• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

C. Pembahasan

Peneliti dapat memahami bahwa Penyelesaian suatu perkara seperti ini di lakukan untuk mempererat kembali hubungan silaturahmi dan juga hubungan anatara kedua belah pihak yang bersengketa yang sempat terputus dikarnakan suatu perkara sengketa tanah waris,dan juga peneliti memahami bahwa ada beberapa yang menjadi hambatan di ketika ingin menyelesaikan suatu perkara sengketa hak waris dengan menggunakan hukum adat yang berlaku di tombolo pao seperti yang di sebutkan oleh beberapa informan yang telah di wawancarai secara langsung oleh peneliti.

Penyelesaian sengketa secara adat di Kecamatan Tombolo Pao ini juga telah menjadi kebiasaan masyarakat di Kecamatan Tombolo Pao kelurahan tamaona dan desa pao yang menjadi subyek dalam penelitian ini dalam menyelesaikan suatu perkara sengketa hak waris atas tanah.

Ada beberapa tahapan atau langkah-langkah yang secara umumnya di lakukan oleh Pemerintah setempat dalam proses penyelesaian sengketa hak waris atas tanah di Kecamatan Tombolo Pao yaitu :

1. Mendatangi kedua belah pihak yang bersengketa untuk mengambil informasi yang lebih jelas tentang perkara yang terjadi antar kedua belah pihak.

2. Mendatangi perwakilan atau keluarga dari kedua belah pihak yang bersengketa.

3. Mengadakan pertemuan antar pemerintah setempat dan tokoh masyarakat dan mendiskusikan bagaimana langkah-langkah yang terbaik untuk menyelesaikan perkara sengketa tanah waris anatar kedua belah pihak yang bersengketa.

4. Menanyakan Kepada orang yang lebih paham dan mengetahui bagai mana sebenarnya kebenaran pembagian dari tanah yang di persengketakan.

5. Menentukan Tempat di mana akan di lakukan sidang dalam menyelesaikan perkara sengketa hak waris atas tanah dengan menggunakan Hukum Adat yang berlaku di Kecamatan Tombolo Pao.

6. Memberikan hasil sidang perkara sengketa hak waris yang di lakukan dengan menggunakan hukum adat yang berlaku di Kecamatan Tombolo pao kepada pemerintah untuk di sahkan.

Masyarakat di kecamatan tombolo pao sekarang ini pada umumnya dari delapan ( 8 ) desa dan satu ( 1 ) kelurahan, hanya tinggal dua desa atau kelurahan yang sering melakukan penyelesaian sengketa atas tanah secara adat di Kecamatan Tombolo Pao kabupaten Gowa yaitu Kelurahan Tamaona dan Desa pao kemudian dari pihak Kecamatan pun juga mengatakan hal yang sama yaitu daerah yang masih melakukan penyelesaian sengketa hak waris atas tanah ini atau yang masih mempertahankan adat atau kebiasaan leluhur di kecamatan Tombolo pao adalah tinggal dua daerah yaitu kelurahan tamaona dan Desa pao.

Kemudian di sini peneliti akan membahas ciri-ciri mulai dari pembagian harta warisan di Kecamatan Tombolo Pao sesuai dengan kebiasaan yang sering di lakukan ketika pewaris ketika ingin membagian atau memberikan warisan entehka itu berupa tanah atau lahan ataupun benda sampai dengan bagaimana cara menyelesaikan suatu perkara sengketa antara ahli warisnya yang mempersengketakan hasil pembagian warisan yang telah di berikan oleh pewaris yang sudah meninggal dunia dan telah berikan warisannya atau peninngalannya kepada para ahli warisnya menurut pandangan atau pendapat dari hasil penelitian yang di lakukan oleh peneliti di Kecamatan Tombolo pao,ada beberapa ciri-ciri yang akan peneliti paparkan sesuai dari pandangan hasil penelitiaanya yaitu sebagai berikut :

1. Bagaimana proses pembagian atau cara pewaris dalam membagikan harta warisannya kepada ahli warisnya yaitu pertama ia mengumpulkan ahli warisnya dan memanggil saudara-saudaranya atau orang terdekatnya yang menurut pewaris bisa di percaya dan bisa membantu memperingati ketika

salah satu dari ahli waris ada yang tidak setuju dengan hasil pembagian harta warisan oleh pewaris kepada ahli warisnya namu permasalah ini baru di ungkap ketika pewaris sudah meninggal dunia,di sinilah para saksi atau saudara-saudara dari pewaris akan membantu untuk mengingatkan para ahli waris dari pewaris mengingatkan bahwasanya harta warisan yang telah di bagikan dan di terima oleh ahli waris itu memang seperti itu faktanya tanpah menambah dan mengurangi perkataan yang di katakan sebelumnya oleh pewaris sebelum ia meninggal dunia.Selanjutnya ketika pewaris ingin membagikan atau memberikan harta warisannya kepada ahli warisnya itu biasanya hanya secara lisa tanpa bukti tertulis atau perjanjian dan di tanda tangani oleh ahli warisnya dan juga pewaris kemudian menjadi pegangannya nanti ketika pewaris sudah meninngal dunia dan salah satu ahli waris tidak setuju dengan hasil dari pembagian harta warisan oleh pewarisnya itu sendiri namun baru di ungkapkan ketika pewaris telah tiada atau telah meninggal dunia.

2. Pembangiannya itupun harus rata dan tidak memandang entahka itu perempuan atau laki-laki pembagiannya harus merata.

3. Pewaris juga biasanya memberikan warisannya kepada orang yang belum lahir atau cucunya dengan cara menyampaikan kepada anaknya bahwa sanya barang atau benda ataupun tanah itu akan dia berikan kepada cucunya meskipun ia belum lahir dengan alasan ia telah berniat ketika cucunya lahir kedunia ia akan memberikan sebagian warisannya langsung kepada cucunya tersebut

4. Kemudian ciri-ciri yang peneliti dapatkan dari hasil penelitian yang di lakukan ketika masyarakat di Tombolo pao Ingin menyelesaiakan perkara sengketa tanah dengan menggunakan Hukum adat yang berlaku di Kecamatan Tombolo Pao ialah sebagai berikut :

a. Salah satu dari pihak yang bersengketa atau keluarga yang melakukan perkara itu langsung memberi tahukan keluhannya kepada punggaha massa atau ketua adat

b. Di hadiri oleh tokoh masyarakat dan pemerintah setempat

c. Tempat untuk menyelesaikan perkara sengketa hak waris berdasarkan hukum adat itu tergantung dari hasil keputusan antar keluarga dari pihak yang bersengketa,ketua adat,dan tokoh masyarakat

d. Hasil dari keputusan sidang penyelesaian sengketa hak waris di berikan kepada pemerintah dan di sahkankan oleh pemerintah dari kelurahan/desa yang terjadi perkara sengketa hak waris

Itulah beberapa hasil pemaparan mulai dari cara pembagian harta warisan dan penyelesaian suatu perkara sengketa menggunakan Hukum adat yang berlaku di kecamatan tombolo pao menurut pandangan dari peneliti yang turun langsung kelapangan dan melakukan penelitian di daerah Kecamatan Tombolo Pao terkhusus untuk dua daerah yang berada di Kecamatan Tombolo Pao yang masih menggunakan Hukum adat ketika ingin menyelesaiakan suatu perkara sengketa hak waris atas tanah yaitu di Kelurahan Tamaona dan Desa Pao.

Terkait dengan waktu pelaksanaan tergantung dari kesiapan dari ketua adat , tokoh masyarakat , pemerintah setempat dan juga keluarga dari kedua belah pihak yang bersengketa untuk membahas bagaimana penyelesaian sengketa tanah tersebut di selesaikan.Kemudian sebelum melakukan musyawarah untuk menyelesaikan suatu perkara sengketa ini di adakan dulu pertemuan atar ketua adat dan pemerintah setempat serta perwakilan satu orang dari masing masing keluarga yang bersengketa tersebut untuk menyepakiti tempat dimana akan di laksanakannya musyawara penyelesaian sengketa tanah tersebut dengan sikap kekeluargaan.

Dengan adanya pendapat dari beberapa informan di atas Maka peneliti berpendapat bahwa penyelesaian sengketa hak waris atas tanah berdasarkan persfektif hukum adat di Kecamatan Tombolo pao Kabupaten Gowa ialahuntuk menyelesaikan suatu kasus perkara sengketa dengan mengutamakan prinsip kekeluargaan dengan adil dan juga untuk menjadikan bukuti bahwa penyelesaian sengketa hak waris itu di laksanakan dengan adil bukan hanya di pengadilan atau di bahas secara Perdata namu penyelesaian perkara dengan menggunakan Hukum adatpun itu bisa dilakukan dengan ketentuan membahas perkara ini dengan mengutamakan prinsip kekeluargaan dan penyelesaian sengketa menurut hukum adat di kecamatan tombolo pao ini juga untuk mempererat kembali hubungan silaturahmi antar masyarakat yang bertempat tinggal di Kecamatan tombolo pao terkhus untuk kedua bela pihak yang terlibat dalam perkara sengketa hak waris atas tanah.

Kemudian ketika penyelesaiaan suatu perkara sengketa hak waris menggunakan hukum adat yang berlaku di Keamatan Tombolo Pao di sandikang dengan Kompilasi Hukum Islam atau yang biasa juga di sebut dengan KHI itu searah atau tidak bertolak belakang kemudian kenapa peneliti mengatakan hal tersebut dengan alasan penyelesaiaan sengketa hak waris di Kecamatan Tombolo Pao itu sebelum melakukan sidang para tokoh agama dan tokoh masyarakat mendatangi para pihak yang bersengketa untuk menyelesaiakan sebuah perkara sengkea dia sudah memberitahukan atau berusaha menyadarkan para pihak yang bersengketa bahwasanya dalam Al- Qur’an ada beberapa aturan dalam menyelesaikan dan membagikan harta warisan setelah dari pihak yang bersengketa itu sudah paham dan sudah mengetahui bagaimana aturan pembagian dan penyelesaian perkarasengketa hak hak waris menurut Al-Qur’an barulah dari pihak yang bersengketa di berikan arahan sampai masing-masing dari kedua belah pihak bisa menerima dan menyadari pembagian harta warisan yang selayaknya ia miliki kemudian di tanyakan apakah dari kedua belah pihak ingin melakukan perdamaian dan menyelesaikan perkara sengketa mereka dengan menggunakan hukum adat,hukum islam,atau hukum yang berlaku lainnya dan ketika dari pihak yang bersengketa misalkan tetap memilih berdamai dengan menggunakan hukum adat barulah dari pihak pemerinta,tokoh masyarakat,dan tokoh masyarakat mengadakan pertemuan dan menjadwalkan kapan mereka akan melakukan sidang,setelah para tokoh masyarakat dan tokoh-tokoh lainnya mengadakan pertemuan dan menjadwalkan kapan akan dilakukan sidang

penyelesaiaan sengketa barulah dari pihak pemerintah memberikan surat kepada kedua bela pihak yang bersengketa untuk menghadiri sidang penyelesaian perkara sengketa hak waris atas tanah yang mereka perkarakan.

Inilah yang menjadi alasan peneliti mengatakan bahwa hukum adat yang berlaku di Kecamatan Tombolo Pao itu tidak bertolak belakang dengan KHI terutama dalam pasal 183 yang berbunyi,

“Para ahli waris dapat bersepakat melakukan perdamaian dalam pembagian hartawarisan , setelah masing-masing menyadari bagiannya”.

KHI pasal 183 mengatakan boleh melakukan perdamaian antar kedua belah pihak atau ahli waris yang bersengketa telah menyadari bagiannya masing- masing dan dari pihak pemerintah tokoh masyarakat atau semua yang bertugas dalam perihal penyelesaian suatu perkara sengketa hak waris atas tanah juga memberikan pengarahan kepada kedua belah pihak yang bersengketa dan betul-betul menyadari hak-hak mereka masing-masing dan juga menyetujui bahwa sanya dari kedua belah pihak ingin tetap melakukan perdamaian dengan menggunakan hukum adat yang berlaku di Kecamatan Tombolo Pao dengan mengacu pada Al-qur’an.

2. Hambatan di Masyarakat Dalam Menyelesaiakan Perkara Hak Waris Atas Tanah Dengan Menggunakan Hukum Adat di kecamatan Tombolo Pao Kabupaten Gowa

Ada beberapa yang menjadi hambatan dalam proses penyelesaian sengketa hak waris atas tanah di Kecamatan Tombolo pao yaitu :

a. Ketika dari pihak yang melakukan perkara sengketa tanah tidak ingin memberikan keterangan yang jelas kepada pihak pemerintah setempat atau tokoh masyarakat.

b. Ketika dari Pihak keluarga juga tidak ingin memberikan keterangan yang jelas atau menyembunyikan fakta-fakta yang menyebapkan terjadinya perkara sengketa tanah.

c. Ketika dari pihak pemerintah dan tokoh masyarakat yang ingin menyelesaikan perkara sengketa tanah tidak bisa melakukan pertemuan dan membahas bagaimana penyelesaiaan yang harus di lakukan untuk menyelesaikan suatu perkara sengketa tanah yang terjadi di masyarakatnya atau juga dari salah satu pemerintah tidak bisa menggunakan perannya secara adil atau berpihak kepada salah satu dari kedua belah pihak yang bersengketa.

d. Orang yang paham bagaimana seluk beluk tentang tanah yang di persengketakan atau yang menjadi sebab terjadinya perkara sengketa hak waris atas tanah itu sudah tidak ada atau sudah meninngal.

Inilah yang menjadi masal atau hambata yang secara umum yang sering kita jumpai ketika ingin menyelesaikan perkara sengketa hak waris atas tanah khususnya di Kecamatan Tombolo pao.

Selain dari yang di sebutkan di atas ada pula beberapa hambatan- hambatan yang sering ditemui dan di hadapi di masyarakat ketika ingin menyelesaikan suatu perkara sengketa hak waris atas tanah menurut hukum adat di kecamatan Tombolo pao ialah tidak adanya bukti tertulis yang di miliki dari masing masing pihak yang bersengketa adanya pihak ketiga yang seolah olah lebih tau tentang tanah yang di persengketakan padahal dia pun tidak ada hak dalam membicarakan masalah sengketa ini dan biasanya juga pihak ketiga ini menjadi profokator dalam proses penyelesaian sengketa hak waris ini dan berharap akan mendapatka keuntungan dari salah satu pihak yang bersengketa namun si pihak ketiga ini biasanya tidak terlalu kentara dalam menjalankan aksinya yang di maksud disini ialah si pihak ketiga ini seolah olah tidak tau ap-apa ketika ia bertemu atau bertatapan langsung dengan salah satu pihak yang bersengketa ini,inilah yang menjadi masalah atau hambatan yang secara umum yang sering di temui di kecamatan Tombolo pao ketika Ingin menyelesaikan suatu perkara sengketa hak waris berdasarkan hukum adat yang berlaku di Kecamatan Tombolo Pao.

Disisi lain juga Hambatan hambatan yang sering di temui dalam pelaksanaaan penyelesaian sengketa hak waris atas tanah ialah ada beberapa masyarakat yang tau bahwasanya lahan,tanah atau sawah itu dia tidak mempunyai hak sedikit pun untuk memiliki tanah atau lahan tersebut namun ia langsung mengajukan tuntutanya ke pemerintah setempat dengan harapan ia bisa merebut tanah tersebut tanpa ada landasa atau alasanya untuk memiliki tanah atau lahan tersebut , dan pelaku atau pelapor yang seperti ini

pun mempunya prinsip yaitu ketika ia kalah dalam persidangan itu tidak menjadi masalah baginya karna memang dia sudah tahu dari awal bahwasanya tanah atau lahan tersebut memang dia tidak mempunyai hak sedikit pun namun jika ia menang ia sangat bersykur karna di kepemilikan atau hak-haknya dalam memiliki lahan atau tanah tersebut itu tidak ada sama sekali.

Di Tombolo Pao ada juga yang di katakan dengan istilah “appasanra”

atau memberikan pegangan suatu lahan kepada seseorang dengan melakukan perjanjian dia menjadikan tanah atau lahannya tersebut sebagai pegangan untuk meminjam uang kepada seseorang kemudian seiring berjalannya waktu orang yang mengambil pinjaman ini sudah meninngal dan kemudiaa pinjamannya ini akan di bayar atau ingin di tebus oleh anaknya sesuai dengan perjanjiannya dulu yaitu uangnya akan di kembalikan pada saat orang yang meminjam ini sudah mempunyai uang. namun ketika anak dari pewaris ini ingin menebus lahan yang pernah di jadikan pegangan oleh orang tuannya akan di tebu atau si ahli waris sudah mempunyai uang atau ia sudah mampu menebus tanah atau lahannya yang dulu di jadikan pegangan oleh orang tuanya orang yang memberikan pinjaman ini berisi keras mengklaim bahwasanya tanah yang ingin dia belih sudah ia belih walaupun tidak ada bukti tertulis seperti sertifikat atau surat perjanjian yang di miliki oleh orang yang memberikan pinjaman atau yang ingin memiliki tanah tersebut.

Hal-hal seperti pembahasan yang di atas lah yang biasa ditemui di daerah Kecamatan Tombolo pao itu lah yang salah satunya menjadi

hambatan dalam penyelesaiaan sengketa hak waris atas tanah di kecamatan Tombolo pao karna tanpa adanaya bukti tertulis atau sertifikat yang di pengang oleh orang yang mengklaim suatu lahan atau tanah karna dari pihak yang berwenang untuk menyelesaikan perkara tersebut juga ikut bingung karna pihak yang satu memiliki surat atau sertifikat tanah tersebut dan pihak yang satunya lagi tidak memiliki surat atau bukti tertulis yang di pegangnya atau di milikinya namun ia tetap berisi keras untuk mengklaim atau menyetakan bahwa tanah yang di persengketakan itu miliknya.Hal yang seperti ini pula lah yang menjadi sebab terputusnya hubungan silaturahmi antar kedua belah pihak dan tidak menutup kemungkinan perselisihan seperti ini akan berlanjut secara turun temurun sampai mendapatkan titik temu atau kebenaran siapa sebenarnya yang berhak atas tanah yang di persengketakan.

PENUTUP

A. Kesimpulan

Dari pembahasan tentang penyelesaian sengketa hak waris atas tanah menurut Hukum adat di Kecamatan Tombolo Pao Kabupaten Gowa ,yang telah diuraikan sebelumnya, maka peneliti dapat menarik kesimpulan sebagai berikut:

1. Penyelesaian sengketa hak waris atas tanah berdasarkan prespektif Hukum adat di Kecamatan Tombolo Pao Kabupaten Gowa di lakukan atau di laksanakan dengan seabik baiknya dengan mengutamakan prinsip kekeluargaan yang menjadi simbol bahwasanya masyarakat di Kecamatan Tombolo pao sangat mengutamakan yang namanya hubungan hubungan kekeluargaan.kemudian hasil sidang dan keputusan dalam penyelesaian perkara sengketa hak waris atas tanah yang di lakukan oleh tokoh masyarakat, dan ketua adat dengan menggunakan Hukum Adat yang berlaku di Kecamatan Tombolo pao langsung di berikan kepada pemerintah setempat untuk di sahkan. Penyelesaian perkara sengketa hak waris atas tanah dengan menggunakan hukum adat yang berlaku di Kecamatan Tombolo Pao dengan tetap mengacu pada Al- Qur’an.Dan dari delapan Desa dan satu kelurahan yang ada di Kecamatan Tombolo pao hanya ada dua daerah yang masih mempertahankan kebiasaan leluhur atau orang terdahulu dalam menyelesaikan suatu perkara sengketa tanah yaitu Kelurahan Tamaona dan Desa Pao.

2. Hambatan yang sangat signifikan di masyarakat dalam menyelesaikan perkara hak waris atas tanah di tinjau dari perspektif Hukum adat di Kecamatan Tombolo Pao Kabupaten Gowa ialah adanya oknum-oknum yang sengaja mempersengketakan hak- hak yang bukan miliknya dengan tujuan ingin memiliki tanah atau lahan seseorang

bukti perjanjian antar pewaris dan ahli warisnya.

B. Saran

Berdasarkan hasil penelitian dan kesimpulan peneliti memberikan saran-saran sebagai berikut:

1. Bagi masyarakat Kecamatan Tombolo pao dan generasi pelanjut dapat memilih dan memilah tradisi yang telah berkembang untuk tetap mempertahankan/melestarikan tradisi atau kebiasaan dalam menyelesaikan perkara sengketa hak waris atas tanah dengan menggunakan hukum adat yang berlaku di Kecamatan Tombolo paosebagai warisan leluhur nenek moyang kita yang syarat akan makna serta memiliki nilai-nilai dan pesan dalam kehidupan yang memiliki tujuan yang baik bagi Masyarakat di Kecamatan Tombolo pao Kabupaten Gowa.

2. Diharapkan kepada pemerintah setempat dapat mendukung dan mengembangkan tradisi atau kebiasaan dalam menyelesaikan suatu perkara dengan menggunakan Hukum adat yang telah berkembang demi melestarikan dan menjaga eksistensi tradisi dalam menyelesaikan perkara hak waris atas tanah dengan menggunakan hukum adat yang berlaku di Kecamatan Tombolo pao Kabupaten Gowa

3. Diharapakan kepada tokoh agama, pemerintah setempat,Tokoh masyarakat dan tokoh adat untuk tetap menjaga serta mengawasi setiap pelaksanaan tradisi atau kebiasaan dalam menyelesaikan suatu perkara sengketa hak waris berdasarkan Hukum Adat yang berlaku di Kecamatan Tombolo pao agar tetap sesuai dengan ajaran Islam agar tidak terdapat kegiatan yang menyimpan dari ajaran Islam, sehingga tradisi ini tetap eksis di masa yang akan datang.

Dokumen terkait