BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
E. Pembahasan Hasil Penelitian
terhadap Harga Saham PT. PP sebesar 12,30%. Artinya, Tingkat Inflasi dan Nilai Tukar Rupiah memiliki proporsi pengaruh terhadap Harga Saham PT. PP sebesar 12,30%. Sedangkan sisanya 87,70%
(100% - 12,30%) dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak terdapat dalam model regresi.
disimpulkan bahwa tingkat inflasi terhadap harga saham perusahaan WIKA tidak berpengaruh secara signifikan. Selanjutnya hasil uji secara parsial pengaruh tingkat inflasi terhadap harga saham PT Adhi Karya Tbk yang diperoleh nilai prob. senilai 0,6677 > α, maka dapat disimpulkan bahwa tingkat inflasi terhadap harga saham perusahaan ADHI tidak berpengaruh secara signifikan. Begitu pula pada uji secara parsial pengaruh tingkat inflasi terhadap harga saham PT PP Tbk yang diperoleh nilai prob. senilai 0,2954 > α, maka dapat disimpulkan bahwa tingkat inflasi terhadap harga saham perusahaan PT PP Tbk tidak berpengaruh secara signifikan.
Hal ini berbeda dengan hasil uji parsial pengaruh tingkat inflasi terhadap harga saham PT Waskita Karya (WSKT) Tbk yang diperoleh nilai prob. t hitung senilai 0,0028 < α, maka tingkat inflasi terhadap harga saham WSKT berpengaruh secara parsial. Jika dilihat dari model regresi berganda maka diperoleh koefisien regresi senilai -1708007,23 dalam artian ini menunjukkan bahwa tingkat inflasi memiliki pengaruh negatif signifikan terhadap harga saham perusahaan WSKT, sehingga dapat disimpulkan bahwa pada saat tingkat inflasi meningkat maka harga saham WSKT akan mengalami penurunan. Begitu pula pada saat tingkat inflasi menurun maka harga saham perusahaan WSKT akan mengalami peningkatan. Setiap kenaikan tingkat inflasi senilai 1% maka akan menurunkan harga saham perusahaan WSKT senilai -1708007,23%. Dan
sebaliknya penurunan tingkat inflasi senilai 1 % maka akan meningkatkan harga saham perusahaan WSKT senilai -1708007,23%.
Hooker mengemukakan bahwa tingkat inflasi mempengaruhi secara signifikan terhadap harga saham. Peningkatan inflasi secara relatif merupakan signal negatif bagi pemodal di pasar modal. Inflasi meningkatkan pendapatan dan biaya perusahaan. Jika peningkatan biaya produksi lebih tinggi dari peningkatan harga yang dapat dinikmati oleh perusahaan maka profitabilitas perusahaan akan turun. Jika profit yang diperoleh perusahaan kecil, hal ini akan mengakibatkan para investor enggan menanamkan dananya di perusahaan tersebut sehingga harga saham menurun.96 Hal tersebut sejalan dengan hasil penelitian di atas bahwa peningkatan inflasi mempunyai pengaruh yang negatif terhadap harga saham perusahaan WIKA. Karena peningkatan inflasi tersebut dapat meningkatan biaya perusahaan yang menyebabkan biaya bahan bangunan dan biaya konstruksi yang dikeluarkan oleh perusahaan untuk membangun property makin meningkat harga jual sahamnya dengan harapan return yang tinggi, begitu pula sebaliknya. Inflasi yang tinggi akan mengurangi daya beli sehingga akan mempengaruhi tingkat keuntungan perusahaan dan akhirnya berpengaruh terhadap harga saham.
Berdasarkan paparan tersebut maka inflasi berpengaruh negatif terhadap harga saham perusahaan subsektor konstruksi bangunan di JII.
96Suramaya Suci Kewal, “Pengaruh Inflasi, Suku Bunga, Kurs dan Pertumbuhan PDB terhadap Indeks Harga Saham Gabungan”, Economia, Vol. 8, Nomor 1, April 2012, hlm. 59.
Penelitian ini sejalan yang dilakukan oleh Ike Nofiatin (2013)97 dalam penelitiannya “Hubungan Inflasi, Suku Bunga, Produk Domestik Bruto, Nilai Tukar, Jumlah Uang Beredar, dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Periode 2005-2011”, dengan menggunakan E-views 6 menunjukkan hasil bahwa inflasi memiliki pengaruh negatif dan nilai tukar memiliki pengaruh positif terhadap IHSG periode 2002-2011. Hasil penelitian yang sama pun ditemukan oleh Kana Yuana Saputri (2019)98 dalam penelitiannya “Pengaruh Nilai Tukar (Kurs) Dolar Amerika/Rp, Inflasi, dan BI Rate terhadap Harga Saham (Studi Pada Perusahaan Property, Real Estate and Building Construction di BEI Tahun 2013- 2016)”, hasil penelitiannya menunjukkan bahwa inflasi dan nilai tukar tidak berpengaruh signifikan terhadap harga saham. Dan hasil penelitian yang sama pun ditemukan oleh Zainuddin Iba dan Aditya Wardhana (2012), dalam penelitiannya “Pengaruh Inflasi, Suku Bunga, SBI, Nilai Tukar Rupiah Terhadap USD, Profitabilitas, dan Pertumbuhan Aktiva Terhadap Harga Saham Perusahaan Pembiayaan di BEI”, menunjukkan bahwa inflasi memiliki pengaruh negatif dan signifikan terhadap harga saham perusahaan pembiayaan di BEI.
97Ike Nofiatin, “Hubungan Inflasi, Suku Bunga, Produk Domestik Bruto, Nilai Tukar, Jumlah Uang Beredar, dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Periode 2005–2011”, Aplikasi Manajemen, Vol. 11, Nomor 2, Juni 2013, hlm. 5
98Kana Yuana Saputri, “Pengaruh Nilai Tukar..., hlm. 10.
Tetapi hasil penelitian ini berbeda dengan Sugeng Raharjo (2010)99 dalam penelitiannya “Pengaruh Inflasi, Nilai Kurs Rupiah, dan Tingkat Suku Bunga Terhadap Harga Saham di Bursa Efek Indonesia” yang menunjukkan bahwa variabel inflasi memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap harga saham. Hasil penelitian yang sama pun ditemukan oleh Suramaya Suci Kewal (2012)100 dalam penelitiannya
“Pengaruh Inflasi, Suku Bunga, Kurs dan Pertumbuhan PDB terhadap Indeks Harga Saham Gabungan”, dalam analisis linear berganda ditemukan bahwa inflasi memiliki pengaruh positif terhadap indeks harga saham gabungan. Dan hasil penelitian yang sama pun ditemukan oleh Kausar Akbar (2018)101 dalam penelitiannya yang berjudul “Pengaruh Nilai Tukar dan Inflasi Terhadap Harga Saham di Jakarta Islamic Index (Studi Kasus: Perusahaan Tambang, Periode 2010-2017”, hasil penelitiannya menunjukkan bahwa secara simultan nilai tukar dan inflasi tehadap perusahaan tambang ADRO, ANTM, dan PTBA berpengaruh secara signifikan, sedangkan pada perusahaan INCO tidak terdapat pengaruh signifikan antara nilai tukar dan inflasi. Selanjutnya dilakukan oleh Susi Ulandari (2017)102 dalam penelitiiannya yang berjudul
“Pengaruh Inflasi dan Nilai Tukar Rupiah terhadap Harga Saham di
99 Sugeng Raharjo, “Pengaruh Inflasi, Nilai Kurs Rupiah, dan Tingkat Suku Bunga Terhadap Harga Saham di Bursa Efek Indonesia”, (Skripsi, Fakultas Ekonomi STIE “AUB”, Surakarta 2009), hlm. 14.
100Suramaya Suci Kewal, “Pengaruh Inflasi, Suku Bunga, Kurs dan Pertumbuhan PDB terhadap Indeks Harga Saham Gabungan”, Economia, Vol. 8, Nomor 1,April 2012, hlm. 9.
101Kausar Akbar, “Pengaruh Nilai Tukar dan Inflasi Terhadap Harga Saham di Jakarta Islamic Index (JII), (Studi Kasus: Perusahaan Tambang, Periode 2010-2017)”, (Skripsi, FEBI UIN Ar-Raniry, Banda Aceh, 2018), hlm. 92-93.
102 Susi Ulandari, “Pengaruh Inflasi…, hlm. 77-80.
Sektor Industri Barang Konsumsi pada Indeks Saham Syariah (ISSI) Tahun 2012-2016”, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa variabel inflasi dan nilai tukar rupiah berpengaruh dan signifikan terhadap harga saham di sektor industri barang konsumsi pada indeks saham syariah indonesia (ISSI) periode 2012-2016. Perbedaan ini dapat terjadi karena perbedaan kurun waktu dari tingkat inflasi yang dari tahun ke tahun fluktuatif dan sektor yang di teliti dalam penelitian.
2. Pengaruh Nilai Tukar terhadap Harga Saham
Dari hasil penelitian menggunakan eviews 10 diketahui bahwa variabel nilai tukar (X2) secara parsial berpengaruh positif dan signifikan terhadap harga saham pada PT Waskita dan PT Adhi, sedangkan pada PT Wika dan PT PP tidak terdapat pengaruh yang signifikan. Pengaruh positif ini menunjukkan bahwa menguatnya nilai tukar mengakibatkan peningkatan harga saham perusahaan subsektor konstruksi bangunan yang terdapat di Jakarta Islamic Index (JII). Hal ini terlihat dari hasil uji parsial nilai tukar terhadap harga saham PT Waskita karya (WSKT) Tbk, diperoleh nilai prob. t hitung senilai 0,0032 < α maka secara parsial nilai tukar berpengaruh terhadap harga saham WSKT, jika dilihat dari model regresi berganda maka diperoleh koefisien regresi senilai 17,64 dalam artian ini maka nilai tukar memiliki pengaruh positif signifikan terhadap harga saham perusahaan WSKT. Begitu pula dengan hasil uji parsial nilai tukar terhadap harga saham PT Adhi Karya Tbk diperoleh nilai prob. t hitung senilai 0,0014 < α maka secara parsial nilai tukar berpengaruh
terhadap harga saham ADHI, jika dilihat dari model regresi berganda maka diperoleh koefisien regresi senilai 50,709 dalam artian ini maka nilai tukar memiliki pengaruh positif signifikan terhadap harga saham perusahaan ADHI.
Jadi kesimpulannya adalah bahwa pada saat nilai tukar rupiah terhadap dolar menguat maka harga saham WSKT akan mengalami kenaikan. Begitu pula pada saat nilai tukar rupiah terhadap dolar melemah maka harga saham perusahaan WSKT akan mengalami penurunan. Harga saham perusahaan WSKT akan meningkat sebesar 17,64% apabila nilai tukar naik 1%. Dan sebaliknya Harga saham perusahaan WSKT akan menurun sebesar 17,64% apabila nilai tukar turun1%. Begitu pula yang terjadi pada PT Adhi, pada saat nilai tukar rupiah terhadap dolar menguat maka harga saham ADHI akan mengalami kenaikan dan pada saat nilai tukar rupiah terhadap dolar melemah maka harga saham perusahaan ADHI akan mengalami penurunan. Harga saham perusahaan ADHI akan menurun senilai 50,709% jika nilai tukar turun 1%. Dan sebaliknya harga saham perusahaan ADHI akan meningkat senilai 50,709% jika nilai tukar naik 1%.
Berbeda dengan hasil uji parsial nilai tukar terhadap harga saham PT Wijaya Karya (WIKA) Tbk dan PT PP Tbk. Masing-masing diperoleh nilai prob. t hitung pada WIKA sebesar 0,0879 > α dan nilai prob. t-hitung pada PT PP sebesar 0,0952 > α maka secara parsial nilai tukar tidak berpengaruh terhadap harga saham WIKA dan PT PP.
Berdasarkan hasil penelitian di atas, hal ini disebabkan karena perubahan satu variabel makro ekonomi memiliki dampak yang berbeda terhadap harga saham, yaitu suatu saham dapat terkena dampak positif sedangkan saham lainnya terkena dampak negatif. Pada suatu perusahaan yang berorientasi pada impor, depresiasi kurs rupiah terhadap dolar Amerika yang tajam akan berdampak negatif terhadap harga saham perusahaan. Sedangkan suatu perusahaan yang berorientasi pada ekspor akan menerima dampak positif dari depresiasi kurs rupiah terhadap dolar Amerika. Hal ini menyatakan bahwa harga saham yang terkena dampak negatif akan mengalami penurunan di Bursa Efek Indonesia (BEI), dan perusahaan yang terkena dampak positif akan mengalami kenaikan harga sahamnya. Oleh karena itu, Indeks Harga Saham Sektor Konstruksi juga akan terkena dampak negatif atau positif tergantung pada kelompok yang dominan dampaknya.
Pengaruh positif signifikan pada PT Waskita Karya Tbk dan PT Adhi Karya Tbk disebabkan karena apabila nilai tukar rupiah tidak terkendali maka akan menimbulkan beberapa dampak yang dapat mempengaruhi perekonomian. Beberapa akibat yang timbul dari nilai tukar rupiah yang tidak terkendali adalah kemerosotan pendapatan rill yang diterima oleh masyarakat, berkurangnya jumlah tabungan domestik yang merupakan sumber dana investasi, sehingga menyebabkan turunnya gairah pengusaha dalam berinvestasi di pasar modal. Hal tersebut juga mempengaruhi jumlah biaya yang harus dikeluarkan dan besarnya biaya
yang akan diperoleh dalam transaksi saham dan surat berharga di bursa pasar modal. Fluktuasi kurs yang tidak stabil akan dapat mempengaruhi tingkat kepercayaan investor asing terhadap perekonomian Indonesia, oleh karena kurs dapat mempengaruhi jumlah kas masuk dan keluar yang diterima perusahaan dalam kegiatan ekspor dan impor.
Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Zainuddin Iba dan Aditya Wardhana (2012)103 dalam penelitiannya
“Pengaruh Inflasi, Suku Bunga SBI, Nilai Tukar Rupiah Terhadap USD, Profitabilitas, dan Pertumbuhan Aktiva Terhadap Harga Saham Perusahaan Pembiayaan di Bursa Efek Indonesia”. Diperoleh hasil analisis linier berganda bahwa nilai tukar rupiah terhadap USD memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap harga saham perusahaan pembiayaan di BEI. Hasil penelitian yang sama pun ditemukan oleh Kausar Akbar (2018)104 dalam penelitiannya yang berjudul “Pengaruh Nilai Tukar dan Inflasi Terhadap Harga Saham di Jakarta Islamic Index (Studi Kasus:
Perusahaan Tambang, Periode 2010-2017”, hasil penelitiannya menunjukkan bahwa nilai tukar dan inflasi secara simultan berpengaruh signifikan tehadap perusahaan tambang ADRO, ANTM, dan PTBA, sedangkan pada perusahaan INCO tidak terdapat pengaruh signifikan antara nilai tukar dan harga saham. Dan hasil penelitian yang Sama pun
103 Zainuddin Iba dan Aditya Wardhana, “Pengaruh Inflasi, Suku Bunga SBI, Nilai Tukar Rupiah Terhadap USD, Profitabilitas, dan Pertumbuhan Aktiva Terhadap Harga Saham Perusahaan Pembiayaan di Bursa Efek Indonesia”, Kebangsaan, Vol. 1, Nomor 1, 2012, hlm. 5
104Kausar Akbar, “Pengaruh Nilai Tukar…, hlm. 90-91.
ditemukan oleh Ike Nofiatin (2013)105 dalam penelitiannya “Hubungan Inflasi, Suku Bunga, Produk Domestik Bruto, Nilai Tukar, Jumlah Uang Beredar, dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Periode 2005–2011”.
Dengan menggunakan alat bantuan hitung E-views 6 dengan hasil bahwa nilai tukar memiliki pengaruh positif terhadap indeks harga saham gabungan (IHSG) periode 2002-2011. Selanjutnya dilakukan oleh Susi Ulandari (2017)106 dalam penelitiiannya yang berjudul “Pengaruh Inflasi dan Nilai Tukar Rupiah terhadap Harga Saham di Sektor Industri Barang Konsumsi pada Indeks Saham Syariah (ISSI) Tahun 2012-2016”, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa variabel inflasi dan nilai tukar rupiah berpengaruh dan signifikan terhadap harga saham di sektor industri barang konsumsi pada indeks saham syariah indonesia (ISSI) periode 2012-2016.
Adapun hasil penelitian yang menunjukkan dampak negatif antara pengaruh nilai tukar rupiah terhadap harga saham diantaranya dilakukan oleh Hatman Maqdiyah, dkk (2014)107 yang meneliti “Pengaruh Tingkat Bunga Deposito, Tingkat Inflasi, Produk Domestik Bruto (PDB), dan Nilai Tukar Rupiah Terhadap Indeks Harga Saham Jakarta Islamic Index (JII)”.
Mengatakan bahwa nilai tukar rupiah menunjukan hasil negatif. Perbedaan ini dapat terjadi mungkin dikarenakan perbedaan kurun waktu dalam penelitian dan sektor yang di teliti. Hasil penelitian yang sama pun
105Ike Nofiatin, Hubungan Inflasi…, hlm. 5
106Susi Ulandari, “Pengaruh Inflasi…, hlm. 80-82..
107 Hatman Maqdiyah, Sri Mangnesti Rahayu, dan Topowijono., “Pengaruh Tingkat Bunga Dpeosito, Tingkat Inflasi, Produk Domestik Bruto (PDB), dan Nilai Tukar Rupiah Terhadap Indeks Harga Saham Jakarta Islamic Index”, Administrasi Bisnis (JAB), Vol. 17 Nomorr 2, Desember 2014.
ditemukan oleh Kana Yuana Saputri (2019)108 dalam penelitiannya
“Pengaruh Nilai Tukar (Kurs) Dolar Amerika/Rp, Inflasi, dan BI Rate terhadap Harga Saham (Studi Pada Perusahaan Property, Real Estate and Building Construction di BEI Tahun 2013-2016)”, hasil penelitiannya menunjukkan bahwa inflasi dan nilai tukar tidak berpengaruh terhadap harga saham.
108Kana Yuana Saputri, “Pengaruh Nilai Tukar…, hlm. 10.
84 BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan
Penelitian ini menganalisis tentang pengaruh tingkat inflasi dan nilai tukar rupiah sebagai variabel independen (X) terhadap harga saham sebagai variabel dependen (Y). Penelitian ini dilakukan pada perusahaan yang bergerak dibidang subsektor konstruksi bangunan di Jakarta Islamic Index (JII) periode 2013-2019. Adapun kesimpulan dalam penelitian ini adalah:
1. Tingkat inflasi tidak berpengaruh secara signifikan terhadap harga saham perusahaan subsektor konstruksi bangunan yang terdapat di JII periode 2013-2019 yakni pada PT Wijaya Karya (Persero) Tbk, PT Adhi Karya (Persero) Tbk, dan PT PP Tbk, hal ini dilihat dari nilai prob. WIKA 0,3474 > α maka tingkat inflasi tidak berpengaruh secara signifikan terhadap harga saham perusahaan WIKA. Pada ADHI dengan nilai prob.
senilai 0,6677 > α maka tingkat inflasi tidak berpengaruh secara signifikan terhadap harga saham perusahaan ADHI. Selanjutnya pada PT PP Tbk yang diperoleh nilai prob. senilai 0,2954 > α, maka dapat disimpulkan bahwa tingkat inflasi terhadap harga saham perusahaan PT PP Tbk tidak berpengaruh secara signifikan. Sedangkan pada PT Waskita Karya (Persero) Tbk menunjukkan hasil yang berbeda bahwa tingkat inflasi berpengaruh secara signifikan terhadap harga saham WSKT, hal ini dilihat dari nilai prob. t hitung senilai 0,0028 < α maka tingkat inflasi
berpengaruh secara signifikan terhadap harga saham WSKT. Hal ini menunjukkan bahwa apabila inflasi naik maka invesasi saham di subsektor konstruksi bangunan pada JII akan menurun, begitu pula sebaliknya.
2. Nilai tukar rupiah berpengaruh secara signifikan terhadap harga saham pada perusahaan subsektor konstruksi bangunan yang terdapat di JII periode 2013-2019, yakni pada PT Waskita Karya (Persero) Tbk dan PT Adhi Karya (Persero) Tbk; WSKT dengan nilai prob. t hitung senilai 0,0032 < α maka secara parsial nilai tukar berpengaruh terhadap harga saham WSKT. Dan pada ADHI dengan nilai prob. t hitung senilai 0,0014
< α maka secara parsial nilai tukar berpengaruh terhadap harga saham ADHI. Sedangkan pada PT Wijaya Karya (Persero) Tbk dan PT PP Tbk menunjukkan hasil yang berbeda yaitu masing-masing diperoleh nilai prob. t-hitung pada WIKA sebesar 0,0879 > α dan nilai prob. t-hitung pada PT PP sebesar 0,0952 > α maka secara parsial nilai tukar tidak berpengaruh terhadap harga saham WIKA dan PT PP. Hal ini menunjukkan bahwa apabila nilai tukar rupiah naik maka invesasi saham di subsektor konstruksi bangunan pada JII akan meningkat, begitu pula sebaliknya.
3. Secara simultan terdapat pengaruh yang signifikan antara tingkat inflasi dan nilai tukar rupiah terhadap harga saham perusahaan subsektor konstruksi bangunan yang tergabung di Jakarta Islamic Index (JII), yaitu PT Waskita Karya Tbk (WSKT) dan PT Adhi Karya Tbk (ADHI),
sedangkan pada PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) dan PT PP Tbk tidak terdapat pengaruh yang signifikan antara tingkat inflasi dan nilai tukar rupiah terhadap harga saham pada perusahaan WIKA dan PT PP.
B. Saran
Berdasarkan hasil kesimpulan dari penelitian, maka saran-saran yang dapat dipertimbangkan adalah:
1. Variabel inflasi kurang tepat jika digunakan sebagai salah satu pertimbangan untuk tolak ukur penilaian saham. Karena belakangan ini tingkat inflasi dari tahun ke tahun semakin menurun, berbeda dari tahun sebelumnya yang memiliki tingkat inflasi yang cenderung tinggi, sehingga memicu harga saham perusahaan subsektor konstruki naik juga, oleh karena itu kurang cocok jika menggunakan variabel inflasi.
2. Variabel nilai tukar rupiah dapat digunakan sebagai salah satu pertimbngan untuk tolak ukur penilaian suatu saham. Karena nilai tukar rupiah memiliki hubungan yang positif dengan harga saham.
3. Dalam penelitian ini variabel yang digunakan adalah tingkat inflasi, nilai tukar rupiah dan harga saham subsektor konstruksi bangunan di Jakarta Islamic Index. Peneliti menyarankan agar menambah variabel lainnya untuk mendapatkan penelitian yang lebih baik pada penelitian berikutnya, seperti variabel BI Rate, suku bunga, PER, EPS, ROA, DER dan lain sebagainya.
87
DAFTAR PUSTAKA
Ali Arifin, Membaca saham: Panduan dasar seni berinvestasi dan teori permainan Saham. Kapan sebaiknya membeli, kapan sebaiknya menjual.
Yogyakarta: ANDI Yogyakarta, 2004.
Andrew Harefa, “Pengertian Kontruksi Bangunan”, dalam https://andrewharefa/2016/04/17/pengertian-konstruksi-bangunan.html, diakses tanggal 6 November 2019, pukul 21.24.
Asfia Murni, Ekonomika Makro. Cet. III. Bandung: PT. Refika Aditama, 2013.
Boediono, Ekonomi Moneter, Edisi III. Yogyakarta: BPFE - Yogyakarta, 2014.
Ekawarna dan Fachruiddinsyah, Pengantar Teori Ekonomi Makro. Jakarta: Gaung Persada, 2010.
Elif Pardiansyah, “Investasi dalam Perspektif Ekonomi Islam: Pendekatan Teoritis dan Empiris”. Ekonomi Islam, Vol. 8, Nomor 2, 2017.
Ema Novasari, “Pengaruh PER, EPS, ROA dan DER terhadap Harga Saham Perusahaan Sub-Sektor Industri Textile yang Go Public di Bursa Efek Indonesia (BEI) Tahun 2009-2011”. Skripsi, Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Semarang, Semarang, 2013.
Hatman Maqdiyah, dkk., “Pengaruh Tingkat Bunga Deposito, Tingkat Inflasi, Produk Domestik Bruto (PDB), dan Nilai Tukar Rupiah Terhadap Indeks Harga Saham Jakarta Islamic Index”. Administrasi Bisnis (JAB), Vol. 17 No. 2 Desember 2014.
Ike Nofiatin, “Hubungan Inflasi, Suku Bunga, Produk Domestik Bruto, Nilai Tukar, Jumlah Uang Beredar, dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Periode 2005-2011”. Aplikasi Manajemen, Volume 11, Nomor 2, Juni 2013.
Irham Fahmi, Pengantar Pasar Modal. Bandung: Alfabeta, 2017.
Rachmat Firdaus dan Maya Ariyanti, Pengantar Teori Moneter serta Aplikasinya pada Sistem Ekonomi Konvenional dan Syariah. Bandung: Alfabeta, 2011.
Romi Abdiillah Lubis, “Pengaruh Nilai Tukar, EPS dan DER Terhadap Harga Saham PT Wijaya Karya Periode 2014-2018”, Laporan Tugas Akhir.
Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pertamina, Jakarta, 2020.
Gatot Supramono, Transaksi Bisnis Saham dan Penyelesaian Sengketa Melalui Pengadilan. Cet. I. Jakarta: PRENADAMEDIA GROUP, 2014.
Habiburrahman, “Analisis Pengaruh Nilai Tukar Rupiah dan Inflasi Terhadap Indeks Harga Saham Sektor Properti di Bursa Efek Indonesia”.
Manajemen dan Bisnis, Vol. 5, Nomor 2, April 2015.
Kana Yuana Saputri, “Pengaruh Nilai Tukar (Kurs) Dolar Amerika/Rupiah, Inflasi, dan Bi Rate terhadap Harga Saham, (Studi pada Perusahaan Property, Real Estate And Building Construction di Bei Tahun 2013- 2016)”. Skripsi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah, Surakarta, 2019.
Kausar Akbar, “Pengaruh Nilai Tukar dan Inflasi Terhadap Harga Saham di Jakarta Islamic Index (JII), (Studi Kasus: Perusahaan Tambang, Periode 2010-2017)”. Skripsi, FEBI UIN Ar-Raniry, Banda Aceh, 2018.
Mansuri, Modul Praktikum Eviews: Analisis Regresi Linier Berganda Menggunakan Eviews. Jakarta: Universitas Borobudur, 2016.
M. Fauzan, “Pengaruh Kurs Rupiah dan Right Issue terhadap Harga Saham PT Telekomunikasi Indonesia Tbk yang Listing di Jakarta Islami Index”. At- Tawassuth, Vol. 3, Nomor 1, 2018.
Muana Nanga, MAKRO EKONOMI: Teori, Masalah dan Kebijakan. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2005.
Money Smart, “Dulunya Cuma Ratusan Perak, Harga Saham-Saham Kontruksi Menanjak”, dalam https://www.moneysmart.id/perusahaan-bumn-dan- harga-sahamnya/html, diakses tanggal 6 November 2019, pukul 21.24.
Nopirin, Ekonomi Moneter. Edisi 2. Yogyakarta: BPFE-Yogyakarta, 2009.
Pandji Anoraga dan Piji Pakarti, Pengantar Pasar Modal. Jakarta: Rineka Cipta, 2008.
Rachmat Firdaus dan Maya Ariyani, Pengantar Teori Moneter serta Aplikasinya pada Sitem Ekonomi Konvensional & Syariah. Bandung: Alfabeta, 2011.
Sudirman, Pasar Modal dan Manajemen Portofolio. Gorontalo: Sultan Amai Press IAIN Sultan Amai Gorontalo, 2015.
Sugeng Raharjo, “Pengaruh Inflasi, Nilai Kurs Rupiah, dan Tingkat Suku Bunga Terhadap Harga Saham di Bursa Efek Indonesia”. AUB, 2009.
Sugiyono, Metode Penelitian Manajemen. Cet. 3. Bandung: Alfabeta, 2014.
Suramaya Suci Kewal, “Pengaruh Inflasi, Suku Bunga, Kurs dan Pertumbuhan PDB terhadap Indeks Harga Saham Gabungan”. Economia, Vol. 8, Nomor 1,April 2012.
Sugiyono, Statistika Untuk Penelitian. Bandung: ALFABETA, 2013.
Suhartono, “Sektor Konstruksi Nasional dan Perubahan Undang-Undang Nomor 18 Tahun 1999 tentang Jasa Konstruksi”. Ekonomi & Kebijakan Publik.
Vol. 3, Nomor 1, Juni 2012.
Sunariyah, Pengantar Pengetahuan Pasar Modal, Yogyakarta: UPP-STIM YKPN, 2006.
Suramaya Suci Kewal, “Pengaruh Inflasi, Suku Bunga, Kurs dan Pertumbuhan PDB terhadap Indeks Harga Saham Gabungan”. Economia. Vol. 8, Nomor 1, April 2012.
Susi Ulandari, “Pengaruh Inflasi dan Nilai Tukar Rupiah terhadap Harga Saham di Sektor Industri Barang Konsumsi pada Indeks Saham syariah Indonesia (ISSI)”. Skripsi, FEBI UIN Raden Fatah, Palembang, 2017.
Taufik Hidayat, Buku Pintar Investasi Syariah, Jakarta: PT Transmedia, 2011.
Tery Herlambang dkk., Ekonomi Makro Teori, Analisis dan Kebijakan, Jakarta:
PT Gramedia Pustaka Utama, 2001.
Tim Penyusun, Pedoman Penulisan Skripsi UIN Mataram. Mataram: UIN Mataram, 2020.
Tim Penyusun, Buku Panduan Indeks Harga Saham Bursa Efek Indonesia.
Jakarta: Indonesia Stock Excange Building, 2010.
Wiguna dan Mendari, “Pengaruh Earning Per Share dan Tingkat Buga SBI Terhadap Harga Saham pada Perusahaan yang Terdaftar Di LQ45”.
Keuangan dan Bisnis, Vol. 6, Nomor 2, 2008