BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian
integral pembelajaran dikelas atau cara utama pembelajaran langsung sebagai berikut:
1) Penyampaian pelajaran lebih baku. Meskipun guru menafsirkan isi pelajaran dengan cara yang berbeda-beda, dengan penggunaan media ragam hasil tafsiran itu dapat dikurangi sehingga informasi yang sama dapat disampaikan kepada siswa sebagai landasan untuk pengkajian, latihan, dan aplikasi lebih lanjut.
2) Pembelajaran bisa lebih menarik. Kejelasan dan keruntutan pesan, daya tarik image yang berubah-ubah, penggunaan efek khusus yang dapat menimbulkan keingintahuan menyebabkan siswa tertawa dan berpikir, yang kesemuannya menunjukan bahwa media memiliki aspek motivasi dan meningkatka minat.
3) Pembelajaran lebih efektif dengan diterapkannya teori belajar dan prinsip-prinsip psikologi yang diterima dalam hal partisipasi siswa, umpan balik dan penguatan
4) Lama waktu pembelajaran yang diperlukan dapat dipersingkat 5) Kualitas hasil belajar dapat ditingkatkan apabila integrasi kata dan
gambar sebagai media pembelajaran dapat mengkomunikasikan elemen-elemen pengetahuan dengan cara yang terorganisasikan dengan baik, spesifik dan jelas.
6) Pembelajaran dapat diberikan kapan dan dimana saja atau diperlukan terutama bila media pembelajaran dirancang untuk penggunaan individu.
7) Sikap positif siswa terhadap apa yang mereka pelajari dan terhadap proses belajar dapat ditingkatkan.
8) Peran guru dapat berubah kearah yang lebih postif.
Riyana (2017: 15-16) menyatakan media pembelajaran memiliki manfaat sebagai berikut:
1) Membuat kongkrit konsep-konsep yang abstrak.
2) Menghadirkan objek-objek yang terlalu berbahaya atau sukar didapat kedalam lingkungan belajar.
3) Menampilkan objek yang terlalu besar atau kecil.
4) Memperlihatkan gerakan yang terlalu cepat atau lambat.
Arsyad (2020: 29-30) mengemukakan beberapa manfaat dalam penggunaan media pembelajaran, yaitu:
1) Media pembelajaran mempermudah dan memperjelas penyampaian materi sehingga dapat mempermudah siswa dalam belajar
2) Siswa akan lebih memperhatikan media pembelajaran karena dianggap menarik dan tidak membosankan sehingga menimbulkan keinginan dan motivasi untuk belajar.
3) Media pembelajaran akan memmbantu guru dalam menyajikan materi yang sifatnya terbatas oleh ruang dan waktu dan indera siswa.
e. Klasifikasi Media Pembelajaran
Media pembelajaran merupakan komponen instruksional yang meliputi pesan, orang, dan peralatan. Dampak dari perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi terutama bidang elektronik tentunya dapat memperkaya sumber dan media pembelajaran. Dengan bertambahnya jenis media maka timbul pemikiran untuk mengadakan pengelompokan atau klasifikasi media pembelajaran.
Menurut Arsyad (2020: 31-34) menyatakan bahwa media pembelajaran dapat dikelompokan kedalam empat kelompok, yaitu:
1) Media hasil teknologi cetak (teks, grafik, foto atau representative fotografik dan reproduksi).
2) Media hasil teknologi audiovisual (mesin proyektor film, tape recorder, dan proyektor visual yang lebar).
3) Media hasil teknologi yang berdasarkan komputer (berupa aplikasi atau Computer-assisted instruction)
4) Media hasil gabungan teknologi cetak dan komputer (pemakaian media yang dikendalikan komputer).
Suprihatiningrum (2016: 323) media pembelajaran ada tiga macam, yaitu sebagai berikut:
1) Media audio/ suara merupakan penggunaan media dalam pembelajaran dengan suara sebagai bentuk materi yang disampaikan. Penyampaian materi hanya sekedar suara.
2) Media visual/gambar merupakan media pembelajaran dengan penyampaian pesan menggunakan media gambar diam.
3) Audio-visual merupakan gabungan antara media audio dan visual. Penyampaian pesan dengan menggunakan audiovisual berupa gambar dengan suara atau gambar yang bergerak.
Lebih lanjut pengelompokkan jenis media jika dilihat dari perkembangan teknologi oleh Seels & Glasgow (1990: 181-183) dalam (Arsyad, 2020:35-37) mengemukakan media pembelajaran dalam dua kategori luas yaitu:
1) Media tradisional
a) Visual diam yang diproyeksikan (proyeksi opaque (tak-tembus pandang, proyeksi overhead, slides, filmstrips).
b) Visual yang tak diproyeksikan (gambar, poster, foto, chart, grafik, diagram, pameran, papan info, papan- bulu).
c) Audio (rekaman piringan, pita kaset, reel, catridge).
d) Penyajian multimedia (tape, multi-image).
e) Visual dinamis yang diproyeksikan (film, televise, video).
f) Cetak (buku teks, modul, teks terprogram, workbook, majalah ilmiah, hand-out).
g) Permainan (teka-teki, simulasi, permainan papan).
h) Realita (model, specimen atau contoh, manipulatif/peta/boneka).
2) Pilihan media teknologi mutakhir
a) Media berbasis telekomunikasi (telekonferen, kuliah jarak jauh).
b) Media berbasis mikroprosesor (computer-assisted instruction, permainan computer, sostem tutor intelejen, interaktif, hypermedia, compact/video disk).
a. Definisi video pembelajaran
Salah satu bentuk dari media audio visual adalah video pembelajaran. Media video pembelajaran dapat digolongkan ke dalam jenis media audio visual aids (AVA), yaitu jenis media yang selain mengandung unsur suara juga mengandung unsur gambar yang dapat dilihat. Arsyad (2004: 36) dalam (Rusman Dkk, 2019: 218) mengemukakan bahwa “video merupakan serangkaian gambar gerak yang sisertai suara yang membentuk satu kesatuan yang dirangkai menjadi sebuah alur, dengan pesan-pesan didalamnya untuk ketercapaian tujuan pembelajaran yang disimpan dengan proses penyimpanan pada media pita atau disk”.
Video pembelajaran menjadi media yang sudah lama digunakan dalam proses belajar di sekolah. Video merupakan media yang cocok untuk berbagai macam pembelajaran. Lebih lanjut, Daryanto (2016:104) menyatakan bahwa “penggunaan media video dinilai efektif untuk membantu proses pembelajaran, baik untuk
pembelajaran massal, individual, maupun berkelompok”. Hal ini karena ukuran waktu dan tampilan video dapat di kelola oleh guru pelajaran tersebut.
Berdasarkan pendapat para ahli, maka video pembelajaran merupakan media atau perantara/alat yang digunakan untuk menyajikan materi pembelajaran dalam bentuk audiovisual yang dapat memberikan pengalaman nyata kepada siswa terhadap materi pembelajaran yang disampaikan.
b. Kelebihan dan kelemahan video pembelajaran
Menurut Rusman Dkk (2019: 220) media video memiliki beberapa kelebihan, yaitu:
1) Memberi pesan yang dapat diterima secara lebih merata oleh siswa.
2) Sangat bagus untuk menerangkan suatu proses.
3) Mengatasi keterbatasan ruang dan waktu.
4) Lebih realistis, dapat diulang dan dihentikan sesuai dengan kebutuhan.
5) Memberikan kesan yang mendalam, yang dapat mempengaruhi sikap siswa.
Penggunaan media pembelajaran terdapat peningkatan motivasi dan hasil belajar siswa. sesuai dengan itu, Daryanto (2016:
105) mengemukakan bahwa tingkat retensi atau daya serap dan daya ingat siswa terhadap suatu materi pelajaran dapat meningkat secara signifikan jika proses pemerolehan informasi pada awalnya lebih besar melalui indera penglihatan dan pendengaran. Selain itu, Video pembelajaran juga sangat mudah di gunakan pada setiap pembelajaran dan metode belajar. Guru dapat dengan mudah memanfaatkan video
disetiap materi pembelajaran, karena video dapat dijangkau oleh setiap siswa dan dapat disaksikan sesuai dengan kebutuhan peserta didik.
Kustandi Dkk (2013: 64) mengemukakan keuntungan yang diperoleh dari pengaplikasian media video pembelajaran, yaitu:
1) Video dapat melengkapi pengalaman dasar siswa ketika membaca, berdiskusi, dan praktik.
2) Video dapat disaksikan secara berulang-ulang
3) Video dapat mendorong semangat, motivasi, dan menanmpan sikap dan segi afektif lainnya pada siswa.
4) Video mampu mendorong pemikiran siswa untuk mengamati dan menganalisis suatu objek atau peristiwa.
Penggunakan media video dalam pembelajaran diharapkan siswa dapat memperoleh persepsi dan pemahaman yang sama dan benar, selain siswa dapat menerima materi pelajaran. Sedangkan guru diharapkan dapat mengikat siswa selama pembelajaran berlangsung dan membantunya mengingat kembali dengan mudah berbagai pengetahuan dan keterampilan yang telah dipelajari.
Selain beberpa kelebihan yang telah di sebutkan, media video pembelajaran juga memiliki kekurangan dalam pengaplikasiannya.
Menurut Wati (2016: 23) menyebutkan kelemahan media video pembelajaran, antara lain:
1) Perhatian audiens sulit untuk dikendalikan
2) Komunikasi yang cenderung satu arah harus diimbangi dengan pencarian umpan balik yang lain.
3) Proses pembuatannya memerlukan waktu dan biaya yang cukup lama dan mahal.
4) Pemutaran video memerlukan piranti tertentu.
5) Penggunaan video dapat dipengaruhi oleh kondisi dimana video tersebut digunakan.
Berdasarkan penjelasan para ahli di atas maka dapat disimpulkan bahwa video pembelajaran dianggap mampu memberikan perubahan
yang lebih baik untuk meningkatkan hasil belajar serta motivasi belajar siswa. keuntungan video pembelajaran yang mampu menyampaikan materi dan dapat di ulang-ulang, mudah dalam menjelaskan suatu proses, melatih analisis siswa dari video materi yang diberikan dan materi yang telah lama bisa dipelajari kembali ketika dibutuhkan.
b. Keunggulan Aplikasi Kinemaster
Aplikasi Kinemaster memiliki tampilan yang mudah dipakai dan memiliki berbagai fitur untuk editing video sehingga dapat mudah dikelola oleh guru maupun siswa. Menurut Damayanti (2020:
34) menyatakan bahwa “keunggulan aplikasi Kinemaster dapat dioperasikan oleh pengguna yang professional maupun amatiran, aplikasi ini memiliki fitur multi track yang dapat mengubah suara atau audio dalam video, adanya fitur kunci kroma untuk membuat background menjadi lebih menarik”. Selain itu Kinemaster mendukung banyak lapisan video, audio, gambar, teks dan efek, serta video yang diproduksi dapat langsung dibagikan kedalam platform media sosial.
Penggunaan dan Pemanfaatan aplikasi Kinemaster untuk mengelola materi serta mengembangkan kemampuan siswa diharapkan dapat mempermudah para guru serta siswa dapat menyerap informasi secara efektif dan efisien.
c. Tahap-tahap pembuatan video pembelajaran Kinemaster
Sebelum menentukan langkah-langkah dalam pembuatan video pembelajaran menggunakan aplikasi Kinemaster, maka terlebih dahulu menyiapkan perangkat atau bahan yang akan di gunakan. Perangkat dan bahan yang akan di gunakan, antara lain:
1) Materi yang akan di sampaikan.
2) Software aplikasi Kinemaster.
3) Kamera, handphone serta perangkat keras yang digunakan untuk merekam video.
Setelah semua perlengkapan di siapkan, maka langkah selanjutnya yaitu menginstal software aplikasi Kinemaster di android. Adapun cara menginstal Kinemaster sebagai berikut:
1) Buka android, kemudian mencari google apps ataupun play store 2) Buka play store atau google apps
3) Pada kotak pencarian, ketik aplikasi Kinemaster
4) Setelah itu tekan ikon install untuk menginstal aplikasi.
Setelah apliakasi Kinemaster telah terinstal di android, selanjutnya langkah-langkah membuat video pembelajaran, sebagai berikut:
1) Masuk ke aplikasi Kinemaster, kemudian pilih proyek baru 2) Pilih media, lalu pilih video animasi yang telah di download
sebagai latar belakang video
3) Jika layar utama telah terisi atau beckgroundnya telah ada, berikutnya klik menu lapisan, lalu pilih video yang telah dibuat sebelumnya. Untuk mempermudah pengeditan sebaiknya dalam pengambilan video menggunakan kain atau latar hijau sebagai pengganti green screen.
4) Kemudia crop video atau menyesuaikan dengan background yang ada
5) Selanjutnya mengatur kecerahan video dan komposis objek agar lebih menarik
6) Klik chroma key lalu setting akurasi pemotongan
7) Kemudian untuk menambahkan gambar, audio dan video dapat memilih ikon lapisan.
8) Mengatur dan mengedit video semenarik mungkin
9) Setelah video pembelajaran telah selesai maka video dapat disimpan ataupun di bagikan melalui media sosial yang otomasis ada dalam software aplikasi.
6. Pembelajaran Bahasa Indonesia
2) Fungsi ekspresif, yaitu bahasa memberi informasi pembaca itu sendiri, mengenai perasaan, prasangka, dan pengalaman yang telah lewat.
3) Fungsi sosial bahasa, yaitu melestarikan hubungan sosial antar manusia.
Menurut Doyin, dkk (2011: 6) membagi fungsi bahasa menjadi empat bagian, yaitu:
1) Bahasa Negara, yaitu bahasa yang digunakan dalam peristiwa kenegaraan
2) Sebagai bahasa pengantar di lembaga-lembaga pendidikan 3) Sebagai alat perhubungan tingkat nasional
4) sebagai alat pengembangan kebudayaan nasional, ilmu pengetahuan dan teknologi
b. Pembelajaran Bahasa Indonesia SMP
Pembelajaran bahasa Indonesia memiliki standar kompetensi, Standar kompetensi mata pelajaran Bahasa Indonesia merupakan kualifikasi kemampuan minimal peserta didik yang menggambarkan penguasaan pengetahuan, keterampilan berbahasa, dan sikap positif terhadap bahasa dan sastra Indonesia. Standar kompetensi ini merupakan dasar bagi peserta didik untuk memahami dan merespon situasi lokal, regional, nasional, dan global.
Dengan standar kompetensi mata pelajaran Bahasa Indonesia ini diharapkan:
1) Peserta didik dapat mengembangkan potensinya sesuai dengan kemampuan, kebutuhan, dan minatnya, serta dapat menumbuhkan penghargaan terhadap hasil karya kesastraan dan hasil intelektual bangsa sendiri;
2) Guru dapat memusatkan perhatian kepada pengembangan kompetensi bahasa peserta didik dengan menyediakan
berbagai kegiatan berbahasa dan sumber belajar;
3) Guru lebih mandiri dan leluasa dalam menentukan bahan ajar kebahasaan dan kesastraan sesuai dengan kondisi lingkungan sekolah dan kemampuan peserta didiknya;
4) Orang tua dan masyarakat dapat secara aktif terlibat dalam pelaksanaan program kebahasaan daan kesastraan di sekolah;
5) Sekolah dapat menyusun program pendidikan tentang kebahasaan dan kesastraan sesuai dengan keadaan peserta didik dan sumber belajar yang tersedia;
6) Daerah dapat menentukan bahan dan sumber belajar kebahasaan dan kesastraan sesuai dengan kondisi dan kekhasan daerah dengan tetap memperhatikan kepentingan nasional.
Mata pelajaran Bahasa Indonesia bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut.
1) Berkomunikasi secara efektif dan efisien sesuai dengan etika yang berlaku, baik secara lisan maupun tulis
2) Menghargai dan bangga menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan dan bahasa Negara
3) Memahami bahasa Indonesia dan menggunakannya dengan tepat dan kreatif untuk berbagai tujuan.
4) Menggunakan bahasa Indonesia untuk meningkatkan kemampuan intelektual, serta kematangan emosional dan sosial
5) Menikmati dan memanfaatkan karya sastra untuk memperluas wawasan, memperhalus budi pekerti, serta meningkatkan pengetahuan dan kemampuan berbahasa
6) Menghargai dan membanggakan sastra Indonesia sebagai khazanah budaya dan intelektual manusia Indonesia.
Menurut Gorys (1988) dalam (Chedoha, 2018: 12) Ruang lingkup mata pelajaran Bahasa Indonesia mencakup komponen kemampuan berbahasa dan kemampuan bersastra yang meliputi aspek-aspek sebagai berikut.
1) Mendengarkan 2) Berbicara 3) Membaca 4) Menulis
Berdasarkan penjelasan diatas, pembelajaran Bahasa Indonesia merupakan pembelajaran yang wajib bagi siswa terlepas dari bahasa yang kita gunakan dalam keseharian tetapi lebih dari itu memahami Bahasa Indonesia dapat mengembangkan kemampuan seseorang dalam memahami sastra ataupun seni.
Dalam pembelajaran Bahasa Indonesia kemampuan berbahasa menjadi komponen utama yang terdiri dari aspek mendengarkan, berbicara, membaca dan menulis. Ini semua merupakan kemampuan yang harus dikuasai oleh peserta didik dalam proses pembelajaran
Berbicara adalah suatu bentuk komunikasi dan dalam pembelajaran berbicara penting karena merupakan kemampuan komunikatif siswa dan keterampilan ini harus di latihkan kepada siswa.
b. Tujuan keterampilan berbicara
Tujuan utama dari berbicara adalah untuk berkomunikasi.
Nawawi Dkk (2017: 23) mengemukakan bahwa “tujuan berbicara adalah untuk berkomunikasi secara langsung antara pembicara dan pendengar guna mencari informasi dan mempergunakannya. Esensi dari tujuan berbicara adalah untuk memberitahukan dan melaporkan (to inform), Menjamu dan menghibur (to entertain), dan membujuk atau mendesak (to persuade)”.
Menurut Abidin (2012: 131-132), terdapat empat tujuan pembelajaran keterampilan berbicara, yaitu:
1) Membentuk kepekaan siswa terhadap sumber ide 2) Membangun kemampuan siswa untuk menghasilkan ide 3) Melatih kemampuan siswa untuk berbicara dalam
berbagai tujuan
4) Membangun kreativitas berbicara siswa
Selanjutnya, Iskardawassid & Sunendar (2013: 286-287) menguraikan tujuan pembelajaran keterampilan berbicara dalam tiga tingkatan, yaitu:
1) Untuk tingkat pemula, tujuan pembelajaran keterampilan berbicara adalah agar siswa mampu melafalkan bunyi-bunyi bahasa, menyampaikan informasi, setuju atau tidak setuju, menjelaskan identitas diri, menceritakan kembali hasil simakan, menyampaikan rasa hormat, dan bermain peran.
2) Untuk tingkat menengah, tujuan pembelajaran keterampilan berbicara agar siswa mampu menyampaikan informasi, berpartisipasi dalam percakapan, melakukan wawancara, bermain peran dan menyampaikan gagasan dalam diskusi atau pidato.
3) Untuk tingkat yang paling tinggi, tujuan pembelajaran keterampilan berbicara adalah agar siswa mampu menyampaikan informasi, melakukan percakapan, wawancara, pidato dan debat.
c. Metode pembelajaran keterampilan berbicara
Berbicara memiliki tujuan yaitu untuk berkomunikasi.
Komunikasi perlu dilakukan sebagai bentuk interaksi sosial dengan sesama manusia. Dalam berbicara ada banyak metode yang dapat dilakukan serta dapat melatih terampilan seseorang dalam berbicara.
Jelasnya bahwa memahami metode dalam berbicara dapat meningkatkan pengetahuan dan kemampuan dalam berbicara dengan orang lain. Nurgiyantoro (2016: 401-411) mengemukakan bahwa terdapat beberapa teknik pembelajaran yang dapat diterapkan untuk pembelajaran keterampilan berbicara di kelas, yaitu:
1) Bicara berdasarkan gambar
Gambar dapat dijadikan sebagai rangsangan bagi siswa untuk berbicara dalam bahasa yang dipelajari. Rangsangan berupa gambar ini cocok diberikan kepada pembelajar bahasa pada tingkat pemula.
2) Berbicara berdasarkan rangsangan audio
Rangsangan yang digunakan dalam teknik ini adalah rekaman dari radio atau rekaman yang sengaja dibuat, misalnya siaran berita, sandiwara atau programprogram tertentu yang layak dan berhubungan dengan pembelajaran.
3) Berbicara berdasarkan rangsangan visual dan audio
Teknik ini menggunakan rangsangan berupa gabungan antara gambar dan suara, seperti televisi, video ataupun rekaman gambar bergerak lainnya sesuai dengan kebutuhan dan tujuan pembelajaran.
4) Bercerita
Rangsangan yang digunakan dalam teknik ini dapat berupa buku cerita baik fiksi maupun nyata berupa pengalaman-pengalaman.
Berbicara berdasarkan cerita seperti menceritakan kembali cerita yang sudah dibaca.
5) Wawancara
Teknik yang sering digunakan untuk perlombaan berbicara adalah wawancara. Wawancara dilakukan kepada pembelajar untuk mendorong siswa mengutarakan gagasan-gagasan atau pemikirannya dalam bahasa yang sedang dipelajari.
d. Faktor dan Penilaian keterampilan berbicara
Maidar & Mukti (1993: 18) dalam berbicara ada beberapa faktor yang menunjang keefktifan berbicara, antara lain sebagai berikut:
1) Faktor Kebahasaan
a) Ketepatan ucapan, pada kegiatan berbicara harus dibiasakan seseorang untuk melakukan pengucapan bunyi-bunyi bahasa yang baik dan benar. Setiap orang yang berbicara akan memiliki gaya bahasa yang berbeda, gaya bahasa ini kadang dipengaruhi oleh faktor lingkungan atau geografis seseorang.
b) Pemilihan kata atau diksi, pemilihan kosakata dalam berbicara merupakan hal yang penting dan perlu di perhatikan. Pemilihan kata yang salah dapat mengandung arti dan maksud yang berbeda apabila tidak digunakan dengan semestinya. Kelancaran komunikasi juga ditentukan dari pemilihan kosakata.
c) Ketepatan sasaran pembicara, pemakaian kalimat atau pemilihan kalimat yang tepat dapat memudahkan pendengar untuk menangkap isi pembicaraan. Kalimat yang disampaikan sebaiknya runtut dan tidak berulang.
2) Faktor Nonkebahasaan
Kegiatan berbicara yang dilakukan oleh siswa selain aspek kebahasaan adapula aspek nonkebahasaan yang akan dilihat dari Kefasihan, ekspresi, intonasi, tekanan dalam kegiatan berbicara.
Ini menjadi penting agar menunjang proses komunikasi menjadi lancar dan penuh dengan makna.
Setiap pembelajaran pasti akan ada namanya penilaian.
Penilaian menjadi tolak ukur untuk melihat sejauh mana ketercapaian proses dalam pembelajaran. Menurut Nurgiyantoro (2009: 284-286) menyatakan bahwa Penilaian di dalam keterampilan berbicara ditentukan dari 2 hal, yaitu faktor kebahasaan dan faktor nonkebahasaan.
1) Penilaian dari faktor kebahasaan meliputi:
a) Kosakata b) Struktur isi c) Pelafalan
2) Penilaian dari faktor nonkebahasaan meliputi:
a) Ekspresi b) Intonasi c) Kefasihan d) Tekanan
Beberapa faktor dalam keterampilan berbicara perlu di perhatikan agar dapat meningkatkan keterampilan seseorang dalam berbicara. Melatih atau meningkatkan keterampilan berbicara tidak hanya sekedar memahami metode tertentu tetapi juga memperhatikan kriteria apa yang menjadi penilaian dalam keterampilan berbicara.
Kriteria atau indicator penilaian tersebut sebagai alat ukur untuk melihat kemampuan keterampilan berbicara seseorang.
banyaknya lapisan video, audio dan gambar serta produk yang dihasilkan dapat di bagikan kepada orang lain melalui sosial media.
Tujuan penggunaan video pembelajaran ini untuk meningkatkan keterampilan berbicara siswa, dengan prosedur siswa akan diberikan tugas oleh guru untuk membuat video pembelajaran berdasarkan instruksi tugas dari guru disetiap indikator pembelajarannya, jadi para siswa akan berbicara dan videonya dapat di saksiskan oleh guru dan siswa. penggunaan video pembelajaran diharapkan dapat meningkatkan bukan hanya keterampilan berbicara siswa tapi juga kreativitas siswa dalam mengedit dan membuat tugas video pembelajaran yang diberikan.
Penelitian ini dilakukan dengan penelitian eksperimen yaitu melakukan eksperimen atau perlakuan kepada siswa dengan menerapkan video pembelajaran berbasis Kinemaster. Penelitian ini menggunakan pretest diawal pembelajaran untuk melihat keterampilan awal siswa dalam berbicara sebelum diberikannya perlakuan penggunaan video pembelajaran dan posttest untuk melihat bagaimana peningkatan keterampilan berbicara siswa setelah diberikannya perlakuan berupa penerapan video pembelajaran berbasis Kinemster. Dengan menggunakan video pembelajaran berbasisi Kinemaster dalam melatih keterampilan berbicara siswa diharapkan dapat meningkatakan keterampulan berbicara siswa. Untuk lebih jelasnya kerangka berpikir dalam penelitian ini dapat digambarkan sebagai berikut:
Keterampilan Berbicara Siswa Kelas VII Mata Pelajaran Bahasa Indonesia SMPN 1 BONTOMARANNU
Keaktifan Siswa Dalam Pembelajaran Masih Kurang Kurangnya Metode Untuk
Melatih Keterampilan Berbicara Siswa
Kurangnya Penggunaan Video Pembelajaran Untuk
Melatih Keterampilan Berbicara Siswa
Pretest
Implementasi Video Pembelajaran Berbasis Kinemaster
Posttest
Terdapat Pengaruh Implementasi Video Pembelajaran Berbasis Kinemaster Tehadap
Keterampilan Berbicara Siswa
Gambar: 2.1 Kerangka Pikir
47 BAB III
METODE PENELITIAN A. Rancangan Penelitian
1. Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah jenis penelitian kuantitatif dengan pendekatan eksperimen. Sugiyono (2016:
107) menyatakan bahwa “metode penelitian eksperimen diartikan sebagai metode penelitian untuk melihat pengaruh terhadap sampel dalam kondisi yang terkendalikan”.
Jenis penelitian eksperimen yang digunakan dalam penelitian ini yaitu Pre-Experimen Design dimana masih ada variabel luar yang ikut mempengaruhi variabel dependen serta tidak adanya variabel control, dan sampel tidak dipilih secara random. Bentuk desain penelitian ini adalah One-Grup Pretest-Postest Design, yaitu kelas eksperimen akan diberikan Pretest sebelum dilakukan perlakuan, kemudian diberikan Posttest setelah diberikan proses perlakuan.
2. Variabel Penelitian
Sugiyono (2016: 61) megemukakan bahwa “ variabel penelitian yaitu segala atribut, sifat, nilai dari orang, objek atau kegiatan yang mempunyai variasi tertentu yang ditetapkan peneliti untuk dipelajari dan selanjutnya diambil kesimpulannya”. Variabel dalam penelitian ini yaitu penggunaan video pembelajaran sebagai variabel bebas dan keterampilan berbicara siswa sebagai variabel terikat.
3. Desain Penelitian
Pada penelitian ini, desain penelitian yang dilakukan adalah Pre- Experimental Design dengan tipe one-group pretest-posttest design dengan memberikan pretest atau tes awal untuk mengukur dan melihat kemampuan awal siswa sebelum diberikannya perlakuan dan memberikan posttest atau tes akhir yaitu untuk melihat kemampuan siswa setelah diberikan perlakuan.
Pada desain penelitian ini kelas eksperimen akan diberi tes awal (pretest) pada awal pertemuan untuk melihat dan mengukur pengetahuan awal dan tingkat keterampilan berbicara siswa sebelum di aplikasikannya video pembelajaran berbasis Kinemaster dalam pembelajaran bahasa indonesia selanjutnya setelah diberikan tes awal para siswa diberikan perlakuan berupa implementasi video pembelajaran berbasis Kinemaster pada pembelajaran bahasa Indonesia dan selanjutnya dilakukan tes akhir (posttest) untuk menilai dan melihat tingkat keterampilan berbicara siswa setelah di aplikasikannya video pembelajaran berbasis Kinemaster dalam proses pembelajaran.
Secara sederhana, desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini digambarkan sebagai berikut:
Gambar 3.1 Desain Penelitian O1 X O2