• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

D. Hasil Penelitian

Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis regresi linear berganda dengan bantuan program komputer eviews versi 10.0.

Uji asumsi regresi linear ganda adalah suatu uji untuk mengetahui apakah model regresi yang digunakan dalam penelitian telah memenuhi kriteria Best, Linier, Unbiased, dan Estimated. Uji asumsi regresi linear berganda dalam penelitian ini dilakukan dengan pendekatan Ordinary Least Squares (OLS) yang dibagi dalam 4 tahapan, yaitu:

1. Estimasi Model Regresi Linier Berganda a. PT Waskita Karya (Persero) Tbk

Berdasarkan uji regresi linear berganda di atas diperoleh persamaan sebagai berikut:

Dari persamaan tersebut dapat dijelaskan hal-hal sebagai berikut: 1) Berdasarkan persamaan diatas diperoleh konstanta sebesar 13940,11. Hal ini berarti bahwa dengan adanya tingkat inflasi dan nilai tukar rupiah maka nilai konstanta harga saham PT Waskita sebesar 13940,11. 2) Koefisien regresi variabel tingkat inflasi sebesar -1708077,23 menunjukkan bahwa terdapat pengaruh yang negatif antara variabel tingkat inflasi terhadap harga saham PT Waskita. Artinya bahwa setiap peningkatan tingkat inflasi 1%

akan menurunkkan harga saham PT Waskita sebesar (- 1708077,23%) dengan asumsi variabel lain konstan, begitu juga sebaliknya. 3) Koefisien regresi variabel nilai tukar rupiah sebesar 17,64 menunjukkan terdapat pengaruh yang positif antara variabel nilai tukar rupiah terhadap harga saham PT Waskita. Artinya bahwa setiap peningkatan nilai tukar rupiah 1% akan meningkatkan

harga saham PT Waskita sebesar 17,64% dengan asumsi variabel lain konstan, begitu juga sebaliknya.

b. PT Wijaya Karya (Persero) Tbk

Berdasarkan uji regresi linear berganda di atas diperoleh persamaan sebagai berikut:

Dari persamaan tersebut dapat dijelaskan hal-hal sebagai berikut: 1) Berdasarkan persamaan diatas diperoleh konstanta sebesar 4893,59. Hal ini berarti bahwa dengan adanya tingkat inflasi dan nilai tukar rupiah maka nilai konstanta harga saham PT Wika sebesar 4893,59. 2) Koefisien regresi variabel tingkat inflasi sebesar -543806,50 menunjukkan bahwa terdapat pengaruh yang negatif antara variabel tingkat inflasi terhadap harga saham PT Wika. Artinya bahwa setiap peningkatan tingkat inflasi 1% akan menurunkan harga saham PT Wika sebesar -543806,50% dengan asumsi variabel lain konstan, begitu juga sebaliknya. 3) Koefisien regresi variabel nilai tukar rupiah sebesar 24,72 menunjukkan terdapat pengaruh yang positif antara variabel nilai tukar rupiah terhadap harga saham PT Wika. Artinya bahwa setiap peningkatan nilai tukar rupiah 1% akan meningkatkan harga saham PT Wika

sebesar 24,72% dengan asumsi variabel lain konstan, begitu juga sebaliknya.

c. PT Adhi Karya (Persero) Tbk

Berdasarkan uji regresi linear berganda di atas diperoleh persamaan sebagai berikut:

Dari persamaan tersebut dapat dijelaskan hal-hal sebagai berikut: 1) Berdasarkan persamaan diatas diperoleh konstanta sebesar 2756,52. Hal ini berarti bahwa dengan adanya tingkat inflasi dan nilai tukar rupiah maka nilai konstanta harga saham PT Adhi sebesar 2756,52. 2) Koefisien regresi variabel tingkat inflasi sebesar -248763,05 menunjukkan bahwa terdapat pengaruh yang negatif antara variabel tingkat inflasi terhadap harga saham PT Adhi. Artinya bahwa setiap peningkatan tingkat inflasi 1% akan menurunkan harga saham PT Adhi sebesar -248763,05% dengan asumsi variabel lain konstan, begitu juga sebaliknya. 3) Koefisien regresi variabel nilai tukar rupiah sebesar 50,709 menunjukkan terdapat pengaruh yang positif antara variabel nilai tukar rupiah terhadap harga saham PT Adhi. Artinya bahwa setiap peningkatan nilai tukar rupiah 1% akan meningkatkan harga saham PT Adhi

sebesar 50,709% dengan asumsi variabel lain konstan, begitu juga sebaliknya.

d. PT PP (Peersero) Tbk

Berdasarkan uji regresi linear berganda di atas diperoleh persamaan sebagai berikut:

Dari persamaan tersebut dapat dijelaskan hal-hal sebagai berikut: 1) Berdasarkan persamaan diatas diperoleh konstanta sebesar 6584,70. Hal ini berarti bahwa dengan adanya tingkat inflasi dan nilai tukar rupiah maka nilai konstanta harga saham PT PP sebesar 6584,70. 2) Koefisien regresi variabel tingkat inflasi sebesar -673577,16 menunjukkan bahwa terdapat pengaruh yang negatif antara variabel tingkat inflasi terhadap harga saham PT PP.

Artinya bahwa setiap peningkatan tingkat inflasi 1% akan menurunkan harga saham PT PP sebesar -673577,16% dengan asumsi variabel lain konstan, begitu juga sebaliknya. 3) Koefisien regresi variabel nilai tukar rupiah sebesar 26,78 menunjukkan terdapat pengaruh yang positif antara variabel nilai tukar rupiah terhadap harga saham PT PP. Artinya bahwa setiap peningkatan nilai tukar rupiah 1% akan meningkatkan harga saham PT PP sebesar 26,78% dengan asumsi variabel lain konstan, begitu juga sebaliknya.

2. Uji Asumsi Klasik

a. PT Waskita Karya (Persero) Tbk 1) Uji Normalitas

Dari hasil uji normalitas menggunakan eviews 10 diperoleh nilai Prob. JB (Jarque-Bera) sebesar 0,385981 0,05 sehingga dapat disimpulkan bahwa residual terdistribusi normal, yang artinya asumsi klasik tentang kenormalan telah dipenuhi, sehingga model ini layak untuk dijadikan penelitian.

2) Uji Autokorelasi

Dari hasil uji autokorelasi menggunakan eviews 10 diperoleh nilai Prob. F (2,22) ≠ sebesar 0,7192 dapat juga disebut sebagai nilai probabilitas F-hitung. Nilai Prob. F-hitung lebih besar dari tingkat alpha 0,05 (5%) sehingga, dapat disimpulkan tidak terjadi autokorelasi.

3) Uji Multikolinearitas

Dalam tabel kolom Centered VIF menunjukkan hasil dari uji multikolinearitas. Nilai VIF untuk variabel inflasi dan nilai tukar rupiah menunjukkan hasil yang sama yaitu 1,53. Karena nilai VIF dari kedua variabel tidak ada yang lebih besar dari 10 atau 5 maka dapat dikatakan tidak terjadi multikolinearitas pada kedua variabel bebas tersebut.

Berdasarkan syarat asumsi klasik regresi linear dengan OLS, maka model regresi linear yang baik adalah yang terbebas dari

adanya multikolinearitas. Dengan demikian, model di atas telah terbebas dari adanya multikolinearitas.

4) Uji Linearitas

Dari hasil uji linearitas menggunakan eviews 10 pada baris F-statistic kolom probability menunjukkan nilai Prob. F hitung.

Pada kasus ini nilainya 0,2415 lebih besar dari 0,05, sehingga model regresi dapat disimpulkan memenuhi asumsi linearitas.

5) Uji Heterokedastisitas

Dari hasil uji heterokedastisitas menggunakan eviews 10 diperoleh nilai Prob. F-hitung sebesar 0,9370 lebih besar dari tingkat alpha 0,05 (5%) sehingga tidak terjadi heteroskedastisitas.

Semua uji asumsi klasik pada persamaan1 (model linear) telah terpenuhi, sehingga model tersebut layak digunakan untuk menjelaskan pengaruh variabel bebas Tingkat Inflasi dan Nilai Tukar Rupiah terhadap Harga saham.

b. PT Wijaya Karya (Persero) Tbk 1) Uji Normalitas

Dari hasil uji normalitas menggunakan eviews 10 diperoleh nilai Prob. JB (Jarque-Bera) sebesar 0,794994 0,05 sehingga dapat disimpulkan bahwa residual terdistribusi normal, yang artinya asumsi klasik tentang kenormalan telah dipenuhi, sehingga model ini layak untuk dijadikan penelitian.

2) Uji Autokorelasi

Dari hasil uji autokorelasi menggunakan eviews 10 diperoleh nilai Prob. F (2,22) ≠ sebesar 0,7776 dapat juga disebut sebagai nilai probabilitas F-hitung. Nilai Prob. F-hitung lebih besar dari tingkat alpha 0,05 (5%) sehingga, dapat disimpulkan tidak terjadi autokorelasi.

3) Uji Multikolinearitas

Dalam tabel kolom Centered VIF menunjukkan hasil dari uji multikolinearitas. Nilai VIF untuk variabel inflasi dan nilai tukar rupiah menunjukkan hasil yang sama yaitu 1,53. Karena nilai VIF dari kedua variabel tidak ada yang nilainya lebih besar dari 10 atau 5 maka dapat dikatakan tidak terjadi multikolinearitas pada kedua variabel bebas tersebut.

Berdasarkan syarat asumsi klasik regresi linear dengan OLS, maka model regresi linear yang baik adalah yang terbebas dari adanya multikolinearitas. Dengan demikian, model di atas telah terbebas dari adanya multikolinearitas.

4) Uji Linearitas

Dari hasil uji linearitas menggunakan eviews 10 pada baris F-statistic kolom probability menunjukkan nilai Prob. F-hitung.

Pada kasus ini nilainya 0,8848 lebih besar dari 0,05, sehingga dapat disimpulkan bahwa model regresi memenuhi asumsi linearitas.

5) Uji Heterokedastisitas

Dari hasil uji heterokedastisitas menggunakan eviews 10 diperoleh nilai Prob. F-hitung sebesar 0,208 lebih besar dari tingkat alpha 0,05 (5%) sehingga tidak terjadi heteroskedastisitas.

Semua uji asumsi klasik pada persamaan1 (model linear) telah terpenuhi, sehingga model tersebut layak digunakan untuk menjelaskan pengaruh variabel bebas Tingkat Inflasi dan Nilai Tukar Rupiah terhadap Harga saham.

c. PT Adhi Karya (Persero) Tbk 1) Uji Normalitas

Dari hasil uji normalitas menggunakan eviews 10 diperoleh nilai Prob. JB (Jarque-Bera) sebesar 0,953022 0,05 sehingga dapat disimpulkan bahwa residual terdistribusi normal, yang artinya asumsi klasik tentang kenormalan telah dipenuhi, sehingga model ini layak untuk dijadikan penelitian.

2) Uji Autokorelasi

Dari hasil uji autokorelasi menggunakan eviews 10 diperoleh nilai Prob. F (2,22) ≠ sebesar 0,3341 dapat juga disebut sebagai nilai probabilitas F-hitung. Nilai Prob. F-hitung lebih besar dari tingkat alpha 0,05 (5%) sehingga, dapat disimpulkan tidak terjadi autokorelasi.

3) Uji Multikolinearitas

Dalam tabel kolom Centered VIF menunjukkan hasil dari uji multikolinearitas. Nilai VIF untuk variabel inflasi dan nilai tukar rupiah menunjukkan hasil yang sama yaitu 1,53. Karena nilai VIF dari kedua variabel tidak ada yang nilainya lebih besar dari 10 atau 5 maka dapat dikatakan tidak terjadi multikolinearitas pada kedua variabel bebas tersebut.

Berdasarkan syarat asumsi klasik regresi linear dengan OLS, maka model regresi linear yang baik adalah yang terbebas dari adanya multikolinearitas. Dengan demikian, model di atas telah terbebas dari adanya multikolinearitas.

4) Uji Linearitas

Dari hasil uji linearitas menggunakan eviews 10 pada baris F-statistic kolom probability menunjukkan nilai Prob. F-hitung.

Pada kasus ini nilainya 0,3532 lebih besar dari 0,05 sehingga dapat disimpulkan bahwa model regresi memenuhi asumsi linearitas.

5) Uji Heterokedastisitas

Dari hasil uji heterokedastisitas menggunakan eviews 10 diperoleh nilai Prob. F-hitung sebesar 0,32 lebih besar dari tingkat alpha 0,05 (5%) sehingga tidak terjadi heteroskedastisitas.

Semua uji asumsi klasik pada persamaan1 (model linear) telah terpenuhi, sehingga model tersebut layak digunakan untuk

menjelaskan pengaruh variabel bebas Tingkat Inflasi dan Nilai Tukar Rupiah terhadap Harga saham.

d. PT PP (Persero) Tbk 1) Uji Normalitas

Dari hasil uji normalitas menggunakan eviews 10 diperoleh nilai Prob. JB (Jarque-Bera) sebesar 0,780052 0,05 sehingga dapat disimpulkan bahwa residual terdistribusi normal, yang artinya asumsi klasik tentang kenormalan telah dipenuhi, sehingga model ini layak untuk dijadikan penelitian.

2) Uji Autokorelasi

Dari hasil uji autokorelasi menggunakan eviews 10 diperoleh nilai Prob. F (2,22) ≠ sebesar 0,2606 dapat juga disebut sebagai nilai probabilitas F-hitung. Nilai Prob. F-hitung lebih besar dari tingkat alpha 0,05 (5%) sehingga, dapat disimpulkan tidak terjadi autokorelasi.

3) Uji Multikolinearitas

Dalam tabel kolom Centered VIF menunjukkan hasil dari uji multikolinearitas. Nilai VIF untuk variabel inflasi dan nilai tukar rupiah menunjukkan hasil yang sama yaitu 1,53. Karena nilai VIF dari kedua variabel tidak ada yang lebih besar dari 10 atau 5 maka dapat dikatakan tidak terjadi multikolinearitas pada kedua variabel bebas tersebut.

Berdasarkan syarat asumsi klasik regresi linear dengan OLS, maka model regresi linear yang baik adalah yang terbebas dari adanya multikolinearitas. Dengan demikian, model di atas telah terbebas dari adanya multikolinearitas.

4) Uji Linearitas

Dari hasil uji linearitas menggunakan eviews pada baris F- statistic kolom probability menunjukkan nilai Prob. F-hitung.

Pada kasus ini nilainya 0,326 lebih besar dari 0,05, sehingga model regresi dapat disimpulkan memenuhi asumsi linearitas.

5) Uji Heterokedastisitas

Dari hasil uji heterokedastisitas menggunakan eviews 10 diperoleh nilai Prob. F-hitung sebesar 0,529 lebih besar dari tingkat alpha 0,05 (5%) sehingga tidak terjadi heteroskedastisitas.

Semua uji asumsi klasik pada persamaan1 (model linear) telah terpenuhi, sehingga model tersebut layak digunakan untuk menjelaskan pengaruh variabel bebas Tingkat Inflasi dan Nilai Tukar Rupiah terhadap Harga saham.

3. Uji Kelayakan Model

a. PT Waskita Karya (Persero) Tbk 1) Uji F

Uji yang diestimasi layak digunakan untuk menjelaskan pengaruh variabel-variabel bebas terhadap variabel terikat. Model regresi yang diestimasi layak jika nilai prob. F-hitung lebih kecil

dari tingkat kesalahan/error (alpha) 0,05 (yang telah ditentukan) maka H1 diterima H0 ditolak, sehingga bisa dikatakan bahwa Tingkat Inflasi dan Nilai Tukar Rupiah berpengaruh signifikan terhadap Harga Saham Subsektor Konstruksi Bangunan di JII.

Begitu pula sebaliknya.

Hasil uji F pada tabel di atas menunjukkan hasil 0,000007, lebih kecil dari tingkat signifikansi 0,05 sehingga H1 diterima dan H0 ditolak. Artinya hipotesis yang menyatakan bahwa variabel Tingkat Inflasi dan Nilai Tukar Rupiah secara bersama-sama mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap variabel Harga Saham PT. Waskita. Sehingga dapat disimpulkan bahwa model regresi yang diestimasi layak digunakan untuk menjelaskan pengaruh Tingkat Inflasi dan Nilai Tukar Rupiah terhadap variabel Harga Saham PT. Waskita.

2) Uji-t

Untuk menguji apakah parameter (koefisien regresi dan konstanta) untuk mengestimasi model regresi linier berganda sudah merupakan parameter yang tepat atau belum. Apabila nilai prob. t-hitung (ditunjukkan pada prob.) lebih kecil dari tingkat kesalahan (alpha) 0,05 maka H1 diterima H0 ditolak, sehingga bisa dikatakan bahwa variabel bebas berpengaruh signifikan terhadap variabel terikatnya, begitu pula sebaliknya.

Nilai probabilias t hitung dari Tingkat Inflasi sebesar 0,0028 lebih kecil dari 0,05 maka H1 diterima H0 ditolak, sehingga dapat dikatakan bahwa Tingkat Inflasi berpengaruh signifikan terhadap Harga Saham PT. Waskita pada alpha 5% atau dengan kata lain, Tingkat Inflasi berpengaruh signifikan terhadap Harga Saham PT.

Waskita pada taraf keyakinan 95%. Sama halnya dengan pengaruh Nilai Tukar Rupiah terhadap Harga Saham PT. Waskita, karena nilai prob. t-hitung 0,0032 lebih rendah dari 0,05 maka H1 diterima H0 ditolak, sehingga dapat dikatakan bahwa Nilai Tukar Rupiah berpengaruh signifikan terhadap Harga Saham PT. Waskita pada alpha 5% atau dengan kata lain, Nilai Kurs Dolar terhadap Rupiah berpengaruh signifikan terhadap Harga Saham PT. Waskita pada taraf keyakinan 95%.

b. PT Wijaya Karya (Persero) Tbk 1) Uji F

Hasil uji F dapat dilihat pada tabel di atas. Nilai prob. F (Statistic) sebesar 0,205 lebih besar dari tingkat signifikansi 0,05 sehingga H0 diterima dan H1 ditolak. Artinya hipotesis menyatakan bahwa variabel Tingkat Inflasi dan Nilai Tukar Rupiah secara bersama-sama tidak mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap variabel Harga Saham PT. Wika. Sehingga dapat disimpulkan bahwa model regresi yang diestimasi tidak

layak digunakan untuk menjelaskan pengaruh Tingkat Inflasi dan Nilai Tukar Rupiah terhadap variabel Harga Saham PT. Wika.

2) Uji-t

Nilai prob. t-hitung dari variabel bebas Tingkat Inflasi sebesar 0,3474 lebih besar dari 0,05 maka H0 diterima H1 ditolak, sehingga dapat dikatakan bahwa variabel bebas (Tingkat Inflasi) tidak berpengaruh signifikan terhadap variabel terikat (Harga Saham PT. Wika). Sama halnya dengan hasil pengaruh variabel bebas (Nilai Tukar Rupiah) terhadap variabel terikat (Harga Saham PT. Wika), karena nilai prob. t-hitung 0,0879 lebih besar dari 0,05 maka H0 diterima H1 ditolak, sehingga dapat dikatakan bahwa variabel bebas (Nilai Tukar Rupiah) tidak berpengaruh signifikan terhadap variabel terikat (Harga Saham PT. Wika).

c. PT Adhi Karya (Persero) Tbk 1) Uji F

Hasil uji F dapat dilihat pada tabel di atas. Nilai prob. F (Statistic) sebesar 0,0047 lebih kecil dari tingkat signifikansi 0,05 sehingga H1 diterima dan H0 ditolak. Artinya hipotesis yang menyatakan bahwa variabel Tingkat Inflasi dan Nilai Tukar Rupiah secara bersama-sama mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap variabel Harga Saham PT. Adhi. Sehingga dapat disimpulkan bahwa model regresi yang diestimasi layak digunakan untuk menjelaskan pengaruh Tingkat Inflasi dan Nilai

Tukar Rupiah terhadap variabel terikat Harga Saham PT. Adhi karya.

2) Uji-t

Nilai prob. t-hitung dari variabel bebas (Tingkat Inflasi) sebesar 0,6677 yang lebih besar dari 0,05 maka H0 diterima dan H1 ditolak, sehingga dapat dikatakan bahwa variabel bebas (Tingkat Inflasi) tidak berpengaruh signifikan terhadap variabel terikat (Harga Saham PT. Adhi karya). Berbeda halnya dengan nilai prob. t-hitung dari variabel bebas (Nilai Tukar Rupiah) sebesar 0,0014 lebih kecil dari 0,05 maka H1 diterima dan H0

ditolak,sehingga variabel bebas (Nilai Tukar Rupiah) berpengaruh signifikan terhadap variabel terikat (Harga Saham PT. Waskita) pada alpha 5% atau dengan kata lain, Nilai Tukar Rupiah berpengaruh signifikan terhadap Harga Saham PT. Waskita pada taraf keyakinan 95%.

d. PT PP (Persero) Tbk 1) Uji F

Hasil uji F pada tabel di atas menunjukkan hasil 0,206, lebih besar dari tingkat signifikansi 0,05 sehingga H0 diterima dan H1 ditolak. Artinya hipotesis yang menyatakan bahwa variabel Tingkat Inflasi dan Nilai Tukar Rupiah secara bersama-sama tidak mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap variabel Harga Saham PT. PP. Sehingga dapat disimpulkan bahwa model regresi

yang diestimasi tidak layak digunakan untuk menjelaskan pengaruh Tingkat Inflasi dan Nilai Tukar Rupiah terhadap variabel terikat Harga Saham PT. PP.

2) Uji-t

Nilai prob. t-hitung dari variabel bebas Tingkat Inflasi sebesar 0,2954 lebih besar dari 0,05 maka H0 diterima dan H1

ditolak, sehingga dapat dikatakan bahwa variabel bebas (Tingkat Inflasi) tidak berpengaruh signifikan terhadap variabel terikat (Harga Saham PT. PP). Sama halnya dengan hasil pengaruh variabel bebas (Nilai Tukar Rupiah) terhadap variabel terikat (Harga Saham PT. PP), karena nilai prob. t-hitung 0,0952 lebih besar dari 0,05 maka H0 diterima dan H1 ditolak, sehingga dapat dikatakan bahwa variabel bebas (Nilai Tukar Rupiah) tidak berpengaruh signifikan terhadap variabel terikat (Harga Saham PT. PP).

4. Uji Determinasi

a. PT Waskita Karya (Persero) Tbk

Koefisien determinasi menjelaskan variasi pengaruh variabel- variabel bebas terhadap variabel terikatnya. Nilai koefisien determinasi dapat diukur oleh nilai R-Square atau Adjusted R-Square.

Nilai R-Square yang diperoleh sebesar 0,664768 menunjukkan bahwa proporsi pengaruh variabel Tingkat Inflasi dan Nilai Tukar Rupiah terhadap variabel Harga Saham PT. Waskita sebesar 66,48%.

Artinya, Tingkat Inflasi dan Nilai Tukar Rupiah memiliki proporsi pengaruh terhadap Harga Saham PT. Waskita sebesar 66,48%.

Sedangkan sisanya 33,52% (100% - 66,48%) dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak ada dalam model regresi.

b. PT Wijaya Karya (Persero) Tbk

Nilai R-Square yang diperoleh sebesar 0,1234 menunjukkan bahwa proporsi pengaruh Tingkat Inflasi dan Nilai Tukar Rupiah terhadap Harga Saham PT. Wika sebesar 12,34%. Artinya, Tingkat Inflasi dan Nilai Tukar Rupiah memiliki proporsi pengaruh terhadap Harga Saham PT. Wika sebesar 12,34%. Sedangkan sisanya 87,66%

(100% - 12,34%) dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak terdapat dalam model regresi.

c. PT Adhi Karya (Persero) Tbk

Nilai R-Square yang diperoleh sebesar 0,360 menunjukkan bahwa proporsi pengaruh Tingkat Inflasi dan Nilai Tukar Rupiah terhadap Harga Saham PT. Adhi Karya sebesar 36%. Artinya, Tingkat Inflasi dan Nilai Tukar Rupiah memiliki proporsi pengaruh terhadap Harga Saham PT. Adhi Karya sebesar 36%. Sedangkan sisanya 64% (100% - 36%) dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak terdapat dalam model regresi.

d. PT PP (Persero) Tbk

Nilai R-Square yang diperoleh sebesar 0,1230 menunjukkan bahwa proporsi pengaruh Tingkat Inflasi dan Nilai Tukar Rupiah

terhadap Harga Saham PT. PP sebesar 12,30%. Artinya, Tingkat Inflasi dan Nilai Tukar Rupiah memiliki proporsi pengaruh terhadap Harga Saham PT. PP sebesar 12,30%. Sedangkan sisanya 87,70%

(100% - 12,30%) dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak terdapat dalam model regresi.

Dokumen terkait