• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hasil Penelitian

Dalam dokumen Bagi Hasil Mudharabah/ (Halaman 71-80)

BAB V. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

B. Hasil Penelitian

9. Tahap Pembiayaan Angsuran / Pelunasan

a. Teller menerima dana untuk kredit rekening dari nasabah, kemudian tellermelakukan input setoran di rekening kredit nasabah.

b. Loan Administration mendebet rekening (dana) untuk pembayan setoran,mencocokkan angsuran pembiayaan yang jatuh tempo pada hari itu.

c. Kemudian membuat tiket pendebetan / pembayaran angsuran yangkemudian dimintakan pengesahan kepada operation manager.

1. Bagi Hasil A. Mudharabah

Bagi Hasil Mudharabah 2012 = Profit Sharing = Nisbah x Laba Bersih Revenue Sharing = Nisbah x Laba Kotor

Contoh perhitungan Mudharabah adalah sebagai berikut :

Bagi Hasil Mudharabah 2012 = Profit Sharing = Nisbah x Laba Bersih Revenue Sharing = Nisbah x Laba Kotor

= Profit Sharing = 40 % x 15.810.964 Revenue Sharing = 60 % x 285.636.452

= Profit Sharing = 39.527.410 Revenue Sharing = 476.060.753

Bagi Hasil Mudharabah 2013 = Profit Sharing = Nisbah x Laba Bersih Revenue Sharing = Nisbah x Laba Kotor

= Profit Sharing = 40 % x 30.155.630 Revenue Sharing = 60 % x 162.776.421

= Profit Sharing = 75.389.075 Revenue Sharing = 271.294.035

Dari hasil Bagi Hasil Mudharabah di atas menunjukkan bahwa pada tahun 2012 profit sharing sebesar 39.527.410 dan pada tahun 2013 sebesar 75.389.075 artinya mengalami peningkatan terhadap laba bersih mudharabah.

Sedangkan revenue sharing tepatnya pada tahun 2013 bagi hasil mudharabahnya sebesar 271.294.035 di banding tahun 2012 sebesar 476.060.753 mengalami penurunan terhadap bagi hasil mudharabah revenue sharing.

B. Musyarakah

Bagi Hasil Musyarakah (40%) = Rp 200.000.000,00 x 40 %

= Rp 80.000.000,-

Bagi Hasil Musyarakah (60%) = Rp 200.000.000,00 x 60 %

= Rp 120.000.000,00

2. Jual Beli

 Hitung dulu Cost Recovery Tahun 2012 Cost Recovery = Pembiayaan Murabahah

x Estimasi Biaya Operasi Estimasi Total Pembiayaan

Bagi Hasil Musyarakah = Modal x Nisbah Bagi Hasil

= Rp 1.632.447.731

x Rp 23.037.690 Rp 1.657.491.112

= Rp 22.698.608

Hitung Markup = 10% x Pembiayaan ( Rp 1.632.447.731)

= Rp 163.244.773

Harga Jual Bank = Pembiayaan + Cost Recovery + Markup

= Rp 1.632.447.731 + Rp 22.698.608 + Rp 163.244.773

= Rp 1.818.391.112 Angsuran Per Bulan = Rp 1.818.391.112

= Rp 75.766.296,- 24 Bulan

 Hitung dulu Cost Recovery Tahun 2013 Cost Recovery = Pembiayaan Murabahah

x Estimasi Biaya Operasi Estimasi Total Pembiayaan

= Rp 925.547.992

x Rp 42.338.263 Rp 895.056.244

= Rp 43.780.594

Hitung Markup = 10% x Pembiayaan (Rp 925.547.992)

= Rp 92.554.799

Harga Jual Bank = Pembiayaan + Cost Recovery + Markup

= Rp 925.547.992 + Rp 43.780.954 + Rp 92.554.799

= Rp 1.061.883.745

Angsuran Per Bulan = Rp 1.061.883.745

= Rp 44.245.156,- 24 Bulan

3. Sewa / Ijarah

Penyusutan Untuk 2 Tahun :

= Rp 15.000.000,00–(10 % x Rp 15.000.000,00 = Rp 1.500.000,00)

= Rp 13.500.000,00 : 2 = Rp 6.750.000,00 Penyusutan Tahun 2012 & 2013 :

10 x Rp 6.750.000 = Rp 5.625.000 12

Nilai Buku Aktiva Ijarah = Aktiva Ijarah–Akumulasi penyusutan

= Rp 15.000.000,00–Rp 5.625.000,00

= Rp 9.375.000,00

Tabel 5.1

Struktur Pembiayaan Bank Sulselbar Syariah Cabang Makassar (dalam jutaan rupiah)

Tahun

Mudharabah

Musyarakah Jual Beli Sewa Profit Sharing Revenue Sharing

2012 39.527.410 476.060.753 80.000.000 75.766.296 9.375.000 2013 75.389.075 271.294.035 120.000.000 44.245.156 9.375.000 Sumber : Olah Data Laporan Keuangan Bank Sulselbar Syariah

B. Rasio Profitabilitas Bank Sulselbar Syariah Cabang Makassar

Tingkat profitabilitas yang diukur dengan indikator return on asset (ROA).

ROA sebagai rasio yang menggambarkan kemampuan manajemen bank dalam mengelola dana yang diinvestasikan dalam keseluruhan aktiva yang menghasilkan keuntungan. Semakin besar pemanfaatan aktiva produktif yang dimiliki oleh suatu bank akan menghasilkan laba yang semakin tinggi. Laba yang tinggi akan berdampak pada profitabilitas perusahaan. Variabel tingkat profitabilitas dapat dihitung dengan cara membandingkan laba sebelum pajak dengan total asset yang dimiliki perusahaan. Secara sistematis, besarnya rasio return on asset dirumuskan sebagai berikut :

ROA = Laba Sebelum Pajak

X 100%

Total Aktiva

Contoh perhitungan tingkat profitabilitas dengan indikator return on asset (ROA) adalah sebagai berikut :

Return On Asset 2012 = 24.466.311

X 100%

3.422.313.267

= 0,71 %

Return On Asset 2013 = 43.426.730

X 100%

1.622.303.491

= 2,67 %

Untuk melihat besarnya rasio return on asset pada Bank Sulselbar Syariah Cabang Makassar selama 2 tahun terakhir, maka diuraikan dalam tabel berikut:

Tabel 5.2

Rasio Profitabilitas Bank Sulselbar Syariah Cabang Makassar (dalam jutaan rupiah)

No Tahun Laba Sebelum Pajak Total Aktiva ROA

1. 2012 24.466.311 3.422.313.267 0,71 %

2. 2013 43.426.730 1.622.303.491 2,67 %

Mean 1,69 %

Sumber : Olah Data Laporan Keuangan Bank Sulselbar Syariah

Hasil perhitungan rasio return on asset dapat terlihat dari tabel di atas.

Return on asset (ROA) periode tahun 2012 dan 2013 adalah sebesar 0,71%

dan 2,67% artinya rasio ROA mengalami peningkatan menunjukkan bahwa bank tidak terlalu buruk dalam mengelola aktivanya. Peningkatan ROA ini terutama disebabkan karena pencapaian laba bersih yang signifikan dibandingkan dengan tahun-tahun sebelum. Dari perhitungan di atas diketahui rata-rata ROA periode 2012 - 2013 adalah sebesar 1,69% , dapat ditarik kesimpulan bahwa manajemen bank mampu mengelola aktiva yang dimiliki oleh perusahaan dengan baik sehingga terjadi peningkatan pendapatannya.

C. Pengaruh Struktur Pembiayaan Bagi Hasil Mudharabah, Musyarakah, Jual Beli & Sewa Terhadap Tingkat Profitabilitas

Pembiayaan Mudharabah berpengaruh positif terhadap profitabilitas.

Bernilai positif disini dapat dijelaskan bahwa setiap kenaikan risiko pembiayaan dapat meningkatkan tingkat profitabilitas. Semakin besar risiko pembiayaan maka mengakibatkan semakin besar pula tingkat profitabilitas. Dimana pada tahun 2012 - 2013 mengalami peningkatan terhadap bagi hasil mudharabah.

musyarakah berpengaruh positif terhadap profitabilitas. Praktik pembiayaan musyarakah sebenarnya tidak jauh berbeda dengan praktik pembiayaan mudharabah di Bank Sulselbar Syariah, yang membedakannya adalah kepada siapa pembiayaan tersebut disalurkan. Pembiayaan mudharabah disalurkan kepada koperasi, BMT (baitul maal wa tamwil), serta multifinance.

Sedangkan untuk pembiayaan musyarakah disalurkan untuk modal usaha kerja seperti perdagangan atau jasa. Pada praktiknya di Bank Syariah Mandiri, penyaluran dana untuk modal usaha kerja seperti perdagangan dan jasa sangat banyak digunakan dibandingkan dengan penyaluran pembiayaan kepada koperasi atau BMT. Pembiayaan musyarakah lebih sering digunakan dibandingkan dengan pembiayaan mudharabah, menyebabkan mengapa pembiayaan musyarakah berpengaruh signifikan terhadap ROA.

Jual Beli (murabahah) berpengaruh terhadap profitabilitas. Pembiayaan

murabahah merupakan pembiayaan yang paling banyak digunakan dalam perbankan syariah begitu juga dengan bank sulselbar syariah. Banyaknya sumbangan dari pembiayaan murabahah memberikan pengaruh bagi profitabilitas

bank. Namun, mengapa pembiayaan murabahah ini justru berbanding terbalik dengan profitabilitas ROA? Dalam pembiayaan murabahah, ada yang disebut run off atau penurunan kewajiban murabahah. Setiap bulan nasabah akan membayar kewajibannya kepada bank sampai lunas sehingga kewajiban murabahah nasabah akan menurun setiap bulannya sehingga tidak memiliki kewajiban lagi. Penurunan kewajiban murabahah ini lebih besar dibandingkan dengan pembiayaan murabahah yang baru dibentuk sehingga berdampak pada menurunnya profitabilitas. Selain itu dalam pembiayaan murabahah terdapat percepatan pelunasan. Misal nasabah memiliki kewajiban Rp 5.000.000 kepada bank dengan membayar angsuran Rp 1.000.000 dan margin bulan berjalan sebesar Rp 100.000 namun nasabah ingin langsung melunasi seluruh kewajibannya kepada bank yang disebut dengan percepatan pelunasan, sehingga yang seharusnya nasabah membayar sebesar Rp 5.500.000 jadi hanya membayar sebesar Rp 5.100.000 yaitu pokok dan margin bulan berjalan saja. Margin yang seharusnya akan masuk menjadi profit tetapi hilang karena adanya percepatan pelunasan akan mengurangi profit yang juga akan mengurangi asset sehingga Return on Assets juga menurun.

Sewa (Ijarah), Dilihat dari table di atas penyusutan untuk 2 tahun,

tahun 2012 – 2013 yaitu Rp 5.625.000. Beban penyusutan akan dilaporkan di laporan rugi laba dalam akumulasi penyusutan akan mengurangi aktiva ijarah di neraca hasilnya adalah Rp 9.375.000,00. Dan besarnya penyusutan aktiva ijarah tergantung masa sewa. Ijarah adalah transaksi sewa menyewa atas sebuah asset.

Jadi Sewa berpengaruh terhadap tingkat profitabilitas.

67 BAB VI

Dalam dokumen Bagi Hasil Mudharabah/ (Halaman 71-80)

Dokumen terkait