• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

B. Hasil Penelitian

Dan juga di tambah dengan keaktifan dan kekreatifan pemuda yang ada di Kecamatan Tombolo pao Juga mendirikan beberapa organisasi kepemudaan yang tujuannya adalah untuk membantu pemerintah merealisasikan pembangunan bagaimana Kecamatan Tombolo Pao kedepannya menjadi lebih baik dan membangun hubungan silaturahmi antar pemuda di seluruh Kecamatan Tombolo Pao.

bukan mengutamakan siapa yang menang atau siapa yang kalah tapi penyelesaian sengketa secara adat ini di lakukan untuk bagaimana kedepannya dari kedua belah pihak yang bersengketa ini bisa menerima hasil keputusan yang telah di sidangkan secara adat tanpa adanya rasa kesal atau ketidak puasan dari salah satu pihak yang bersengketa yang dapat menimbulkan rasa dendam dan putusnya hubungan silaturahmi antar kedua belah pihak yang bersengketa inilah salah satu penyelesaian sengketa tanah yang di lakukan oleh parah tokoh masyarakat dan parah tokoh adat serta pemerintah setempat di Kecamatan Tombolo Pao alasanya karna kebanyakan atau mayoritas masyarakat yang tinggal dan menetap di Kecamatan Tombolo Pao ini adalah orang-orang yang tidak lepas dari yang namanya hubungan keluarga.

Masyarakat Kecamatan Tombolo Pao sendiri adalah suatu corak yang khas dari masyarakat kita yang masih sangat terpencil dan berada kurang lebih 27 KM dari kota malino atau dalam hidup sehariharinya masih sangat tergantung kepada tanah atau alam pada umumnya. Dalam masyarakat semacam itu selalu terdapat sifat lebih mementingkan keseluruhan, lebih mengutamakan kepentingan umum dari pada kepentingan individual. Masyarakat Desa/Kelurahan, senantiasa memegang peranan yang menentukan yang pertimbangan dan putusannya tidak boleh dan tidak dapat disia-siakan. Keputusan Desa adalah berat, berlaku terus dan dalam keadaan apapun juga harus dipatuhi dengan hormat dan khidmat.

Berdasarkan hasil wawancara dan arahan dari pemerintah yang ada di Kecamatan Tombolo Pao dalam hal ini Pak.Yususf selaku sekertaris kecamatan mengatakan bahwa,

“Di Tombolo Pao ini ada 8 desa dan satu kelurahan namun di antara 9 desa/kelurahan yang masih melaksanakan atau menggunakan hukum adat ialah hanya ada dua daerah yaitu Kelurahan Tamaona dan Desa Pao”.

Maka dari itu peneliti memutuskan untuk memulai penelitianya berdasarkan sampel peneliti yang di sebutkan di atas tadi yaitu Kelurahan Tamaona dan Desa Pao Kecamatan Tombolo Pao Kabupaten Gowa

Berdasarkan dari wawancara dengan tokoh Masyarakat, pemerintah setempat di Kelurahan Tamaona dan Desa pao serta tokoh adat dan juga orang atau Masyarakat yang pernah bersengketa mengatakan bahwa,

“Menurut HR selaku ketua adat dan punggawa massa “ketua massa” di Kecamatan Tombolo Pao mengatakan bahwa penyelesaian suatu perkara menurut hukum adat di Tombolo pao ini dilakukan secara hati-hati yang di maksud dalam hal ini sebelum melakukan proses penyelesaian perkara sepertin sengketa hak waris atas tanah ini kami harus mencari data-data yang benar sebelum melaksanakan sidang atau musyawarah dalam penyelesaiaan sengketa hak waris atas tanah menurut hukum adat tujuannya ialah agar tidak munculnya asumsi atau tuduhan tuduhan yang tidak baik atau kurang mengesankan dari kedua belah pihak yang bersengketa. ialah kami mengadakan suatu pertemuan oleh Ketua adat dan pemerintah setempat serta tokoh masyarakat dan juga dari keluarga dari kedua belah pihak yang bersengketa alasannya ialah untuk menghidari fitnah fitnah dari salah satu pihak yang bersengketa dan menimbulkan dampak yang buruk dan berkepanjangan untuk kedua belah pihak dan keluarganya. kemudian menceritakan dan mencarikan suatu jalan yang terbaik dari hasil musyawarah dari keluarga kedua belah pihak dengan tokoh masyarakat dan tokoh adat penyelesaian perkara seperti ini di lakukan dengan cara kekeluargaan karna kami sangat menjaga prinsip kekeluargaan kami karna karna kami tidak ingi suatu hubungan kekeluargaan ini retak hanya karna suatu perkara hak waris seperti ini”.

Kemudian ia juga mengatakan bahwa penyelesaian sengketa hak waris atas tanah yang ada di kecamatan tombolo pao itu sama karna yang membuat peraturan hukum secara adat ialah tokoh masyarakat pemerintah setempat dan tokoh adat berdasarkan pandangan dari kebiasaan–kebiasaan yang di lakukan orang-orang terdahulu karna dulu ketika karaeng tea dan karaeng pado masih ada

cara penyelesaiannya pun itu sama seperti yang di lakukan karaeng tea dan karaeng pado inilah salah satu peninggalan leluhur kami yang masih di hargai sampai sekarang dan perlu kita ketahui juga bahwa karaeng tea dan karaeng pado itu termasuk orang sangat di takuti dan di hargai pada masanya karna pada saat itu di Kecamatan Tombolo Pao hanya ada dua Karaeng yaitu karaeng tea dan karaeng pado mereka berdua adalah saudara kandung yang sama-sama di hargai di Kecamatan Tombolo Pao dan seperti inilah yang sering di lakukan dulu oleh mereka berdua dalam menyelesaikan suatu perkara sengketa hak waris . Namun sekarang penyelesaiaan kasus sengketa hak waris secara adat ini hanya dua ( 2 ) dari ( 9 ) desa/kelurahan yang ada di Tombolo pao yaitu Kelurahan Tamaona dan Desa Pao.

Dan kemudian di perkuat lagi argumen di atas oleh beberapa hasil hasil wawawncara yang di lakukan oleh peneliti bersama beberapa tokoh masyarakat,tokoh adat pemerintah setempat dan masyarakat yang pernah bersengketa dalam hal ini Kelurahan Tamaona dan Desa pao.

Menurut FA selaku Sekertaris Desa Pao

“Penyelesaian sengketa hak waris atas tanah menurut hukum adat di Kecamatan Tombolo pao ialah di selesaikan betul-betul dengan mengutamakan prinsip kekeluargaan dan penyelesaiannya ini di lakukan dengan mencari sumber-sumber yang bisa di percaya orang-orang yang di tuakan dan selaku tokoh masyarakat.”

Menurut SJ selaku Tokoh Masyarakat

“Penyelesaian sengketa hak waris atas tanah ini secara hati-hati tanpa adanya pemihakan kepada satu sisi karna kami di tombolo pao ini sangat mengutamakan yang namanya keluarga atau saudara dan prosesnya ini di pertimbangkan seadil adilnya agar tidak ada dendam yang tersimpan di antara kedua belahpihak.

Kemudian dari hasil wawancara dengan Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat yaitu RB

“Penyelesian kasus sengketa tanah seperti ini dilakukan dengan prinsip kekeluargaan setelah di perhadapakan di hadapkan kedua belah pihak dengan prinsip kekeluargan dalam sengketa tanah tersebut lalu salah satu di antaranya tidak ada yang puas barulah di limpahkan ke pemerintah setempat”.

Pengakuan negara atas masyarakat hukum adat diakui melalui Pasal 18B ayat (2) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (“UUD 1945”).

“Negara mengakui dan menghormati kesatuan-kesatuan masyarakat hukum adat beserta hak-hak tradisionalnya sepanjang masih hidup dan sesuai dengan

perkembangan masyarakat dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia, yang diatur dalam undang-undang”.

Lebih lanjut, pengakuan tersebut diuraikan melalui Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa (“UU Desa”).Didalam UU Desa, wewenang desa adat untuk menyelesaikan permasalahan hukum warganya diakui oleh negara melalui Pasal 103 huruf d dan e UU Desa sebagai berikut:

Kewenangan Desa Adat berdasarkan hak asal usul sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 huruf a meliputi:

1. pengaturan dan pelaksanaan pemerintahan berdasarkan susunan asli;

2.pengaturan dan pengurusan ulayat atau wilayah adat;

3.pelestarian nilai sosial budaya Desa Adat;

4.penyelesaian sengketa adat berdasarkan hukum adat yang berlaku di Desa Adat dalam wilayah yang selaras dengan prinsip hak asasi manusia dengan mengutamakan penyelesaian secara musyawarah;

5.penyelenggaraan sidang perdamaian peradilan Desa Adat sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan;

6.pemeliharaan ketenteraman dan ketertiban masyarakat Desa Adat berdasarkan hukum adat yang berlaku di Desa Adat;

7.pengembangan kehidupan hukum adat sesuai dengan kondisi sosial budaya masyarakat Desa Adat.

Di luar UU Desa, posisi keputusan-keputusan dari proses penyelesaian sengketa adat pun diakui sebagai salah satu sumber hukum bagi hakim. Pasal 5

ayat(1) Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman (“UU 48/2009”) menyatakan bahwa hakim dan hakim konstitusi wajib menggali, mengikuti, dan memahami nilai-nilai hukum dan rasa keadilan yang hidup dalam masyarakat. Ketentuan ini dimaksudkan agar putusan hakim dan hakim konstitusi sesuai dengan hukum dan rasa keadilan masyarakat.

Lebih jauh, putusan pengadilan selain harus memuat alasan dan dasar putusan, juga memuat pasal tertentu dari peraturan perundang-undangan yang bersangkutan atau sumber hukum tak tertulis yang dijadikan dasar untuk mengadili.

Adapun secara struktural, pengadilan adat tidak terikat dalam hubungan hierarkis dengan badan-badan peradilan formal di Indonesia.UU 48/2009 tidak mengakui pengadilan adat sebagai salah satu bagian dari kekuasaan kehakiman di Indonesia. Kekuasaan kehakiman sendiri berdasarkan Pasal 1 angka 1 UU48/2009 adalah:

“Kekuasaan negara yang merdeka untuk menyelenggarakan peradilan guna menegakkan hukum dan keadilan berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, demi terselenggaranya Negara Hukum Republik Indonesia”

Pasal 18 UU 48/2009 kemudian membatasi bahwa kekuasaan kehakiman dilakukan oleh sebuah Mahkamah Agung dan badan peradilan yang berada di bawahnya dalam lingkungan peradilan umum, lingkungan peradilan agama, lingkungan peradilan militer, lingkungan peradilan tata usaha negara, dan oleh sebuah Mahkamah Konstitusi.

Kemudian peneleti memperkuat argumen dan hasil penelitiannya dengan kembali melanjutkan penelitiannya dengan menanyakan kembali ke beberapa informan yang ada di bawah ini :

Menurut RS selaku Lurah Kelurahan Tamaona

“Penanganan sengketa hak waris di selesaikan betul betul secara kekeluargaan atau dengan prinsip kekeluargaan karna kami di tombolo pao ini adalah keluarga besar yang masih mempunya hubungan darah satu sama lain kemudian ketikan dengan penyelesaian secara adat ini tidak membuahkan hasil seperti apa yang kita inginkan barulah kasus ini di limpahkan ke pemerintah setempat dengan harapan isa menyelesaikan perkara tersebut dengan baik dan seadil adilnya”.

Dan dari hasil wawancara dengan HT selaku salah satu warga yang pernah bersengketa tidak jauh berbeda dengan apa yang di katakan informan-informan sebelumnya yaitu mengutamakan yang namanya prinsip kekeluargaan beliau sangat bersyukur karna masyarakat tombolo pao masih masih sangat menghargai peninggalan nenek moyang dalam hal penyelesaian sengketa hak waris atas tanah di Kecamatan Tombolo Pao ini.

Menurut HT selaku warga yang pernah bersengketa :

“Penyelesaian sengketa tanah di lakukan dan di selesaiakan dengan prinsip kekeluargaan karna dengan inilah perkara ini dapat di bicarakan secara baik-baik dan betul-betul berbicara secara kekeluargaan dengan mengutamakan bagai mana kedepanya hubbungan kekerabatan atau hubungan kekeluargaan antara kedua belah pihak yang bersengketa agar tidak terpecah karna hal seperti ini”

Menurut ibu ID selaku Staf Kecamatan

“Tidak adanya data data yang tepat yang bisa di jadikan bukti dan banyak juga masyarakat yang melakukan sengketa ketika di panggil untuk menceritakan atau memberi masukan dan memberi jalan agar supaya tidak menyebapkan terputusnya hungan silaturahmi”.

Berdasarkan hasil wawancara di atas dapat di simpulkan bahwasanya dalam proses Penyelesaiaan sengketa hak waris atas tanah tidak terlepas dari

hubungan kekeluargaan atau prinsip kekeluargaan didalam menyelesaikan sengeketa hak waris atas tanah. Hal itu dapat dilihat dari bagaimana pemerintah setempat, pihak keamanan TNI/Polri serta tokoh masyarakat menjadi mediatur dalam menyelesaikan suatu perkara sengketa hak waris atas tanah yang dilakukan dengan mengutamakan prinsip kekeluargaan tanpa adanya suatu pemihakan kepada salah satu dari kedua belah pihak yang melakukan suatu perkara.

Kemudian peneliti kembali melakukan wawancara dengan salah satu Hakim di Pengadilan Agama di Kabupaten Gowa untuk memperkuat hasil penelitiannya tentang penyelesaian sengketa hak waris atas tanah yang di lakukan di Kecamatan Tombolo Pao, berikuthasil wawancara dengan salah satu hakim Pengadilan Agama Kabupaten Gowa yaitu Andi Muhammad Yusuf Bakri S.H.I.,M.H beliau mengatakan bahwa,

“Penyelesaian sengketa tanah warisan berdasarkan Hukum adat dan mengacu kepada KHI akan tetap sejalan atau tidak bertentangan ketika dalam menyelesaikan perkara sengketa hak waris sebelum masuk ke pembahasan tentang bagai mana proses penyelesaiannya yang baik dari pihak pemerintah setempat ataukah tokoh agama dan tokoh masyarakat yang paham tentang bagaimana proses penyelesaian dan pembagian hak waris berdasarkan Hukum islam atau yang ada dalam Al-Qur’an harus menjelaskan kepada pihak yang bersengketa,kemudian setelah menjelaskan hal tersebut lalu menanyakan kepada pihak yang bersengketa dan sudah menyadari bagaimana pembagaiannya dalam Al-Qur’an dan dari kedua belah pihak sepakat untuk berdamai dan menyelesaikan perkaranya tersebut tetap menggunakan hukum adat atau secara kekeluargaan itu akan sah dan sejalan dengan KHI pasal 183.”

2. Hambatan di Masyarakat Dalam Menyelesaiakn Sengketa Hak Waris atas Tanah Dengan Menggunakan Hukum Adat Di Kecamatan Tombolo Pao Kabupaten Gowa

Pada dasarnya sengketa hak waris atas tanah itu kerap kali kita temui baik itu secara langsung atau secara tidak langsung di kalangan masyarakat hal hal seperti ini bisa timbul di karnakan pembagian “ hak waris itu tidak membagikannya atau memberikan suatu benda atau bukti tertulis yaitu sertifikat dan rasa ketidak puasan ahliwaris karna pembagiannya di anggap tidak adil inilah yang sering kita temui namun yang inigin kita bahas pada kali ini ialah apa saja yang menjadi hambatan di masayarakat dalam menyelesaikan perkara hak waris atas tanah dengan menggunakan hukum adat di kecamatan tombolo pao kabupaten gowa.

Setelah melakukan wawancara terhadap beberapa informan menyebutkan, yang menjadi hambatan dalam menyelesaiakan suatu perkra hak waris atas tanah,hasil wawancara yang di lakukan oleh informan mengatakan bahwa,

Menururt RS selaku lurah di kelurahan tamaona mengatakan Bahwa

“Hambatan yang sering ia temui ketika ingin meyelesaikan suatu perkara ialah ketika saksi dari kedua belah pihak ini sudah meniggal dan dari kedua belah pihak yang bersengketa juga tidak memiliki sertifikat dari tanah yang di persengketakan”.

FA Selaku Sekertari desa pao mengatakan bahwa:

“Yang menjadi hambatan masyarakat dalam penyelesaian sengketa hak waris atas tanah ialah semakin berkurangnya orang-orang tua untuk di tanyai,tdk mempunya data-data tanah yang di persengketakan itulah yang menjadi hambatan yang kami temui khususnya masyarakat di desa pao”

Menurut IR selaku masyarakat dari desa Pao Yang Pernah Bersengketa

“Hambatan ketika menyelesaikan suatu perkara sengketa hak waris ialah ketika dari kedua belah pihak sama sama mengklaim bahwasanya lahan yang di persengketakan ini adalah miliknya sementara tidak ada bukti secara tertulis yang di miliki oleh kedua belah pihak yang bersengketa”.

Sementara menurut HT selaku warga Kelurahan Tamaona yang perna bersengketa mengakatakan hal yang sama bahwa sanya

“Hambatan yang kerap kali kita temui dalam penyelesaian sengketa hak waris ialah ketika dari kedua belah pihak sama sama mengklai bahwa tanah yang di persengkatakan itu adalah miliknya tanpa ada data data tertulis yang bisa meyakinkan pihak yang menengahi suatu perkara sengketa dalam hal ini yang di maksud adalah pemerintah setempat tokoh adat dan tokoh masyarakat yang menengahi perkara sengketa hak waris”.

Menurut HR selaku ketua adat Mengatakan bahwa

“Yang menjadi hambatan ketika ingin menyelesaikan perkara sengketa tanah ialah ketika dari kedua belah pihak ini yang bersengketa tidak mau memberikan keterangan yang jelas tentang apa yang menjadi penyebab mereka melakukan perkara sengketa tanah”

Dari hasil wawancara dengan beberapa informan di atas, bahwasanya ada beberapa hal yang menjadi kendala salah satunya ialah ketika orang yang memahami atau pewaris yang telah mewariskan sebagian hartanya kepada ahli warisnya itu sudah meninggal dunia dan juga ketika dari pihak yang bersengketa masing-masing tidak memiliki bukti nyata atau tertulis yang bisa di perlihatkan kepada pemerintah setempat yang akan melakukan suatu penyelesaiaan perkara sengketa hak waris atas tanah di kecamatan tombolo pao kabupaten gowa.

Peneliti dapat memahami bahwa Penyelesaian suatu perkara seperti ini di lakukan untuk mempererat kembali hubungan silaturahmi dan juga hubungan anatara kedua belah pihak yang bersengketa yang sempat terputus dikarnakan suatu perkara sengketa tanah waris,dan juga peneliti memahami bahwa ada beberapa yang menjadi hambatan di ketika ingin menyelesaikan suatu perkara sengketa hak waris dengan menggunakan hukum adat yang berlaku di tombolo pao seperti yang di sebutkan oleh beberapa informan yang telah di wawancarai secara langsung oleh peneliti.

Dokumen terkait