• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hasil Penelitian

BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

1. Paparan Data Siklus I a. Perencanaan

Kegiatan awal yang dilakukan dalam perencanaan siklus I adalah menelaah kurikulum khususnya materi pembelajaran bahasa Indonesia dan menentukan materi untuk siklus I, yaitu menulis. Kemudian mempelajari bahan yang diajarkan dari berbagai sumber seperti buku-buku yang membahas tentang menulis.

Membuat rencana pembelajaran untuk setiap pertemuan, yaitu pada pertemuan pertama materi yang dibahas adalah konsep umum menulis, ciri-ciri tulisan dan pertemuan kedua, yaitu langkah menulis, dan pada pertemuan ketiga diadakan tes siklus I. Menyediakan sarana pendukung yang diperlukan, membuat lembar observasi untuk melihat keaktifan siswa pada saat proses belajar-mengajar dan membuat soal sebagai alat evaluasi.

b. Pelaksanaan Tindakan

Tahap ini adalah inti dari penelitian tindakan kelas. Guru yang mengajar bertindak sebagai orang yang memberikan

tindakan di kelas, sedangkan peneliti sebagai kolaborator yang mengamati proses pembelajaran yang sedang berlangsung.

Pada siklus I dalam menyajikan materi menggunakan metode inkuiri disertai dengan metode tanya-jawab yang dilakukan secara langsung oleh guru. Pada pertemuan pertama guru membuka pelajaran, dengan memotivasi siswa dan menggunakan penguatan non verbal berupa mimik wajah serius dengan memandang tajam ke seluruh siswa, memandang tajam merupakan penguatan negatif yang diberikan guru untuk menampakkan kewibawaan sekaligus untuk memusatkan perhatian siswa. Pada saat guru memberikan pertanyaan awal, dijawab serempak oleh seluruh siswa sehingga mengakibatkan suasana kelas menjadi ribut.

Melihat keadaan demikian, guru memberikan penguatan dengan memuji siswa secara keseluruhan, setelah itu siswa dituntut untuk menjawab namun terlebih dahulu mengacungkan tangan kemudian guru menunjuk salah seorang siswa untuk menjawab dan atas jawabannya itu, diberi penguatan verbal berupa pujian. Pada saat diberikan penguatan, siswa lain hanya tersenyum sambil memuji temannya yang memberi tanggapan.

Pada saat materi dilanjutkan dengan menjelaskan materi berdasarkan indikator yang ingin dicapai, perhatian siswa mulai

tertuju pada penjelasan guru, namun pada saat diberi kesempatan untuk bertanya, suasana kelas terlihat tenang dan tegang, segera guru memberi penguatan dengan penguatan non verbal dengan memandang tajam keseluruh siswa agar semuanya termotivasi dan menggunakan mimik dan gerakan tangan yang bersahabat, dan terlihat dua orang siswa mulai mengacungkan tangan dan segera guru memberikan penguatan kepada keduanya, “ya, inilah dua orang berani”, kemudian mempersilahkan satu per satu di antara mereka menjawab pertanyaan, atas jawaban yang belum lengkap diberi penguatan tak penuh,”ya, jawabanmu sudah betul, tetapi perlu dilengkapi”, dan terlihat siswa-siswa yang tidak aktif mulai memberikan respon.

Guru kemudian memberikan latihan menulis lalu dikerjakan di kelas. Dalam menyelesaikan soal latihan guru berkeliling kelas mengontrol siswa yang masih perlu dibimbing dengan memberikan penguatan pendekatan. Selanjutnya, guru memberikan kesempatan pada siswa untuk mengerjakan soal di papan tulis kemudian memberikan penguatan verbal dengan kata-kata pujian dan penguatan non verbal berupa acungan jempol bila siswa menjawab benar dan memberikan penguatan tak penuh bila siswa menjawab salah. Pada akhir materi guru

memberikan kesimpulan materi dan memberikan tugas berupa pekerjaan rumah.

Pada pertemuan kedua, di awal pertemuan guru membahas tugas siswa. Pada buku tugas mereka telah dilengkapi dengan penguatan simbol berupa komentar dengan kata pujian, ”Ya, bagus tingkatkan lagi”

(sebagai penguatan simbol) bila siswa mengerjakan tugas dengan benar dan “Cobalah lagi, kamu pasti bisa!” pada tugas siswa yang belum dikerjakan dengan baik. Selanjutnya guru melanjutkan materi pelajaran seperti halnya pada pertemuan pertama dan memberikan soal-soal latihan menulis di papan tulis. Siswa yang menjawab benar diberi variasi antara penguatan verbal yaitu pujian “tepat sekali”, kemudian diberi pula penguatan non verbal dengan tepuk tangan. Dengan cara ini tampak para siswa mulai termotivasi mengerjakan tugas di papan tulis.

c. Observasi

Pada tahap observasi dilakukan langsung oleh peneliti bekerja sama dengan teman kolaborator, hasil observasi tingkah laku siswa, yaitu:

1) Motivasi siswa dalam belajar dengan menggunakan media gambar masih kurang.

2) Masih ada siswa tidak mengerjakan pekerjaan rumah.

3) Siswa yang menjawab pertanyaan pada saat diajukan pertanyaan tentang materi pelajaran masih kurang.

4) Siswa yang meminta untuk dijelaskan ulang suatu konsep yang telah dibahas masih kurang.

5) Banyak siswa yang melakukan kegiatan lain pada saat pembahasan materi pelajaran.

6) Siswa yang mengajukan diri untuk mengerjakan soal di papan tulis masih kurang.

7) Siswa yang mengerjakan soal di papan tulis dengan benar masih kurang.

8) Siswa yang mengajukan diri membaca karangan di depan masih kurang.

9) Siswa yang menanggapi pekerjaan dari siswa yang lain masih kurang.

10) Siswa yang antusias belajar sampai selesai masih kurang.

Dari hasil observasi mengenai tingkah laku siswa di atas dapat disimpulkan bahwa banyak siswa yang tidak aktif dan malas mengemukakan pendapat, setelah diberi penguatan terlihat beberapa siswa mulai aktif dan pada pertemuan kedua siswa mulai aktif walaupun yang aktif hanya siswa-siswa tertentu.

d. Analisis Hasil Tes (Evaluasi)

Dari pelaksanaan siklus I, yaitu pembelajaran dengan menggunakan media gambar pada materi menulis, diperoleh hasil analisis statistik deskriptif yang berkaitan dengan hasil belajar dari 20 siswa. Adapun statistik distribusi skor hasil belajar siswa dapat dilihat dalam tabel berikut ini:

Tabel 5. Hasil Evaluasi Hasil Belajar pada Siklus I

No. Kode Siswa L/P Nilai

1. MG1 L 76

2. MG2 L 61

3. MG3 L 58

4. MG4 L 72

5. MG5 L 77

6. MG6 L 62

7. MG7 L 60

8. MG8 L 62

9. MG9 P 51

10. MG10 P 83

11. MG11 P 70

12. MG12 P 70

13. MG13 P 70

14. MG14 P 80

15. MG15 P 74

16. MG16 P 80

17. MG17 P 70

18. MG18 P 68

19. MG19 P 80

20. MG20 P 70

Tabel 6. Statistik Nilai Hasil Tes Siklus I

No Statistik Nilai

1 2 3 4 5

Jumlah sampel Nilai rata-rata Nilai maksimum Nilai minimum Rentang Skor

20 70,6

83 51 32

Pada tabel 6 di atas, menunjukkan bahwa skor tertinggi yang dicapai siswa pada siklus pertama pada pembelajaran keterampilan menulis dengan media gambar adalah 83,00 dan skor terendah adalah 51,00, dengan rentang skor adalah 32,00 dari skor ideal 100,00. Sedangkan skor rata-rata dari 20 orang obyek adalah 70,60. Siswa yang tuntas pada siklus I berjumlah 13 siswa sedangkan yang tidak tuntas berjumlah 7 siswa.

Bila skor hasil belajar bahasa Indonesia setelah dilaksanakan siklus I dikelompokkan dalam distribusi frekuensi, diperoleh gambaran pada Tabel 7 di bawah ini:

No Interval (dalam

skor) Kategori Frekuensi Persentase

1 0 – 54 Sangat rendah 1 5

2 55 – 64 Rendah 5 25

3 65 – 74 Sedang 8 40

4 75 – 84 Tinggi 6 30

5 85 – 100 Sangat tinggi 0 0

Jumlah 20 100

Dari Tabel di atas terlihat bahwa secara umum hasil belajar menulis melalui media gambar terhadap pembelajaran bahasa Indonesia siswa kelas IV SD Negeri 20 Kodingare Kecamatan Pulau Sembilan Kabupaten Sinjai pada Siklus I belum maksimal. Hal ini terlihat dari persentase untuk kategori sangat tinggi dan tinggi masih rendah. Hasil ini yang menjadi salah satu bahan refleksi untuk pertemuan pada siklus II.

Berdasarkan tabel tersebut diketahui pula distribusi frekuensi, persentase, serta kategori ketercapaian ketuntasan belajar siswa dalam peningkatan keterampilan menulis melalui media gambar terhadap pembelajaran bahasa Indonesia siswa kelas IV SD Negeri 20 Kodingare Kecamatan Pulau Sembilan Kabupaten Sinjai pada siklus I ditunjukkan pada tabel berikut:

Siswa kelas IV SD Negeri 20 Kodingare Kecamatan Pulau Sembilan Kabupaten Sinjai pada Siklus I

Tabel 8. Distribusi Frekuensi, Persentase, serta Kategori Ketercapaian Pembelajaran Menulis Melalui Media Gambar pada Pembelajaran Bahasa Indonesia Siswa kelas IV SD Negeri 20 Kodingare Kecamatan Pulau Sembilan Kabupaten Sinjai pada siklus I

Tes

Belajar Interval nilai Kategori Frekuensi Persentase (%) Siklus

I

Nilai 70 ke atas Tuntas 13 65%

Nilai 70 ke

bawah Tidak tuntas 7 35%

Dari tabel di atas menunjukkan bahwa hasil belajar menulis melalui media gambar terhadap pembelajaran bahasa Indonesia siswa kelas IV SD Negeri 20 Kodingare Kecamatan Pulau Sembilan Kabupaten Sinjai pada siklus I sebesar 65%

atau 13 siswa berada dalam kategori tuntas dan sebanyak 7 orang atau 35% berada dalam kategori tidak tuntas. Hal ini berarti bahwa masih perlu perbaikan pada siklus berikutnya, khususnya pada perbaikan sikap dan perilaku siswa.

Berdasarkan kriteria hasil belajar mengenai ketuntasan kelas, yaitu  85%, data hasil penelitian pada siklus satu dianggap belum tuntas kelas karena yang tuntas mencapai hanya 65% dari 20 orang siswa. Penelitian ini perlu dilanjutkan pada siklus berikutnya, yaitu siklus II.

e. Refleksi

Berdasarkan hasil siklus I yaitu dari data-data observasi dan tes siklus I dapat disimpulkan bahwa masih banyak siswa yang tidak aktif dan minat belajar, semangat belajar, motivasi, keaktifan belajar serta kemampuan dalam menangkap atau memahami materi pelajaran hasilnya cukup baik.

Kegiatan siswa pada siklus ini, semangat dan perhatian siswa dalam proses pembelajaran ini masih kurang. Hal ini terlihat dari kurangnya perhatian serius dari siswa sehingga dalam menanggapi materi. Sikap siswa pada umumnya masih kurang memberikan tanggapan atau respon positif terhadap metode yang disajikan.

Pada saat guru memantau siswa dalam mempelajari materi ternyata pada umumnya hanya satu sampai dua siswa yang aktif. Selain itu, ditemukan adanya siswa yang melakukan aktivitas yang tidak ada hubungannya dengan pelajaran seperti berbicara sesama teman. Setelah bekerja secara berkelompok masih ada lagi beberapa siswa yang melakukan aktivitas yang tidak ada hubungannya dengan pelajaran sehingga pada saat diskusi dan persentase berlangsung, hanya sebagian kecil yang aktif dalam kelompoknya.

Fenomena tersebut merupakan salah satu masalah yang terjadi di kelas yang perlu mendapat perhatian dari guru

diselesaikan. Masalah tersebut menyebabkan siswa sulit memahami materi yang diajarkan, sulit melakukan praktik menulis yang diperintahkan, atau umumnya sulit memahami proses-proses menulis.

Berdasarkan masalah yang ditemukan itu, guru menerapkan media gambar dengan membantu siswa mengatasi masalah pribadinya. Setiap siswa diinterogasi tentang penyebab kurangnya motivasi dan keaktifan dalam belajar. Atas masalah yang diutarakan, guru membantu menyelesaikannya. Ditinjau dari aspek aktivitas siswa, rata-rata dikategorikan masih kurang aktif.

Selama kegiatan berlangsung hingga akhir pertemuan dengan menerapkan media gambar, sudah ditemukan bentuk tersendiri sesuai yang dinginkan. Hal ini dapat dilihat dari kerja sama dalam tiap kelompok mengalami peningkatan, misalnya interaksi siswa dalam membahas materi semakin terjalin, siswa yang belum mengerti sudah mulai bertanya kepada teman kelompoknya atau gurunya, meskipun apa yang ingin dicapai pada siklus ini masih jauh dari harapan dan masih ada beberapa hal yang memerlukan pembenahan.

Tidak tercapainya pembelajaran menulis siklus I disebabkan oleh beberapa masalah seperti tampak berikut ini.

1) Guru belum mengidentifikasi masalah siswa secara menyeluruh.

2) Guru kurang membantu dan mengarahkan siswa menyelesaikan masalah.

3) Guru kurang memberikan motivasi belajar siswa dalam hubungannya dengan kehidupannya di masa yang akan datang.

4) Guru kurang memberikan gambaran bahwa siswa yang aktif dalam belajar menulis akan menjadi cerdas.

5) Guru kurang memberikan gambaran kepada siswa tentang kegunaan menulis dalam kaitannya dengan kehidupan.

6) Guru kurang menerapkan pujian/penguatan.

7) Guru kurang memberikan hadiah bagi siswa yang berprestasi.

8) Guru kurang membagi anggota kelompok secara heterogen.

9) Guru kurang menerapkan hukuman bagi siswa yang tidak memperhatikan pelajaran.

10) Media yang digunakan adalah media gambar namun guru kurang menuntun siswa dalam menulis dengan media gambar.

Berdasarkan hasil observasi rekan guru dan tanggapan/masukan mengenai model pengajaran ini, maka yang perlu dibenahi adalah:

1) Penguatan dan motivasi yang diberikan kepada siswa perlu ditingkatkan.

2) Struktur dan variasi kelas perlu diubah yaitu dengan memasukkan satu atau lebih tutor yang bisa membimbing teman kelompoknya agar setiap siswa (individu) dapat dapat berprestasi.

3) Kesulitan siswa memahami materi, melakukan praktik menulis perlu dibantu.

4) Kesulitan siswa mengamati gambar dan mengembangkan menjadi tulisan perlu dituntun.

Berdasarkan uraian tersebut dapat dinyatakan bahwa banyak masalah yang dihadapi siswa dan senantiasa dipecahkan masalahnya pada siklus II. Masalah tersebut diketahui pula berdasarkan hasil tes yang nilai siswa masih rendah.

2. Paparan Data Siklus II a. Perencanaan

Kegiatan awal yang dilakukan dalam perencanaan siklus II adalah menelaah kurikulum khususnya materi pembelajaran bahasa Indonesia dan menentukan materi untuk siklus II, yaitu menulis. Kemudian mempelajari bahan yang diajarkan dari

berbagai sumber seperti buku-buku yang membahas tentang menulis.

Membuat rencana pembelajaran untuk setiap pertemuan, yaitu pada pertemuan pertama materi yang dibahas adalah konsep umum menulis, ciri-ciri tulisan dan pertemuan kedua, yaitu langkah menulis, dan pada pertemuan ketiga diadakan tes siklus II. Menyediakan sarana pendukung yang diperlukan, membuat lembar observasi untuk melihat keaktifan siswa pada saat proses belajar mengajar soal sebagai alat evaluasi. Selain itu, mempersiapkan komponen lain yang dapat meningkatkan semangat dan motivasi belajar siswa.

b. Pelaksanaan Tindakan

Tahap ini adalah inti dari penelitian tindakan kelas. Peneliti bertindak sebagai orang yang memberikan tindakan di kelas, sedangkan guru yang mengajar sebagai kolaborator yang mengamati proses pembelajaran yang sedang berlangsung.

Pada siklus II dalam menyajikan materi menggunakan metode inkuiri disertai dengan metode tanya-jawab yang dilakukan secara langsung oleh guru. Pada pertemuan pertama guru membuka pelajaran dengan memotivasi siswa dengan penggunaan penguatan non verbal berupa mimik wajah serius dengan memandang tajam ke seluruh siswa, memandang tajam merupakan penguatan negatif yang diberikan guru untuk

menampakkan kewibawaan sekaligus untuk memusatkan perhatian siswa. Pada saat guru memberikan pertanyaan awal, dijawab serempak oleh seluruh siswa sehingga mengakibatkan suasana kelas menjadi ribut. Melihat keadaan demikian, guru memberikan penguatan dengan memuji siswa secara keseluruhan, setelah itu siswa dituntut untuk menjawab namun terlebih dahulu mengacungkan tangan kemudian guru menunjuk salah satu siswa untuk menjawab dan atas jawabannya itu, diberi penguatan verbal berupa pujian. Pada saat diberikan penguatan, siswa lain hanya tersenyum sambil memuji temannya yang memberi tanggapan.

Pada saat materi dilanjutkan dengan menjelaskan materi berdasarkan indikator yang ingin dicapai, perhatian siswa mulai tertuju pada penjelasan guru, namun pada saat diberi kesempatan untuk bertanya, suasana kelas terlihat tenang dan tegang, segera guru memberi penguatan dengan penguatan non verbal dengan memandang tajam keseluruh siswa agar semuanya termotivasi dan menggunakan mimik dan gerakan tangan yang bersahabat, dan terlihat dua orang siswa mulai mengacungkan tangan dan segera guru memberikan penguatan kepada keduanya, “ya, inilah dua orang berani”, kemudian mempersilahkan satu per satu di antara mereka menjawab pertanyaan, atas jawaban yang belum lengkap diberi

penguatan tak penuh,”ya, jawabanmu sudah betul, tetapi perlu dilengkapi”, dan terlihat siswa-siswa yang tidak aktif mulai memberikan respon.

Guru kemudian memberikan latihan menulis lalu dikerjakan di kelas. Dalam menyelesaikan soal latihan menulis, guru berkeliling kelas mengontrol siswa yang masih perlu dibimbing dengan memberikan penguatan. Selanjutnya, guru memberikan kesempatan pada siswa untuk mengerjakan soal di papan tulis kemudian memberikan penguatan verbal dengan kata-kata pujian dan penguatan non verbal berupa acungan jempol bila siswa menjawab benar dan memberikan penguatan tak penuh bila siswa menjawab salah. Pada akhir materi guru memberikan kesimpulan materi dan memberikan tugas berupa pekerjaan rumah.

Pada pertemuan kedua, di awal pertemuan guru membahas tugas siswa. Pada buku tugas mereka telah dilengkapi dengan penguatan simbol berupa komentar dengan kata pujian,”Ya, bagus tingkatkan lagi”

(sebagai penguatan simbol) bila siswa mengerjakan tugas dengan benar dan “Cobalah lagi, kamu pasti bisa!” pada tugas siswa yang belum dikerjakan dengan baik. Selanjutnya, guru melanjutkan materi pelajaran seperti halnya pada pertemuan

pertama dan memberikan soal-soal latihan menulis di papan tulis. Siswa yang menjawab benar diberi variasi antara penguatan verbal yaitu pujian “tepat sekali”, kemudian diberi pula penguatan non verbal dengan tepuk tangan. Dengan cara ini tampak para siswa mulai termotivasi mengerjakan tugas di papan tulis.

c. Observasi

Pada tahap observasi dilakukan langsung oleh peneliti bekerja sama dengan teman kolaborator, hasil observasi tingkah laku siswa, yaitu:

1) Motivasi siswa dalam belajar dengan menggunakan media gambar di kategorikan baik.

2) Siswa yang mengerjakan pekerjaan rumah dikategroikan baik.

3) Siswa yang menjawab pertanyaan pada saat diajukan pertanyaan tentang materi pelajaran dikategorikan baik.

4) Siswa yang meminta untuk dijelaskan ulang suatu konsep yang telah dibahas di kategorikan baik.

5) Siswa yang melakukan kegiatan lain pada saat pembahasan materi pelajaran berkurang.

6) Siswa yang mengajukan diri untuk mengerjakan soal di papan tulis meningkat.

7) Siswa yang mengerjakan soal dipapan tulis dengan benar meningkat.

8) Siswa yang mengajukan diri membaca karangan di depan masih meningkat.

9) Siswa yang menanggapi pekerjaan dari siswa yang lain meningkat;

10) Siswa yang antusias belajar sampai selesai di kategorikan baik.

Dari hasil observasi mengenai tingkah laku siswa di atas dapat disimpulkan bahwa siswa aktif mengemukakan pendapat, setelah diberi penguatan terlihat beberapa siswa mulai aktif.

d. Analisis Hasil Tes (Evaluasi)

Dari pelaksanaan siklus II, yaitu pembelajaran dengan menggunakan media gambar pada materi menulis, diperoleh hasil analisis statistik deskriptif yang berkaitan dengan hasil belajar dari 20 siswa. Statistik dapat dilihat pada tabel di bawah ini:

Tabel 9. Hasil Evaluasi Hasil Belajar pada Siklus II

No. Kode Siswa L/P Nilai

1. MG1 L 76

2. MG2 L 80

3. MG3 L 80

4. MG4 L 72

5. MG5 L 77

6. MG6 L 82

7. MG7 L 78

8. MG8 L 69

9. MG9 P 70

10. MG10 P 85

11. MG11 P 70

12. MG12 P 75

13. MG13 P 79

14. MG14 P 80

15. MG15 P 74

16. MG16 P 80

17. MG17 P 78

18. MG18 P 80

19. MG19 P 80

20. MG20 P 85

Tabel 10 . Statistik Nilai Hasil Tes Siklus II

No Statistik Nilai

1 2 3 4 5

Jumlah sampel Nilai rata-rata Nilai maksimum Nilai minimum Rentang Skor

20 77 85 69 16

Pada tabel 10 di atas, menunjukkan bahwa skor tertinggi yang dicapai siswa pada siklus pertama pada pembelajaran keterampilan menulis dengan media gambar adalah 85,00 dan skor terendah adalah 69,00, dengan rentang skor adalah 16,00 dari skor ideal 100,00. Sedangkan skor rata-rata dari 20 orang obyek adalah 77,00. Siswa yang tuntas pada siklus II berjumlah 19 siswa sedangkan yang tidak tuntas berjumlah 1 siswa.

Bila skor hasil belajar bahasa Indonesia setelah dilaksanakan siklus I dikelompokkan dalam distribusi frekuensi, diperoleh gambaran pada Tabel 11 di bawah ini:

No Interval (dalam

skor) Kategori Frekuensi Persentase

1 0 – 54 Sangat rendah 0 0

2 55 – 64 Rendah 0 0

3 65 – 74 Sedang 5 25

4 75 – 84 Tinggi 13 65

5 85 – 100 Sangat tinggi 2 10

Jumlah 20 100

Dari Tabel di atas terlihat bahwa secara umum hasil belajar menulis melalui media gambar terhadap pembelajaran bahasa Indonesia siswa kelas IV SD Negeri 20 Kodingare Kecamatan Pulau Sembilan Kabupaten Sinjai pada Siklus II dikategorikan membaik. Hal ini terlihat dari persentase untuk kategori sangat tinggi (95%). Hasil ini yang menjadi salah satu bahan refleksi untuk dijadikan temuan penelitian.

Berdasarkan tabel 11 tersebut diketahui pula distribusi frekuensi, persentase, serta kategori ketercapaian ketuntasan belajar siswa dalam peningkatan keterampilan menulis melalui media gambar terhadap pembelajaran bahasa Indonesia siswa kelas IV SD Negeri 20 Kodingare Kecamatan Pulau Sembilan Kabupaten Sinjai pada siklus II ditunjukkan pada tabel 4.8 berikut:

Pulau Sembilan Kabupaten Sinjai pada Siklus II

Tes

Belajar Interval nilai Kategori Frekuensi Persentase (%) Siklus

I

Nilai 70 ke atas Tuntas 19 95%

Nilai 70 ke

bawah Tidak tuntas 1 5%

Dari tabel 12 di atas menunjukkan bahwa hasil belajar menulis melalui media gambar terhadap pembelajaran bahasa Indonesia siswa kelas IV SD Negeri 20 Kodingare Kecamatan Pulau Sembilan Kabupaten Sinjai pada siklus II sebesar 95%

atau 19 siswa berada dalam kategori tuntas dan sebanyak 1 orang atau 5% berada dalam kategori tidak tuntas. Hal ini berarti bahwa pembelajaran menulis dengan media gambar sudah meningkat.

Berdasarkan kriteria hasil belajar mengenai ketuntasan kelas, yaitu  85%, data hasil penelitian pada siklus dua ini dianggap tuntas karena yang tuntas mencapai hanya 95% dari 20 orang siswa.

Ketercapaian Pembelajaran Menulis Melalui Media Gambar pada Pembelajaran Bahasa Indonesia Siswa kelas IV SD Negeri 20 Kodingare Kecamatan Pulau Sembilan Kabupaten Sinjai pada Siklus II

e. Refleksi

Berdasarkan hasil siklus II yaitu dari data-data observasi dan tes siklus II dapat disimpulkan bahwa siswa aktif dan berminat belajar, semangat belajar, motivasi, keaktifat belajar serta kemampuan dalam menangkap atau memahami materi pelajaran hasilnya sangat baik.

Kegiatan siswa pada siklus ini, semangat dan perhatian siswa dalam proses pembelajaran ini meningkat. Hal ini terlihat dari perhatian serius dari siswa dalam menanggapi materi.

Sikap siswa pada umumnya baik dalam memberikan tanggapan atau respons positif terhadap metode dan media yang disajikan. Pada saat guru memantau siswa dalam mempelajari materi ternyata pada umumnya aktif. Selain itu, tidak ada siswa yang melakukan aktivitas lain.

Selama kegiatan berlangsung hingga akhir pertemuan dengan menerapkan media gambar, sudah ditemukan bentuk tersendiri sesuai yang dinginkan. Hal ini dapat dilihat dari kerja sama dalam tiap kelompok mengalami peningkatan, misalnya interaksi siswa dalam membahas materi semakin terjalin, siswa yang belum mengerti sudah mulai bertanya kepada teman kelompoknya atau gurunya.

Tercapainya pembelajaran menulis siklus II disebabkan oleh beberapa masalah seperti tampak berikut ini.

1) Guru mengidentifikasi masalah siswa secara menyeluruh.

2) Guru membantu dan mengarahkan siswa menyelesaikan masalah.

3) Guru memberikan motivasi belajar siswa dalam hubungannya dengan kehidupannya di masa yang akan datang.

4) Guru memberikan gambaran bahwa siswa yang aktif dalam belajar menulis akan menjadi cerdas.

5) Guru memberikan gambaran kepada siswa tentang kegunaan menulis dalam kaitannya dengan kehidupan.

6) Guru menerapkan pujian/penguatan.

7) Guru memberikan hadiah bagi siswa yang berprestasi.

8) Guru membagi anggota kelompok secara heterogen.

9) Guru menerapkan hukuman bagi siswa yang tidak memperhatikan pelajaran.

10) Media yang digunakan adalah media gambar dan guru menuntun siswa dalam menulis dengan media gambar.

Dokumen terkait