BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian
1. Deskripsi Hasil Belajar Siklus I Pertemuan I (Kamis, 10 April 2014) a. Tahap Perencanaan
1) Menelaah kurikulum SD kelas IV mata pelajaran matematika.
2) Membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) untuk pelaksanaan tindakan pengerjaan soal cerita operasi hitung campuran bilangan bulat melalui pendekatan pemecahan masalah.
3) Membuat tugas ( dalam bentuk LKM) untuk setiap pertemuan, LKM ini akan dikerjakan oleh murid secara berkelompok.
4) Membuat instrumen penelitian berupa tes hasil belajar sebanyak 5 nomor dalam bentuk soal cerita untuk melakukan evaluasi disetiap akhir siklus.
5) Membuat lembar observasi untuk melihat bagaimana keadaan murid di kelas selama proses belajar mengajar berlangsung.
b. Tahap Pelaksanaan
Jadwal pelaksanaan siklus I ditetapkan 4 kali pertemuan termasuk tes siklus. Berdasarkan RPP, Pelaksanaan tindakan pada pertemuan I, II, III yaitu kegiatan awal, kegiatan inti dan kegiatan akhir dan pertemuan keempat ini dilakukan tes siklus.
40
c. Hasil observasi dan evaluasi
Pada pertemuan I tercatat aktivitas murid yang terjadi selama proses pembelajaran berlangsung. Aktivitas tersebut diperoleh dengan menggunakan lembar observasi yang tercatat pada pertemuan I yakni:
1) Frekuensi kehadiran murid pada pertemuan I sebanyak 23 orang dari 25 murid.
2) Murid yang memperhatikan penjelasan guru sebanyak 20 orang.
3) Murid yang mengajukan pertanyaan kepada guru saat proses pembelajaran sebanyak 2 orang.
4) Murid yang aktif dalam kelompoknya sebanyak 18 orang.
5) Murid yang melakukan aktivitas lain saat kerja kelompok (ribut, main- main,jalan-jalan,dll) sebanyak 3 orang.
d. Refleksi
Pada pertemuan I proses pembelajaran diawali dengan pengenalan operasi hitung campuran bilangan bulat dengan mengerjakan soal cerita. Pada awalnya masih banyak murid yang kurang tertarik mengerjakan soal cerita operasi hitung campuran bilangan bulat ini ditandainya dengan banyaknya murid yang melakukan aktivitas-aktivitas lain seperti ribut, main-main, dan lain- lain. Sebagai kegiatan akhir guru memberikan soal kepada seluruh murid. Dari soal yang diberikan masih ada murid yang tidak mampu menyelesaikannya, itu karena murid kurang mampu memahami materi yang diajarkan. Karena ada juga murid yang acuh tak acuh terhadap penjelasan yang telah jelaskan.
Pertemuan II (Sabtu, 12 April 2014) a. Tahap perencanaan
Perencanaan pada pertemuan II relatif sama dengan pertemuan I, yaitu membuat rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) pengerjaan soal cerita operasi hitung campuran bilangan bulat melalui pendekatan pemecahan masalah, membuat soal-soal yang akan diberikan kepada murid, baik dalam bentuk kelompok maupun individu dan membuat lembar observasi.
b. Tahap pelaksanaan tindakan
Pelaksanaan tindakan pada pertemuan II diawali dengan mengecek kehadiran murid, kemudian menyampaikan materi yang akan diajarkan.
Pada dasarnya langkah-langkah yang dilakukan pada pertemuan ke II hampir sama dengan pertemuan I, membahas materi pelajaran dan memberikan kesempatan bertanya kepada murid, lalu memberikan kesempatan kepada murid untuk belajar dalam kelompoknya , selanjutnya mengerjakan LKM yang diberikan. Kemudian membahas jawaban dari LKM dan terakhir memberikan soal kepada seluruh murid.
c. Tahap observasi dan evaluasi
Pada pertemuan II tercatat aktivitas murid yang terjadi selama proses pembelajaran berlangsung. Aktivitas tersebut diperoleh dengan menggunakan lembar observasi yang tercatat pada pertemuan II yakni:
1) Frekuensi kehadiran murid pada pertemuan II sebanyak 24 orang dari 25 murid.
2) Murid yang memperhatikan penjelasan guru sebanyak 20 orang.
3) Murid yang mengajukan pertanyaan kepada guru saat proses pembelajaran sebanyak 4 orang.
4) Murid yang aktif dalam kelompoknya sebanyak 21 orang.
5) Murid yang melakukan aktivitas lain saat kerja kelompok (ribut, main- main,jalan-jalan,dll) sebanyak 3 orang.
d. Refleksi
Pada pertemuan II proses pembelajaran diawali dengan pengenalan operasi hitung campuran bilangan bulat dalam bentuk soal cerita melalui pendekatan pemecahan masalah. Penggunaan metode pembelajaran ini mulai menarik perhatian murid. Hal ini dapat dilihat dengan sedikit berkurangnya jumlah murid yang melakukan aktivitas lain saat kerja kelompok. Murid mulai mau memperhatikan penjelasan dari guru maupun teman kelompok yang membantunya, serta murid sudah mulai mampu bekerjasama dengan teman-teman kelompoknya terutama dalam mengerjakan LKM.
Sebagai kegiatan akhir guru memberikan soal kepada seluruh murid. Dari soal yang diberikan kebanyakan murid sudah bisa menyelesaikannya dengan baik meskipun ada juga yang belum bisa mengerjakannya. Murid yang belum bisa mengerjakannya pada umumnya masih agak bingung menyelesaikan tugas yang diberikan.
Pertemuan III (Selasa, 15 April 2014) a. Tahap perencanaan
Perencanaan pada pertemuan III relatif sama dengan pertemuan sebelumnya, yaitu membuat skenario pembelajaran pengerjaan soal cerita operasi
hitung campuran bilangan bulat, membuat soal-soal yang akan diberikan kepada murid, baik dalam bentuk kelompok maupun individu, dan membuat lembar observasi.
b. Tahap pelaksanaan tindakan
Pelaksanaan tindakan pada pertemuan III diawali dengan mengecek kehadiran murid, kemudian menyampaikan materi pelajaran.
Pada dasarnya langkah-langkah yang dilakukan pada pertemuan ke III hampir sama dengan pertemuan-pertemuan sebelumnya, membahas materi pelajaran dan memberikan kesempatan bertanya kepada murid, lalu memberikan kesempatan kepada murid untuk belajar dalam kelompoknya selanjutnya mengerjakan LKM yang diberikan. Kemudian membahas jawaban dari LKM dan terakhir memberikan soal kepada seluruh murid.
c. Tahap observasi dan evaluasi
Pada pertemuan III tercatat aktivitas yang terjadi selama proses belajar mengajar berlangsung. Aktivitas murid tersebut diperoleh dari lembar observasi yang tercatat pada pertemuan III yakni:
1) Frekuensi kehadiran murid pada pertemuan III sebanyak 25 orang dari 25 murid.
2) Murid yang memperhatikan penjelasan guru sebanyak 23 orang.
3) Murid yang mengajukan pertanyaan kepada guru saat proses pembelajaran sebanyak 3 orang.
4) Murid yang aktif dalam kelompoknya sebanyak 23 orang.
5) Murid yang melakukan aktivitas lain saat kerja kelompok (ribut, main- main,jalan-jalan,dll) sebanyak 2 orang.
d. Refleksi
Pada pertemuan III murid sudah mengetahui tentang pengerjaan soal cerita operasi bitung campuran bilangan bulat melalui pendekatan pemecahan masalah.
Penggunaan metode pembelajaran ini mulai menarik perhatian murid. Hal ini dapat dilihat dengan sedikit berkurangnya jumlah murid yang melakukan aktivitas lain saat kerja kelompok. Murid sudah mulai mampu bekerjasama dengan teman- teman kelompoknya terutama dalam mengerjakan LKM.
Sebagai kegiatan akhir guru memberikan soal kepada seluruh murid . Dari soal yang diberikan, pada umumnya murid sudah bisa menyelesaikannya dengan baik, ini karena murid sudah memahami tugas yang diberikan.
Pertemuan IV (Kamis, 17 April 2014) Tahap perencanaan
Adapun kegiatan yang akan dilakukan pada tahap perencanaan ini adalah membuat soal-soal yang akan diberikan pada tes akhir siklus I.
a. Tahap pelaksanaan tindakan Memberikan soal tes siklus I b. Tahap observasi dan evaluasi
Seperti yang dijelaskan sebelumya bahwa data diperoleh dari hasil evaluasi dan observasi dianalisis secara kuantitatif dan kualitatif.
1. Analisis data kuantitatif
Pada Siklus I ini dilaksanakan tes hasil belajar yang berbentuk ulangan harian setelah mengajarkan materi untuk Siklus I. Adapun analisis deskriptif skor perolehan murid setelah mengerjakan soal cerita operasi hitung campuran bilangan bulat adalah sebagai berikut berikut:
Tabel 4.1 Statistik Nilai Hasil Belajar Matematika murid Kelas IV SD Negeri Sungguminasa 1 Kabupaten Gowa pada Tes Akhir Siklus I
Dari tabel 4.1 menunjukkan bahwa nilai rata-rata (mean) hasil belajar matematika pengerjaan soal cerita operasi hitung campuran bilangan bulat pada siklus I adalah 62,2 dari skor ideal 100. Hal ini disebabkan karena masih ada beberapa murid melakukan kegiatan lain selama proses pembelajaran berlangsung.
Apabila nilai hasil belajar murid dikelompokkan ke dalam lima kategori, maka diperoleh distribusi frekuensi yang ditunjukkan pada Tabel 4.2 berikut ini.
Statistik Nilai
Subjek Skor Ideal Skor Tertinggi Skor Terendah Nilai Rata-Rata (mean)
25 100
80 40 62,2
Tabel 4.2 Distribusi Frekuensi dan Persentase Skor Hasil Belajar Matematika Murid Kelas IV SD Negeri Sungguminasa 1 Kabupaten Gowa pada Tes Akhir Siklus I
Skor Kategori Frekuensi Persentase (%)
0 – 54 Sangat Rendah 6 24
55 – 64 Rendah 7 28
65 – 79 Sedang 9 36
80 – 89 Tinggi 3 12
90 – 100 Sangat Tinggi 0 0
Jumlah 25 100
Setelah digunakan teknik kategorisasi pada tabel 4.2 di atas, terlihat bahwa dari 25 orang murid yang menjadi subjek penelitian terdapat 6 orang murid atau 24% yang berada pada kategori sangat rendah, 7 orang murid atau 28% yang berada pada kategori rendah, 9 orang murid atau 36% murid yang berada pada kategori sedang, 3 orang murid atau 12% yang berada pada kategori tinggi.
Apabila skor rata-rata hasil belajar murid pada siklus I yaitu 62,2 dikategorisasikan ke dalam teknik kategorisasi standar di atas, maka skor tersebut berada pada kategori rendah. Berdasarkan tabel 4.1 dan tabel 4.2 dapat disimpulkan bahwa skor rata-rata hasil belajar matematika pada siklus I murid kelas IV SD Negeri Sungguminasa 1 setelah dilakukan tindakan pada siklus I berada dalam kategori “rendah” dengan skor rata-rata 62,2 dari skor ideal yang mungkin dicapai yaitu 100.
Selanjutnya jika skor hasil belajar murid pada siklus I dikelompokkan berdasarkan skor Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) untuk mata pelajaran
matematika, maka persentase ketuntasan belajar murid pada siklus I dapat dilihat pada tabel 4.3 berikut:
Tabel 4.3 Deskriptif Ketuntasan Belajar Murid Kelas IV SD Negeri Sungguminasa 1 Kabupaten Gowa pada Siklus I
Persentase
Skor Kategori Frekuensi Persentase (%) 0 – 64
65 – 100
Tidak Tuntas Tuntas
13
12
52
48
Jumlah 25 100
Pada tabel 4.3 terlihat persentase yang tidak tuntas lebih banyak daripada murid yang tuntas hasil belajarnya.
2. Hasil analisis kualitatif
Pada siklus I tercatat aktivitas yang terjadi selama proses belajar mengajar berlangsung. Aktivitas murid tersebut diperoleh dari lembar observasi yang tercatat pada setiap pertemuan yakni:
1) Frekuensi kehadiran murid pada pertemuan I sebanyak 23 orang, kemudian pada pertemuan II sebanyak 24 orang dan pertemuan III meningkat sebanyak 25 orang.
2) Murid yang memperhatikan penjelasan guru pada pertemuan I sebanyak 20 orang, dan pada pertemuan II sebanyak 20 orang dan meningkat pada pertemuan III sebanyak 23 orang.
3) Murid yang mengajukan pertanyaan kepada guru saat proses pembelajaran berlangsung, yakni pada pertemuan I ada 2 orang, pada pertemuan II ada 4 orang, dan pada pertemuan III sebanyak 3 orang.
4) Murid yang aktif dalam kelompoknya saat kerja kelompok, pada pertemuan I ada 18 orang, pada pertemuan II sebanyak 21 orang, dan pada pertemuan III sebanyak 23 orang.
5) Murid yang melakukan aktivitas lain saat kerja kelompok (ribut, main-main, jalan-jalan), pada pertemuan I ada 3 orang, pertemuan II ada 3 orang, dan pertemuan III sebanyak 2 orang.
3. Hasil observasi murid
Data aktivitas murid pada siklus I diperoleh melalui hasil observasi selama proses pembelajaran disetiap pertemuan. Adapun deskripsi aktivitas murid pada siklus I, dapat dilihat dari tabel 4.4
Tabel 4.4. Observasi Pada Kegiatan Pembelajaran Siklus I
No Komponen yang Diamati Siklus I
I II III IV 1. Murid yang hadir saat pembelajaran. 23 24 25 Tes
S i k l u s 2. Murid yang memperhatikan penjelasan guru. 18 20 23
3. Murid yang mengajukan pertanyaan kepada guru saat proses pembelajaran.
2 3 2
4. Murid yang aktif dalam kelompoknya. 18 21 23 5. Murid yang melakukan aktivitas lain saat
kerja kelompok (rebut, main-main, jalan- jalan, dll)
3 3 2
c. Refleksi
Pada akhir siklus ini dilaksanakan tes Siklus I, mereka menunjukkan kesiapan dalam mengikuti tes yang diberikan. Hal ini terlihat ketika tes berlangsung tertib dan lancar, walaupun masih ada murid yang berusaha untuk
meniruh jawaban temannya disebabkan dari kebiasaan mereka sebelumnya ketika menemui kesulitan dalam mengerjakan soal yang diberikan. Namun, hal itu dapat diatasi dengan memberikan penegasan kepada murid.
Keputusan:
Pada akhir siklus pertama belum menunjukkan hasil yang optimum.Ketuntasan belajar hanya mencapai 48%, belum memenuhi indikator keberhasilan yaitu minimal 80% tuntas. Maka perlu dilanjutkan pada siklus kedua.
Langkah-langkah yang dilakukan dalam siklus selanjutnya dikembangkan dan dimodifikasi tahapan-tahapan yang ada pada siklus sebelumnya dengan beberapa perbaikan dan penambahan sesuai dengan masalah yang ditemukan.
2) Deskripsi Hasil Belajar Siklus II Pertemuan I (Sabtu, 19 April 2014) 1. Tahap perencanaan
Pada pertemuan I tahap perencanaan relatif sama dengan pertemuan siklus I, yaitu membuat RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran) pengerjaan soal cerita operasi hitung campuran bilangan bulat dengan pendekatan pemecahan masalah, merancang dan membuat soal-soal yang akan diberikan kepada murid, baik dalam bentuk kelompok maupun individu, dan membuat lembar observasi, membuat materi dan soal-soal. Mengembangkan teknik pembelajaran guna memperbaiki pembelajaran pada pertemuan-pertemuan sebelumnya.
2. Tahap pelaksanaan tindakan
Pelaksanaan tindakan pada pertemuan I diawali dengan mengecek kehadiran murid, dan menyampaikan tujuan pembelajaran, lalu mulai menjelaskan
materi pelajaran. Pada siklus II ini, penentuan kelompok masih sama pada siklus I pada tiap kelompok guru akan memberikan soal yang sama dan tingkat kesulitan yang berbeda. Selama proses pembelajaran berlangsung murid tidak diperbolehkan melakukan aktifitas lain selain memperhatikan materi yang dijelaskan dipapan tulis, karena jika guru menanyakan kembali materi yang baru saja dijelaskan dan murid tersebut tidak mampu menjawabnya maka akan diberikan sangsi berupa hukuman berdiri di depan. Hal ini menyebabkan murid akan lebih fokus memperhatikan penjelasan guru.
Selama proses pembelajaran berlangsung murid juga tidak diperkenankan untuk mencatat materi yang sementara dijelasakan karena akan mengurangi perhatian mereka sehingga sulit dipahami. Setelah materi selesai guru akan memberikan kesempatan kepada murid untuk mencatat materi yang telah dijelaskan dan memberikan kesempatan kepada setiap murid untuk bertanya. Dan diberikan LKM untuk dikerjakan secara bersama-sama dengan anggota kelompoknya. Pada akhir pelajaran akan diberikan soal kepada seluruh murid . 3. Tahap observasi dan evaluasi
Pada pertemuan I tercatat aktivitas murid yang terjadi selama proses belajar mengajar berlangsung. Aktivitas tersebut diperoleh dari lembar observasi yang tercatat pada pertemuan I yakni:
1) Frekuensi kehadiran murid pada pertemuan I sebanyak 25 orang dari 25 murid.
2) Murid yang memperhatikan penjelasan guru sebanyak 23 orang.
3) Murid yang mengajukan pertanyaan kepada guru saat proses pembelajaran sebanyak 3 orang.
4) Murid yang aktif dalam kelompoknya sebanyak 21 orang.
5) Murid yang melakukan aktivitas lain saat kerja kelompok (ribut, main- main,jalan-jalan,dll) sebanyak 3 orang.
4. Refleksi
Pada pertemuan I siklus II perhatian, motifasi, serta keaktifan murid mulai mengalami kemajuan. Hal ini terjadi karena murid mulai tertarik dengan pendekatan pemecahan masalah dalam mengerjakan soal cerita operasi hitung campuran bilangan bulat. Peneliti berusaha memberikan motivasi kepada murid agar semangat mengikuti pelajaran. Peneliti juga dalam menyampaikan materi kadang diselingi dengan memberikan hal-hal unik tentang matematika agar murid tidak mengantuk dan bosan dalam mengikuti pelajaran. Sebagai kegiatan akhir, guru memberikan soal kepada seluruh murid.
Pertemuan II (Selasa, 22 April 2014) a. Tahap perencanaan
Pada pertemuan II siklus II tahap perencanaan relatif sama dengan pertemuan I siklus II, yaitu membuat RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran) pengerjaan soal cerita operasi hitun campuran bilangan bulat melalui pendekatan pemecahan masalah, merancang dan membuat soal-soal yang akan diberikan kepada murid, baik dalam bentuk kelompok maupun individu, dan membuat lembar observasi. Mengembangkan teknik pembelajaran guna
memperbaiki pembelajaran pada pertemuan-pertemuan sebelumnya.
b. Tahap pelaksanaan tindakan
Pada pertemuan II relatif sama dengan pertemuan I, yakni mengecek kehadiran murid, guru menjelaskan materi kemudian menyajikan beberapa contoh yang berkaitan dengan materi, dan memberikan soal secara kelompok berupa LKM dan soal secara individu.
c. Tahap observasi dan evaluasi
Pada pertemuan II tercatat aktivitas murid yang terjadi selama proses belajar mengajar berlangsung. Aktivitas tersebut diperoleh dari lembar observasi yang tercatat pada pertemuan I yakni:
1) Frekuensi kehadiran murid pada pertemuan II sebanyak 24 orang dari 25 murid.
2) Murid yang memperhatikan penjelasan guru sebanyak 23 orang.
3) Murid yang mengajukan pertanyaan kepada guru saat proses pembelajaran sebanyak 4 orang.
4) Murid yang aktif dalam kelompoknya sebanyak 24 orang.
5) Murid yang melakukan aktivitas lain saat kerja kelompok (ribut, main- main,jalan-jalan,dll) sebanyak 2 orang.
d. Refleksi
Pada pertemuan II di siklus II ini perhatian, motivasi, serta keaktifan murid ada kemajuan. Hal ini terjadi karena murid mulai tertarik dan merasa terbiasa dengan pengerjaan soal cerita ini. Peneliti selalu berusaha memberikan motivasi kepada murid agar semangat mengikuti pelajaran. murid yang lain lebih serius
memperhatikan penjelasan temannya, dan suasana keakraban mulai muncul di dalam kelompok.
Pertemuan III (Kamis, 24 April 2014) a. Tahap perencanaan
Pada pertemuan III siklus II tahap perencanaan relatif sama dengan pertemuan I siklus II, yaitu membuat RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran) pengerjaan soal cerita operasi hitung campuran bilangan bulat melalui pendekatan pemecahan masalah, merancang dan membuat soal-soal yang akan diberikan kepada murid, baik dalam bentuk kelompok maupun individu, dan membuat lembar observasi. Mengembangkan teknik pembelajaran guna memperbaiki pembelajaran pada pertemuan-pertemuan sebelumnya.
b. Tahap pelaksanaan tindakan
Pada pertemuan III relatif sama dengan pertemuan I dan pertemuan II, yakni mengecek kehadiran murid, guru menjelaskan materi kemudian menyajikan beberapa contoh yang berkaitan dengan materi, dan memberikan soal secara kelompok berupa LKM dan soal secara individu.
c. Tahap observasi
Pada pertemuan III tercatat aktivitas murid yang terjadi selama proses belajar mengajar berlangsung. Aktivitas tersebut diperoleh dari lembar observasi yang tercatat pada pertemuan III yakni:
1) Frekuensi kehadiran murid pada pertemuan III sebanyak 25 orang dari 25 murid.
2) Murid yang memperhatikan penjelasan guru sebanyak 24 orang.
3) Murid yang mengajukan pertanyaan kepada guru saat proses pembelajaran sebanyak 4 orang.
4) Murid yang aktif dalam kelompoknya sebanyak 24 orang.
5) Murid yang melakukan aktivitas lain saat kerja kelompok (ribut, main- main,jalan-jalan,dll) sebanyak 2 orang.
d. Refleksi
Pada pertemuan III hampir sama dengan pertemuan II yaitu perhatian, motivasi, serta keaktifan murid menunjukkan adanya kemajuan. Hal ini terjadi karena murid mulai tertarik dan merasa terbiasa dengan pengerjaan soal cerita operasi hitung campuran bilangan bulat melalui pendekatan pemecahan masalah.
Peneliti selalu berusaha memberikan motivasi kepada murid agar semangat mengikuti pelajaran. sudah merasa lebih santai menjelaskan materi kepada temannya karena murid yang lain lebih serius memperhatikan penjelasan temannya yang sudah melakukan pertukaran pendapat dengan kelompok yang lain, dan suasana keakraban mulai muncul di dalam kelompok.
Pertemuan IV (Sabtu, 26 April 2014) a. Tahap perencanaan
Adapun kegiatan yang akan dilakukan pada tahap perencanaan ini adalah merancang soal-soal yang akan diberikan pada tes akhir siklus II
b. Tahap pelaksanaan tindakan Memberikan soal tes siklus II
c. Tahap observasi dan evaluasi
Seperti yang dijelaskan sebelumya bahwa data tentang hasil belajar dan observasi akan dianalisis secara kuantitatif dan kualitatif.
1. Analisis data kuantitatif
Berdasarkan hasil analisis deskriptif terhadap skor tes akhir siklus II yang diberikan pada murid setelah diterapkan dengan pendekatan pemecahan masalah, disajikan pada tabel sebagai berikut :
Tabel 4.5 Statistik Nilai Hasil Belajar Matematika Murid Kelas IV SD Negeri Sungguminasa 1 Kabupaten Gowa pada Tes Akhir Siklus II
Statistik Nilai
Subjek 25
Skor Ideal 100
Skor Tertinggi 100
Skor Terendah 50
Nilai Rata-Rata (mean) 78,2
Dari Tabel 4.4 menunjukkan bahwa skor rata-rata hasil belajar matematika setelah diterapkan dengan pengerjaan soal cerita operasi hitung campuran bilangan bulat melalui pendekatan pemecahan masalah pada murid kelas IV SD Negeri Sungguminasa 1 adalah 78,2 dari skor ideal yang mungkin dicapai adalah 100. Sedangkan secara individual skor yang dicapai murid pada penerapan ini tersebar dengan skor tertinggi 100 dan skor terendah 50.
Setelah skor hasil tes murid dikelompokkan ke dalam lima kategori, maka diperoleh distribusi frekuensi dan persentase sebagai berikut:
Tabel 4.6 Distribusi Frekuensi dan Persentase Skor Hasil Belajar Matematika Murid Kelas IV SD Negeri Sungguminasa 1 Kabupaten Gowa Akhir Siklus II
Skor Kategori Frekuensi Persentase (%)
0 – 54 Sangat Rendah 2 8
55 – 64 Rendah 2 8
65 – 79 Sedang 6 24
80 – 89 Tinggi 8 32
90 – 100 Sangat Tinggi 7 28
Jumlah 25 100
Dari Tabel 4.6 menunjukkan bahwa terdapat 8% berada pada kategori sangat rendah, 8% berada pada kategori rendah, 24% hasil belajar murid berada pada kategori sedang, 32% berada pada kategori tinggi, dan 28% berada pada kategori sangat tinggi. Ini menunjukkan bahwa tingkat kemampuan murid sudah meningkat. Karena, sesuai skor rata-rata dari hasil tes pada siklus II yaitu sebesar 78,2 jika dikonversikan kedalam skala lima maka skor rata-rata hasil belajar pada murid kelas IV SD Negeri Sungguminasa 1 setelah diterapkan melalui pendekatan pemecahan masalah.
Apabila hasil belajar murid pada siklus II dianalisis, maka persentase ketuntasan belajar murid pada siklus II dapat dilihat pada Tabel 4.7 berikut ini.
Tabel 4.7 Deskriptif Ketuntasan Hasil Belajar Murid Kelas IV SD Negeri Sungguminasa 1 Kabupaten gowa
No Interval Skor Kategori Frekuensi Persentase (%)
1. 0 – 64 Tidak Tuntas 4 16
2. 65 – 100 Tuntas 21 84
Jumlah 25 100
Pada tabel 4.7 terlihat persentase murid yang tuntas hasil belajarnya yakni 84%.
2. Hasil analisis kualitatif
Pada siklus II tercatat aktifitas yang terjadi selama proses belajar mengajar berlangsung. Aktifitas murid tersebut diperoleh dari lembar observasi yang tercatat pada setiap pertemuan, yaitu sebagai berikut :
1) Frekuensi kehadiran murid pada pertemuan I sebanyak 25 orang, kemudian pada pertemuan II sebanyak 24 orang dan pertemuan III sebanyak 25 orang.
2) Murid yang memperhatikan penjelasan guru pada pertemuan I sebanyak 23 orang, kemudian pada pertemuan II sebanyak 23 orang dan meningkat pada pertemuan III sebanyak 24 orang.
3) Murid yang mengajukan pertanyaan kepada guru saat proses pembelajaran berlangsung, yakni pada pertemuan I ada 3 orang, pada pertemuan II ada 4 orang, dan pada pertemuan III sebanyak 4 orang.
4) Murid yang aktif dalam kelompoknya saat kerja kelompok, pada pertemuan I ada 21 orang, pada pertemuan II sebanyak 24 orang, dan pada pertemuan III sebanyak 24 orang.
5) Murid yang melakukan aktivitas lain saat kerja kelompok (ribut, main- main, jalan-jalan), pada pertemuan I ada 3 orang, pertemuan II ada 2 orang, dan pertemuan III sebanyak 2 orang.
3. Hasil observasi aktivitas murid
Data aktivitas murid pada siklus II diperoleh melalui hasil observasi selama proses pembelajaran disetiap pertemuan. Adapun deskripsi aktivitas murid pada siklus II, dapat dilihat dari tabel 4.8
Tabel 4.8. Observasi Pada Kegiatan Pembelajaran Siklus II
No Komponen yang Diamati Siklus I
I II III IV 1. Murid yang hadir saat pembelajaran. 25 24 25 Tes
S i k l u s 2. Murid yang memperhatikan penjelasan guru. 23 23 24
3. Murid yang mengajukan pertanyaan kepada guru saat proses pembelajaran.
3 4 4
4. Murid yang aktif dalam kelompoknya. 21 24 24 5. Murid yang melakukan aktivitas lain saat
kerja kelompok (rebut, main-main, jalan- jalan, dll)
3 3 2
d. Refleksi
Pada akhir siklus ini dilaksanakan tes siklus II, mereka menunjukkan kesiapan dalam mengikuti tes yang diberikan. Hal ini terlihat ketika tes berlangsung tertib dan lancar, walaupun masih ada murid yang berusaha untuk meniruh jawaban temannya disebabkan dari kebiasaan mereka sebelumnya ketika menemui kesulitan dalam mengerjakan soal yang diberikan. Namun, hal itu dapat diatasi dengan memberikan penegasan kepada murid.