• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hasil Penelitian

Dalam dokumen abstrak (Halaman 46-70)

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

Sesuai dengan yang diharapkan oleh peneliti yaitu meningkatkan keterampilan berbahasa inggris mengenai peningkatan pelafalan kosakata, observer mengamati 5 menit dengan memberikan 40 kosakata pada setiap pertemuan.

Adapun variabel penelitian yang dianalisis terdiri dari 3 aspek, dimana masing-masing aspek penelitian diobservasi untuk mengetahui hasil data baseline (A1), intervensi (B) dan baseline (A2) yang kemudian akan disajikan dalam bentuk grafik dan tabulasi dengan keterangan skor hasil 1 = Tidak menjawab sama sekali, 2 = Menjawab tapi belum benar, 3 = Menjawab dengan benar.

1. Kondisi baseline sebelum diberikan intervensi (A1)

Untuk memperoleh data yang dibutuhkan dalam penelitian ini adalah data kemampuan pelafalan kosakata Bahasa Inggris anak autism kelas VII di SLB Negeri Pelambuan Tingkat Provinsi Kalimantan Selatan pada Baseline 1 (A1). Pengumpulan data pada saat baseline (A1) dilaksanakan 5 kali sesi, subjek belum diberikan intervensi atau perlakuan. Perhitungan menggunakan jenis ukuran target behavior persentase. Dengan menggunakan rumus :

Nilai= skor yang diperoleh

skor maksimum ×100%  (Sudjana, 2006 : 118)

Sehingga diperoleh nilai sebagai berikut :

Sesi 1. Nilai = 30+10+15

120 × 100%

= 55 120

=0,458×100%

=45,8%

Sesi 2. Nilai = 30+10+15

120 × 100 %

= 55 120

=0,458×100%

=45,8%

Sesi 3. Nilai = 32+6+15

120 × 100%

= 53 120

=0,4416×100%

=44,2%

Sesi 4. Nilai = 32+8+12

120 × 100%

= 52 120

=0,433×100%

=43,3%

Sesi 5. Nilai = 32+8+12

120 × 100%

= 52 120

=0,433×100%

=43,3%

Berdasarkan penelitian yang dilakukan pada subjek anak autis di SLB Negeri Pelambuan menunjukkan adanya ketidakmampuan pelafalan kosakata Bahasa Inggris yang dapat dilihat dari data hasil pengamatan tentang pelafalan kosakata Bahasa Inggris yang dilakukan subjek pada saat peneliti melakukan tes kosakata pelajaran Bahasa Inggris sebagai data baseline (A1) disajikan dalam tabel di bawah ini.

Tabel 4.1: Baseline (A1)

Sesi Hari dan tanggal (lama pengamatan dalam Presentasi Pelafalan

ke waktu 5 menit) (Pronunciation) yang benar pada Baseline/(A1)

1 Senin, 2 September 2013 45,8 %

2 Selasa, 3 September 2013 45,8%

3 Rabu, 4 September 2013 44,2 %

4 Kamis, 5 September 2013 43,3 %

5 Jumat, 6 September 2013 43,3 %

Tabel di atas, data sebagai baseline pertama (A1) dilakukan sebanyak 5 kali pengamatan. Pengamatan dilakukan oleh peneliti ketika subjek belajar dengan guru di kelas. Data baseline (A1) pada sesi awal bervariasi, kemudian pada sesi berikutnya menjadi stabil. Ketidakstabilan pada sesi-sesi awal dimungkinkan karena subjek belum beradaptasi dengan tugas dalam rangka pengumpulan data. Setelah beberapa sesi menjadi stabil. Hal ini terjadi karena mengalami penyesuaian (adaptasi), dan terlihat bahwa pelafalan (Pronunciation) pada baseline (A1) dilaksanakan mulai tanggal 2 September 2013 sampai dengan 6 September 2013 yang dilaksanakan sebanyak lima kali pengamatan, dari tabel tersebut terlihat bahwa nilai 45,8 % adalah nilai tertinggi dan 43,3 % adalah nilai terendah.

Untuk lebih jelasnya data ini bisa dilihat dari grafik di bawah ini, Data pada kondisi baseline (A1) yang telah peneliti lakukan dalam 5 kali pengamatan adalah sebagai berikut:

42   43   44   45   46  

1   2   3   4   5  

Sesi

Nilai Pelafalan yang Benar

Grafik : 4.1 (A1) Baseline

2. Kondisi Intervensi (B)

Pada kondisi intervensi, anak dilatih kemampuan pelafalan kosakata sebanyak 40 kosakata Bahasa Inggris dengan menggunakan media kartu kata bergambar setiap sesi yang dilakukan 10 kali pengamatan. Data hasil pengamatan tentang pelafalan kosakata Bahasa Inggris pada saat mengikuti pelajaran sebagai data intervensi subjek mengalami peningkatan data.

Perhitungan menggunakan jenis ukuran target behavior persentase.

Dengan menggunakan rumus : Nilai= skor yang diperoleh

skor maksimum ×100%   (Sudjana, 2006 : 118)

Sehingga diperoleh nilai sebagai berikut :

Sesi 6. Nilai = 21+6+51

120 × 100%

= 78 120

=0,65×100%

=65%

Sesi 7. Nilai = 20+8+54

120 × 100%

= 83 120

=0,69×100%

=69%

Sesi 8. Nilai = 15+16+54

120 × 100%

= 85 120

=0,708×100%

=70,8%

Sesi 9. Nilai = 10+18+60

120 × 100%

= 88 120

=0,73×100%

=73%

Sesi 10. Nilai = 4+8+78

120 × 100%

= 90 120

=0,75×100%

=75%

Sesi 11. Nilai = 8+18+60

120 × 100%

= 86 120

=0,716×100%

=71,6%

Sesi 12. Nilai = 8+18+60

120 × 100%

= 86 120

=0,716×100%

=71,6%

Sesi 13. Nilai = 8+18+63

120 × 100%

= 89 120

=0,74×100%

=74%

Sesi 14. Nilai = 6+6+78

120 × 100%

= 90 120

=0,75×100%

=75%

Sesi 15. Nilai = 5+8+78

120 × 100%

= 91 120

=0,758×100%

=75,8%

Berdasarkan penelitian yang dilakukan pada subjek anak autis di SLB Negeri Pelambuan menunjukkan adanya kenaikan kemampuan pelafalan kosakata Bahasa Inggris yang dapat dilihat dari data hasil pengamatan tentang kemampuan pelafalan kosakata Bahasa Inggris dengan menggunakan media kartu kata bergambar yang dilakukan subjek pada saat pelajaran Bahasa Inggris sebagai data intervensi disajikan dalam tabel di bawah ini.

Tabel 4.2: Intervensi (B) Sesi

ke

Hari dan tanggal (lama pengamatan dalam waktu 5 menit)

Presentasi pelafalan (Pronunciation) yang

benar pada Intervensi/B

1 Senin, 9 September 2013 65%

2 Selasa, 10 September 2013 69%

3 Rabu, 11 September 2013 70,8%

4 Kamis, 12 September 2013 73%

5 Jumat, 13 September 2013 75%

6 Senin, 23 September 2013 71,6%

7 Selasa, 24 September 2013 71,6%

8 Rabu, 25 September 2013 74%

9 Kamis, 26 September 2013 75 %

10 Jumat, 27 September 2013 75,8 %

Hasil tabel di atas intervensi pertama dilakukan pada sesi ke 6 pada tanggal 9 september sampai sesi ke 15. Intervensi menggunakan media kartu kata bergambar. Pada sesi-sesi awal intervensi, subjek tidak banyak mengalami perubahan dengan data baseline pertama. Dimungkinkan subjek masih menyesuaikan dengan media intervensi. Pada sesi pertengahan hingga akhir terlihat pengaruh positif memakai media kartu kata bergambar pada kemampuan pelafalan kosakata Bahasa Inggris. Data pada sesi akhir mulai stabil. Dari tabel di atas, terlihat bahwa nilai 75,8%

adalah nilai tertinggi dan adalah 65 % nilai terendah.

Untuk lebih jelasnya data ini bisa dilihat dari grafik di bawah ini, Data pada kondisi intervensi (B) yang telah peneliti lakukan dalam 10 kali pengamatan adalah sebagai berikut:

Grafik : 4.2 Intervensi (B)

58   60   62   64   66   68   70   72   74   76   78  

1   2   3   4   5   6   7   8   9   10  

Sesi

Nilai Pelafalan yang Benar

3. Kondisi baseline (A2)

Pada Kondisi Baseline (A2) diambil pada sesi ke 16 sampai hari ke 20. Pengambilan data dilakukan pada saat subjek mengikuti pelajaran di kelas. Pada sesi awal baseline (A2) data menunjukkan stabil hingga kenaikan signifikan pada hari akhir baseline. Perhitungan menggunakan jenis ukuran target behavior persentase. Dengan menggunakan rumus :

Nilai= skor yang diperoleh

skor maksimum ×100% (Sudjana, 2006 : 118)

Sehingga diperoleh nilai sebagai berikut : Sesi 16. Nilai = 8+18+60

120 × 100%

=!"#!"

   =0,716×100%

   =71,6%

Sesi 17. Nilai = 8+18+60

120 × 100%

= 86 120

=0,716×100%

=71,6%

Sesi 18. Nilai = 4+8+78

120 × 100%

= 90 120

=0,75×100%

=75%

Sesi 19. Nilai = 5+12+78

120 × 100%

= 95 120

=0,79×100%

=79%

Sesi 20. Nilai = 5+12+81

120 × 100%

= 98 120

=0,816×100%

=81,6%

Berdasarkan penelitian yang dilakukan pada subjek anak autis di SLB Negeri Pelambuan menunjukkan adanya kenaikan kemampuan pelafalan kosakata Bahasa Inggris yang dapat dilihat dari data hasil pengamatan tentang pelafalan kosakata Bahasa Inggris yang dilakukan subjek pada saat tes kosakata pelajaran Bahasa Inggris sebagai data intervensi disajikan dalam tabel di bawah ini.

Tabel 4.3: baseline (A2) Sesi

ke

Hari dan tanggal (lama pengamatan dalam waktu 5 menit)

Presentasi pelafalan (Pronunciation) yang

benar pada Baseline/(A2)

1 Selasa, 01 Oktober 2013 71,6 %

2 Rabu, 02 Oktober 2013 71,6 %

3 Kamis , 03 Oktober 2013 75 %

4 Jumat , 06 Oktober 2013 79 %

5 Sabtu , 05 Oktober 2013 81,6 %

Baseline kedua dilakukan pada awal bulan. Data dikumpulkan selama 5 hari. Pada sesi awal intervesi memang pelafalan mulai membaik, dan semakin hari ternyata untuk pelafalan kosa kata bahasa inggrisnya tambah baik hingga akhir baseline (A2), dan dari tabel di atas, terlihat bahwa kemampuan pelafalan (pronunciation) kosakata Bahasa Inggris.

Pada baseline (A2) dilaksanakan mulai tanggal 1 Oktober 2013 sampai dengan 5 Oktober 2013 yang dilaksanakan sebanyak lima kali

pengamatan. dari tabel tersebut terlihat bahwa nilai 81,6% adalah nilai tertinggi dan adalah 71,6% nilai terendah.

Untuk lebih jelasnya data ini bisa dilihat dari grafik di bawah ini, Data pada kondisi baseline (A2) yang telah peneliti lakukan dalam 5 kali pengamatan adalah sebagai berikut:

Grafik : 4.3 Baseline (A2)

Perbandingan Antara hasil dari Grafik panjang kondisi baseline (A1) tanpa diberikan intervensi (B) sampai pada baseline (A2) kemampuan anak dalam pelafalan kosakata Bahasa Inggris. Dapat dilihat pada grafik dibawah ini.

65   70   75   80   85  

1   2   3   4   5  

Nilai Pelafalan yang Benar

Sesi

Gambar Grafik 4.4: Grafik kemampuan pelafalan kosakata bahasa inggris subjek penelitian pada fase baseline, intervensi dan baseline

4. Perhitungan Analisis Data

Sunanto (Ari 2013:115) Dari data tersebut perlu dianalisis untuk menentukan hasil pengkajian. Pada penelitian eksperimen dengan kasus tunggal penggunaan statistik yang komplek tidak dilakukan tetapi lebih banyak menggunakan statistik deskriptif yang sederhana sebab dalam penelitian dengan desain kasus tunggal terfokus pada data individu dari pada data kelompok.

a. Analisis dalam kondisi Langkah ke 1

Panjang kondisi, adalah Menentukan panjang interval yang menunjukkan berapa sesi dalam kondisi tersebut.

Kondisi (A1) B (A2)

Langkah ke 2

0   10   20   30   40   50   60   70   80   90  

1   2   3   4   5   6   7   8   9   10   11   12   13   14   15   16   17   18   19   20  

Nilai Pelafalan yang benar

Sesi

Panjang interval ini menunjukkan sesi dalam setiap kondisi pada baseline (A1) Intervensi (B) dan baseline (A2)

Kondisi (A1) B (A2)

Panjang Kondisi

5 10 5

Langkah 3

Mengestimasi kecenderungan arah dengan menggunakan metode belah dua (split-middle).

Gambar Grafik 4.5: Grafik kemampuan pelafalan kosakata bahasa inggris subjek penelitian pada fase baseline, intervensi dan baseline

keterangan

: Garis estimasi kecenderungan arah

0   10   20   30   40   50   60   70   80   90   100  

1   2   3   4   5   6   7   8   9   10   11   12   13   14   15   16   17   18   19   20  

Persentase  jawaban    yang  benar  

Sesi  

Dengan memperhatikan garis (1), (2) dan (3) maka diketahui pada fase baseline (A1) arah trendnya menurun, pada fase intervensi (B) arah trendnya menaik dan pada baseline (A2) arah trendnya menaik dan dalam tabel dapat dimasukan seperti ini :

Kondisi (A1) (B) (A2)

Estimasi kecendrungan arah

Langkah ke 4

Menentukan kecenderungan stabilitas pada baseline (A1), dalam hal ini menggunakan kreteria stabilitas 15%, (Sunanto, 2005:112) maka perhitungannya:

Skor tertinggi x kriteria stabilitas = rentang stabilitas 45,8 x 0,15 = 6,87

Untuk menentukan kecenderungan stabilitas dalam fase baseline (A1) ini terlebih dahulu dihitung mean level fase baseline (A1) yaitu:

1) Menghitung mean level

45,8 + 45,8 + 44,2 + 43,3 + 43,3 = !!!,!! = 44,48 2) Menghitung batas atas

Mean level + Setengah dari

rentang stabilitas = Batas atas

44,48 + 3,435 = 47,915

3) Menghitung batas bawah

Mean level - Setengah dari

rentang stabilitas = Batas bawah

44,48 - 3,435 = 41,045 4) Menentukan kecenderungan stabilitas

Banyaknya data poin yang ada dalam rentang

: Banyaknya data

point = Pesentase stabilitas

5 : 5 = 100%

Jika persentasi stabilitas sebesar 85% - 90% dikatakan (Sunanto, 2005:113), sedangkan di bawah ini dikatakan stabil. Karena hasil perhitungan untuk fase baseline (A1) adalah 100% maka diperoleh hasil stabil.

Menentukan kecenderungan stabilitas pada intervensi (B) dalam hal ini menggunakan kreteria stabilitas 15%, (Sunanto, 2005:112) maka perhitungannya :

Skor tertinggi x kriteria stabilitas = rentang stabilitas

75,8 x 0,15 = 11,37

Untuk menentukan kecenderungan stabilitas dalam fase intervensi (B) ini terlebih dahulu dihitung mean level fase intervensi (B) yaitu:

1) Menghitung mean level

65+69+70,8+73+75+71,6+71,6+74+75+75,8 = !"#,!!" = 72,08 2) Menghitung batas atas

Mean level + Setengah dari

rentang stabilitas = Batas atas

72,08 + 5,685 = 77,765

3) Menghitung batas bawah

Mean level - Setengah dari

rentang stabilitas = Batas bawah

72,08 - 5,685 = 66,395

4) Menentukan kecenderungan stabilitas Banyaknya data

poin yang ada dalam rentang

: Banyaknya data

point = Pesentase stabilitas

9 : 10 = 90%

Berdasarkan hasil penelitian di atas, diketahui indeks kecenderungan arah sebesar 90%, artinya data yang yang diperoleh pada fase intervensi (B) mencapai tingkat kestabilan sebesar 90% menunjukkan data stabil, dengan keadaan data intervensi (B) yang stabil telah meyakinkan untuk dilanjutkan ke fase baseline (A2) sebagai fase kontrol untuk mengatahui sejauh mana pengaruh media kartu kata bergambar terhadap pelafalan kosakata Bahasa Inggris subjek penelitian. Namun, sebelum melakukan intervensi dilakukan jeda selama dua hari.

Menentukan kecenderungan stabilitas pada baseline (A2) dalam hal ini menggunakan kreteria stabilitas 15%, (Sunanto, 2005:112) maka perhitungannya :

Skor tertinggi x kriteria stabilitas = rentang stabilitas 81,6 x 0,15 = 12,24

Untuk menentukan kecenderungan stabilitas dalam fase baseline (A2) ini terlebih dahulu dihitung mean level fase baseline (A2) yaitu:

1) Menghitung mean level

71,6 + 71,6 + 75 + 79 + 81,6 = !"#,!

! = 75,76

2) Menghitung batas atas

Mean level + Setengah dari

rentang stabilitas = Batas atas

75,76 + 6,12 = 81,88

3) Menghitung batas bawah

Mean level - Setengah dari

rentang stabilitas = Batas bawah

75,76 - 6,12 = 69,64

4) Menentukan kecenderungan stabilitas Banyaknya data

poin yang ada dalam rentang

: Banyaknya data

point = Pesentase stabilitas

5 : 5 = 100%

Analisis data baseline (A1) yang menunjukkan kecenderungan stabilitas 100% (data stabil) dijadikan dasar untuk melakukan pengumpulan data sebagai data awal untuk mengetahui tingkat kemampuan subjek penelitian dalam pelafalan kosakata Bahasa Inggris. Data intervensi (B) yang menunjukkan kecendrungan stabilitas 90% (data stabil) dijadikan dasar untuk melakukan pengumpulan data sebagai data kedua, dan baseline (A2) menunjukkan kecendrungan stabilitas 100% (data stabil). Adapun beberapa penyebab kestabilan data tersebut antara lain, karena adanya keajekan nilai data yang diperoleh. Pada fase baseline (A2) menunjukkan nilai mean level sebesar 75,76 nilai ini menunjukkan bahwa nilai pelafalan kosakata Bahasa Inggris berada di atas KKM yang telah ditentukan yaitu 50.

Berdasarkan Perhitungan di atas maka kecendrungan stabilitas dapat dilihat pada tabel sebagai berikut:

Kondisi (A1) (B) (A2)

Kecendrungan Stabilitas

Stabil Stabil Stabil

100% 90% 100%

Gambar Grafik 4.6: Grafik kemampuan pelafalan kosakata bahasa inggris subjek penelitian pada fase baseline, intervensi dan baseline

Keterangan :

: Batas atas : Mean level : Batas bawah Langkah 5

Menentukan kecendrungan jejak data, hal ini sama dengan kecendrungan arah.

Kondisi (A1) (B) (A2)

Kecendrungan

jejak (-) (+) (+)

0   10   20   30   40   50   60   70   80   90  

1   2   3   4   5   6   7   8   9   10   11   12   13   14   15   16   17   18   19   20  

Nilai  Pelafalan  yang  benar  

Sesi  

𝐴! 𝐵 𝐴!

Langkah ke 6

Menentukan level stabilitas dan rentang: sebagaimana telah dihitung di atas bahwa pada fase baseline (A1) datanya stabil. Adapun rentangnya 43,3-45,8.

Pada fase intervensi (B) datanya stabil dengan rentang 65–75,8, pada fase baseline (A2) datanya stabil pada rentang 71,6–81,6.

Kondisi (A1) (B) (A2)

Level

stabilitas dan rentang

Stabil 43,3-45,8

Stabil 65-75,8

Stabil 71,6-81,6

Langkah ke 7

Menentukan level perubahan dengan cara: ditandai data pertama dan data terakhir. Hitung selisih antara kedua data dan data tentukan arahnya menaik atau menurun dan beri tanda (+) jika membaik, (-) jika memburuk dan (=) jika tidak ada perubahan. Dengan demikian, level perubahan data dapat di tulis seperti berikut ini:

Kondisi (A1) (B) (A2)

Level perubahan

45,8 – 43,3 (-2,5)

65-75,8 (+10,8)

71,6-81,6 (+10)

Catatan: Tanda (+) menunjukkan makin membaik (meskipun menurun), tanda (-) menunjukkan makna memburuk (meskipun naik) karena hal ini disesuaikan dengan tujuan intervensi.

5. Analisis antar kondisi

Untuk melakukan analisis antar kondisi ini pertama-tama masukkan kode kondisi pada baris pertama. Pada antar kondisi1 baseline (A1) dengan kondisi intervensi (B) dan kondisi baseline (A2)maka dalam format adalah sebagai berikut:

Penelitian ini dikarenakan menggunakan disain A-B-A maka disini analisis antar kondisi dapat digambarkan seperti tabel berikut :

Perbandingan Kondisi A2/B/A1

(3:2:1)

Langkah ke 1

Penelitian ini dikarenakan menggunakan disain A-B-A dan data rekaan variabel yang akan dirubah dari kondisi baseline (A1)ke intervensi (B) dan baseline (A2)dengan demikian format dapat digambarkan seperti tabel berikut :

Perbandingan Kondisi A2/B/A1

(3:2:1) a. Jumlah Variabel Yang Dirubah 0

Langkah ke 2

Menentukan perubahan kecendrungan arah yaitu dengan mengambil data pada analisis dalam kondisi diatas, yaitu dengan format seperti tabel berikut :

Perbandingan Kondisi A2/B/A1

(3:2:1)

b. Perubahan Kecendrungan Arah Dan efeknya

( - ) (+) (+)

Negatif Positif

Langkah ke 3

Melihat perubahan kecendrungan stabilitas dapat kita lihat pada fase baseline (A1), intervensi (B) dan baseline (A2) pada hasil analisis dalam kondisi.

Perbandingan Kondisi A2/B/A1

(3:2:1)

c. Perubahan Kecendrungan Stabilitas Stabil Ke Stabil

Ke Stabil

Langkah ke 4

Menentukan perubahan level yaitu tentukan data point pada kondisi baseline A1 pada sesi terakhir dan sesi pertama pada kondisi intervensi (B) kemudian hitung selisih antara keduanya.

Penelitian ini diperoleh nilai 43,3-65 pada kondisi baseline (A1). Dan pada kondisi intervensi (B) diperoleh nilai 75,8-71,6. Maka diperoleh nilai baseline (A1) +21,7 sedangkan intervensi (B) +4,2.

Data perubahan level dapat dilihat pada tabel berikut : Perbandingan Kondisi A2/B/A1

(3:2:1)

Perubahan Level (75,8-71,6) (43,3-65) +4,2 +21,7

Langkah ke 5

Menentukkan overlap data pada kondisi baseline dengan intervensi (B) yaitu dengan cara :

1) Melihat kembali batas bawah dan atas pada kondisi baseline (A1) dan intervensi (B).

2) Menghitung ada berapa data point pada kondisi intervensi (B) yang berada pada rentang kondisi baseline 1 (A1) = 0 dan rentang intervensi (B) = 3

3) Membagi perolehan pada langkah 2 dengan banyaknya data point dalam kondisi (B) kemudian dikalikan 100.

Adapun hasil perhitungan persentase overlap pada penelitian ini adalah : (0 : 9) X 100 = 0% dan (3 : 5) X 100 = 60%

Perbandingan Kondisi A2/B/A1

(3:2:1) Persentase Overlap 0% 60%

Berdasarkan visualisasi grafik di atas, maka analisis visual kemampuan pelafalan kosakata Bahasa Inggris subjek penelitian dapat digambarkan sebagai berikut:

6. Rangkuman Hasil Analisis Visual Dalam Kondisi

Kondisi A1 B A2

1. Panjang kondisi 5 10 5

2. Estimasi

kecenderungan arah

3. Kecenderungan 100% 90% 100%

stabilitas

4. Kecenderungan jejak 5. Level stabilitas dan

rentang

Stabil 43,3-45,8

Stabil 65-75,8

Stabil 71,6-81,6 6. Level perubahan 45,8-43,3

(-2,5) Memburuk

65-75,8 (+10,8) Membaik

71,6-81,6 (+10) Membaik

Menentukan Level Perubahan

Data pertama - Data terakhir = Persentase stabilitas Baseline 1 (A1)

45,8 - 43,3 = -2,5

Intervensi (B)

65 - 75,8 = +10,8

Baseline 2 (A2)

71,6 - 81,6 = +10

 

7. Rangkuman Hasil Analisis Visual Antar Kondisi

Perbandingan kondisi A2/B/A1  

(3:2:1) 1. Jumlah variabel yang

dirubah

0

2. Perubahan kecenderungan arah dan efeknya

3. Perubahan kecenderungan stabilitas

Stabil Ke Stabil

Ke Stabil

4. Perubahan level (75,8-71,6) (43,3 -65) +4,2 +21,7

Menghitung Perubahan Level:

Data poin pada kondisi intervensi (B1 ) pada sesi terakhir

-

Sesi pertama pada kondisi

baseline (A2) =

Perubah an level

75,8 - 71,6 = +4,2

Data poin pada kondisi baseline (A2) pada sesi terakhir

-

Sesi pertama pada kondisi intervensi (B1) =

Perubah an level

43,3 - 65 = +21,7

Perbandingan kondisi A2/B/A1

(3:2:1)

A2/B/A1

(3:2:1)

5. Persentase overlap 0% 60%

Menentukan persentase overlap dapat dilakukan dengan cara:

Untuk B/A1:

a. Lihat kembali batas bawah baseline (A1) = 41,045 dan batas atas baseline (A1) = 47,915

b. Jumlah data point (65,69,70,8,43,3,73,75,71,6,71,6,74,75,75,8) pada kondisi intervensi yang berada pada rentang baseline (A1) = 0

c. Perolehan pada langkah b dibagi dengan banyaknya data poin pada kondisi (B) kemudian dikalikan 100, maka hasilnya adalah sebagai berikut (0 : 9) X 100 = 0%

Untuk B/A2

a. Lihat kembali batas bawah intervensi (B) = 60 dan batas atas intervensi (B) = 77,765

b. Jumlah data point (71,6,71,6,75,79,81,6) pada kondisi baseline (A2) yang berada pada rentang intervensi (B) = 3

c. Perolehan pada langkah b dibagi dengan banyaknya data poin pada kondisi baseline (A2) kemudian dikalikan 100, maka hasilnya adalah sebagai berikut (3 : 5) X 100 = 60%.

8. Reliabilitas Data Penelitian

Jadi persentase kesepakatan (percent egrement) : !!!

T ×100%(Sunanto, 2005:29)

O = 31, N = 0, T = 40 31+0

40 ×100  %

!"

!"

×

100 %= 77,5%

Setelah dites pengumpulan data bahwa uji reliabilitas data menunjukkan 77,5%

Dalam dokumen abstrak (Halaman 46-70)

Dokumen terkait