BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di Desa Kediri, kec. Kediri kab. Lombok Barat yang dimulai dari bulan September sampai dengan bulan Oktober 2020.
Penelitian ini menggunakan 20 panelis yang agak terlatih dari mahasiswa. Data penelitian ditabulasi dalam bentuk angket terlebih dahulu dapat dilihat pada (Lamp 4).
1. Data kualitas kerupuk kentang dengan konsentrasi yang berbeda-beda (0%, 30%, 60%, dan 90%)
a. Pengamatan uji pewarna kerupuk kentang
Setelah semua data ditabulasi, sebelum data dilanjutkan ke uji hipotesis untuk lebih jelasnya data akan dihitung nilai rata-rata terlebih dahulu untuk uji pewarna terhadap kualitas kerupuk kentang yaitu warna, rasa, tekstur, aroma,dan daya terima. Uji organoleptik terhadap kualitas kerupuk kentang menggunakan uji skoring yang bertujuan untuk mengetahui tingkat penerimaan konsumen terhadap kerupuk kentang.
Berikut adalah data yang diperoleh.
Tabel 4.1
Data Uji Pewarna Kualitas Warna Kerupuk Kentang No Perlakuan Total Rata-rata Indikator
1 P0 11.35 2.27 Agak Coklat
2 P1 11.7 2.34 Agak Coklat
3 P2 12.15 2.43 Agak Coklat
4 P3 11.6 2.32 Agak Coklat
Keterangan
P0 :Tanpa penambahan perasan kulit buah naga merah
P1 :Penambahan perasan kulit buah naga merah dengan konsentrasi 30%
P2 :Penambahan perasan kulit buah naga merah dengan konsentrasi 60%
P3 :Penambahan perasan kulit buah naga merah dengan konsentrasi 90%
Dari Tabel 4.1 diatas menunjukkan bahwa nilai uji pewarna pada kualitas warna kerupuk kentang dengan 20 panelis berasal dari mahasiswa. Untuk mendapatkan indikator skor nilai rata-rata yang diperoleh pada setiap perlakuan dapat mengacu pada (Tabel 3.3). Pada semua perlakuan mengalami peningkatan kualitas warna. Jumlah peningkatan tertinggi dari semua perlakuan yaitu pada P2 (60%) dengan rata-rata 2,43, sedangkan jumlah peningkatan paling rendah dari semua perlakuan yaitu P0 (0%) dengan rata-rata 2,27. Jumlah peningkatan tertinggi kedua yaitu pada perlakuan P1 (30%) dengan rata-rata 2,34.
Jumlah peningkatan tertinggi ketiga yaitu pada perlakuan P3 (90%) dengan rata-rata 2,32. Semua perlakuan mempunyai indikator yang sama yaitu agak coklat Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar diagram batang berikut.
Gambar 4.1
Diagram Batang Rata-Rata Uji Pewarna Kualitas Warna Kerupuk Kentang Berdasarkan Gambar 4.1 menunjukkan bahwa rata-rata tertinggi terdapat pada perlakuan P2 (60%) dengan rata-rata 2,43. Kemudian disusul oleh P1 (30%) dengan rata-rata 2,34, P3 (90%) dengan rata-rata 2,32), dan P0 (0%) dengan rata-rata 2,27, semua perlakuan memiliki indikator yang sama yaitu agak coklat.
2,15 2,2 2,25 2,3 2,35 2,4 2,45
P0 P1 P2 P3
Jumlah
Perlakuan
Rata-rata
Ket:
P0: Agak Coklat P1: Agak Coklat P2: Agak Coklat P3: Agak Coklat
Tabel 4.2
Data Uji Pewarna Kualitas Rasa Kerupuk Kentang No Perlakuan Total Rata-rata Indikator
1 P0 14.55 2.91 Gurih
2 P1 14.55 2.91 Gurih
3 P2 14.15 2.83 Gurih
4 P3 14.8 2.96 Gurih
Pada Tabel 4.2 diatas menunjukkan bahwa nilai uji pewarna pada kualitas rasa kerupuk kentang dengan 20 panelis berasal dari mahasiswa.
Untuk mendapatkan indikator skor nilai rata-rata yang diperoleh pada setiap perlakuan dapat mengacu pada (Tabel 3.3). Dari semua perlakuan mengalami peningkatan, peningkatan tertinggi terdapat pada perlakuan P3 (90%) dengan rata-rata 2,96. Peningkatan terendah terdapat pada perlakuan P2 (60%) dengan rata-rata 2,83. Peningkatan tertinggi selanjutnya yaitu pada P0 (0%) dan P1 (30%) dengan rata-rata yang sama 2,91. Dari semua perlakuan mempunyai indikator yang sama yaitu gurih.
Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar diagram batang berikut.
Gambar 4.2
Diagram Batang Rata-Rata Uji Pewarna Kualitas Rasa Kerupuk Kentang
2,75 2,8 2,85 2,9 2,95 3
P0 P1 P2 P3
Jumlah
Perlakuan
Rata-rata
Ket:
P0: Gurih P1: Gurih P2: Gurih P3: Gurih
Dari Gambar 4.2 diatas menunjukkan jelas bahwa semakin banyak penambahan perasan kulit buah naga merah maka semakin tinggi tingkat rasa pada kerupuk kentang. Peningkatan tertinggi terdapat pada perlakuan P3 (90%) dengan rata-rata 2,96.
Tabel 4.3
Data Uji Pewarna Kualitas Tekstur Kerupuk Kentang No Perlakuan Total Rata-rata Indikator
1 P0 14.55 2.91 Renyah
2 P1 14.3 2.86 Renyah
3 P2 15.2 3.04 Renyah
4 P3 15.3 3.06 Renyah
Dari Tabel 4.3 diatas menunjukkan bahwa nilai uji pewarna pada kualitas tekstur kerupuk kentang dengan 20 panelis berasal dari mahasiswa. Untuk mendapatkan indikator skor nilai rata-rata yang diperoleh pada setiap perlakuan dapat mengacu pada (Tabel 3.3). Dari data diatas terdapat bahwa semua perlakuan mengalami peningkatan mulai dari tanpa perlakuan sampai dengan perlakuan tertinggi. Jumlah peningkatan tertinggi terdapat pada P3 (90%) dengan rata-rata 3,06.
Jumlah peningkatan terendah terdapat pada P1 (30%) dengan rata-rata 2,86, jumlah peningkatan kedua tertinggi terdapat pada P2 (60%) dengan rata-rata 3,04, dan jumlah peningkatan ketiga tertinggi terdapat pada P0 dengan rata-rata 2,91. Pada P0, P1, P2 dan P3 memiliki indikator yang sama yaitu renyah. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar diagram batang berikut.
Gambar 4.3
Diagram Batang Rata-Rata Uji Pewarna Kualitas Tekstur Kerupuk Kentang
Pada Gambar 4.3 diatas sudah jelas bahwa jumlah peningkatan tertinggi terdapat pada P3 (90%) dengan rata-rata 3,06, artinya semakin banyak tingkat penambahan perasan kulit buah naga merah maka semakin tinggi tingkat nilai rata-rata pada kualitas tekstur kerupuk kentang.
Tabel 4.4
Data Uji Pewarna Kualitas Aroma Kerupuk Kentang No Perlakuan Total Rata-rata Indikator
1 P0 12.3 2.46 Agak Harum
2 P1 12.05 2.41 Agak Harum
3 P2 12.4 2.48 Agak Harum
4 P3 11.7 2.34 Agak harum
Dari Tabel 4.4 diatas menunjukkan bahwa nilai uji pewarna pada kualitas aroma kerupuk kentang dengan 20 panelis berasal dari mahasiswa. Untuk mendapatkan indikator skor nilai rata-rata yang diperoleh pada setiap perlakuan dapat mengacu pada (Tabel 3.3). Dari data diatas semua perlakuan mengalami peningkatan, jumlah peningkatan tertinggi terdapat pada P2 (60%) dengan rata-rata 2,48, sedangkan peningkatan terendah terdapat pada P3 (90%) dengan rata-rata 2,34.
2,75 2,8 2,85 2,9 2,95 3 3,05 3,1
P0 P1 P2 P3
Jumlah
Perlakuan
Rata-rata
Ket:
P0: Renyah P1: Renyah P2: Renyah P3: Renyah
Jumlah peningkata kedua tertinggi terdapat pada P0 dengan rata-rata 2,46 dan jumlah peningkatan tertinggi terakhir terdapat pada P1 (30%) dengan rata-rata 2,41. Semua perlakuan memiliki indikator yang sama yaitu agak harum. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar diagram batang berikut.
Gambar 4.4
Diagram Batang Rata-Rata Uji Pewarna Kualitas Aroma Kerupuk Kentang Dari Gambar 4.4 diatas sudah jelas bahwa P2 memiliki jumlah peningkatan tertinggi yaitu dengan rata-rata 2,48 disusul dengan P0 dengan rata-rata 2,46 dan P1 dengan rata-rata 2,4, sedangkan jumlah peningkatan terendah terdapat pada P3 dengan rata-rata 2,34 dengan indikator yang sama yaitu agak harum.
Tabel 4.5
Data Uji Pewarna Kualitas Daya Terima Kerupuk Kentang No Perlakuan Total Rata-rata Indikator
1 P0 14.55 2.91 Suka
2 P1 14.25 2.85 Suka
3 P2 15.15 3.03 Suka
4 P3 14.65 2.93 Suka
Dari Tabel 4.5 diatas menunjukkan bahwa nilai uji pewarna pada kualitas daya terima kerupuk kentang dengan 20 panelis berasal dari mahasiswa. Untuk mendapatkan indikator skor nilai rata-rata yang
2,25 2,3 2,35 2,4 2,45 2,5
P0 P1 P2 P3
Jumlah
Perlakuan
Rata-rata
Ket:
P0: Agak Harum P1: Agak harum P2: Agak Harum P3: Agak Harum
diperoleh pada setiap perlakuan dapat mengacu pada (Tabel 3.3). Dari data diatas yang memperoleh skor nilai rata-rata tertinggi yaitu pada P2 (3,03) dengan indikator suka , selanjutnya pada P3 (2,93), P0 (2,91) dan P1 (2,85) dengan indikator yang sama yaitu suka. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar diagram batang berikut.
Gambar 4.5
Diagram Batang Rata-Rata Uji Pewarna Kualitas Daya Terima Kerupuk Kentang
Dari Gambar 4.5 diatas menunjukkan bahwa pada setiap perlakuan mempunyai nilai rata-rata yang berbeda akan tetapi memiliki indikator yang sama yaitu suka.
b. Pengamatan uji umur simpan kerupuk kentang
Berdasarkan hasil uji umur simpan kerupuk kentang, terdapat perubahan kualitas selama proses penyimpanan. Kerupuk kentang hanya mempunyai masa simpan 10 hari. Pada hari ke 14 semua perlakuan P0, P1, P2, dan P3 mengalami perubahan dari segi warna dan aroma, sedangkan pada tekstur nya tidak mengalami perubahan. Perubahan yang terjadi pada saat proses penyimpanan disebabkan karena kandungan kadar air pada kentang yang terlalu tinggi, proses penjemuran yang tidak sempurna dengan cuaca hujan dan tempat penyimpanan yang terlalu bersuhu dingin.
2,75 2,8 2,85 2,9 2,95 3 3,05
P0 P1 P2 P3
Jumlah
Perlakuan
Rata-rata
Ket:
P0: Suka P1: Suka P2: Suka P3: Suka
Setelah dilakukan uji umur simpan kerupuk kentang, kemudian pengujian selanjutnya dilakukan uji pengawet menggunakan 20 panelis yang masing-masing akan dibagikan angket. Setelah semua data ditabulasi, sebelum data dilanjutkan ke uji hipotesis untuk lebih jelasnya data akan dihitung nilai rata-rata terlebih dahulu untuk uji pengawet umur simpan terhadap kualitas kerupuk kentang yaitu warna, rasa, tekstur, aroma,dan daya terima. Uji pengawet terhadap kualitas kerupuk kentang menggunakan uji skoring yang bertujuan untuk mengetahui tingkat penerimaan konsumen terhadap kerupuk kentang. Berikut adalah data yang diperoleh.
Tabel 4.7
Data Uji Pengawet Kualitas Warna Kerupuk Kentang No Perlakuan Total Rata-rata Indikator
1 P0 8.25 2.062 Agak coklat
2 P1 8.5 2.125 Agak coklat
3 P2 9 2.250 Agak coklat
4 P3 9.1 2.275 Agak coklat
Keterangan
P0 :Tanpa penambahan perasan kulit buah naga merah
P1 :Penambahan perasan kulit buah naga merah dengan konsentrasi 30%
P2 :Penambahan perasan kulit buah naga merah dengan konsentrasi 60%
P3 :Penambahan perasan kulit buah naga merah dengan konsentrasi 90%
Dari Tabel 4.7 diatas menunjukkan bahwa nilai uji pengawet pada kualitas warna kerupuk kentang dengan 20 panelis berasal dari mahasiswa. Untuk mendapatkan indikator skor nilai rata-rata yang diperoleh pada setiap perlakuan dapat mengacu pada (Tabel 3.3). Pada semua perlakuan mengalami peningkatan kualitas warna. Jumlah peningkatan tertinggi dari semua perlakuan yaitu pada P3 (60%) dengan rata-rata 2,275, sedangkan jumlah peningkatan paling rendah dari semua
perlakuan yaitu PO (0%) dengan rata-rata 2,062. Jumlah peningkatan tertinggi kedua yaitu pada perlakuan P2 (30%) dengan rata-rata 2,250.
Jumlah peningkatan tertinggi ketiga yaitu pada perlakuan P1 (90%) dengan rata-rata 2,125. Semua perlakuan mempunyai indikator yang sama yaitu agak coklat Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar diagram batang berikut.
Gambar 4.6
Diagram Batang Rata-Rata Uji Pengawet Kualitas Warna Kerupuk Kentang Berdasarkan Gambar 4.6 menunjukkan bahwa rata-rata tertinggi terdapat pada perlakuan P3 (90%) dengan rata-rata 2,275. Kemudian disusul oleh P2 (60%) dengan rata-rata 2,250, P1 (30%) dengan rata-rata 2,125, dan P0 (0%) dengan rata-rata 2,062, semua perlakuan memiliki indikator yang sama yaitu agak coklat.
Tabel 4.8
Data Uji Pengawet Kualitas Rasa Kerupuk Kentang No Perlakuan Total Rata-rata Indikator
1 P0 10.95 2.737 Gurih
2 P1 11.1 2.775 Gurih
3 P2 11.3 2.825 Gurih
4 P3 11 2.750 Gurih
Pada Tabel 4.8 diatas menunjukkan bahwa nilai uji pengawet pada kualitas rasa kerupuk kentang dengan 20 panelis berasal dari mahasiswa.
Untuk mendapatkan indikator skor nilai rata-rata yang diperoleh pada
1,95 2 2,05 2,1 2,15 2,2 2,25 2,3
P0 P1 P2 P3
Jumlah
Perlakuan
rata-rata
Ket:
P0: Agak Coklat P1: Agak Coklat P2: Agak Coklat P3: Agak Coklat
setiap perlakuan dapat mengacu pada (Tabel 3.3). Dari semua perlakuan mengalami peningkatan, peningkatan tertinggi terdapat pada perlakuan P2 (60%) dengan rata-rata 2,825. Peningkatan terendah terdapat pada perlakuan P0 (0%) dengan rata-rata 2,737. Peningkatan tertinggi selanjutnya yaitu pada P1 (30%) dengan rata-rata 2,775 dan peningkatan selanjutnya pada P3 (90%) dengan rata-rata yang sama 2,750. Dari semua perlakuan mempunyai indikator yang sama yaitu gurih. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar diagram batang berikut.
Gambar 4.7
Diagram Batang Rata-Rata Uji Pengawet Kualitas Rasa Kerupuk Kentang
Dari Gambar 4.7 diatas menunjukkan jelas bahwa semakin banyak penambahan perasan kulit buah naga merah maka semakin tinggi tingkat rasa pada kerupuk kentang. Peningkatan tertinggi terdapat pada perlakuan P2 (60%) dengan rata-rata 2,825.
Tabel 4.9
Data Uji Pengawet Kualitas Tekstur Kerupuk Kentang No Perlakuan Total Rata-rata Indikator
1 P0 11.4 2.850 Renyah
2 P1 11 2.750 Renyah
3 P2 11.4 2.850 Renyah
4 P3 11.3 2.825 Renyah
Dari Tabel 4.9 diatas menunjukkan bahwa nilai uji pengawet pada kualitas tekstur kerupuk kentang dengan 20 panelis berasal dari
2,65 2,7 2,75 2,8 2,85
P0 P1 P2 P3
Jumlah
Perlakuan
rata-rata
Ket P0: Gurih P1: Gurih P2: Gurih P3: Gurih
mahasiswa. Untuk mendapatkan indikator skor nilai rata-rata yang diperoleh pada setiap perlakuan dapat mengacu pada (Tabel 3.3). Dari data diatas terdapat bahwa semua perlakuan mengalami peningkatan mulai dari tanpa perlakuan sampai dengan perlakuan tertinggi. Jumlah peningkatan tertinggi terdapat pada P0 (0%) dan P2 (60%) dengan rata- rata yang sama yaitu 2,850. Jumlah peningkatan terendah terdapat pada P1 (30%) dengan rata-rata 2,750, jumlah peningkatan tertinggi selanjutnya terdapat pada P3 (90%) dengan rata-rata 2,825. Semua perlakuan memiliki indikator yang sama yaitu renyah. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar diagram batang berikut.
Gambar 4.8
Diagram Batang Rata-Rata Uji Pengawet Kualitas Tekstur Kerupuk Kentang
Pada Gambar 4.8 diatas sudah jelas bahwa jumlah peningkatan tertinggi terdapat pada P0 (0%) dan P2 (60%) dengan rata-rata yang sama yaitu 2,850, artinya semakin banyak tingkat penambahan perasan kulit buah naga merah maka semakin tinggi tingkat nilai rata-rata pada kualitas tekstur kerupuk kentang.
Tabel 4.10
Data Uji Pengawet Kualitas Aroma Kerupuk Kentang No Perlakuan Total Rata-rata Indikator
1 P0 10.75 2.687 Harum
2 P1 10.75 2.687 Harum
3 P2 10.8 2.700 Harum
2,7 2,75 2,8 2,85 2,9
P0 P1 P2 P3
Jumlah
Perlakuan
rata-rata
Ket:
P0: Renyah P1: Renyah P2: Renyah P3: Renyah
4 P3 10.85 2.712 Harum
Dari Tabel 4.10 diatas menunjukkan bahwa nilai uji pengawet pada kualitas aroma kerupuk kentang dengan 20 panelis berasal dari mahasiswa. Untuk mendapatkan indikator skor nilai rata-rata yang diperoleh pada setiap perlakuan dapat mengacu pada (Tabel 3.3). Dari data diatas semua perlakuan mengalami peningkatan, jumlah peningkatan tertinggi terdapat pada P3 (90%) dengan rata-rata 2,712, sedangkan peningkatan terendah terdapat pada P0 (0%) dan P1 (30%) dengan rata- rata yang sama yaitu 2,687. Jumlah peningkatan tertinggi selanjutnya terdapat pada P2 (60%) dengan rata-rata 2,700. Semua perlakuan memiliki indikator yang sama yaitu harum. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar diagram batang berikut.
Gambar 4.9
Diagram Batang Rata-Rata Uji Pengawet Kualitas Aroma Kerupuk Kentang
Dari Gambar 4.9 diatas sudah jelas bahwa P3 memiliki jumlah peningkatan tertinggi yaitu dengan rata-rata 2,712 disusul dengan P0 dan P1 dengan rata-rata yang sama 2,687, Sedangkan jumlah peningkatan terendah terdapat pada P2 dengan rata-rata 2,700 . Semua perlakuan memiliki indikator yang sama yaitu harum.
2,67 2,68 2,69 2,7 2,71 2,72
P0 P1 P2 P3
Jumlah
Perlakuan
rata-rata
Ket:
P0: Harum P1: Harum P2: Harum P3: Harum
Tabel 4.11
Data Uji Pengawet Kualitas Daya Terima Kerupuk Kentang Perlakuan Total Rata-rata Indikator
P0 11.95 2.987 Suka
P1 12.25 3.062 Suka
P2 11.9 2.975 Suka
P3 11.55 2.887 Suka
Dari Tabel 4.11 diatas menunjukkan bahwa nilai uji pengawet pada kualitas daya terima kerupuk kentang dengan 20 panelis berasal dari mahasiswa. Untuk mendapatkan indikator skor nilai rata-rata yang diperoleh pada setiap perlakuan dapat mengacu pada (Tabel 3.3). Dari data diatas yang memperoleh skor nilai rata-rata tertinggi yaitu pada P1 (3,062) dengan indikator suka , selanjutnya pada P0 (2,987), P2 (2,975) dan P3 (2,887) dengan indikator yang sama yaitu suka.
Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar diagram batang berikut.
Gambar 4.10
Diagram Batang Rata-Rata Uji Pengawet Kualitas Daya Terima Kerupuk Kentang
Dari Gambar 4.10 diatas menunjukkan bahwa pada nilai rata-rata tertinggi terdapat pada P2 (3.062), P0 (2,987), P2 (2,97), dan P3 (2,887) semua perlakuan memiliki indikator yang sama yaitu suka.
2,8 2,85 2,9 2,95 3 3,05 3,1
P0 P1 P2 P3
Jumlah
Perlakuan
rata-rata
Ket:
P0: Suka P1: Suka P2: Suka P3: Suka
2. Hasil Analisis Data
a. Hasil analisis data uji organoleptik kualitas kerupuk kentang
Hasil analisis data menggunakan Uji anova terhadap penambahan perasan kulit buah naga merah terhadap uji pewarna kualitas kerupuk kentang . Data diatas merupakan hasil nilai rata-rata per parameter dari 20 panelis, kemudian data yang sudah ditabulasi tadi akan dianalisis menggunakan ANOVA (Analisis Of Fariance) dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Sebelum melakukan uji ANOVA terlebih dahulu data akan melakukan uji normalitas yang bertujuan untuk mengetahui apakah data yang akan dianlaisis normal atau tidak. Dari keseluruhan hasil uji normalitas data tersebut terdistribusi normal, karena F hitung > 0,05 yang dapat dilihat pada (Lampiran 3). Setelah data terdistribusi normal, untuk melihat apakah ada pengaruh penambahan konsentrasi perasan kulit buah naga merah (Hylocereus polyrhizus) atau tidak terhadap uji pewarna kualitas kerupuk kentang, maka selanjutnya data tersebut akan dianalisis menggunakan One Way Anova dapat dilihat pada Tabel berikut.
Tabel 4.12
Uji Anova Uji Pewarna Kerupuk Kentang Anova
No Sum of
Squares
Df Mean Square
F Sig.
1
Warna
Between Groups
.067 3 .022 .990 .423 Within
Groups
.361 16 .023
Total .428 19
2
Rasa
Between Groups
.043 3 .014 1.606 .227 Within
Groups
.144 16 .009
Total .187 19
3
Tekstur
Between Groups
.143 3 .048 2.610 .087 Within
Groups
.293 16 .018
Total .436 19
4
Aroma
Between Groups
.058 3 .019 .918 .454 Within
Groups
.339 16 .021
Total .397 19
5
Dayaterima
Between Groups
.084 3 .028 1.047 .399 Within
Groups
.428 16 .027 Total
.512 19
Dari Tabel 4.11 uji ANOVA diatas menunjukkan bahwa hasil uji pewarna kualitas kerupuk kentang tidak ada yang signifikan artinya bahwa data yang diuji tidak ada yang berbeda nyata antara data yang satu dengan data yang lainnya. Maka dari data yang tidak signifikan ini analisis data hanya cukup sampai uji ANOVA saja tidak bisa lanjut ke uji selanjutnya. Contohnya pada data kualitas warna kerupuk kentang yaitu F hitung (990) > 0,05 artinya data tersebut tidak signifikan atau tidak ada pengaruh yang nyata terhadap penambahan perasan kulit buah naga merah.
b. Hasil analisis data uji pengawet umur simpan kualitas kerupuk ketang Hasil analisis data menggunakan uji anova terhadap penambahan perasan kulit buah naga merah terhadap uji pengawet umur simpan kualitas kerupuk kentang . Data diatas merupakan hasil nilai rata-rata per parameter dari 20 panelis, kemudian data yang sudah ditabulasi tadi akan dianalisis menggunakan ANOVA (Analisis Of Fariance) dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Sebelum melakukan uji ANOVA terlebih dahulu data akan melakukan uji normalitas yang bertujuan untuk mengetahui apakah data yang akan dianlaisis normal atau tidak. Dari keseluruhan hasil uji normalitas data tersebut terdistribusi normal, karena F hitung > 0,05 yang dapat dilihat pada (Lampiran 3). Setelah data terdistribusi normal, untuk melihat apakah ada pengaruh penambahan konsentrasi perasan kulit buah naga merah (Hylocereus polyrhizus) atau
tidak terhadap uji pengawet kualitas kerupuk kentang, maka selanjutnya data tersebut akan dianalisis menggunakan One Way Anova dapat dilihat pada Tabel berikut.
Tabel 4.13
Uji Anova Uji Pengawet Kualitas Kerupuk Kentang Anova
No Sum of
Squares
Df Mean Square
F Sig.
1
Warna
Between Groups
.368 3 .123 4.888 .019 Within
Groups
.301 12 .025
Total .669 15
2
Rasa
Between Groups
.018 3 .006 .280 .839 Within
Groups
.257 12 .021
Total .275 15
3
Tekstur
Between Groups
.027 3 .009 .606 .624 Within
Groups
.178 12 .015
Total .204 15
4
Aroma
Between Groups
.002 3 .001 .036 .990 Within
Groups
.191 12 .016
Total .192 15
5
Dayaterima
Between Groups
.062 3 .021 1.927 .179 Within
Groups
.128 12 .011
Total .190 15
Dari Tabel 4.12 uji ANOVA diatas menunjukkan bahwa hasil uji pengawet umur simpan kualitas kerupuk kentang tidak ada yang
signifikan artinya bahwa data yang diuji tidak ada yang berbeda nyata antara data yang satu dengan data yang lainnya. Maka dari data yang tidak signifikan ini analisis data hanya cukup sampai uji ANOVA saja tidak bisa lanjut ke uji selanjutnya. Contohnya pada data kualitas warna kerupuk kentang yaitu F hitung (4888) > 0,05 artinya data tersebut tidak signifikan atau tidak ada pengaruh yang nyata terhadap penambahan perasan kulit buah naga merah.