yang memiliki bentang pantai yang luas dan menghadap selat Makassar adalah Mamuju Utara, Mamuju, Majene, Polewali Mandar, yang dapat mengalami gelombang pasang dan abrasi.
3. Tanah Longsor
Tanah Longsor adalah terjadinya pergerakan tanah atau bebatuan dalam jumlah besar secara tiba-tiba atau berangsur yang umumnya terjadi didaerah terjal yang tidak stabil. Fktor lian yang mempengaruhi trjadinya bencana ini adalah lereng yang gundul serta kondisi tanah dan bebatuan yang rapuh. Air hujan adalah pemicu utama terjadinya tanah longsor. Ulah manusia pun bisa menjadi penyebab tanh longsor seperti penambangan tanah, pasir dan batu yang tidak terkendalikan. Air hujan menimbulkan genangan (banjir) dapat juga menyebabkan tanah longsor.
Kejadian banjir disertai tanah longsor di Sulawesi Barat terjadi sebanyak 3 kejadian yaitu, satukali di tahun 2002 dan dua kali di tahun 2010.
Menurut penjelasan dari Balai Pengelolaan DAS Lariang Mamasa tinggi kerusakan pada sejumlah daerah Aliran sungai DAS menjadi pemicu terjadinya bencana banjir dan lonsor yang terjadi dio beberapa wilayah di Indonesia termasuk Provinsi Sulawesi Barat, pemanfaatan alam yang melebihi ambang batas dan tidak terencana dalam konsep keterpaduan telah menimbulkan kerusakan lingkungan sehingga memicu terjadinya bencana seperti banjir, tanah longsor dan terjadi kekeringan serta rusaknya wilayah DAS sebagai daerah tangkapan air yang diduga kuat sebagai salah satu penyebab terjadinya bencana selama ini.
4. Gempa Bumi
Gempa bumi merupakan peristiwa pelepasan energi yang menyebabkan dislokasi (pergeseran) pada bagian dalam bumi secara tiba-tiba. Penyebab terjadinya gempa bumi antara lain proses tektonik akibat pergerakan kulit/lempeng bumi, aktivitas sesar di permukaan bumi, pergerakan geomorfologi secara lokal, contohnya terjadi runtuhan tanah, aktivitas gunung api dan ledakan nuklir.
Gempa Bumi yang pernah terjadi di Sulawesi Barat yaitu peristiwa pertama terjadi pada tanggal 11 April 1967 dengan magnitudo M 6,3 di daerah Polewali Mandar. Berdasarkan catatan korban atau kerusakan, gempa yang menimbulkan tsunami tersebut menyebabkan 13 orang meninggal dunia.
Gempa bumi yang kedua yaitu terjadi pada tanggal 23 Februari 1969, dimana gempa bumi tektonik pada saat itu terjadi dengan kekuatan magnitudo M 6,3. Gempa yang terjadi di daerah Majene ini telah menyebabkan korban maupun
kerusakan terbanyak di Pantai Barat Sulawesi yaitu sebanyak 64 orang meninggal dunia, 97 orang terluka dan 1287 bangunan serta rumah rusak di empat desa.
Gempa yang ketiga terjadi di daerah Mamuju dengan kekuatan M 6,7 pada tanggal 8 Januari 1984. Berdasarkan catatan BMKG akibat guncangan gempa kuat ini tidak ada korban yang meninggal dunia, tetap banyak rumah yang rusak maksimum karena intensitas guncangan Mamuju mencapai VII MMI.
Gempa bumi Sulawesi Barat terjadi pada bulan Juni 2010 pukul 07.52 waktu lokal di Mamuju Sulawesi Barat dengan kekuatan 5,1 skala richter. Gempa terjadi di kedalam 10 km di 91 km Barat Daya Palu, Sulawesi Tengah. Gempa bumi ini menyebabkan 1 orang tewas di Desa Kesano, Kecamatan Baras, sementara korban terluka sebanyak 135 orang, sebagian beasr luka ringan dan enam korban lainnya mengalami patah tulang. Akibat gempa ini menyebabkan terjadinya lubang semburan gas di Kecamatan Barat.
Gempa bumi yang terakhir terjadi di Provinsi Sulawesi Barat yaitu pada tanggal 14 dan 15 Janurai 2021 berkekuatan 6,2 Mw yang melanda pesisir barat Pulau Sulawesi. Pusat gempa berada di 7 km timur laut Majene, Sulawesi Barat dengan kedalaman 10 km. Gempa awal berkekuatan 5,9 Mw terjadi pada tanggal 14 Januari 2021. Guncangan gempa ini dirasakan di Kabupaten Majene dan Kabupaten Mamuju dengan skala V-VI MMI, di Mamasa, Polewali Mandar serta di Makassar dengan skala III-IV MMI. Gempa ini juga dirasakan oleh masyarakat Pare-pare, Wajo, Tanah Toraja, Pangkep bahkan hingga Kotabaru dan Batulicin di Kalimantan Selatan, serta Balikpapan di Kalimantan Timur. Gempa dirasakan pada skala VIII dalam skala mercalli di Kecamatan Tapalang Mamuju.
Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebutkan 105 orang meninggal dunia. Sementara 666 orang mengalami luka sedang dan berat dan 2.703 orang mengalami luka ringan. Kerusakan terjadi pada sejumlah bangunan diantaranya rumah-rumah masyarakat Maleo Town Square, toko, swalayan, sekolah, dan Rumah Sakit Mitra Manakarra yang amruk, serta bagian depan Kantor Gubernur Sulawesi Barat. Kantor Mancara pemandu lalu lintas di Bandar Udara Tampa Padang dan Rutan Mamuju dilaporkan mengalami kerusakan.
Pascagempa, pemerintah melalui Direktorat Jenderal Bina Marga Kementerian Pekerja umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) mengirim alat berat guna melakukan evakuasi dan membersihkan puing-puing bangunan yang amruk.
Bantuan logistik dari kementrian sosial juga dikirim dari gudang Mamuju dan Makassar. Kementrian sosial (Kemensos) juga mendirikan enam dapur umum untuk membantu memenuhi kebutuhan dasar para penyintas gempa dan memeberikan trauma healing melalui layanan dukungan psikososial (LDP) bagi kelompok rentan korban gempa yang mengguncang sejumlah daerah di Sulawesi Barat. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyalurkan pendistribusian bantuan logistik melalui udara menggunakan helicopter ke Kabupaten Mamuju dan Kabupaten Majene. TNI AU menyiapkan sejumlah alutsista untuk mengangkut Prajurit TNI dalam membantu proses operasi SAR, evakuasi bencana dan menyalurkan bantuan logistik kepada masyarakat terdampak bencana gempa bumi di Sulawesi Barat. TNI Anggkatan Laut juga mendirikan bebrapa posko komando (posko) bencana gempa bumi dan banjir di tiga kota. Porli mengirimkan bantuan untuk penanganan korban gempa bumi di Majene dan
Mamuju Sulawesi Barat. Badan Intelijen Negara (BIN) menyerahkan sejumlah bantuan kepada masyarakat melalui Kodim 1418/Mamuju. Palang Merah Inndonesia (PMI) mengirim sejumlah bantuan sandang ke Sulawesi Barat demi memenuhi kebutuhan sandang bagi korban gempa.
5. Kebakaran Hutan/ Lahan
Kebakaran hutan dan lahan merujuk pada komponen, antara lain jenis hutan hutan dan lahan, iklim dan jenis tanah. Kebakaran hutan pada umumnya disebabkan oleh petir, musim kemarau, pembakaran dan ulah manusia. Kebakaran hutan dan lahan yang terjadi terkadang bukan disebabkan oleh faktor alam tetapi oleh faktor kesengajaan. Tujuannya untuk membuka lahan baru, baik untuk pertanian maupun pemukiman. Namun pembakaran hutan secara sengaja ini dapat menimbulkan dampak negatif bagi kelestarian hutan dan kehidupan habitat yang ada di dalam hutan.
Kebakaran hutan/lahan di Sulawesi Barat terjadi yaitu di Kabupaten Poliwali Mandar tahun 2005. Namun kebakaran hutan dan lahan tidak menimbulkan korban jiwa. Pada Agustus 2011 kebakaran hutan terjadi di Kabupaen Mamuju Sulawesi Barat, nyaris merambah ke permukiman penduduk setempat.
Diduga kebakaran ini akibat adanya petani yang melakukan pembakaran setelah membuka lahan baru untuk dijadikan kebun. Api sangat cepat merembes kearah permukiman warga akibat hembusan angin yang kenjang sehingga memudahkan api melalap berbagai jenis tumbuhan kering akibat kemarau panjang.
6. Kekeringan
Kekeringan merupakan salah satu bencana yang sulit dicegah dan dapat datang berulang. Secara umumpengertian kekeringan adalah ketersediaan air yang jauh dibawah dari kebutuhan air untuk kebutuhan hidup, pertanian, kegiatan ekonomi, dan lingkungan. Kekeringan di Provinsi Sulawesi Barat dapat terjadi akibat perubahan iklim yang estrim. Bencana kekeringan terjadi sebanyak 11 kali di Provinsi Sulawesi Barat.Kejadiaan kekeringan terparah di Provinsi Sulawesi Barat terjadi di Polewali Mandar di tahun 2004. Sekitar 150 hektar tambak di Kelurahan Baurung, Kabupaten Majene, Sulawesi Barat mengalami kekeringan akibat kemarau yang terjadi sejak empat bulan terakhir dan menyebabkan ratusan petani tambak merugi.
7. AnginPuting Beliung
Angin puting beliung biasanya terjadi pda musim pancaroba, yaitu siang hari, suhu udara panas, pengap, dan awan hitam mengumpul, akibat radiasi matahari di siang hari tumbuh awan secara vertikal, sealnjutnya di awan tersebut pergolakan arus udara naik dan turu dengan kecepatan yang cukup tinggi. Arus udara yang turun dengan kecepatan yang tinggi menghembus kepermukaan bumi secara tiba-tiba dan berjalan secara acak.
Bencana angin puting beliung yang terjadi di Sulawesi Barat pada bulan Oktober 2011 di Kecamatan Campalagian Kabupaten Polewali Mandar yang mengakibatkan 380 rumah rusak berat dan ringan. Kemudian bulan Maret 2012 ratusan rumah di Kecamatan Polewali dan Binuang, Polewali Mandar Sulawesi Barat disapu angin putting beliung tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini tetapi
ratusan rumah warga porak poranda akibat bencana itu. Bahkan tercatat ada 42 rumah yang mengalami rusak berat.
8. Kejadian Luar Biasa
Kejadian Luar biasa (KLB) adalah timbulnya atau meningkatnya kesakitan/kematian yang bermakna secara epidemiologis dalaam kurun waktu daan daeraah tertentu. Epidemi dan wabah penyakit merujuk kepaada komponen yang dilihaat adalah kepadatan timbulnya malaria (KTM), kepadatan timbulnya HIV/AIDS (KTHIV/AIDS), kepadatan timbulnya campak (KTC) serta kepadatan penduduk.
Pada bulan November 2008 wabah diare yang melaanda masyarakat di Sulawesi Barat khususnya yang berada di Kabupaten Majene dan Kabupaten Polewati Mandar menyebabkan sebanyak 26 jiwa tewas.
Pada bulan Juni 2009 Pemerintah Polewali Mandar Sulawesi Barat menetapkan sejumlah maasuk kategori kejadian luar biasa (KLB) diare. Karena hanyaa dalam sepekan sekitar 300 anak dilarikan ke petugas kesehatan. Bahkan enam diantaranya meninggal dunia sebelum mendapat penanganan medis.
Kasus penyakit yang masih sering terjadi, menyerang golongan usia balita (bawah lima tahun) dan menimbulkan kematian misalnya diare, typoid, TB-paru, malaria dan Pneunmonia. Di RSUD Polewali hampir tiap minggu pasien yang dirawat ada yang meninggal. Karena salah satu penyakit-penyakit tersebut. Pada bulan agustus 2010 sudah terjadi 9 kasus kemtian akibat terkena penyakit tersebut.
9. Konflik Sosial
Konflik sosial adalah suatu kondisi dimana terjadi huru-hara/ kerusuhan atau perang atau keadaan yang tidak aman disuatu daerah tertentu yang melibatkan lapisan masyarakat, golongan, suku ataupun organisasi tertentu. Provinsi Sulawesi Barat pernah mengalami 3 (tiga) kali kejadian konflik social yaitu 2 (dua) kali di tahun 2003 dan sekali di tahun 2004. Di Kabupaten Mamasa provinsi Sulawesi Barat pada bulan Maret 2012 terjadi kerusuhan sosial. Dalam peristiwa tersebut 9 (Sembilan) orang korban mengalami luka berat dirawat inap di RS Benua Mamasa dan 6 (enam) orang lainnya dirawat inap di puskesmas Mamasa.
10. Kegagalan Teknologi
Kegagalan teknologi adalah sebuah kejadian bencana yang diakibatkan oleh kesalahan desain, pengoprasian, kelalaian dan kesegajaan manusia dalm penggunaaan teknologi dan industry.Kegagalan/kesalahan desain keselamatan pabrik/teknologi kesalahan prosedur pengoperasian pabrik/teknologi. Kerusakan komponen, kebocoran reaktor nuklir. Kecelakaan transportasi (darat, laut, udara).
Sabotase atau pembakaran akibat kerusuhan, dan dampak ikutan dari bencana (gempa bumi, banjir, dan sebagainya). Kegagalan teknologi dapat menyebabkan pencemaran (udara,air dan tanah), korban jiwa, kerusakan bangunan, dan kerusakan lainnya. Bencana kegagalan teknologi pada skala yang besar akan dapat mengancam kestabilan ekologi secara global. Kegagalan teknologi yang terjadi Provinsi Sulawesi Barat berupa kecelakaan transportasi yang terjadi di tahun 2007 dan tahun 2009.
D. Hasil Penelitian dan Pembahasan Tata Kelola Risiko Bencana Gempa