• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hasil Penelitian

Dalam dokumen laporan - SIMAKIP (Halaman 50-124)

BAB IV: HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

B. Hasil Penelitian

1. Prosedur-prosedur yang diperlukan oleh FKPM Da’i Kamtibmas Sebelum Ditugaskan ke Masyarakat sebagai mediator dalam penyelesaian perkara-perkara Isu-isu keagamaan

Peneliti melakukan wawancara, melakukan observasi dan mengambil dokumentasi untuk mengetahui Peran FKPM Da’i Kamtibmas sebagai mediator dalam peyelesaian perkara-perkara isu-isu keagamaan. Peneliti melakukan wawancara kepada Ketua Umum FKPM Da’i Kamtibmas, yaitu Bapak Dr. H.

Sarji, S.H., M.Pd., M.M, responden menyatakan bahwa:

Secara umum kita bersama-sama dengan aparat Kepolisian, Bhabinkamtibmas, bersama dengan Da’i-Da’i ini, bahu-membahu mewujudkan masyarakat yang tertib hukum, aman, damai, sejahtera dan tidak ada konflik”.

Adapun secara khusus bagaimana Da’i Kamtibmas ini berkontribusi kongkrit bersama sama dengan Bhabinkamtibmas bisa menyelenggarakan kegiatan-kegiatan, misalnya di saat masa pandemi ini Da’i Kamtibmas memberikan himbauan kepada jamah di Masjid, agar melaksanakan protokol kesehatan. Kemudian kawan-kawan kita di Jawa Timur membuat posko-posko, membagikan masker kemudian juga membantu aparat Kepolisian supaya jamah- jamah ini tidak mengambil jenazah pasien COVID-19 di Rumah Sakit kemudian di kebumikan (di makamkan) sendiri. Adanya peristiwa-peristiwa semacam ini sangat membahayakan. Maka Da’i Kamtibmas juga berperan aktif di masjid- masjid untuk mencegah hal-hal atau kejadian yang tidak diinginkan di masa pandemi ini, Secara khusus seperti itu”.

Berkaitan dengan Isu-isu keagamaan yang berpotensi memecah belah persatuan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) seperti Intoleransi, Radikalisme dan Ekstremisme. Pada prinsipnya, Da’i Kamtibmas ini adalah orang-orang yang paham dan sudah mengerti bagaiamana mereka Berdakwah, Berdakwah di dalam Islam ini harus dengan cara-cara yang baik. Kita mengacu pada green dakwah. Jadi Nabi Muhammah Shalallahu Alaihiwasalam SAW mengajarkan bahwa kita harus mendekati masyarakat itu dengan hikmah dan bicara yang baik. Niscaya kalau kita dengan kekerasan mereka akan lari dengan kita. Nah, dalam hal ini Toleransi sendiri ketika awal-awal Islam berdiri. Piagam Madinah ini sudah menggariskan bahwa antara Islam dengan Kristen berdamai antara Islam dengan Yahudi itu berdamai”.

40

Lakum Dinukum Waliyadin”, Bagiku agamaku, Bagimu Agamamu.

Untuk soal sosial kemasyarkatan kita bersama tapi untuk masalah ibadah kita harus menjaga akidah kita masing-masing, sehingga tidak terjadi konflik intoleransi dan seterusnya”.

Da’i Kamtibmas sekali lagi mengedepankan budi-luhur, luhuring-budi.

Artinya Da’i Kamtibmas selalu mengedepankan kejujuran, kerja sama yang baik, kemudian juga mujid-mujid, rukun-kompak, dan senantiasa mengedepankan dalam dakwah, dalam berdakwah kita Anti Radikalisme, dalam berdakwah kita harus mengedepankan green dakwah, dakwah yang sejuk, dakwah yang menyenangkan dan kita tidak mentoleransi dakwah-dakwah dengan kekerasan apalagi personel Da’i melakukan tindakan-tindakan secara radikal melakukan misalnya bom bunuh diri dan seterusnya. Itu menurut keyakinan kami tidak ada di dalam Islam. Di dalam Islam tidak ada bunuh diri dalam perjuangan. Semua perang-perang yang dilakukan Rasullulah Shalallahu Alaihiwasalam itu, perang- perang yang menegakan kalimatullah bahkan juga sifatnya itu adalah bersifat pembelaan dan tidak ada sahabat-sahabat itu yang bunuh diri dalam melakukan Tindakan-tindakan ‘amar maruf nai munkar’. Suatu saat ada sahabat yang karena kesakitan dalam peperangan terkena panah. Ketika dia tidak tahan menahan sakitnya panah, ketika dia bunuh diri, itu hukumnya bunuh diri dan menjadi matinya bukan mati sahid matinya adalah mati bunuh diri, mati yang ashor bukan mati sahid. Apalagi yang jelas-jelas tidak dalam peperangan, situasi damai kita melakukan jihad bunuh diri terhadap agama lain, terhadap umat lain, ini sangat tidak dibenarkan”.

Dalam permasalahan ini, Ketua Umum FKPM Da’i Kamtibmas berharap dengan hadirnya FKPM Da’i Kamtibmas bisa menjadi solusi untuk mengantisipasi isu-isu yang membuat gaduh, perpecahan Bangsa dan Negara sehingga keselarasan antara Aqidah Agama, Nasionalisme, Cinta Tanah Air, dan Budaya bisa hadir melalui Da’i Kamtibmas.

Untuk memperkuat komentar Ketua Umum FKPM Da’i Kamtibmas tersebut maka peneliti melakukan Triangulasi dengan mewawancarai Sekretaris Jenderal FKPM Da’i Kamtibmas, yaitu: Bapak H. Eddy Supriady, S. Kom., M.M.:

Da’i adalah Publik Figure yang ada di tengah-tengah masyarakat, di masjid atau mushola pada saat ceramah, tausiah, dan khutbah, kita lakukan dan memberikan pemahaman terkait hal Terorisme, Radikalisme dan intoleransi, hal-

41

hal yang tidak boleh terjadi dan dilakukan oleh siapapun juga, itu Tindakan Preventif yang kami lakukan, seharusnya tidak cukup dengan itu saja, kita bisa kembangkan dengan media sosial bila perlu kita memiliki media komunikasi seperti Radio dan sebagainya guna menyesuaikan era disrupsi 4.0 atau 5.0 kedepannya. Hal itu yang memang akan kita kembangkan, tetapi karena masih terbatas, harapan kita dengan adanya penelitian seperti ini, dengan adanya kendala-kendala yang kami hadapi bersama-sama kita dapat mencari solusinya, seperti itu”.

Kami tidak mengekslusifkan sebagai muslim saja, tetapi mamang kita harus berkerjasama dengan umat yang lainnya, dan mereka pun ingin bergabung dengan FKPM Da’i Kamtibmas, dengan tujuan untuk menciptakan keamanan dan ketertibam masyarakat, untuk mencegah isu-isu dan paham-paham terkait dengan Intoleransi, Radikalisme dan Ekstremisme, kita bekerja sama dengan Ormas- ormas Agama lainnya, agar peribadatan di Indonesia ini berhasil. Sebagai salah satu contoh, kami memiliki atribut, seperti pin, jas dan lainya, kami juga buatkan FKPM pendeta Kamtibmas, karena memang sudah ada dan kami layani”.

Sekretaris Jenderal FKPM Da’i Kamtibmas berharap, FKPM Dai Kamtibmas dapat selalu bersinergi khususnya dengan Kepolisian, Kementerian Agama dan Masyarakat secara Umum. Dengan tujuan mewujudkan keamanan, ketertiban dan Bhineka Tunggal Ika. Untuk memperkuat komentar Ketua Umum FKPM Da’i Kamtibmas tersebut maka peneliti melakukan Triangulasi dengan mewawancarai Ketua Dewan Penasehat FKPM Da’i Kamtibmas Nasional Indonesia, yaitu Bapak Prof. KH. Syukron Ma’mun:

“Jika kita melihat dari sisi agama, terkait dengan perbuatan Teror atau Teroris, itu yang melakukan hanya secara individu atau kelompok tertentu yang tidak memiliki pemahaman agama secara sempurna, karena mereka mengikuti ajaran yang tidak masuk akal. Kita menjelaskan kepada para pelaku-pelaku teror ini, jika para pelaku ini diperintahkan untuk melakukan aksi teror dengan bunuh diri dan lain-lain, kenapa yang memerintahkan tidak melakukanya sendiri saja?

inikan aneh, bisa memerintah orang lain tetapi tidak mau melakukanya”.

“Kita harus sadarkan kepada mereka-mereka itu, bahwa mereka telah menjadi korban dengan mengatas namakan agama. Sebagai negara Pancasila, negara yang Pluralistik, yang terdiri dari berbagai macam agama, budaya, adat istiadat yang ada, sumbangkanlah pemikiran-pemikiran terbaik yang dapat menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat Indonesia”.

42

Ketua Dewan Penasehat FKPM Da’i Kamtibmas Nasional Indonesia menekankan, tidak perlu Islam itu di berikan predikat apapun, biarkan Islam ada dengan keasliannya dan kemurniannya, cukup satu Islam. Agar tidak terjadi pecah belah umat Islam itu sendiri, tetapi yang terpenting adalah bagaimana Islam bisa berdampingan dengan Agama-agama lainya yang sudah ada. Allah SWT menurunkan agama Islam di Arab itu bukan mengarabkan Islam, melainkan mengislamkan orang-orang Arab. Tidak perlu di Indonesia ada Islam Indonesia.

Untuk memperkuat komentar Ketua Umum FKPM Da’i Kamtibmas tersebut maka peneliti melakukan Triangulasi dengan mewawancarai Wakil Ketua Dewan Penasehat FKPM Da’i Kamtibmas Nasional Indonesia, yaitu Bapak Irjen Pol (Purn) Drs. H. Sriyono, M.Si.:

“Jika ada yang mengatasnamakan Islam, dan mereka tidak menunjukan sikap Intoleransi kepada umat agama lainya, berarti mereka tidak menjadikan Rasullullah Shallahu alaihiwasalam sebagai suri teladanya. Yang keliru saat ini adalah mereka oknum-oknum yang berbuat meresahkan aktifitas masyarakat, dalam keadaan yang aman dan damai tetapi mereka melakukan tindakan Teror yang menimbulkan korban orang-orang tidak bersalah, tidak berdosa dan tidak tahu apa-apa. Jika keberadaan Da’i Kamtibmas ini dapat di manajemen dengan baik dalam rangka menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat bersama dengan Polri maka tindakan-tindakan preventif dapat dilakukan, sehingga kejadian-kejadian yang meresahkan, merugikan, dan menganggu keamanan ketertiban masyarakat akan teratasi”.

“Oleh karena itu, FKPM Da’i Kamtibmas bersama dengan Polri dan masyarakat lingkungan masing-masing melakukan kegiatan-kegiatan penebalan kemanan, seperti yang telah banyak dilakukan para Da’i-da’i Kamtibmas yang tergabung dalam kegiatan Siskamling, dan kegiatan musyawarah di Balai pertemuan masyarakat”.

Wakil Ketua Dewan Penasehat FKPM Da’i Kamtibmas Nasional Indonesia menegaskan, bahwa keberadaan Da’i Kamtibmas ini masih didominasi oleh kebutuhan dari keadaan daerah masing-masing atau dipengaruhi oleh situasi

43

keagamaan daerah masing-masing, perbedaan daerah ini sangat berpengaruh dalam tugas para Da’i-da’i Kamtibmas ini, contoh daerah Jawa dengan Papua pasti berbeda, dan Sumatera dengan Kalimantan pasti berbeda, dan daerah lainya.

Dengan dilakukanya manajemen yang baik, Da’i Kamtibmas ini dapat terkordinir dengan baik dalam tugasnya untuk menjaga Keamanan dan Ketertiban masyarakat pada seluruh Indonesia.

Untuk memperkuat komentar Ketua Umum FKPM Da’i Kamtibmas tersebut maka peneliti melakukan Triangulasi dengan mewawancarai Anggota Dewan Penasehat FKPM Da’i Kamtibmas Nasional Indonesia, yaitu Bapak H.

Hasyim Nasution, S.H., S.E.:

“Menurut pandangan saya, untuk menghadapi dan mencegah Isu-isu seperti ini, perlu adanya sikap untuk melakukan penguatan Moderasi beragama, karena Moderasi beragama adalah suatu sikap yang tidak boleh berlebih-lebihan dalam menghadapi situasi kemajemukan yang ada di Negara kita (Indonesia) semakin tinggi kita bersikap Moderasi maka semakin tinggi wawasan kita, kebangsaan kita, dan rasa cinta kita kepada NKRI, semakin sempit kita mempunyai pandangan atau tidak memiliki rasa moderasi yang tinggi, semakin kecil pola pemikiran kita, mengangap orang lain boleh dikatakan orang lain semua itu salah yang benar kita sendiri, yang lain tidak bisa, yang bisa kita sendiri. Inilah, yang menurut saya pandangan moderasi yang digulirkan oleh pemerintah dalam hal ini kementerian agama sangat tepat dan sangat cocok, dan ini kalau diterapkan menjadi suatu kekayaan bagi NKRI dan akan meningkatkan keutuhan NKRI, maka penting Moderasi”.

“Selanjutnya menurut saya, bahwa jika kita melihat sejarah bahwa berdirinya NKRI ini tidak berdiri dengan sendirinya tetapi berdiri melalui suatu kompromi, kompromi dengan berbagai macam pihak, baik secara politik, secara agama dan lain sebagainya, jadi sudah ada kompromi bagaimana bisa NKRI ini berdiri dengan kokoh, berdiri dengan kebersamaan maka perlunya kompromi, maka kalau seandainya sekarang di akhir-akhir ini ada orang yang merasa dirinyalah yang paling benar, orang ini tidak mengenal sejarah. Dari semua unsur mempunyai kontribusi yang besar, walaupun islam mayoritas tetapi umat- umat lain juga mereka mempunyai kontribusi yang tidak boleh kita hilangkan begitu saja, karena apa? kita menghargai bahwa NKRI berdiri atas dasar

44

kompromi, atas dasar saling menghargai, saling menghormati sehingga NKRI bisa berdiri sampai saat ini”.

“Kita tidak mau, negara kita ini hancur berantakan seperti negara-negara yang dapat kita saksikan saat ini, karena apa? mereka tidak memiliki rasa kebersamaan, mereka merasa bahwa kitalah yang paling benar orang lain salah.

Di dalam NKRI ini, kebersamaan dalam beragama, di dalam menghormati agama satu dengan yang lain sangat diperlukan, tanpa rasa penghormatan maka yang ada adalah masa kehancuran. Jadi, sangat besar sekali cost yang harus kita keluarkan apabila kita tidak meningkatkan rasa Moderasi kita yang tinggi, rasa harga-menghargai, hormat-menghormati kita akan rugi”.

“Maka, menurut saya apa yang disampaikan oleh pahlawan-pahlawan kita tentang adanya Pancasila, tentang adanya UUD 1945, adanya Bhineka Tunggal Ika semua itu sebenarnya memperkuat satu sama lainnya, yang beragama juga semakin tenang, suku satu dengan yang lain juga makin tenang karena terlindungi, terakomodir semuannya. Yang islam tidak merasa mayoritas, yang Kristen budha dan lain sebagainya tidak merasa minoritas tetapi semua adalah NKRI yang sangat menjaga kelestarian, kerukunan dan lain sebagainya”.

“Apa yang telah dilakukan Da’i Kamtibmas sebagai mediator perkara isu- isu keagamaan sudah sangat tepat, karena saat ini Da’i Kamtibmas bersama dengan Bhabinkamtibmas melakukan kegiatan sosialissai ke sekolah-sekolah, dan perguruan tinggi dalam rangka meningkatkan ketakwaan kepda Allah SWT dan kecintaan kepada Negara”.

“Bercermin dari situasi ini, FKPM Da’i Kamtibmas harus lebih massif untuk meningkatkan jumlah anggota Da’i Kamtibmas di masing-masing wilayah, sehingga dapat menjadi ujung tombak bersama Polri dan masyarakat dalam menangkal isu-isu keagamaan yang ada, dan mampu menjadi mediator dalam permasalahan yang ada, karena saat ini keberadaan Da’i Kamtibmas belum dirasakan oleh masyarakat, yang mendominasi kegiatan keagamaan hanya dari kalangan tokok-tokoh masyarakat saja.”

Anggota Dewan Penasehat FKPM Da’i Kamtibmas Nasional Indonesia menegaskan, TNI Polri dengan para Kyai dan ulama memang harus bekerja sama, kalau sudah berjalan dengan lancar, semua ini akan berjalan dengan baik. Dan juga jika kita melihat sejarah dari sudut sejarah Islam di Indonesia, berdirinya NKRI terjalin hubungan antara rakyat, agama itu sangat baik. Bahka jika kita pahami sejarah di Indonesia, belum pernah terjadi perselisihan antara umat itu karena persoalan Agama, belum pernah terjadi di Indonesia. Bahkan sejak zaman

45

dahulu hubungan antara masyarakat yang berbeda Agama sudah terjalin, kita lihat contoh sejarah seperti Borobudur yang lingkunganya itu banyak sekali umat islam, keberadaan Borobudur tidak apa-apa. Mengapa demikian? Karena Toleransi kita sudah terbangun dengan baik.

Untuk memperkuat komentar Ketua Umum FKPM Da’i Kamtibmas tersebut maka peneliti melakukan Triangulasi dengan mewawancarai Anggota Dewan Penasehat FKPM Da’i Kamtibmas Nasional Indonesia, yaitu Bapak Ir. H.

Ashary Akbar, M.M.:

“Dalam hal ini penguatan Moderasi beragama khususnya di Indonesia sangat penting dan memang harus diterapkan, karena Indonesia ini yang berasaskan pada satu Ideologi agama, di Indonesia ini memiliki Ideologi Pancasila yang merupakan hasil Konsensus kesepakatan dari semua pihak, semua masyarakat yang terdiri dari berbagai macam agama, berbagai macam suku bangsa, berbagai macam ras, ethnic, dan budaya untuk dapat hidup bersama-sama di dalam NKRI yang berasaskan Ideologi Pancasila”.

“Moderasi beragama, moderasi itu dalam Bahasa arab adalah

Washatiyah” yang berarti di tengah-tengah, tidak condong ke kanan dan tidak condong ke kiri. Dengan pengertian tidak ekstrem kanan dan ektrem kiri, ekstrem kanan yang bermaksud ke arah radikalisme, ekstremisme dan terorisme, untuk ekstrem kiri yang mengarah ke Liberal. Dan didalam Al-Quran sudah disebutkan sebagai “Umatan Washatiyah” umat yang berprinsip dan berpijak pada pengertian yang berada di tengah-tengah. Jika kita melihat dari sifat Allah SWT dalam asmaul husna, Allah SWT memiliki sifat Adhohir (Yang Nampak) tetapi Allah SWT juga memiliki dzat yang Bathin (Tidak Nampak), kemudian Qohar (Yang Memaksa) tetapi juga Halim (Yang Penyantun) memang seperti itu, di dunia ini ada kutub yang saling bersebrangan di dalam sikap orang islam, Allah SWT memerintah dan dicontohkan oleh Rasulullah SAW berada di tengah-tengah atau “Washat” yang menunjukan keseimbangan”.

“FKPM Da’i Kamtibmas sebagai mediator dalam menagkal isu-isu keagamaan saat ini, melakukan pengawasan bersama Bhabinkamtibmas, tokoh- tokoh masyarakat, dan tokok-tokoh agama pada wilayah masing-masing, pada kegiatan majelis taklim dan balai desa.”

Anggota Dewan Penasehat FKPM Da’i Kamtibmas Nasional Indonesia menegaskan, Semua agama tentunya mengajarkan kebaikan, keadilan,

46

keseimbagan, kedamaian, saling bantu-membantu. Memang syariat Agama itu diturunkan untuk kemaslahatan umat manusia dan kaidahnya seperti itu. Untuk meraih dan menciptakan suatu kemaslahatan umat dan menghindari suatu keburukan atau kemudhorotan, secara agama islam yaitu ‘Jalbul al-Mashalih wa Daf’ul al-Mafasid’ yang kita jalankan seperti itu, kita tidak boleh memaksakan, yang berarti memaksakan bahwa Agama itu harus seperti ini, kalau tidak seperti ini maka tidak benar. Pemaksaan-pemaksaan inilah yang mengakibatkan ketidak- seimbangan atau kita memaksakan yang sebetulnya itu merupaka budaya dan bukan agama. Tetapi budaya dipaksakan menjadi agama, oleh karena itu kita harus dapat memilah-milah dan memilih, mana yang agama dan mana yang budaya.

Untuk memperkuat komentar Ketua Umum FKPM Da’i Kamtibmas tersebut maka peneliti melakukan Triangulasi dengan mewawancarai Ketua Dewan Pembina FKPM Da’i Kamtibmas Nasional Indonesia, yaitu Bapak Irjen Pol (Purn) Dr. H. Anton Carliyan, MPKN.:

“Saya kira, Da’i Kamtibmas merupakan salah satu potensi yang luar biasa, ketika saya menjadi Kapolda saya membentuk khusus Sawala kebangsaan, di setiap kabupaten saya merekrut 40 Da’i Kamtibmas, sehingga Da’i Kamtibmas ini selain memiliki wawasan religius, wawasan aqidah, mereka memiliki wawasan Nasionalis yang tinggi. Jika kita berbicara terkait dengan Intoleransi, Radikalisme, Ekstremisme dan Terorisme bukan hanya melakukan penindakan secara fisik, karena hal ini merupakan perang secara Ideologi, dalam memerangi Ideologi harus dilakukan secara Syiar Agama, dikarena pergerakan yang mereka lakukan sangat begitu massif, sementara negara mengangap keadaan ini seperti adem-ayem saja, tenang-tenang saja, hanya berbicara dan tidak ada tindakan konkret yang dilakukan. Kemudian, siapa yang harus dikedepankan dalam kondisi seperti ini? dengan adanya Da’i-da’i Kamtibmas inilah tidak perlu diragukan keberadaanya”.

47

“Dengan semangat dan niat yang kuat para Da’i-da’i Kamtibmas ini, Polri belum membuat aturan secara Formal untuk pembuatan identitas keanggotaan atau license yang mendukung peran serta para Da’i Kamtibmas dalam pelaksanaan kegiatannya, oleh karena itu, menurut saya harus segera Polri meningkatkat keseriusan dalam mendukung para Da’i-da’i Kamtibmas sebagai mitra Polri resmi di bidang da’wah bersama para Bhabinkamtibmas yang ada di setiap wilayah hukum Polri seluruh Indonesia.”

Ketua Dewan Pembina FKPM Da’i Kamtibmas Nasional Indonesia menekankan, Bahwa Da’i Kamtibmas secara Aqidah dan Nasionalnya sudah bagus, jika ada perbedaan dalam perkara Syar’i para Da’i Kamtibmas ini dapat menjadi penenggah, dengan cara mengumpulkan dalil-dalil syar’i yang terdapat perbedaan dan mencari kebijakan bersama untuk menghindari perpecahan dalam pengamalannya, terutama yang berhubungan terkait dengan Nasionalisme, terkait hubungan dengan Allah SWT, terkait hubungan dengan sesama manusia.

Untuk memperkuat komentar Ketua Umum FKPM Da’i Kamtibmas tersebut maka peneliti melakukan Triangulasi dengan mewawancarai Bendahara Umum FKPM Da’i Kamtibmas, yaitu Bapak H. Imam Basori, Lc.:

“Dalam agama Islam, Allah SWT berfirman untuk taat kepada Allah SWT, taat kepada Rosulnya, Taat kepada pemerintahnya pada surat Surat An-Nisa ayat 59: “Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad), dan Ulil Amri (pemegang kekuasaan) di antara kamu. Kemudian, jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (Al-Qur'an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya." Di sini sudah jelas, perintah yang Allah SWT berikan kepada umat manusia, dalam bersikap kepada Allah SWT dan Manusia. Dalam menjalankan perintah Allah SWT, tercerminkan pada diri Rasulullahu Sahallallahu Alaihiwasalam, dalam Firman Allah SWT pada surat Al-Ahzab ayat 21: “Laqod kaana lakum fii rosuulillaahi uswatun hasanatun” yang artinya “Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu.” Allah SWT mengutus Nabi Muhammad Sahallallahu Alaihiwasalam sebagai nabi dan rasul sekaligus menjadi uswah hasanah (suri teladan yang baik) bagi umatnya. Kemudian Ulil Amri yaitu pemerintahan adalah sebagai pengatur negara atau masyarakatnya,

48

sebagai warga negara yang baik, kita harus taat dan patuh terhadap aturan- aturan yang diberlakukan oleh pemerintah”.

“Peran FKPM Da’i Kamtibmas dalam memerangi Radikalisme, Ekstremisme, Intoleransi dan Terorisme harus ada, harus tampil. Dalam rangka untuk bersinergi dan berkolaborasi pemerintah dan Kepolisian Republik Indonesia dalam menciptakan keamanan dan ketertiban masyarakat”.

“Dalam kegiatan rutin FKPM Da’i Kamtibmas bersama para dewan pengawas dan pembina, rutin melaksanakan rapat terbatas penguatan program- program kegiatan, dalam memerangi isu-isu keagamaan yang ada di Indonesia, dan ikut serta dalam pengukuhan anggota Da’i Kamtibmas di daerah-daerah, guna meningkatkan sinergitas kepada Kepolisian Daerah dan Forkopinda untuk bersama-sama menagkal isu-isu keagamaan yang ada di Indonesia.”

Bendahara Umum FKPM Da’i Kamtibmas menekankan, sering sekali, para oknum atau pelaku-pelaku kejahatan ini mengunakan alat atau kedok keagamaan, karena mayoritas Agama di Indonesia ini adalah Islam, maka Islam dijadikan alat untuk berbuat kejahatan. Inilah perlu keberadaan Da’i Kamtibmas, Da’i yang memiliki tanggung jawab secara Moral dan secara lahir untuk menertibkan masyarakat agar masyarakat tidak tergiring dalam paham-paham Radikalisme, Ekstremisme, Intoleransi dan Terorisme. Dalam hal ini, secara dasar agama Islam yaitu Al-Qur’an dan Hadist tidak sesuai, jika para pelaku itu mengatakan ‘sesuai’, mereka hanya mengambil cara dari pandangan mereka saja, bukan secara keseluruhan dalam Islam. Da’i Kamtibmas ini memiliki peran yang sangat penting di tengah-tengah masyarakat, dalam membantu tugas fungsi pemerintah dan Kepolisian dalam mengatasi perkara-perkara yang ada pada lingkungan masyarakat.

Untuk memperkuat komentar Ketua Umum FKPM Da’i Kamtibmas tersebut maka peneliti melakukan Triangulasi dengan mewawancarai Hj Endang Maria Astuti S.Ag., S.H., M.H., Anggota Komisi VIII DPR RI:

Dalam dokumen laporan - SIMAKIP (Halaman 50-124)

Dokumen terkait